Anda di halaman 1dari 5

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2009/2010

A. Pendahuluan
Pengelasan merupakan cara yang umum digunakan untuk menyambung
logam secara permanen, dimana input panas diberikan pada logam hingga
mencair dan menyambungnya dalam suatu sambungan yang
permanen. Praktikum pengelasan merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan
di Bengkel Las PPNS-ITS, dimana salah satu proses pengelasan menggunakan las
jenis SMAW (Shielded Metal Arc Welding).
Permasalahan yang dihadapi operator las adalah desain tempat kerja
pengelasan yang tidak memadai. Sehingga muncul keluhan pada operator dari
buruknya hasil kualitas pengelasan. Operator sering mengalami nyeri tubuh
pada bagian tertentu yang beresiko pada kelelahan dan Muscoloskeletal
disorder (MSDs). Selain itu, Selain itu, tidak tersedianya tempat peletakan
busur las juga menjadi salah satu faktor penyebab kelelahan dan menurunnya
tingkat konsentrasi operator las. Berapa peneliti mulai mengakaji fenomena ini,
untuk menemukan solusi yang tepat untuk berbagai permasalahan di atas,
karena memang fenomena ini banyak teerjadi pada berbagai pekerjaan mesin
yang berhubungan dengan mengelas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan AHP (Analytical Hierarchy
Process) dan analisis ergonomi. Melalui AHP ini, dimulai dari pembentukan
hirarki sampai ditentukannya tingkat kepentingan antar kriteria dalam
merancang stasiun kerja pengelasan yang efektif, aman, dan nyaman.
Selanjutnya analisis ergonomi berusaha menyatukan kesenjangan melalui
perbaikan tempat kerja yang disesuaikan dengan kemampuan pekerja.
Ergonomi memberikan keyakinan bahwa kesesuaian antara manusia, bahan,
peralatan kerja dan lingkungan kerja akan meningkatkan produktivitas kerja.

B. Hasil Observasi
Tempat Observasi

: Bengkel Otomotif Jaya Tehnik

Alamat

: Jl. Sambi-Boyolali KM 1, Ngemplak, Boyolali

Bengkel jaya tehnik ini merupakan salah satu bengkel yang melayani berbagai
pekerjaan yang berhubungan dengan mengelas. Berbagai pekerjaan diterima,
mulai dari pengerjaan Las plat, sampai las untuk perbaikan mobil seperti truk
dan sebagainya.
Dari observasi yang kami lakukan, ada beberapa hal yang dapat ditarik
kesimpulan, utamanya yang berkaitan dengan tinjauan ergonomis terhadap
bengkel ini. Kajian ergonomi ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian,
sesuai dengan bagian-bagian yang ada di dalam bengkel.
1. Tempat/Lokasi Bengkel
Ditinjau dari lokasi bengkel terhadap jalan raya, bengkel ini kurang
ergonomis. Jarak yang terlalu dekat dengan jalan membuat pengunjung
kurang nyaman, utamanya karena kondisi yang sempit, untuk parkir, dan
sebaginya. Jarak yang terlalu dekat dengan jalan juga memberi efek
kebisingan baik pada pengunjung maupun pekerja bengkel. Dan satu lagi,
otomatis lebih berbahaya, karena dapat menimbulkan kecelakaan.
Sebaiknya, bengkel agak dimundurkan sedikit, agar memberi ruang yang
cukup pada halaman bengkel, agar teratur dan tidak semrawut
Ruang tunggu kurang ergonomis. Kursi tidak standar, karena terbuat dari
kursi panjang yang keras. Kursi juga kurang banyak, sehingga beberapa
pengunjung harus berdiri.
2. Ruangan Bengkel
Ruangan bengkel sudah cukup ergonomis. Ditinjau dari tingkat penerangan
ruangan, bengkel ini sudah cukup. Selain mendapat cahaya dari sinar
matahari, beberapa ruangan di bengkel ini juga dilengkapi dengan lampu.
Lantai yang dipakai juga cukup kuat, tidak licin, dan jarak antara peralatan
juga cukup. Dinding yang dipakai juga tidak mentereng, terkesan teduh
dengan cat putih kelabu. Ventilasi sudah cukup, karena memang bengkel ini
menggunakan sistem pintu yang dapat dibuka semuanya, sehingga tidak ada
halangan bagi sirkulasi udara keluar masuk bengkel.
Salah satu hambatan lain yang membuat ruangan ini kurang ergonomis
adalah minimnya fasillitas hiburan untuk konsumen. Padahal, rancangan
ruang seperti ini membuat pekerja merasa lebih nyaman, mengurangi
kelelahan dan membantu produktivitas. Selain itu rancangan ini membuat

pengunjung merasa nyaman dan terhibur, sehingga jika memang pengunjung


harus menunggu lama, tidak cepat bosan.
3. Ruangan Pekerja
Sayang sekali, ruangan untuk pekerja bengkel di sini kurang diperhatikan.
Tempat duduk yang dipakai tidak standar. Kursi yang ada kurang terawat,
terkesan ala kadarnya. Beberapa diantaranya sudah rusak. Tidak ada tempat
yang nyaman untuk beristirahat. Ruang ganti juga kurang memadai. Tempat
barang pribadi sangat minim, tidak cukup untuk menaruh semuanya, karena
almarinya terlalu kecil.
4. Ruangan penyimpanan alat
Ruang penyimpanan alat bisa dikatakan ergonomis, juga bisa dikatakan
tidak. Ruang penyimpanan alat menggunakan bangku besar yang digunakan
untuk meletakkan berbagai perlatan bengkel. Ditinjau dari posisi meja,
sudah cukup ergonomis. Bangku ketinggiannya sangat mudah terjangkau.
Penempatannya juga teratur, mudah dijangkau pekerja. Ruangan juga cukup
luas.
Namun, kondisi bangku yang beberapa telah lapuk membuat kondisinya
kurang ergonomis. Pada bagian tertentu, meja hampir patah. Hal ini
membahayan peralatan apabila jatuh. Secara psikologis, pekerja melihat
meja yang demikian juga kurang antusias. Kotoran berupa debu dan bekas
oli juga membuatnya lebih parah. Meja kelihatan menghitam dan kotor.
5. Pekerjaan
Pekerjaan yang kami soroti utamanya adalah pekerjaan
mengelas. Pengelasan yang dilakukan sebagian sangat tidak ergonomis.
Untuk mengelas bagian bawah body truk, pekerja harus ndelosor ke bawah
mobil. Ini sangat membahyakan. Beberapa juga harus mengelas dengan
menengadah, juga harus dengan posisi memanjat. Hal ini terjadi karena
tidak ada parkiran khusus untuk mobil besar sehingga posisi mengelas tidak
bisa standar.
Beberapa pekerjaan mengelas juga harus dilakukan dengan berjongkok, dan
obyek las ditaruh di lantai. Hal ini terjadi karena meja las yang disediakan
sangat kurang. Untuk perkerja yang dapt menggunakan meja las,
pekerjaannya sudah cukup ergonomis. Para pekerja juga diberi topeng
perlindungan, sehingga cukup safety.

Untuk beberapa ragum (tanggem) posisinya cukup ergonomis, karena


diletakkan di meja yang dapat diatur ketinggiannya sesuai tinggi badan
pekerja

Gambar di atas dapat memberi ilustrasi pekerjaan di Jaya tehnik.


Pengelasan yang dilakukan posisinya kurang ergonomis. Posisi pengelasan
kurang sejajar dengan tangan. Posisi ini akan menyebabkan beberpa gangguan
tulang, seperti Muscoloskeletal disorder. Sebaiknya, posisi benda yang akan
dilas dinaikkan sedikit, sehingga posisi mengelas ideal. Pengelas juga perlu

duduk dengan nyaman, agar tidak mudah lelah.

Gambar di atas hampir mewakili keseluruhan kerja yang kurang


ergonomis di bengkel ini. Kondisi ini sebetulnya sangat merugikan banyak pihak
pihak. Pekerja rugi, pemilik bengkel juga rugi. Karena produktifitas diyakini
menurun disebabkan kondisi fisik dan psikis pekerja yang kurang optimal.