Anda di halaman 1dari 21

Matrik Hasil Wawancara mendalam dengan informan

tentang konsep diri


1. Ideal diri
No

Pertanyaan

Bagaimana perasaan
saat mengetahui
terdiagnosa penyakit
HIV/AIDS?

Setelah mengetahui
bahwa terdiagnosa
HIV/AIDS, Apakah
putus asa dan gagal
menjalani kehidupan?
Mengapa?

Ra
Pertama kali tahun
2002, bingung,
takut, pikiran nak
mati tu lah...

Setelah
terdiagnosa, itu
ado prosesnyo.
Awalnyo memang
putus asa, iyo itu
tadi kito dak tau
kemano. Trus
lingkungan dak
mungkin
mendukung masih
menerimo kito. Jadi
yo itu putus asa.
Jadi yang biso

Jawaban informan
Ro
Mi
Ya awal-awalnya sih Tentu saja cemas,
mungkin merasa
takut, kecewa,
takut ya, pada saat
dan malu.
kakak tau sudah
Semuanya saya
terinfeksi
rasakan.
HIV/AIDS...

As
Ya jelas perasaan
saya campur
aduk menjadi
satu cemas, takut,
kecewa dan
malu...

Awal-awalnya sih
memang seperti
gimana ya, susah di
ungkapkan dengan
kata-kata karena
pada saat waktu
kakak peratama kali
tahu terinfeksi,
kurang informasi.
Jadi setelah kakak
tahu informasi, kakak
dapet informasi itu
dengan baik dan

Tidak, karena
didalam hidup
saya tidak ada
kata-kata putus
asa atau gagal.
Allah membenci
orang-orang
yang putus asa
dan gagal.
Makanya, saya
mencoba untuk
kuat, suami saya
saja bisa kuat,

Setelah saya
mengetahui
suami saya
terdiagnosa HIV,
yang saya
rasakan bukanlah
merasakan putus
asa menjalani
kehidupan
seorang istri tapi
malah putus asa
menghadapi
suami saya yang

intisari
1.
2.
3.
4.
5.

Bingung
Takut
Cemas
Kecewa
Malu

1. Putus asa
2. Tidak putus
asa

Apakah orang yang


tidak terdiagnosa
HIV/AIDS lebih baik
hidupnya?

bantu diri itu, yo


aku dewek. Aku
harus bangkit, nah
itulah ado proses.
Kurang lebih
setahun aku
bangkit...

benar,kakak bisa
hidup seperti
manusia biasa. Yang
punya keinginan,
yang punya perasaan

nantinya sakitsakitan atau


berada pada fase
AIDS, yang saya
bayangkan
seperti yang saya
tonton di TV-TV
orang sakit yang
tidak bisa
disembuhkan.
Gagal menjalani
kehidupan
sebagai seorang
istri, saya rasa
pernah, saya
rasakan gagal
tapi berjalannya
waktu itu bisa
dijalani semua

tegar setelah
terdiagnosa HIV.
Kenapa saya
tidak bisa?

HIV tu samo kayak


penyakit lain, Nah
itu ibarat aku
sekarang yang HIV,
aku idak beda
dengan yang sakit
jantung, DM, samo
dengan penyakit
yang kronis...

Nggak juga sih


sebenarnya, mungkin
juga orang yang
belum terinfeksi
HIV/AIDS mereka
sama seperti saya.

Penilaian lebih
baik atau tidak,
ini adalah
menyangkut
individu menurut
saya ya. Tentu
banyak orang
yang tidak
terdiagnosa

Belum tentu
orang yang tidak
terdiagnosa HIV
lebih baik dari
pada suami saya.
Karena setahu
saya sejauh ini
suami saya
adalah orang

1.

Tidak
ada bedanya
dengan orang
yang
terinfeksi

Bagaimana kondisi
kehidupan pada saat
ini?

Sekarang dari
tahun 2002-2008, 6
tahun. Sudah lebih
baik dalam artian,
informasi aku
tentang HIV sudah
aku kendalike
dalam tubuh, aku
sudah paham virus
itu cak mano...

Kalau keadaan saya


sekarang,
Alhamdulillah saya
bisa hidup sehat,
saya belum
mengkonsumsi ARV,
CD4 saya di atas
rata-rata 500...

Bagaimana tindakan
selanjutnya setelah
mengetahui terdiagnosa
HIV/AIDS?

Selanjutnyo yo aku,
karena kawankawan yang
meninggal, kawankawan yang di
deskriminasi, di
tolak di rumah
sakit. Aku takut bae
terjadi samo aku,
jadi aku dirike

Saya terus menggali


informasi tentang
HIV/AIDS.
Bagaimana caranya
kita menjaga
kesehatan supaya
CD4nya saya nggak
turun...

HIV/AIDS lebih
baik dari suami
saya, tapi tidak
sedikit orang
tidak terdiagnosa
HIV/AIDS malah
tidak lebih baik
dati suami saya.
Ya saya merasa
nyaman,
berkeluarga
dengan baik,
hidup rukun
dengan suami
dan keluarganya.

yang terbaik,
yang bisa
menjadi imam
dalam keluarga...

Berjalan normal
dan baik-baik
saja. Seperti
waktu saya belum
tahu suami saya
terinfeksi
HIV/AIDS.

1. Sudah lebih
baik

Tindakan saya
hanya mencari
informasi dan
mencari tahu apa
itu HIV/AIDS.

Yang jelas
memberikan
dukungan atau
support pada
suami saya untuk
tidak putus asa
dan selalu tegar
dalam menjalani
hidup ini.

1. Mendirikan
lembaga
kelompok
2. Menggali
informasi
tentang
HIV/AIDS
3. Memberikan
dukungan

lembaga kelompok.
Nah itu, kelompok
itu adalah wongwong yang
terinfeksi , disitu
kito mengorganisir
biar kebutuhan
kito, biar terjadi
pemberdayaan,
biar terjadi
peningkatan
informasi...
6

Bagaimana seharusnya
lingkungan (Keluarga
dan masyarakat)
memperlakukan?

Sekarang kan, kito


dak biso nutup
mato, mereka
belum biso nerimo,
begitu ado
tetanggo yang HIV
(+) , kemungkinan
terburuk mereka di
usir dari tempat
mereka tinggal.
Kepengen aku
dukungan, itu yang
pertamo sekali,
masyarakat
memberi dukungan,
dak usah dukungan

Alhamdulillah kakak
di keluarga itu
sangat mendukung
saya, mungkin dari
mereka tahu tentang
HIV/AIDS yang kita
kasih tahu, mereka
Alhamdulillah nggak
mendiskriminasi
saya, malahan
mereka mensupport...

Ya tentunya
seperti orang
yang lain, orang
biasa yang perlu
dukungan
perilaku, sosial,
society life yang
biasa ada di
lingkungan
masyarakat
normal...

Dengan tidak
adanya stigmastigma dan tidak
mendiskriminasi
atau menghakimi
suami saya

1.
2.

Dukungan
Tidak
mendiskri
minasi

materi, dukungan
moral bae. Karena
dukungan itu,
terbukti obat
pertamo...
2. Harga diri
No

Pertanyaan

Apakah orang lain


mengetahui keadaan
yang sebenarnya
(menderita
HIV/AIDS)?

Bagaimana perasaan
saat ini?

Ra
Di kelompokkelompok tertentu
aku terbuka dengan
status HIV aku, tapi
ketika di rumah
sakit, di pelayanan
kesehatan yang
tingkat
diskriminasinyo
tinggi itu aku ragu
buka status, di
masyarakat, tukang
rokok tibo aku nak
buka status aku
ragu...

Jawaban informan
Ro
Mi
Ada sebagian yang
Ada yang
benar-benar saya
mengetahui, ada
kasih tahu, tapi itu
juga tidak. Yang
hak kita mau kasih
mengetahui
tahu apa nggak...
adalah kalangan
yang sama,
komunitasnya,
keluarga dan
dokter yang
menangani nya.
Lingkungan
sosial, pekerjaan,
dan pergaulan
tidak mengetahui
yang sebenarnya.

Perasaan sekarang
terkait HIV aku,
virus dalam badan

Perasaan saya
sebenarnya, awalnya
nyesal juga. Nyesal

Perasaan saya
saat ini baik-baik
saja. Tidak ada

As
Ada sebagian
yang tahu, karena
kalau untuk
memberi tahu
dan tidak itu hak
suami saya untuk
memberikan atau
tidak statusnya
pada orang lain.

Biasa-biasa saja.

Intisari
1. Ada yang
tahu
2. Ada yang
tidak tahu

1. Sudah lebih
santai
2. Baik-baik

Apakah merasa tak


berharga saat ini?
Mengapa?

Bagaimana lingkungan
memperlakukan?

aku, aku sudah


lebih santai.

kenapa saya bisa


begini. Mungkin
takdir tuhan. Tapi,
kalau saya menjalani
hidup ini nyantai aja
karena saya merasa
bahwa kita manusia
bakal mati semua.

masalah dengan
kehidupan ini.

saja
3. Biasa-biasa
saja

Saat ini. Kalo dulu


mungkin, dulu aku
tau status aku, dulu
bertolak belakang
nian dengan
sekarang. Dulu
aku tau status HIV,
rasonyo aku ni dak
mungkin lagi
begawe, dak
mungkin lagi
kawin, dak
mungkin lagi
bahagio ke wong
tuo.
Kareno mereka dak
tau, jadi mereka
biaso-biaso bae.
Nah tapi di
lingkungan yang

Kalau berharga, kita


harus bisa
menghargai diri kita
sendiri. Karena
Tuhan mnciptakan
kita ini ke dunia ini
untuk bisa
menghargai diri
sendiri.

Saya rasa
sekarang, saya
nggak tahu
menilai saya
berharga atau
nggak. Kadang
kala saya merasa
tak berharga
disaat saya
melihat suami
saya sedang
sakit, saya tidak
bisa melakukan
apa-apa.

Oh tidak, karena
berharga atau
tidak berharga itu
tergantung yang
diatas.

1. Merasa
berharga
2. Tidak bisa
menilai
berharga atau
tidak
3. Tidak
berharga

Kalau kita nggak


terbuka ya biasabiasa aja, tapi kalau
kita terbuka itu ada
dua kemungkinan.

Karena
lingkungan tidak
mengetahui
status suami
saya, jadi mereka

Ya karena suami
saya tidak
memberitahukan
atau becerita
masalahnya

1. Biasa-biasa
saja
2. Diacuhkan
3. Disayangi

sudah tau,
misalnyo di kantor.
Mereka dak takut
bagi makan,
minum, bagi tempat
duduk, berbagi
kamar mandi dak
takut. Pernah di
acuhkan, waktu
pertamo kali.
Sekarang aku ni
tahap lanjut, waktu
pertamo kali begitu
aku di acuhke, aku
tambah terpuruk,
tahun-tahun awal.

Keluarga malahan
lebih memperhatikan.
Untuk di lingkungan
karena masih belum
terbuka jadi masih
biasa-biasa saja.

memperlakukan
seperti orang
yang lain. Ya,
diperhatikan,
kadang
disayangi,
kadang di
acuhkan. Ya
normal.

kecuali sama
orang terdekat
yang bisa di
percaya, maka
lingkungan biasabiasa saja pada
suami saya.

3. Peran diri
No

Pertanyaan

Sebelum dinyatakan
terdiagnosa
HIV/AIDS, apa peran
dan dengan kondisi
sekarang, Apakah
merasa tidak
memiliki harapan

Ra
Dulu aku ancur,
sebelum aku HIV
aku ancur. Sesudah
aku HIV aku lebih
ancur lagi, selamo
aku setahun, kalo
aku di titike, aku titik

Jawaban informan
Ro
Mi
Kalau peran kita
Peran saya, saat
sebagai manusia
suami saya
biasa ya, manusia
dinyatakan
yang selalu
terdiagnosa
mendekatkan diri
HIV/AIDS adalah
kepada Allah, jadi
ikut membantu
untuk peran kita
suami saya untuk

As
Saya mencoba
untuk menjadi
istri yang baik
untuk suami
saya, selalu
patuh dan
hormat kepada

Intisari
1. Sebagai
manusia
biasa
2. Memberi
semangat
3. Menjadi
istri yang

untuk menjadi orang


yang berperan dalam
masyarakat?
Mengapa?

paling dalem. Trus


sekarang aku mulai
bangkit lagi, aku
meraso sudah biso
kasih manfaat ke
wong lain.

sebagai manusia,
Kalau untuk
sekarang kakak
sekarang merasa
lebih kuat, kakak
yakin bahwa masih
punya keinginan
untuk bisa hidup
lebih lama. Jadi,
pastinya punya
harapan...

menerima
kenyataan
walaupun saat itu
saya juga dalam
keadaan terpuruk,
dan memberi
semangat untuk
hidup sehat,
rutinitas minum
obat, dan terus
semangat. Tentu
saya memiliki
harapan menjadi
istri yang baik
dalam masyarakat,
ya sama seperti
dengan istri yang
lain. Intinya sama.

suami, dan
menjadi ibu yang
baik untuk anak
saya. Selama kita
hidup harapan
harus ada, kalau
kita mempunyai
harapan lebih
baik kita kelaut
aja

Berapa lama waktu


yang butuhkan untuk
dapat menerima
kenyataan penderita
HIV/AIDS?

...kiro-kiro 2 tahun
lah...

Sekitar 1 tahun...

Untuk dapat
menerima suami
saya menderita
HIV/AIDS, waktu
yang saya
butuhkan sangat
lama untuk
menerima
kenyataan itu,
bahkan sampai

Tidak begitu
lama, karena
sebagai istri
yang baik, saya
harus tegar dan
kuat menerima
kenyataan suami
saya sudah
terinfeksi HIV...

baik

1. 2 tahun
2. 1 tahun
3. Tidak bisa
menerima
4. Tidak
begitu lama

inipun saya belum


menerima
kenyataan bahwa
suami saya adalah
penderita
3

Apakah merasa
motivasi menurun
dalam menjalani
kehidupan?

Motivasi, sebelum
terinfeksi HIV itu
belum ado motivasi
kareno dunio aku
masih amburadul.
Setelah terinfeksi
HIV tambah ancur
dulu, setelah itu
jingok kawan-kawan
yang berhasil, terapi
ARV, punyo istri,
punyo anak, jadi aku
tambah naek. Biso
kerjo, biso seperti
wong normal, itu
memotivasi aku.

Untuk awal ya, tapi


untuk sekarang
nggak lagi. Sudah
banyak dukungan
dan motivasi.

Ya, awalnya tahuntahun pertama.


Motivasi hidup
pasti menurun
karena merasa
kualitas hidup juga
menurun dengan
terdiagnosanya
penyakit ini. Tapi,
setelah lamakelamaan justru
dengan
terdiagnosa
penyakit ini
motivasi kita untuk
maju terus
bertahan,
bersemangat...

Tidak, karena
saya menjalani
hidup ini dengan
ikhlas dan tegar.

Apakah saat ini


bergabung dalam
salah satu LSM?

Ya saya bergabung
di salah satu LSM,
bukan bergabung

Ya benar, di LSM
sosial yang peduli
HIV/AIDS...

Ya, karena
didasarkan
keinginan

Ya, agar bisa


mendapat teman
atau sahabat

1. Tidak
mengalami
penurunan
motivasi
2. Untuk awal
mengalami
penurunan
motivasi

1. Ya

tapi mendirikan
LSM bersama
kawan-kawan yang
seide, sesama yang
positif, sesama
orang-orang yang
peduli dengan isu
HIV.

Bagaimana dukungan
dan motivasi yang
diberikan oleh
konselor?

Kalo konselor
Rumah Sakit,
konselor VCT itu
aku jarang konseling
karena waktu aku di
VCT dulu aku idak
di konseling. Dari
konselor aku kurang
memanfaatk...

Kalau konselor
Cuma mengasih
informasi tentang
HIV/AIDS, harus
bisa menguatkan
diri, gitu aja sih
konselor...

informasi dan
berada dalam satu
komunitas yang
sama maka
tergeraklah untuk
bergabung di
salah satu LSM
untuk menyalurkan
informasi dua
arah...

yang bisa
memberikan
dukungan atau
support agar di
lebih jauh, lebih
kuat dalam
menjalani hidup
ini.

Jujur, tahun 2002


konselor itu belum
ada di Palembang,
bolak-balik ke
Jakarta dan obat
yang dikonsumsi
itu masih dibeli
dengan harga
yang sangat
mahal, dengan
kondisi sekarang
yang sudah di
subsidi oleh
pemerintah
dengan gratis,
justru dulu sangat
buruk, konselor
menjadi sangat

Baik bagi suami


saya, karena
memberikan
infomasi yang
penting tentang
HIV/AIDS

1. Tidak
menggunaka
n jasa
konselor
2. Memberikan
penguatan
3. Memberikan
informasi

takut dengan
penyakit ini...
6

Bagaimana cara agar


tetap berperan dalam
lingkungan
masyarakat dengan
kondisi sekarang?

Apakah suami anda


bekerja?

...aku bekerja di
bidang HIV. Jadi
aku tetap sehat
untuk berperan
dalam
penanggulangan
HIV.

Nggak buka status,


karena saya lihat
juga banyakan
masyarakat ini
banyak belum tahu
HIV/AIDS ini secara
jelas, secara pasti ,
secara yang tepat
informasi tentang
HIV/AIDS ini
masyarakat belum
banyak mengetahui,
jadi kita merasa
ragu untuk
mengatakan status
kita HIV (+).

Ya, saya hanya


tetap mendampingi
suami saya dengan
motivasi yang ada
sekarang dengan
perannya di dalam
masyarakat sudah
dalam kondisi
yang baik
sekarang, dan di
ligkungan di
masyarakat
caranya dengan
terus memberi
semangat, jangan
pernah jenuh
dengan kendala
yang akan ditemui
nantinya.

Selama masih
tertutup, ya saya
kira biasa-biasa
saja.

Ya sekarang masih
bekerja,
pekerjaannya di
instansi
pemerintahan

Ya iyalah untuk
memenuhi
kebutuhan hidup

1. Tidak buka
status
2. Memberikan
motivasi

1. Ya

yang bergerak di
bidang HIV/AIDS
dan LSM
HIV/AIDS. Suami
saya bekerja
karena tuntutan
ekonomi.
8

Apakah kondisi
suami anda
mempengaruhi
pekerjaan anda?

Tidak, karena
seperti yang saya
jawab tadi, orang
lain belum tau
dengan status
suami saya jadi
nggak ada
masalah dengan
pekerjaan saya.

Tidak, karena
saya sudah
menerima
dengan ikhlas
dan lapang dada
keadaan suami
saya.

1. Tidak

Apakah kondisi yang


ada mempengaruhi
perkonomian
keluarga?

Tidak terjadi
penurunan, karena
memang justru
berada di dalam
bekerja di bidang
HIV/AIDS ini
suami saya berada
dalam posisi yang

Tidak, selama ini


suami saya
masih tertutup
dengan
statusnya.

1. Tidak

lumayan, yang
termasuk posisi
yang berpengaruh,
yang termasuk di
dalam
pemerintahan
walaupun bukan
orang
pemerintahan...
10

Setelah terdiagnosa
HIV/AIDS, apakah
suami anda
mempunyai motivasi
yang tinggi untuk
mencari nafkah?

Saya rasa
meskipun tidak
terdiagnosa, suami
saya sebagai lakilaki dan kepala
rumah tangga
mempunyai
motivasi yang
tinggi untuk
mencari nafkah.

Tentunya ya,
karena dia tidak
ingin dengan
penyakitnya
tidak ingin dia
semakin terpuruk
dan kehilangan
kepercayaan diri.

1. Ya memiliki
motivasi

Matrik Hasil Wawancara mendalam dengan key informan


Tentang konsep diri pada informan
1. Ideal diri
No
Pertanyaan
1 Bagaimana seharusnya
perasaan mereka
(penderita dan keluarga)
saat mengetahui
terdiagnosa penyakit
HIV/AIDS?
2

Jawaban key informan


Ya memang kalau kita lihat mereka yang datang kesini, waktu berita
pertama kali kalau mereka positif, mereka ada yang langsung takut, cemas,
kecewa, malu, terdiam atau yang terduduk dan menangis. Mereka yang
kebanyakkan dari IDU, biasanya sudah mengetahui bahwa ada penyakit ini
kalau melakukan kegiatan risiko tinggi, disini mereka hanya terdiam
sebentar...

Intisari
1. Kecewa
2. Malu
3. Menangis

Setelah mereka
(penderita dan keluarga)
mengetahui terdiagnosa
HIV/AIDS, Apakah
mereka tidak harus
merasa putus asa dan
gagal menjalani
kehidupan? Mengapa?

Ya, mereka tidak harus putus asa, karena penyakit ini sudah bisa kita batasi
dengan mengikuti serangkaian pengobatan karena dengan si dia kita
menjelaskan bahwa penyakit ini bukan vonis mati...

1. Tidak harus putus

Menurut dokter Apakah


orang yang tidak

Kalau menurut saya, diagnosa HIV/AIDS bukan menunjukkan bahwa dia itu
lebih buruk dari yang lain. Bisa jadi mereka sama saja dengan yang lain.

1. Tidak (belum tentu)

asa

terdiagnosa HIV/AIDS
lebih baik dari yang tidak
terdiagnosa?
Bagaimana seharusnya
kondisi kehidupan
mereka (penderita dan
keluarga) pada saat ini?

Jadi tidak ada hubungan orang lain yang tidak HIV/AIDS lebih baik dari
yang terinfeksi HIV/AIDS.
Ya memang ada beberapa orang yang mengetahui penyakit ini tidak
lengkap, kemudian mereka lihat di media bahwa penyakit ini akan mati, Jadi
kita bisa memberikan contoh bahwa banyak kondisi hidupnya lebih baik.
Jadi dengan melihatkan kondisi pembanding secara langsung dengan
mereka, itu mereka mestinya tidak mengalami takut atau cemas dengan
penyakitnya itu sendiri...

1. Lebih baik

Bagaimana seharusnya
tindakan mereka
(penderita dan keluarga)
selanjutnya setelah
mereka (penderita dan
keluarga) mengetahui
terdiagnosa HIV/AIDS?

Jadi ke penderita bagaimana kira-kira persepsi keluarga terhadap penyakit


ini sendiri dan untuk memberitahunya bukan hanya penderita sendiri, bisa
jadi teman penderita, atau orang yang dalam keluarga penderita sendiri
yang kita nilai pengetahuan dan anggapannya mengenai penyakit ini. Kalau
anggapannya baik untuk penderita, boleh keluarga penderita diberitahu
agar penderita ini mendapat tidak di dikriminasi dirumah karena beberapa
keluarga penderita tahu dia menderita penyakit ini, semua piring, sendok,
kamar tidur dan kamar mandi di pisahkan. Dan disini kita terangkan bahwa
tidak seperti itu.

1. Tidak
mendiskriminasi

Menurut dokter
bagaimana seharusnya
lingkungan (Keluarga
dan masyarakat)
memperlakukan mereka
(penderita dan keluarga)?

Seharusnya ODHA sendiri tidak perlu didiskriminasi, tidak perlu dipisahkan


dengan lingkungan tapi juga tidak harus di istimewakan. Kita anggap saja
sama seperti biasa, tidak perlu di istimewakan bahwa dia harus selalu di
dukung, justru dengan perlakuan yang wajar mereka akan lebih mudah
mengahadapi dunia luarnya.

1. Tidak
mendiskriminasi

2. Harga diri
No
Pertanyaan
1 Apakah orang lain
seharusnya mengetahui
keadaan penderita yang
sebenarnya (menderita
HIV/AIDS)?

Jawaban key informan


Disini kita tekankan bahwa orang lain itu seperti apa. Kalau lingkungan
terdekat, seperti keluarga, suami, istri, orang tua. Itu sebaiknya memang
mengetahui tapi kalaupun dari awal kita sudah tahu persepsi mereka
terhadap penyakit ini tidak baik atau buruk, kita bisa melakukan pendekatan
sedikit demi sedikit sehingga mereka ketahui bahwa penyakit ini tidak
seburuk penyakit yang mereka sangka. Tapi kalau memang orang diluar
lingkungan karena kita tidak mengetahui persepsi mereka sebaiknya tidak
perlu tahu karena lingkungan kita sendiri seperti itu.

Intisari
1. Tahu
2. Tidak tahu

Bagaimana seharusnya
perasaan mereka
(penderita dan keluarga)
saat ini?

Kalau melihat kondisi seperti kita sekarang ini, mereka seharusnya


merasakan biasa saja dengan penyakit ini, kita tunjukkan bahwa hepatitis C
belum ada obatnya kalaupun ada itu obatnya jauh lebih mahal dan angka
keberhasilan jauh lebih rendah dari HIV/AIDS sendiri.

1. Biasa saja

Apakah seharusnya
mereka (penderita dan
keluarga) merasa tak
berharga saat ini?
Mengapa?
Bagaimana seharusnya
lingkungan
memperlakukan
penderita HIV/AIDS?

Pada mereka yang sendiri-sendiri yang tidak berkumpul dengan


kelompoknya biasanya mereka bilang ai, besok mati-besok mati. Tapi ada
juga yang biasa saja karena lingkungan mereka , pergaulan mereka lebih
luas dengan kelompok yang sebaya, itu akhirnya mereka biasa saja dan
sama seperti kita.
Kalau kondisi sekarang, kita bisa tahu bahwa masyarakat masih
menganggap penyakit ini memang penyakit karena perilaku yang buruk
sehingga akhirnya mereka yang terdiagnosa penyakit ini, itu akan langsung
dikucilkan, diisolasi dan langsung dijauhkan dari lingkungannya. Padahal
seharusnya tidak seperti itu, mereka seharusnya diperhatikan dan

1. Biasa saja

1. Diperhatikan
2. Disayangi

disayangi...
3. Peran diri
No
Pertanyaan
1 Sebelum penderita
dinyatakan terdiagnosa
HIV/AIDS, dengan
kondisi mereka
(penderita dan keluarga)
sekarang, Apakah
mereka (penderita dan
keluarga) merasa bahwa
tidak memiliki harapan
untuk menjadi keluarga
yang baik dalam
masyarakat? Mengapa?
2 Berapa lama waktu yang
mereka (penderita dan
keluarga) butuhkan
untuk dapat menerima
kenyataan HIV/AIDS?
3

Apakah seharusnya
mereka (penderita dan
keluarga) merasa
motivasi mereka
(penderita dan keluarga)
menurun dalam
menjalani kehidupan

Jawaban key informan


Dengan menderita penyakit ini, pada awalnya mereka merasa tidak ada
harapan lagi, mereka pikir tidak ada lagi orang yang mau dengan mereka
baik yang laki-laki maupun perempuan tetapi dengan kita berikan konseling
bahwa penyakit ini sama seperti yang lain, kondisi membaik diharapkan
bisa membentuk keluarga didalam masyarakat dan itu memang yang kita
harapkan. Jadi itu tergantung dengan latar belakang pendidikan mereka
karena akan membantu sekali persepsi mereka terhadap penyakit itu
sendiri...

Intisari
1. Masih ada harapan

Masing-masing waktunya ini tergantung dengan latar belakang pendidikan


mereka sangat berpengaruh terhadap penerimaan terhadap penyakitnya.

1. Tidak diketahui,
tergantung individu
dengan latar
belakang
pendidikannya

Seharusnya mereka sama seperti yang lain, jadi menganggap penyakit ini
akan membuat mereka tidak bersemangat hidup, seharusnya konseling
memberi semangat.

1. Tidak harus
mengalami
penurunan motivasi

setelah mengetahui
diagnosa penyakit?
4

Apakah mereka
(penderita dan keluarga)
harus bergabung dalam
salah satu LSM?

Bagaimana dukungan
dan motivasi terhadap
mereka (penderita dan
keluarga) yang diberikan
oleh konselor?

Bagaimana mereka
(penderita dan keluarga)
agar tetap berperan
dalam lingkungan
masyarakat dengan
kondisi sekarang?

Apakah penderita harus


bekerja?

Memang sebaiknya mereka bergabung di LSM. Tapi LSM disini hanya


sepertinya itu mereka yang umur kelompok sebaya, kadang mereka umurnya
lebih tua dari umur-umur ini mereka tidak mau bergabung dengan kelompok
ini. Kelompok sebaya yang bergabung dalam kelompok ini, hasilnya akan
memang lebih baik dari pada mereka yang tidak bergabung, karena dengan
bergabung mereka dapat saling memotivasi, mengingatkan, penerimaan
informasi, dimana menunjukkan penyakit ini tidak membuat mereka tidak
lebih buruk. Yang sendiri biasanya kondisi fisiknya lebih buruk dari yang
bergabung di LSM.
Ya, konselor berperan dalam memberikan konseling dan sebagian besar
mereka menerima. Tapi tergantung juga, kalau kita lihat latar belakang
pendidikan mereka sangat berpengaruh, kalau mereka yang pendidikannya
SD bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali itu biasanya kita agak susah
mengetahui apakah informasi yang diberikan ditangkap atau mereka
menafsirkannya dengan cara yang lain.
Caranya kita tetap memberikan motivasi bahwa penyakit ini sama seperti
penyakit lain, sama seperti penyakit diabetes/kencing manis, ya dengan
kondisi ini diharapkan mereka tidak minder dengan penyakitnya, sama
seperti yang lain

1. Harus bergabung di
LSM

Ya, karena bekerja tidak menghasilkan uang bagi mereka tapi juga
meningkatkan harga diri, memberikan fungsi pekerjaan itu sebagai rekreasi
untuk mereka, untuk mengalihkan terhadap penyakit mereka sendiri,
kemudian juga untuk memberikan motivasi bahwa mereka bisa lebih baik

1. Ya, harus bekerja

1. Memberikan
konseling

1. Memberikan
motivasi

dari orang lain


Ya, karena lingkungan masyarakat kita masih menganggap bahwa penyakit
ini yang buruk. Kalau kondisi mereka yang bekerja berhubungan dengan
masyarakat, mereka tidak mau masyarakat mengetahui penyakitnya. Kalau
pekerjaan mereka tidak berhubungan dengan masyarakat langsung,
biasanya mereka tidak keberatan.

Apakah kondisi
penderita dapat
mempengaruhi pekerjaan
?

Apakah kondisi yang ada Ya, karena kalau sudah menjadi kepala keluarga memang sangat
mempengaruhi
mempengaruhi perekonomian keluarga, kebanyakan disini mereka belum
perkonomian keluarga?
menikah, belum berkeluarga, jadi lebih banyak mempengaruhi mereka
sendiri, tidak mempengaruhi perekonomian keluarga...

1. Ya, sangat
mempengaruhi
perekonomian
keluarga

10

Setelah terdiagnosa
HIV/AIDS, apakah
penderita harus
mempunyai motivasi
yang tinggi untuk
mencari nafkah?

1. Ya, mempunyai
motivasi

Ya, seharusnya mereka mempunyai motivasi yang lebih tinggi dari mereka
yang tidak terinfeksi. Kenapa? Karena dengan bekerja, dengan memotivasi
mereka bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa penyakit ini tidak
seburuk yang orang lain sangka...

1.

Ya, bisa
mempengaruhi
pekerjaan

Matrik Hasil Wawancara mendalam dengan key informan


Tentang kebijakan konsep diri penderita HIV/AIDS
No
Pertanyaan
1 Apakah ada kebijakan
yang berhubungan
dengan konsep diri pada
klien HIV/AIDS?

Jawaban key informan


Ya, secara umum di Rumah Sakit Mohammad Hoesin sendiri terutama di
VCT melati disini, kebijakan bahwa akan melakukan sesuatu itu secara
tertulis itu memang tidak ada, tapi secara umum dapat dilihat bahwa
kondisi dari klinik sendiri sudah terpisah jauh dari poli klinik rawat jalan
lain, kemudian bentuk fisik atau tampilan dari klinik sendiri tidak
mencerminkan sebuah poliklinik tempat merawat atau melayani pasien
dengan HIV/AIDS...

Intisari
1. Tidak ada secara
tertulis

Bagaimana cara
memberikan motivasi
kepada penderita untuk
meminimalisir gangguan
konsep diri kepada klien?

Disini kita memberikan motivasi, memberikan penerangan bahwa penyakit


ini sama seperti penyakit-penyakit yang lain. Dimana kalau pada penderita
HIV/AIDS makan obat seumur hidup, kita juga memberi contoh bahwa
penyakit lain juga makan obat seumur hidup, seperti kencing manis , darah
tinggi, penyakit gondok,hepatitis yang jika tidak teratur makan obat itu
efeknya akan lebih gawat lagi, lebih buruk lagi dibanding dengan
HIV/AIDS.

1. Memberikan
motivasi
2. Memberikan
penjelasan tentang
penyakit
3. Memberikan contoh
pembanding
penyakit lain

Sebelumnya sudah kita


ketahui bahwa penderita
HIV/AIDS saat mereka
terdiagnosa pasti
merasakan shock/depresi
yang berat. Apakah ada
kebijakan khusus untuk

Kalau kebijakan khusus itu mungkin tergantung dengan pengalaman


konseling masing-masing, karena latar belakang disini ada perawat, ada
dokter, dan ada yang psikolog. Jadi kalau memang sudah depresi terlalu
berat bisa kita lakukan pendekatan dengan psikolog yang kita miliki. Tapi
jika kita bisa meraba-raba bahwa kalau shocknya ini ketakutan karena
penyakitnya kita bisa melakukan pendekatan seperti motivasi...

1. Tidak ada, karena


tergantung dengan
pengalaman koselor

memotivasi klien?
4

Bagaimana cara anda


meningkatkan harga diri,
ideal diri dan peran diri
pada klien?

...kita disini juga mempunyai LSM yang merupakan kumpulan-kumpulan


mereka. Disitu mereka saling berkosultasi untuk menyadari bahwa mereka
tidak sendiri bahwa mereka ada teman lain. Mereka dapat meningkatkan
harga diri bahwa mereka sama seperti yang lain. Kita juga, kebetulan
Rumah Sakit rujukan untuk di Sumatera bagian Selatan, kita banyak
contaoh-contoh orang lain dengan kondisinya lebih buruk dari yang
dimilikinya,sehingga ini akan menimbulkan rasa percaya diri pada pasien
itu. Dirinya tidak seburuk yang ia sangka dan diharapkan dapat
meningkatkan harga dirinya.

1. Ikut bergabung
dengan LSM

Apakah klien menerima


masukan yang telah
diberikan selama
konseling ?

Ya sebagian besar mereka menerima. Tapi tergantung juga, kalau kita lihat
latar belakang pendidikan mereka sangat berpengaruh...

1. Ya, menerima
konseling

Apakah ada perubahan


yang signifikan pada
konsep diri klien setelah
konsul disini? Jelaskan?

1. Ya, terjadi
peningkatan harga
diri

Apakah ada cara lain


untuk memotivasi klien
mengenai harga, ideal,
peran diri pada klien?

Ya, pada awalnya mereka diam, sendiri-sendiri datang kesini tapi setelah
datang kesini dan bertemu sesama yang ODHA, mereka akhirnya tidak
begitu minder lagi, jadi bisa kita lihat tadinya sendiri, pada jam-jam yang
sepi kunjungan akhirnya berdua, bertiga dan ada yang akhirnya mereka
yang pacaran dan rencana ada yang mau menikah.
Itu tadi kita memperlihatkan bahwa ada orang lain yang kondisinya jauh
lebih burk dari mereka. Baik dari penyakitnya sendiri, problem yang
ditemui karena penyakitnya...

1. Ya, dengan melihat


pembanding
penyakit