Anda di halaman 1dari 111

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN ASPHALT CONCRETE (AC)


DENGAN BAHAN PENGISI (FILLER) ABU VULKANIK GUNUNG
MERAPI

The Marshall Characteristics of Asphalt Concrete (AC) Mix with Merapi Volcanic
Ash Filler

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Disusun Oleh :
VEBBY PERMATASARI SUBONO
I 0107023

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
to user
2011
i

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

LEMBAR PERSETUJUAN

KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN


ASPHALT CONCRETE (AC) DENGAN BAHAN
PENGISI (FILLER) ABU VULKANIK GUNUNG
MERAPI
The Marshall Characteristics of Asphalt Concrete (AC) Mix with Merapi Volcanic
Ash Filler

Disusun oleh :

VEBBY PERMATASARI SUBONO


I 0107023

Telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Pendadaran


Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret

Persetujuan Dosen
Pembimbing
Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Ir. Agus Sumarsono, MT


Ir. Djoko Sarwono, MT
commit to user
N I P. 19570814 198601 1 001
N I P . 19600415 199201 1 001

ii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN


ASPHALT CONCRETE (AC) DENGAN BAHAN
PENGISI (FILLER) ABU VULKANIK GUNUNG
MERAPI
The Marshall Characteristics of Asphalt Concrete (AC) Mix with Merapi Volcanic
Ash Filler
SKRIPSI

Disusun oleh:

VEBBY PERMATASARI SUBONO


I 0107023
Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Pendadaran Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas sebelas Maret pada Hari Kamis, Tanggal 14 April
2011.
1.

Ir. Agus Sumarsono, MT.


NIP. 19570814 198601 1 001

( .......)

2. Ir.Djoko Sarwono, MT.


NIP. 19600415 199201 1 001

()

3. Ir. Ary Setyawan Msc,PhD.


NIP. 19661204 199512 1 001

()

4. Slamet Jauhari Legowo, ST,MT.


NIP. 19670413 199702 1 001

()

Mengetahui,
a.n Dekan Fakultas Teknik UNS
Pembantu Dekan I

Ir. Noegroho Djarwanti, MT


NIP. 19561112 198403 2 007

Disahkan
Ketua Jurusan Teknik sipil
Fakultas Teknik UNS

commit to user

iii

Ir. Bambang Santosa, MT


NIP. 19590823 19860

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Hidup harus memiliki target, karena targetlah yang akan memicu
kita dalam kesuksesan
( Penulis )
Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memiliki
waktu tidak menjadikan kita kaya, tapi menggunakannya dengan
baik adalah sumber dari semua kekayaan.
( Mario Teguh )

Terima Kasih Ya Allah.....Atas kelancaran dan


kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadaku,
sehingga karyaku ini bisa selesai ,,,,,,
Kupersembahkan Karyaku Kepada:

Mama & Papaku tercinta


Terima kasih atas doa, kesabaran
dan pengorbanannya untukku
Leo Aryo B, Calya Chesta A.G,
M Robby N.S, dan M. Wibbie W.S
Terimakasih untuk semuanya
kalian adalah semangat terbesarku
commit to user

iv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRAK
Vebby Permatasari Subono. 2010. Karakteristik Marshall Campuran Asphalt
Concrete (AC) dengan Bahan Pengisi (Filler) Abu Vulkanik Gunung Merapi.
Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Letusan Gunung merapi 5 November 2010 menghasilkan banyak abu vulkanik
yang berdampak negatif bagi kesehatan ataupun lingkungan. Sehingga perlu
dilakukan penelitian agar abu vulkanik dapat digunakan dalam lapis perkerasan
jalan terutama pada perkerasan Asphalt Concrete, Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh penggantian filler abu vulkanik terhadap nilai karakteristik
marshall dan apakah memenuhi persyaratan Revisi SNI No.1737-1989-F.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dilakukan yang di laboratorium
dengan variasi kadar aspal 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, dan 6,5% serta kadar abu
vulkanik 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% pada setiap variasi kadar aspal. Sampel
yang digunakan berjumlah masing-masing 3 buah. Pengujian menggunakan alat
uji Marshall Test. Pengujian yang digunakan untuk mendapatkan hubungan nilai
karakteristik Marshall dengan variasi abu vulkanik yaitu analisis varian dan
regresi.
Hasil dari keseluruhan perhitungan anova bahwa penggantian abu vulkanik pada
kadar aspal optimum 5,5% tidak menyebabkan perubahan nilai stabilitas, densitas,
VIM dan Marshall Quotient secara nyata. Berbeda dengan hasil anova terhadap
nilai flow, dimana menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata. Hasil dari
karakteristik Marshall pada kondisi KAO, penggantian filler abu vulkanik sebesar
100% dan 75% dengan kadar aspal optimum 5,45% dan 5,50% merupakan
campuran AC yang nilai stabilitas dan densitasnya memenuhi spesifikasi Revisi
SNI No. 1737-1989-F, namun pada nilai VIM, flow serta MQ-nya tidak
memenuhi.

Kata kunci: asphalt concrete, filler, abu vulkanik, karakteristik Marshall


commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

ABSTRACT
Vebby Permatasari Subono, 2011. The Marshall Characteristics of Asphalt
Concrete (AC) Mix with Merapi Volcanic Ash Filler. Thesis, Civil
Engineering Department of Surakarta Sebelas Maret University.
Merapi volcanic explosion on November 2010 provided volcanic ash affecting
adversely the health or environment. There should be a research conducted to find
out whether or not it can be used in the road hardening layer particularly in
Asphalt Concrete (AC) hardening. The objective of research the effect of filler
substitution of volcanic dust on the Marshall Characteristic value and whether or
not it qualifies the requirement of revised SNI No.1737-1989-F
This research was laboratory experimental in nature with asphalt level variation of
4.5%; 5%; 5.5%; 6%; 6.5% and volcanic ash filler level of 0%, 25%, 50%, 75%,
and 100% in each asphalt level variation. There were 3 samples used. The
examination was done using Marshall test instrument. The testing methods used
for obtaining the relationship between the Marshall characteristic value and the
volcanic ash variation were variance and regression analyses.
Result from the overall ANOVA calculation that the replacement of volcanic ash
at optimum asphalt content of 5,5 % does not cause change in the value of
stability, density, VIM, and Marshall Quotient significantly. In contrast to the
results of anova on the value of flow, which causes changes in the flow
significantly. Result of marshall character in KAO condition, the exchange of
volcanic ash are 100% and 75% with contents of asphalt optimum 5,45% and
5,50% are AC mixture wich is have stability value and density are fulfill the
specification, but at VIM value, flow and Marshall Quotient are uncomplimentary.

Keywords: asphalt concrete, filler, volcanic dust, Marshall characteristic.


commit to user

vi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas segala


limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan tugas akhir ini.
Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret
Surakarta. Penulis menyusun tugas akhir dengan judul Karakteristik Marshall
Campuran Asphalt Concrete (AC) dengan Bahan Pengisi (Filler) Abu
Vulkanik Gunung Merapi, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh
karakteristik abu vulkanik Merapi sebagai filler dan karakteristik uji Marshall
dengan memgunakan abu vulkanik Merapi sebagai filler. Penulis menyadari
sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak penulis sulit mewujudkan
laporan tugas akhir ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1.

Pimpinan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret

2.

Pimpinan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret

3.

Ir. Agus Sumarsono, MT, selaku dosen pembimbing I.

4.

Ir. Djoko Sarwono, MT, selaku Dosen Pembimbing II dan Ketua


Laboratorium Jalan Raya Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

5.

Ir. Bambang Santoso, MT dan Senot Sangadji, ST, MT selaku Dosen


Pembimbing Akademis

6.

Segenap Dosen Penguji Skripsi.

7.

Muh. Sigit Budi Laksana, ST, selaku staff Laboratorium Jalan Raya Jurusan
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

8.

Keluarga besar Subono, Keluarga besar Imam Supii dan Keluarga besar
Iswadi, Terimakasih atas bantuan, semangat dan kekompakannya.
commit to user

vii

perpustakaan.uns.ac.id

9.

digilib.uns.ac.id

Sahabatku tercinta Citra, Thia, Mayang, Endah terima kasih kalian selalu ada
dalam suka dukaku.

10. Ami Jalu, Chitra, Benk2, Ardyan, Hero, Agung, Abd. Rozaq, Doni, Zaqi M,
Ucup, dan teman-temanku semua yang ikut membantu dalam proses skripsi
ini. Terimakasih atas persahabatan dan solidaritasnya.
11. Teman-teman Kost Galinta terima kasih atas support dan semangatnya.
12. Keluarga Besar Teknik Sipil 2007 terimakasih atas pertemanan dan
kerjasamanya selama ini.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
penelitian selanjutnya. Penulis berharap tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak pada umumnya dan penulis pada khususnya.

Surakarta,

April 2011

Penulis

commit to user

viii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv
ABSTRAK ...............................................................................................................v
ABSTRACT ........................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi
DAFTAR NOTASI DAN SIMBOL ................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xix
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah .................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ...........................................................................................3
1.3. Batasan Masalah .............................................................................................3
1.4. Tujuan Penelitian ............................................................................................3
1.5. Hipotesis .........................................................................................................4
1.6. Manfaat Penelitian ..........................................................................................4
1.6.1. Manfaat Teoritis....................................................................................4
1.6.2. Manfaat Praktis .....................................................................................4
BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka.............................................................................................5
2.2. Dasar Teori.. ...................................................................................................8
2.2.1. Struktur Perkerasan Jalan .....................................................................8
2.2.1.1. Lapis Permukaan (Surface Course) .........................................9
2.2.1.2. Lapis Pondasicommit
Atas (Base
Course).........................................10
to user

ix

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

2.2.1.3. Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course) ...............................10


2.2.1.4. Tanah Dasar (Subgrade) ........................................................11
2.2.2. Pembebanan pada Perkerasan Jalan....................................................11
2.2.3. Bahan Penyusun Lapis Aspal Beton (Asphalt Concrete) ...................13
2.2.3.1. Agregat ...................................................................................15
2.2.3.2. Filler Abu Vulkanik................................................................20
2.2.3.2. Aspal .......................................................................................25
2.2.4. Karakteristik Campuran ......................................................................27
2.3. Pengujian Campuran Asphalt Concrete.. ......................................................29
2.3.1. Pengujian Volumetrik..........................................................................29
2.3.2. Pengujian Marshall .. ..............................................................32
2.3.2.1. Stabilitas .................................................................................32
2.3.2.2. Flow ........................................................................................32
2.3.2.3. Marshall Quotient ...................................................................33
2. 4. Analisis Varian (Anova).......................... .....................................................33
2. 5. Kerangka Pemikiran.......................... ...........................................................36
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian .........................................................................................37
3.2. Waktu Penelitian...........................................................................................37
3.3. Jenis Data ..................................................................................38
3.4

Peralatan .. .38

3.5

Bahan

.. .40

3.6. Benda Uji ......................................................................................................41


3.7. Prosedur Pelaksanaan ...................................................................................42
3.7.1. Pembuatan Benda Uji .........................................................................42
3.7.2. Volumetrik Test...................................................................................43
3.7.3. Marshall Test ......................................................................................44
3.8. Tahap Penelitian....... ....................................................................................45
BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pemeriksaan Bahan.. .......................................................................47
4.1.1. Hasil Pemeriksaan Agregat ...............................................................47
4.1.2. Hasil Pemeriksaan Aspal
..................................................................
50
commit
to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

4.1.3. Hasil Pemeriksaan Filler Abu Vulkanik ...........................................51


4.2. Hasil Pemeriksaan dan Pengujian Marshall................ .................................53
4.3. Hasil Perhitungan Kadar Aspal Optimum.. ..............................................56
4.3.1. Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu
Vulkanik terhadap Stabilitas .............................................................56
4.3.2. Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu
Vulkanik terhadap Flow ...................................................................59
4.3.3. Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu
Vulkanik terhadap Densitas ..............................................................61
4.3.4. Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu
Vulkanik terhadap VIM ....................................................................63
4.3.5. Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu
Vulkanik terhadap Marshall Quotient ..............................................65
4.4. Pembahasan Hasil Pengujian Marshall .. .................................................67
4.4.1. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai Stabilitas pada
Asphatl Concrete (AC) ..................................................67
4.4.2. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai Flow pada Asphalt
Concrete (AC) ....................................................................................75
4.4.3. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai Densitas pada Asphalt
Concrete (AC) ....................................................................................80
4.4.4. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai VIM pada Asphalt
Concrete (AC) ....................................................................................85
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan......... ......................................................................................92
5.2. Saran.................. .......................................................................................92
DAFTAR PUSTAKA...... ..................................................................................93
LAMPIRAN

commit to user

xi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1.

Persyaratan Laston ...........................................................................14

Tabel 2.2.

Spesifikasi Pemeriksaan Agregat .....................................................19

Tabel 2.3.

Batas-batas Gradasi Menerus Agregat Campuran............................20

Tabel 2.4.

Kandungan Oksida Abu Vulkanik Menurut ASTM C 618-78 ........22

Tabel 2.5.

Ilustrasi Perhitungan Anova .............................................................34

Tabel 3.1.

Jadwal Pelaksanaan Penelitian .........................................................37

Tabel 3.2.

Kebutuhan Benda Uji... ....................................................................41

Tabel 4.1.

Hasil Pemeriksaan Agregat Kasar (CA) ...........................................48

Tabel 4.2.

Hasil Pemeriksaan Agregat Sedang (MA) .......................................48

Tabel 4.3.

Hasil Pemeriksaan Agregat Halus (FA) ...........................................48

Tabel 4.4.

Hasil Pemeriksaan Agregat Pasir (NS) ............................................49

Tabel 4.5.

Gradasi Rencana Campuran AC Spec IV SNI 03-1737-1989 ........49

Tabel 4.6.

Hasil Pemeriksaan Aspal ..................................................................50

Tabel 4.7.

Hasil Pemeriksaan Filler Abu Vulkanik Gunung Merapi ................51

Tabel 4.8.

Kandungan Oksida Abu Vulkanik Menurut ASTM C 618-78 ........52

Tabel 4.9.

Komposisi Kimia Abu Vulkanik Gunung Merapi ...........................52

Tabel 4.10. Berat Jenis Abu Vulkanik Gunung Merapi ......................................53


Tabel 4.11. Rekapitulasi Hasil Uji Marshall Pengganti Filler dengan Abu
Vulkanik ...........................................................................................55
Tabel 4.12. Hasil uji Marshall AC pada Kadar Aspal Optimum dengan pengganti
filler abu vulkanik ............................................................................ 58
Tabel 4.13. Data Nilai Stabilitas .........................................................................67
Tabel 4.14. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
4,5% .................................................................................................68
Tabel 4.15. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 4,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................69
Tabel 4.16. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,0% .................................................................................................70
commit to user

xii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Tabel 4.17. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................71
Tabel 4.18. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,5% .................................................................................................71
Tabel 4.19. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................72
Tabel 4.20. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,0% .................................................................................................72
Tabel 4.21. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................73
Tabel 4.22. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,5% .................................................................................................73
Tabel 4.23. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................74
Tabel 4.24. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
4,5% .................................................................................................75
Tabel 4.25. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 4,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................75
Tabel 4.26. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,0% .................................................................................................76
Tabel 4.27. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................76
Tabel 4.28. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,5% .................................................................................................77
Tabel 4.29. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................77
Tabel 4.30. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,0% .................................................................................................78
Tabel 4.31. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................78
Tabel 4.32. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,5% .................................................................................................
79
commit to user

xiii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Tabel 4.33. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................79
Tabel 4.34. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
4,5% .................................................................................................80
Tabel 4.35. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 4,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................80
Tabel 4.36. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,0% .................................................................................................81
Tabel 4.37. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................81
Tabel 4.38. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,5% .................................................................................................82
Tabel 4.39. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................82
Tabel 4.40. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,0% .................................................................................................83
Tabel 4.41. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................83
Tabel 4.42. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,5% .................................................................................................84
Tabel 4.43. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................84
Tabel 4.44. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
4,5% .................................................................................................85
Tabel 4.45. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 4,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................85
Tabel 4.46. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,0% .................................................................................................86
Tabel 4.47. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................86
Tabel 4.48. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
5,5% .................................................................................................
87
commit to user

xiv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Tabel 4.49. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 5,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................87
Tabel 4.50. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,0% .................................................................................................88
Tabel 4.51. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,0% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................88
Tabel 4.52. Perhitungan Variasi Antar dan Dalam Perlakuan pada Kadar Aspal
6,5% .................................................................................................89
Tabel 4.53. Hasil Analisis Varian Kadar Aspal 6,5% dengan Perlakuan MasingMasing Kadar Abu Vulkanik ...........................................................89
Tabel 4.54. Rekapitulasi Hasil Anova..................................................................90

commit to user

xv

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1.

Struktur Perkerasan Lentur .............................................................9

Gambar 2.2.

Distribusi Beban Pada Struktur Jalan ............................................12

Gambar 2.3.

Abu Vulkanik Dilihat dari Kasat Mata .........................................23

Gambar 2.4.

Ukuran Mikroskopis Abu Vulkanik ..............................................24

Gambar 2.5.

Hasil Scan Abu batu dengan Mikroskop Elektron .......................24

Gambar 2.4.

Diagram Alir Kerangka Berpikir ..................................................36

Gambar 3.1.

Alat Uji Marshall ..........................................................................39

Gambar 3.2.

Tahapan Penelitian ........................................................................45

Gambar 4.1.

Agregat yang Digunakan dalam Penelitian ...................................47

Gambar 4.2.

Grafik hubungan Stabilitas dengan Kadar Aspal ................................56

Gambar 4.3.

Grafik hubungan Flow dengan Kadar Aspal.......................................59

Gambar 4.4.

Grafik hubungan Densitas dengan Kadar Aspal .................................61

Gambar 4.5.

Grafik hubungan VIM dengan Kadar Aspal .......................................63

Gambar 4.6.

Grafik hubungan Marshall Quotient dengan Kadar Aspal ...................65

commit to user

xvi

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR NOTASI DAN SIMBOL


%

= prosentase/persen

= phi ( 3,14 )

= Perlakuan Abu Vulkanik

= Perlakuan Aspal

Bc

= kadar aspal

= angka koreksi ketebalan

= derajat Celcius

= densitas

= diameter benda uji

df

= Derajat Kebebasan

= angka koreksi ketebalan

cm

= centimeter

= flow

Gac

= Berat Jenis Aspal (gr/cm3)

Gsa

= Berat Jenis Apparent (gr/cm3)

Gsb

= Berat Jenis Bulk (gr/cm3)

Gse

= Berat Jenis Rata-rata Agregat (gr/cm3)

gr

= gram

H0

= Hipotesa

= tebal benda uji

AC

= Asphalt Concrete

= faktor kalibrasi alat

kg

= kilogram

lb

= pounds

MQ

= Marshall Quotient

= porositas

Pba

= Penyerapan Aspal (%)

= pembacaan stabilitas pada dial alat Marshall (lb)

= koefisien determinasi

= koefisien korelasi

commit to user

xvii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

= stabilitas

= Kuadrat Mean Antar Perlakuan

= Kuadrat Mean di dalam Perlakuan

VB

= Variasi antar Perlakuan

Vtotal =Variasi Total


VW

= Variasi di dalam Perlakuan

= mean total dari semua pengukuran yang ada di semua kelompok

= mean kelompok, mean perlakuan, mean baris.

commit to user

xviii

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Spesifikasi Bahan dan Campuran dan Data Sekunder Penelitian
Lampiran B Data Primer Penelitian
Lampiran C Dokumentasi Penelitian
Lampiran D Kelengkapan Administrasi

commit to user

xix

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Perkembangan dan pertumbuhan penduduk sangat pesat di Indonesia . Seiring
dengan hal tersebut mengakibatkan peningkatan mobilitas penduduk. Sehingga
muncul banyak kendaraan-kendaraan berat yang melintas di jalan raya. Salah satu
prasarana transportasi adalah jalan yang merupakan kebutuhan pokok dalam
kegiatan masyarakat. Dengan melihat peningkatan mobilitas penduduk yang
sangat tinggi maka diperlukan peningkatan baik kuantitas maupun kualitas jalan
yang memenuhi kebutuhan masyarakat.

Aspal beton sebagai bahan untuk konstruksi jalan sudah lama dikenal dan
digunakan secara luas dalam pembuatan jalan. Hal ini disebabkan aspal beton
mempunyai

beberapa

kelebihan

dibanding

dengan

bahan-bahan

lain,

kemampuannya dalam mendukung beban berat kendaraan yang tinggi dan dapat
dibuat dari bahan-bahan lokal yang tersedia dan mempunyai ketahanan yang baik
terhadap cuaca. Aspal beton atau asphaltic concrete adalah campuran dari agregat
bergradasi menerus dengan bahan bitumen. Kekuatan utama aspal beton ada pada
keadaan butir agregat yang saling mengunci dan sedikit filler sebagai mortar.

Pada tanggal 5 November 2010 terjadi letusan eksplosif Gunung Merapi, yang
mengeluarkan material vulkanik yang berukuran abu ke seluruh penjuru lereng
Merapi mulai dari wilayah Kabupaten Magelang, Sleman, Klaten, dan Boyolali.
Karakteristik abu vulkanik ini, relative berbeda dengan debu tanah kering yang
biasa dijumpai pada musim kemarau. Abu vulkanik terbentuk dari pembekuan
magma yang dierupsikan secara eksplosif. Sebagian butiran dari abu ini
mempunyai bentuk runcing, dan karena kandungan silikanya yang besar, abu ini
mempunyai sifat absorbsi yang tinggi.
commit to user

2
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Abu vulkanik hasil piroklastik jatuhan dan juga awan panas ini menyebabkan
banyak kerusakan, baik kerusakan tanaman, maupun infrastruktur, serta
menyebabkan gangguan kesehatan mulai pernafasan dan penglihatan. Sehingga
perlu di pikirkan untuk cara memanfaatkan abu vulkanik ini sebagai bahan yang
bermanfaat dan berguna. Penelitian tentang pemanfaatan abu vulkanik ini belum
begitu digalakkan apalagi dalam bidang jalan raya.

Menurut Juffrez dalam blog-nya yang berjudul bahan lapis keras, abu vulkanik
dapat digunakan sebagai alternative bahan tambah dalam perkerasan jalan raya
yang dapat meningkatkan stabilitas campuran perkerasan.

Hal tersebut mendorong penulis untuk memanfaatkan abu vulkanik sebagai


pengganti filler dalam perkerasan Asphalt Concrete. Sehingga dengan
pemanfaatan abu vulkanik sebagai filler ini diharapkan menghasilkan perpaduan
yang baik antara agregat kasar, agregat halus, aspal dan filler yang nantinya akan
diperoleh lapisan permukaan yang lentur dan dapat mendukung beban lalu lintas
dengan baik dan nyaman tanpa mengalami deformasi atau kerusakan yang berarti
dalam jangka waktu tertentu. Abu vulkanik yang dipakai dari Desa Musuk
Kabupaten Boyolali yang memiliki kandungan silika dan alumina yang cukup
banyak sehingga abu vulkanik ini juga diharapkan dapat meningkatkan kekakuan
pada bahan ikat perkerasan serta dapat sebagai alternative pengganti semen
sehingga lebih ekonomis.

commit to user

3
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh nilai uji marshall campuran aspal beton dengan atau
tanpa menggunakan filler abu vulkanik Gunung Merapi?
2. Apakah campuran perkerasan AC dengan menggunakan filler abu vulkanik
Gunung Merapi memenuhi persyaratan karakteristik marshall revisi SNI031737-1989?

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah dari skripsi ini adalah :
1. Perubahan kimiawi yang terjadi tidak ditinjau.
2. Tinjauan terhadap karakteristik campuran terbatas pada pengamatan terhadap
hasil pengujian Marshall.
3. Abu vulkanik memenuhi syarat sebagai filler berdasarkan ASTM C 618-78
4. Gradasi agregat berdasarkan standart revisi SNI 03-1737-1989
5. Persyaratan stabilitas, flow, porositas dan densitas berdasarkan revisi SNI 031737-1989

1.4. Tujuan Penelitian


Berdasarkan landasan teori diatas maka tujuan dari penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemanfaatan abu vulkanik
Gunung Merapi terhadap nilai uji marshall campuran AC (asphalt concrete)

2. Untuk mencari dan membandingkan hasil karakteristik marshall perkerasan


AC (asphalt concrete) dengan menggunakan filler abu vulkanik Gunung
Merapi terhadap syarat revisi SNI 03-1737-1989
commit to user

4
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

1.5. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah penggantian filler abu vulkanik Gunung
Merapi dapat meningkatkan stabilitas pada perkerasan Asphalt Concrete (AC).

1.6. Manfaat Penelitian


1.6.1. Teoritis
a. Menambah pengetahuan sejauh mana filler abu vulkanik Gunung Merapi
dapat digunakan sebagai perkerasan AC
b. Mengembangkan pengetahuan di dunia teknik khususnya kontruksi
lapisan perkerasan jalan yaitu mengenai karakteristik Marshall.
1.6.2. Praktis
a. Menambah alternatif pilihan penggunaan bahan perkerasan yang lebih
ekonomis dan ramah lingkungan.
b. Mengatasi masalah pemanfaatan abu vulkanik Gunung Merapi terhadap
lingkungan.
c. Untuk mengetahui nilai uji Marshall dengan penggunaan filler abu
vulkanik pada asphalt concrete. Sehingga dapat dijadikan pertimbangan
dalam pemilihan jenis perkerasan.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka


Lapis Aspal Beton (Laston) adalah suatu lapisan pada konstruksi jalan raya, yang
terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang bergradasi menerus dicampur,
dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu. (SNI 03-17371989)

Hasil pemadatan yang dilakukan pada campuran aspal yang menggunakan bahan
tambahan belerang menghasilkan nilai stabilitas sisa yang lebih tinggi yaitu
sebesar 85 % dibandingkan dengan nilai stabilitas sisa pada campuran yang tanpa
menggunakan bahan tambahan belerang yaitu sebesar 84,5 %, nilai dari stabilitas
sisa tersebut didapat dari perendaman selama 30 menit dibagi dengan perendaman
24 jam dari hasil tersebut menurut DPU, Bina Marga tahun 1987 tentang
peraturan laston disyaratkan indeks perendaman tersebut minimal harus
mempunyai nilai IP sebesar 75% . Sehingga dari hasil pengamatan di lab dapat
disimpulkan bahwa penggunaan bahan tambahan belerang pada aspal sebagai
bahan pengikat pada campuran aspal beton dapat menghasilkan nilai IP sedikit
lebih tinggi. (Dwinanta Utama, Ir, MSc, DIC.2006.Pengaruh Penggunaan
Belerang Pada Aspal beton Panas Lapis Perkerasan Lentur. Universitas
Brawijaya Malang)

commit to user

6
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil pengujian Marshall diperoleh grafik hubungan parameter campuran aspal,


dengan kadar aspal optimum 4,8%. Dan dari pengujian Marshall rendaman
diketahui stabilitas tersisa setelah perendaman 24 jam pada suhu 60 C adalah
93,545%. Dari hasil penelitian yang kami lakukan, didapatkan hasil bahwa semua
pemeriksaan telah memenuhi standart spesifikasi dari AASHTO, ASTM, dan SNI
sehingga perencanaan aspal beton dengan filler kapur padam ini dapat digunakan
untuk lapis perkerasan Asphalt Concrete (AC). (Henny Fennisa dan Moh.
Wahyudi, 2010.Perencanaan Campuran Aspal Beton dengan Menggunakan Filler
Kapur Padam. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang)

Penelitian ini menganalisis lebih lanjut mengenai karakter campuran beton aspal
yang menggunakan filler gabungan antara abu kayu dan abu batu yang pada
akhirnya mendapatkan titik optimum dengan rasio 50 % abu kayu dan 50 % abu
batu. Dimana kompospisi tersebut adalah batas maksimal rasio jumlah abu kayu
dalam filler yang menghasilkan campuran aspal beton memenuhi persyaratan the
asphalt institute. Campuran tersebut juga memiliki kuat tarik secara tak langsung
yang signifikan dengan campuran berfiller abu batu biasa.Selain itu angka
retained stabilitynya lebih tinggi dari campuran abu batu biasa yang berarti
memiliki keawetan lebih baik. (Lucas,Benny Hardyanto. 2002. Pengaruh Abu
Serbuk Kayu sebagai Filer dalam Campuran Beton Aspal, Universitas Katolik
Parahyangan,Fakultas teknik program studi teknik sipil, Bandung)

Kekakuan yang semakin berkurang pada benda uji seiring dengan lama masa
perendaman. Kelenturan masih berusaha dipertahankan oleh campuran dengan kadar
filler 100% abu batu yang diikuti 50% abu batu 50% semen Portland dan diikuti
pada 100% semen portland. Kondisi tersebut dialami pada campuran dengan dua
macam tumbukan yang telah dilakukan. ( Putrowijoyo, Rian. 2006. Kajian

Laboratorium Sifat Marshall dan Durabilitas Asphalt Concrete Wearing Course


(AC-WC) dengan Membandingkan Penggunaan antara Semen Portland dan Abu
Batu sebagai Filler, Universitas Dpionegoro, Program Magister Taknik Sipil,
Semarang)
commit to user

7
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Abu terbang dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan tes yang dilakukan


kemudian digunakan sebagai filler dalam campuran aspal beton. Abu batu, filler
konvensional di India, juga digunakan untuk membandingkan hasil. Reologi sifat
filler bitumen (F/B) mastic ditentukan dari uji titik lembek, uji viskositas, dan uji
geser. Kekuatan dan daya tahan tes seperti stabilitas marshall, sisa pada stabilitas,
rasio kekuatan tarik, dan uji creep statis dilakukan pada beton aspal bercampur
dengan lima jenis pengisi dan hasilnya dianalisis dan dibandingkan. Hasil
Penelitian menunjukkan bahwa semua empat kelompok abu terbang yang cocok
untuk digunakan pada aspal keras bercampur dengan abu terbang dalam kelompok
untuk memiliki kinerja terbaik. Isi filler optimum 7% dan sifat beton aspal
campuran fly ash lebih baik daripada campuran konvensional. (Vishal Sharma,
Satish Chandra, Rajan Choundhary. 2010. Karakteristik Fly Ash Campuran Aspal
Beton.India)

Empat berbeda proporsi agregat pengganti digunakan khusus pada 0%, 10%, 20%,
30% dari berat total agregat kering. Campuran kadar abu vulkanik 0% digunakan
sebagai campuran referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat mekanik
dari semua campuran agregat abu vulkanik, sampai dengan 20 %, yang dalam
batas batas spesifikasi marshall design. Selain itu, ditemukan bahwa penggunaan
agregat abu vulkanik meningkatkan sifat resistensi creep HMA (Hot Mix
Asphalt). HMA dengan pengganti abu vulkanik 10% agregat memberikan hasil
optimal dalam jangka perlawanan pengelupasan, ketahanan mulur, dan modulus
resilient. (Jamil A. Naji and Ibrahim M. Asi. 2008. Evaluasi Kinerja Campuran
Aspal Beton yang Mengandung Abu Vulkanik Granular. Yaman)

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

8
digilib.uns.ac.id

2.2. Dasar Teori


2.2.1. Struktur Perkerasan Jalan
Perkerasan jalan adalah campuran agregat dan bahan ikat (binder) yang diletakkan
di atas tanah dasar dengan pemadatan untuk melayani beban lalu lintas.Tujuan
utama pembuatan struktur perkerasan jalan adalah untuk mengurangi tegangan
atau tekanan akibat beban roda sehingga mencapai tingkat nilai yang dapat
diterima oleh tanah yang menyokong beban tersebut.
Berdasarkan bahan pengikatnya, konstruksi perkerasan jalan dibedakan menjadi
tiga jenis konstruksi perkerasan, yaitu:
1) Konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement), yaitu perkerasan yang
menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Disebut lentur karena
konstruksi ini mengijinkan terjadinya deformasi vertikal akibat beban lalu
lintas. Fungsi dari lapisan ini adalah memikul dan mendistribusikan beban lalu
lintas dari permukaan sampai ke tanah dasar. Salah satu jenis perkerasan
lentur adalah Hot Rolled Asphalt (HRA), Porous Asphalt (PA) serta Asphalt
Concrete (AC).
2) Konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement), yaitu perkerasan yang
menggunakan semen (portland cement) sebagai bahan pengikat. Disebut
kaku karena pelat beton tidak terdefleksi akibat beban lalu lintas dan
didesain untuk umur 40 tahun sebelum dilaksanakan rekonstruksi besarbesaran. Beban lalu lintas sebagian besar dipikul oleh pelat beton dengan atau
tanpa tulangan yang diletakkan di atas tanah dasar dengan atau tanpa lapis
pondasi bawah.
3) Konstruksi perkerasan komposit (composite pavement), yaitu perkerasan yang
mengkombinasikan antara aspal dan semen (PC) sebagai bahan pengikatnya.
Penyusunan lapisan komposit terdiri dari dua jenis. Salah satu jenis perkerasan
komposit adalah merupakan penggabungan secara berlapis antara perkerasan
lentur (menggunakan aspal sebagai bahan pengikat) dan perkerasan kaku
(menggunakan semen (PC) sebagai bahan pengikat).
commit to user

9
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Pada umumnya jenis perkerasan yang dipakai di Indonesia adalah perkerasan


lentur. Susunan struktur jalan (perkerasan lentur) di Indonesia pada umumnya
mengacu kepada standar USA, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Lapis permukaan
(surface course)

Lapis aus
Lapis antara

Lapis pondasi atas (base course)


Lapis pondasi bawah
(subbase course)
Tanah dasar (sub grade)

Gambar 2.1. Struktur Perkerasan Lentur


2.2.1.1. Lapis Permukaan (Surface Course)
Lapis permukaan adalah lapisan perkerasan yang terletak paling atas, yang terdiri
dari lapis aus (wearing course) dan lapis antara (binder course).
a.

Lapis Aus (Wearing Course)


1) Sebagai lapisan aus, yaitu lapisan yang semakin lama semakin tipis
karena langsung bersentuhan dengan roda-roda kendaraan lalu lintas, dan
dapat diganti lagi dengan yang baru.
2) Menyediakan permukaan jalan yang aman dan kesat (anti selip).

b.

Lapis Antara (Binder Course)


1) Menyediakan drainase yang baik dari permukaan kedap air, sehingga air
hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan di bawahnya dan
melemahkan lapisan-lapisan tersebut.
2) Menerima beban langsung dari lalu lintas dan menyebarkannya untuk
mengurangi tegangan pada lapisan bawah struktur jalan.
3) Menyediakan permukaan jalan yang baik dan rata sehingga nyaman
dilalui.
commit to user

10
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2.2.1.2. Lapis Pondasi Atas (Base Course)


Lapis pondasi atas adalah bagian dari lapisan perkerasan yang terletak antara lapis
permukaan dan lapis pondasi bawah atau dengan tanah tanah dasar apabila tidak
menggunakkan lapis pondasi bawah. Karena terletak tepat di bawah permukaan
perkerasan, maka lapisan ini menerima pembebanan yang berat dan paling
menderita. Secara umum lapis pondasi atas (base course) mempunyai fungsi
sebagai berikut :
1.

Bantalan atau lapis pendukung terhadap lapis permukaan.

2.

Pemikul beban vertikal dan horizontal.

3.

Meneruskan beban ke lapisan di bawahnya.

4.

Lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah.

2.2.1.3. Lapis Pondasi Bawah (Subbase Course)


Lapis pondasi bawah adalah bagian lapis perkerasan yang terletak antara lapis
pondasi atas dan tanah dasar. Lapisan ini berfungsi sebagai berikut :
1.

Menyebarkan beban roda ke tanah dasar, sehingga lapisan ini harus cukup
kuat (CBR 20% dan Plastisitas Indeks (PI) > 10%).

2.

Efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif lebih murah


dibandingkan dengan material lapisan perkerasan di atasnya.

3.

Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.

4.

Lapisan peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.

5.

Lapisan pertama, agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Hal ini sehubungan
dengan kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar
dari pengaruh cuaca atau lemahnya daya dukung tanah dasar menahan roda
roda alat berat.

6.

Lapisan untuk mencegah partikel partikel halus dari tanah dasar naik ke
lapis pondasi atas.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

11
digilib.uns.ac.id

2.2.1.4. Tanah Dasar (Subgrade)


Tanah dasar (Sub Grade) adalah lapisan tanah setebal 50 100 cm yang di
atasnya akan diletakkan lapisan pondasi bawah.
Sebelum lapisan lapisan lain diletakkan, tanah dasar dipadatkan terlebih dahulu
sehingga tercapai kestabilan yang tinggi terhadap perubahan volume, sehingga
dapat dikatakan bahwa kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat
ditentukan oleh sifat sifat daya dukung tanah dasar. Pemadatan yang baik akan
diperoleh jika dilakukan pada kondisi kadar air optimum dan diusahakan kadar
air tersebut konstan selama umur rencana.
Tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan (jika tanah aslinya baik),
tanah yang didatangkan dari tempat lain dan dipadatkan, atau tanah yang
distabilisasi dengan kapur atau bahan lainnya. Adapun fungsi tanah dasar adalah
sebagai tempat peletak pondasi dan pemberi daya dukung terhadap lapisan di
atasnya.

Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar (subgrade) dapat
dibedakan atas lapisan tanah dasar (tanah galian), lapisan tanah dasar (tanah
timbunan), lapisan tanah dasar (tanah asli).

2.2.2. Pembebanan pada Perkerasan Jalan


Kendaraan pada posisi berhenti di atas struktur yang diperkeras akan
menimbulkan beban langsung pada arah vertikal (tegangan statis) yang
terkonsentrasi pada bidang kontak yang kecil antara roda dan perkerasan. Ketika
kendaraan bergerak, timbul tambahan tegangan dinamis pada arah horisontal
akibat akselerasi pergerakan kendaraan serta pada arah vertikal akibat pergerakan
kendaraan ke atas dan ke bawah karena perkerasan yang tidak rata. Intensitas
tegangan statis dan dinamis terbesar terjadi di permukaan perkerasan dan
commit to user
terdistribusi dengan bentuk piramida dalam arah vertikal pada seluruh ketebalan

12
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

struktur perkerasan. Peningkatan distribusi tegangan tersebut mengakibatkan


beban atau tegangan yang terdistribusi semakin ke bawah semakin kecil sampai
permukaan lapis tanah dasar.
Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisanlapisan yang diletakkan di atas
tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisanlapisan tersebut berfungsi untuk
menerima beban lalu lintas dan menyebarkan ke lapisan di bawahnya. Beban
kendaraan dilimpahkan ke perkerasan jalan melalui melalui bidang kontak roda
berupa beban terbagi rata Po. Beban tersebut diterima oleh lapisan permukaan dan
disebar ke tanah dasar menjadi P1 yang lebih kecil dari daya dukung tanah dasar,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2.

Beban lalu lintas


Wearing course Gaya tarik

Deformasi
Gaya tarik
Beban lalu lintas
tersebar pada
perkerasan

Base course

Sub base course


Tanah dasar

Reaksi perlawanaan pada tanah dasar (Subgradae)


Sumber: Wignall (2003)

Gambar 2.2. Distribusi Beban Pada Struktur Jalan


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lapisan perkerasan jalan akan
mengalami dua pembebanan yaitu beban tekan dan beban tarik. Beban tarik sering
menyebabkan adanya retak, diawali dengan adanya retak awal (crack initation)
pada bagian bawah lapisan perkerasan yang kemudian akan menjalar ke
permukaan. Namun, retak awal juga dapat terjadi pada bagian atas lalu menyebar
ke bawah permukaan.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

13
digilib.uns.ac.id

Kerusakan pada konstruksi perkerasan jalan salah satunya disebabkan oleh


peningkatan beban dan repetisi beban. Sebagian besar jalan di Indonesia
menggunakan Asphalt Concrete (AC). Asphalt Concrete yang bergradasi menerus
mempunyai ketahanan yang baik terhadap deformasi permanen, tetapi kurang
tahan terhadap retak akibat kelelahan yang sering disebabkan oleh beban berulang
(repetisi beban). Pengulangan beban akan menyebabkan retak pada lapisan
beraspal. Cuaca menyebabkan lapisan beraspal menjadi rapuh, sehingga makin
rentan terhadap retak dan pelepasan (disintegrasi). Apabila retak mulai meluas dan
tidak segera diperbaiki maka retak akan terus meluas dengan cepat dan terjadi
gompal (spalling) dan akhirnya akan terjadi lubang.
Retak yang disebabkan oleh pengulangan beban menyebabkan adanya gaya tarik
yang dialami asphalt concrete. Berbeda dengan beban tekan yang secara empiris
dapat diperoleh dengan pengujian Marshall secara langsung, besarnya beban tarik
tidak dapat dilakukan pengujian secara langsung dengan Marshall karena terdapat
ring/cincin penahan.
2.2.3. Bahan Penyusun Lapis Aspal Beton (Asphalt Concrete)
Aspal beton (Asphalt Concrete) merupakan salah satu jenis perkerasan lentur yang
umum digunakan di Indonesia. Aspal beton merupakan suatu lapisan pada
konstruksi jalan raya yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang
bergradasi menerus (well graded), dicampur, dihamparkan dan dipadatkan dalam
keadaan panas pada suhu tertentu. Pembuatan lapis aspal beton dimaksudkan
untuk mendapatkan suatu lapisan permukaan atau lapis antara pada perkerasan
jalan raya yang mampu memberikan sumbangan daya dukung terukur yang dapat
melindungi konstruksi di bawahnya.
Pembuatan Lapis Aspal Beton (LASTON) dimaksudkan untuk mendapatkan suatu
lapisan permukaan atau lapis antara (binder) pada perkerasan jalan yang mampu
memberikan sumbangan daya dukung yang terukur serta berfungsi sebagai lapisan
kedap air yang dapat melindungi konstruksi dibawahnya (Bina Marga, 1987)
commit to user

14
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Aspal beton merupakan campuran merata antara agregat dan aspal sebagai bahan
pengikat. Pekerjaan pencampuran dilakukan dipabrik pencampur, kemudian
dibawa ke lokasi dan dihampar dengan mempergunakan alat penghampar
sehingga diperoleh lapisan lepas yang seragam dan merata untuk selanjutnya
dipadatkan dengan mesin pemadat dan akhirnya diperoleh lapisan padat Aspal
Beton (Silvia Sukirman, 1992).
Apabila dilakukan cara Marshall (PC.0201-76 MPBJ) campuran harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Persyaratan Laston
Sifat Campuran
Stabilitas (Kg)
Kelelehan/ Flow (mm)
Marshall Quotient
Rongga Dalam Campuran/VIM (%)
Rongga Dalam Agregat/VMA (%)
Rongga Terisi Aspal/VFB (%)
Jumlah Tumbukan
Sumber : SNI 03-1737-1989

Lalu Lintas Berat


Min
800
2
200
3
15
63

Maks
4
350
5
-

2 x 75

Lalu Lintas Sedang


Min
650
2
200
3
15
63
2 x 50

Maks
4.5
350
5
-

Lalu Lintas Ringan


Min
460
2
200
3
15
63
2 x 35

Tabel Marshall test pada campuran AC ini juga dapat dilihat pada lampiran A.4

commit to user

Maks
5
30
5
-

15
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2.2.3.1. Agregat
Agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir atau mineral
lainnya berupa hasil alam atau buatan (Departemen Pekerjaan Umum
Direktorat Jendral Bina Marga. 1998).

Agregat adalah partikel mineral yang berbentuk butiran-butiran yang merupakan


salah satu penggunaan dalam kombinasi dengan berbagai macam tipe mulai dari
sebagai bahan material di semen untuk membentuk beton, lapis pondasi jalan,
material pengisi, dan lain-lain (Harold N. Atkins, PE. 1997).

Sedangan secara umum agregat didefinisikan sebagai formasi kulit bumi yang
keras dan padat (Silvia Sukirman, 2003).

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat diartikan bahwa agregat sebagai suatu
kumpulan butiran batuan yang berukuran tertentu yang diperoleh dari hasil alam
langsung maupun dari pemecahan batu besar ataupun agregat yang disengaja
dibuat untuk tujuan tertentu. Seringkali agregat diartikan pula sebagai suatu bahan
yang bersifat keras dan kaku yang digunakan sebagai bahan pengisi campuran.
Agregat dapat berupa berbagai jenis butiran atau pecahan batuan, termasuk di
dalamnya antara lain : pasir, kerikil, agregat pecah, abu/debu agregat dan lain-lain.

Beberapa tipikal ketentuan penggunaan dalam penggambaran agregat menurut


Harold N. Atkins, (1997) adalah sebagai berikut :
1) Fine Aggregate (sand size/ukuran pasir) : Sebagian besar partikel agregat
berukuran antara 4,75mm (no.4 sieve test) dan 75m (no.200 sieve test).
2) Coarse Aggregate (gravel size/ukuran kerikil) : Sebagian besar agregat
berukuran
lebih besar dari 4,75mm (no.4 sieve test).
3) Pit run : agregat yang berasal dari pasir atau gravel pit (biji kerikil) yang
terjadi tanpa melewati suatu proses atau secara alami.
commit to user

16
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4) Crushed gravel : pit gravel (kerikil dengan pasir atau batu bulat) yang mana
telah didapatkan dari salah satu alat pemecah untuk menghancurkan banyak
partikel batu yang berbentuk bulat untuk menjadikan ukuran yang lebih kecil
atau untuk memproduk lapisan kasar (rougher surfaces).
5) Crushed rock : agregat dari pemecahan batuan. Semua bentuk partikel tersebut
bersiku-siku/tajam (angular), tidak ada bulatan dalam material tersebut.
6) Screenings : kepingan-kepingan dan debu atau bubuk yang merupakan
produksi dalam pemecahan dari batuan (bedrock) untuk agregat.
7) Concrete sand : pasir yang (biasanya) telah dibersihkan untuk menghilangkan
debu dan kotoran.
8) Fines : endapan lumpur (silt), lempung (clay) atau partikel debu lebih kecil
dari 75m (no.200 sieve test), biasanya terdapat kotoran atau benda asing
yang tidak diperlukan dalam agregat.

Sifat dan kualitas agregat menentukan kemampuannya dalam memikul beban lalu
lintas karena dibutuhkan untuk lapisan permukaan yang langsung memikul beban
di atasnya dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya.

Agregat yang akan dipakai pada perkerasan harus memperhatikan sifat - sifat
agregat yaitu :

1.

Gradasi dan ukuran

Gradasi adalah ukuran butiran dalam agregat. Gradasi agregat dapat


dibedakan atas:
a.

Gradasi seragam/terbuka (uniform graded) adalah gradasi dengan ukuran


yang hampir sama atau mengandung agregat halus yang sedikit
jumlahnya sehingga tidak dapat mengisi rongga antar agregat.

b.

Gradasi rapat/baik (dense graded) adalah campuran agregat kasar dan


halus dalam porsi yang seimbang.

commit to user

17
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c.

Gradasi buruk/senjang (poorly graded) adalah campuran agregat dengan


proporsi satu fraksi tertentu hanya relatif sedikit atau bahkan hilang sama
sekali.

2.

Kebersihan

Agregat yang mengandung substansi asing perusak harus dihilangkan


sebelum digunakan dalam campuran perkerasan, seperti tumbuh - tumbuhan,
partikel halus dan gumpalan lumpur. Hal ini disebabkan substansi asing dapat
mengurangi daya lekat aspal terhadap batuan sehingga mempengaruhi
perkerasan.
3.

Kekuatan dan Kekerasan


Kekuatan agregat adalah ketahanan agregat untuk tidak hancur atau pecah
oleh pengaruh mekanis atau kimiawi. Agregat yang digunakan untuk lapisan
perkerasan haruslah mempunyai daya tahan terhadap degradasi (pemecahan)
yang mungkin timbul selama proses pencampuran, pemadatan, repetisi beban
lalu lintas dan disitegrasi (penghancuran) yang terjadsi selama masa
pelayanan jalan tersebut. Kekuatan dan keausan agregat diperiksa dengan
menggunakan percobaan Abrasi Los Angeles, berdasarkan PB-0206-76,
AASHTO T96-7 (1982) (Sukirman, 1999).

4.

Bentuk permukaan

Bentuk permukaan agregat mempengaruhi stabilitas dari lapisan perkerasan


yang dibentuk oleh agregat tersebut. Partikel berbentuk kubus merupakan
bentuk agregat hasil dari mesin pemecah batu (stone crusher) yang
mempunyai bidang kontak lebih luas (berbentuk bidang rata sehingga
memberikan interlock/saling mengunci yang lebih besar) sehingga agregat
bentuk kubus ini paling baik digunakan sebagai bahan konstruksi perkerasan
jalan dibandingkan agregat berbentuk bulat (Sukirman, 1999).

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

5.

18
digilib.uns.ac.id

Tekstur permukaan
Tekstur permukaan yang kasar dan kesat akan memberikan gaya gesek yang
lebih besar sehingga dapat menahan gaya - gaya pemisah yang bekerja pada
batuan. Selain itu tekstur kasar juga memberikan gaya kohesi (ikatan antar
partikel berbeda) yang lebih baik antara aspal dan batuan. Batuan yang halus
lebih mudah terselimuti aspal namun, tidak bisa menahan kelekatan aspal
dengan baik. Bila tekstur permukaan semakin kasar umumnya stabilitas dan
durabilitas campuran semakin tinggi (Krebs dan Walker, 1971).

6.

Porositas
Porositas berpengaruh besar terhadap nilai ekonomis suatu campuran lapis
perkerasan. Semakin besar porositas batuan maka aspal yang digunakan
semakin banyak. Hal ini disebabkan kemampuan absorbsi dari batuan
terhadap aspal juga semakin tinggi (Krebs dan Walker, 1971).

7.

Kelekatan terhadap aspal


Daya lekatan dengan aspal dipengaruhi juga oleh sifat agregat terhadap air.
Granit dan batuan yang mengandung silika merupakan agregat bersifat
hydrophilic yaitu agregat yang cenderung menyerap air. Agregat demikian
tidak baik untuk digunakan sebagai bahan campuran dengan aspal, karena
mudah terjadi stripping yaitu lepasnya lapis aspal dari agregat akibat
pengaruh air (Sukirman, 1999).
Berdasarkan proses pengolahannya agregat yang digunakan pada perkerasan
lentur dapat dibedakan menjadi tiga jenis:
a. Agregat alam (Natural Aggregate)
Agregat alam terbentuk karena proses erosi dan degradasi. Bentuk partikel
dari agregat alam ditentukan dari proses pembentukannya. Aliran air sungai
membentuk partikel bulat dengan permukaan yang licin. Degradasi agregat di
bukit - bukit membentuk partikel - partikel yang bersudut dengan permukaan
yang kasar. Berdasarkan tempat asalnya agregat alam dapat dibedakan atas
pitrun yaitu agregat yang diambil dari tempat terbuka di alam dan bakrun
commit to user
yaitu agregat yang berasal dari sungai/endapan sungai.

19
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

b. Agregat dengan proses pengolahan (Manufactured Aggregate)


Manufactured Aggregate adalah agregat yang barasal dari mesin pemecah
batu. Pengolahan ini bertujuan untuk memperbaiki gradasi agar sesuai dengan
ukuran yang diperlukan, mempunyai bentuk yang bersudut, dan mempunyai
tekstur yang kasar.
c. Agregat buatan
Agregat ini dibuat dengan alasan khusus, yaitu agar mempunyai daya tahan
tinggi dan ringan untuk digunakan pada konstruksi jalan.
Agregat yang digunakan dalam campuran aspal harus memenuhi persyaratan
sebagaimana disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Spesifikasi Pemeriksaan Agregat
No.

Jenis pemeriksaan

Syarat

1.

Keausan (%)

max. 40

2.

Penyerapan (%)

max. 3

3.

Berat jenis Bulk (gr/cc)

min. 2,5

4.

Berat jenis SSD (gr/cc)

min. 2,5

Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton untuk Jalan Raya ( AASHTO
T96-7 )
Suatu campuran untuk konstruksi perkerasan jalan mempunyai spesifikasi gradasi
tertentu untuk menghasilkan stabilitas, keamanan dan kenyamanan yang tinggi.
Spesifikasi gradasi tersebut menunjukkan prosentase agregat yang lolos pada
setiap saringan terhadap berat total agregat. Spesifikasi gradasi yang digunakan
adalah berdasar SNI, seperti yang disajikan pada Tabel dan dapat dilihat juga pada
lampiran A.2

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

20
digilib.uns.ac.id

Tabel 2.3 Batas-batas Gradasi Menerus Agregat Campuran

Sumber: Pustran-Balitbang PU, Revisi SNI 03-1737-1989

Catatan :
No. Campuran : I, III, IV, VI, VII, VIII, IX, X dan XI digunakan untuk lapis
permukaan.
No. Campuran : II, digunakan untuk lapis permukaan, perata (leveling) dan lapis
antara (binder).
No. Campuran : V, digunakan untuk lapis permukaan dan lapis antara (binder).

2.2.3.2. Filler Abu Vulkanik


Siswosoebrotho (1996) menyatakan bahwa mineral filler adalah suatu mineral
agregat dari fraksi halus yang sebagian besar (+ 85 %) lolos saringan nomor 200
(0,075 mm).
Berdasarkan spesifikasi British Standard 594 (1985), filler adalah material yang
sebagian besar lebih kecil dari 0,075 mm (saringan no. 200).
Pada prakteknya filler berfungsi untuk meningkatkan viskositas dari aspal dan
mengurangi kepekaan terhadap temperatur. Menurut Hatherly (1967), dengan
meningkatkan komposisi filler dalam campuran dapat meningkatkan stabilitas
commit
user(rongga udara) dalam campuran.
campuran tetapi menurunkan kadar
air to
void

21
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Meskipun demikian komposisi filler dalam campuran tetap dibatasi. Terlalu tinggi
kadar filler dalam campuran akan mengakibatkan campuran menjadi getas
(brittle), dan retak (crack) ketika menerima beban lalu lintas. Akan tetapi terlalu
rendah kadar filler akan menyebabkan campuran terlalu lunak pada saat cuaca
panas.
Pada konstruksi perkerasan filler berfungsi sebagai pengisi ruang kosong (voids)
di antara agregat kasar sehingga rongga udara menjadi lebih kecil dan kerapatan
massanya lebih kasar. Dengan bubuk isian yang berbutir halus maka luas
permukaan akan bertambah, sehingga luas bidang kontak yang dihasilkan juga
akan bertambah luasnya, yang mengakibatkan tahanan terhadap gaya geser
menjadi lebih besar sehingga stabilitas geseran akan bertambah. Menurut Bina
Marga tahun 1987 macam dari filler adalah abu batu, abu batu kapur (limestone
dust), abu terbang (fly ash), semen portland, kapur padam dan bahan non plastis
lainnya. Penelitian ini menggunakan filler berupa abu batu dari stone crusher.
Abu vulkanik merupakan salah satu bahan alternatif yang dapat dipergunakan
sebagai bahan tambah untuk perkerasan jalan. Abu vulkanik merupakan bahan
yang dihasilkan akibat adanya letusan gunung berapi yang didapat dalam jumlah
cukup banyak dan dapat meningkatkan stabilitas campuran perkerasan. (juffrez
jufres, 4 oktober 2010)
Persyaratan filler sebagai berikut:
1.

Aggregate yang lolos saringan no. 100

2.

lebih dari 75% lolos saringan no. 200

3.

Bersifat non plastis

4.

Spesific Grafity lebih dari sama dengan 2,75 gr/cm3

commit to user

22
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Idealnya kandungan Oksida abu vulkanik menurut ASTM C 618-78 harganya


dibatasi seperti yang tercantum dibawah ini :
Tabel 2.4 Kandungan Oksida Abu Vulkanik Menurut ASTM C 618-78
NO Komposisi bahan

Jumlah (%)

SiO2 + AL2O3 + Fe2O3

minimal 70

MgO

maksimal 5

SO3

maksimal 4

H2O

maksimal 3

Vulkanik yang dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi umumnya dicirikan
oleh kandungan mineral liat allophan yang tinggi. Allophan adalah Aluminosilikat
amorf yang dengan bahan organik dapat membentuk ikatan kompleks.
Sifat-sifat tanah allophan adalah sebagai berikut:
a.

Profil tanahnya dalam.

b.

Lapisan atas maupun permukaannya gembur serta berwarna hitam.

c.

Lapisan subsoil berwarna kecoklatan dan terasa licin bila digosok diantara
jari-jari.

d.

Bulk densitynya sangat rendah (< 0, 85).

e.

Daya tahan terhadap air tinggi.

f.

Perkembangan struktur tanah baik.

g.

Daya lekat maupun plastisitasnya tidak ada bila lembab.

h.

Sukar dibasahi kembali bila sudah kering serta dapat mengapung di atas
permukaan air.

Mineralogi tanah yang berasal dari gunung Merapi dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu:

commit to user

23
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

a.

Mineral skeletal yang berasal dari mineral primer (mineral pasir dan debu)
serta agregat mikro kristalin.

b.

Fragment yang semuanya berasal dari bahan induk, mineral liat dan liat
amorf.

(Sumber:http://m-amin.com/2010/11/19/abu-vulkanik-gunung-merapiberpotensi-sebagai-material-keramik/)
Abu vulkanik terdiri dari batuan, mineral, dan gelas vulkanik fragmen yang lebih
kecil dari 2mm (0,1 inch) dengan diameter yang sedikit lebih besar dari ukuran
sebuah kepala peniti. Abu vulkanik tidak seperti bulu lembut, abu yang dihasilkan
dari pembakaran kayu, daun atau kertas. Sulit larut dalam air, dan abu vulkanik
dapat menjadi partikel yang sangat kecil kurang dari 0,025 mm (1/1000 inch)
dengan diameter yang umum. (Sumber: Science For A Changing)

(Sumber: Science For A Changing Word)


Gambar 2.3. Abu Vulkanik Di Lihat Dari Kasat Mata
Secara geologis , abu vulkanik adalah material batuan vulkanik yang berasal dari
magma panas dan cair yang membeku secara cepat . Batuan beku sejatinya
kumpulan mineral yang membeku dan mengkristal dari magma cair. Karena
membeku cepat maka magma ini tidak sempat mengkristal dengan baik. Karena
tidak mengkristal dalam geologi material bekuannya disebut gelas.

commit to user

24
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Mikroskop abu vulkanik ini memiliki bentuk yang runcing-runcing seperti


dibawah ini.

(Sumber: Blue Fame, Media Elektronik)


Gambar 2.4. Ukuran Mikroskopis Abu Vulkanik

Sumber : Strength, Deformation, Permeability and Workability of Hot Rolled Asphalt


(1984)

Gambar 2.5. Hasil Scan Abu batu dengan Mikroskop Elektron


commit to user

25
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Filler abu batu diperoleh dari hasil pemecahan (crushing) agregat kasar. Secara
fisik, bentuk butiran dari abu batu lebih terlihat bulat daripada bentuk mikroskopis
abu vulkanik.
2.2.3.3 Aspal
Aspal adalah material semen hitam, padat atau setengah padat dalam konsistensinya
di mana unsur pokok yang menonjol adalah bitumen yang terjadi secara alam atau
yang dihasilkan dengan penyulingan minyak (Petroleum). Aspal Petrolium dan aspal
liquid adalah material yang sangat penting.

Sedangkan material aspal tersebut berwarna coklat tua hingga hitam dan bersifat
melekat, berbentuk padat atau semi padat yang didapat dari alam dengan penyulingan
minyak.(Krebs, RD & Walker, RD.,1971)

Aspal dibuat dari minyak mentah (crude oil) dan secara umum berasal dari sisa
organisme laut dan sisa tumbuhan laut dari masa lampau yang tertimbun oleh dan
pecahan batu batuan. setelah berjuta juta tahun material organis dan lumpur
terakumulasi dalam lapisan lapisan setelah ratusan meter, beban dari beban teratas
menekan lapisan yang terbawah menjadi batuan sedimen. Sedimen tersebut yang
lama kelamaan menjadi atau terproses menjadi minyak mentah senyawa dasar
hydrocarbon. Aspal biasanya berasal dari destilasi minyak mentah ersebut, namun
aspal ditemukan sebagai bahan alam (misal : asbuton), dimana sering juga disebut
mineral (Shell Bitumen, 1990).

Selain sebagai bahan pengikat, aspal juga menjadi bahan pengisi pada rongga rongga dalam campuran. Dalam campuran Lapis Aspal Beton (LASTON) yang
banyak memakai agregat kasar, penggunaaan kadar aspal menjadi sangat tinggi
karena aspal di sini berfungsi untuk mengisi rongga - rongga antar agregat dalam
campuran. Kadar aspal yang tinggi menyebabkan campuran Aspal Beton
(LASTON) memerlukan kadar aspal yang tinggi pula. Untuk mengantisipasi
kadar aspal yang tinggi digunakan aspal dengan mutu baik, dengan tujuan
memperbaiki kondisi campuran.

commit to user

26
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Menurut Sartono dalam Widianto (2004), kadar aspal dalam campuran akan
berpengaruh banyak terhadap karakteristik perkerasan. Kadar aspal yang rendah
akan menghasilkan suatu perkerasan yang rapuh, yang akan menyebabkan
raveling akibat beban lalu lintas, sebaliknya kadar aspal yang terlalu tinggi akan
menghasilkan suatu perkerasan yang tidak stabil.
Aspal yang digunakan dalam penelitian ini adalah aspal padat atau keras dengan
penetrasi 60/70 dan mempunyai nilai karakteristik yang telah memenuhi
persyaratan yang ditetapkan Bina Marga berdasarkan Petunjuk Lapis Tipis Aspal
Beton (Flexible) Laston.

Aspal yang akan digunakan sebagai campuran perkerasan jalan harus memiliki
syarat - syarat sebagai berikut:
a.

Daya tahan (Durability)


Daya tahan aspal adalah kemampuan aspal untuk mempertahankan sifat
asalnya akibat pengaruh cuaca selama masa umur pelayanan.

b.

Kepekaan terhadap temperatur


Aspal adalah material yang bersifat termoplastis, sehingga akan menjadi
keras atau lebih kental jika tempertur berkurang dan akan melunak atau
mencair jika temperatur bertambah. Sifat ini diperlukan agar aspal memiliki
ketahanan terhadap perubahan temperatur, misalnya aspal tidak banyak
berubah akibat perubahan cuaca, sehingga kondisi permukaan jalan dapat
memenuhi kebutuhan lalu lintas serta tahan lama. Dengan diketahui kepekan
aspal terhadap temperatur maka dapat ditentukan pada temperatur berapa
sebaiknya aspal dipadatkan sehingga menghasilkan hasil yang baik.

commit to user

27
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

c.

Kekerasan aspal
Sifat kekakuan atau kekerasan aspal sangat penting, karena aspal yang
mengikat agregat akan menerima beban yang cukup besar dan berulang ulang. Pada proses pencampuran aspal dengan agregat dan penyemprotan
aspal ke permukaan agregat terjadi oksidasi yang menyebabkan aspal menjadi
getas atau viskositas bertambah tinggi. Peristiwa perapuhan terus terjadi
setelah masa pelaksanaan selesai. Selama masa pelayanan, aspal mengalami
oksidasi dan polimerasi yang besarnya dipengaruhi oleh aspal yang
menyelimuti agregat. Semakin tipis lapisan aspal, semakin besar tingkat
kerapuhan aspal yang terjadi dan demikian juga sebaliknya.

d.

Daya ikatan (Adhesi dan Kohesi)


Adhesi adalah kemampuan aspal untuk mengikat agregat sehingga dihasilkan
ikatan yang baik antara agregat dan aspal. Kohesi adalah ikatan di dalam
molekul aspal untuk tetap mempertahankan agregat tetap di tempatnya setelah
terjadi pengikatan.

2.2.4. Karakteristik Campuran


Menurut Silvia Sukirman (2003), terdapat tujuh karakteristik campuran yang harus
dimiliki oleh beton aspal adalah stabilitas, keawetan, kelenturan atau fleksibilitas,
ketahanan terhadap kelelahan (fatique resistance), kekesatan permukaan atau
ketahanan geser, kedap air dan kemudahan pelaksanaan (workability). Di bawah
ini adalah karakteristik yang akan diinginkan dalam penelitian:
1. Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalulintas
tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur dan bleeding.
Kebutuhan akan stabilitas sebanding dengan fungsi jalan dan beban lalu lintas
yang dilayani. Jalan yang melayani volume lalu lintas tinggi dan mayoritas
kendaraan berat membutuhkan perkerasan jalan dengan stabilitas tinggi.

commit to user

28
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai stabilitas beton aspal adalah :

Gesekan internal yang dapat berasal dari kekasaran permukaan butir-butir


agregat, luas bidang kontak antar butir atau bentuk butir, gradasi agregat,
kepadatan campuran dan tebal film aspal.

Kohesi yang merupakan gaya ikat aspal yang berasal dari daya lekatnya,
sehingga mampu memelihara tekanan kontak antar butir agregat.

2. Keawetan atau durabilitas adalah kemampuan beton aspal menerima repetisi


beban lalulintas seperti berat kendaraan dan gesekan antara roda kendaraan
dan permukaan jalan, serta menahan keausan akibat penaruh cuaca dan iklim,
seperti udara, air, atau perubahan temperatur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai durabilitas adalah:
Tebalnya film atau selimut aspal
Banyaknya pori dalam campuran
Kepadatan dan kedap airnya campuran.
3. Kelenturan atau fleksibilitas adalah kemampuan beton aspal untuk
menyesuaikan diri akibat penurunan (konsolidasi/settlement) dan pergerakan
dari pondasi atau tanah dasar, tanpa terjadi retak. Penurunan terjadi akibat dari
repetisi beban lalu lintas ataupun akibat beban sendiri tanah timbunan yang
dibuat di atas tanah asli.
4. Kekesatan/tahanan geser adalah kemampuan permukaan beton aspal terutama
pada kondisi basah, memberikan gaya esek pada roda kendaraan sehingga
kendaraan tidak tergelincir ataupun slip.
Faktor-faktor untuk mendapatkan kekesatan jalan sama dengan untuk
mendapatkan stabilitas yang tinggi, yaitu:
Kekasaran permukaan dari butir-butir agregat
Luas bidang kontak antar butir atau bentuk butir
Gradasi agregat
Kepadatan campuran
Tebal film aspal.

commit to user

29
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

5.

Kedap air adalah kemampuan beton aspal untuk tidak dapat dimasuki air
ataupun udara lapisan beton aspal. Air dan udara dapat mengakibatkan
percepatan proses penuaan aspal dan pengelupasan selimut aspal dari
permukaan agregat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu:
Kecilnya presentasi porositas
Gradasi agregat
Kepadatan campuran

2.3.

Pengujian Campuran Asphalt Concrete

2.3.1. Pengujian Volumetrik


Pengujian volumetrik adalah pengujian untuk mengetahui besarnya nilai densitas,
specific gravity campuran dan porositas dari masingmasing benda uji. Pengujian
meliputi pengukuran tinggi, diameter, berat SSD, berat di udara, berat dalam air
dari sampel dan berat jenis agregat, filler dan aspal. Sebelum dilakukan pengujian
Marshall, benda uji dilakukan pengujian Volumetrik untuk masing-masing benda
uji.

Spesific gravity campuran menunjukkan berat jenis campuran diperoleh dengan


rumus :
Gsb =

100
.......(Rumus 2.1)
%WA %WB %WC
%Wn

.....
GbA GbB
GbC
Gbn

Keterangan :
Gsb

= Berat Jenis Bulk campuran

WA,WB,WC...Wn

= Berat agregat masing masing saringan

(gr/cm3)
(%)

GbA, GbB, GbC,Gbn = Berat jenis bulk tiap agregat tertahan saringan (gr/cm3)
commit to user

30
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Gsa =

100
.......(Rumus 2.2)
%WA %WB %WC
%Wn

.....
GaA GaB
GaC
Gan

Keterangan :
(gr/cm3)

Gsa

= Berat Jenis Apparent campuran

WA,WB,WC...Wn

= Berat agregat masing masing saringan

GaA, GaB, GaC,Gan

= Berat jenis apparent tiap agregat tertahan


(gr/cm3)

saringan

Gse =

+
2

(%)

...................................................................................(Rumus 2.3)

Keterangan:
Gse = Berat jenis rata-rata agregat

(gr/cm3)

Gsa = Berat jenis apparent campuran

(gr/cm3)

Gsb = Berat jenis bulk campuran

(gr/cm3)

Penyerapan aspal dengan campuran dihitung dengan rumus:

= 100

........................................................(Rumus 2.4)

Keterangan:
Pba = Penyerapan Aspal

(%)

Gsa = Berat jenis apparent campuran

(gr/cm3)

Gsb = Berat jenis bulk campuran

(gr/cm3)

Gac = Berat jenis Aspal

(gr/cm3)

Volume Bulk dihitung menggunakan rumus:


Vb = Ws Ww(Rumus 2.5)
commit to user

31
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Keterangan:
Vb = Volume Bulk (cc)
Ws = Berat benda Uji SSD (gram)
Ww = Berat benda uji di air (gram)

Densitas dihitung menggunakan rumus:

.....(Rumus 2.6)

Keterangan:
D = Densitas (gr/cc)
Wdry = Berat benda uji kering (gram)
Vb = Volume Bulk (cc)

Nilai density maks.teoritis dihitung dengan menggunakan rumus:


D maks teoritis =

100

(100 )...........................................................(Rumus 2.7)

Keterangan:
D maks teoritis = Density maks teoritis (gr/cc)
a = Kadar Aspal (%)
Gac = Berat Jenis Aspal (gr/cc)
Gse = BJ efektif rata-rata agregat (gr/cc)

Dari nilai densitas dan specific gravity campuran dapat dihitung besarnya
porositas dengan Rumus 2.6.
100D

VIM = 100
Dmaksteoritis

.................................................(Rumus

2.8)
commit to user

32
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Keterangan :
VIM

= Porositas benda uji

(%)

= Densitas benda uji

(gr/cc)

Dmaks teoristis = nilai densitas maks teoritis

(gr/cc)

2.3.2. Pengujian Marshall


Pengujian Marshall adalah pengujian terhadap benda uji untuk menentukan nilai
kadar aspal optimum dan karakteristik campuran dengan cara mengetahui nilai
flow, stabilitas, dan Marshall Quotient.
2.3.2.1. Stabilitas (Stability)
Nilai stabilitas terkoreksi dihitung dengan rumus:
S = q C k 0,454.................................(Rumus 2.9)
dengan :
S

= nilai stabilitas terkoreksi (kg)

= pembacaan stabilitas pada dial alat Marshall (lb)

= faktor kalibrasi alat

= angka koreksi ketebalan (dapat dilihat pada lampiran A.5)

0,454 = konversi beban dari lb ke kg


2.3.2.2. Flow
Flow dari pengujian Marshall adalah besarnya deformasi vertikal sampel yang
terjadi mulai saat awal pembebanan sampai kondisi kestabilan maksimum
sehingga sampel sampai batas runtuh dinyatakam dalam satuan mm atau 0,01.

commit to user

33
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2.3.2.3. Marshall Quotient


Merupakan perbandingan antara stabilitas dengan kelelahan plastis (flow) dan
dinyatakan dalam kg/mm. Marshall Quotient besarnya merupakan indikator dari
kelenturan yang potensial terhadap keretakan. Nilai Marshall Quotient dihitung
dengan rumus berikut :
MQ =

S
F

...........................(Rumus

2.10)
dengan :
MQ

= Marshall Quotient (kg/mm)

= nilai stabilitas terkoreksi (kg)

= nilai flow (mm)

2.4.Analisis Varian (Anova)


Anova satu arah digunakan ketika variabel dependen-nya dipengaruhi satu faktor,
hasil-hasil pengukuran (pengamatan) diperoleh untuk sejumlah a kelompok
sampel yang bebas (tidak saling bergantungan), dimana banyaknya pengukuran
yang dilakukan pada masing-masing kelompok adalah b. Dengan demikian, dalam
bahasa teknis dapat dikatakan bahwa diterapkan a perlakuan (treatment),di mana
masing-masing perlakuan memiliki b pengulangan atau b replikasi.

Skema Data
Hasil-hasil yang diperoleh dari sebuah eksperimen satu faktor dapat disajikan di
dalam sebuah tabel yang memiliki a baris dan b kolom,seperti diilustrasikan oleh
tabel 2.5. Disini, Xjk menotasikan hasil pengukuran yang ada di baris ke-j dan
kolom ke-k, di mana j= 1,2,.,a dan k = 1,2,.b.

commit to user

34
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabeel 2.5 Ilustrasi Perhitungan Anova


Perlakuan 1

X11, X12,.., X1b

X1 rata2

Perlakuan 2

X21, X22,...,X2b

X2 rata2

..

..

..

..

..

..

Perlakuan a

Xa1, Xa2,,..Xab

Xa rata2

Prosedur Pengujian
Perhitungan statistik F harus diketahui nilai dari masing masing sumber variasi
terlebih dahulu dengan rumus-rumus sebagai berikut :
Menotasikan mean dari semua pengukuran yang ada di baris ke-j sebagai
1

1 ...........................................................(Rumus

2.11)

J= 1,2,.a

Keterangan =
= mean kelompok, mean perlakuan, mean baris.

Menghitung mean total dari semua pengukuran yang ada di semua kelompok
1

=1

=1 .(Rumus

2.12)

Menghitung variasi total


Vtotal =

, (

)2 ...(Rumus 2.13)

Menghitung variasi antar perlakuan


=

, (

)2 =

)2 .....(Rumus 2.14)

Menghitung variasi di dalam perlakuan

=( )2 .....(Rumus 2.15)
Menghitung derajat kebebasan
commit to user

35
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

df antar perlakuan = a-1...(Rumus 2.16)


df di dalam perlakuan = a(b-1).(Rumus 2.17)
df total= ab-1(Rumus 2.18)

Menghitung kuadrat mean antar perlakuan dan dalam perlakuan

2 =
2

...(Rumus 2.19)

(1)

..(Rumus 2.20)

Mencari Fhitung

2
2

(Rumus 2.21)

Ftabel= dicari di tabel dengan angka korelasi 0,05 sesuai dengan derajat
kebebasan antar perlakuan dan derajat kebebasan dalam perlakuan

H0 = hipotesa
Jika Fhitung F tabel maka H0 ditolak artinya perlakuan menyebabkan
perubahan nilai secara nyata.
Jika Fhitung F tabel maka H0 ditolak artinya perlakuan tidak menyebabkan
perubahan nilai secara nyata.

commit to user

36
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

2.5. Kerangka pikir


Secara garis besar, kerangka pikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Latar Belakang Masalah
Ketertarikan pemanfaatan abu vulkanik gunung sebagai filler dalam
campuran AC akibat adanya letusan Gunung Merapi pada tanggal 26
Oktober 2010
Modifikasi
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana pengaruh nilai uji marshall campuran aspal beton dengan
atau tanpa menggunakan filler abu vulkanik Gunung Merapi?
2. Apakah campuran perkerasan AC dengan menggunakan filler abu
vulkanik Gunung Merapi memenuhi persyaratan karakteristik marshall
revisi SNI03-1737-1989?

1.

Tujuan Penelitian
Menganalisis dan mengetahui karakteristik abu vulkanik Gunung Merapi
memenuhi syarat atau tidak sebagai filler

2. Untuk mencari dan membandingkan hasil karakteristik marshall perkerasan


AC (asphalt concrete) dengan menggunakan filler abu vulkanik Gunung
Merapi terhadap syarat revisi SNI 03-1737-1989

Penelitian Laboratorium
1. Perencanaan campuran dan pembuatan benda uji
2. Marshall test

Analisa Data Hasil Pengujian

Analisis Varian
Analisis varian hasil pengujian Marshall test.

Kesimpulan

Gambar 2.6. Diagram Alir Kerangka Berpikir

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desain empiris secara
eksperimen yaitu metode yang dilakukan dengan mengadakan kegiatan percobaan
untuk mendapatkan data. Data tersebut diolah untuk mendapatkan suatu hasil
perbandingan dengan syarat-syarat yang ada. Penyelidikan eksperimen dapat
dilaksanakan didalam ataupun diluar laboratorium. Dalam penelitian ini dilakukan
di laboratorium dengan menggunakan variasi bahan pengisi (filler) dengan kadar
abu vulkanik Gunung Merapi 0 %, 25 %, 50%, 75%, 100%, terhadap berat total
agregat. Hasil pengujian ini adalah nilai Marshall.

3.2. Waktu Penelitian


Penelitian dan uji coba dimulai tanggal 28 Januari 2011 sampai tanggal 15 April
2011. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Jalan Raya Fakultas Teknik
Jurusan Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dengan jadwal pelaksanaan penelitian pada tabel 3.1 :

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian


Bulan
Minggu
Persiapan Alat dan Bahan
Pemeriksaan Bahan
Pembuatan Benda Uji
Pengujian Benda Uji
Analisa Data

Jan 11
1 2 3

Feb 11
1 2 3

commit to user

37

Maret11
1 2 3 4

Apr11
1 2 3

38
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3.3. Jenis Data


Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung melalui serangkaian
kegiatan percobaan yang dilakukan sendiri dengan mengacu pada petunjuk
manual yang ada, misalnya dengan mengadakan penelitian atau pengujian secara
langsung. Data primer dalam penelitian ini adalah data unsur kimia dan berat jenis
yang terkandung dalam abu vulkanik yang diperoleh dari laboratortium kimia
analitik UGM Yogyakarta, pengujian gradasi abu vulkanik dan hasil uji marshall.

2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diambil dari hasil penelitian sebelumnya atau yang
dilaksanakan yang masih berhubungan dengan penelitian tersebut. Data sekunder
dalam penelitian ini adalah data pemeriksaan agregat yang diperoleh dari PT.
Pancadarma Puspawira dan data hasil pemeriksaan karakteristik aspal dari
Laboratorium Jalan Raya Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret. Data
sekunder tersebut dapat dilihat pada lampiran A.6 sampai A.10

3.4. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
1. Alat pemeriksaan agregat, terdiri dari :
a. Satu set mesin uji Los Angeles yang berada di Laboratorium Bahan
Fakultas Teknik UNS.
b. Satu set alat uji saringan ( sieve ) standar ASTM.
c. Satu set mesin getar untuk saringan ( sieve shacker ).
2. Oven dan pengatur suhu.
3. Timbangan.

commit to user

39
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4. Termometer.
5. Alat pembuat briket campuran aspal hangat terdiri dari :
a. Satu set cetakan ( mold ) berbentuk silinder dengan diameter 101,45
mm,tinggi 80 mm lengkap dengan plat atas dan leher sambung.
b. Alat penumbuk (compactor) yang mempunyai permukaan tumbuk rata
berbentuk silinder, dengan berat 4,536 kg (10 lbs), tinggi jatuh bebas 45,7
cm (18).
c. Satu set alat pengangkat briket ( dongkrak hidrolis ).
6. Satu set water bath
7. Satu set alat Marshall, terdiri dari :
a. Kepala penekan yang berbentuk lengkung (Breaking Head).
b. Cincin penguji berkapasitas 2500 kg dengan arloji tekan.
c. Arloji penunjuk kelelahan .

Gambar 3.1 Alat Uji Marshall

commit to user

40
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

8. Alat Penunjang
Panci, kompor, sendok, spatula, sarung tangan, kunci pas, obeng, roll kabel,
wajan.

3.5. Bahan
Bahan bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Agregat

Agregat yang digunakan berasal dari PT. Pancadarma Puspawira.


Hasil pemeriksaan agregat merupakan data sekunder yang diperoleh dari PT.
Pancadarma Puspawira seperti yang disajikan pada tabel 4.1. sampai dengan tabel
4.4.

2. Aspal
Aspal penetrasi 60 / 70 produksi PERTAMINA yang diperoleh dari Lab. Jalan
Raya Fak. Teknik Sipil UNS.

3. Filler
Filler adalah suatu mineral agregat dari fraksi halus yang sebagian besar (+ 85 %)
lolos saringan nomor 200 (0,075 mm). Penelitian ini menggunakan filler abu
vulkanik Gunung Merapi yang berasal dari Desa Musuk, Kabupaten Boyolali.

commit to user

41
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3.6. Benda Uji


Penelitian ini menggunakan benda uji sebanyak 75 buah benda uji. Adapun
kebutuhan benda uji tersebut seperti disajikan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2. Kebutuhan Benda Uji


Komposisi
Kadar Aspal
Kadar Filler (Abu Vulkanik)
4,5%
0%
25%
50%
75%
100%
5%
0%
25%
50%
75%
100%
5,5%
0%
25%
50%
75%
100%
6%
0%
25%
50%
75%
100%
6,5%
0%
25%
50%
75%
100%
Jumlah Total Benda Uji

commit to user

Jumlah Benda Uji


3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
75 buah

perpustakaan.uns.ac.id

42
digilib.uns.ac.id

3.7. Prosedur Pelaksanaan

3.7.1 Pembuatan Benda Uji


Sebelum pembuatan benda uji diadakan pembuatan rancang campur (mix design).
Perencanaan rancang campur meliputi perencanaan gradasi agregat, penentuan
aspal dan pengukuran komposisi masing-masing fraksi baik agregat, aspal, dan
filler. Gradasi yang digunakan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan
menggunakan gradasi rencana campuran spec IV.
Prosedur pembuatan benda uji dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
1.

Tahap I
Merupakan tahap persiapan untuk mempersiapkan bahan dan alat yang akan
digunakan. Menentukan prosentase masing - masing butiran untuk
mempermudah pencampuran dan melakukan penimbangan secara kumulatif
untuk mendapatkan proporsi campuran yang lebih tepat.

2.

Tahap II
Menentukan berat aspal penetrasi 60/70, berat filler dan berat agregat yang
akan dicampur berdasarkan variasi kadar aspal. Prosentase ditentukan
berdasarkan berat total campuran, yaitu 1100 gram. Berat filler ditentukan
dengan mengganti abu batu dengan prosentase 25%, 50%, 75%, dan 100%
terhadap berat lolos saringan no.200. dengan asumsi 100% abu batu, 25% abu
vulkanik dan 75% abu batu, 50% abu vulkanik 50% abu batu, 75% abu
vulkanik 25% abu batu, dan 100% abu vulkanik.

3.

Tahap III
Aspal Penetrasi 60/70 dituang ke dalam wajan yang berisi agregat yang
diletakkan di atas timbangan sesuai dengan prosentase bitumen content
berdasarkan berat total agregat.

4.

Tahap IV
Setelah aspal dituangkan ke dalam agregat, campuran ini diaduk sampai rata
dan kemudian didiamkan hingga mencapai suhu pemadatan. Selanjutnya
campuran dimasukkan ke dalam mould yang telah disiapkan dengan melapisi
bagian bawah dan atas mouldcommit
denganto
kertas
user pada alat penumbuk.

43
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

5.

Tahap V
Campuran dipadatkan dengan alat pemadat sebanyak 75 kali tumbukan untuk
masing - masing sisinya. Selanjutnya benda uji didinginkan pada suhu ruang
selama 2 jam, barulah dikeluarkan dari mould dengan bantuan dongkrak
hidraulis.

6.

Tahap VI
Setelah benda uji dikeluarkan dari mould, kemudian dilakukan pengujian
volumetrik test dan pengujian dengan alat uji Marshall.

3.7.2

Volumetrik Test

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui VIM dari masing masing benda
uji. Adapun tahap pengujiannya adalah sebagai berikut :
1. Tahap I
Benda uji yang telah diberi kode diukur ketinggiannya pada empat sisi yang
berbeda beda dengan menggunakan bantuan jangka sorong.
Setelah

diukur

ketinggiannya,

benda

uji

tersebut

ditimbang

untuk

mendapatkan berat benda uji.


2. Tahap II
Dari hasil pengukuran tinggi, berat, serta diameter benda uji. Dapat dihitung
volume bulk dan densitas dengan rumus 2.5 dan 2.6.
3. Tahap III
Pada tahap ketiga ini dihitung berat jenis ( Specific Gravity ) masing masing
benda uji dengan menggunakan rumus 2.2, 2.2, 2.3.
4. Tahap IV
Tahap keempat perhitungan penyerapan aspal dengan campuran dengan
menggunakan rumus 2.4
5. Tahap V
Dari perhitungan berat jenis didapatkan nilaii density maks teoritis dan VIM
dengan menggunakan rumus 2.7 dan 2.8

commit to user

44
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3.7.3 Marshall Test


Langkah dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
1. Benda uji direndam selama kurang lebih 24 jam.
2. Benda uji direndam dalam water bath ( bak perendam ) selama 30 menit
dengan suhu 60 C.
3. Benda uji dikeluarkan kemudian diletakkan pada alat uji Marshall untuk
dilakukan pengujian.
4. Dari hasil pengujian ini didapat nilai stabilitas dan kelelahan ( flow ).
5. Perhitungan nilai stabilitas dan marshall quotient di dapatkan dengan rumus 2.9
dan 2.10

commit to user

45
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3.8. Tahap Penelitian


Mulai

Data sekunder
- Pemeriksaan Aspal
- Pemeriksaan Agregat

Persiapan alat dan bahan

Pengujian filler
(abu vulkanik)

Tidak

Analisis
Saringan

Syarat
gradasi,berat
jenisFiller

Gradasi AC
spec IV
Ya

Ya

Tidak

Menentukan berat aspal penetrasi 60/70, berat filler dan berat agregat
yang akan dicampur berdasarkan variasi kadar aspal. Prosentase
ditentukan berdasarkan berat total campuran, yaitu 1100 gram. Berat filler
ditentukan dengan mengganti abu batu dengan prosentase 0%,25%, 50%,
75%, dan 100% abu vulkanik terhadap berat lolos saringan no.200.
dengan asumsi 100% abu batu, 25% abu vulkanik dan 75% abu batu, 50%
abu vulkanik 50% abu batu, 75% abu vulkanik 25% abu batu, dan 100%
abu vulkanik. .
A

commit to user

46
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Pembuatan Benda Uji:


Memanaskan aspal Penetrasi 60/70
A
Menuang fresh aggregate dalam wajan dan memanaskan sampai suhu
pencampuran
Menuangkan aspal yang telah dipanaskan ke dalam wajan berisi campuran
fresh aggregate di atas timbangan, lalu diaduk sampai homogen dan
diangin-anginkan hingga suhunya turun mencapai suhu pemadatan di bawah
suhu hotmix
Menumbuk benda uji masing-masing 75 kali pada kedua sisi (atas dan
bawah) benda uji secara bergantian, mengeluarkan benda uji dari mould
dengan menggunakan dongkrak hidraulis
Perhitungan Volumetrik
Pengujian Marshall Test
Data primer
Hasil pengujian Marshall

Analisis Data dan Pembahasan


Kesimpulan
Selesai
Gambar 3.2. Diagram Alir Penelitian

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB 4
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pemeriksaan Bahan

4.1.1. Hasil Pemeriksaan Agregat

Kualitas agregat dapat diketahui dengan dua macam pemeriksaan, yaitu dengan
cara visual dan cara percobaan sehingga diperoleh data laboratorium. Pemeriksaan
visual berupa pemeriksaan terhadap bentuk butiran dan tekstur permukaan agregat
kasar. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa agregat yang digunakan memiliki
tekstur permukaan yang kasar (rough) dan mempunyai bentuk yang bervariasi
seperti dapat dilihat pada Gambar 4.1.

CA

MA

FA

NS

Gambar 4.1. Agregat yang Digunakan dalam Penelitian


commit to user

47

48
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Pemeriksaan agregat di laboratorium merupakan pemeriksaan terhadap keausan dengan


menggunakan mesin Los Angeles, berat jenis semu agregat kasar dan berat jenis semu
agregat halus. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa agregat yang digunakan telah
memenuhi syarat yang ditentukan. Hasil pemeriksaan agregat seperti yang disajikan
pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil Pemeriksaan Agregat Kasar (CA)


No.

Jenis pemeriksaan

Hasil

Syarat

1.

Penyerapan (%)

2,659 %

max. 3%

2.

Berat jenis Bulk

2,550 gr/cc

min. 2,5 gr/cc

3.

Berat jenis SSD

2,618 gr/cc

min. 2,5 gr/cc

4.

Berat jenis Apparent

2,736 gr/cc

Sumber : PT. Pancadarma Puspawira

Tabel 4.2. Hasil Pemeriksaan Agregat Sedang (MA)


No.
Jenis pemeriksaan
Hasil

Syarat

1.

Penyerapan (%)

2,680 %

max. 3%

2.

Berat jenis Bulk

2,627 gr/cc

min. 2,5 gr/cc

3.

Berat jenis SSD

2,697 gr/cc

min. 2,5 gr/cc

4.

Berat jenis Apparent

2,826 gr/cc

Sumber : PT. Pancadarma Puspawira

Tabel 4.3. Hasil Pemeriksaan Agregat Halus (FA)


No.
Jenis pemeriksaan
Hasil

Syarat

1.

Penyerapan (%)

2,093 %

max. 3%

2.

Berat jenis Bulk

2,665 gr/cc

min. 2,5 gr/cc

3.

Berat jenis SSD

2,720gr/cc

min. 2,5 gr/cc

4.

Berat jenis Apparent

2,881 gr/cc

Sumber : PT. Pancadarma Puspawira

commit to user

49
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4.4. Hasil Pemeriksaan Agregat Pasir (NS)


No.
Jenis pemeriksaan
Hasil

Syarat

1.

Penyerapan (%)

2,104 %

max. 3

2.

Berat jenis Bulk

2,579 gr/cc

min. 2,5

3.

Berat jenis SSD

2,633 gr/cc

min. 2,5

4.

Berat jenis Apparent

2,784 gr/cc

Sumber : PT. Pancadarma Puspawira

Sebelum pembuatan benda uji, dilakukan pembuatan rancang campur (mix design).
Perencanaan rancang campur meliputi perencanaan gradasi agregat, penentuan aspal
dan pengukuran komposisi masing-masing fraksi baik agregat, aspal, abu vulkanik dan
filler. Gradasi yang digunakan adalah Revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) 031737-1989. Hasil analisis saringan CA,MA,FA dan NS dapat dilihat pada lampiran B.1
B.4. Untuk gradasi rencana campuran dapat dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini :
Tabel 4.5. Gradasi Rencana Campuran AC Spec IV SNI 03-1737-1989

Ukuran Saringan

Spesifikasi*
(% Lolos)
100
80 100
70 90
50 70
35 50
18 29
13 23
8-16
4-10

Hasil Analisis
Saringan**
(% Lolos)
100,00
84,23
71,77
52,75
44,23
27,50
17,72
8,10
4,30

3/4"
1/2"
3/8"
#4
#8
# 30
# 50
# 100
# 200
PAN
0
Sumber: -Pustran-Balitbang PU, Revisi SNI 03-1737-1989*
- Hasil Analisis Saringan di Laboratorium, 2011

commit to user

50
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.1.2. Hasil Pemeriksaan Aspal

Data hasil pemeriksaan aspal penetrasi 60/70 merupakan data hasil pengujian
laboratorium. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, aspal mempunyai karakteristik
yang telah memenuhi spesifikasi Petunjuk Lapis Aspal Beton sesuai dengan Revisi SNI
03-1737-1989. Hasil pemeriksaan aspal seperti disajkan pada tabel 4.6.
Tabel 4.6. Hasil Pemeriksaan Aspal

No.

Syarat*

Jenis Pemeriksaan

Hasil**

Min.

Maks.

1.

Penetrasi, 10gr, 25 C, 5 detik

60

79

70,1

2.

Titik Lembek

48

58

48,33 C

3.

Titik Nyala

200 C

350 C

4.

Titik Bakar

200 C

370 C

5.

Daktilitas, 25 C, 5 cm/menit

100 cm

>150 cm

6.

Spesific Grafity

1 gr/cc

Sumber: - Syarat Pelaksanaan Lapis Aspal Beton untuk Jalan Raya *


- Fatiha Nurul, 2010 **

commit to user

1,03 gr/cc

51
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.1.3 Hasil Pemeriksaan Filler Abu Vulkanik


Data hasil pemeriksaan filler abu vulkanik merupakan data hasil laboratorium. Hasil
pengujian abu vulkanik telah memenuhi syarat sebagai filler. Hasil pemeriksaan dapat
dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.7 Hasil Pemeriksaan Filler Abu Vulkanik Gunung Merapi


Berat
Komulatif Tertahan
Tertahan
% Lolos
Berat
(gram)
(gram)
%
100
15.3
15.3
5.1
94.9
I
200
34.1
49.4
16.47
83.53
PAN
250.6
300
100
0
Jumlah
300
100
14.9
14.9
4.97
95.03
II
200
35.4
50.3
16.77
83.23
PAN
249.7
300
100
0
Jumlah
300
100
14.6
14.6
4.87
95.13
III
200
34.6
49.2
16.4
83.6
PAN
250.8
300
100
0
Jumlah
300
Sumber: Laboratorium Jalan Raya, Fakultas Teknik, UNS Surakarta, 2011
Pemeriksaan
ke-

No
Saringan

Pemeriksaan gradasi abu vulkanik pada saringan no.100 tidak memenuhi syarat, namun
pada saringan no 200 dan PAN memenuhi syarat sehingga jika akan menggunakan
sebagai filler harus di saring terlebih dahulu dan abu vulkanik yang dipakai yang lolos
saringan no.200.

Idealnya kandungan Oksida abu vulkanik menurut ASTM C 618-78 harganya dibatasi
seperti yang tercantum dibawah ini :

commit to user

52
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4.8 Kandungan Oksida Abu Vulkanik Menurut ASTM C 618-78


NO Komposisi bahan

Jumlah (%)

SiO2 + AL2O3 + Fe2O3

minimal 70

MgO

maksimal 5

SO3

maksimal 4

H2O

maksimal 3

Abu Vulkanik gunung merapi di desa Musuk Boyolali memiliki komposisi kimia
sebagai berikut:
Tabel 4.9 Komposisi Kimia Abu Vulkanik Gunung Merapi
Nama Unsur

Sampel 1 (%)

Sampel 2 (%)

Sampel 3 (%)

SiO2

62,5648

61,5534

63,5763

Al2O3

18,0583

18,2901

18,1692

Fe2O3

8,3421

8.4429

8,6444

CaO

1,5872

1,5982

1,6091

MgO

0,4342

0,4241

0,4308

Na2O

2,8309

2,8612

2,8006

K2O

1,8762

1,8332

1,9193

MnO

0,1644

0,1662

0,1680

TiO2

0,4739

0,4874

0,4739

P2O5

0,0606

0,0606

0,0693

H2O

0,2749

LOI

0.3909

Sumber: Laboratorium Kimia Analitik UGM, Yogyakarta

Secara rincinya dapat diliihat pada lampiran pada halaman B-1. Hasil dari pemeriksaan
kandungan kimia pada abu vulkanik terlihat bahwa unsur-unsur yang terkandung
memenuhi syarat ASTM C 618-78.

commit to user

53
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4.10 Berat Jenis Abu Vulkanik Gunung Merapi


Nilai (gr/cm3)

Syarat (gr/cm3)

3,0120

2,75

Berat Jenis (kg/L)

Sumber: Laboratorium Kimia Analitik UGM, Yogyakarta

Melihat hasil dari pemeriksaan berat jenis diatas, berat jenis abu vulkanik memenuhi
syarat sebagai filler yaitu 3,0120 gr/cm3 2,75 gr/cm3. Untuk syarat non plastis abu
vulkanik memenuhi syarat pengujiannya dapat dilihat pada lampiran dokumentasi hal
C-8 dimana abu vulkanik tidak bisa dipilin dalam pencampurannya dengan air, karena
abu vulkanik memiliki kandungan kimia paling banyak yaitu silica atau biasa disebut
kaca dan berbentuk butiran.

4.2.

Hasil Pemeriksaan dan Pengujian Marshall

Sebelum melakukan pengujian dengan alat Marshall , terlebih dahulu dilakukan


volumetrik test. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan tinggi benda uji, berat
kering, berat berat benda uji dalam air serta berat SSD lalu di lakukan proses
perhitungan, sebagai contoh perhitungan pada kadar aspal 5,5% dan abu vulkanik 0%.
Berat benda uji di udara ( Wdry )

= 1090 gram

Berat benda uji SSD ( Ws )

= 1099,4 gram

Berat benda uji dalam air ( Ww )

= 625,9 gram

Volume Bulk dihitung dengan rumus 2.5


Vb = 1099,4-625,9 = 473,5
Perhitungan densitas dengan Rumus 2.6
Densitas =

1090
= 2,302 gr/cc
473,5

Perhitungan Spesific Gravity dengan menggunakan rumus 2.1 ; 2.2 ; dan 2.3

commit to user

54
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Gsa
=

100
0
15,77 12,46 19,02 8,52 16,73 9,78
9,62
3,80
3,22 1,071
+
+
+
+
+
+ 2,881 + 2,881 + 3,784 + 3,784 + 3,012
2,735 2,735 2,735 2,735 2,825 2,825

= 2,79 gr/cc
Gsb
=

100
0
15,77 12,46 19,02 8,52 16,73 9,78
9,62
3,80
3,22 1,071
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
2,550 2,550 2,550 2,550 2,627 2,627 2,665 2,665 3,579 3,579 3,012

= 2,60 gr/cc
Gse

2,79+2,60
2

= 2,69 gr/cc

Penyerapan aspal dengan campuran dihitung dengan rumus 2.4


Pba

= 100

2,79 2,60
1,03 = 2,76%
2,79 2,60

Density maks teoritis dihitung dengan rumus 2.7


Dmaks teoritis =

100
= 2,51gr/cc
4,5 100 4,5
+
1,03
2,69

VIM dihitung dengan rumus 2.8


VIM = 100

100 2,302
= 8,251%
2,512

Stabilitas dihitung dengan rumus 2.9


S=38 x 0,94 x 30,272 x 0,454
= 498,180 kg
Marshall Quotient dihitung dengan rumus 2.10
MQ = 498,180/4,6
= 106,344 kg/mm

commit to user

55
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil perhitungan selanjutnya ditampilkan pada lampiran B.11 B.15. Rekapitulasi


hasil perhitungan marshall dapat dilihat pada tabel 4.11
Tabel 4.11. Rekapitulasi Hasil Uji Marshall Pengganti Filler dengan Abu Vulkanik
Kadar Abu
Vulkanik

0%

25%

50%

75%

100%

Data
Marshall

4,5

Kadar Aspal
5,5

6,5

Densitas (gr/cc)
VIM (%)
Stabilitas(kg)
Flow(mm)
MQ(kg/mm)
Densitas (gr/cc)
VIM (%)
Stabilitas(kg)
Flow(mm)

2,265
9,732
480,969
4,733
101,679
2,289
8,880
485,974
4,367

2,274
8,690
508,287
5,233
96,935
2,250
9,744
764,933
4,867

2,254
8,795
794,587
6,300
126,414
2,276
8,021
631,609
5,333

2,311
5,796
489,386
5,400
90,755
2,315
5,745
601,188
5,433

2,318
4,832
424,363
6,300
67,359
2,325
4,653
473,594
5,200

MQ(kg/mm)
Densitas (gr/cc)
VIM (%)
Stabilitas(kg)
Flow(mm)
MQ(kg/mm)
Densitas (gr/cc)
VIM (%)
Stabilitas(kg)

112,113
2,301
8,494
477,092
3,200
148,888
2,324
7,648
626,179

155,214
2,248
9,914
862,928
4,567
189,307
2,251
9,878
688,618

118,916
2,291
7,514
663,159
5,733
116,055
2,280
8,051
870,970

110,728
2,303
6,315
592,747
6,267
94,677
2,276
7,538
761,202

93,036
2,335
4,328
509,882
3,500
149,444
2,375
2,790
586,048

Flow(mm)
MQ(kg/mm)
Densitas (gr/cc)
VIM (%)
Stabilitas(kg)
Flow(mm)
MQ(kg/mm)

4,067
154,047
2,331
7,480
588,451
3,367
175,190

4,100
168,174
2,261
9,587
997,408
3,833
264,249

4,300
200,607
2,336
5,865
973,127
5,267
185,939

4,467
171,915
2,309
6,262
739,857
5,400
138,131

5,100
114,886
2,344
4,132
637,835
3,733
171,962

commit to user

56
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.3.

Hasil Perhitungan Kadar Aspal Optimum

Hasil pengujian marshall meliputi nilai stabilitas, flow, porositas, densitas dan marshall
quotient. Rekapitulasi hasil dari nilai tersebut dapat dilihat di tabel 4.11 Dari data-data
nilai masing-masing di tampilkan juga dengan grafik hubungan antara kadar aspal
dengan densitas, porositas, stabilitas, flow dan Marshall Quotient pada gradasi Asphalt
Concrete revisi SNI . Untuk grafik stabilitas pada Gambar 4.2 untuk grafik flow pada
Gambar 4.3, untuk grafik densitas pada Gambar 4.4, untuk grafik VIM pada Gambar
4.5
4.3.1 Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu Vulkanik
terhadap Stabilitas
1200

y = -351,7x2 + 3836,x - 9501


R = 0,775
y = -219,2x2 + 2410x - 5807
R = 0,819

1000

Spec SNI
1989

Stabilitas (Kg)

800

600
y = -230,8x2 + 2498,x - 6022,
R = 0,539

400

y = -202,9x2 + 2194,x - 5237,


R = 0,696
y = -221,7x2 + 2413x - 5912,
R = 0,525

200

0
4.5

5.5

Kadar Aspal (%)


Abu Vulkanik 0%
Abu Vulkanik 75%

Abu Vulkanik 25%


Abu Vulkanik 100%

Abu Vulkanik 50%

Gambar 4.2. Grafik Hubungan Stabilitas dengan Kadar Aspal

commit to user

6.5

57
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Stabilitas adalah kemampuan lapisan perkerasan menerima beban yang bekerja tanpa
perubahan bentuk. Nilai stabilitas juga menunjukkan besarnya kemampuan perkerasan
untuk menahan deformasi akibat beban lalu lintas yang bekerja. Dari nilai stabilitas
yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dengan penambahan masing-masing
kadar abu vulkanik diatas menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan
menaikkan nilai stabilitasnya namun stabilitas akan turun jika sudah mencapai nilai
kadar aspal optimum dan akan terus menurun seiring penambahan kadar aspal hal ini
dikarenakan campuran yang mengandung kadar aspal yang berlebih akan mengalami
bleeding sehingga kemampuan perkerasan jalan dalam menerima beban lalu lintas akan
turun.
Dari grafik hubungan Kadar Aspal dengan Stabilitas didapatkan persamaan kuadrat :
y = -221,7x2 + 2413x - 5912
y = 0
0 = - 443,4X + 2413
443,4 X = 2413
X = 5,44 %
Jadi kadar aspal optimum adalah 5,44 % dari berat total campuran.

Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kadar aspal optimum sebesar 5,44 % Contoh
perhitungan nilai Marshall properties pada kadar aspal optimum sebagai berikut :
y = -221,7 X2 + 2413 X - 5912
Stabilitas = -221,7 (5,44)2 + 2413 (5,44) - 5912
= 653,82 kg

Untuk nilai Marshall properties yang lain dihitung seperti contoh diatas dan dapat
dilihat tabel 4.54.

commit to user

58
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4.12. Hasil uji Marshall AC pada Kadar Aspal Optimum dengan pengganti filler
abu vulkanik
Kadar Campuran

KAO
(%)

Stabilitas
( Kg )

Flow
( mm )

VIM
(%)

Densitas
( gr/ cm)

Marshall
Quotient
( kg/mm )

Abu Vulkanik 0%
Abu Vulkanik 25%
Abu Vulkanik 50%
Abu Vulkanik 75%
Abu Vulkanik 100%

5,44
5,41
5,41
5,50
5,45
Min
maks

653,82
694,04
737,10
817,20
958,84
800
-

5,55
4,99
4,61
4,40
4,30
2
4

7,72
7,64
7,52
7,19
6,75
3
5

2,28
2,28
2,29
2,30
2,31
2
3

112,35
132,63
158,31
191,11
199,52
200
350

Spesifikasi

Untuk kadar aspal optimum pada campuran aspal dan penambahan abu vulkanik serta
nilai Marshall properties yang lain dihitung seperti contoh diatas dan dapat dilihat
Tabel 4.8. Sehingga diperoleh kadar aspal optimum untuk campuran tanpa penambahan
abu vulkanik terletak pada 5,44 %, untuk kadar abu vulkanik 25% dan 50% terletak
pada 5,41 %, untuk kadar abu vulkanik 75% terletak pada 5,50%, untuk kadar abu
vulkanik 100% terletak pada 5,45 %.

Hubungan antara stabilitas dengan kadar aspal, serta analisa Optimum Bitumen Content
terhadap kadar campuran aspal dengan pengganti abu vulkanik dimana semakin banyak
abu vulkanik yang digunakan, maka semakin naik nilai stabilitas. Ini dapat diketahui
pada kadar aspal optimum untuk campuran AC tanpa penggantian abu vulkanik
mempunyai nilai stabilitas yang rendah, sedangkan untuk campuran AC dengan
penggantian abu vulkanik 25%, 50%, 75%, dan 100% mempunyai nilai stabilitas yang
semakin tinggi. Dari spesifikasi Revisi SNI 03-1737-1989 bahwa batas nilai stabilitas
800 kg, maka dari itu untuk campuran AC yang menggunakan abu vulkanik 75% dan
100% mempunyai nilai lebih dari spesifikasi, ini terlihat pada Gambar 4.2. Hal ini
dikarenakan ada kandungan abu vulkanik dalam campuran yang mengakibatkan aspal
memiliki nilai stabilitas yang tinggi dan membuat campuran semakin padat. Selain itu,
karena AC perilaku campurannya ditentukan oleh perilaku agregat yang saling
mengunci, Sehingga pada penambahan filler abu vulkanik ini campuran memiliki gaya
adhesi yang besar yaitu agregat saling mengikat dan mengisi.
commit to user

59
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.3.2 Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu Vulkanik
terhadap Flow

7.00

y = 0,66x + 1,963
R = 0,571

6.50

y = 0,446x + 2,583
R = 0,665

6.00

y = 0,46x + 2,123
R = 0,073

Flow (mm)

5.50
5.00
4.50
4.00
y = 0,486x + 1,73
R = 0,839

Spec SNI
1989
2- 4 mm

3.50

y = 0,46x + 1,79
R = 0,148

3.00
4.5

5.5

6.5

Kadar Aspal (%)


Abu Vulkanik 0%

Abu Vulkanik 25%

Abu Vulkanik 75%

Abu vulkanik 100%

Abu Vulkanik 50%

Gambar 4.3. Grafik Hubungan Flow dengan Kadar Aspal

Nilai flow menyatakan besarnya deformasi yang terjadi pada suatu lapis keras akibat
beban lalu lintas. Suatu campuran dengan nilai flow tinggi akan cenderung lembek,
sehingga mudah berubah bentuk jika menerima beban. Sebaliknya jika nilai flow rendah
maka campuran menjadi kaku dan mudah retak jika menerima beban yang melampaui
daya dukungnya. Nilai flow dipengaruhi beberapa faktor, yaitu kadar aspal, penetrasi
aspal, suhu, gradasi dan jumlah pemadatan. Dari nilai flow yang didapat dari berbagai
campuran kadar aspal dengan variasi kadar abu vulkanik di atas menunjukan bahwa
dengan penambahan kadar aspal akan menaikkan nilai kelelehannya, besarnya kenaikan
commitbesarnya
to user kadar aspal yang ditambahkan, jadi
nilai kelelehan itu sendiri seiring dengan
semakin besar kadar aspal maka semakin besar nilai kelelehanya. mengakibatkan nilai

60
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

flow semakin tinggi. Untuk campuran AC pada kadar aspal optimum penggantian abu
vulkanik 0% mempunyai nilai flow yang paling tinggi, sedangkan untuk campuran AC
dengan penggantian abu vulkanik sebesar 25%, 50%, 75% dan 100% mempunyai nilai
flow yang semakin rendah. Hal ini dikarenakan dengan penggantian abu vulkanik
menyebabkan campuran cenderung keras, dan bersifat kaku. Penggantian abu vulkanik
dalam campuran AC ini memiliki sifat yang kaku sehingga memungkinkan terjadinya
retak. Namun pada kadar aspal optimum dengan kadar abu vulkanik masing-masing
hasil tidak memenuhi syarat Revisi SNI 03-1737-1989

commit to user

61
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.3.3 Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu Vulkanik
terhadap Densitas

2.4
y = 0,015x + 2,233
R = 0,124

Spec SNI 1989


(2-3 gr/cc)

2.38

y = 0,025x + 2,163
R = 0,163

Densitas (gr/cc)

2.36

y = 0,024x + 2,159
R = 0,391

2.34
2.32
2.3
2.28

y = 0,027x + 2,139
R = 0,519

2.26

y = 0,028x + 2,126
R = 0,637

2.24
4.5

5.5
Kadar Aspal (%)

Abu Vulkanik 0%

Abu Vulkanik 25%

Abu Vulkanik 75%

Abu Vulkanik 100%

6.5

Abu Vulkanik 50%

Gambar 4.4. Grafik hubungan Densitas dengan Kadar Aspal

Nilai kepadatan (densitas) menunjukkan besarnya derajad kepadatan suatu campuran


yang telah dipadatkan. Campuran dengan nilai densitas yang tinggi akan mampu
menahan beban yang lebih besar jika dibandingkan dengan campuran dengan nilai
densitasnya lebih kecil. Dari nilai densitas yang didapat dari berbagai campuran kadar
aspal dengan penggantian abu vulkanik diatas menunjukan bahwa dengan penambahan
kadar aspal akan menaikan nilai kepadatannya , besarnya kenaikan nilai kepadatan itu
sendiri seiring dengan besarnya kadar aspal yang ditambahkan. Semakin besar kadar
aspal maka semakin besar nilai kepadatannya.

Penggunaan perbedaan kadar penggantian abu vulkanik memberikan pengaruh terhadap


commit
to user
nilai densitas yaitu nilai densitas semakin
naik
seiring bertambahnya kadar penggantian
abu vulkanik. Untuk campuran AC pada kadar aspal optimum dengan penggantian

62
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

kadar abu vulkanik 0% mempunyai nilai densitas yang paling rendah, sedangkan untuk
campuran AC dengan penggantian abu vulkanik 25%, 50%, 75%, dan 100%
mempunyai nilai densitas yang semakin tinggi. Hal ini dikarenakan penggantian abu
vulkanik mengisi rongga-rongga antar batuan . Akibatnya ikatan menjadi rapat dan
menyebabkan campuran merata dan rongga yang terjadi dalam campuran semakin kecil,
sehingga campuran AC dengan menggunakan penggantian abu vulkanik memiliki
tingkat kepadatan yang baik.

Hasil densitas dari kadar aspal optimum dengan masing-masing penggantian kadar abu
vulkanik memenuhi syarat Revisi SNI 03-1737-1989 yaitu 2,8 ; 2,8 ; 2,9 ; 2,30 ; 2,31
gr/cm3 yang masuk pada batas spesifikasi 2 sampai 3 gr/cm3.

commit to user

63
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.3.4 Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu Vulkanik
terhadap VIM
12

y = -2,538x + 21,53
R = 0,891
y = -2,490x + 21,10
R = 0,845

10

y = -2,386x + 20,43
R = 0,786

VIM (%)

y = -2,411x + 20,44
R = 0,525
y = -2,004x + 17,68
R = 0,611

SNI

0
4.5

5.5

6.5

Kadar Aspal (%)

Abu Vulkanik 0%

Abu Vulkanik 25%

Abu Vulkanik 75%

Abu Vulkanik 100%

Abu Vulkanik 50%

Gambar 4.5. Grafik hubungan VIM dengan Kadar Aspal

VIM adalah prosentase pori atau rongga udara yang terdapat dalam suatu campuran.
Nilai VIM juga menunjukkan banyaknya rongga yang terdapat dalam campuran. Dari
nilai VIM yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dengan variasi kadar
penggantian abu vulkanik diatas menunjukkan bahwa dengan penambahan kadar abu
vulkanik akan menurunkan nilai VIM, penurunan nilai VIM itu sendiri akan turun
seiring dengan besarnya kadar aspal yang ditambahkan. Semakin besar kadar aspal
maka semakin kecil nilai VIM-nya.

Penggunaan kadar abu vulkanik yang berbeda dalam campuran sangat berpengaruh
terhadap nilai VIM dari suatu campuran itu sendiri. Semakin tinggi kadar abu vulkanik
semakin rendah nilai VIM-nya. Untuk campuran AC menggunakan kadar abu vulkanik
commit
to user
0% mempunyai nilai VIM yang paling
tinggi,
sedangkan untuk campuran AC yang
menggunakan penggantian abu vulkanik 25%, 50%, 75%, dan 100% mempunyai nilai
VIM semakin rendah. Namun nilai VIM untuk semua campuran dengan kadar abu

64
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

vulkanik tidak memenuhi syarat Revisi SNI 03-1737-1989 minimal 3% dan maksimal
5% meskipun dalam penggantian kadar abu vulkanik mengalami penurunan nilai VIM.
Disamping itu juga dalam penggunaan kadar abu vulkanik yang tinggi mengakibatkan
perkerasan menjadi kaku sehingga menyebabkan adanya retakan-retakan sehingga
banyak rongga yang terjadi dalam campuran tersebut yang kemungkinan disebabkan
oleh agregat kasar yang saling interconnected dan pecah karena proses pemadatan yang
tidak sempurna. Sehingga campuran akan kurang kedap terhadap udara dan air. Adanya
pori-pori ataupun celah pada perkerasan AC memungkinkan air masuk ke dalam
perkerasan. Akibatnya ikatan menjadi renggang dan menimbulkan pori-pori yang
diakibatkan VIM berpengaruh terhadap durabilitas campuran. VIM yang lebih kecil
akan menurunkan resiko terjadinya disintegrasi dari campuran, sehingga durabilitasnya
menjadi tinggi. Tetapi pori yang kecil akan memberikan kelenturan yang kurang baik

Nilai VIM pada penggantian abu vulkanik tidak memenuhi spesifikasi SNI karena pada
analisis saringan dimana prosentase lolos saringan 100 dan 200 masih jauh mendekati
nilai median spesifikasi sehingga perlu penambahan agregat pada nomer saringan
tersebut agar nilai VIM dapat diminimalkan.

commit to user

65
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.3.5 Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu Vulkanik
terhadap Marshall Quotient
300

Spec SNI 1989


200- 350
Kg/mm

250
Marshall Quotient (Kg/mm)

y = -22,84x2 + 224,7x - 346,6


R = 0,253
y = -58,12x2 + 624,4x - 1485,
R = 0,898
y = -13,52x2 + 131,8x - 159
R = 0,421

200

150

100
y = -26,70x2 + 277,2x - 585,6
R = 0,623
2
y = -29,26x + 307x - 691,8
R = 0,725

50

0
4.5

5.5

6.5

Kadar Aspal (%)


abu vulkanik 0%

abu vulkanik 25%

abu vulkanik75%

abu vulkanik 100%

abu vulkanik 50%

Gambar 4.6. Grafik hubungan Marshall Quotient dengan Kadar Aspal

Marshall Quotient (MQ) merupakan hasil bagi dari stabilitas dengan kelelahan yang
digunakan sebagai pendekatan terhadap tingkat kekakuan atau fleksibilitas campuran.
Nilai Marshall Quotient yang tinggi menunjukkan kekakuan dari perkerasan dan
berakibat mudah timbul retak - retak (cracking). Sebaliknya jika nilai Marshall
Quotient yang rendah menunjukkan campuran terlalu plastis/fleksibel yang akan
berakibat perkerasan mudah mengalami deformasi pada waktu menerima beban lalu
lintas. Dari nilai MQ yang didapat dari berbagai variasi penggantian abu vulkanik diatas
menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan menaikkan nilai MQ nya
namun MQ akan turun jika sudah mencapai nilai kadar aspal optimum dan akan terus
commit to user
menurun seiring penambahan kadar aspal.

66
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Penggantian abu vulkanik pada campuran AC menyebabkan Marshall Quotientnya


semakin tinggi. Untuk campuran AC pada kadar aspal optimum menggunakan
penggantian abu vulkanik 0% mempunyai nilai MQ yang paling rendah, sedangkan
untuk campuran AC yang menggunakan penggantian abu vulkanik 25%, 50%, 75%,
dan 100% mempunyai nilai MQ yang semakin tinggi . Hal ini dikarenakan penggantian
abu vulkanik pada perkerasan AC membuat campuran menjadi kaku. Sehingga
penggantian abu vulkanik sebagai bahan pengisi pada campuran AC mudah retak.
Spesifikasi MQ menurut Revisi SNI adalah minimal 200 dan maksimal 350 kg/mm.
Dari Gambar 4.6 nilai MQ untuk campuran dengan masing-masing kadar penggantian
abu vulkanik pada kadar aspal optimum tidak memenuhi persyaratan.

commit to user

67
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.4.

Pembahasan Hasil Pengujian Marshall Test

4.4.1. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai Stabilitas pada Asphalt Concrete
(AC)
Data-data nilai stabilitas yang telah diperoleh dari pengujian marshall test disusun ke
dalam tabel seperti berikut, kemudian dilakukan analisis varian (ANOVA) :
Tabel 4.13. Data nilai stabilitas
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

4.5%

5%

5.5%

6%

6.5%

P1
P2
P3
P1
P2
P3
P1
P2
P3
P1
P2
P3
P1
P2
P3

0%
489,180
507,031
446,697
445,583
500,972
578,306
842,729
610,558
930,473
454,921
515,841
497,396
414,773
428,138
430,177

25%
500,509
483,799
473,612
758,393
552,087
984,318
566,548
860,305
467,974
565,274
598,752
639,539
454,921
414,916
550,946

50%
528,315
469,838
433,122
589,151
992,026
1007,609
679,175
511,994
798,308
551,683
617,296
609,261
679,175
511,994
798,308

75%
598,367
666,534
613,635
691,865
657,725
716,263
1160,224
811,962
640,723
1090,769
620,525
572,311
1160,224
811,962
640,723

100%
602,932
598,963
563,459
779,412
1111,006
1101,806
1097,733
683,767
1137,883
797,416
739,362
682,793
1097,733
683,767
1137,883

Pada dasarnya, ANOVA untuk menguji kesamaan rata-rata dengan hipotesis sebagai
berikut :
H0 : Hipotesis nol menyatakan bahwa semua mean perlakuan nilainya sama. Apabila
H0 benar, maka semua populasi untuk perlakuan akan dianggap memiliki distribusi
normal yang sama (mean dan varians populasi-populasi tersebut sama).

commit to user

68
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai stabilitas pada kadar aspal 4,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.14 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 4,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

4.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

489,180

500,509

528,315

598,367

602,932

P2

507,031

483,799

469,838

666,534

598,963

P3

446,697

473,612

433,122

613,635

563,459

480,969

485,974

477,092

626,179

588,451

Xn rata2
Xrata2

531,733

Vtotal

69784,50064

VB

59380,49972

VW

10404,00092

Contoh Perhitungan:
X1 rata2 =
X2 rata2 =
X3 rata2 =
X4 rata2 =
X5 rata2 =

489,180+507,031+446,697
3
500,509+483,799+473,697
3
528,315+469,838+433,122
3
598,367+666,534+613,635
3
602,932+598,963+563,459
3

= 480,969
= 485,974
= 477,092
= 626,179
= 588,451

X rata2 =
498,180+507,031+446,697+500,509+483,799+473,612+528,315+469,838+
433,122+598,367+666,534+613,635+602,932+598,963+563,459
=
15

= 531,733

commit to user

69
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Vtotal=
(489,180-531,733)2 + (507,031-531,733)2 + (446,697-531,733)2 + (500,509-531,733)2 +
(483,799-531,733)2 + (473,612-531,733)2 + (528,315-531,733)2 + (469,838-531,733)2 +
(433,122-531,733)2 + (598,367-531,733)2 + (666,534-531,733)2 + (613,635-531,733)2 +
(602,932-531,733)2 + (598,963-531,733)2 + (563,459-531,733)2
= 69784,50064
VB = 3x (480,969-531,733)2 + (485,974-531,733)2 + (477,092-531,733)2 + (626,179531,733)2 + (588,451-531,733)2

VW = 69784,50064 - 59380,49972 = 10404,00092

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.15 Hasil analisis varian kadar aspal 4,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

Df

Kuadrat
mean

F hitung

F
Tabel

H0

14,269

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

59380,500

14845,125

Di dalam Perlakuan (VW)

10404,001

10

1040,400

Total (V)

69784,501

14

Contoh Perhitungan:
df antar perlakuan = 5-1 = 4
df dalam perlakuan = 5(3-1) = 10
df total = 5x3-1 = 14
Kuadrat mean antar perlakuan =
59380,500/4 = 14845,125
Kuadrat mean dalam perlakuan =
10404,001/10 =1040,400

commit to user

70
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

F hitung = 14845,125/1040,400
= 14,269

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.15 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 4,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 14,269 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 4,5 % menyebabkan perubahan nilai stabilitas secara
nyata.

Perhitungan ANOVA untuk nilai stabilitas pada kadar aspal 5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.16 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

5%

Xn rata2

0%

25%

50%

75%

100%

P1

445,583

758,393

589,151

691,865

779,412

P2

500,972

552,087

992,026

657,725

1111,006

P3

578,306

984,318

1007,609

716,263

1101,806

508,287

764,933

862,928

688,618

997,408

Xrata2

764,435

Vtotal

693983,8232

VB

406012,7901

VW

287971,0331

commit to user

71
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.17 Hasil analisis varian kadar aspal 5% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

Df

Kuadrat
mean

F hitung

F
Tabel

H0

3,525

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

406012,790

101503,198

Di dalam Perlakuan (VW)

287971,033

10

28797,103

Total (V)

693983,823

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.17 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 3,525 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5 % menyebabkan perubahan nilai stabilitas secara nyata.

Perhitungan ANOVA untuk nilai stabilitas pada kadar aspal 5,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.18 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

5.5%

Xn rata2

0%

25%

50%

75%

100%

P1

842,729

566,548

679,175

1160,224

1097,733

P2

610,558

860,305

511,994

811,962

683,767

P3

930,473

467,974

798,308

640,723

1137,883

794,587

631,609

663,159

870,970

973,127

Xrata2

786,690

Vtotal

689599,7062

VB

243702,6842

VW

445897,022

commit to user

72
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.19 Hasil analisis varian kadar aspal 5,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

Antar Perlakuan (VB)

243702,684

60925,671

Di dalam Perlakuan (VW)

445897,022

10

44589,702

Total (V)

689599,706

14

F hitung

F
Tabel

H0

1,366

3,478

terima

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.19 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 1,366 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5,5 % tidak menyebabkan perubahan nilai stabilitas
secara nyata.

Perhitungan ANOVA untuk nilai stabilitas pada kadar aspal 6% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.20 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

6%

Xn rata2

0%

25%

50%

75%

100%

P1

454,921

565,274

551,683

1090,769

797,416

P2

515,841

598,752

617,296

620,525

739,362

P3

497,396

639,539

609,261

572,311

682,793

489,386

601,188

592,747

761,202

739,857

Xrata2

636,876

Vtotal

331042,957

VB

153109,0187

VW

177933,9383

commit to user

73
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.21 Hasil analisis varian kadar aspal 6% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F hitung

F
Tabel

H0

2,151

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

153109,019

38277,255

Di dalam Perlakuan (VW)

177933,938

10

17793,394

Total (V)

331042,957

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.21 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 2,151 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6 % tidak menyebabkan perubahan nilai stabilitas secara
nyata.

Perhitungan ANOVA untuk nilai stabilitas pada kadar aspal 6,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.22 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

6.5%

Xn rata2

0%

25%

50%

75%

100%

P1

414,773

454,921

679,175

1160,224

1097,733

P2

428,138

414,916

511,994

811,962

683,767

P3

430,177

550,946

798,308

640,723

1137,883

424,363

473,594

663,159

870,970

973,127

Xrata2

681,043

Vtotal

1009727,038

VB

691875,3419

VW

317851,6963

commit to user

74
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.23 Hasil analisis varian kadar aspal 6,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F hitung

F
Tabel

H0

5,442

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

691875,342

172968,835

Di dalam Perlakuan (VW)

317851,696

10

31785,170

Total (V)

1009727,038

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.23 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 5,442 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6,5 % menyebabkan perubahan nilai stabilitas secara
nyata.

commit to user

75
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.4.2. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai Flow pada Asphalt Concrete
(AC)

Perhitungan ANOVA untuk nilai flow pada kadar aspal 4,5% dengan perlakuan masingmasing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.24 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 4,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

4.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

4,6

4,9

3,4

3,8

3,2

P2

4,8

3,9

3,1

4,3

3,4

P3

4,8

4,3

3,1

4,1

3,5

4,733

4,367

3,200

4,067

3,367

Xn rata2
Xrata2

3,947

Vtotal

5,877

VB

5,111

VW

0,767

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.25 Hasil analisis varian kadar aspal 4,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

16,665

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

5,111

1,278

Di dalam Perlakuan (VW)

0,767

10

0,077

Total (V)

5,877

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.25 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 4,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 16,665 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 4,5 % menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata.
commit to user

76
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai flow pada kadar aspal 5% dengan perlakuan masingmasing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.26 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

5,1

5,1

4,6

4,3

4,2

P2

5,2

4,1

4,4

3,8

3,8

P3

5,4

5,4

4,7

4,2

3,5

5,233

4,867

4,567

4,100

3,833

Xn rata2
Xrata2

4,520

Vtotal

5,244

VB

3,837

VW

1,407

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.27 Hasil analisis varian kadar aspal 5% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

6,820

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

3,837

0,959

Di dalam Perlakuan (VW)

1,407

10

0,141

Total (V)

5,244

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.27 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 6,820 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5 % menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata.

Perhitungan ANOVA untuk nilai flow pada kadar aspal 5,5% dengan perlakuan masingmasing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

commit to user

77
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4.28 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

5.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

6,3

5,5

4,6

5,8

P2

6,4

5,2

5,7

4,2

5,2

P3

6,2

5,3

5,5

4,1

4,8

6,300

5,333

5,733

4,300

5,267

Xn rata2
Xrata2

5,387

Vtotal

7,297

VB

6,457

VW

0,84

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.29 Hasil analisis varian kadar aspal 5,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

19,218

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

6,457

1,614

Di dalam Perlakuan (VW)

0,840

10

0,084

Total (V)

7,297

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.29 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 19,218 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5,5 % menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata.
Perhitungan ANOVA untuk nilai flow pada kadar aspal 6% dengan perlakuan masingmasing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

commit to user

78
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Tabel 4.30 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

6%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

5,4

5,2

6,4

4,3

5,9

P2

5,2

5,7

6,2

4,6

4,7

P3

5,6

5,4

6,2

4,5

5,6

5,400

5,433

6,267

4,467

5,400

Xn rata2
Xrata2

5,393

Vtotal

5,929

VB

4,869

VW

1,06

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.31 Hasil analisis varian kadar aspal 6% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F hitung

F Tabel

H0

11,484

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

4,869

1,217

Di dalam Perlakuan (VW)

1,060

10

0,106

Total (V)

5,929

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.31 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 11,484 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6 % menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata.

commit to user

79
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai flow pada kadar aspal 6,5% dengan perlakuan masingmasing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.32 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

6.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

6,2

5,6

4,3

3,8

P2

6,4

5,5

4,3

4,6

P3

6,3

4,5

3,2

4,5

3,4

6,300

5,200

3,500

4,467

3,733

Xn rata2
Xrata2

4,640

Vtotal

17,636

VB

15,663

VW

1,973

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.33 Hasil analisis varian kadar aspal 6,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi
Antar Perlakuan (VB)
Di dalam Perlakuan (VW)
Total (V)

15,663
1,973
17,636

df
4
10
14

Kuadrat
mean
3,916
0,197

F
hitung
19,843

F Tabel
3,478

H0
tolak

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.33 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 19,843 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6,5 % menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata.

commit to user

80
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.4.3. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai VIM pada Asphalt Concrete
(AC)
Perhitungan ANOVA untuk nilai porositas pada kadar aspal 4,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.34 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 4,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

4.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

8,251

8,833

11,687

7,792

6,511

P2

10,395

5,272

9,686

7,331

8,505

P3

10,551

12,536

4,109

7,820

7,424

9,732

8,880

8,494

7,648

7,480

Xn rata2
Xrata2

8,447

Vtotal

72,93718136

VB

10,24682634

VW

62,69035502

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.35 Hasil analisis varian kadar aspal 4,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi
Antar Perlakuan (VB)
Di dalam Perlakuan (VW)
Total (V)

df
10,247
62,690
72,937

4
10
14

Kuadrat
mean
2,562
6,269

F
hitung
0,409

F Tabel

H0

3,478

terima

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.35 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 4,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,409 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 4,5 % tidak menyebabkan perubahan nilai VIM secara
nyata.
commit to user

81
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai porositas pada kadar aspal 5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.36 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5%
Kadar Aspal

5%

Kadar Abu Vulkanik %


0%

25%

50%

75%

100%

P1

10,918

10,803

10,287

10,176

8,519

P2

8,412

9,811

9,599

10,359

9,083

P3

6,740

8,617

9,854

9,099

11,160

8,690

9,744

9,914

9,878

9,587

Xn rata2
Xrata2

9,563

Vtotal

19,32864633

VB

3,052930295

VW

16,27571604

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.37 Hasil analisis varian kadar aspal 5% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

0,469

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

3,053

0,763

Di dalam Perlakuan (VW)

16,276

10

1,628

Total (V)

19,329

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.37 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,469 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5 % tidak menyebabkan perubahan nilai VIM secara
nyata.

commit to user

82
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai porositas pada kadar aspal 5,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.38 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

5.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

8,684

6,098

8,110

10,302

7,763

P2

8,030

6,743

7,015

9,368

6,243

P3

9,670

11,221

7,417

4,482

3,589

8,795

8,021

7,514

8,051

5,865

Xn rata2
Xrata2

7,649

Vtotal

60,45121594

VB

14,43691696

VW

46,01429898

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.39 Hasil analisis varian kadar aspal 5,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

0,784

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

14,437

3,609

Di dalam Perlakuan (VW)

46,014

10

4,601

Total (V)

60,451

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.39 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,784 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5,5 % tidak menyebabkan perubahan nilai VIM secara
nyata.

commit to user

83
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai porositas pada kadar aspal 6% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.40 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6%
Kadar Aspal

6%

Kadar Abu Vulkanik %


0%

25%

50%

75%

100%

P1

6,621

5,015

7,216

9,147

7,763

P2

4,765

6,504

5,347

7,038

6,243

P3

6,003

5,716

6,383

6,428

3,589

5,796

5,745

6,315

7,538

5,865

Xn rata2
Xrata2

6,252

Vtotal

24,45881345

VB

6,812696547

VW

17,6461169

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.41 Hasil analisis varian kadar aspal 6% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

Df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

0,965

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

6,813

1,703

Di dalam Perlakuan (VW)

17,646

10

1,765

Total (V)

24,459

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.41 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,965 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6 % tidak menyebabkan perubahan nilai VIM secara
nyata.

commit to user

84
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai porositas pada kadar aspal 6,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.42 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

6.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

4,053

4,807

3,856

2,701

4,107

P2

4,119

4,756

4,242

2,537

4,221

P3

6,325

4,397

4,887

3,131

4,069

4,832

4,653

4,328

2,790

4,132

Xn rata2
Xrata2

4,147

Vtotal

11,988

VB

7,802

VW

4,187

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.43 Hasil analisis varian kadar aspal 6,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

Df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

4,659

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

7,802

1,950

Di dalam Perlakuan (VW)

4,186

10

0,419

Total (V)

11,988

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.43 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 4,659 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6,5 % menyebabkan perubahan nilai VIM secara nyata.

commit to user

85
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

4.4.4. Analisis Varian Kadar Aspal dengan Nilai Densitas pada Asphalt Concrete
(AC)
Perhitungan ANOVA untuk nilai densitas pada kadar aspal 4,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.44 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 4,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

4.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

2,302

2,290

2,220

2,321

2,356

P2

2,248

2,379

2,271

2,332

2,305

P3

2,244

2,197

2,411

2,320

2,332

2,265

2,289

2,301

2,324

2,331

Xn rata2
Xrata2

2,302

Vtotal

0,048

VB

0,009

VW

0,040

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.45 Hasil analisis varian kadar aspal 4,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

0,551

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

0,009

0,002

Di dalam Perlakuan (VW)

0,040

10

0,004

Total (V)

0,048

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.45 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 4,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,551 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 4,5 % tidak menyebabkan perubahan nilai densitas secara
nyata.
commit to user

86
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai densitas pada kadar aspal 5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.46 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5%
Kadar Aspal

5%

Kadar Abu Vulkanik %


0%

25%

50%

75%

100%

P1

2,218

2,224

2,239

2,244

2,288

P2

2,281

2,248

2,256

2,239

2,273

P3

2,322

2,278

2,250

2,271

2,222

2,274

2,250

2,248

2,251

2,261

Xn rata2
Xrata2

2,257

Vtotal

0,012

VB

0,001

VW

0,010

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.47 Hasil analisis varian kadar aspal 5% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

0,343

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

0,001

0,000

Di dalam Perlakuan (VW)

0,010

10

0,001

Total (V)

0,012

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.47 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,343 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5 % tidak menyebabkan perubahan nilai densitas secara
nyata.

commit to user

87
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai densitas pada kadar aspal 5,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.48 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 5,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

5.5%

P1

0%
2,257

25%
2,323

50%
2,276

75%
2,224

100%
2,289

P2
P3

2,273
2,233

2,308
2,197

2,303
2,293

2,247
2,368

2,327
2,393

2,254

2,276

2,291
2,287

2,280

2,336

Xn rata2
Xrata2
Vtotal
VB

0,039
0,011

VW

0,028

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.49 Hasil analisis varian kadar aspal 5,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi
Antar Perlakuan (VB)
Di dalam Perlakuan (VW)
Total (V)

Df
0,011
0,028
0,039

4
10
14

Kuadrat
mean
0,003
0,003

F
hitung
0,978

F Tabel

H0

3,478

terima

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.49 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 5,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 0,978 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 5,5 % tidak menyebabkan perubahan nilai densitas secara
nyata.

commit to user

88
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai densitas pada kadar aspal 6% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.50 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6%
Kadar Aspal

6%

Kadar Abu Vulkanik %


0%

25%

50%

75%

100%

P1

2,291

2,333

2,281

2,236

2,279

P2

2,337

2,296

2,327

2,288

2,305

P3

2,306

2,316

2,302

2,303

2,343

2,311

2,315

2,303

2,276

2,309

Xn rata2
Xrata2

2,303

Vtotal

0,010

VB

0,003

VW

0,007

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.51 Hasil analisis varian kadar aspal 6% dengan perlakuan masing-masing kadar
abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

1,030

3,478

terima

Antar Perlakuan (VB)

0,003

0,001

Di dalam Perlakuan (VW)

0,007

10

0,001

Total (V)

0,010

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.51 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 1,030 3,478 maka H0
diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6 % tidak menyebabkan perubahan nilai densitas secara
nyata.

commit to user

89
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Perhitungan ANOVA untuk nilai densitas pada kadar aspal 6,5% dengan perlakuan
masing-masing kadar abu vulkanik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.52 Perhitungan Variasi antar dan dalam Perlakuan pada Kadar Aspal 6,5%
Kadar Abu Vulkanik %

Kadar Aspal

6.5%

0%

25%

50%

75%

100%

P1

2,337

2,321

2,347

2,236

2,377

P2

2,335

2,322

2,337

2,288

2,342

P3

2,282

2,331

2,321

2,303

2,346

2,318

2,325

2,335

2,276

2,355

Xn rata2
Xrata2

2,322

Vtotal

0,016

VB

0,010

VW

0,006

Hasil analisis varian dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.53 Hasil analisis varian kadar aspal 6,5% dengan perlakuan masing-masing
kadar abu vulkanik
Variasi

df

Kuadrat
mean

F
hitung

F Tabel

H0

4,639

3,478

tolak

Antar Perlakuan (VB)

0,010

0,003

Di dalam Perlakuan (VW)

0,006

10

0,001

Total (V)

0,016

14

Hasil dari nilai F hitung pada tabel 4.53 pada masing-masing perlakuan abu vulkanik
dalam kadar aspal 6,5 % yaitu Fhitung Ftabel yaitu F abu = 4,639 3,478 maka H0
ditolak pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal 6,5 % menyebabkan perubahan nilai densitas secara
nyata.

commit to user

90
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

Hasil keseluruhan perhitungan anova dapat dilihat pada tabel rekapitulasi sebagai
berikut:

Tabel 4.54 Rekapitulasi Hasil Anova


Karakteristik Marshall

Kadar Aspal

F Hitung

F Tabel

Hipotesa

Stabilitas

4,5%

14,269

3,478

tolak

5,0%

3,525

3,478

tolak

5,5%

1,366

3,478

terima

6,0%

2,151

3,478

terima

6,5%

5,442

3,478

tolak

4,5%

16,665

3,478

tolak

5,0%

6,82

3,478

tolak

5,5%

19,218

3,478

tolak

6,0%

11,484

3,478

tolak

6,5%

19,843

3,478

tolak

4,5%

0,409

3,478

terima

5,0%

0,469

3,478

terima

5,5%

0,784

3,478

terima

6,0%

0,965

3,478

terima

6,5%

4,659

3,478

tolak

4,5%

0,551

3,478

terima

5,0%

0,343

3,478

terima

5,5%

0,978

3,478

terima

6,0%

1,03

3,478

terima

6,5%

4,639

3,478

tolak

Flow

VIM

Densitas

Hasil keseluruhan anova diatas dapat dilihat dan disimpulkan bahwa untuk perlakuan
penggantian abu vulkanik pada kadar aspal optimum 5,5 % dimana nilai stabilitas
densitas, VIM dan marshall quotientnya meiliki nilai F hitung kurang dari F tabel maka
H0 diterima pada tingkat signifikansi 0,05 artinya penggantian filler abu vulkanik pada
campuran dengan kadar aspal optimum 5,5 % tidak menyebabkan perubahan nilai
commit
to user
stabilitas, densitas, VIM dan Marshall
Quotient
secara nyata. Berbeda halnya dengan
hasil dari penggantian abu vulkanik terhadap nilai flow pada kadar aspal optimum 5,5%

91
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

dimana F hitung lebiih besar dari F tabel maka H0 ditolak yang artinya penggantian
filler abu vulkanik pada campuran kadar aspal optimum menyebabkan perubahan nilai
flow secara nyata.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian penggantian filler menggunakan abu vulkanik Merapi maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil dari keseluruhan perhitungan anova bahwa penggantian abu vulkanik pada
kadar aspal optimum 5,5% tidak menyebabkan perubahan nilai stabilitas, densitas,
VIM dan Marshall Quotient secara nyata. Berbeda dengan hasil anova terhadap nilai
flow, dimana menyebabkan perubahan nilai flow secara nyata.
2. Hasil dari karakteristik Marshall pada kondisi KAO, kadar filler abu vulkanik
sebesar 100% dan 75% dengan kadar aspal optimum 5,45% dan 5,50% merupakan
campuran AC (Asphalt Concrete) yang nilai stabilitas dan densitasnya memenuhi
spesifikasi Revisi SNI No. 1737-1989-F, namun pada nilai VIM, flow serta
Marshall Quotient-nya (MQ) tidak memenuhi spesifikasi.

5.2.
1.

Saran
Penggunaan abu vulkanik seharusnya di saring terlebih dahulu, dan abu vulkanik
yang dipakai yang lolos saringan no.200.

2.

Kontrol pemadatan seharusnya lebih diperhatikan karena agregat dapat pecah dan
terjadi agregat saling interconnected karena pemadatan yang kurang sempurna.

3.

Penggunaan timbangan agregat seharusnya di cek terlebih dahulu tingkat validnya.


Karena akan sangat berpengaruh pada proses pembuatan dan pengujian
benda uji.

4.

Penambahan agregat pada nomer saringan 100 dan 200 agar nilai VIM dapat
diminimalkan.

commit to user

92