Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KEPERAWATAN

ANALISA KUALITATIF URIN

Kelompok VI
Ema Dessy Naediwati

I1B109006

Desy Ratna Sari

I1B109013

Enny Zahratunnisa

I1B109018

Elfanizar Yusandi

I1B109201

Muhlisoh

I1B109206

Adi Sucipto

I1B109215

Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran


Universitas Lambung Mangkurat
BANJARBARU
Maret, 2010

JUDUL PRAKTIKUM
Analisa Kualitatif Urine
TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan praktikum kali ini antara lain adalah sebagai berikut :
-

Melakukan uji kualitatif urin

Mengetahui kandungan urin

METODE PRAKTIKUM
A. Alat Praktikum
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. Pipet
4. Lampu bunsen
5. Gelas ukur
6. Kertas lakmus
7. Gelas beaker
B. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
1. NH4OH pekat

6.

HCl pekat

2.

Asam asetat encer

7.

BaCl2 2%

3.

Kalium oksalat

8.

Fenolftalein

4.

HNO3 pekat

9.

NaOH encer

5.

Amonium molibdat

10.

AgNO3

C. Cara Praktikum
Persiapan urin
1. Sampel urin yang digunakan adalah urin selama 24 jam.
2. Amati dan catat sifat fisik dari urin meliputi : volume, warna, bau.
3. Catat pH urin dengan menggunakan kertas lakmus.
Uji Kualitatif
1. Uji Kalsium
Ke dalam 15 ml urin, tambahkan 3 ml NH4OH pekat lalu didihkan.
Kalsium dan magnesium fosfat diendapkan, saring dan cuci endapannya dengan
aquadest. Larutkan endapan tadi ke dalam asam asetat encer. Kemudian ambil 3
ml larutan tersebut dan tambahkan 1 ml kalium oksalat. Terbentuknya endapan
putih (kalsium oksalat) menunjukkan adanya kalsium.
2. Uji Fosfat
Ke dalam 3 ml larutan (dari endapan pada uji 1), tambahkan 3 ml HNO 3
pekat dan 3 ml amonium molibdat. Panaskan sampai mendidih. Terjadinya warna
kuning jernih atau endapan, menunjukkan adanya fosfat.
3. Uji Sulfat
Ke dalam 5 ml urin, tambahkan 1 ml HCL pekat (untuk mencegah
endapan fosfat) dan 2 ml BaCl2. Terbentuknya endapan seperti air susu atau
endapan putih tebal disebabkan oleh terbentuknya BaSO4 yang tidak larut dalam
HCl pekat, hal ini menunjukkan adanya sulfat.
4. Uji Amoniak
Ke dalam 15 ml urin tambahkan 4 tetes fenolftalein. Kemudian tambahkan
NaOH tetes demi tetes sampai didapatkan larutan berwarna merah muda.
Didihkan urin. Masukkan sebuah tabung gelas ke dalam fenolftalein dan
peganglah di atas uap urin. Lapisan tipis pada tabung menunjukkan warna merah
muda disebabkan oleh adanya kontak uap amoniak (dalam urine) dengan
fenolftalein.
5. Uji Klorida
Ke dalam 15 ml urin ditambahkan 1 ml HNO 3 pekat (mencegah
pengendapan urat oleh AgNO3). Kemudian tambahkan 1 ml AgNO3. Endapan

putih dari AgCl menunjukkan adanya klorida. Endapan tersebut larut dalam
NH4OH dan tidak larut HNO3.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Praktikum
a. Identitas Probandus
Nama

: Elfanizar Yusandi

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 19 tahun

BB/TB

: 56 kg / 150 cm

Suku/Bangsa

: Banjar/ Indonesia

b. Hasil Praktikum
Dari hasil praktikum, diperoleh data sebagai berikut:
pH urine : 7
Warna urine : Kuning jernih
Bau urine : Amoniak
Tabel Hasil Pengamatan:
No
1

2
3
4
5

Uji

Hasil

Keterangan
Tidak terdapat endapan berwarna

Kalsium

putih (kalsium oksalat), warna tetap

Fosfat

Sulfat

kuning.
Adanya warna kuning jernih
Terdapat endapan berwarna putih

Amoniak

Klorida

B. Pembahasan

seperti air susu


Terdapat lapisan tipis berwarna
merah muda pada tabung.
Terdapat endapan putih dari AgCl

Ginjal adalah organ tubuh yang berbentuk kacang polong yang terdiri
dari system tubulus dan glemorolus yang berfungsi membuang cairan proses
metabolisme tubuh yang tidak berguna dalam bentuk urine. Ginjal manusia terdiri
dari dua buah, terletak pada sebelah kiri dan kanan pada bagian belakang tubuh.
Posisi ginjal kiri dan kanan tidak simetris, posisi ginjal kiri terletak pada kira-kira
2-3 cm di atas garis horisontal posisi ginjal kanan. (1)
Ginjal memiliki bagian-bagian tertentu yang melakukan fungsi tertentu,
sehingga

ciri-ciri

dan

lokasi

penyakit

ginjal

dapat

diketahui

dengan

memperhatikan aspek-aspek cara pembentukan urine dan cara pengaturan


metabolisme. (2)
Urine merupakan cairan eksresi utama yang dikeluarkan lewat perantaraan
ginjal. Sebagian besar produk sisa tersebut dibuang melalui urine yang
mengandung senyawa-senyawa organik dan anorganik . Komposisi urine sangat
bervariasi dan terutama tergantung pada sifat alami diet yang dilakukan oleh
individu. Komposisi urine normal mengandung senyawa yang dinamakan
komponen normal. Dalam keadaan patologis, senyawa-senyawa lain dapat
dijumpai dalam urine (komponen abnormal). Perubahan yang besar dapat terjadi
pada komponen urine normal. (2)
Unit fungsional ginjal disebut nefron dan dalam satu ginjal ada 1 - 1,5 juta
nefron. Ginjal melakukan berbagai fungsi metabolik dan eksretorik. Selain
membersihkan tubuh dari zat sampah yang bernitrogen dan hasil metabolisme
lain, ginjal dengan cara cermat melakukan fungsi homeostasis cairan, elektrolit,
dan asam basa. Ginjal menerima sekitar satu liter darah atau 500 ml plasma per
menit. Dengan menggunakan proses-proses filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi
diproduksi sekitar 500-2000 ml urine setiap hari. Glomerulus berfungsi dalam
filtrasi. Fungsi utama tubulus proksimal adalah reabsorpsi. (3)
Secara bersama masing-masing nefron melakukan penapisan, rearsobsi
dan ekskresi sehingga terbentuk urine yang harus dikeluarkan. Terbentuknya urine
menunjukkan bahwa ginjal mempunyai kemampuan untuk beraktivitas. (1)

Darah yang mengalami filtrasi dalam glomerulus juga mengantarkan


oksigen dan zat-zat gizi untuk ginjal, sehingga darah mengalami berbagai macam
perubahan metabolik yang disebabkan oleh fungsi sel-sel ginjal. (3)
Air bersama zat larut bermolekul kecil mudah sekali menembus filtrasi
glomerulus. Sel-sel darah dan protein-protein darah dirintangi masuk ke dalam
filtrat. Tiap menit dihasilkan kira-kira 100 ml filtrat, itu berarti 140 L cairan setiap
hari. Glukosa, ureum, natrium, kalium, bikarbonat, chlorida, ratusan jenis enzim
dan hormon serta zat-zat larut lain mempunyai konsentrasi yang sama dalam
plasma dan filtrat glomerulus. Selanjutnya susunan filtrat tersebut berubah karena
sel epitel merubah susunan filtrat glomerulus untuk mencapai homeostasis dan
ekskresi. (3)
Fungsi utama tubulus proksimal adalah reabsorpsi. Yang dikembalikan ke
aliran darah ialah banyak air bersama glukosa, asam amino, asam urat dan juga
sedikit protein yang berhasil menembus filtrasi glomelurus; tubulus proksimal
juga mengembalikan banyak elektrolit, natrium, chlorida dan bikarbonat.
Lengkung Henle akhirnya melaksanakan reasorpsi air dan natrium. Tubulus distal
secara halus mengatur konsentrasi ion-ion natrium, kalium, bikarbonat, fosfat dan
hidrogen. Pengaturan akhir yang menyangkut ekskresi air dilakukan oleh ductus
colligens. (3)
Fungsi ginjal : (1)
1. Pengaturan keseimbangan volume dan komposisi cairan tubuh yang meliputi
pengaturan volume darah dan pengaturan konsentrasi ion-ion unsur K, Na, Mg,
Ca dan lain sebagainya. Kegagalan ginjal dalam mengatur keseimbangan
volume komposisi cairan tubuh, akan menunjukkan indikasi/penyakit
kegagalan ginjal menahun atau kegagalan mendadak.
2. Pengaturan keseimbangan asam dan basa meliputi pengaturan konsentrasi ion
H dalam cairan ektraseluler tubuh. Kegagalan ginjal dalam mengatur
keseimbangan asam akan mengakibatkan koma untuk penderita yang cairannya
bersifat basa.

3. Pengaturan tekanan darah, pengaturan tekanan dalam tubuh, tidak hanya


dilakukan oleh ginjal saja tetapi juga oleh saraf dan hormon sebagai pengatur
tekanan darah jangka pendek dan pengaturan secara mekanis yaitu dengan
pergeseran cairan kapiler dan vaskuler stres relaxtion sebagai pengatur jangka
menengah, sedangkan ginjal sendiri sebagai pengatur tekanan jangka panjang.
Kegagalan ginjal dalam mengatur tekanan darah, menunjukkan indikasi
kerusakan nefron atau menunjukkan perubahan koefisien filtrasi glomerolus.
Indikasi/penyakit tersebut adalah sebagian dari indikasi/penyakit ginjal yang
disebabkan kegagalan fungsi ginjal.
Kalau semua bagian berfungsi normal, maka ginjal memerankan fungsi
sebagai berikut : glomerulus memperbolehkan semua zat yang harus diekskresi
lewat dan mencegah hilangnya protein dan sel-sel; Tubulus mereabsorpsi zat larut
yang harus dipertahankan, mengatur kadar natrium, kalium, dan bikarbonat, serta
mencegah eksresi atau menahan ion H+ sesuai dengan kebutuhan. Duktus koligen
dibantu oleh keadaan hipertonik dalam medulla, mengatur banyaknya air yang
harus ditahan dan dikeluarkan. (2)
Berikut ini beberapa kelainan pada ginjal:
1.

Kerusakan Glomerulus
Kerusakan fungsi glomerulus mengakibatkan : (4)
Penurunan laju filtrasi glomerulus.

Gangguan pre-renal seperti hemokonsentrasi atau penurunan tekanan


darah arteri perifer atau bendungan vena atau bendungan vena ginjal
secara pasif menurunkan tekanan filtrasi, sehingga terjadi penurunan laju
filtrasi glomerulus.

Ada retensi air, posfat, dan kalium, kecenderungan kehilangan natrium,


hipokalsemia, dan asidosis pada kasus kronis, dan penurunan nilai-nilai
clearing. Oliguria, biasanya berosmolalitas dan berat jenis yang tinggi, ada
bila filtrasi glomerulus menurun.

Kerusakan patologis membran basalis glomerulus menyebabkan bocornya


plasma dan eritrosit melalui glomerulus yang terkena, sehingga ada
proteinuria ringan (yang lebih berat pada lesi membranosa) dan hematuria

(yang lebih berat pada lesi proliferatif). Sindroma nefrotik terutama


merupakan

gangguan

berupa

peningkatan

permeabilitas

yang

memungkinkan kehilangan protein terutama secara berlebihan .


2.

Kerusakan Tubulus
Tubulus rusak menyebabkan gagalnya reabsorpsi dan kehilangan

kompensasi untuk mengubah volume cairan tubuh, tekanan osmotic dan keadaan
asam basa. (5)
Penting untuk membedakan insufisiensi dengan kegagalan ginjal.
Insufisiensi ginjal bisa diduga timbul bila kadar produk akhir yang akan
dieksresikan di dalam plasma masih normal, sedangkan pada kegagalan ginjal
(biasanya bila clearance telah turun di bawah 50%), konsentrasi zat di dalam
plasma ini, seperti urine, di atas normal. (4)
Pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta tentang
ginjal dan saluran urine, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti
hati, saluran empedu, pankreas, korteks, adrenal, dan lain-lain. Ada beberapa
macam sampel urin yang dapat digunakan pada pemeriksaan urine, diantaranya
urine sewaktu dan urin postprandial.

Urine sewaktu adalah urine yang

dikeluarkan pada satu waktu yang tidak ditentukan. Urine postprandial lebih
sering digunakan untuk pemeriksaan glukosuria. Urine ini diambil pada 1 - 3
jam sesudah makan. Pemilihan sampel urine ada 5 macam yaitu :
-

Urine sewaktu

Urine pagi

Urine postprandial

Urine 24 jam

Urine 3 gelas dan urine 2 gelas pada orang laki-laki. (6)


Berikut tes-tes fungsi ginjal :

1. Tes clearance dan sejenisnya untuk menyelidiki kehilangan fungsi.


2. Pemeriksaan protein, sel, dan silinder untuk mengetahui lesi aktif.
3. Tes fungsi ginjal mengalami kelainan bila kurang lebih 2/3 jaringan ginjal
rusak secara fungsional. (4)

Sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap urine terlebih dahulu dilakukan


pemeriksaan terhadap volume, warna dan sifat urine. Urine yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah urine sewaktu dengan volume sekitar 50 ml. Urine
probandus memiliki bau yang khas dan setelah didiamkan beberapa lama tercium
bau amoniak.
Urine yang baru mempunyai bau yang khas, sedangkan urine yang lama
akan mengalami penguraian oleh bakteri yang menyebabkan urine berbau
amoniak. Hal ini disebabkan terjadinya penguraian urine oleh bakteri. Bau urine
normal disebabkan oleh sebagian zat organik yang menguap. (6)
Bau urine abnormal disebabkan oleh : (6)
- Makanan yang mengandung zat atsiri seperti jengkol dan petai.
- Obat-obatan seperti terpitin dan methanol.
- Bau amoniak oleh perombakan bakteri dari ureum.
- Bau pada ketonuria
- Bau busuk.
Urine probandus berwarna kuning jernih. Warna kuning jernih ini
termasuk normal.
Urine yang baru dikeluarkan, jernih sampai sedikit keruh dan berwarna
kuning karena adanya zat warna urokhrom dan urobilin. Intensitas warna sejajar
dengan konsentrasi. Urine yang encer hampir tidak berwarna, urine yang pekat
berwarna kuning tua. Urine yang keruh biasanya disebabkan mengkristalnya atau
mengendapnya urat (dalam urin asam) atau fosfat (dalam urin alkalis). (3)
Dalam keadaan normal, urine selama 24 jam mempunyai pH 6 (reaksi
asam). Unsur-unsur berbentuk sedimen dalam urine mulai rusak dalam 2 jam.
Urat dan fosfat yang semula larut menjadi mengendap, sehingga menyulitkan
pemeriksaan mikroskopi atas unsur-unsur lain. Bilirubin dan urobilinogen
dioksidasi bila terkena matahari terus-menerus. Jika spesimen tidak dimasukkan
dalam

lemari

es,

bakteri-bakteri

akan

mulai

berkembang

biak

mengakibatkan terganggunya hasil pemeriksaan bakteriologi dan pH. (3)

yang

Pengamatan terhadap mineral dalam urine dilakukan pada uji kalsium,


fosfat, sulfat, amoniak dan klorida. Uji kualitatif urine yang pertama adalah uji
kalsium. Uji ini menunjukkan hasil yang negatif dengan tidak terbentuknya
endapan putih (kalsium oksalat) yang menunjukkan adanya kalsium. Hasil
praktikum menunjukkan urine tetap berwarna kuning jernih. Reaksi jika hasil
pemeriksaan urine positif adanya kalsium adalah sebagai berikut:
Ca2+ + C2O42- + H2O

CaC2O4 + H2O

Sebagian besar kalsium yang difiltrasi di dalam ginjal, 98-99% akan


diserap kembali. Sekitar 60 % kalsium diserap kembali di tubulus kontortus
proksimal, sedangkan sisanya diserap kembali di bagian asenden lengkung henle
dan tubulus kontortus distal. Reabsorpsi di dalam tubulus kontortus distal
merupakan proses transpor aktif yang diatur oleh hormon paratiroid. Sedangkan
reabsorpsi kalsium oleh tubulus kontortus proksimal tidak secara langsung
dipengaruhi oleh hormon paratiroid. (7)
Ca diekskresikan terutama di dalam urine dan sedikit dalam tinja. Di
dalam urine 24 jam sebanyak 1500 liter terdapat 0,03 gram Ca. Kalsium dapat
diperoleh dari produk olahan susu, kacang-kacangan, sayuran berbentuk daun. (8)
Jumlah kalsium yang diekskresikan dalam urine merupakan refleksi dari
sejumlah kalsium yan diserap dari diet. Kalsium-urine yang hilang ditingkatkan
oleh asidosis dan tingginya konsentrasi protein. Kalsium yang disekresikan dan
yang masuk ke dalam saluran pencernaan diperkirakan sama dan hanya sedikit
yang dapat diserap. (2)
Pada uji kalsium ini, urine yang diperiksa tidak mengandung kalsium.
Hasil praktikum ini dapat dipengaruhi oleh kesalahan teknis yang dilakukan
praktikan. Kesalahan teknis tersebut antara lain yaitu kebersihan peralatan yang
kurang dan kurang ketelitian dalam pengukuran.
Apabila konsumsi kalsium dalam makanan ditingkatkan, ekskresi juga
meningkat, tetapi mengurangi kalsium tidak banyak berpengaruh terhadap
banyaknya kalsium dalam urine. (3)

Pada uji Fosfat, dilakukan penambahan amonium molibdat yang berfungsi


untuk memisahkan fosfat dari zat penggangu. (9)
Hasil reaksi positif ditandai dengan terjadinya warna kuning jernih atau
endapan yang menunjukkan adanya fosfat. Reaksi :
PO42- + Amonium molibdat

Amonium fosfomolibdat

Fosfat sangat berpengaruh erat dengan kalsium. Fosfat diekskresikan


terutama di dalam urine dan sedikit dalam tinja. Di dalam urine 24 jam sebanyak
1500 liter terdapat 2,5 gram asam fosfat. (8)
Produk kalsium-fosfat pada tubulus distal, walaupun tidak terukur, adalah
faktor penentu dari apakah kalsium-fosfat akan mengendap. Lengkung henle tidak
dapat ditembus fosfat, sedangkan cabang menurun dapat menyerap air. Dengan
demikian, fosfat ditahan di tubulus, sedangkan air disingkirkan, menghasilkan
serum intratubular produk kalsium-fosfat yang lebih tinggi pada tubulus distal
dibandingkan tubulus proksimal. (10)
Berbeda dengan kalsium, 80-90% fosfat mengalami proses filtrasi di
dalam glomerulus dan sebagian besar akan direabsorpsi di tubulus proksimal
melalui proses transpor aktif. Proses ini sangat dihambat oleh hormon paratiroid.
(7)
Penyaringan fosfat yang meningkat oleh glomerulus yang disebabkan oleh
meningkatnya kadar fosfat dalam serum, umunya tidak diimbangi dengan
meningkatkan penyerapan kembali fosfat dalam ginjal. Kelebihan filtrasi fosfat ini
akan diekskresikan melalui urine sehingga sistem penyerapan fosfat menjadi
jenuh. (7)
Fosfat sangat banyak dalam makanan yang sugah diolah dalam proses,
seperti cola dan minuman ringan (tidak beralkohol) lainnya. Juga dalam
makanan yang mengandung banyak protein, misalnya daging. (2)
Ekskresi fosfat melalui urine menunjukkan bahwa varian harian dan
hubungan yang positif dengan olahraga, paling rendah segera dibangun. Resorpsi
fosfat oleh ginjal yang normalnya adalah 85% - 95%. (2)
Uji Sulfat dilakukan untuk menentukan adanya sulfat dalam urine.
Percobaan menunjukkan hasil positif ditandai terbentuk endapan seperti air susu

atau endapan putih tebal yang disebabkan terbentuknya BaSO4 yang tidak larut
dalam HCl pekat. Dalam reaksi ini dilakukan penambahan BaCL2 untuk
mencegah pengendapan fosfat. Reaksi:
Ba2+ + SO42-

BaSO4

Sulfur diserap sebagai asam amino atau berbagai sulfat-anorganik. Dalam


bentuk teroksidasi (sulfat), sulfur berasosiasi dengan mukopolisakarida, yang
digunakan agar metabolit lebih bisa larut dalam air untuk ekskresi melalui urine
yakni metabolit hormon steroid dan obat-obatan. Bila sulfur dikonsumsi sebagai
asam amino, maka yang hilang dalam urine (setelah dioksidasi menjadi sulfat)
adalah ion bebas. (2)
Pengamatan terhadap adanya nitrogen dilakukan pada uji amoniak. Pada
uji amoniak digunakan indikator fenolftalein (PP) yang ditambahkan pada urine.
Dalam percobaan ditambahkan NaOH yang bertujuan agar tercipta suasana basa.
Karena urea baru mengalami dekomposisi dan menghasilkan amoniak pada pH di
atas 8,5. Percobaan menunjukkan hasil positif yaitu terdapat lapisan tipis
berwarna merah muda pada tabung disebabkan adanya kontak antara uap amoniak
dengan fenolftalein. Karena itulah diperlukan indikator PP untuk menujukkan ada
tidaknya amoniak dengan perubahan warna menjadi merah muda.
Selanjutnya uji mineral yang lain yaitu uji klorida, uji ini bertujuan untuk
menunjukkan adanya klorida dalam urine. Pada percobaan dilakukan penambahan
HNO3 yang bertujuan untuk mencegah pengendapan urat oleh AgCl. Hasil
percobaan menunjukkan hasil positif ditandai dengan adanya endapan putih dari
AgCl. Reaksi :
Cl- + Ag+

AgCl

Klor selalu dikonsumsi dalam bentuk garam dapur (NACl). Zat mineral ini
belum pernah dilaporkan memberi gejala-gejala defisiensi. Zat klor tersedia dalam
makanan secara mencukupi dan kebutuhannya bagi tubuh manusia tidak
diketahui. (8)

PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari praktikum, maka dapat ditarik
simpulan sebagai berikut :
1. Derajat keasaman (pH) urine probandus termasuk normal yaitu sebesar 7,
berwarna kuning jernih dan berbau amoniak.
2. Komponen yang ditemukan dalam urine probandus antara lain: fosfat,
sulfat , amoniak, dan klorida.
3. Hasil positif didapatkan dari uji posfat, uji sulfat, uji klorida, dan uji
amoniak.
B. Saran
Sebaiknya penelitian terus dikaji untuk menemukan metode yang lebih
teliti dan praktis dalam melakukan analisis urine secara kualitatif sehingga dapat
digunakan untuk mendeteksi secara tepat dan akurat mengenai kelainan maupun
penyakit yang terjadi akibat kerusakan ginjal.
Saat melakukan praktikum tentang analisis kualitatif urine, praktikan
diharapkan dapat memperhatikan prosedur yang ada dalam buku petunjuk
praktikum. Hal ini mungkin dianggap mudah namun dapat berpengaruh sekali
terhadap hasil yang didapatkan pada praktikum. Oleh sebab itu, pemahaman dari
prosedur yang dijalankan dapat mengurangi kesalahan hasil praktikum yang
didapat. Ketelitian dan kerapian praktikan dalam mengerjakan percobaan ini juga
sangat diperlukan karena dapat mempengaruhi data yang didapat. Selain itu,
pembagian tugas saat praktikum juga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,
agar praktikum dapat berjalan dengan lancar dan selesai dalam waktu yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuningran, Jumari. Uji fungsi dan rekalibrasi renograf dual probe type bi-756
periode tahun 2006. Seminar Nasional III SDM Teknologi Nuklir 2007; ISSN
1978-0176.
2. Linder, Maria. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Permakaian secara
Klinis. Jakarta : Universitas Indonesia, 1992.
3. Widmann, Frances. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Jakarta : EGC, 1989.
4. Baron, D. N . 1990. Patologi Klinik. EGC, Jakarta.
5. Guyton, AC & JE Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta.
6. Gandasoebrata. 1989. Penuntun Laboratorium Klinis. FK UI, Jakarta.
7.
Wiwik MY, Ira SY, Nusdianto T. Pengaruh pemberian suplemen kalsium
karbonat dosis tinggi pada tikus putih ovariohisterektomi terhadap
mineralisasi ginjal. Jurnal Veteriner 2008;9(2):73-78.
8. Anonymous. Diktat dan Modul Biokimia. Banjarbaru : Bagian BiokimiaKimia FK UNLAM, 2010.
9.
Basset, J. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta :
EGC, 1994.
10.
Theodore IS, Anthony ES, Lynn DC. Case 27-2008: a 64-year-old man
with abdominal pain, nausea, and an elevated level of serum creatinine. The
New England Journal of Medicine 2008;359:951-960.

Banjarbaru, 10 Maret 2010


Ketua Kelompok

Adi Sucipto
NIM. I1B109215

Dosen Praktikum

dr. Edyson, M. Kes


NIP. 132163528

Anda mungkin juga menyukai