Anda di halaman 1dari 5

Nama : Aji Rifqi Rawadani

NPM : 1410108889
Kelas : 3 SA 2

Tujuan/ Pentingnya Hukum Bisnis


1. Untuk

memacu

pembangunan

ekonomi

maka

pemerintah

berusaha

menggalakan peran sector swasta antara lain menarik investor asing.


2. Pemerintah melakukan upaya-upaya penyederhanaan prosedur perijinan
melalui berbagai tindakan kebijakan deregulasi yang tersebar di segala bidang
ekonomi/bidang bisnis.
Yang artinya pemerintah

mengeluarkan

peraturan-peraturan

baik

mempermuda para investor, importir, maupun exporter.


Asas Hukum Bisnis
1. Aspek perjanjian
Adalah dimana masing-masing pihak terikat untuk tunduk kepada perjanjian/
kontrak yang telah disepakati ( ada 2 pihak atau lebih ).
2. Aspek Kebebasan Berkontrak ( Pasal 1338 BW )
Dimana para pihak bebas untuk membuat dan menentukan isi dari kontrak
yang mereka sepakati.
A. Asas Konsensualisme
B. Akibat Perjanjian
C. Isi Perjanjian

Mengatakan bahwa jika kedua pihak terikat maka di anggap isi ini adalah
UUD dasar bagi kedua pihak tidak berlaku bagi pihak lain.
Sistematika B.W/ KUH Perdata
1.
2.
3.
4.

Buku I- Personanrecht ( orang dalam hukum ) pasal 1- 498.


Buku II - Zakenrecht ( benda dalam hukum ) Pasal 499- 1232.
Buku III - Verbintenisrecht ( hukum perikatan ) pasal 1233- 1864.
Buku IV- Pembuktian dan daluwarsa pasal 1865-1993.

Bisnis yang dilkukan perseorangan atau perkumpulan yang berbentuk badan hukum
Yaitu

kumpulan-kumpulan

dari

orang-orang

yang

mau

mendirikan

perusahaan, lebih dari 1 orang ada perbedaan dan kehendak dari kehendak A sampai
C maka dari itu harus di satukan dalam anggaran rumah tangga dasar, dan anggaran
tersebut harus di bawa ke notaris untuk di aktekan lalu dibawa ke penggadilan negeri
untuk di umumkan bahwa perusahaan berbadan hukum. Yang mempunyai 4 unsur :
1. Adanya kepentingan bersama
2. Adanya unsur kehendak bersama yang maksudnya awalnya bermacammacam kehendak di satukan menjadi kehendak bersama.
3. Adanya unsur tujuan yang maksudnya kehedak oraang-orang tersebut di
satukan untuk mencapai tujuan.
4. Adanya unsur kerjasama yang jelas yang maksudnya perusahaan di
perusahaan harus jelas.
Tak cakap melakukan perjanjian ( melakukan perbuatan hukum )

Pasal 1330 BW yaitu orng-orang yang belum dewasa adalah orang yang belum
mencapai umur 21 tahun genap dan tidak pernah menikah. Apabila perkawinan
mereka bubar maka kedewasannya tidak berubah.
Pasal 1977 ayat 1 BW menentukan sebagai berikut :
Terhadap benda bergerak yang tidak bergerak yang tidak berupa bunga atau piutang
yang tidak harus di bayar kepada si pembawa maka barang siapa yang menguasainya
dianggap sebagai pemiliknya dengan syarat apabila kehilangan tadi belum lebih dari
3 bulan maka pemiliknya dapat menuntut kepada pembeli.
Contohnya : Membeli motor daan pada saat waktu membeli tidak pernah menanyakan
hasil curian atau tidak, tidak tahunya hasil curiannya berate penjual hanya
mempunyai hak bezit.
Pasal 321 BW
Ada perikatan antara anak dan orang tua yaitu seorang anak wajib memberi nafkah
apabila orang mereka dalam keadaan miskin.
Pasal 1354 ( sah zaak warnemin )
Jika seorang dengan suka rela dan tidak mendapatkan perintah untuk itu mewakili
urusan orang lain tanpa pengetahuan orang lain tersebut maka ia secara dengan diamdiam mengikatkan dirinya untuk meneruskan serta menyelesaikan urusan tersebut
hingga orang yang di wakili kepentingannya dapat mengerjakan sendiri tugasnya.

Penegrtian persetujuan / perjanjian menurut pasal 1313 BW


Yaitu suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang / lebih yang lain.
Unsur- unsur perikatan :
1. Adanya hubungan hukum karena di atur oleh UU.
2. Dalam lapangan harta kekayaan ( obyeknya adalah sesuatu itu adalah
kebendaan ).
3. Antara 2 orang atau lebih subyeknya.
4. Adanya prestasi / isi perjanjian dari kedua belah pihak untuk mengisi
perjajian.
Pasal 1365 ( onrechmatigedead )
Untuk membuat perjanjian termuat pada 1320 syarat sahnya yaitu mensensus dengan
catatan sepakat tidak di dasari oleh pemaksaan.
Contonya memberi sepakat atas perjanjian ini asal nanti rahasia anda saya bongkar,
juga sepakat karena tipu, sepakat tidak di dasar ke khilafan. Ini tidak diperbolehkan
dalam (1) sepakat mereka yang mengikatkan diri (2) cakap untuk membuat suatu
perjanjian ( umur 21 tahun belum pernah menikah ) (3) hal tertentu ( isi perjanjian )
(4) suatu yang halal.
Batal dan pembatan suatu perjanjian

Apabila suatu syarat obyektif tidak terpenuhi ( hal tertentu atau suatu sebab
yang halal maka perjanjiannya adalah batal demi hukum ( null and void ) dan
dengan demikian secara yuridis dari semula tidak ada suatu perjanjian antara
orang- orang yang bermaksud membuat perjanjian.
Tujuan para pihak untuk mmebuat perjanjian yang mengikat mereka telah
gagal tak dapat pihak yang satu menuntut pihak yang lain karena dasar
hukumnya tidak ada.
Apabila pada waktu pembuatan perjanjian ada kekurangan mengenai syarat
subyektif maka perjanjian itu dapat di mintakan pembatalan ( cancelling ) oleh
salah satu pihak ini yang tidak cakap menurut hukum ( orang tua walinya,
atau pun ia sendiri apabila ia sudah cakap )
Persetujuan belah pihak yang merupakan kesepakatan harus di berikan secara
bebas artinya kesepakatan itu tidak di perbarui oleh paksaan, ke khilafan dan
penipu.