Anda di halaman 1dari 15

Diagnosis Sick Building Syndrome serta Penatalaksanaannya

Theodora Abdiel Purwa Dolorosa


10.2011.066
C7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna Utara no 6, Jakarta Barat
theodora.dolorosa@yahoo.com

Abstrak
Sick Building Syndrome adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni gedung atau
bangunan dimana di dalamnya terjadi gangguan sirkulasi udara, yang dihubungkan dengan
waktu yang dihabiskan di dalam gedung tersebut, tetapi tidak terdapat penyakit atau
penyebab khusus yang dapat diidentifikasi. Sick building syndrome bukan penyakit tunggal
yang dapat didiagnosis segera pada pekerja di dalam gedung. Asma, rinitis dan konjungtivitis
alergi adalah penyakit alergi yang mempunyai gejala sama dengan SBS. Sakit kepala dan
lethargy merupakan gejala nonspesifik yang dapat terjadi pada sebagian besar penyakit dan
dapat berkaitan dengan pajanan okupasi. Pengenalan gejala, pemeriksaan fisis serta
laboratorium bila tersedia merupakan langkah awal dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan
SBS bertujuan untuk menyingkirkan kondisi lain yang mempunyai gejala sama.
Kata kunci : gedung, okupasi, asma
Abstract
Sick Building Syndrome is a set of symptoms experienced by the occupants of the building
that got disturbances for the air circulations, associated with the time they spent in that
building, but no specific illness or causes that can be identified. Sick building syndrome isnt
the only disease that can be diagnosed right away to workers in the building. Asthma, rhinitis
and allergic conjunctivitis are some kind of allergic disease that has symptoms similar to
SBS. Headache and lethargy are nonspecific symptoms that may occur in the majority of
disease and can be related to occupational exposure. The introduction of symptoms, physical
examination and laboratory if available are the first steps in the diagnosis and management
of SBS aims to eliminate other conditions that have similar symptoms.
Keywords: building, occupation, asthma

A. Pendahuluan
Kehidupan modern di kota-kota besar negara kita menuntut tersedianya
prasarana yang memadai. Salah satu di antaranya adalah gedung-gedung kantor yang
megah yang dilengkapi dengan sistem AC sentral. Gedung-gedung seperti ini
biasanya dibuat tertutup dan mempunyai sirkulasi udara sendiri. Udara luar yang
masuk ke dalam sistim ventilasi gedung akan berkurang bahkan mencapai titik nol,
hanya udara resirkulasi yang digunakan untuk bernapas. Gedung yang baik dengan
sarana yang memadai tentu menjadi tempat yang amat nyaman untuk bekerja, dan
karena itu dapat pula meningkatkan produktifitas kerja karyawan. Tetapi, di pihak
lain, kita perlu mengenal kemungkinan adanya gangguan kesehatan pada gedunggedung seperti itu yang pada akhirnya justru akan menurunkan produktifitas kerja
karyawannya yang bekerja di dalam gedung-gedung itu. Para ahli di beberapa negara
mulai banyak menulis tentang adanya gedung-gedung pencakar langit yang "sakit",
dan menimbulkan sindrom gedung sakit.1
Sindrom gedung sakit adalah kumpulan gejala akibat adanya gedung yang
"sakit", artinya terdapat gangguan pada sirkulasi udara di dalam gedung itu. Adanya
gangguan itulah yang menyebabkan gedung tersebut dikatakan "sakit", sehingga
timbul sindrom ini yang memang terjadi karena para penderitanya menggunakan
suatu gedung yang sedang "sakit". Hal tersebut menyebabkan buruknya kualitas udara
dalam ruangan (indoor air quality atau IAQ) dan terdapat banyak radikal bebas
bersumber dari asap rokok, ozon dari mesin fotokopi dan printer, perabotan, cat serta
bahan pembersih.1
Sick building syndrome (SBS) atau sindrom gedung sakit dikenal sejak tahun
1970. Kedokteran okupasi tahun 1980 memperkenalkan konsep SBS sebagai masalah
kesehatan

akibat lingkungan kerja berhubungan dengan polusi udara, IAQ dan

buruknya ventilasi gedung perkantoran. World Health Organization (WHO) tahun


1984 melaporkan 30% gedung baru di seluruh dunia memberikan keluhan pada
pekerjanya dihubungkan dengan IAQ. Istilah ini kemudian digunakan secara luas dan
kini telah tercatat berbagai laporan tentang sindrom ini dari berbagai Negara Eropa,
Amerika dan bahkan dari negara tetangga kita Singapura.1
Sick building syndrome terjadi akibat kurang

baiknya

rancangan,

pengoperasian dan pemeliharaan gedung. Gejala-gejala yang timbul memang


berhubungan dengan tidak sehatnya udara di dalam gedung. Keluhan yang ditemui
pada sindrom ini antara lain dapat berupa batuk-batuk kering, sesak, sakit kepala,
2

iritasi di mata, hidung dan tenggorok, kulit yang kering dan gatal, lethargy, fatique,
mual, dan lain-lain. Keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya dua
minggu, tidak terlalu hebat, tetapi cukup terasa mengganggu dan yang penting amat
berpengaruh terhadap produktifitas kerja seseorang. Gejala tersebut akan berkurang
atau hilang bila pekerja tidak berada di dalam gedung, hal tersebut dapat terjadi pada
satu atau dapat tersebar di seluruh lokasi gedung.2,3
Sindrom gedung sakit baru dapat dipertimbangkan bila lebih dari 20%, atau
bahkan sampai 50%, pengguna suatu gedung mempunyai keluhan-keluhan seperti di
atas. Kalau hanya dua atau tiga orang maka mereka mungkin sedang kena flu biasa.2

B. Pembahasan
Skenario 9
Seorang perempuan usia 30 tahun datang ke klinik anda dengan keluhan utama batuk
pilek berulang sejak 3 minggu yang lalu.
I.

Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi


1. Diagnosa klinis
Anamnesis penyakit
Menanyakan sejak kapan gejala muncul
Apakah sudah merasakan gejala yang sama sebelumnya
Adakah sakit semakin membaik ataupun memberat
Apakah sudah pernah berobat
Apakah ada riwayat alergi
Apakah ada keluhan tambahan seperti demam, sesak napas, sakit kepala, badan

gatal-gatal, meriang, mata terasa panas


Adakah mempunyai sakit menahun
Menanyakan adakah seorang perokok dan sejak kapan merokok
Manayakan riwayat keluarga yang mempunyai penyakit yang sama1

Anamnesis riwayat pekerjaan

Sudah berapa lama bekerja sekarang


Berapakah lama waktu kerja dalam sehari
Riwayat pekerjaan sebelumnya
Alat kerja, bahan kerja, proses kerja
Apakah ada rekan kerja yang mengalami gejala yang sama
Tempat kerja
Kemungkinan pajanan yang dialami
3

APD (Alat Pelindung Diri) yang dipakai


Hubungan gejala dan waktu kerja
Apakah sudah pernah mengambil cuti kerja

Pemeriksaan Fisik

Tanda-tanda vital: suhu, denyut nadi, tekanan darah, frekuensi nafas


Keadaan umum
Pemeriksaan fisik khusus:
Inspeksi: melihat ada atau tidak lesi-lesi alegik pada kulit, melihat warna mata
Palpasi: melakukan palpasi umum untuk mengetahui lokasi nyeri.
Auskultasi: suara paru abnormal?1

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah lengkap


Foto thoraks
Pemeriksaan dahak dengan dengan pewarnaan DFA (direct fluorescent antibody)
menunjukkan adanya Legionella.1

Pemeriksaan Tempat Kerja

Penerangan, kelembaban, pendingin ruangan yang dipakai

2. Pajanan yang dialami


Pajanan fisik
Kemajuan pembangunan industri di Indonesia diikuti dengan pemanfaatan dan
penerapan berbagai tingkat kemanjuan teknologi. Kemajuan perkembangan teknologi
mempunyai dampak, yaitu dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah
produk yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan, sedangkan dampak negatifnya
kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan.2
Pajanan bahaya potensial faktor fisik:

Pendingin udara (kaitannya dengan suhu dan kelembaban ruangan)


Secara umum, pengkondisian udara (air conditioning) dilakukan dengan
mengkondisikan udara dari luar bisa dipanaskan (untuk heating mode seperti di
negeri-negeri dingin) atau didinginkan (untuk cooling mode seperti halnya di
4

Indonesia) sehingga udara yang disemburkan ke dalam ruangan mencapai kondisi


set-point (temperature dan kelembaban) yang diinginkan. Pendingin udara
diklasifikasikan menjadi pendingin udara local dan central. Pendingin udara local
yaitu pendingin udara yang umum dipakai di rumah-rumah atau beberapa ruangan
kantor (biasanya ruang pejabat structural, namun sekarang hamper seluruh ruang
baik ruang staf maupun umum sudah dipasang pendingin udara/AC), sedangkan
pendingin udara sentral adalah pendingin udara yang dikendalikan di satu tempat
tersendiri oleh operator khusus, biasanya hotel-hotel, tempat perbelanjaan, dan
gedung perkantoran yang berskala besar.
Kedua pendingin udara ini berpotensi dalam menyebarkan berbagai virus dan
bakteri. Idealnya, filter mesin AC dibersihkan dan dibubuhi disinfektan
setidaknya 3-4 kali dalam setahun. Jika tidak AC menjadi lokasi ideal bagi
perkembangbiakan rombongan bakteri. Kawanan Chlamidia sp, Escherichia sp,
Legionella sp, akan bersarang dengan nyaman di sela filter AC yang berair dan
lembab. Ketika udara AC menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu pula
koloni kuman menyusup ke saluran pernapasan, terhirup melalui mulut, hidung
atau masuk lewat lubang kuping. Bagi orang sehat dengan stamina prima,
masuknya kuman tak mendatangkan masalah. Lain soal jika korban yang
dijambangi kuman adalah mereka yang daya tahan tubuhnya sedang buruk.
Dhermatopagoides pteronnyssinus dan Dhermatopagoides farina adalah tungau
debu rumah yang sering ditemukan pada gedung lemaba yang menyebabkan

sensitisasi alergi.1
Debu di dalam ruang kerja. Debu merupakan partikel-partikel zat padat,
disebabkan oleh kekuatan-kekuatan mekanis atau alamiseperti pengolahan,
penghancuran, pelembutan, pengepakan yang cepat, peledakan, dan lain-lain dari
bahan baik organic maupun non-organik. Sumber alamiah partikulat atmosfir
adalah debu yang memasuk atmosfir karena terbawa oleh angin. Oleh karena itu,
debu bisa terdapat dimana saja, misalnya untuk indoor, penumpukan barangbarang bekas yang menimbulkan debu. Karena ukurannya yang kecil, debu dapat
terhirup dan tersangkut di dalam paru sehingga dapat mengganggu aktivitas

pernapasan manusia.1
Karpet yang tidak dirawat. Partikel debu yang dibawa oleh manusia dari luar
ruangan, pestisida yang disemprotkan ke ruangan akan menempel pada karpet.
Selain itu ada juga kutu debu yang biasanya tinggal diantara sela-sela karpet,
5

mengkonsumsi partikel-partikel kulit mati yang diproduksi oleh manusia setiap


harinya Juga alas karpet serta perekat yang digunakan untuk merekatkan karpet
tersebut acap kali mengeluarkan senyawa-senyawa organik yang mudah
menguap. Sebagian besar orang pernah merasakan bau kuat yang menyengat dari
karpet yang baru dipasang. Bila karpet tidak terawat, jarang dibersihkan dan
dijemur, maka pertikel debu, dan pencemar lain yang menempel di karpet akan
ikut masuk ke dalam sistem pernafasan manusia sehingga dapat mengganggu
kesehatan.1
Pajanan biologik
Polusi biologi disebabkan oleh kutu debu, jamur, bakteri, serbuk sari tanaman,
dan organisme lain. Terutama, perkantoran modern yang biasanya menggunakan
pendingin tanpa ventilasi alami. Pekerja dapat berisiko mengidap penyakit,
diantaranya:3

Humidifier fever yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh organisme yang
menyebabkan sakit pada saluran pernafasan dan alergi. Organisme ini biasanya

terdapat dan hidup pada air yang terdapat di sistem pendingin.


Legionnaire disease penyakit ini juga berhubungan dengan system pendingin
dalam ruang namun disebabkan oleh spesifik bakteri terutama bakteri legionella
pneumophila. Penyakit ini terutama akan lebih berbahaya pada pekerja dengan
usia lanjut. Reaksi legionella memang sering tidak disertai gejala mencolok
bahkan seperti flu biasa. Paling-paling hanya demam, menggigil, pusing, batuk
berdahak, badan lemas, tulang ngilu dan selera makan lenyap.2,3

Pajanan kimia
Penggunaan pewangi ruangan merupakan salah satu penyebab polusi dalam
ruang karena pewangi ruangan tersebut akan memaparkan bermacam bahan yang
serba kimiawi. Ada yang bisa menyebabkan alergi, pusing, hingga mual. Dilaporkan
bahwa 95% bahan kimia dalam pewangi adalah senyawa sintesis yang berasal dari
petrokimia, termasuk turunan benzene, aldehida dan banyak toksin serta agen
pembuat peka lain. Pajanan yang berulang-ulang akan memicu peningkatan
sensitivitas dan reaksi yang semakin kuat. Sensitivitas ke beragam bahan lain.
Bahan-bahan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk
reaksi alergi, masalah pernapasan dan sensitivitas.pada pajanan berulang, bahan6

bahan tersebut dapat meyebabkan keadaan yang lebih serius, misalnya cacat lahir,
gangguan saraf pusat, dan kanker. Selain itu, juga penyemprot nyamuk, rokok, mesin
fotokopi yang mengeluarkan ozon, penggunaan berbagai desinfektan, hingga tanaman
hidup yang tidak pernah dikeluarkan dari ruangan. Tanaman yang jarang dikeluarkan
dari ruangan juga kurang baik karena pada malam hari tanaman mengeluarkan
karbondioksida dan mengkonsumsi oksigen. Terlebih jika tanaman tersebut berada di
dalam ruangan kantor yang jarang dibuka ventilasi udara segarnya. Selain itu juga
banyak materi bangunan modern, seperti cat diding yang masih baru diaplikasikan,
papan partikel (particle board), papan fiber (fiber board), dan berbagai macam
perabotan plastik yang mengeluarkan gas organik dalam jangka tahunan.1,2
Pajanan Ergonomi
Dengan posisi kerja yang tidak nyaman atau posisi yang salah dapat mengakibatkan
kecelakaan dan penyakit akibat kerja yaitu low back pain.1
Pajanan psikososial
Stress psikis, monoton kerja, tuntutan pekerjaan, hubungan sesama sejawat, mass
psychogenic illness dan lain-lain.1
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
1) Pendingin udara (air conditioning) AC yang jarang dibersihkan serta ventilasi
udara yang kurang menjadi lokasi ideal bagi perkembangbiakan rombongan
bakteri. Kawanan Chlamidia sp, Escherichia sp, Legionella sp, akan bersarang
dengan nyaman di sela filter AC yang berair dan lembab. Ketika udara AC
menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu pula koloni kuman menyusup ke
saluran pernapasan, terhirup melalui mulut, hidung atau masuk lewat lubang
kuping.4
2) Debu di dalam ruang kerja Sumber alamiah partikulat atmosfir adalah debu
yang memasuk atmosfir karena terbawa oleh angin. misalnya untuk indoor,
penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu. Karena ukurannya
yang kecil, debu dapat terhirup dan tersangkut di dalam paru sehingga dapat
mengganggu aktivitas pernapasan manusia.4
3) Karpet yang tidak dirawat Bila karpet tidak terawat, jarang dibersihkan dan
dijemur, partikel debu yang dibawa oleh manusia dari luar ruangan, pestisida
7

yang disemprotkan ke ruangan akan menempel pada karpet. Selain itu ada juga
kutu debu yang biasanya tinggal diantara sela-sela karpet, mengkonsumsi
partikel-partikel kulit mati yang diproduksi oleh manusia setiap harinya. Sebagian
iritasi pada Sick Building Syndrome disebabkan oleh alergen yang terdapat pada
karpet, seperti tungau atau kapang. Juga alas karpet serta perekat yang digunakan
untuk merekatkan karpet yang ikut masuk ke dalam sistem pernafasan manusia
sehingga dapat mengganggu kesehatan.4
4) Pajanan biologi seperti kutu debu, jamur, bakteri, serbuk sari tanaman, dan
organisme lain Humidifier fever yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh
organisme yang menyebabkan sakit pada saluran pernafasan dan alergi.
Organisme ini biasanya terdapat dan hidup pada air yang terdapat di sistem
pendingin. Legionnaire disease penyakit ini juga berhubungan dengan system
pendingin dalam ruang namun disebabkan oleh spesifik bakteri terutama bakteri
legionella pneumophila. Penyakit ini terutama akan lebih berbahaya pada pekerja
dengan usia lanjut. Reaksi legionella memang sering tidak disertai gejala
mencolok bahkan seperti flu biasa. Paling-paling hanya demam, menggigil,
pusing, batuk berdahak, badan lemas, tulang ngilu dan selera makan lenyap.4
5) Pajanan kimia. Penggunaan pewangi ruangan merupakan salah satu penyebab
polusi dalam ruang karena pewangi ruangan tersebut akan memaparkan
bermacam bahan yang serba kimiawi. Ada yang bisa menyebabkan alergi, pusing,
hingga mual. Dilaporkan bahwa 95% bahan kimia dalam pewangi adalah
senyawa sintesis yang berasal dari petrokimia, termasuk turunan benzene,
aldehida. Pajanan yang berulang-ulang akan memicu peningkatan sensitivitas dan
reaksi yang semakin kuat. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan berbagai masalah
kesehatan, termasuk reaksi alergi, masalah pernapasan dan sensitivitas.pada
pajanan berulang, Selain itu, juga penyemprot nyamuk, rokok, mesin fotokopi
yang mengeluarkan ozon, penggunaan berbagai desinfektan, hingga tanaman
hidup yang tidak pernah dikeluarkan dari ruangan. Tanaman yang jarang
dikeluarkan dari ruangan juga kurang baik karena pada malam hari tanaman
mengeluarkan karbondioksida dan mengkonsumsi oksigen. Terlebih jika tanaman
tersebut berada di dalam ruangan kantor yang jarang dibuka ventilasi udara
segarnya. Selain itu juga banyak materi bangunan modern, seperti cat diding yang
8

masih baru diaplikasikan, papan partikel (particle board), papan fiber (fiber
board), dan berbagai macam perabotan plastik yang mengeluarkan gas organik
dalam jangka tahunan.4
6) Pajanan Ergonomi. Posisi tubuh yang membungkuk dan jongkok saat bekerja dan
leher menoleh menekuk.4
7) Pajanan Psikososial. Stress psikis, monoton kerja, tuntutan pekerjaan, dan lainlain.4
4. Jumlah pajanan
Pasien mendapat pajanan yang besar karena jam bekerja yang lama iaitu dari jam 8.00
sehingga 17.00 setiap hari selama satu tahun di gedung tersebut.

1)

5. Faktor individu
Status kesehatan fisik :
Apakah pasien ada riwayat atopi/alergi?
Apakah adanya riwayat pajanan serupa sebelumnya sehingga resikonya

meningkat?
Apakah ada riwayat penyakit dalam keluarga yang mengakibatkan penderita lebih
rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami?

2)

Status kesehatan mental

3)

Higiene perorangan.5

6. Faktor lain diluar pekerjaan


Apakah ada faktor pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit?
Perlu adanya anamnesis lebih lanjut mengenai apakah ada kebiasaan merokok,
pajanan dirumah 5
7. Diagnosis okupasi
Dari 6 langkah diagnosis diatas, maka diagnosis penyakit diatas adalah penyakit
akibat hubungan kerja atau lebih spesifik penyakit Sick Building Syndrome.
II.

Diagnosa Kerja
Sick building syndrome
Sick Building Syndrome adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni
gedung atau bangunan dimana di dalamnya terjadi gangguan sirkulasi udara, yang

dihubungkan dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung tersebut, tetapi tidak
terdapat penyakit atau penyebab khusus yang dapat diidentifikasi.
Terdapat dua komponen diagnosis SBS, pertama apakah gejala terjadi pada
satu atau beberapa pekerja dalam gedung yang sama dan kedua adalah gejala muncul
saat berada di dalam gedung dan menghilang bila berada di luar gedung. Sick building
syndrome bukan penyakit tunggal yang dapat didiagnosis segera pada pekerja di
dalam gedung. Asma, rinitis dan konjungtivitis alergi adalah penyakit alergi yang
mempunyai gejala sama dengan SBS. Sakit kepala dan lethargy merupakan gejala
nonspesifik yang dapat terjadi pada sebagian besar penyakit dan dapat berkaitan
dengan pajanan okupasi. Pengenalan gejala, pemeriksaan fisis serta laboratorium bila
tersedia merupakan langkah awal dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan SBS
bertujuan untuk menyingkirkan kondisi lain yang mempunyai gejala sama.3
Pekerja dengan SBS lebih sensitf terhadap stimuli dibandingkan dengan
pekerja tanpa SBS. Keluhan wheezing dan atau dada tertekan memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut dengan peakflow meter atau spirometri sebelum dan sesudah
kerja. Jika hasil pemeriksaan tidak ditemukan kelainan maka tidak terdapat penyakit.
Waktu saat timbulnya penyakit merupakan salah satu faktor penting pada SBS.
Beberapa metode dapat digunakan untuk membantu dalam mendiagnosis SBS.3
Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor penyebab SBS. Stres akibat
lingkungan kerja mekanismenya belum jelas diketahui, diduga karena tidak ada
keseimbangan antara kebutuhan dengan kemampuan. Stres merupakan gabungan
antara beban kerja di kantor dengan lingkungan sosial dan faktor ini dapat
memberikan fenomena fisiologis maupun psikologis. Kuantitas kerja dapat
menghambat kenyamanan bekerja dan berperan pada iritasi mukosa dan keluhan
umum lainnya. Hal ini merupakan indikator tidak langsung akibat stres kerja.3

Kelainan
Iritasi membran mukosa
Gejala neurologis

Gejala menyerupai asma


Gangguan kulit
Gejala gastrointestinal

Gejala
Iritasi mata,

hidung,

dan

tenggorokan
Nyeri kepala
Kelelahan
Sulit konsentrasi
Cepat marah
Dada terasa tertekan
Wheezing
Kulit kering
Iritasi kulit
Diare
10

Tabel 1. Gejala dan tanda SBS3

Patofisiologi
Terdapat 3 hipotesis untuk menjelaskan gejala SBS antara lain
hipotesis

kimia bahwa volatile organic compounds (VOCs) yang berasal

dari perabot, karpet, cat serta debu, karbon monoksida atau formaldehid yang
terkandung dalam pewangi ruangan dapat menginduksi respons reseptor iritasi
terutama pada mata dan hidung. Iritasi saluran napas menyebabkan asma dan
rinitis melalui interaksi radikal bebas sehingga terjadi pengeluaran histamin,
degradasi sel mast dan pengeluaran mediator inflamasi menyebabkan
bronkokonstriksi. Pergerakan silia menjadi lambat sehingga tidak dapat
membersihkan saluran napas, peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh
bahan pencemar, rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran napas,
membengkaknya saluran napas dan merangsang pertumbuhan sel. Akibatnya
terjadi kesulitan bernapas, sehingga bakteri atau mikroorganisme lain tidak
dapat dikeluarkan dan memudahkan terjadinya infeksi saluran napas.6
Hipotesis ke dua adalah hipotesis bioaerosol; penelitian cross
sectional menunjukkan bahwa individu yang mempunyai riwayat atopi akan
memberikan reaksi terhadap VOCs konsentrasi rendah dibandingkan individu
tanpa atopi. Hipotesis ke tiga ialah faktor pejamu, yaitu kerentanan individu
akan mempengaruhi timbulnya gejala.6 Stres karena pekerjaan dan faktor
fisikososial juga mempengaruhi timbulnya gejala SBS.

Building related

illness (BRI) berbeda dengan SBS, adalah suatu penyakit yang dapat
didiagnosis dan diketahui penyebabnya berkaitan dengan kontaminasi udara
dalam gedung.6

III.

Diagnosa Banding
Legionnaire Disease
Suatu bentuk pneumonia yang lebih severe di mana inflamasi paru terjadi
karena infeksi oleh bakteri Legionella, antaranya Legionella pneumophila.
Penyebaran secara aerosol/air-borne, tidak diinfeksi dengan kontak perorangan.
Gejala dapat timbul 2- 14 hari setelah exposure terhadap bakteri.2

11

Antara gejala legionnaire: cephalgia, myalgia, dingin, demam, batuk,


fatigue, nafsu makan menurun, confusion, sesak nafas, dan gangguan GIT seperti
nausea dan vomitus.2
Bukan saja menginfeksi paru, tetapi pada kasus lebih serius dapat menyebar
ke jantung. Bentuk lebih mild dari legionnaire adalah Pontiac fever yang dapat
sembuh sendiri tanpa tatalaksana. Paling umum, Penyakit bangunan wabah hasil
dari aerosol yang terkontaminasi, biasanya disebarkan dalam sistem ventilasi dari
menara pendingin, kondensor yang menguapkan, dan sistem pendingin udara.
Sumber lain dari aerosol termasuk air mancur hias,dan bak pusaran air panas.
Spesies Legionella dapat kultur sampai 40% dalam menara pendingin, meskipun
infeksi yang berasal dari paparan aerosol dilaporkan jarang. Bakteri Legionella
berkembang dalam sistem air dipertahankan pada suhu hangat antara sekitar 26,7
C (80 F) dan 48,9 C (120 F). Pembersihan dan perawatan sumber-sumber
IV.

potensial sangat penting dalam mencegah wabah Legionnairess disease.2,5


Penatalaksanaan
Medika mentosa
Pengobatan dilakukan berdasarkan simptom:
Decongstan: membantu melancarkan pernafasan dan pengeluaran mucus atau
lendir dari hidung.
Dextromethorpan atau ambroxol: membantu mengeluarkan dahak atau
mengencerkan dahak.
Paracetamol, ibuprofen, aspirin: demam, sakit kepala dan nyeri seluruh badan.
Antibiotik erythromycin: untuk penyakit seperti Legionnaire.5,7

Non-medika mentosa
Menghilangkan sumber

kontaminasi

penyebab

SBS,

misalnya

dengan

pembersihan AC secara berkala


Jangan merokok, karena dapat memperberat penyakit
Menghilangkan sumber polutan. Jika suatu gedung tekah dinyatakan telah
terkena SBS, maka perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari
sumber polutan yang dominan. Setelah sumber tersebut ditemukan, maka
langkah selanjutnya adalah menghilangkan sumber polutan tersebut.
Meningkatkan laju pertukaran udara. Ini dapat dilakukan dengan melakukan
modifikasi terhadap sistem ventilasi yang telah ada disesuaikan dengan standar
baku yang telah ada.
Membersihakan udara yang disirkulasikan di dalam gedung. Hal ini dapat
dilakukan dengan menggunakan filter yang dapat menyaring udara, meskipun
sangat terbatas.
12

Menjaga temperature dan kelembapan ruangan dalam rentang dimana


kontaminasi biologis susah bertahan hidup. Biasanya dalam temperature 70oF
dan kelembapan 40-60%.
Jendela sedapat mungkin dibuka untuk membantu proses pertukaran udara dalam
dan udara luar.
V.

Pencegahan
Edukasi tentang penyakit SBS
Upaya agar udara luar yang segar dapat masuk ke dalam gedung secara baik dan
terdistribusi secara merata ke semua bagian didalam suatu gedung. Dalam hal ini
perlu diperhatikan agar lubang tempat masuknya udara luar tidak berdekatan
dengan sumber-sumber pencemar di luar gedung agar bahan pencemar tidak
terhisap masuk ke dalam gedung. Ventilasi dan sirkulasinya udara dalam gedung
diatur sedemikian rupa agar semua orang yang bekerja merasa segar, nyaman dan
sehat, jumlah supply udara segar sesuai dengan kebutuhan jumlah orang didalam
ruangan, demikian pula harus diperhatikan jumlah supply udara segar yang cukup
apabila ada penambahan-penambahan karyawan baru dalam jumlah yang

signifikan.
Perlu pula diperhatikan pemilihan bahan-bahan bangunan dan bahan pembersih
ruangan yang tidak akan mencemari lingkungan udara di dalam gedung dan lebih

ramah lingkungan (green washing,non toxic, natural, ecological friendly).


Penambahan batas-batas ruangan dan penambahan jumlah orang yang bekerja
dalam satu ruangan hendaknya dilakukan setelah memperhitungkan agar setiap

bagian ruangan dan setiap individu mendapat ventilasi udara yang memadai.
Keluar gedung saat istirahat untuk menghirup udara segar.
Alokasikan ruangan khas untuk merokok dan buat jalur ventilasi untuk asap
buangannya demikian sehingga tidak bercampur dengan sirkulasi udara segar

VI.

menuju ruangan lainnya.


Segera laporkan apabila terlihat gejala-gejala sick building syndrome.
Prognosis
Dubia ad bonam

C. Kesimpulan
Penyakit sick building syndrome (SBS) biasanya timbul pada lokasi atau tempat
kerja sehari-hari yang kurang sehat. Kehidupan masyarakat yang modern dan
13

dikelilingi dengan perangkat teknologi bisa berdampak buruk bagi tubuh, salah
satunya adalah penyakitnya SBS. SBS adalah istilah yang menyatakan bahwa gedunggedung industri, perkantoran, perdagangan, dan rumah tinggal yang menimbulkan
dampak penyakit. SBS sangat mungkin menurunkan produktivitas. Berbagai penyakit
itu muncul disebabkan polutan dari berbagai perangkat dan peralatan di dalam
ruangan gedung, kantor, dan rumah. Polutan yang mencemari ruangan kerja itu seperti
asap rokok, ozone yang berasal dari mesin fotokopi dan printer, kuman dan bakteri
yang berasal dari karpet. Sedangkan di rumah tangga seperti furnitur rumah tangga,
pembersih cat, vacum cleaner, debu, dan karbon monoksida. Memang penyakit yang
ditimbulkan lewat oleh SBS tersebut tidak seketika terjadi. Namun, jika terus-menerus
terkena dampak tersebut bisa memicu munculnya berbagai penyakit dalam tubuh
seperti kanker, TBC, dan flu.
Jadi, yang perlu dibenahi adalah rumah atau lingkungan tempat kerja. Caranya
misalnya dengan memberikan ruang sanitasi udara yang cukup, begitu juga untuk
pancaran sinar matahari, arena polutan itu bisa mati karena pengaruh sinar matahari.

Daftar pustaka
1. Utami ET. Hubungan antara kualitas udara pada ruangan ber-AC sentral dan sick
building sindrome. Jateng-DIY. Tesis DIY : UNNES; 2005.
2. Jaakkola K. Sick building syndrome. In: Hendrik DJ, Burge PS, Beckett WS, Churg
A, editors. Occupational disorder of the lung: recognation management and
prevention. 5th ed. London: WB Saunders; 2010. Page 241-55.
3. Aditama TY, Andarini SL. Sick building syndrome. Jakarta: Med J Indones; 2008.
Page 124-31.

14

4. Winarti M, Basuki B, Hamid A. Air movement, gender and risk of sick building
syndrome headache among employees in Jakarta office. Med J Indones; 2007. Page
171-2.
5. Fischman ML. Current Occupational & Environmental Medicine. Ed. 4. New York :
Mc Graw Hill ; 2007. Page 718-719.
6. Hodgson M. Indoor environmental exposure and symptoms. Environ Health
Perspect 2009. Page 663-7.
7. Saijo y, Kishi R, Seta F, Katakura Y, Urashima Y, Hatakayama A, et al. Symptoms in
relation to chemicals and dampness in newly built dwellings. Int Arch Occup
Environ Health 2012. Page 461-70.

15