Anda di halaman 1dari 11

Nama :Komang Sudiarte Kelas:TP Non Reg 2012 (A)

Nim :1201192
Kode Of Paper : SPE SCUPN 102599
Peneliti : Eko Sumber Siswoyo Mahasiswa Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta
Metode EOR : Metode Injeksi Zat Kimia

PENDAHULUAN
Dalam tahap produksi primer dan produksi sekunder, minyak tidak dapat sepenuhnya
dikuras habis. Hal tersebut berarti, bahwa pada saat proses produksi berakhir, masih terdapat sisa
minyak yang tertinggal di dalam reservoir. Hal ini disebabkan karena tidak sempurnanya
efisiensi penyapuan reservoir dan terjebaknya minyak dalam matriks batuan. Penjebakan minyak
tersebut dipengaruhi oleh tekanan kapiler, wettabilitas reservoir, serta sifat fisik fluida dan
batuan reservoir lainnya.
Usaha untuk menguras sisa minyak yang tertinggal tersebut, dilakukan dengan metode
EOR (Enhanced Oil Recovery). Salah satu metode EOR yang dapat dipakai adalah metode
injeksi kimia. Metode injeksi zat kimia ini dapat mengatasi masalah tersebut antara lain dengan
cara-cara sebagai berikut :
1. Mengurangi mobilitas ratio antara air dengan minyak sehingga dapat meningkatkan efisiensi
penyapuan.
2. Meningkatkan efisiensi pendesakan dengan mengurangi gaya-gaya kapiler dan menurunkan
tegangan antar muka fluida.
3. Memperbesar porositas dan permeabilitas batuan sehingga dapat menghilangkan adanya
tortuocity.
4. Meningkatkan transmisibility batuan.
5. Memecahkan rigide batuan sehingga fluida dapat mengalir dengan mudah.
Dengan adanya injeksi zat kimia tersebut, berarti akan terjadi perubahan pada sifat fisik
fluida dan batuan reservoir yang berpengaruh terhadap efisiensi pendesakan dan efisiensi
penyapuan.
Metode injeksi zat kimia yang dibahas pada paper kali ini adalah injeksi micellar-polymer,
sering disebut juga dengan injeksi surfaktan-polimer atau injeksi emulsi mikro

DASAR TEORI
2.1. Konsep Pendesakan
Suatu fluida yang terdapat di dalam reservoir apabila didesak oleh fluida lainnya, maka
akan terdapat suatu zona transisi atau zona campuran. Zona tersebut mempunyai perubahan
saturasi dari fluida pendesak dan fluida yang didesaknya dengan jarak yang cukup jelas, seperti
yang terlihat pada gambar dibawah ini.

Flu

Zo Zo na M
id a
na
iny
Tra
Inje
ks

ak

Gambar 1.

isi

ns

i
Arah Pendesakan

Zona transisi akan mempunyai perubahan saturasi fluida dengan variasi 100% fluida
pendesak sampai 100% fluida yang didesak. Bagian reservoir yang diisi oleh fluida pendesak
terus bertambah besar dan minyak yang terdesak terus berkurang, karena sebagian mulai
terproduksi dari sumur produksinya.
2.1.1. Pendesakan Tak Tercampur

Pendesakan tak tercampur (immicible displacement) adalah proses pendesakan dengan


menginjeksikan fluida yang mempunyai sifat tidak mencampur dengan fluida reservoir 3).
Apabila fluida pendesak bersifat tidak membasahi, maka akan terbentuk suatu bidang
antar permukaan, antara fluida yang membasahi dan fluida yang bersifat tidak membasahi.
Fluida injeksi harus melalui bidang antar muka tersebut supaya dapat masuk ke reservoir, untuk
itu diperlukan suatu gradien tekanan pendesakan (displacement pressure). Pada lubang pori-pori
yang kecil saja gradien tekanan yang diperlukan sangat besar, terutama pada lubang bor. Dengan
demikian, pada umumnya injeksi fluida yang bersifat tidak membasahi akan lebih efisien jika
digunakan pada daerah yang mempunyai lubang pori-pori yang besar.
Apabila fluida pendesak bersifat membasahi, maka gradien tekanan pendesakan tidak
mutlak diperlukan. Proses pendesakan akan terus berlangsung selama fluida yang didesak masih
terus mengalir hingga dicapai suatu keadaan dimana fluida yang didesak akan merupakan fasa
tidak kontinyu dan mempunyai harga permeabilitas efektif mendekati harga nol yang sudah
dapat mengalir lagi.
Proses pendesakan oleh fluida membasahi lebih efisien jika dibandingkan dengan
pendesakan oleh fluida yang tidak membasahi. Hal ini terjadi karena adanya efek kapiler,
gradien saturasi di belakang front, zona transisi yang sempit dan saturasi fluida yang diinjeksi
lebih sempit.
Apabila fluida pendesak lebih viscous daripada fluida yang didesak (seperti air mendesak
gas atau minyak ringan) dan perbedaan porositas yang terdapat pada batuan reservoir tidak
begitu banyak, maka bidang front akan lebih jelas nampak. Jadi semua fluida yang didesak, baik
gas ataupun minyak akan mengalir di depan front sedangkan di belakang front hanya terdapat
saturasi sisa dari fluida-fluida yang didesak tersebut.
Apabila air yang merupakan fluida pendesak kurang viscous jika dibandingkan dengan
fluida yang didesak (misalnya minyak yang sangat berat) atau terdapatnya suatu perbedaan
porositas yang sangat besar pada reservoir tersebut, maka zona transisinya akan semakin besar
dan bidang front antara fluida pendesak dengan fluida yang didesak tidak tampak dengan jelas.
Di samping itu suatu penerobosan fluida pendesak lebih mungkin terjadi, sehingga akan
meninggalkan residu fluida yang didesak oleh minyak.
1. Mobilitas rasio

Pada suku Pertama Menunjuukan Bahwa Gaya viscous merupakan faktor yang
berpengaruh pada fraksi aliran. Pada harga saturasi tertentu, fraksi aliran fluida pendesak lebih
kecil pada mobilitas rasio yang kecil. Akibatnya terjadi keterlambatan breakthrough dan
meningkatkan efisiensi pendesakan pada volume yang diinjeksikan. Dengan kata lain, efisiensi
pendesakan pada abandonment akan lebih tinggi pada mobilitas rasio yang lebih kecil karena
berkurangnya producing cut dari fluida pendesak.

2. Tekanan Kapiler
Pada suku Kedua persamaan fraksi aliran, menunjukkan perbandingan gaya kapiler dan
gaya viscous. Gradien tekanan tekanan kapiler dalam arah aliran adalah positif, karena gradien
saturasi air dan turunan tekanan kapiler berkenaan dengan saturasi air adalah negatif. Oleh
karena itu pengaruh tekanan kapiler adalah untuk menaikkan aliran fraksional fluida pendesak
pada saturasi air yang diberikan.
Pengaruh ini lebih nyata pada saturasi air yang lebih luas, seperti didekat flood front.
Akibatnya, jika tekanan kapiler cukup, maka saturasi front akan menyebar di atas jarak tertentu.

2.1.2. Distribusi Saturasi saat Pendesakan


Pada saat injeksi fluida mulai dilaksanakan melalui suatu sumur injeksi, maka fluida
injeksi tersebut akan mengisi pori-pori yang semula ditempati oleh fluida yang didesaknya.
Fluida yang didesak tersebut akan berusaha menuju sumur produksi dengan mendesak fluida
yang terdesak didepannya.
Pada zona transisi akan terdapat suatu perkembangan saturasi, dari saturasi fluida pendesak
di belakang dan saturasi fluida yang didesak di bagian depannya. Perubahan saturasi ini tidak
dialami oleh bagian reservoir yang tidak tersapu oleh fluida pendesak. Apabila fluida yang dapat
didorong yang terdapat di muka front lebih dari satu seperti minyak dan gas, maka distribusi
saturasi yang berada di depan front akan lebih kompleks jika dibandingkan dengan hanya satu
fluida saja.
Contohnya adalah proses pendesakan air pada reservoir solution gas drive. Minyak dan gas
yang ada dalam reservoir, keduanya dapat bergerak. Gas umumnya mempunyai viskositas yang
lebih kecil dan mobilitas yang lebih besar dari minyak, sehingga gas akan lebih cepat bergerak
meninggalkan minyak. Perbedaan mobilitas ini membentuk zona tertentu didepan front yang
mempunyai saturasi minyak yang lebih besar. Zona ini disebut zona oil bank.
Dalam zona transisi fluida pendesak dan fluida yang didesak, saturasi dan fraksi aliran
fluida pendesak akan bertambah besar ke arah sumur injeksi, kemudian saturasi dan fraksi aliran
fluida yang didesak akan bertambah besar ke arah sumur produksi. Pada beberapa proses injeksi,
fluida yang diinjeksikan akan mengisi semua ruangan pori-pori di daerah reservoir yang tersapu.
Ada juga kemungkinan bahwa fluida yang diinjeksikan tidak dapat mengisi semua pori-porinya,
karena pori-pori tersebut ditempati oleh minyak, air atau gas yang merupakan suatu saturasi
residu.

2.2. Cadangan Minyak Sisa


Cadangan minyak sisa merupakan cadangan minyak yang belum dapat terproduksi pada
tahap produksi primer, karena cadangan minyak sisa tersebut terjebak dalam matrik batuan 5).
Penjebakan minyak ini disebabkan oleh adanya gaya-gaya kapiler dan tidak sempurnanya
efisiensi penyapuan dan pendesakan.
Cadangan minyak sisa dapat dibedakan menjadi dua 5), yaitu :
1. Unrecovered mobile oil, yaitu cadangan minyak sisa karena berkurangnya kemampuan
reservoir untuk mengangkatnya keatas, berkaitan dengan penurunan tekanan dan temperatur
reservoir. Cadangan ini dapat diproduksi dengan proses konvensional, yaitu dengan
memperbaiki ataupun menambah kinerja tekanan reservoir, misalnya dengan menggunakan

metode Artificial Lift, seperti Electric Submersible Pump dan Gas Lift, ataupun dengan
metode injeksi air (water flood).
2. Immobile oil, merupakan cadangan minyak yang tersisa dari produksi primer dan sekunder.
Minyak ini hanya dapat diproduksi dengan metode produksi tahap lanjut (Enhanced Oil
Recovery, EOR)
Tahap produksi primer hanya dapat memproduksi 1/3 dari OOIP, dimana 2/3 dari OOIP
tidak dapat diproduksi dengan teknologi konvensional. Penerapan teknologi EOR diharapkan
dapat memproduksi sekitar 20% - 30% dari cadangan minyak sisa tersebut, seperti yang terlihat
pada gambar dibawah ini
33%

47%
20%

Conventional

Enhanched

Future

Gambar 2.
Distribusi Perolehan Minyak berdasarkan Metode Produksi

2.3. Mobilitas Fluida


Mobilitas fluida adalah suatu ukuran yang menunjukkan kemudahan suatu fluida untuk
mengalir melalui media berpori dengan suatu gradien tekanan tertentu.Mobilitas Fluida
didefinisikan sebagai perbandingan antara permeabilitas efektif fluida tersebut terhadap
viskositasnya Mobilitas merupakan fungsi dari sifat-sifat fluida batuannya, harganya bervariasi
sesuai dengan saturasi, tekanan dan temperaturnya. Mobilitas fluida akan berbeda-beda
tergantung pada tempat fluida itu berada dan waktu pelaksanaan injeksi fluidanya. Mobilitas
fluida kadang-kadang tidak beraneka ragam harganya untuk suatu reservoir pada saat proses
pendesakan berlangsung, tetapi bila terjadi perubahan biasanya dicari harga rata-ratanya
sehingga dapat digunakan untuk perhitungan.

2.4. Efisiensi Pendesakan


Efisiensi pendesakan adalah perbandingan antara volume hidrokarbon yang dapat didesak
dari pori-pori dengan volume hidrokarbon total dalam pori-pori tersebut. Dalam kenyataannya,
efisiensi pendesakan merupakan fraksi minyak atau gas yang dapat didesak setelah dilalui oleh
front dan zona transisinya.

2.5.

Efisiensi Penyapuan

Efisiensi penyapuan didefinisikan sebagai perbandingan antara luas daerah hidrokarbon


yang telah didesak di depan front dengan luas daerah hidrokarbon seluruh reservoir atau dengan
luas daerah hidrokarbon yang terdapat pada suatu pola.

2.5.1. Efisiensi Penyapuan Areal


Efisiensi penyapuan areal didefinisikan sebagai perbandingan antara luasan reservoir
yang kontak dengan fluida pendesak terhadap luas areal total atau fraksional dari reservoir yang
tersapu oleh fluida injeksi. Pada pola sumur yang terbatasi, efisiensi tersebut dapat diperkirakan
sebagai fungsi dari bentuk pola, volume pori yang diinjeksikan dan perbandingan mobilitas.
Kegiatan perolehan minyak tahap lanjut tidak semuanya menggunakan pola sumur terbatasi,
sehingga efisiensi penyapuan areal akan lebih rendah dari coverage factor.
a. Faktor Cakupan (coverage factor)
Coverge factor (faktor cakupan) adalah perbandingan sederhana antara volume reservoir
pada sumur dengan pola yang teratur, dengan volume reservoir total,Volume reservoir digunakan
sebagai pengganti areal untuk memasukkan variasi ketebalan lapisan.
b. Korelasi Efisiensi Penyapuan Areal
Untuk sumur dengan pola yang teratur pada reservoir yang homogen, diperlukan korelasi
efisiensi penyapuan areal. Korelasi ini dipersiapkan untuk pengujian pendesakan dan dibantu
dengan beberapa pertimbangan analitik. Efisiensi penyapuan areal pada volume pori yang telah
diinjeksi, akan berkurang dengan naiknya perbandingan mobilitas. Perbandingan mobilitas akan
meningkat dengan naiknya volume yang telah diinjeksikan, sehingga harga akhir untuk efisiensi
penyapuan areal akan diambil pada harga volume pori yang telah diinjeksikan dihubungkan
dengan limiting cut yang ditentukan dalam produksi.Hal yang perlu dicatat adalah daerah harga
efisiensi penyapuan yang ditentukan dari korelasi tidak dapat menunjukkan beberapa anisotropi
(directional permeability variation) atau hetero-genitas tertentu.Pada kebanyakan korelasi
penyapuan areal, perbandingan mobilitas dihitung dengan memakai permeabilitas relatif endpoint, yang akan menghasilkan mobilitas rasio rata-rata.

INJEKSI ZAT KIMIA

Injeksi zat kimia adalah salah satu metode EOR (Enhanced Oil Recovery) dengan menginjeksikan zat kimia ke dalam reservoir, dengan tujuan utama untuk mengubah sifat fisik fluida
dan batuan reservoir yang berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi pendesakan dan
penyapuan. Untuk meningkatkan efisiensi penyapuan dapat dilakukan dengan mengurangi
perbandingan mobilitas antara fluida injeksi dengan fluida reservoir, sedangkan untuk
meningkatkan efisiensi pendesakan dapat dilakukan dengan mengurangi gaya kapiler. Di
samping itu, injeksi zat kimia juga dapat memperbesar porositas dan permeabilitas batuan
sehingga dapat menghilangkan adanya tortuocity, meningkatkan transmisibilitas, serta
memecahkan rigide batuan

Jenis Zat Kimia


Surfaktan
Tipikal monomer surfaktan kutub nonpolar (lypophile moiety) dan kutub polar
(hydrophile moiety), atau disebut juga amphiphile. Struktur kimia monomer surfaktan secara
umum dilambangkan dengan tadpole, dimana ekornya adalah kutub nonpolar dan kepalanya
sebagai kutub polar.

Jenis-jenis Surfactant yang biasa digunakan dalam injeksi zat kimia adalah sodium
dodecyl sulfate dan sulfonate.Berdasarkan pada jenis kutubnya, surfactant dapat dibedakan
menjadi 4 jenis, yaitu
Jenis

Anionics

Cationics

Nonionics

Contoh
Sulfonates, Sulfa-tes,
Carboxyla-tes, Phosphates.
Quaternary am-monium
organics, Pyridinum, Imidazolinium, Piperidi- nium.
Alkyl-, Alkyl- acyl- Acyl-,
Acylamin-do-, Aminepoly-glycol.
Aminocarboxylie Acids

Amphoterics

Polimer
Jenis-jenis polimer yang dapat digunakan dalam proses injeksi polimer antara lain adalah
xanthan gum, hydrolized polyacrylamide (HPAM), polimer gabungan (copolymer) antara
monomer asam akrilik (acrylic acid) dengan acrylamide, gabungan polimer antara acrylamide
dengan 2-acrylamide 2-metil propana sulfonat (AM/AMPS), hydroxyethylcellulose (HEC),
carboxymethyl-hydroxyethylcellulose (CMHEC), polyacrylamide (PAM), polyacrylic acid,
glucan, dextran polyacrylic oxide (PEO), dan polyvinyl alcohol. Dari semua jenis tersbut, jenis
polimer yang banyak digunakan dalam aplikasi lapangan adalah xanthan gum, hydrolized
polyacrylamide dan copolymer acrylic acid-acrylamide.
Secara garis besar, jenis polimer yang beredar di pasaran dapat digolongkan menjadi dua
jenis, yaitu polyacrylamide dan polysacharide.

Mekanisme Injeksi

Proses Injeksi Micellar Surfactan

Pencampuran antara surfaktan dengan minyak akan membentuk emulsi yang akan
mengurangi tekanan kapiler. Pada injeksi micellar-polymer kita tidak perlu menginjeksikan zat
kimia secara menerus, tetapi diikuti dengan fluida pendorong lainnya, yaitu air untuk
meningkatkan efisiensi penyapuan dan air pendorong. Skema injeksi surfaktan (micellar)
polimer standar dapat dilihat pada Gambar dibawah ini

Chase
Water

Taper

Mobility
Buffer

Slug

PreFlush

Gambar 3.
Skema injeksi surfaktan (micellar) polimer)

Secara garis besar, injeksi micellar polimer terdiri dari


Chase water , digunakan sebagai tenaga pendorong fluida injeksi dari sumur injeksi ke
sumur produksi.
Polimer slug, penggunaan polimer dalam injeksi surfactan berfungsi sebagai mobility
buffer, yaitu sebagai pengontrol mobilitas surfaktan dalam rangka effisiensi penyapuan
dan melindungi surfaktan dari fluida pendorong. Mobility buffer biasanya berupa
campuran dari 250 2500 gr/cm3 polymer, 0 - 1% alkohol, stabilizers dan biocide,
dimana volumenya berkisar antara 1 100% dari volume pori injersi (Vpf).
Micellar (Surfactan) Solution, Berupa surfactan dan tambahan oil recovering agent yang
berupa alkohol (0-5%), cosurfactan (0-5%), minyak, dan polimer. Volume larutan
berkisar antara 5 20% Vpf.
Preflush, Merupakan larutan pembuka yang berupa air garam (Na+, Ca2+) yang berfungsi
untuk menurunkan salinitas air formasi, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran
antara air formasi dengan surfaktan yang diinjeksikan. Volume dari preflush berkisar
antara 0 100% Vpf.
Larutan surfaktan yang diinjeksikan ke dalam reservoir akan bersinggungan dengan
permukaaan gelembung minyak, surfaktan bekerja sebagai zat aktif permukaan untuk
menurunkan tegangan permukaan minyak-air.Molekul surfaktan (R . SO3H) terurai menjadi
RSO3-3 dan H-2, ion RSO-3 akan bersinggungan dengan permukaan gelembung minyak dan
membentuk ikatan yang semakin kuat, gaya adhesi kecil sehingga terbentuk oil bank untuk
didorong dan diproduksikan. Slug polimer yang diinjeksikan diantara slug fresh water adalah
untuk mengurangi kontak langsung dengan air reservoir yang mengandung garam. Air garam
menurunkan viskositas polimer.
Jadi injeksi polimer tidak menurunkan saturasi minyak sisa, tetapi memperbaiki
perolehan minyak yang lebih dari injeksi air dengan menaikkan volume reservoir yang
berhubungan.

Hal-hal yang mempengaruhi Mekanisme Pendesakan


Didasarkan pada sifat dan karakteristik reservoir, serta sifat fluida injeksi, terdapat halhal yang akan berpengaruh terhadap mekanisme pendesakan pada injeksi micellar-polymer.
Hal-hal tersebut antara lain adalah :
1. Adsorbsi batuan reservoir
Adsorbsi batuan reservoir cenderung mengadsorbsi surfaktan dengan berat ekivalen yang
tinggi (500 atau lebih). Hal ini menyebabkan adanya friknisasi, semakin jauh dari titik injeksi
berat ekivalent semakin kecil. Jenis friksinasi ini yang menyebabkan recovery minyak semakin
kecil, karena fungsi petroleum sulfonat menjadi kurang aktif.
Adsorbsi batuan reservoir disebabkan karena gaya tarik-menarik antara molekul
surfaktan dengan batuan reservoir. Besarnya gaya ini tergantung dari afinitas batuan reservoir
terhadap surfaktan.
2. Clay
Sifat clay yang suka air akan menyebabkan adsorbsi yang terjadi besar sekali. Untuk
reservoir yang mempunyai salinitas rendah, peranan clay sangat dominan.

3. Salinitas
Salinitas formasi berpengaruh terhadap penurunan tegangan permukaan minyak-air. Pada
konsentrasi NaCl tertentu akan mengakibatkan penurunan tegangan permukaan minyak-air
menjadi tidak efektif lagi. Hal ini disebabkan karena ikatan kimia yang membentuk NaCl adalah
ion yang sangat mudah terurai menjadi Na++ dan Cl- , demikian juga dengan molekul surfaktan
dalam air akan terurai menjadi R . SO3-3 dan H+.
Konsekuensinya, bila dalam surfaktan flooding terdapat garam NaCl, maka akan
membentuk HCl dan R . SO3 Na, dimana keduanya bukan merupakan zat permukaan dan tidak
dapat menurunkan tegangan permukaan minyak-air.
4. Konsentrasi slug surfaktan
Konsentrasi surfaktan akan mempengaruhi adsorbsi. Semakin pekat konsentrasi
surfaktan, maka akan semakin besar adsorbsi yang dihasilkan hingga mencapai titik jenuh
dimana batuan reservoir tidak lagi mengadsorbsi surfaktan.
5. Kelakuan Polimer
Polyacrylamide dan polysacharide dikelom-pokkan dalam fluida non-newtonian karena
kelakuan alirannya terlalu kompleks yang tidak dapat dicirikan oleh satu parameter yaitu
viskocitas. Perbandingan shear rate dan shear stress tidak konstan. Karakteristik mobilitas
pengontrol dapat ditentukan dengan mengukur viskositas dan faktor screening.
6. Adsorpsi Polimer
Adsorpsi polimer tergantung dari jenis polimer dan batuan permukaan. Adsorpsi akan
naik sejalan dengan naiknya salinitas.
7. Polimer

Retention

Retensi polimer dibawah kondisi reservoir akan selalu lebih rendah dari harga yang
terukur di laboratorium.
8. Volume pori

yang tidak dapat dimasuki

Polimer mengalir melalui media berpori dengan kecepatan yang berbeda dengan air,
karena adsorpsi dan volume pori yang tidak dapat dimasuki. Adsorpsi cenderung membentuk
ujung slug polimer bergerak dengan kecepatan lebih rendah dari water bank. Volume pori yang
tidak dapat dimasuki cenderung membuat slug polimer bergerak dengan kecepatan lebih rendah
dari water bank.

APLIKASI LAPANGAN
Aplikasi lapangan yang akan dibahas pada kesempatan ini adalah pada Loudon Pilot
Field, United States, tahun 1988.
Loudon field digunakan sebagai lapangan uji coba injeksi micellar-polymer dengan
menggunakan pola five spot (4 sumur injeksi dan 1 sumur produksi ditengah, dengan jarak
masing-masing 0,68-acre).

Karakteristik Reservoir
Karaktersitik batuan :
Lapisan
Ketebalan Rata-rata
Kedalaman
Permeabilitas Rata-rata
Porositas
Var. Permeabilitas
(Dykstra-Parson)

: Missisipi Chester
(batupasir)
: 13-ft
: 1550-ft
: 150 mD
: 19 %
: 0,42

Karaktersitik fluida :
Saturasi minyak sisa
(setelah injeksi air)
Viskositas
Salinitas air formasi

: 25,5 %
: 5-cp @ 78o F
: 104.000 ppm@TDS

Desain Fluida Injeksi


Fluida injeksi dirancang untuk dapat optimal dan effektif pada reservoir dengan kadar
salinitas air formasi yang tinggi (yang perlu diperhatikan adalah perlunya pre-flush dan larutan
tidak mengandung petroleum sulfonate surfactant)
Desain pokok dari fluida injeksi yang digunakan pada Loudon Field adalah sebagai berikut
:
MicellarPolimer
Slug

Polimer
Slug
(sebagai
buffer)
Tambahan

- 40 % Volume pori (Vpf)


- Viskositas 28-cp
- Terdiri dari campuran 2,3 wt
surfaktan (selain petroleum
sulfonate) dengan air garam yang
mengandung biopolimer dengan
konsentrasi 1000 ppm.
- Viskositas 38-cp
- Berupa
air
garam
yang
mengandung biopolimer dengan
konsentrasi 1000 ppm.
- Oxigen Scavenger
- Larutan Asam, dan
- Well Tracers

Hasil Uji Coba


Hasil dari proses injeksi, mulai terlihat setelah 25 % Vpf terproduksi, yang ditandai
dengan peningkatan oil cut. Oil cut maksimum pada angka 0,26 tercapai pada saat 70 % Vpf
terproduksi. Setelah produksi mencapai 225 % Vpf , tercatat bahwa 60 % dari OOIP telah
terproduksi.Pada interpretasi log induksi menunjukkan bahwa lapisan bagian bawah memiliki
effisiensi penyapuan yang lebih besar jika dibandingkan dengan bagian atas.Sedangkan dari
penelitian fluida produksi diperoleh data adanya penurunan viscositas polimer yang sangat besar
serta pengurangan konsentrasi bakteri biopolimer.Pada akhir proses tercatat bahwa 60 % dari
fluida injeksi ikut terproduksi ke permukaan.
KESIMPULAN

1. Injeksi micellar-polymer merupakan penyem-urnaan dari injeksi air, terutama yang berkaitan
dengan effisiensi penyapuan dan peningkatan mobilitas.
2. Injeksi micellar-polymer dapat meningkatkan perolehan minyak dengan jalan
a. menurunkan tegangan permukaan antara minyak-air,
b. membentuk emulsi minyak, dan
c. memperbaiki mobilitas.
3. Masalah yang sering dihadapi dalam pelaksanaan injeksi micellar-polymer antara lain adalah :
proses yang mahal dan sukar,
masalah adsorpsi,
interaksi antara surfaktan dan polimer, serta
degradasi kimiawi pada temperatur yang tinggi.
4. Injeksi micellar-polymer akan efektif pada reservoir jenis batu pasir dengan komposisi fluida
minyak yang menengah-ringan, dan tidak efektif pada reservoir yang memiliki temperatur
serta salinitas air formasi yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Carcoana, Aurel, Applied Enhanched Oil Recovery, Englewood Cliffs, Prentice Hall, New Jersey, 1992.
2. Chang, H.L., Polymer Flooding Technology : Yesterday, Today and Tomorrow, SPE 7043, Central Expwy,
Dallas, Texas, 1978.
3. Dedy K., Pengantar Metode Produksi Tahap Lanjut, Jurusan Teknik Perminyakan, UPN Veteran
Yogyakarta, Yogyakarta, 1994.
4. Lake, W.L., Enhanched Oil Recovery, Englewood Cliffs, Prentice Hall, New Jersey, 1989.
5. Pinczewski, W.V. , Enhanced Oil Recovery, University of New South Wales Sydney, 1994.
Van Pollen, H.K., and Associates Inc., Fundamental of Enhanched Oil Recovery, PennWell Books Co., Tulsa,
Oklahoma, 1980

Anda mungkin juga menyukai