Anda di halaman 1dari 4

CANDIDA DAN RAGI YANG SERUMPUN

Candida albicans adalah suatu ragi lonjong, bertunas yang menghasilkan


pseudomiselium baik dalam biakan maupun dalam jaringan dan eksudat. Ragi ini
adalah anggota flora normal selaput mukosa saluran pernapasan, saluran
pencernaan, dan genitalia wanita. Di tempat-tempat ini, ragi dapat menjadi
dominan dan menyebabkan keadaan-keadaan patologik. Kadang-kadang
kandida menyebabakan penyakit sistemik progesif pada penderita yang lemah
atau system imunnya tertekan, terutama jika imunitas berperantara sel
terganggu. Candida dapat menimbulkan invasi dalam aliran darah, tromboflebitis,
endokarditis, atau infeksi pada mata dan organ-organ lain bila dimasukkan
secara intravena (kateter, jarum, hiperalimentasi,penyalahgunaan narkotik, dan
sebagainya).
Morfologi & Identifikasi
Pada sediaan apusan eksudat, Candida tampak sebagai ragi lonjong,
bertunas, gram-positif, berukuran 2-3 x 4-6 mikron meter, dan sel-sel bertunas,
gram-positif, yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa) (Gambar 45-20).
Pada agar sabouraud yang dieramkan pada suhu kamar, berbentuk koloni-koloni
lupak berwarna coklat yang mempunyai bau seperti ragi. Pertumbuhan
permukaan terdiri atas sel-sel bertunas lonjong. Pertumbuhan dibawahnya terdiri
atas pseudomiselium. Ini terdiri atas pseudohifa yang membentuk blastokonidia
pada nodus-nodus dan kadang-kadang klamidokonidia pada ujung-ujungnya. C
albicans meragikan glukosa dan maltosa, menghasilkan asam dan gas ; asam
dari sukrosa; dan tidak bereaksi dengan laktosa. Peragian karbohidrat ini,
bersama dengan sifat-sifat koloni dan morfologi, membedakan C albicans dari
spesies Candida lainnya. C albicans jauh lebih sering terjadi daripada spesies
Candida lain dalam menyebabkan infeksi yang simtomatik ; spesies Candida lain
yang kadang-kadang menyebabkan penyakit meliputi Candida parapsilosis,
Candida tropicalis, dan Torulopsis glabrata. Spesies Candida lain yang hidup di
tanah dan kadang-kadang terdapat sebagai flora normal manusia dan jarang
mengakibatkan penyakit pada manusia meliputi Candida pseudotropicalis,
Candida krusei, Candida stellatoidea, dan Candida guilliermondii. Hanya sel-sel
bertunas dari biakan 24 jam C albicans (dan C stellatoidea) dan tidak spesies
lain akan membentuk tabung benih dalam 2-3 jam bila diletakkan dalam serum
pada suhu 37 derajat C. Spesies Candida stellatoidea adalah varian sukrosanegatif dari Candida albicans, sedangkan Candida Pseudotropicalis adalah
sinonim untuk Candida Kefyr.
Struktur Antigen
Tes aglutinasi dengan serum yang terabsorpsi menunjukan bahwa semua
strain C albicans termasuk dalam dua kelompok besar serologik, A dan B.
Kelompok A mencakup C tropicalis. Ekstrak Candida untuk tes serologik dan kulit
tampaknya terdiri atas campuran antigen. Antibidi ini dapat diketahui melalui
presipitasi, imunodifusi, imunoelektroforesis balik, aglutinasi lateks dan tes-tes
lainnya, tetapi pengenalan antibodi sirkulasi ini tidak terlalu membantu dalam
mendiagnosis penyakit akibat Candida. Pada kandidiasis yang tersebar, sering

terdapat antigen mannan dari Candida yang beredar, dan kadang-kadang dapat
ditemukan antibody presipitasi terhadap antigen nonmannan. Sebenarnya
semua serum manusia normal akan mengandung antibodi IgG terhadap
Candida mannan.
Patogenesis & Patologi
Pada penyuntikan intravena terhadap tikus atau kelinci, suspensi C
albicans menyebabakan abses yang tersebar luas, khususnya di ginjal, dan
menyebabkan kematian kurang dari satu minggu.
Secara histologik, berbagai lesi kulit pada manusia menunjukan
peradangan. Beberapa menyerupai pembentukkan abses; lainnya menyerupai
granuloma menahun. Kadang-kadang ditemikan dalam jumlah besar Candida
dalam saluran pencernaan setelah pemberian antibiotic oral, misalnya tetrasiklin,
tetapi hal ini biasanya tidak menyebabkan gejala.Candida dapat dibawa oleh
aliran darah ke banyak organ, termasuk selaput otak, tetapi biasanya tidak dapat
menetap disini dan menyebabkan abses-abses milier kecuali bila inang lemah.
Penyebaran dan sepsis dapat terjadi ppada penderita dengan imunitas seluler
yang lemah, misalnya mereka yang menerima kemoterapi kanker atau penderita
limfoma, AIDS, atau keadaan-keadaan lain.
Gambaran Klinik
Faktor-Faktor predisposisi utama infeksi C albicans adalah sebagai
berikut: diabetes mellitus, kelemahan menyeluruh, imunodefisiensi, kateter
intavena atau kateter air kemih yang terpasang terus menerus,
peenyalahgunaan narkotika intravena, pemberian antimikroba (yang mengubah
flora bakteri normal), dan kortikosteroid.
A.mulut : Infeksi mulut (sariawan), terutama pada bayi, terjadi pada
selaput mukosa pipi dan tampak sebagai bercak-bercak putih yang sebagian
besar terdiri atas pseudomiselium dan epitel yang terkelupas, dan hanya
terdapat erosi minimal pada selaput. Pertumbuhan Candida didalam mulut akan
lebih subur bila disertai kortikosteroid, antibiotika, kadar glukosa tinggi, dan
imunodefisiensi.
B. Genitalia Wanita : Vulvovagininitis menyerupai sariawan tetapi
menimbulkan iritasi,gatal yang hebat, dan pengeluaran secret. Hilangnya pH
asam merupakan predisposisi timbulnya vulvovaginitis kandida. Dalam keadaan
normal pH yang asam dipertahankan oleh bakteri vagina. Diabetes, kehamilan,
progesterone, atau pengobatan antibiotic merupakan predisposisi penyakit ini.
C. Kulit : Infeksi kulit terutama terjadi pada bagian-bagian tubuh yang
basah, hangat,seperti ketiak,lipat paha,skrotum, atau lipatan-lipatan dibawah
payudara; infeksi paling sering terdapat pada orang gemuk dan diabetes.
Daerah-daerah itu menjadi merah dan mengeluarkan cairan dan dapat
membentuk vesikel.
Infeksi Candida pada kulit antara jari-jari tangan paling sering terjadi bila
tangan direndam cukup lama dalam air secara berulang kali; ini terjadi pada
pembantu rumah tangga, tukang masak, pengurus sayuran dan ikan.

D. Kuku : Rasa nyeri, bengkak keemerahan pada lipat kuku yang


menyerupai paronikia piogenik, dapat mengakibatkan penebalan dan alur
transversal pada kuku dan akhirnya kuku tanggal.
E. Paru-paru dan Organ Lain : Infeksi Candida dapatmenyebabkan invasi
sekunder pada paru-paru, ginjal, dan organ lain yang sebelumnya telah
menderita penyakit lain (misalnya tuberkulosis atau kanker). Pada leukemia yang
tidak terkendali dan pada penderita yang sistem imunnya tertekan atau menjalani
pembedahan, lesi oleh Candida dapat terjadi pada banyak organ. Endokarditis
Candida (sering akibat C parapsilosis) terutama terjadi pada pecandu narkotika
atau orang dengan katup prostetik. Kadang-kadang timbul kandiduria setelah
kateterisasi air kemih, tetapi ini cenderung sembuh secara spontan.
F. Kandidiasis Mukokotan Menahun : Kelainan ini merupakan tanda defisiensi
imunitas seluler pada anak-anak.
Tes Diagnostik Laboratorium
A. Bahan : Bahan terdiri atas usapan dan kerokan permukaan lesi, dahak,
eksudat, dan bahan yang dikeluarkan dari kateter intravena.
B. Pemeriksaan Mikroskopik : Dahak, eksudat, trombus, dan sebagainya dapat
diperiksa dengan sediaan apus yang diwarnai dengan Gram untuk mencari
pseudohifa dan sel-sel bertunas. Kerokan kulit atau kuku diletakkan pada tetesan
kalium hidroksida 10%.
C. Biakan : Semua bahan dibiak pada agar Sabouraud pada suhu kamar dan
pada suhu 37C; koloni-koloni khas diperiksa untuk adanya sel-sel dan
pseudomiselium yang bertunas. Pembentukan klamidokonidia C albicans pada
agar tepung jagung atau perbenihan lain yang menyuburkan konidia merupakan
tes diferensiasi yang penting.
D. Serologi : Ekstrat karbohidrat Candida kelompok A memberikan reaksi
presipitin yang positif dengan serum pada 50% orang normal dan pada 70%
orang dengan kandidiasis mukokutan. Pada kandidasis sistemik, peningkatan
titer antibodi terhadap Candida dapat ditemukan melalui macam-macam tes,
tetapi tes serologik untuk kandidiasis tidak memberi manfaat secara klinik.
E. Tes Kulit : Tes Candida pada orang dewasa normal hampir selalu positif. Oleh
karena itu tes tersebut digumakan sebagai indicator kompetensi imunitas seluler.
Imunitas
Hewan dapat diimunisasi secara aktif dan kelak resisten terhadap kandidiasis
yang menyebar. Serum manusia sering mengandung antibodi IgG yang
menggumpalkan Candida in vitro dan mungkin bersifat kandidasidal. Dasar
resistensi terhadap kandidiasis bersifat rumit dan belum sepenuhnya dimengerti.
Pengobatan
Pemberian nistatin melalui mulut tidak diabsorpsi, tetap dalam usus, dan tidak
mempunyai efek pada infeksi Candida sistemik. Ketokonazol menimbulkan

respons terapeutik yang jelas pada beberapa penderita infeksi Candida sistemik,
terutama pada kandidiasis mukokutan. Amfoterisin B yang disumtikkan secara
intravena, merupakan usaha pengobatan efektif yang telah diterima untuk
sebagian besar bentuk kandidiasis yang mengenai organ dalam. Amfoterisin B
diberikan dalam kombinasi dengan flusitosin melalui mulut untuk menambah efek
pengobatan pada kandidasis disseminata. Pada vulvovaginitis Candida, terapi
perawatan dengan ketokonazol mungkin diperlukan.
Kandidiasis mukokutan terutama terjadi pada anak-anak yang tertekan
imunitasnya dan kadang-kadang memberi respons terhadap pemberian faktor
transfer yang didapat dari orang-orang dengan reaksi perantara-sel yang aktif
terhadap Candida. Terapi ketokonazol adalah obat pilihan untuk pengendalian
jangka panjang untuk kandidiasis mukokutaneus kronik.
Lesi-lesi lokal paling baik diobati dengan menghilangkan penyebabnya, yaitu
menghindari basah; mempertahankan daerah-daerah tersebut tetap sejuk,
berbedak, dan kering; dan penghentian pemakaian antibiotika. Tidak ada bukti
yang meyakinkan bahwa pengobatan dengan vaksin bermanfaat. Berbagai zat
kimia telah digunakan secara topical dan sedikit banyak berhasil, misalnya 1%
gentian ungu untuk sariawan; dan ester-ester asam parahidroksibenzoat, natrium
propionat, kandisidin, atau mikonazol 2% untuk vaginitis. Nistatin mendekan
kandidiasis intestinal dan vaginal.
Epidemiologi & Pengendalian
Tindakan pencegahan yang paling penting adalah menghindari gangguan
keseimbangan pada flora normal dan gangguan daya tahan inang. Infeksi
Candida tidak menular, karena sebagian besar individu dalam keadaan normal
sudah mengandung organisme tersebut.