Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Umi Purnama

Kelas

: Fisika 3.4

NIM

: 20600113028
MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK

A. Defenisi Model Pembelajaran Talking Stick


Model pembelajaran Talking Stick berkembang dari penelitian belajar
kooperatif oleh Slavin Pada tahun 1995. Model ini merupakan suatu cara yang efektif
untuk melaksanakan pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa. Dalam model
pembelajaran ini siswa dituntut mandiri sehingga tidak bergantung pada siswa yang
lainnya. Sehingga siswa harus mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan
siswa juga harus percaya diri dan yakin dalam menyelesaikan masalah.
Model pembelajaran Talking Stik adalah suatu model pembelajaran kelompok
dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib
menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya,
selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok
mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Dalam penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stik ini, guru
membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang
heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan
atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan
laporannya kepada seluruh kelas.
Model pembelajaran talking stick merupakan salah satu dari model
pembelajaran kooperatif, guru memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri
serta bekerja sama dengan orang lain dengan cara mengoptimalisasikan partisipasi
siswa (Lie, 2002:56). Kemudian menurut Widodo (2009) mengemukakan bahwa
talking stick merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan sebuah

tongkat sebagai alat penunjuk giliran. Siswa yang mendapat tongkat akan diberi
pertanyaan dan harus menjawabnya. Kemudian secara estafet tongkat tersebut
berpindah ke tangan siswa lainnya secara bergiliran. Demikian seterusnya sampai
seluruh siswa mendapat tongkat dan pertanyaan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
talking stick merupakan salah satu dari model pembelajaran kooperatif yang
menggunakan sebuah tongkat sebagai alat penunjuk giliran dengan memberikan
siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain
sehingga mengoptimalisasikan partisipasi siswa.
B. Langkah-Langkah Model Pembelajan Talking Stick
1. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm
2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari dan memberi
kesempatan pada kelompok membaca dan mempelajari materi pelajaran.
3. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat dalam wacana.
4. Setelah siswa membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru
mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
5. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu
guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut
harus menjawabnya, demikian sampai sebagian siswa mendapat bagian untuk
menjawab setiap pertanyaan dari guru,
6. Guru memberikan kesimpulan.
7. Guru memberikan evaluasi/penilaian.

8. Guru menutup pembelajaran.


C. Manfaat Model Pembelajan Talking Stick
1. Siswa dilatih untuk belajar sendiri dan menjadikan siswa lebih giat belajar
serta senang dalam mengikuti proses pembelajaran yang melibatkan siswa
untuk aktif.
2. Siswa yang memegang tongkat harus menjawab salah satu pertanyaan yang
ada di dalam tongkat, hal ini menjadikan siswa terbiasa menjawab pertanyaan
dan mengemukakan pendapatnya, sehingga keaktifan siswa dalam kelas
menjadi merata dan tidak hanya dimonopoli oleh siswa-siswa yang pintar.
3. Siswa bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan yang menjadikan
siswa aktif selama proses pembelajaran.

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Talking Stick


Kelebihan Model Pembelajaran Talking Stick
1. Siswa terlibat langsung dalam kegiatan belajar
2. Terdapat interaksi antara guru dan siswa
3. Siswa menjadi lebih mandiri
4. Kegiatan belajar lebih menyenangkan

Kekurangan Model Pembelajaran Talking Stick


1. Materi yang diserap kurang.
2. Siswa yang pandai lebih mudah menerima materi sedangkan siswa
yang kurang pandai kesulitan menerima materi
3. Guru kesulitan melakukan pengawasan