Anda di halaman 1dari 9

PEMBUATAN ASAP CAIR DARI LIMBAH SERBUK

GERGAJIAN KAYU MERANTI SEBAGAI


PENGHILANG BAU LATEKS
Tuti Indah Sari, Rista Utami Dewi, Hengky
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Abstrak
Aktivitas penggergajian kayu di Indonesia menghasilkan 20% - 30% limbah serbuk gergajian.
Limbah jenis ini menimbulkan masalah di lingkungan karena terjadi penumpukan, dibuang ke sungai, atau
dibakar langsung. Salah satu teknologi alternatif untuk memanfaatkan limbah serbuk gergai adalah dengan
mengolahnya menjadi asap cair. Asap cair dibuat dari proses pirolisis dan kondensasi. Pirolisis merupakan
suatu proses pemanasan pada temperatur tertentu dari bahan organik dengan jumlah oksigen terbatas.
Proses pirolisis menyebabkan terjadinya penguraian senyawa-senyawa penyusun kayu, sepeti lignin dan
selulosa. Serbuk gergajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk gergaji dari kayu meranti.
Pirolisa dilakukan pada temperatur 150C, 200C, 250C, 300C, dan 350C. Pirolisa dilakukan selama 10
menit, 20 menit, dan 30 menit dihitung setelah suhu yang diinginkan tercapai. Penelitian ini menganalisa
jumlah produk asap cair yang diperoleh, pH, kandungan asam asetat, dan kandungan fenol pada asap cair.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama dan tinggi temperatur pirolisa maka jumlah asap cair,
kandungan asam asetat, dan kandungan fenol semakin tinggi sementara harga pH asap cair semakin turun.
Kandungan asam asetat dan fenol tertinggi didapat dari pirolisis pada suhu 350C selama 30 menit, yaitu
sebesar 96,3 mg/ml asap cair dan 0,88 mg/ml asap cair. Harga pH asap cair berkisar 2 -3. Kandungan asam
aseta pada asap cair berasal dari degradasi selulosa sedangkan fenol berasal dari degradasi lignin. Produk
asap cair ini dapat digunakan sebagai penghilang bau lateks, bau lateks ditimbulkan karena adanya aktivitas
mikroba di dalam lateks. Kandungan asam asetat dan fenol yang terkandung dalam dalam asap cair mampu
mematikan aktivitas mikroba sehingga bau lateks hilang.
Kata kunci : Asap cair, Pirolisa, kondensasi, limbah serbuk gergaji kayu meranti

Abstract
The sawing wood activity in Indonesia produce 20% 30% sawdust. This type of waste result such a
problem in the enviroment because the sawdust heap, throw in the river or burning directly. One of
alternative technology to use this waste is treat it to produce liquid smoke. Liquid smoke is made of by
pyrolysis and condensation process. Pyrolysis is a warming process at the certain temperature to organic
compound with limited oxygen level. Pyrolysis cause decompose process on material contain in the wood,
such as lignin and cellulosa. The sawdust that use in this research is meranti wood sawdust. Pyrolysis process
held at the temperature 150C, 200C, 250C, 300C, dan 350C. Pyrolysis is held for 10 minutes, 20
minutes, and 30 minutes after the desire temperature is reached. This research is analysis the amount of
product, pH, acetic acid content, and fenol content in liquid smoke. The research result show that as long as
the time and the temperatur increase, it cause the amount of liquid smoke, acetic acid content, an fenol
content are high value meanwhile pH is low value. The acetic acid content and fenol content in liquid smoke
have the highest value from pyrolysis at 350C and 30 minutes, those are 96,3 mg/ml liquid smoke and 0,88
mg/ml liquid smoke. The pH value of liquid smoke about 2 3. The acetic acid content in liquid smoke come
from degradation process of cellulosa while the fenol content in liquid smoke come from degradation process
of lignin.The acetic acid and fenol content that contain in liquid smoke could deactive mircobe activity that
finally make twe smell of latex disappear.
Key Word : Liquid smoke, pirolysis, condensation, shorea sawdust residu

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

31

I. PENDAHULUAN
Limbah penggergajian yang dihasilkan di
Indonesia sebanyak 6 juta ton per tahun
(www.bi.go.id). Limbah ini akan menimbulkan
masalah karena pada kenyataannya di lapangan masih
ada yang ditumpuk, sebagian dibuang ke aliran
sungai (pencemaran air), atau dibakar secara
langsung. Sehingga perlu dilakukan penanganan
maksimal terhadap limbah serbuk gergajian ini agar
tidak merusak lingkungan.
Walaupun, limbah serbuk gergajian dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar tungku. Namun
efesiensi proses masih cukup kecil dan kadang kala
dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah
satu teknologi aplikatif yang dikembangkan untuk
pemanfaatan limbah serbuk kayu gergajianan adalah
dengan mengolahnya menjadi asap cair (liquid
smoke). Asap cair mempunyai nilai komersil karena
dapat diolah menjadi produk produk dengan nilai
jual yang lebih baik, seperti pupuk, pelarut bahan
kimia, pestisida, pengumpal atau deodoran lateks.
Pada penelitian ini asap cair dibuat dengan
cara memanggang serbuk gergajian kayu meranti
dalam wadah tertutup yang terbuat dari besi dengan
tinggi 27 cm dan diameter 16 cm dengan ketebalan 2
mm yang diletakkan di atas kompor gas dan
dilengkapi dengan termokopel. Wadah tersebut akan
dihubungkan dengan kondensor sehingga diperoleh
destilat asap dari pirolisis serbuk gergajian yang
disebut dengan asap cair. Asap cair yang dihasilkan
akan digunakan sebagai penghilang bau lateks. Hal
ini bertujuan untuk menggantikan proses pengasapan
pada produkasi karet konvensional sehingga tidak
mencemari lingkungan.
Penelitian tentang asap cair pernah dilakukan
oleh Darmadji dkk (1996) yang menyatakan bahwa
pirolisis tempurung kelapa menghasilkan asap cair
dengan kandungan senyawa fenol sebesar 4,13 %,
karbonil 11,3 % dan asam 10,2 %. Selain itu Fatimah
(1998) menemukan bahwa golongan-golongan
senyawa penyusun asap cair adalah air (11-92 %),
fenol (0,2-2,9 %), asam (2,8-9,5 %), karbonil (2,6-4,0
%) dan tar (1-7 %).

II. Tinjauan Pustaka


2.1. Serbuk Gergaji Kayu Meranti
Serbuk gergajian dihasilkan sebanyak 20
30 % dari aktivitas penggergajian (Nugroho, 1996,
dalam Lastri Bakkara). Bila produksi total kayu
gergajianan Indonesia mencapai 2,6 juta m3 pertahun,
maka dihasilkan limbah penggergajian sebanyak 0,78
juta m3 pertahunnya. Sebagai contoh, beberapa

32

industri kecil kotak buah di sekitar sungai


Keramasan di Palembang menyumbang
hampir 1 ton limbah per tahunnya ( Lastri
Bakkara, 2007).
Komposisi Kimia Kayu Meranti
Tabel 2. Komposisi Kimia Kayu Meranti
Komponen Kimia
Kadar (%)
Lignin
51,45
Selulosa
31,62
Pentosan
24,12
Abu
0,86
Silika
0,86
Sumber; Indonesianforest (2008)
2.2. Pirolisis
Pirolisis atau pengarangan adalah suatu
proses pemanasan pada suhu tertentu dari
bahan-bahan organik dalam jumlah oksigen
sangat terbatas, biasanya di dalam furnace.
Proses ini menyebabkan terjadinya proses
penguraian senyawa organik yang menyusun
struktur bahan membentuk methanol, uap-uap
asam asetat, tar-tar dan hidrokarbon. Material
padat yang tinggal setelah karbonisasi adalah
karbon dalam bentuk arang dengan area
permukaan
spesifik
yang
sempit
(Cheresmisinoff,1993, dalam buku E.Sjostrom
1995).
Secara bertahap, menurut Fatimah
(2006) pirolisis kayu akan mengalami
penguraian ; (i) hemiselulosa terdegradasi
pada 200-260 oC, (ii) selulosa pada 240 350
o
C, lignin pada 280 oC -500oC. Suhu akhir
sekitar 500 oC menghasilkan tiga kelompok
senyawa , yaitu komponen-komponen padat,
senyawa-senyawa yang mudah menguap, dan
dapat dikondensasikan dan gas-gas yang
mudah
menguap,
dan
tidak
dapat
dikondensasikann (Fengel,1984).
Menurut D. Fengel dan G. Wegener
(1995), proses pirolisis dengan adanya udara
atau oksigen akan menghasilkan tiga
komponen senyawa, yaitu :
1. Komponen padat, yaitu arang
2. Senyawa yang mudah menguap dan dapat
dikondensasikan, yaitu fenol, tar, dan minyak
3. Gas-gas yang mudah menguap dan tidak
dapat dikondensasikan, yaitu CO2, Co, CH4,
dan H2.
2.3. Asap Cair
Asap cair merupakan dispersi uap
dalam cairan sebagai hasil kondensasi asap

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

dari pirolisa kayu, batok kelapa, dedaunan, cangkang


kelapa sawit atau rempah rempah ( Purnama , 2006,
dalam Lastri Bakkara,2007 ). Asap yang dihasilkan
dari pirolisis kemudian dikondensasi sehingga
diperoleh asap cair.
Cairan yang dihasilkan
mengandung senyawa fenol, asam, karbonil, senyawa
tar, air dan benzopyren (Bambang Setiaji, 2006,dalam
Lastri Bakkara,2007 )
2.3. 1. Komponen Asap Cair
Girrard (1992), mengemukakan bahwa dari
1000 senyawa yang terkandung di dalam asap
ternyata yang dapat diisolasi adalah lebih dari 300
senyawa. Senyawa yang berhasil dideteksi di dalam
asap dapat dikelompokkan menjadi beberapa
golongan, sebagai berikut :
1) Fenol
2) Sekitar 20 jenis senyawa fenol dari asap cair
telah dapat diisolasi dan di identifikasi.
Formaldehid
3) Terdapat 45 macam yang telah diidentifikasi
dalam kondensat dan 20 macam dalam produk
asap.
4) Asam Organik
5) Ada 35 macam asam yang telah diidentifikasi
dalam kondensat.
6) Alkohol dan Ester
7) Terdapat 25 macam yang telah diidentifikasi
dalam kondensat.
8) Hidrokarbon Alifatik
9) Terdapat 1 macam yang telah teridentifikasi
dalam kondensat dan 20 macam dalam produk
asap.
10) Lakton
11) Terdapat 13 macam yang telah teridentifikasi
dalam kondensat.
12) Senyawa Hidrokarbon Polisiklis Aromatis
13) Terdapat 47 macam teridentifikasi dalam
kondensat dan 20 macam dalam produk asap.
2.3.2. Manfaat Asap Cair
Asap cair memiliki banyak manfaat dan
telah digunakan pada berbagai industri, antara lain :
1. Industri Pangan
Asap cair ini memiliki kegunaan yang sangat
besar sebagai pemberi rasa dan aroma yang spesifik
juga sebagai pengawet karena sifat anti mikroba dan
anti oksidanya.
2. Industri Perkebunan
Asap cair dapat digunakan sebagai koagulan
lateks dengan sifat fungsional asap cair seperti antij
amur, anti bakteri dan anti oksidan tersebut dapat
memperbaiki kualitas produk karet yang dihasilkan.
3. Industri Kayu

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

Kayu yang diolesi dengan asap cair


mempunyai ketahanan terhadap serangan
rayap dari pada kayu yang tanpa diolesi asap
cair.
2.4. Lateks
Lateks adalah bahan ekstraktif yang
dihasilkan oleh pohon karet (Hevea
bransiliensis). Getah karet yang diperoleh
dengan menyadap kulit batang karet dengan
pisau sadap sehingga keluarlah getah yang
disebut dengan lateks. Karet alam, diperoleh
dengan cara koagulasi lateks yang dihasilkan
oleh tumbuhan tropis atau subtropis
(missalnya H.brasiliensis) dengan asam asetat.
Lateks adalah hasil fotosintesis dalam bentuk
sukrosa ditranslokasikan dari daun melalui
pembuluh tapis ke dalam pembuluh lateks. Di
dalam pembuluh lateks terdapat enzim seperti
invertase yang akan mengatur proses
perombakan sukrosa untuk pembentukan
karet.
Lateks terutama tersusun dari air dan
di dalam air tersebut terdapat 30 % karet
sebagai emulsi. Lateks terdiri dari emulsi
butiran-butiran kecil hidrokarbon karet yang
memiliki molekul rata-rata 200.000 400.000.
Lateks termasuk isoprenoid adalah hormon
seperti giberelin maupun asam absisat. Proses
polimerisasi rangkai isoprene merupakan
proses alami yang umum dan proses ini
terdapat pada proses pembentukan karet alam.
Karet adalah polimer yang mengandung 300
6000 satuan isoprene.
Karet kotor adalah karet alam yang
dibekukan dengan asam sembarangan, pupuk,
atau tanaman gadung.
Karet dicampuri
kotoran ternak, pasir, atau serpihan kayu untuk
menambah berat karet beku. Selain itu, karet
juga direndam di air agar semakin berat.
Padahal, itu hanya akan memicu proses
pemecahan protein karet dan menimbulkan
bau busuk.
Untuk mendapatkan karet alam yang
bermutu bagus biasa dilakukan dengan cara
mengangin-anginkan lembaran karet alam
dalam waktu yang lama sehingga diperlukan
bangunan yang besar dan tenaga kerja yang
banyak.
Pengolahannya dengan cara
konvensional menimbulkan bau busuk yang
mencemari
udara
di
pabrik
dan
lingkungannya. Telah ditemukan teknologi
asap cair untuk mengatasi masalah tersebut.
Mutu karet tetap bagus, proses produksi lebih
cepat, tenaga kerja lebih sedikit, dan tidak
menimbulkan bau busuk.

33

III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Oktober 2007 sampai dengan April 2008 di
Laboratorium Kesetimbangan Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang dibutuhkan :
1.reaktor
2. unit destilasi
3. alat titrasi
4. beker gelas
5. Erlenmeyer
6. gelas ukur
7. neraca analitik
8. spektofotometer
9. kompor
10. termokople digital
Bahan yang Dibutuhkan
1. serbuk gergaji
2. media pendingin
3. indikator pp
4. NaOH 0,1 M
5. aquadest
6. H3PO4
7. NH4OH
8. amino antipirin
9. kalium ferisianida
10. chloroform
11. natrium sulfat anhidrida
12. Tembaga sulfat
3.2. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah sebagai berikut :
3.3.1. Pengambilan Contoh
Sampel diambil di industri perkayuan yang
banyak dijumpai di sekitar Palembang.
3.3.2. Analisa Kadar Air Serbuk Kayu
1. Timbang cawan kosong yang akan digunakan
sebagai wadah serbuk gergajian (berat C).
Ambil serbuk gergajian beberapa gram
kemudian timbang beserta cawannya (berat A).
2. Serbuk kayu dikeringkan di dalam oven pada
temperatur 100 0C selama 1 jam .
3. Sampel serbuk kayu yang telah dikeringkan
didinginkan didalam desikator.
4. Sampel serbuk kayu yang sudah didinginkan
ditimbang (berat B).
3.3.3. Proses Pembuatan Asap cair
1. Siapkan 1 unit kondensor.
2. Timbang serbuk gergaji sebanyak 100 gram.
3. Masukkan serbuk gergaji ke reaktor.

34

4. Hubungkan corong asap dengan kondensor


menggunakan selang dan
sambungkan
termokopel ke reaktor.
5. Nyalakan kompor , tunggu sampai suhu
yang dikehendaki tercapai dan jaga suhu
agar tetap konstan.
6. Hasil kondensasi ditampung di erlenmeyer
dan lakukan proses kondensasi sesuai
dengan lama pembakaran.
7. Catat volume asap cair yang didapat dan
timbang arang yang terbentuk.
3.3.4.

Pengukuran pH Asap cair


Pengukuran pH asap cair dengan
menggunakan pH meter, sebelum dilakukan
pengukuran pH meter terlebih dahulu
dikalibrasi dengan larutan buffer.

3.3.5. Analisa kandungan asam asetat


dengan cara titrasi .
1. Ambil beberapa ml hasil asap cair yang
didapatkan lalu tambahkan aquadest sampai
volumenya 100 ml.
2. Tambahkan 3 tetes indikator phenolptalin.
3. Titrasi dengan NaOH 0,1 N.
4. Catat volume NaOH yang digunakan untuk
titrasi.
3.3.6. Analisa Kandungan Fenol
1. Ambil beberapa ml asap cair lalu ditambah
dengan aquadest sampai volumenya 100
ml.
2. Tambahkan H3PO4 sebanyak 1ml dan
CuSO4 sebanyak 1 ml.
3. Destilasi sampai di dapat destilat sekitar 80
ml.
4. Tambah 30 ml air aquadest, lanjutkan
destilasi sampai jumlah destilat 100 ml.
5. Destilat di tambah dengan 2 ml NH4Cl, dan
NH4OH sebanyak 1 ml.
6. Tambahkan 0,5 ml larutan amino antipirin,
kocok.
7. Tambahkan 0,5 ml larutan kaluim
ferisianida kocok dan diamkan.
8. Ekstrak dengan cloroform 5ml.
9. Saring ekstrak melalui kertas saring yang
diberi zat 1 gr natrium sulfat anhidrat.
10. Hasil saringan segera diukur dengan
spektofotometer pada panjang gelombang
480 nm.

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Pengaruh Lama dan Temperstur Pembakaran
serbuk Gergajian terhadap Volume Asap cair

V olume A sap C air (ml)

40
35
30
lama pembakaran
10 menit
lama pembakaran
20 menit
lama pembakaran
30 menit

25
20
15
10
5
0
100

150

200

250

300

350

cair tersebut bersifat asam, sesuai dengan


namanya asap cair. Harga pH akan semakin
menurun dengan semakin meningkatnya
temperatur dan lama pembakaran. Hal ini
dikarenakan semakin banyaknya unsur unsur
dalam serbuk kayu gergaji meranti yang
terurai dan membentuk senyawa- senyawa
kimia yang bersifat asam. Harga pH terendah
terdapat pada asap cair dari hasil pembakaran
pada suhu 350 oC selama 30 menit yaitu
sebesar 1,98 ini berarti pada kondisi operasi
ini banyak terbentuk senyawa- senyawa kimia
yang bersifat asam.

400

Temperatur pembakaran (oC)

Grafik 1. Pengaruh Lama dan Temperatur Pembakaran


Serbuk Gergajian Terhadap Volume Asap Cair

3. Kandungan Asam Asetat pada Asap


Cair

2. Hasil Pengukuran pH Asap Cair


2,35
2,3
2,25
2,2

lama pembakaran
10 menit

2,1

lama pembakaran
20 menit

pH

2,15

lama pembakaran
30 menit

2,05
2
1,95
1,9
100

150

200

250

300

350

400

suh u pe mbakaran (oC )

Grafik 2. Pengaruh Lama dan Temperatur Pembakaran terhadap pH


Asap Cair

Grafik hasil pengukuran pH asap cair di atas


menunjukan bahwa harga pH asap cair sekitar 2 2,3.
Harga pH tersebut menyimpulkan bahwa produk asap

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

kandungan asam asetat (mg/ml)

100

Dari data hasil percobaan dan grafik pengaruh


lama dan temperatur pembakaran terhadap volume
asap cair di atas, terlihat bahwa volume produk asap
cair
terus
meningkat
bersamaan
dengan
meningkatnya temperatur dan lama pembakaran.
Semakin lama pembakaran maka serbuk kayu
terbakar akan semakin banyak, hal ini dapat dilihat
semakin banyaknya arang yang terbentuk. Dengan
demikian jumlah asap yang akan dikondensasikan
menjadi asap cair pun akan semakin banyak.
Pada penelitian ini didapat asap cair dengan
volume tertinggi pada temperatur pirolisis 350 oC
selama 30 menit. Hal ini dikarenakan serbuk gergaji
mendapatkan jumlah panas terbanyak dengan waktu
paling lama sehingga unsur-unsur dalam serbuk
gergaji akan semakin banyak yang terurai dan
terkondensasi menjadi asap cair.

95
90

w aktu
pembakaran 10
menit
w aktu
pembakaran 20
menit
w aktu
pembakaran 30
menit

85
80
75
70
65
60
100

150

200

250

300

350

400

suhu pembakaran (oC)

Grafik 3. Pe ngaruh Temperatur dan Lama Pe mbakaran


te rhadap Kandungan Asam Asetat

Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa


semakin lama dan tinggi temperatur
pembakaran serbuk gergaji maka kandungan
asam asetat pada asap cair pun akan semakin
tinggi. Tingginya temperatur pirolisis dan
lamanya waktu pirolisis, meyebabkan semakin
besar panas yang serbuk gergaji untuk
menguraikan hemiselulosa dan selulosa
menjadi komponen- komponen senyawa kimia
yang bersifat asam terutama asam asetat.
Pada penelitian ini, didapat produk asap
cair yang memiliki kandungan asam asetat
tertinggi yaitu pada temperatur pirolisis 350 oC
dengan lama pirolisis selama 30 menit. Hasil
yang didapat yaitu sebesar 96,3 mg/ml asap
cair atau sebesar 12,2 persen berat asap cair.
Hal ini dikarenakan pada kondisi operasi ini
selulosa mengalami proses degradasi termal
terbaik sesuai dengan sifat selulosa yang akan
terurai sempurna pada suhu 350 oC dan
membentuk senyawa- senyawa kimia yang
bersifat asam seperti asam asetat.

35

kandungan fenol (mg/ml)

4. Kandungan Fenol pada Asap cair

1
0,9
0,8
0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0

pembakaran 10
menit
pembakaran 20
menit
pembakaran 30
menit

100

150

200

250

300

350

400

suhu pembakaran (oC)


Grafik 4. Pe ngaruh lama dan tempe ratur pe mbakaran
terhadap kandungan fenol

Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa semakin


tinggi temperatur dan waktu pirolisis maka
kandungan fenol pun akan semakin meningkat. Pada
suhu 150 oC kandungan fenol sangat kecil, hal ini
dikarenakan lignin yang terdapat pada serbuk gergaji
kayu meranti belum terurai karena kurangnya panas
yang dihasilkan dari pembakaran. Kandungan fenol
meningkat tajam pada suhu 250 dan 300 oC dan terus
meningkat pada suhu 350 oC, hal ini dikarenakan
lignin yang merupakan senyawa pembentuk fenol
pada asap cair telah terurai lebih baik. Waktu
pirolisis pun berpengaruh terhadap kandungan fenol
pada asap cair, dari hasil penelitian ternyata waktu
pirolisis yang semakin lama akan meningkatkan
kandungan fenol pada asap cair. Hal ini dikarenakan
meningkatnya waktu pirolisis akan menyebabkan
serbuk gergaji akan semakin banyak terbakar dan
kandungan lignin di dalam serbuk gergaji kayu
meranti pun akan semakin banyak terurai sehingga
kandungan fenol asap cair pun akan semakin tinggi.
Kandungan fenol terbesar terdapat pada asap
cair hasil pirolisis pada temperatur 350 oC dengan
waktu pirolisis 30 menit, yaitu sebesar 0,888 mg/ml
asap cair atau 0,11 persen dari berat asap cair.
Kandungan fenol ini sangat sedikit bila dibandingkan
dengan kandungan asam asetat. Hal ini dapat
dikarenakan degrasi lignin lebih sulit dari pada
degrasi selulosa, walaupun kandungan lignin dan
selulosa tidak jauh berbeda.
5. Aplikasi Asap Cair sebagai Penghilang Bau
Lateks
Pada penelitian ini asap cair yang dihasilkan
digunakan sebagai penghilang bau lateks. Dalam
pengolahannnya lateks biasanya diangin-anginkan
untuk memperoleh karet alam yang bermutu baik.
Hal ini menimbulkan masalah karena menimbulkan
bau di daerah sekitar. Untuk itu asap cair dapat

36

ditambahkan pada lateks untuk menghilangkan


bau busuk yang ditimbulkan dari aktifitas
mikroba yang ada di dalam lateks.
Asap cair yang digunakan sebanyak 10
ml
ternyata
dapat
digunakan
untuk
menghilangkan bau lateks sebanyak 25 gram.
Lateks yang sudah padat disiram dengan asap
cair dan bau busuknya pun hilang. Bau busuk
pada lateks berubah menjadi bau asap.
Hilangnya bau busuk itu karena adanya
kandungan fenol dan asam di dalam asap cair.
Senyawa fenol dan asam dapat membunuh
bakteri pembusuk yang mendegradasi protein
menjadi asam-asam amino, sehingga tidak
menimbulkan bau busuk. hal ini dikarenakan
fenol yang terdapat dalam asap cair memiliki
sifat bakteri statis yang tinggi sehingga
menyebabkan bakteri tidak berkembang biak,
dan bersifat fungisidal sehingga jamur tidak
tumbuh.
Dengan demikian karet yang
dihasilkan berkualitas lebih baik dan kualitas
udara sekitar pun jauh lebih baik dengan
penggunaan asap cair ini.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
1. Semakin
tinggi temperatur dan lama
waktu pembakaran yang dilakukan maka
semakin banyak serbuk gergaji yang terbakar
dan menjadi asap sehingga asap cair yang
didapatkan juga semakin banyak.
2. Semakin
tinggi temperatur dan lama
waktu pembakaran serbuk gergaji kayu
meranti yang dilakukan maka pH asap cair
yang didapat akan semakin rendah.
3. Semakin tinggi suhu dan lama proses
pembakaran yang diterapkan maka asam
asetat dan fenol yang merupakan komponen
penyusun asap cair yang dihasilkan semakin
besar.
5.2. SARAN
Sehubungan dengan penelitian ini maka
disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk
menganalisis komponen kimia lainnya pada
asap cair dari serbuk gergaji kayu meranti dan
melakukan proses pirolisis dengan temperatur
dan lama pirolisis yang lebih tinggi lagi serta
serbuk gergaji kayu meranti yang lebih
banyak.

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

DAFTAR PUSTAKA
Bakkara, Lastri. Karakteristik Cuka Kayu hasil
Pirolisa Limbah Serbuk Gergajian Kayu
Karet pada Kondisi Vakum. Skripsi ,
Jurusan Kimia, FMIPA, Indralaya.
Eero ,Sjostrom. 1995. Kimia Kayu : Dasar- Dasar
dan
Penggunaan.
Cetakan
kedua.
Sastrohamidjojo,H (Penerjemah). Universitas
Gadjah Mada;Yogyakarta.
Fengel,Wegener.1984.
Kayu
:
Kimia,
Ultrastruktur,
Reaksi-Reaksi.
Cetakan
Pertama . Sastrohamidjojo, H (Penerjemah).
Universitas Gadjah Mada ; Yogyakarta.
Pamella, Benedecta. 2006. Pembuatan Asap Cair
Sebagai Bahan Pengawet Pengganti Formalin.
Universitas Sultan ageng Tirtayasa; Cilegon.
Setiawan, Handoko. 2005. Petumjuk Lengkap Budi
Daya Karet. PT Agromedia Pustaka ; Jakarta.
Underwood. 2002. Analisa Kimia Kuantitatif.
Erlangga; Jakarta.
http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=50301&idrb
=44501.
http://coconutcenter.blogspot.com/2007/06/bioshellpengawet-alami.html
http;//www.indonesianforest.com/Dipterocarpaceae/P
emanfaatan%20hasil_meranti.
PDF.
http;//www.litbang.deptan.go.id/berita/one/276/Asap
Cair Ramah Lingkungan Percepat Pengolahan
Karet Ribbed Smoke Sheet (RSS).

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009

37

Jurnal Teknik Kimia, No. 1, Vol. 16, Januari 2009