Anda di halaman 1dari 8

1

PENGARUH SUHU DAN TEKANAN TERHADAP PENINGKATAN


EFISIENSI THERMAL SIKLUS RANKINE PADA PEMBANGKIT DAYA
TENAGA UAP

Oleh

BAYU AGUNG PERMANA (0615021007) TEKNIK MESIN UNILA


JASIRON (0715021012) TEKNIK MESIN UNILA
NENI SUSANTI (0815021014) TEKNIK MESIN UNILA

ABSTRAK

PENGARUH SUHU DAN TEKANAN TERHADAP PENINGKATAN


EFISIENSI TERMAL SIKLUS RANKINE PADA PEMBANGKIT DAYA
TENAGA UAP

Oleh

Bayu Agung Permana


Jasiron
Neni Handayani

Pembangkit daya tenaga uap merupakan perangkat yang berfungsi sebagai


penghasil tenaga dengan memanfaatkan energi potensial uap yang diubah
menjadi energi kinetis sehingga dapat memberikan kerja mekanik memutar poros
dan menghasilkan daya. Perangkat daya tenaga uap ini memiliki siklus yang bisa
disebut siklus rankine.

Artikel ini bertujuan unutk mengetahui pengaruh suhu dan tekanan dalam
meningkatkan efisiens temali, kemudian menggambarkan bahwa efisiensi termal
mampu memberikan pengaruh terhadap prestasi kerja pembangkit daya uap
dalam menghasilkan daya listrik. Mengetahui metode atau cara dalam
meningkatkan efisiensi termal.

Cara untuk meningkatkan efisiensi termal melalui analisa siklus rankine yaitu,
menurunkan tekanan kondensor, meningkatkan temperature uap panas lanjut
(superheated)dan meningkatkan tekanan pada boiler.

Metode diatas mampu memberikan hasil yang sesuai dengan data literatur yang
ada, bahwa peningkatan efisiensi termal dipengaruhi oleh suhu dan tekanan,
efisiensi termal mampu memberikan pengaruh pada kerja pembangkit daya teaga
uap, semakin besar efisiens termal yang duhasilkan, maka semakin besar daya
listrik yang dihasilkan.

Kata kunci: tekanan, suhu, efisiensi termal, siklus rankine, pembangkit daya
tenaga uap
2

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangkit daya tenaga uap merupakan perangkat yang berfungsi sebagai


penghasil energi dengan memanfaatkan perangkat seperti pompa, boiler, turbin
uap dan kondensor.

Boles dan Chengel (2006)1 mengatakan bahwa pembangkit daya tenaga uap
bertugas untuk menghasilkan daya listrik di dunia dan juga sedikit meningkatkan
efisiensi terhadap penggunaan bahan bakar, meskipun semua usaha yang dibuat
untuk meningkatkan efisiensi siklus pada pembangkit daya tenaga uap yang
beroperasi.

Ide yang melatar-belakangi semua modifikasi bentuk pembangkit daya untuk


menambah efisiensi termal siklus daya, yaitu meningkatkan temperatur rata-rata
fluida kerja pada boiler dan menurunkan temperature rata-rata yang telah dilepas
dari boiler dan menuju kondensor.

Siklus daya yang digunakan pada pembangkit daya adalah siklus renkin. Siklus
Rankine adalah siklus termodinamika yang mengubah panas menjadi kerja. Panas
disuplai secara eksternal pada aliran tertutup, yang biasanya menggunakan air
sebagai fluida yang bergerak. Siklus ini menghasilkan 80% dari seluruh energi
listrik yang dihasilkan di seluruh dunia. Siklus ini dinamai untuk mengenang
ilmuwan Skotlandia, William John Maqcuorn Rankine.

Siklus Rankine adalah model operasi mesin uap panas yang secara umum
ditemukan di pembangkit listrik. Sumber panas yang utama untuk siklus Rankine
adalah batu bara, gas alam, minyak bumi, nuklir, dan panas matahari.2

Tujuan

Adapun tujuan pada penulisan artikel yang berjudul “PENGARUH SUHU DAN
TEKANAN TERHADAP PENINGKATAN EFISIENSI TERMAL SIKLUS
RANKINE PADA PEMBANGKIT DAYA TENAGA UAP” adalah:

1. Mengetahui pengaruh suhu dan tekanan dalam proses penigkatan efisiensi


termal siklus rankine
2. Memberikan gambaran terhadap pengaruh besar efisiensi termal terhadap
prestasi kerja pembangkit daya uap.
1
Yunus A Chengel dan Michael A Boles. 2006. Thermodynamics an engineering approach fifth
edition. MC Graw Hill. USA. 560
2
http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_Rankine di sunting 20 MRET, 08.57 AM
3

3. Menunjukan metode dalam meningkatkan efisiensi termal siklus renkin


dalam upaya meningkatkan prestasi kerja pem,bangkit daya uap.

Hipotesa

Adapun Hipotesa yang dibuat penulis dalam artikel yabg berjudul “PENGARUH
SUHU DAN TEKANAN TERHADAP PENINGKATAN EFISIENSI TERMAL
SIKLUS RANKINE PADA PEMBANGKIT DAYA TENAGA UAP” adalah:
Suhu dan Tekanan sangat berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi termal
siklus renkin pada pembangkit daya tenaga uap.

PENDEKATAN TEORITIK

Pembangkit Daya Tenaga Uap

Menurut Basyirun (2008)3 pembangkit daya tenaga uap atau yang lazim disebut
mesin tenaga uap Mesin tenaga uap merupakan jenis mesin pembakaran luar.
Fluida kerja dengan sumber energi terpisah. Sumber energi kalor dari proses
pembakaran digunakan untuk membangkitkan uap panas. Uap panas dibangkitkan
didalam boiler atau sering disebut ketel uap. Untuk memperoleh uap dengan
temperatur yang tinggi digunakan reheater. Pada reheater uap dipanaskan lagi
menjadi uap panas lanjut sehingga temperaturnya naik. Selanjutnya uap panas
dimasukan ke Turbin Uap.

Didalam turbin uap energi uap panas dikonversi menjadi energi mekanik didalam
sudu-sudu turbin uap. Energi mekanik yang berupa putaran poros turbin uap akan
menggerakan generator pada instalasi pembangkit listrik tenaga uap. Uap panas
yang kelur dari turbin yang sudah dipakai sebagain besar energinya dilewatkan
melalui eqonomiser. Pada eqonomiser uap sisa diambil energi panasnya untuk
memanaskan air yang akan masuk boiler.Skema sistem pembangkit daya uap
sederhana4

Gambar 1. Skema sitem pembangkit daya uap

3
Basyirun, S. Pd, M.T., Dkk. 2008. Buku Ajar Mesin Konversi Energi. Universitas Negeri
Semarang: PKUPT UNNES/ Pusat Penjamin Mutu
4
Daramy Yunus, Asyari. 2005. Diktat Termodinamika II. Jakarta: Universitas Darma Persada.
4

Siklus Rankine

Menurut Basyirun, dkk. (2008)5 siklus rankine di gambarkan sebagai berikut.

Gambar 2. Siklus rankine

Dengan bagan sederhana sebagai berikut

Gambar 3. Bagan sederhana siklus renkin

Proses termodinamika dari siklus Rankine tersebut adalah sebagai berikut


[gambar 2 dan 3]:

1-2 Proses kompresi adiabatis berlangsung pada pomp


2-3 Proses pemasukan panas pada tekanan konstan terjadi boiler
3-4 Proses ekspansi adiabatis berlangsung pada turbin
4-1 Prose pengeluaran panas pada tekanan konstan

Fluida kerja berupa air jenuh pada kondensor dikompresi pompa sampai masuk
boiler atau ketel uap. Dari proses kompresi pada pompa terjadi kenaikan
temperature kemudian didalam boiler air dipanaskan. Sumber energi panas berasal
dari proses pembakaran atau dari energi yang lainya seperti nuklir, panas
matahari, dan lainnya. Uap yang sudah dipanaskan di boiler kemudian masuk
turbin. Fulida kerja mengalami ekspansi sehingga temperatur dan tekanan turun.

5
Basyirun, S. Pd, M.T., Dkk. 2008. Buku Ajar Mesin Konversi Energi. Universitas Negeri
Semarang: PKUPT UNNES/ Pusat Penjamin Mutu
5

Selama proses ekspansi pada turbin terjadi terjadi perubahan dari energi fluida
menjadi energi mekanik pada sudu-sudu menhasilkan putaran poros turbin. Uap
yang keluar dari turbin kemudian dikondensasi pada kondensor sehingga sebagian
besar uap air menjadi mengembun. Kemudian siklus berulang lagi.

Gambar 4. Diagram silus ideal rankine

Gambar 5. Proses irreversible pada pompa dan turbin

Penyimpangan siklus aktual dari siklus ideal dikarenakan karena beberapa faktor
seperti gesekan fluida, kerugian panas, dan kebocoran uap [gambar 4 dan 5]
Gesekan fluida mengakibatkan tekanan jatuh pada banyak perlatan seperti boiler,
kondensor dan di pipa-pipa yang menghubungkan banyak peralatan. Tekanan
jatuh yang besar pada boiler mengkibatkan pompa membutuhkan tenaga yang
lebih untuk mempompa air ke boiler. Tekanan jatuh juga mengakibatkan tekanan
uap dari boiler ke turbin menjadi lebih rendah sehingga kerja turbin tidak
maksimal.

Kerugian energi panas banyak terjadi pada peralatan. Pada turbin karena proses
ekspansi uap air pada sudu-sudu dan rumah turbin banyak kehilangan panas.
Kebocoran uap juga mengibatkan kerugian yang tidak bisa diremehkan, biasanya
terjadi didalam turbin. Karena sebab-sebab tersebut mengakibatkan efisiensi
menjadi turun.
6

Efisiensi Termal

Efisiensi termal6 adalah konsep dasar dari efisiensi siklus ideal yang didefinisikan
perbandingan antara energi yang berguna dengan energi yang masuk. Energi
berguna adalah pengurangan antara energi masuk dengan energi terbuang. Jadi
efisiensi termal dirumuskan dengan persamaan :
η = Energi Berguna / Energi masuk

Cara Meningkatkan Efisiensi Termal Siklus Rankine

Menurut Boles dan chengel (2006)7 ada 3 cara dalam meningkatkan efisiensi
termal siklus rankine, yaitu:

a. Menurunkan tekanan kondensor


b. Meningkatkan tekanan pada boiler
c. Meningkatkan suhu pada saat fluida kerja berada dalam keadaan superheated

PEMBAHASAN

Penurunan tekanan pada kondensor memberikan pengaruh terhadap kualitas fluida


kerja yang semula berbentuk uap jenuh (saturated vapor) dengan kualitas 100%
menjadi uap jenuh campuran dengan keadaan cair jennuh campuran (saturated
liquid mixture) dan hal ini memberikan pengaruh terhadap kuantitas air yang akan
dipompakan kembali menuju boiler.

Gambar 6. Diagram proses penurunan tekanan


kondensor

Chengel dan boles melakukan studi kasus pada metode yang telah ada untuk
menaikan efisiensi melalui pengaruh suhu dan tekanan, data yang mereka sajikan
adalah fuida kerja masuk ke turbin dengan tekanan 3 MPa dan 350°C dengan
tekana kondensor 10 kPa dengan efisiensi termal 0,334 atau 33,4% mereka
menggunakan dua metode untuk meningkatkan efisiensi.
6
Basyirun, S. Pd, M.T., Dkk. 2008. Buku Ajar Mesin Konversi Energi. Universitas Negeri
Semarang: PKUPT UNNES/ Pusat Penjamin Mutu
7
Yunus A Chengel dan Michael A Boles. 2006. Thermodynamics an engineering approach fifth
edition. MC Graw Hill. USA. 560
7

Pertama, menaikan temperature turbin (superheated) dari 350°C menjadi 600°C


maka data yang tersaji akan membentuk memperluas area siklus dan efisiensi
yang ada beruba menjadi 37%.

Kedua, menaikan tekanan pada boiler hingga mencapai 15 MPa dengan


temperature superheated 600°C. Kemudian efisiensi na akan ertamah menjadi 45
%.

Gambar 7. Diagram proses peningkatan efisiensi termal

Dari gambar 7. dapat kita analisa bahwa peningkatan temperature dan tekanan
akan menambah luas pada kurva yang terbentuk, hal ini akan berpengaruh tehadap
peningkatan efisiensi termal yang didapat, dan peningkatan efisiensi termal yang
didapat akan memberikan pengaruh baik terhadap kerja tubin yang akan
menghasilkan daya yang besar.

Oleh krena itu, merujuk kembali pada hipotesa yang penulis buat, Suhu dan
Tekanan sangat berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi thermal siklus renkin
pada pembangkit daya tenaga uap. Dan hasilnya suhu dan tekanan mampu
merubah efisiensi dengan memodifikasi metode yang sesuai dengan ketentuan
yang telah ada. Artinya hipotesa yang penulis buat erbanding lurus dengan data
yang ada.

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari artikel yang berjudul “PENGARUH
SUHU DAN TEKANAN TERHADAP PENINGKATAN EFISIENSI
THERMAL SIKLUS RANKINE PADA PEMBANGKIT DAYA TENAGA
UAP” adalah:

1. Suhu dan tekanan sangat berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi termal


siklus renkin
2. Efisiensi termal sangat mempengaruhi kerja pembangkit daya uap dalam
menghasilkan daya keluaran yang dapat dimanfaatkan sebagai tenaga listrik.
8

Semakin besar efisiensi, maka semakin besar kerja poros trubin dan semakin
besar pula daya listrik yang dhasilkan

3. Metode meningkatkan efisiensi yaitu, meningkatkan tekanan pada boiler,


meningkatkan temperatur superheated, meurunkan tekanan kondensasi.

DAFTAR PUTAKA

A Chengel, Yunus dan Michael A Boles. 2006. Thermodynamics an engineering


approach fifth edition. MC Graw Hill. USA. 560

Basyirun, S. Pd, M.T., Dkk. 2008. Buku Ajar Mesin Konversi Energi. Universitas
Negeri Semarang: PKUPT UNNES/ Pusat Penjamin Mutu

Daramy Yunus, Asyari. 2005. Diktat Termodinamika II. Jakarta: Universitas


Darma Persada.

http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_Rankine di sunting 20 MRET, 08.57 AM