Anda di halaman 1dari 16

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi / Pengertian
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah
cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni
100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari
3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat
bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali
sehari.
2. Epidemiologi
Diare merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian pada anak di negara
berkembang, dengan perkiraan 1,3 milyar episode dan 3,2 juta kematian setiap tahun pada
balita. Secara keseluruhan anak-anak ini mengalami rata-rata 3,3 epoisode diare pertahun.
Pada daerah yang dnegan angka episode yang tinggi ini, seorang balita dapat
menghabiskan 25 % waktunya dengan diare. Sekitar 80 % kematian yang berhubungan
dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena
diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya.
Penyebab kematian lain adalah disentri, kekurangan gizi, dan infeksi serius seperti
pnemoni.
Menurut laporan Departemen Kesehatan, di Indonesia setiap anak mengalami diare 1,6
samapi 2 kali setahun. Hasil SKRT (survaey kesahatan rumah tangga) di Indonesia angka
kematian diare anak balita dan bayi permil pertahun berturut menunjukan angka sebagai
berikut ; 6,6 (balita) 22 (bayi) pertahun 1980; 3,7 (balita) dan 13,3 (bayi) pada tahun1985.
2,1 (balita) 7,3 (bayi) pada tahun 1992. 1 balita dan 8 bayi pada tahun 1995. Sementara itu
morbiditas diare tidak menunjukan hal yang sama. Dari hasil studi morbiditas oleh
DEPKES di 8 propinsi pada tahun 1989,1990,1995 berturut-turut morbiditas diare
menunjukan 78 %, 103 % dan 100 %. Apalagi dengan terjadinya krisis ekonomi yang
melanda negara Asia dimana Indonesia yang terparah, angka kejadian diare menunjukan
kenaikan. Bahkan gangguan kesehatan maupun yang terkait dengan diare seperti gangguan
gizi dan ISPA menunjukan hasil yang nyata (DEPKES RI, 1999).
3. Penyebab / Faktor Predisposisi
a Faktor infeksi

Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus,
Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan
jamur (C. albicans).

Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat


menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis
dan sebagainya.

b. Faktor Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),


monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa
merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat
pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.

c. Faktor Makanan:

Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap
jenis makanan tertentu.

d. Faktor Psikologis

Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang terjadi
tetapi dapat ditemukan pada anak yang lebih besar.

4. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1)

Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam
lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.

2)

Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningklatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare
kerena peningkatan isi lumen usus.

3)

Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap


makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.
5. Klasifikasi
Diare berdasarkan penyebabnya diapat dibagi 2:
1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
a) Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E.
Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus,
comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya
keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan,
gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
b) Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imunoglobulin A) yang mengakibatkan
terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
2.

Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:

a) malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.


b) Kurang kalori protein.
c) Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
6. Gejala Klinis
a Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan
berkurang.
b Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
c Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
d Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat
banyaknya asam laktat.
e Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun
dan mata cekung, membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.
f Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat, TD turun, denyut jantung cepat,
pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus) Diuresis
berkurang (oliguria sampai anuria).
g Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam
(Kusmaul).
7. Pemeriksaan Fisik

a.

Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar
kepala, lingkar abdomen membesar.

b.

Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.

c.

Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun
lebih

d.

Mata : cekung, kering, sangat cekung

e.

Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat >
35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum
lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum

f.

Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic
(kontraksi otot pernafasan)

g.

Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare
sedang .

h.

Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 37 5 0
c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memanjang > 2 dt,
kemerahan pada daerah perianal.

i.

Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ),
frekuensi berkurang dari sebelum sakit.

j.

Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang
berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang
ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

8. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja
a)

Makroskopis dan mikroskopis

b)

PH dan kadar gula dalam tinja

c)

Bila perlu diadakan uji bakteri

2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan


PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

5. Laboratorium :

Feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida

Serum elektrolit : Hiponatremi, Hipernatremi, hipokalemi

AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2


meningkat, HCO3 menurun)

Faal ginjal : UC meningkat (GGA)

6. Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni


9. Derajat Dehidrasi
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:
a. Kehilangan berat badan
1) Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
2) Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
3) Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%
b. Skor Mavrice King
Bagian tubuh
Yang diperiksa
Keadaan umum

Nilai untuk gejala yang ditemukan


1
2

Sehat

Gelisah, cengeng

Mengigau, koma,

Apatis, ngantuk

atau syok

Kekenyalan kulit

Normal

Sedikit kurang

Sangat kurang

Mata

Normal

Sedikit cekung

Sangat cekung

Ubun-ubun besar

Normal

Sedikit cekung

Sangat cekung

Mulut

Normal

Kering

Kering & sianosis

Sedang (120-140)

Lemas >40

Denyut nadi/mata

Kuat <120

Keterangan
-

Jika mendapat nilai 1-2 dehidrasi ringan

Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang

Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat

c. Gejala klinis
Gejala klinis

Gejala klinis

Ringan

Sedang

Berat

Kesadaran

Baik (CM)

Gelisah

Apatis-koma

Rasa haus

++

+++

N (120)

Cepat

Cepat sekali

Biasa

Agak cepat

Kusz maull

Agak cekung

Cekung

Cekung sekali

Agak cekung

Cekung

Cekung sekali

Biasa

Agak kurang

Kurang sekali

Normal

Oliguri

Anuri

Normal

Agak kering

Kering/asidosis

Keadaan umum

Sirkulasi
Nadi
Respirasi
Pernapasan
Kulit
Uub

10. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diare akut pada anak:
a

Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.


Ada beberapa hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat
dan akurat, yaitu:
1)

Jenis cairan yang hendak digunakan.


Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup

banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar
kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya
ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada
keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah
dehidrasi dengan segala akibatnya.
2)

Jumlah cairan yang hendak diberikan.


Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan

jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung
dengan cara/rumus:
Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni:
* diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB

* diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB


* diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB
Metode Perbandingan BB dan Umur
BB (kg)

Umur

PWL

NWL

CWL

Total
Kehilangan
Cairan

<3

< 1 bln

150

125

25

300

3-10

1 bln-2 thn

125

100

25

250

10-15

2-5 thn

100

080

25

205

15-25

5-10 thn

080

025

25

130

Sumber: Ngastiyah (1997)


Keterangan:
PWL

: Previus Water Lose (ml/kgBB) = cairan muntah

NWL

: Normal Water Lose (ml/kgBB) = cairan diuresis, penguapan, pernapasan

CWL

: Concomitant Water Lose (ml/KgBB) = cairan diare dan muntah yang terus

menerus
b

Dietetik
Untuk mencegah kekurangan nutrisi, diet pada anak diare harus tetap dipertahankan
yang meliputi:

Susu (ASI atau PASI rendah laktosa)

Makanan setengah padat atau makanan padat (nasi tim)

Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin)
Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)

11. Komplikasi
a

Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

Renjatan hipovolemik.

Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan


pada elektro kardiagram).

Hipoglikemia.

Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena


kerusakan vili mukosa, usus halus.

Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1.
a.

PENGKAJIAN
Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus
merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan
insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas
aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman
enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga
berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .

b.

Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 x

c.

Riwayat Penyakit Sekarang


BAB warna kuning kehijauan, bercampur lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi
encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7
hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).

d.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakaian antibiotik atau kortikosteroid jangka
panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan,
ISPA, ISK, OMA, campak.

e.

Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang
diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. Kekurangan gizi pada anak
usia toddler sangat rentan. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan
dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,

f.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.

g.

Riwayat Kesehatan Lingkungan


Penyimpanan

makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan

tempat tinggal kotor.


Pemeriksaan Fisik
Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar
kepala, lingkar abdomen membesar,

Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.

Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun
lebih

Mata : cekung, kering, sangat cekung

Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35
x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum
lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum

Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic
(kontraksi otot pernafasan)

Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare
sedang .

Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 37 5 0 c,
akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memanjang > 2 dt,
kemerahan pada daerah perianal.

Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ),
frekuensi berkurang dari sebelum sakit.

Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa
perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang
ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap
diare.
2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare

atau output berlebihan dan intake yang kurang


3. Diare berhubungan dengan faktor infeksi, inflamasi. Iritasi dan malabsorpsi.
4. Risiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap
diare
5. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare.
6. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive

3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Diagnosa 1: Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif ( diare )
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama .....x......jam diharapkan kebutuhan
cairan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
-

Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )

Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak
cekung.

Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari

Intervensi :
1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
R: Penurunan sirkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekatan
urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki
defisit
2. Kaji tanda-tanda vital, turgor kulit, mebran mukosa dan status mental sesuai indikasi
R : Mengkaji hidrasi
3. Pantau intake dan output (urin, feses, emesis)
R: Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak
adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
4. Timbang berat badan setiap hari
R: Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan
1 lt
5. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
R: Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
6. Instruksikan keluarga dalam memberikan terapi yang tepat, pemantauan masukan dan
keluaran, dan mengkaji tanda-tanda dehidrasi

R : Menjamin hasil optimum dan memperbaiki kepatuhan terhadap aturan terapeutik


7. Kolaborasi :
- Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
R: koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal
(kompensasi).
- Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
R: Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
- Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
R: anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang,
antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri
berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.
Diagnosa 2 : Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
tidak adekuatnya intake dan out put
Tujuan: Setelah diberikan asuhan perawatan selama....x..... jam diharapkan kebutuhan nutrisi
terpenuhi
Kriteria hasil :
- Nafsu makan meningkat
- BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi :
1. Observasi dan catat respons terhadap pemberian makan
R : Mengkaji toleransi pemberian makan
2. Setelah rehidrasi, instruksikan ibu menyusui untuk melanjutkan pemberian ASI
R : Hal ini cenderung mengurangi kehebatan dan durasi penyakit
3. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak
dan air terlalu panas atau dingin)
R: Serat tinggi, lemak, air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi
lambung dan sluran usus.
4. Instruksikan keluarga dalam memberikan diet yang tepat
R : Meningkatkan kepatuhan dalam program terapeutik
5. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan
makanan dalam keadaan hangat
R: situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
6. Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan

R: Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan


7. Monitor intake dan out put dalam 24 jam
R: Mengetahui jumlah output dapat merencanakan jumlah makanan.
8. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
a. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
b. obat-obatan atau vitamin ( A)
R: Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan
Diagnosa 3 : Diare berhubungan dengan faktor infeksi, inflamasi. Iritasi dan malabsorpsi.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam diharapkan pola eliminasi
kembali normal
Kriteria hasil :
-

BAB 1-2x/hari

Konsistensi lembek

Intervensi :
1. Kaji penyebab yang mempengaruhi munculnya diare
R : Mengetahui penyebab dapat digunakan untuk menentukan intervensi selanjutnya
2. Observasi bising usus, abdomen, frekuensi BAB
R : Pada diare terjadi peningkatan bising usus, perubahan bentuk abdomen dan
frekuensi BAB karena proses infeksi dan malabsorpsi
3. Ukur intake dan output pershift
R : Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak
adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
4. Hentikan makanan padat dan tinggi serat

R : Mengurangi kerja usus dalam mengabsorpsi makanan dan mengurangi frekuensi


BAB
5. Tingkatkan masukan cairan
R : Mengganti cairan yang hilang karena diare
6. Hindari makanan dan minuman yang merangsang
R : Mengurangi kerja usus dalam mengabsorpsi makanan
7. Beri penyuluhan upaya pencegahan diare
R : Memberi pengetahuan untuk keluarga tentang diare dalam upaya mencegah anak
kembali terjangkit diare
8. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi (antibiotika)

R : Membunuh bakteri penyebab munculnya diare


Diagnosa 4 : Risiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak
sekunder dari diare
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x.... jam diharapkan tidak terjadi
peningkatan suhu tubuh
Kriteria hasil:
-

Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)

Tidak terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)

Intervensi :
1. Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
R: Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)
2. Anjurkan minum yang banyak sesuai dengan kebutuhan cairan tubuh
R : membantu memenuhi kebutuahan cairan yang hilang karena peningkatan suhu
tubuh
3. Anjurkan keluarga untuk mengenakan pakaian yang lonngar dan gampang menyerap
keringat
R : membantu mempercepat pengaupan atau evaporasi
4. Berikan kompres hangat
R: merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
5. Kolaborasi pemberian antipiretik
R: Merangsang pusat pengatur panas di otak
Diagnosa 5 : Risiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan

peningkatan

frekwensi BAB (diare)


Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x..... jam diharapkan integritas
kulit tidak terganggu
Kriteria hasil :
-

Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga.

Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar.

Intervensi :
1.

Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga kebersihan perianal


R: Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman

2.

Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan

mengganti pakaian bawah serta alasnya)


R: Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan
keasaman feces
3.

Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
R: Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi
iskemi dan iritasi .

Diagnosa 6 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi.
Kriteria hasil: Mau menerima tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel.
Intervensi :
1. Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan
R: Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
2. Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
R: menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
3. Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non
verbal (sentuhan, belaian dll)
R: Kasih sayang serta pengenalan diri perawat akan menumbuhkan rasa aman pada
klien.
4. Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak
R: Mainan dapat mengalihkan perhatian dan menurunkan kecemasan anak.

EVALUASI
Dx1: Pola eliminasi kembali normal
a. BAB 1-2x/hari

b. Konsistensi lembek
Dx : Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi .
a.

Pasien tidak tampak meringis Tanda vital dalam


batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )

b.

Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata


tidak cowong, UUB tidak cekung.

c.

Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari

Dx3 : Kebutuhan nutrisi tercukupi.


a. Nafsu makan meningkat
b. BB meningkat atau normal sesuai umur
Dx4 : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
a

suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)

Tidak terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)

Dx5 : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit


a

Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga.

Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar.

Dx6 : Kecemasan berkurang


a

Klien tidak tampak lemah

Mau menerima tindakan perawatan, klien tampak tenang, tidak rewel

DAFTAR PUSTAKA
Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Ed 2. Jakarta : EGC.
Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. Jakarta:
EGC.
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. Jakarta: EGC.
Lab/ UPF IKA, 1994. Pedoman Diagnosa dan Terapi . Surabaya: RSUD Dr. Soetomo.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Nanda. 2006. Nursing Diagnosis: Definition and Classification 2005-2006. Philadelphia;
Nanda International,
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak sakit. . Jakarta : EGC
Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Suryanah,2000. Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
Wong, D.L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC