Anda di halaman 1dari 30

1

I.

PENDAHULUAN

Indonesia adalah salah satu Negara berkembang dan Negara Agraris yang sebagian
penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Petani merupakan kelompok
kerja terbesar di Indonesia. Meski ada kecenderungan semakin menurun, angkatan kerja
yang bekerja pada sektor pertanian masih berjumlah sekitar 40% dari angkatan kerja.
Banyak wilayah kabupaten di Indonesia yang mengandalkan pertanian, termasuk
perkebunan sebagai sumber Penghasilan Utama Daerah. Menurut Said (1994), kondisi
pertanian di Indonesia di masa mendatang banyak yang akan diarahkan untuk
kepentingan agroindustri. Dengan meningkatnya pembangunan nasional dan juga
terjadinya peningkatan industrialisasi maka sangat diperlukan sarana-sarana yang
mendukung lancarnya proses industrialisasi tersebut.
Peningkatan sektor pertanian memerlukan berbagai sarana yang mendukung agar dapat
dicapai hasil yang memuaskan dan terutama dalam hal mencukupi kebutuhan nasional
dalam bidang pangan / sandang dan meningkatkan perekonomian nasional dengan
mengekspor hasilnya ke luar negeri. Sarana-sarana yang mendukung peningkatan hasil
di bidang pertanian tersebut adalah alat-alat pertanian, pupuk, bahan-bahan kimia yang
termasuk di dalamnya adalah pestisida.
Dalam bidang pertanian, pestisida merupakan sarana untuk membunuh hama-hama
tanaman. Penggunaannya yang sesuai aturan dan dengan cara yang tepat adalah hal
mutlak harus dilakukan mengingat bahwa pestisida adalah bahan yang beracun.
Penggunaan

bahan-bahan

kimia

pertanian

seperti

pestisida

tersebut

dapat

membahayakan kehidupan manusia dan hewan dimana residu pestisida terakumulasi


pada produk-produk pertanian dan perairan. Untuk meningkatkan produksi pertanian
disamping juga menjaga keseimbangan lingkungan agar tidak terjadi pencemaran akibat
penggunaan pestisida perlu diketahui peranan dan pengaruh serta penggunaan yang
aman dari pestisida dan adanya alternatif lain yang dapat menggantikan peranan
pestisida pada lingkungan pertanian dalam mengendalikan hama, penyakit dan gulma.

Penyemprotan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan mengakibatkan banyak


dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu timbulnya keracunan pada
petani. Faktor yang berpengaruh dengan terjadinya keracunan pestisida adalah faktor
dari dalam tubuh (internal) dan dari luar tubuh (eksternal). Faktor dari dalam tubuh
antara lain umur, jenis kelamin, genetik, status gizi, kadar hemoglobin, tingkat
pengetahuan dan status kesehatan. Sedangkan faktor dari luar tubuh mempunyai
peranan yang besar. Faktor tersebut antara lain banyaknya jenis pestisida yang
digunakan, jenis pestisida, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, masa kerja menjadi
penyemprot, lama menyemprot, pemakaian alat pelindung diri, cara penanganan
pestisida, kontak terakhir dengan pestisida, ketinggian tanaman, suhu lingkungan, waktu
menyemprot dan tindakan terhadap arah angin.
Hal-hal tersebutlah yang masih banyak diabaikan oleh para petani Indonesia terutama di
daerah pedesaan. Mereka tidak memperhatikan dampak yang dapat ditimbulkan dari
pekerjaan yang mereka lakukan setiap harinya dengan berbagai alasan klasik. Oleh
karena itu, kami membahas tentang penyakit yang dapat ditimbulkan dari pekerjaan
khususnya sebagai petani agar dapat menambah pengetahuan dan kesadaran tentang
berbagai penyakit yang dapat ditimbulkan dari pekerjaannya sehingga dapat membantu
mencegah dan meminimalisir masalah baik penyakit maupun keracunan akibat pestisida
pada petani tersebut.
Selama ini petani sangat tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk
mengendalikan hama dan penyakit tanaman sehingga lahan pertanian bebas dari
serangan hama. Dengan meningkatnya hasil pertanian akan membuat hidup para petani
bergerak lebih baik.
Sayangnya, penggunaan pestisida memiliki dampak yang cukup merugikan.
Berdasarkan penelitian, pestisida dapat merusak ekosistem air yang berada di sekitar
lahan

pertanian.

Ketika

pestisida

disemprotkan

pada

tanaman,

menerbangkan sebagian pestisida sehingga bercampur dengan udara.

angin

akan

Pestisida yang menempel pada tanaman akan bercampur dengan air ketika terkena
hujan. Air hujan yang mengandung pestisida ini akan mengalir melalui sungai atau
aliran irigasi dan dapat menyuburkan ganggang di perairan tempat sungai atau irigasi
tadi bermuara. Keberadaan ganggang yang terlalu banyak di permukaan muara tadi
mengakibatkan cahaya matahari sulit masuk ke dalam air. Hal ini mengakibatkan
hewan-hewan ataupun fitoplankton tidak mendapat cahaya. Jika fitoplankton tidak
mendapat cahaya, maka tidak akan dapat berfotosintesis dan tidak dapat lagi
menghasilkan makanan untuk hewan-hewan air.
Selain itu, dampak negatif penggunaan pestisida dapat mengakibatkan kebalnya hama
terhadap pestisida, munculnya hama baru, penumpukan sisa bahan kimia di dalam hasil
panen, terbunuhnya musu alami dari hama, dan kecelakaan bagi pengguna, merusak
kulit dan paru-paru.
Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan
Berbahaya dan Beracun pasal 4 tercantum: setiap orang yang melakukan kegiatan
pengelolaan bahan berbahaya dan beracun wajib mencegah terjadinya pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup. Bahan berbahaya dan beracun adalah bahan-bahan karena
sifat, konsentrasi ataupun jumlahnya, secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan merusak lingkungan sehingga membahayakan kelangsungan hidup
manusia serta makhluk hidup lainnya. Peranan pestisida dalam sistem pertanian sudah
menjadi dilema yang sangat menarik untuk dikaji. Berpihak pada upaya pemenuhan
kebutuhan produksi pangan sejalan dengan peningkatan perumbuhan penduduk
Indonesia, maka pada konteks pemenuhan kuantitas produksi pertanian khususnya
produk hortikultura, pestisida sudah tidak dapat lagi dikesampingkan dalam sistem
budidaya pertaniannya. Mengingat penciptaan kultur sosial yang telah tercipta
sedemikian rupa oleh pemerintah tahun 1980-an dengan subsidi biaya penggunaan
pestisida dan pendewaan pestisida sebagai penyelamat produksi dan investasi petani.

Di pihak lain penggunaan pestisida membawa bencana yang sangat hebat terhadap
kesehatan petani dan konsumen akibat mengkonsumsi produk hortikultura yang

mengandung residu pestisida. Menurut WHO, setiap setengah juta kasus pestisida
terhadap manusia, 5000 diakhiri dengan kematian. Dampak lain yang tidak kalah
pentingnya adalah timbulkan pencemaran air, tanah dan udara yang dapat mengganggu
sistem kehidupan organisme lainnya di biosfer ini.
Pemerintah Indonesia sejak tahun 1986 telah mengluarkan kebijakan dan tindakan yang
dapat membatasi dan mengurangi penggunaan pestisida . Kemudian pada tahun 1996
pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama Mentri Kesehatan dan Mentri
Pertanian telah membuat keputusan tentang penetapan ambang batas maksimum residu
pestisida pada hasil pertanian. Namun pada kenyataannya, belum banyak pengusaha
pertanian atau petani yang perduli. Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering
terjadi, terutama dialami oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan.
Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun
sesudahnya, atau muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal-gatal dan
menjadi luka, kejang-kejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir dengan
kematian. Kejadian tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas
keselamatan kerja dan kurangnya kesadaran bahwa pestisida adalah racun.

II.
PESTISIDA
II.1
Pengertian Pestisida
Menurut Soemirat (2003), pestisida berasal dari kata pest, yang berarti hama dan
cida, yang berarti pembunuh, jadi pestisida adalah substansi kimia digunakan untuk
membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Pestisida mempunyai arti yang
sangat luas, yang mencakup sejumlah istilah lain yang lebih tepat, karena pestisida
lebih banyak berkenaan dengan hama yang digolongkan ke dalam senyawa racun
yang mempunyai nilai ekonomis dan diidentifikasikan sebagai senyawa kimia yang
dapat digunakan untuk mengendalikan, mencegah, menangkis, mengurangi jasad
renik pengganggu.
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang
digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah
sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang
disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya
seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain
yang dianggap merugikan.
Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan
atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman. Sesuai konsep
Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk
memberantas

atau

membunuh

hama,

namun

lebih

dititiberatkan

untuk

mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang


ekonomi atau ambang kendali.
Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk
mengendalikan jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia. Dalam
sejarah peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan terutama dalam
bidang kesehatan dan bidang pertanian seperti persawahan dan perkebunan. Di
bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk
meningkatkan produksi. Dewasa ini pestisida merupakan sarana yang sangat

diperlukan. Terutama digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil tanaman,


ternak maupun ikan dari kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad
pengganggu. Bahkan oleh sebahagian besar petani, beranggapan bahwa pestisida
adalah sebagai dewa penyelamat yang sangat vital. Sebab dengan bantuan
pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan jasad
pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma.
Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu
meningkat dengan pesat.
Penggunaan pestisida dapat dilakukan dengan cara disemprot, ditabur, dioles dan
lain-lain. Umumnya pestisida digunakan secara disemprot. Setelah dilakukan
penyemprotan pestisida akan dapat berada dilingkungan udara, tanah, air, tumbuhan
dan manusia.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 07/PERMENTAN/SR.140/2/2007 tentang
Pestisida, mendefinisikan bahwa pestisida adalah zat kimia atau bahan lain dan jasad
renik serta virus yang digunakan untuk:

Memberantas atau mencegah hama-hama tanaman, bagian-bagian tanaman atau


hasil-hasil pertanian.

Memberantas rerumputan.

Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan.

Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman,


tidak termasuk pupuk.

Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan dan


ternak.

Memberantas dan mencegah hama-hama air.

Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik dalam


rumah tangga, bangunan dan alat-alat pengangkutan.

Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan


penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan penggunaan
pada tanaman, tanah atau air.

II.2
Jenis-jenis Pestisida
II.2.1 Berdasarkan organisme target
Pestisida dikategorikan berdasarkan jenis organisme yang populasinya akan
dikendalikan. Adapun kategori ini antara lain (Soemirat, 2003) :
-

Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau

segmen tubuh. Berfungsi untuk membunuh serangga.


Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi

untuk melawan bakteri


Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang
berarti benang. Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang

hidup di akar).
Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi

membunuh gulma (tumbuhan pengganggu).


Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti

jamur. Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.


Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi

untuk membunuh binatang pengerat, seperti tikus.


Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis

lembek. Berfungsi untuk membunuh siput.


Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau
kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk

membunuh tungau atau kutu


Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau
larva.

Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung.
Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi

burung.
Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk

membunuh ikan.
Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk

membunuh telur.
Algisida, berasal dari kata alge yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang

laut. Berfungsi untuk melawan alga.


Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun.

Berfungsi untuk membunuh rayap.


Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk

membunuh kutu atau tuma.


Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi

untuk membunuh pemangsa (predator).


Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk
membunuh pohon.

Selain kategori pestisida berdasarkan akhiran sida, beberapa pestisida kimiawi


lainnya antara lain : atraktan (zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga
menjadi tertarik sehingga dapat digunakan sebagai penarik serangga dan
menangkapnya dengan perangkap), kemosterilan (zat yang berfungsi untuk
mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang), defoliant (zat yang
dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan
pada tanaman kapas dan kedelai), desiccant (zat yang digunakan untuk
mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya), disinfektan (zat yang digunakan
untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme).
Selain itu, ada juga pestisida kimiawi berupa zat pengatur tumbuh (zat yang dapat
memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan tanaman), repellent
(zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang
lainnya, contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak
nyamuk), sterilan tanah (zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad
renik atau biji gulma), pengawet kayu (biasanya digunakan pentaclilorophenol

(PCP), stiker (zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap
angin dan hujan), surfaktan dan agen penyebar (zat untuk meratakan pestisida pada
permukaan daun), inhibitor (zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas),
dan stimulan tanaman (zat yang berfungsi untuk menguatkan pertumbuhan dan
memastikan terjadinya buah). Pestisida yang terakhir ini, selain menguatkan
tanaman dari gangguan, dapat juga bertindak layaknya pemberi nutrien.
II.2.2 Berdasarkan tingkat toksisitas (racun) dan kegunaannya
Berdasarkan tingkat toksisitas (racun) dan kegunaannya, pestisida dikelompokkan
ke dalam empat golongan, yaitu (Soemirat, 2003):

Golongan A

Pestisida digolongkan ke dalam kelompok ini didasarkan pada fungsinya, yaitu


sebagai insektisida adalah jenis pestisida yang berfungsi mencegah dan membasmi
serangga. Insektisida juga digunakan di rumah-rumah untuk membasmi nyamuk,
kecoa, laba-laba, dan sejenisnya. Contoh insektisida: DDT, aldrin, paration,
malation, dan karbaril. Namun, saat ini penggunaan produk tersebut dalam rumah
tangga telah dibatasi. Herbisida adalah jenis pestisida yang berfungsi mencegah dan
membasmi tanaman yang merugikan petani seperti alang-alang dan rumput liar.
Contoh herbisida: 2,4D, 2,4,5T, pentaklorofenol, dan amonium sulfonat.
Fungisida adalah pestisida khusus untuk jamur. Selain racun bagi jamur, juga dapat
dipakai untuk racun tanaman dan racun serangga. Contoh fungisida adalah
organomerkuri dan natrium dikromat. Rodentisida adalah pestisida khusus untuk
membasmi tikus. Contoh rodentisida adalah senyawa arsen.

Golongan B

10

Pestisida digolongkan ke dalam golongan B didasarkan pada jenis bahan kimia yang
terkandung di dalamnya. Jenis-jenis pestisida yang digolongkan menurut cara
ini,yaitu (Tabel 1):
Tabel 1. Jenis dan bahan pestisida golongan B
Pestisida
Organik
Anorganik
Organoklor
Organofosfat
Karbamat
Fumigan
Mikrobial
Botanikal

Bahan
Kimia organik
Kimia anorganik
Senyawa karbon mengandung klor
Senyawa karbon mengandung fosfat
Senyawa karbon mengandung asam karbamat
Racun berasap
Bahan kimia dari mikroorganisme
Bahan kimia tanaman

Sumber: Soemirat (2003)

Golongan C

Pestisida digolongkan ke dalam golongan C didasarkan pada pengaruhnya terhadap


hama. Beberapa jenis pestisida menurut golongan ini, yaitu (Tabel 2):
Tabel 2. Pestisida golongan C
Jenis

Pengaruh
Dapat menjauhkan serangga
Dapat menggugurkan daun
Dapat menggagalkan pertumbuhan

Repelant
Defoliant
Perencat

Sumber: Soemirat (2003)

Golongan D

Pestisida dapat juga digolongkan berdasarkan cara tindakannya terhadap hama.


Perhatikan tabel berikut (Tabel 3):

11

Tabel 3. Pestisida golongan D


Jenis Racun
Racun perut
Racun sentuh
Racun sistemik

Cara Tindakan
Membunuh jika termakan
Membunuh jika menyentuh kulit
Membunuh jika masuk ke dalam sistem

Racun pracambah

organism
Membunuh terhadap beni

Sumber: Soemirat (2003)

II.2.3 Berdasarkan bentuk komponen bahan aktifnya


Berdasarkan bentuk komponen bahan aktifnya, pestisida dibedakan menjadi
(Soemirat, 2003) :

Organofosfat
Pestisida yang termasuk ke dalam golongan organofosfat antara lain :
Azinophosmethyl, Chloryfos, Demeton Methyl, Dichlorovos, Dimethoat,
Disulfoton, Ethion, Palathion, Malathion, Parathion, Diazinon, Chlorpyrifos.
Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik di antara jenis pestisida
lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia. Bila tertelan,
meskipun hanya dalam jumlah sedikit, dapat menyebabkan kematian pada
manusia. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma
dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut
secara normal menghidrolisis acetylcholine menjadi asetat dan kholin. Pada saat
enzim dihambat, mengakibatkan jumlah acetylcholine meningkat dan berikatan
dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer.
Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada
seluruh bagian tubuh.
Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul
sangat bergantung pada adanya stimulasi asetilkholin persisten atau depresi yang

12

diikuti oleh stimulasi saraf pusat maupun perifer. Gejala awal seperti salivasi,
lakrimasi, urinasi dan diare (SLUD) terjadi pada keracunan organofosfat secara
akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil
kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos.

Karbamat
Insektisida karbamat berkembang setelah organofosfat. Insektisida ini biasanya
daya toksisitasnya rendah terhadap mamalia dibandingkan dengan organofosfat,
tetapi sangat efektif untuk membunuh insekta. Pestisida golongan karbamat ini
menyebabkan karbamilasi dari enzim asetil kholinesterase jaringan dan
menimbulkan akumulasi asetil kholin pada sambungan kholinergik neuroefektor
dan pada sambungan acetal muscle myoneural dan dalam autonomic ganglion,
racun ini juga mengganggu sistem saraf pusat.

Organoklorin
Organoklorin atau disebut Chlorinated hydrocarbon terdiri dari beberapa
kelompok yang diklasifikasi menurut bentuk kimianya. Yang paling popular dan
pertama kali disinthesis adalah Dichloro-diphenyl-trichloroethan atau disebut
DDT. Bila seseorang menelan DDT sekitar 10mg/Kg akan dapat menyebabkan
keracunan, hal tersebut terjadi dalam waktu beberapa jam. Perkiraan LD 50 untuk
manusia adalah 300-500 mg/Kg.

II.3

Peranan Pestisida

Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam


bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama
untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya, dalam bidang kesehatan dan

13

rumah tangga untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang
pengganggu kenyamanan lingkungan, dalam bidang perumahan terutama untuk
pengendalian rayap atau gangguan serangga yang lain.
Menurut Sudarmo (1991), berdasarkan ketahanannya di lingkungan, maka pestisida
dapat dikelompokkan atas dua golongan yaitu yang resisten dimana meninggalkan
pengaruh terhadap lingkungan dan yang kurang resisten. Pestisida yang termasuk
organochlorines

termasuk

pestisida

yang

resisten

pada

lingkungan

dan

meninggalkan residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan
melalui rantai makanan, contohnya DDT, Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane
(HCH), endrin. Pestisida kelompok organofosfat adalah pestisida yang mempunyai
pengaruh yang efektif sesaat saja dan cepat terdegradasi di tanah, contohnya
Disulfoton, Parathion, Diazinon, Azodrin, Gophacide, dan lain-lain .
Selanjutnya, menurut Sudarmo (1991), dalam bidang pertanian pestisida merupakan
sarana untuk membunuh jasad pengganggu tanaman. Dalam konsep Pengendalian
Hama Terpadu, pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian, yang
mana harus sejalan dengan komponen pengendalian hayati, efisien untuk
mengendalikan hama tertentu, mudah terurai dan aman bagi lingkungan sekitarnya.
Penerapan usaha intensifikasi pertanian yang menerapkan berbagai teknologi,
seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta
usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang sering
kali diikuti dengan timbulnya masalah serangan jasad penganggu. Cara lain untuk
mengatasi jasad penganggu selain menggunakan pestisida kadang-kadang
memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang besar dan hanya dapat dilakukan pada
kondisi tertentu. Sampai saat ini hanya pestisida yang mampu melawan jasad
penganggu dan berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil Informasi
yang terperinci tentang tingkat keracunan, keberadaan dalam tanah, jalan
pengangkutan yang lebih dominan dari berbagai herbisida, insektisida dan fungisida
hendaknya diketahui. Kondisi cuaca penting diperhatikan pada saat pengaplikasian
(Loehr, 1984).

14

Pada umumnya pestisida yang digunakan untuk pengendalian jasad pengganggu


tersebut adalah racun yang berbahaya, tentu saja dapat mengancam kesehatan
manusia. Untuk itu penggunaan pestisida yang tidak bijaksana jelas akan
menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia, sumber daya hayati dan
lingkungan pada umumnya. Dalam bidang pertanian pestisida merupakan sarana
untuk membunuh hama-hama tanaman. Dalam konsep Pengendalian Terpadu Hama,
pestisida berperan sebagai salah satu komponen pengendalian.
Prinsip penggunaannya adalah (Loehr, 1984):

Harus kompatibel dengan komponen pengendalian lain, seperti komponen hayati

efisien untuk mengendalikan hama tertentu

Meninggalkan residu dalam waktu yang tidak diperlukan

Tidak boleh persistent, jadi harus mudah terurai

Dalam perdagangan (transport, penyimpanan, pengepakan, labeling) harus


memenuhi persyaratan keamanan yang maksimum

Harus tersedia antidote untuk pestisida tersebut

Sejauh mungkin harus aman bagi lingkungan fisik dan biota

Relatif aman bagi pemakai (LD50 dermal dan oral relatif tinggi)

Harga terjangkau bagi petani.

Idealnya teknologi pertanian maju tidak memakai pestisida. Tetapi sampai saat ini
belum ada teknologi yang demikian. Pestisida masih diperlukan, bahkan
penggunaannya semakin meningkat. Pengalaman di Indonesia dalam menggunakan
pestisida untuk program intensifikasi, ternyata pestisida dapat membantu mengatasi

15

masalah hama padi. Pestisida dengan cepat menurunkan populasi hama, hingga
meluasnya serangan dapat dicegah, dan kehilangan hasil karena hama dapat ditekan.
Dengan melihat besarnya kehilangan hasil yang dapat diselamatkan berkat
penggunaan pestisida, maka dapat dikatakan bahwa peranan pestisida sangat besar
dan merupakan sarana penting yang sangat diperlukan dalam bidang pertanian.
Usaha intensifikasi pertanian yang dilakukan dengan menerapkan berbagai
teknologi maju seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan dan
pola tanam akan menyebabkan perubahan ekosistem yang sering diikuti oleh
meningkatnya problema serangan jasad pengganggu. Demikian pula usaha
ekstensifikasi pertanian dengan membuka lahan pertanian baru, yang berarti
melakukan perombakan ekosistem, sering kali diikuti dengan timbulnya masalah
serangan jasad pengganggu. Dan tampaknya saat ini yang dapat diandalkan untuk
melawan jasad pengganggu tersebut yang paling manjur hanya pestisida. Memang
tersedia cara lainnya, namun tidak mudah untuk dilakukan, kadang-kadang
memerlukan tenaga yang banyak, waktu dan biaya yang besar, hanya dapat
dilakukan dalam kondisi tertentu yang tidak dapat diharapkan efektifitasnya.
Pestisida saat ini masih berperan besar dalam menyelamatkan kehilangan hasil yang
disebabkan oleh jasad pengganggu.
Menurut Said (1994), pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan
lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida sintetik, yaitu
golongan organoklorin. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa
organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka
terhadap sinar matahari dan tidak mudah terurai. Penyemprotan dan pengaplikasian
dari bahan-bahan kimia pertanian selalu berdampingan dengan masalah pencemaran
lingkungan sejak bahan-bahan kimia tersebut dipergunakan di lingkungan. Sebagian
besar bahan-bahan kimia pertanian yang disemprotkan jatuh ke tanah dan
didekomposisi oleh mikroorganisme. Sebagian menguap dan menyebar di atmosfer
dimana akan diuraikan oleh sinar ultraviolet atau diserap hujan dan jatuh ke tanah .

16

III.
DAMPAK PENGGUNAAN PESTISIDA
III.1 Dampak terhadap Lingkungan
Dampak penggunaan pestisida bagi lingkungan bisa dikelompokkan menjadi dua
kategori (Said, 1994):
1) Bagi lingkungan umum

Pencemaran Udara
pestisida berkontribusi sebagai polutan udara. Pestisida kimiawi yang tersuspensi ke
dalam udara yang akan dibawa oleh angin ke seluruh penjuru mampu menjadi
kontaminan yang berbahaya terhadap lingkungan. Kecepatan angin merupakan salah
satu faktor pendukung pendispersian polutan udara termasuk polutan pestisida.
Pestisida umumnya bersifat volatil. Hal inilah yang merupakan jalan bagi zat ini
untuk terdispersi ke dalam udara. Faktor lain yang amat mendukung adalah faktor
cuaca seperti angin, suhu lingkungan, dan kelembaban udara.

Pencemaran Air dan Tanah

Said (1994) mengatakan beberapa senyawa kimia penyusun pestisida adalah


kontaminan tanah yang persisten dalam arti bahwa sifat pencemarannya akan
berlangsung dalam jangka waktu yang lama bertahan di dalam tanah. Penggunaan
pestisida menurunkan biodiversitas di dalam tanah. Degradasi dan penyerapan adalah
dua faktor yang sangat mempengaruhi sifat persisten pestisida dalam tanah.
Fiksasi nitrogen dibutuhkan di dalam pertumbuhan tanaman. Insektisida seperti
DDT, methyl parathion, dan pentachlorophenol telah menunjukkan pengaruh
terhadap sinyal kimia rhizobium yang berperan dalam pengikatan nitrogen di dalam
tanah. Reduksi terhadap sinyal tersebut akan mengurangi fiksasi nitrogen sehingga

17

berpengaruh pada menurunnya hasil panen bila dibandingkan dengan tanah


berkualitas tanpa polutan pestisida, dimana fiksasi nitrogen berlangsung normal.
Pestisida bergerak dari lahan pertanian menuju aliran sungai dan danau yang dibawa
oleh hujan atau penguapan, tertinggal, atau larut pada aliran permukaan, terdapat
pada lapisan tanah dan larut bersama dengan aliran air tanah.
Penumpahan yang tanpa disengaja atau membuang bahan bahan kimia yang
berlebihan pada permukaan air akan meningkatkan konsentrasi pestisida di dalam
air. Kualitas air dipengaruhi oleh pestisida berhubungan dengan keberadaan dan
tingkat keracunannya, dimana kemampuannya untuk diangkut adalah fungsi dari
kelarutannya dan kemampuan diserap oleh partikel-partikel tanah

Terbunuhnya organisme non target karena terpapar secara langsung.


Terbunuhnya organisme non target karena pestisida memasuki rantai makanan.
Menumpuknya pestisida dalam jaringan tubuh organisme melalui rantai makanan

(bioakumulasi)
Pada kasus pestisida yang persisten (bertahan lama), konsentrasi pestisida dalam
tingkat trofik rantai makanan semakin keatas akan semakin tinggi (bioakumulasi).

2) Bagi lingkungan pertanian

OPT menjadi kebal terhadap suatu pestisida (timbul resistensi OPT terhadap

pestisida)
Meningkatnya populasi hama setelah penggunaan pestisida
Timbulnya hama baru, bisa hama yang selama ini dianggap tidak penting maupun

hama yang sama sekali baru.


Terbunuhnya musuh alami hama.
Perubahan flora, khusus pada penggunaan herbisida.
Fitotoksik (meracuni tanaman)
III.2

Dampak terhadap Aspek Sosial

Dampak terhadap hewan


Menurut Said (1994), pestisida kimiawi memiliki dampak yang sangat besar
terhadap keberadaan biota. Hewan mengalami keracunan akibat adanya residu
pestisida tertinggal pada tanaman yang disemprot dengan pestisida. Hewan yang

18

berada di sekitar tanaman apabila berinteraksi dengan tanaman tersebut dari dekat
maka akan mengalami keracunan yang tidak dikehendaki. Hal yang cukup
mengkhawatirkan adalah masuknya residu pestisida ke dalam rantai makanan,
contohnya ketika seekor burung memakan serangga yang telah terkena pestisida.
Dengan sendirinya burung tersebut akan mengalami keracunan. Beberapa pestisida
dapat mengalami bioakumulasi secara permanen atau sementara pada tubuh
organisme. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup beberapa hewan yang gagal
dalam mempertahankan dirinya dari keracunan secara bertahap

Dampak terhadap manusia

Menurut Said (1994), pestisida masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan
yakni dengan menghirup aerosol, debu, atau uap yang mengandung pestisida.
Masuknya pestisida juga dapat melalui konsumsi bahan makanan dan air yang telah
tercemar kimia pestisida, atau dengan kontak langsung dengan bagian terluar (kulit)
yang mengakibatka iritasi serius. Tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh pestisida
bergantung kepada daya toksisitas kimiawi penyusun pestisida tersebut. Daya
toksisitas tergantung kepada tingkat kereaktifan molekul-molekul senyawa
penyusun pestisida dalam kaitannya menyerang atau merusak sel-sel hidup.
Umumnya, anak-anak lebih sensistif terhadap polutan daripada orang dewasa.
Bahaya yang diakibatkan pestisida kimiawi pada manusia antara lain : iritasi kulit,
kanker, perubahan genetik atau mutasi, bayi lahir cacat, gangguan pada peredaran
darah dan saraf, gangguan pada sistem reproduksi, CAIDS (Chemically Acquired
Deficiency Syndrom), bahkan koma dan atau kematian langsung dapat terjadi.
Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam
kesehatan manusia adalah pestisida golongan organoklorin yang bersifat resisten.
Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa organoklorin lebih tinggi
dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan
tidak mudah terurai.
III.3

Dampak terhadap Aspek Ekonomi

19

Belakangan ini masalah residu pestisida pada produk pertanian dijadikan


pertimbangan untuk diterima atau ditolak di negara importir. Negara maju
umumnya tidak mentolerir adanya residu pestisida pada bahan makanan yang
masuk ke negaranya. Belakangan ini produk pertanian Indonesia sering di tolak di
luar negeri karena residu pestisida yang berlebihan. Media massa pernah
memberitakan , ekspor cabai di Indonesia tidak dapat diterima dan akhirnya
dimusnahkan karena residu pestisida yang melebihi ambang batas.
Diramalkan, jika masih mengandalkan pestisida sintesis sebagai alat pengendali
hama, pemberlakuan ekolabelling dan ISO 14000 dalam era perdagangan bebas,
membuat produk pertanian Indonesia tidak mampu bersaing dan tersisih serta
terpuruk di pasar global.
3.4 Dampak terhadap Kesehatan
Pestisida merupakan bahan kimia, campuran bahan kimia atau bahan-bahan lain
yang bersifat bioaktif. Pada dasarnya, pestisida bersifat racun. Oleh sebab sifatnya
sebagai racun itulah pestisida dibuat, dijual dan digunakan untuk meracuni OPT
(Organisme Pengganggu Tanaman). Setiap racun berpotensi mengandung bahaya.
Oleh karena itu, ketidakbijaksanaan dalam penggunaan pestisida pertanian bisa
menimbulkan dampak negatif (Gambar 1).

20

Gambar 1. Bahaya Pestisida Kimia


(Anonymous ,2012a)

Pada umumnya pestisida, terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja
bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun
terhadap manusia dan jasad bukan target termasuk tanaman, ternak dan organisme
berguna lainnya.
Apabila penggunaan pestisida tanpa diimbangi dengan perlindungan dan perawatan
kesehatan, orang yang sering berhubungan dengan pestisida, secara lambat laun akan
mempengaruhi kesehatannya. Pestisida meracuni manusia tidak hanya pada saat
pestisida itu digunakan, tetapi juga saat mempersiapkan, atau sesudah melakukan
penyemprotan. Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering terjadi, terutama
dialami oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan.

Mereka dapat

mengalami pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau


muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal-gatal dan menjadi luka, kejangkejang, pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir dengan kematian. Kejadian tersebut
umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja dan kurangnya
kesadaran bahwa pestisida adalah racun.

21

Kadang-kadang para petani atau pekerja perkebunan, kurang menyadari daya racun
pestisida, sehingga dalam melakukan penyimpanan dan penggunaannya tidak
memperhatikan segi-segi keselamatan. Pestisida sering ditempatkan sembarangan, dan
saat menyemprot sering tidak menggunakan pelindung, misalnya tanpa kaos tangan dari
plastik, tanpa baju lengan panjang, dan tidak mengenakan masker penutup mulut dan
hidung. Juga cara penyemprotannya sering tidak memperhatikan arah angin, sehingga
cairan semprot mengenai tubuhnya. Bahkan kadang-kadang wadah tempat pestisida
digunakan sebagai tempat minum, atau dibuang di sembarang tempat. Kecerobohan
yang lain, penggunaan dosis aplikasi sering tidak sesuai anjuran. Dosis dan konsentrasi
yang dipakai kadang-kadang ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan,
dengan alasan dosis yang rendah tidak mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit
tanaman.
Secara tidak sengaja, pestisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak melalui
mulut, kulit, dan pernafasan. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk
ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan
mengakibatkan keracunan kronis. Seseorang yang menderita keracunan kronis,
ketahuan setelah selang waktu yang lama, setelah berbulan atau bertahun. Keracunan
kronis akibat pestisida saat ini paling ditakuti, karena efek racun dapat bersifat
karsiogenic (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenic (kerusakan genetik
untuk generasi yang akan datang), dan teratogenic (kelahiran anak cacad dari ibu yang
keracunan).
Menurut Soemirat (2003), selain keracunan langsung, dampak negatif pestisida bisa
mempengaruhi kesehatan orang awam yang bukan petani, atau orang yang sama sekali
tidak berhubungan dengan pestisida. Kemungkinan ini bisa terjadi akibat sisa racun
(residu) pestisida yang ada didalam tanaman atau bagian tanaman yang dikonsumsi
manusia sebagai bahan makanan. Konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut,
tanpa sadar telah kemasukan racun pestisida melalui hidangan makanan yang
dikonsumsi setiap hari. Apabila jenis pestisida mempunyai residu terlalu tinggi pada
tanaman, maka akan membahayakan manusia atau ternak yang mengkonsumsi tanaman

22

tersebut. Makin tinggi residu, makin berbahaya bagi konsumen. Adapun dampak dari
pemakaian pestisida sebagai berikut ( Said, 1994) :

Dampak Bagi Kesehatan Petani


Penggunaan pestisida bisa mengontaminasi pengguna secara langsung sehingga
mengakibatkan keracunan. Dalam hal ini, keracunan bisa dikelompokkan menjadi 3
kelompok, yaitu keracunan akut ringan, keracunan akut berat dan kronis. Keracunan
akut ringan menimbulkan pusing, sakit kepala, iritasi kulit ringan, badan terasa sakit
dan diare. Keracunan akut berat menimbulkan gejala mual, menggigil, kejang perut,
sulit bernapas keluar air liur, pupil mata mengecil dan denyut nadi meningkat.
Selanjutnya, keracunan yang sangat berat dapat mengakibatkan pingsan, kejangkejang, bahkan bisa mengakibatkan kematian. Keracunan kronis lebih sulit dideteksi
karena tidak segera terasa dan tidak menimbulkan gejala serta tanda yang spesifik.
Namun, Keracunan kronis dalam jangka waktu yang lama bisa menimbulkan
gangguan kesehatan. Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan
dengan penggunaan pestisida diantaranya iritasi mata dan kulit, kanker, keguguran,
cacat pada bayi, serta gangguan saraf, hati, ginjal dan pernapasan.

Dampak bagi konsumen


Dampak pestisida bagi konsumen umumnya berbentuk keracunan kronis yang tidak
segera terasa. Namun, dalam jangka waktu lama mungkin bisa menimbulkan
gangguan kesehatan. Meskipun sangat jarang, pestisida dapat pula menyebabkan
keracunan akut, misalnya dalam hal konsumen mengkonsumsi produk pertanian
yang mengandung residu dalam jumlah besar.

23

IV.

UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN PESTISIDA

Pencemaran dari residu pestisida sangat membahayakan bagi lingkungan dan


kesehatan, sehingga pelu adanya pengendalian dan pembatasan dari penggunaan
pestisida tersebut serta mengurangi pencemaran yang diakibatkan oleh residu
pestisida. Kebijakan global pembatasan penggunaan pestisida sintetik yang mengarah
pada emasyarakatan teknologi bersih (clean technology) yaitu pembatasan
penggunaan pestisida sintetik untuk penanganan produk-produk pertanian terutama
komoditi andalan untuk eksport (Sudarmo, 1991). Dalam hal ini berbagai upaya
dilakukan untuk mengatasi dampak negatif pestissida dan mencegah pencemaran
lebih berlanjut lagi.
IV.1

Adanya Peraturan dan Pengarahan kepada Para Pengguna

Peraturan dan cara-cara penggunaan pestisida dan pengarahan kepada para


pengguna perlu dilakukan, karena banyak dari pada pengguna yang tidak
mengetahui bahaya dan dampak negatif pestisida terutama bila digunakan pada
konsentrasi yang tinggi, waktu penggunaan dan jenis pestisida yang digunakan.

24

Kesalahan dalam pemakaian dan penggunaan pestisida akan menyebabkan


pembuangan residu pestisida yang tinggi pada lingkungan sehingga akan
menganggu keseimbangan lingkungan dan mungkin organisme yang akan
dikendalikan menjadi resisten dan bertambah jumlah populasinya.
Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam
khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif,
maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan
Pemerintah No. 7 Tahun 1973 tentang penyimpanan dan penggunaan pestisida.
Standar keamanan untuk pengaplikasian pestisida dan pengarahan untuk
penggunaan yang aman dari pestisida, seperti cara pelarutan, jumlah (konsentrasi),
frekuensi dan periode dari aplikasi, ditentukan oleh aturan untuk meyakinkan
bahwa tingkat residu tidak melebihi dari standar yang telah ditetapkan. Keamanan
dari produk-produk pertanian dapat dijamin bila bahan-bahan kimia pertanian
diaplikasikan berdasarkan standar keamanan untuk penggunaan pestisida.
1.Penatalaksanaan penyemprotan
Pada pelaksanaan penyemprotan ini banyak menyebabkan keracunan oleh
sebab itu petani di wajibkan memakai alat pelindung diri yang lengkap
setiap melakukan penyemprotan, tidak melawan arah angin atau tidak
melakukan penyemprotan sewaktu angin kencang, hindari kebiasaan
makan-minum serta merokok di waktu sedang menyemprot, setiap selesai
menyemprot dianjurkan untuk mandi pakai sabun dan berganti pakaian serta
pemakain alat semprot yang baik akan menghindari terjadinya keracunan.
2.Untuk menggunakan pestisida harus diingat beberapa hal yang harus
diperhatikan
Pestisida digunakan apabila diperlukan

Sebaiknya makan dan minum secukupnya sebelum bekerja dengan


pestisida

25

Harus mengikuti petunjuk yang tercantum dalam label

Anak-anak tidak diperkenankan menggunakan pestisida, demikian pula


wanita hamil dan orang yang tidak baik kesehatannya

Apabila terjadi luka, tutuplah luka tersebut, karena pestisida dapat


terserap melalui luka

Gunakan perlengkapan khusus, pakaian lengan panjang dan kaki, sarung


tangan, sepatu kebun, kacamata, penutup hidung dan rambut dan atribut
lain yang diperlukan

Hati-hati

bekerja

dengan

pestisida,

lebih-lebih

pestisida

yang

konsentrasinya pekat. Tidak boleh sambil makan dan minum

Jangan mencium pestisida, karena pestisida sangat berbahaya apabila


tercium

Sebaiknya pada waktu pengenceran atau pencampuran pestisida dilakukan


di tempat terbuka. Gunakan selalu alat-alat yang bersih dan alat khusus

Dalam mencampur pestisida sesuaikan dengan takaran yang dianjurkan.


Jangan berlebih atau kurang

Tidak diperkenankan mencampur pestisida lebih dari satu macam,


kecuali dianjurkan

Jangan menyemprot atau menabur pestisida pada waktu akan turun


hujan, cuaca panas, angin kencang dan arah semprotan atau sebaran
berlawanan arah angin. Bila tidak enak badan berhentilah bekerja dan
istirahat secukupnya

26

Wadah bekas pestisida harus dirusak atau dibenamkan, dibakar supaya


tidak digunakan oleh orang lain untuk tempat makanan maupun minuman

Pasanglah tanda peringatan di tempat yang baru diperlakukan dengan


pestisida

Setelah bekerja dengan pestisida, semua peralatan harus dibersihkan,


demikian pula pakaian-pakaian, dan mandilah dengan sabun sebersih
mungkin.
IV.2

Memahami Kelas Bahaya Pestisida

Pengguna diharapkan juga mempelajari klasifikasi dan simbol bahaya yang terdapat
pada kemasan pestisida atau pada brosur/ leaflet pestisida. (Tabel 4)
Tabel 4: Klasifikasi dan simbol bahaya pestisida

Sumber: Anonymous (2012b)

IV.3

Penggunaan Pestisida dengan Memperhatikan Kondisi Lingkungan

Untuk menghindari terjadinya pencemaran udara oleh adanya pestisida maka pada
saat penggunaan pestisida, pengguna harus memperhatikan beberapa hal yang
mampu mempengaruhi pendispersian polutan tersebut di udara. Faktor lingkungan
seperti temperatur, kecepatan dan arah angin, serta kelembaban udara, berdasarkan

27

sumber literatur menyebutkan bahwa faktor lingkungan tersebut sangat berperan


dalam mempercepat proses terjadinya pencemaran udara.
IV.4

Penggunaan pestisida organik

Menurut Soemirat (2003), yang dimaksud dengan pestisida organik adalah racun
bagi hama tumbuhan, terbuat dari dari bahan alami tanpa campuran zat kimia
berbahaya. Dengan penggunaan pestisida organik keselamatan ekosistim terjaga
dengan baik.
Penggunaan pestisida organik hama terusir dari tanaman petani tanpa mematikannya.
Penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan
menghindari ketergantungan pada pestisida kimia. Pembuatan pestisida sangat
mudah dan terbukti hemat biaya daripada penggunaan pestisida kimia.
Beberapa jenis pestisida organik yang dapat dipergunakan adalah (Anonymous,
2011):
1. Ikan Mujair. Pestisida dari ikan mujair dapat mengatasi hama pada tanaman
terong dan pare. Caranya adalah dengan menyimpan 1 kg ikan mujair di
dalam plastik selama tiga hari. Kemudian direbus dengan dua liter air selama
dua jam lalu disaring.
2. Kunyit, jahe, biji mahoni,cabe dan serai. Pembuatannya dengan dihaluskan,
diberi air, diperas dan disaring, kemudian disemprotkan pada tanaman.
Bahan-bahan diatas tidak dicampur, melainkan cukup dipilih salah satunya.
Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare.
Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Cabe untuk
mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.
3. Akar tuba. Akar tuba direbus dengan air dan disemprot kepada tanaman. Akar
tuba mengandung senyawa retenon yang bekerja sebagai racun sel yang
sangat kuat, menyebabkan serangga dan tungau berhenti makan. Kematian
serangga terjadi beberapa jama sampai beberapa hari kemudian.

28

4. Tembakau. Tembakau termasuk pestisida organik karena mengandung


nikotin. Daun tembakau mengandung 2-8 persen nikotin dan berperan sebagai
racun kontak bagi serangga seperti ulat perusak daun dan pengendali jamur.
Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah dapat dilakukan
dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya
dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman.
Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama
tanaman tertentu.
Untuk membersihkan pestisida yang menempel pada sayuran, kita dapat melakukan
beberapa tips berikut (Anonymous, 2011) :
1. Gunakan air bersih yang matang dan mengalir untuk membersihkan sayuran.
Jangan gunakan air yang diam, karena air yang diam (direndam) justru akan
membuat racun yang sudah larut menempel lagi pada sayuran. Bilaslah sayuran
dengan air yang bersih. Dari hasil eksperimen, proses pembilasan ini dapat
menghilangkan residu pestisida mencapai 70% untuk pestisida jenis karbaril dan
50% untuk pestisida jenis DDT.
2. Pada saat mencuci sayuran, jangan lupa untuk mencuci semua bagian sayuran,
bahkan termasuk bagian dalam. Petani sering menyemprotkan pestisida ke
bagian dalam sayuran, seperti pada kubis pada bagian krop yang dimakan, untuk
mencegah hama. Buang bagian terluar dari sayuran berdaun.
3. Gunakan sikat gigi atau sikat yang lembut untuk membersihkan pestisida dari
buah dan sayur, serta tetap gunakan air yang mengalir.
4. Selain pencucian, perendaman dengan air panas (blanching) berisi garam juga
akan mengurangi kandungan pestisida.
5. Sayuran mentah mungkin mengandung residu pestisida lebih tinggi. Oleh
karenanya, masaklah dulu sayuran dengan baik. Pemasakan atau pengolahan

29

yang baik dalam terbukti dapat menekan tekanan kandungan residu pestisida
pada sayuran.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2011.http://indter.com/health/bahaya-pestisida-pada-sayuran-dan-buahbuahan/ . Di akses tanggal 25 Mei 2012

30

Anonymous, 2012. http://sehatcommunity.com/Memahami Label


Pestisida .Di akses tanggal 25 Mei 2012
Loehr, R.C., 1984. Pollution Control for Agriculture, Second Edition. Academic Press,
Inc., Florida.
Menteri Pertanian. 2007. Peraturan Menteri Pertanian No. 7Tahun 2007 Tentang
Pestisida. Jakarta.
Presiden RI. Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan
Berbahaya dan Beracun. Setneg, Jakarta.
Said, E.G., 1994. Dampak Negatif Pestisida, Sebuah Catatan bagi Kita Semua.
Agrotek. IPB. 2(1):71-72.
Soemirat, J. 2003. Toksikologi Lingkungan. Gadjah Mada University Press :Yogyakarta
Sudarmo, S. 1991. Pestisida. Kanisius.Yogyakarta.