Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN FISTULA GENITALIA

Mata Kuliah

: Keperawatan Maternitas

Dosen : Hj. Ulvi Mariati, SKp, M.Kes

Disusun Oleh :
Kelompok V
Ivanny Leoni
Hayatunnupus Haqiqi
Khairatunnisa
Febbi Wilda Nasir

13111800
13111798
13111802
13111796
IIIA

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2015

Kata Pengantar

Puji syukur kami ucapakan pada Allah SWT karena dengan ridhon-Nya kami dapat
menyusun serta dapat meyelesaikan makalah ini.Salawat serta salam tak lupa pula kami
ucapkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta pengikut beliau dari dahulu,
sekarang, dan hingga hari akhir nanti. Ucapan terima kasih tak lupa juga kami ucapkan
pada dosen mata kuliah KEPERAWATAN MATERNITAS yang telah memberikan kami
bimbingan serta pengajaran kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan hasil
makalah kami ini.
Kami menyadari, meskipun kami telah berusaha dengan sebaik-baiknya dalam
menyelesaikan makalah ini tapi kami mengetahui makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Karena itu kami mohon kritik serta saran yang kira nya dapat membangun
bagi kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini menjadi lebih baik. Kami
berharap selain untuk memenuhi nilai kami dalam mata kuliah KEPERAWATAN
MATERNITAS, makalah ini juga dapat bermanfaat bagi teman-teman dan seluruh
pembacanya.

Padang, November 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................

DAFTAR ISI.................................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................................
B. Tujuan.....................................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Fistula Genitalia....................................................................................
B. Etiologi Fistula........................................................................................................
C. Klasifikasi Fistula...................................................................................................
D. Manifestasi Klinis Fistula Genitalia........................................................................
E. Patofisiologi Fistula................................................................................................
F. Tanda dan Gejala Fistula Genitalia.........................................................................
G. Pencegahan Fistula Genitalia..................................................................................
H. Penatalaksanaan Fistula Genitalia...........................................................................
I.

Komplikasi Fistula Genitalia..................................................................................

BAB III ASKEP TEORITIS


A. Pengkajian................................................................................................................
B. Diagnosa Keperawatan............................................................................................
C. Intervensi Keperawatan............................................................................................

ii

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan..............................................................................................................
B. Saran........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fistula genitalia banyak ditemukan di negara berkembang sebagai akibat persalinan
yang lama maupun penanganan yang kurang baik. Dinegara maju kasus ini terbanyak
disebabkan oleh tindakan operasi histerektomi maupun secara abdominal (Sarwono,
2009)
Fistula genitalia ini merupakan kasus yang tidak seorangpun membayangkan akan
terjadi pada penderitanya. Penderitaan pasien, bukan hanya difisik saja tetapi berupa
mudah mengalami ISK, namun memiliki dampak psikososial yang dirasakan lebih
menyakitkan. Penderita merasa terisolasi dari pergaulan, keluarga dan lingkungan
kerjanya oleh karena enantiasa mengeluarkan urine dan bau yang tidak sedap setiap saat.
Tidak jarang suami meninggalkan nya dengan alasan karena tidak terpenuhinya
kebutuhan biologis dengan wajarnya (Sarwono, 2009)
Kasus ini seringkali dialami oleh para wanita dari kalangan sosio ekonomi yang
rendah dimana pada saat kehamilan dan persalinan tidak mendapat pelayanan yang
mamadai sehingga berlangsung lama dan terjebak pada persalinan kasip.
Angka kejadian pasti di Indonesia sulit didapatkan oleh karena banyak laporan hanya
menggambarkan kejadian penderita yang datang ke rumah sakit. WHO (1991)
melaporkan angka kejadian di Afrika 55-80 per 100.000 kelahiran hidup. Di Ethopia 90%
disebabkan oleh persalinan kasip.
B. Tujuan
Agar mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada ibu post fistuloraphy
atas indikasi fistula genitalia

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Fistula Genitalia
Fistula adalah suatu ostium abnormal, berliku-liku antara dua organ berongga
internal atau antara organ berongga internal dan dengan tubuh bagian luar. Nama fistula
menandakan kedua area yang berhubungan secara abnormal (Suzanne C. Smeltzer. 2001).
Fistula merupakan saluran yang berasal dari rongga atau tabung normal kepermukaan
tubuh atau ke rongga lain, fistula ini diberi nama sesuai dengan hubungannya (misalnya :
rekto-vaginal, kolokutaneus) (Sylvia A. Price, 2005). Fistula adalah sambungan abnormal
diantara dua permukaan epitel (Chris Brooker. 2008).
Genitalia ialah organ reproduksi (Kamus Keperawatan Lengkap). Fistula vagina
adalah suatu kondisi medis yang parah di mana suatu fistula (lubang) berkembang antara

rektum dan vagina atau antara kandung kemih dan vagina setelah parah atau gagal
melahirkan, saat perawatan medis yang cukup tidak tersedia. Fistula genitalia adalah
terjadinya

hubungan

antara

traktus

genitalia

dengan

traktus

urinarius

atau,

gastrointestinal.
B. Etiologi Fistula
1. Sebab obstetrik
Terjadinya penekanan jalan lahir oleh kepala bayi dalam waktu lama, seperti pada
partus lama iskemia kemudian nekrosis lambat, atau akibat terjepit oleh alat pada
persalinan buatan. Partus dengan tindakan, seperti pada tindakan SC, kranioklasi,
dekapitasi, ekstraksidengan cunam, seksio-histerektomia.
2. Sebab ginekologik
a.Proses keganasan/carsinoma terutama carsinoma cervix, radiasi/penyinaran, trauma
operasi atau kelainan kongenital.
b.Histerektomi totalis.
c.Lokasi terbanyak pada apeks vagina ukuran 1-2 mm Terjadi akibat terjepit oleh klem
atau terikat oleh jahitan.
3. Sebab trauma
terjadi karena trauma (abortus kriminalis).
Fistula biasanya berkembang ketika terjadi penekanan persalinan yang lama anak
yang belum lahir begitu erat di jalan lahir yang dipotong aliran darah ke jaringan
sekitarnya yang necrotise dan akhirnya membusuk. Cedera ini dapat disebabkan oleh
pemotongan kelamin perempuan, aborsi, atau panggul patah tulang. Penyebab lainnya
yang secara langsung potensial untuk pengembangan fistula obstetrik adalah pelecehan
seksual dan perkosaan, terutama dalam konflik/pasca konflik daerah, trauma bedah
lainnya, kanker ginekologi atau radioterapi pengobatan terkait lainnya, dan mungkin yang
paling penting, terbatas atau tidak memiliki akses ke perawatan kandungan atau layanan
darurat.
Penyebab distal yang dapat menyebabkan perkembangan isu-isu kepedulian fistula

obstetri yaitu kemiskinan, kurangnya pendidikan, pernikahan dini dan melahirkan, peran
dan status perempuan di negara berkembang, dan praktek-praktek tradisional yang
berbahaya dan kekerasan seksual. Akses ke perawatan darurat kebidanan merupakan
salah satu tantangan utama dalam mencegah perkembangan fistula obstetri. Ketersediaan
dan akses ke fasilitas kesehatan yang memiliki staf yang terlatih dan peralatan bedah
khusus yang diperlukan untuk kelahiran caesar sangat terbatas di bagian-bagian tertentu
di dunia.
C. Klasifikasi Fistula
1. Fistula enterocutaneous
Adalah bagian dinding GI tract yang terbuka sehingga menyebabkan keluarnya isi
perut dan keluarnya melalui kulit.
2. Fistula enterovesicular (vesikovaginal dan uretrovaginal)
Fistula vesikovaginal adalah ostium antara kandung kemih dan vagina sedangkan
fistula uretrovaginal adalah ostium antara uretra dan vagina. Fistula pada bagian ini
dapat mengakibatkan sering terjadinya infeksi saluran kemih.

3. Fistula rektovaginalis
Adalah suatu ostium antara rectum dan vagina atau merupakan alur granulomatosa
kronis yang berjalan dari anus hingga bagian luar kulit anus, atau dari suatu abses anus
atau daerah perianal.
4. Fistula enterocolic
Adalah saluaran yang melibatkan usus besar atau kecil.
5. Fistula multiple
D. Manifestasi Klinis Fistula Genitalia
Gejala tergantung pada kekhususan defek. Pus atau feses dapat bocor secara konstan
dari lubang kutaneus. Gejala ini mungkin pasase flatus atau feses dari vagina atau
kandung kemih,tergantung pada saluran fistula. Fistula yang tidak teratasi dapat
menyebabkan infeksi sistemik disertai gejala yang berhubungan.

E. Patofisiologi Fistula
Salah satu etiologi dari terbentuknya fistel adalah dari pembedahan. Biasanya karena
terjadi kurangnya ke sterilan alat atau kerusakan intervensi bedah yang merusak
abdomen. Maka kuman akan masuk kedalam peritoneum hingga terjadinya peradangan
pada peritoneum sehingga keluarnya eksudat fibrinosa (abses), terbentuknya abses
biasanya disertai dengan demam dan rasa nyeri pada lokasi abses.
Infeksi biasanya akan meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan
(perlengketan/adesi), karena adanya perlengketan maka akan terjadinya kebocoran pada
permukaan tubuh yang mengalami perlengketan sehingga akan menjadi sambungan
abnormal diantara 2 permukaan tubuh. Maka dari dalam fistel akan meneluarkan drain
atau feses.
Karena terjadinya kebocoran pada permukaan tubuh yang mengalami perlengketan
maka akan menyumbat usus dan gerakan peristaltik usus akan berkurang sehingga cairan
akan tertahan didalam usus halus dan usus besar (yang bisa menyebabkan edema), jika
tidak di tangani secara cepat maka cairan akan merembes kedalam rongga peritoneum
sehingga terjadinya dehidrasi.
F. Tanda dan Gejala Fistula Genitalia
Gangguan yang dihasilkan biasanya mencakup :
1.

Inkontinensia urine

2.

Infeksi parah dan ulserasi pada saluran vagina

3.

Sering terjadi kelumpuhan yang disebabkan oleh kerusakan

4.

Wanita merasa tidak nyaman

5.

Haid terganggu, amenorrhoe sekunder

6.

Kulit sekitar anus tebal

7.

Infeksi pada jalan lahir

8.

Pada pemeriksaan spekulum terlihat dinding vesika menonjol keluar

9.

Flatus dari vagina, keluar cairan dari rectum.

G. Pencegahan Fistula Genitalia

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :


1.

Pemeriksaan secara rutin ke perawatan kandungan

2.

Dukungan dari profesional perawatan kesehatan terlatih selama kehamilan,

3.

Menyediakan akses ke keluarga berencana

4.

Mempromosikan praktek jarak antar kelahiran

5.

Mendukung perempuan dalam bidang pendidikan

6.

Menunda pernikahan dini.

H. Penatalaksanaan Fistula Genitalia


1. Medis
Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan cara operasi. Operasi untuk kasus
ini tanpa komplikasi memiliki tingkat keberhasilan 90%. Operasi ini sukses dapat
memungkinkan perempuan untuk hidup normal dan memiliki anak lagi. Perawatan
pasca operasi sangat penting untuk mencegah infeksi. Beberapa wanita yang tidak
bersedia untuk operasi ini, dapat mencari pengobatan alternatif yang disebut urostomy
(pengumpulan urin dipakai setiap hari).
Manfaat terbesar dari perawatan bedah adalah bahwa banyak wanita dapat kembali
bergabung dengan keluarga mereka, masyarakat, dan masyarakat tanpa rasa malu dari
kondisi mereka karena bocor dan bau tidak lagi sekarang.
2. Keperawatan
a.

Pra operasi : persiapan fisik, lab, antibiotika profilaksis, persiapan kolon bila perlu

b.

Waktu reparasi, tergantung sebab :


- Trauma operasi segera, saat operasi tsb, atau ditunda jika diketahui pasca op.
- Obstetrik 3 bulan pascasalin, kecuali fistula fekalis dilakukan setelah 3-6 bulan.

c.
I.

Pasca operasi : drainase urin kateter terpasang.

Komplikasi Fistula Genitalia

1. Infeksi
2. Gangguan fungsi reproduksi
3. Gangguan dalam berkemih
4. Gangguan dalam defekasi

5. Ruptur/ perforasi organ yang terkait


J.

Pemeriksaan Penunjang Fistula Genitalia

1.

Darah lengkap

2.

CT

3.

BT

4.

Golongan darah

5.

Urium creatiumi

6.

Protein

7.

Albumin

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian
1. Identitas
Biasanya berisi nama, jenis kelamin, alamat, No Medical Record, penanggung
jawab, agama, alamat, tanggal masuk, dan lain-lain.
2. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : Biasanya normal
Suhu
: Biasanya normal
Pernafasan
: Biasanya normal
Nadi
: Biasanya normal
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya terjadi partus lama, partus dengan tindakan SC, karsinoma, radiasi,
trauma operasi atau kelainan congenital, aborsi, pelecehan seksual atau

pemerkosaan.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya terjadi kelumpuhan, inkontinensia urine, haid klien biasanya
terganggu, kulit sekitar anus tebal, infeksi pada jalin lahir, dinding vesika
menonjol keluar, dan keluar cairan dari rectum.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya
d. Riwayat menstruasi
Biasanya haid klien terganggu dengan terjadi amnorrhoe sekunder.
4.Pemeriksaan Fisik
a.Rambut
Biasanya rambut klien bersih, tidak ada ketombe.
b.Mata
Biasanya simertsi kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
dan pupil isokor.
c.Hidung
Biasanya tidak terdapat oedema, tidak ada lesi dan simetris kiri dan kanan.
d.Telinga
Biasanya simetris kiri dan kanan, fungsi pendengaran baik.
e.Mulut
Biasanya mukosa bibir lembab.
f.Leher
Biasanya tidak pembesaran dan pembengkakan kelenjar getah bening
g.Payudara
Biasanya simetris kiri dan kanan, dan tidak ada pembengkakan, papilla mamae
keluar dan tidak terdapat nyeri saat menyusui.
h.Jantung
I : biasanya ictus cordis tidak terlihat
P : biasanya ictus cordis teraba
P : biasanya pekak
A: biasanya BJ I dan BJ II teratur
i.Abdomen
Inspeksi : biasanya tidak asites
Auskultasi : biasanya bising usus normal
Palpasi : biasanya tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas
Perkusi : biasanya tympani
j.Genitalia
Biasanya keluar cairan dari rectum dan vagina, kulit sekitar anus tebal, infeksi
pada jalin lahir, dan dinding vesika menonjol keluar
i.Ekstremitas
Biasanya terjadi kelumpuhan pada ekstermitas bawah akibat trauma operasi.

B. Diagnosa Keperawatan
1.Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi
2.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses
pembedahan
3.Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
4.Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5.Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi,

kesalahan

interpretasi.
C. Intervensi Keperawatan
No
1.

Diagnosa
Nyeri b.d iritasi
mukosa, proses
inflamasi

NOC
Pain level
Pain control
Comfort level
Kriteria hasil :
a. Mampu mengontrol
nyeri.
b. Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan

NIC
1. Lakukan pengkajian nyeri.
2. Observasi reaksi
komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
3. Kaji kultur nyeri pasien
yang mempengaruhi nyeri
4. Evaluasi pengalaman nyeri
5. Evaluasi bersama pasien

dan im kesehatan lain


menejemen nyeri.
6. Bantu pasien dan keluarga
c. Mampu mengenali nyeri.
untuk mencari dukungan.
d. Menyatakan rasa
7. Kurangi faktor presipitasi
nyaman setelah nyeri
nyeri
berkurang.
8. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
9. Berikan anlgetik untuk
mengurangi nyeri
10. Evaluasi keefektifan
control nyeri.

2.

Resiko tinggi infeksi


b.d penurunan daya
tahan tubuh, proses
pembedahan

Immune status
Knowledge : infection
control
Risk control
Kriteria hasil:
a. Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
b. Mendeskripsikan proses
penularan penyakit.
c. Menunjukkan

infeksi
d. Menunjukkan perilaku

perubahan status
kesehatan

mengungkapkan gejala

Kecemasan
berhubungan dengan

sebelum metindakan
keperawatan
5. Pertahankan lingkungn

infeksi sistemik dan lokal.

1.Gunakan pendekatan yang


menenangkan
2.Nyatakan dengan
harapan
pasien
3.Temani

cemas
b.Mengidentifikasi,
mengungkapkan

perlu
4. Cuci tangan sesudah dan

alat
6. Tingkatkan intake nutrisi
7. Monitor tanda dan gejala

mencegah timbulnya

3.

setelah dipakai pasien lain


2. Pertahankan teknik isolasi
3. Batasi pengunjung bila

aseptik selama pemasangan

kemampuan untuk

hidup sehat
Kontrol kecemasan
Koping
Kriteria Hasil:
a. Klien mampu

1. Bersihkan lingkungan

dam

menujjukan teknik untuk

jelas

terhadap

pelaku

pasien

untuk

memberikan keamanan dan


mengurangi kecemasan
4.Libatkan keluarga untuk

mengontrol cemas
mendampingi klien
c.Vital sign dalam batas
5.Instrusikan klien untuk
normal
teknik relaksasi
d.Postur tubuh, ekspresi
6.Bantu pasien mengenal
wajah dan tingkat aktivitas
situasi yang menyebabkan
menujukkan berkurangnya
kecemasan
kecemasan
7. Kelola pemberian obat anti
cemas

10

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelayanan asuhan keperawatan pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko
vaginalis harus sesuai dengan instruksi dokter. Asuhan yang diberikan kepada ibu
tersebut, seperti mengontrol keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital, menganjurkan ibu
untuk bed rest total dan banyak minum air putih sesuai yang diinstruksikan dokter,
menganjurkan ibu untuk makan yang cukup dan mengingatkan ibu untuk rutin minum
obat yang diresepkan dokter.
B. Saran
Semoga dalam pembuatan makalah ini berguna bagi pembaca pada umumnya dan
khusunya berguna bagi penulis dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu post
fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko vaginalis. Dalam pembuatan makalah ini, penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar pembuatan makalah selanjutnya bisa
lebih baik lagi.
.

11

Anda mungkin juga menyukai