Anda di halaman 1dari 10

Tino Widyawan, 2013, Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Manajer Proyek

Terhadap Kinerja Karyawan Pada proyek Konstruksi, Tugas Akhir Teknik Sipil Universitas
Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta.
Manager dalam proyek konstruksi merupakan bagian yang penting karena perannya
dalam berbagai hal guna mencapai kesuksesan proyek konstruksi. Dalam mencapai kesuksesan
tersebut tentunya manager proyek dibantu oleh karyawan-karyawannya. Sebagai pemimpin pasti
mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda dari tiap orangnya. Dalam sebuah organisasi atau
kelompok gaya pemimpin dalam memimpin organisasi atau kelompok tersebut akan sangat
berpengaruh terhadap kinerja karyawan atau yang dipimpinnya dalam kelompok atau organisasi
tersebut. Oleh karena itu gaya kepemimpinan dari manager proyek merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi kinerja dari karyawannya pada proyek konstruksi. Dalam penelitian ini
yang diteliti adalah bagaimana pengaruh lima jenis gaya kepemimpinan manager proyek yaitu
gaya kepemipinan autokratis, partisipatif, kendali bebas, transaksional, dan transformasional
terhadap kinerja dari karyawannya pada proyek konstruksi. Dan dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a. Dari hasil analisis rata-rata dan standar deviasi pada kelima jenis gaya kepemimpinan
manager proyek didapat gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya
kepemimpinan yang dominan dari manager proyek.
b. Dari hasil analisis regresi linier berganda dan juga uji T dari kelima gaya kepemimpinan
manager proyek yang meningkatkan kinerja karyawannya ada empat gaya kepemimpinan
yaitu autokratis, partisipatif, transaksional, transformasional sedangkan yang mengurangi
kinerja karyawannya adalah gaya kepemimpinan kendali bebas.
Wieke Yuni Christina, Ludfi Djakfar, Armanu Thoyib, 2012, Pengaruh Budaya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kinerja Proyek Konstruksi, JURNAL REKAYASA SIPIL /
Volume 6, No. 1 2012 ISSN 1978 5658
Proyek adalah sekumpulan kegiatan yang dimaksudkan untuk mencapai hasil akhir
tertentu yang cukup penting bagi kepentingan pihak manajemen. Proyek tersebut salah satunya
meliputi proyek konstruksi. Proses pembangunan proyek konstruksi pada umumnya merupakan
kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya. Salah satu fokus perusahaan kontraktor adalah
menciptakan kondisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik di proyek. Sedangkan
budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja memegang peranan yang sangat penting dalam
membentuk perilaku pekerja terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Budaya keselamatan dan kesehatan kerja dapat terbentuk dari beberapa faktor dominan,
yaitu sebagai berikut:
1. Komitmen top management
2. Peraturan dan prosedur K3
3. Komunikasi
4. Kompetensi pekerja
5. Keterlibatan pekerja
6. Lingkungan kerja
Berdasarkan penelitian terhadap para pekerja bahwa aspek yang paling berpengaruh
adalah perusahaan memberikan perlengkapan K3, dimana para pekerja akan merasa aman dan

nyaman melakukan pekerjaan konstruksi ketika dilindungi dengan adanya perlengkapan K3.
Aspek lain adalah pengawasan terhadap K3 para pekerja, dimana antara pihak manajemen dan
para pekerja terjadi hubungan yang saling memperhatikan pentingnya K3 pada proyek
konstruksi. Kinerja perusahaan jasa konstruksi dapat ditingkatkan dengan mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kinerja serta menganalisa seberapa besar
pengaruh faktor tersebut terhadap kinerja perusahaan, dalam hal ini budaya keselamatan dan
kesehatan kerja. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa budaya keselamatan kerja harus
dimulai dari top management terhadap masalah keselamatan kerja, selanjutnya pelaksanaan
konstruksi prosedur keselamatan kerja memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja
proyek konstruksi. Karena semakin tinggi budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang
diterapkan oleh top management, maka akan semakin tinggi pula kinerja suatu proyek
konstruksi.
Dewi Paramita, Rancang Bangun Sistem Informasi Kolaboratif Berbasis Web Untuk Manajemen
Proyek Teknologi Informasi, 2015, Jurnal Buana Informatika, Volume 6, Nomor 3, Juli 2015:
195-202
Dalam dunia kerja, perusahaan dituntut untuk menerapkan teknologi informasi dalam
berbagai proses bisnisnya agar dapat bersaing dengan kompetitornya, sehingga seringkali
perusahaan membutuhkan jasa dari konsultan TI. Perusahaan terkadang mengalami kesulitan
untuk memilih konsultan TI dan untuk mengontrol perkembangan proyek teknologi
informasinya. Dalam pelaksanaannya, konsultan TI sering mengalami kesulitan dalam
melakukan manajemen proyek. Tujuan dibangunnya sistem ini adalah untuk membantu
perusahaan memilih konsultan TI untuk mengerjakan proyeknya, membantu konsultan TI
melakukan manajemen proyek yang terkait dengan proses perancangan, serta pelaksanaan suatu
proyek teknologi informasi, dan juga membantu perusahaan untuk melakukan pengawasan
perkembangan proyek teknologi informasinya.
Beberapa contoh sistem informasi manajemen proyek yang banyak digunakan adalah
Microsoft Project, dan Teamwork. Masing-masing sistem informasi tersebut memiliki kelebihan
dan kekurangan yang berbeda. Berdasarkan kelebihan dan kekurangan tersebut, serta penelitianpenelitian tentang manajemen proyek yang telah dilakukan, maka akan dibangun Sistem
Informasi Kolaboratif Berbasis Web Untuk Manajemen Proyek Teknologi Informasi.
Pengguna utama sistem ini nantinya adalah konsultan TI, perusahaan kliennya, dan
pengunjung website. Konsultan TI dapat mengikuti tender pada suatu proyek, melakukan
pengelolaan proyek, pengelolaan task, pengelolaan milestone, melakukan sharing file,
pengelolaan role/jabatan dalam proyek, pengelolaan tim proyek, pengelolaan topik diskusi,
pengelolaan komentar, serta melihat laporan dan gantt charts. Sedangkan perusahaan klien dapat
memberikan penawaran proyek, memberikan proyek ke salah satu konsultan TI, melihat
perkembangan proyeknya, melihat laporan dan gantt charts dari proyek, dan berkomunikasi
dengan konsultan TI melalui fasilitas diskusi. Pengunjung website dapat mendaftar sebagai user
dari sistem ini, melihat data pengguna website, dan data penawaran proyek.
Sistem ini telah diujikan kepada 20 responden, yang terdiri dari 10 orang pegawai
software house/konsultan TI dan 10 orang klien yang pernah menggunakan jasa dari konsultan
TI. Dari hasil pengujian dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa system informasi kolaboratif

berbasis web telah berhasil dibangun, serta dapat membantu konsultan TI dan perusahaan
kliennya dalam melaksanakan manajemen proyek teknologi informasi. Adanya system informasi
kolaboratif berbasis web terbukti dapat meningkatkan kolaborasi antara konsultan TI dan
perusahaan kliennya dalam melakukan manajemen proyek teknologi informasi.

Adnan Fadjar , 2008 , Aplikasi Simulasi Monte Carlo Dalam Estimasi Biaya Proyek,
Jurnal SMARTek, Vol. 6, No. 4, Nopember 2008: 222 227
Simulasi Monte Carlo adalah metode yang digunakan dalam memodel dan menganalisa
sistem yang mengandung resiko dan ketidak-pastian. Pada bidang manajemen proyek, simulasi
Monte Carlo dapat mengkuantifikasi akibat-akibat dari resiko dan ketidak-pastian yang umum
terjadi dalam jadwal dan biaya sebuah proyek. Tulisan ini mengaplikasikan metode Monte Carlo
dalam mengsimulasikan pembiayaan sebuah proyek dengan menggunakan program Microsoft
Excel. Akurasi hasil simulasi Monte Carlo pada tulisan ini ditunjukkan oleh tingkat kesalahan
yang hanya sebesar 0,56%. Tulisan ini menunjukkan bahwa dengan berbekal pengetahuan di
bidang manajemen resiko, statistik, dan Microsoft Excel manajer proyek dapat menggunakan
metode Monte Carlo untuk memprediksi biaya total sebuah proyek berdasarkan probabilitas
yang diinginkan. Meskipun simulasi Monte Carlo adalah sebuah metode yang sangat bermanfaat
untuk diaplikasikan dalam bidang manajemen proyek, dalam praktiknya metode ini belum
banyak digunakan oleh para manajer proyek kecuali disyaratkan oleh organisasi atau
perusahaannya. alasan utama simulasi Monte Carlo jarang digunakan oleh kebanyakan manajer
proyek adalah: kurangnya pemahaman terhadap metode Monte Carlo dan statistik; alih-alih
sebagai manfaat, manajer proyek umumnya menganggap penggunaan metode ini lebih sebagai
beban terhadap organisasi atau perusahaannya. Perlu dicatat simulasi Monte Carlo bukanlah
sebuah penyedia solusi, metode ini hanya membantu kita dalam memprediksi perilaku sebuah
sistem dengan memperhitungkan unsur-unsur yang mengandung resiko dan ketidak-pastian.
Solusi sebenarnya tetap berada di tangan para manajer dengan mempertimbangkan berbagai
aspek, termasuk aspek kualitatif yang ada dalam sebuah proyek.

Mastura Labomban, 2011, MANAJEMEN RiSIKO DALAM PROYEK KONSTRUKSI


Jurnal SMARTek, Vol. 9 No. 1. Pebruari 2011: 39 46
Risiko adalah variasi dalam hal-hal yang mungkin terjadi secara alami atau kemungkinan
terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan yang merupakan ancaman terhadap properti dan

keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi. Manajemen risiko merupakan Pendekatan yang
dilakukan terhadap risiko yaitu dengan memahami, mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko
suatu proyek, kemudian mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap dampak yang
ditimbulkan dan kemungkinan pengalihan risiko kepada pihak lain atau mengurangi risiko yang
terjadi. Risiko-risiko yang terdapat pada proyek konstruksi sangat banyak, namun tidak semua
risiko-risiko tersebut perlu diprediksi dan diperhatikan untuk memulai suatu proyek karena hal
itu akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pihak-pihak didalam proyek kontruksi perlu
untuk memberi prioritas pada risiko-risiko yang penting yang akan memberikan pengaruh
terhadap keuntungan proyek. Risiko pada proyek konstruksi bagaimanapun tidak dapat
dihilangkan tetapi dapat dikurangi atau ditransfer dari satu pihak kepihak lainnya. Bila risiko
terjadi, akan berdampak pada terganggunya kinerja proyek secara keseluruhan sehingga dapat
menimbulkan kerugian terhadap biaya, waktu dan kualitas pekerjaan.
Tujuan dari manajemen risiko adalah untuk mengenali risiko dalam sebuah proyek dan
mengembangkan strategi untuk mengurangi atau bahkan menghindarinya, dilain sisi juga harus
dicari cara untuk memaksimalkan peluang yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
manajemen risiko sangat penting dilakukan bagi setiap proyek konstruksi untuk menghindari
kerugian atas biaya, mutu dan jadwal penyelesaian proyek. Melakukan tindakan penanganan
yang dilakukan terhadap risiko yang mungkin terjadi (respon risiko) dengan cara : menahan
risiko (risk retention), mengurangi risiko (risk reduction), mengalihkan risiko (risk transfer),
menghindari risiko (risk avoidance).
A. A. Diah Parami Dewi, 2010, IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR

PROFESIONALISME MANAJER PROYEK PADA PROYEK KONSTRUKSI, Jurnal Ilmiah


Teknik Sipil Vol. 14, No. 1, Januari 2010

Kegiatan proyek konstruksi melibatkan banyak sumber daya manusia. Lingkup kerja
proyek yang besar dan kompleks, yang menuntut kemampuan sesorang untuk mengelolanya
dengan baik. Konsep manajemen proyek menginginkan adanya penanggung jawab tunggal yaitu
seorang manajer proyek yang berfungsi sebagai pusat sumber informasi yang berkaitan dengan
proyek, integerator dan koordinator semua kegiatan dan peserta sesuai dengan kepentingan dan
prioritas proyek. Seorang manajer proyek mempunyai tanggung jawab yang utama dalam
memastikan bahwa suatu proyek diterapkan menurut rencana proyek. Seorang manajer proyek
harus serbaguna, tegas, dan efektif dalam penanganan permasalahan yang dikembangkan
sepanjang pelaksanaan proyek. Pemilihan seorang manajer proyek memerlukan pertimbangan
yang hati-hati sebab pemilihan manajer proyek adalah salah satu hal yang krusial dari fungsi
proyek.
Profesionalisme manajer proyek adalah salah satu kunci kesuksesan suatu proyek. Ini
berarti bahwa sebagai individu, setiap anggota tim selayaknya memiliki profesionalisme yang
dapat diandalkan untuk memahami proyek yang dikerjakan. Berdasarkan teori dari berbagai

sumber maka dapat diidentifikasi faktor-faktor profesionalisme manajer proyek pada proyek
konstruksi yaitu perencanaan, pengorganisasian, susunan kepegawaian, pengkoordinasian,
kepemimpinan, pengendalian, pengembangan dan peningkatan, pengarahan, manajemen diri dan
penetapan kebijakan.

Victor Michael Tyson Lempoy , 2013, PERANAN KONSULTAN MANAJEMEN


KONSTRUKSI PADA TAHAP PELAKSANAAN (STUDI KASUS : PEMBANGUNAN STAR
SQUARE), Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.3, Februari 2013 (215-218)
Penggunaan jasa konsultan manajemen konstruksi biasanya hanya pada proyek berskala
besar, dimana konsultan manajemen konstruksi berperan untuk mengelola manajemen proyek.
Meskipun demikian, penggunaan jasa konsultasi ini tidak menjamin suatu proyek pembangunan
bisa berjalan lancar. Berbagai permasalahan pada tahap pelaksanaan pembangunan sering terjadi.
Faktor-faktor penyebabnya antara lain: organisasi proyek yang tidak tertata rapi, sumber daya
manusia yang tidak profesional ataupun kendala alam. Oleh karena itu, perlu ditinjau apa saja
peranan konsultan manajemen konstruksi dan bagaimana implementasi peranan tersebut
dilapangan.
Setelah melakukan penelitian melalui survei lapangan dan wawancara di dapat hasil
peranan konsultan manajemen konstruksi terhadap pelaksanaan pembangunan Star Square antara
lain : Mengkoordinir dan memberi pengarah-an pada pihak-pihak yang terlibat, Mengawasi
pengadaan dan kualitas tenaga kerja, material dan peralatan dari para kontraktor. dan
Mengendalikan jadwal pelaksanaan berdasarkan jadwal induk.
Kesimpulan dari penelitian ialah pada tahap pelaksanaan pembangunan Star Square
,konsultan manajemen konstruksi cukup berperan dengan baik dalam koordinasi, walaupun ada
beberapa tugas yang tidak/belum dilaksanakan. Permasalahan yang di temui adalah terjadinya
keterlambatan dalam pengiriman material serta kurangnya peran dari konsultan dalam mengatasi
masalah ini. Namun, walau ada sedikit keterlambatan, pelaksanaan proyek ini berjalan sesuai
jadwal yang direncanakan. Dengan melihat pelaksanaan proyek Star Square, peneliti
memberikan saran agar supaya konsultan manajemen konstruksi lebih memberikan perhatian
terhadap masalah-masalah yang timbul terutama masalah keterlambatan pengiriman material,
serta mewujudkan kerja sama yang lebih baik antara pihak-pihak yang terlibat dalam proyek
sehingga akan memberikan landasan kuat bagi pelaksanaan proyek.

Arifal Hidayat , 2013, ANALISIS KINERJA TIM PROYEK TERHADAP KEBERHASILAN


PROYEK, JURNAL APTEK Vol. 5 No. 1 Januari 2013

Keberhasilan suatu tim dalam menyelesaikan pekerjaan tidak hanya tergantung kepada
manajer atau pimpinan perusahaan, melainkan atas kerjasama semua pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan pekerjaan tersebut. Tim proyek adalah salah satu substansi industri konstruksi untuk
melaksanakan proyek. Tim Proyek memiliki karakter yang unik. Struktur organisasi tim proyek
digunakan dalam proyek dengan waktu yang singkat. Tim proyek terdiri dari orang-orang yang
memiliki kompeten dalam pengetahuan dan hubungan kerja. Efektif dan efisiensi proyek kerja
tim adalah persyaratan keberhasilan proyek dalam lingkungan yang berbeda. Terdapat faktorfaktor yang akan mempengaruhi kinerja tim proyek.
Hasil analisis melalui Koefisien Konkordansi Kendall menunjukkan bahwa ada lima
faktor dominan yang mempengaruhi kinerja tim proyek yaitu membuat komunikasi yang baik
antara anggota tim, tim proyek berhasil menyelasaikan proyek tepat pada waktunya, tim
proyek berhasil menyelesaikan pekerjaan sesuai mutu yang disepakati , tim proyek berhasil
menyelesaikan pekerjaan berdasarkan alokasi biaya, dan kemampuan pimpinan untuk
memotivasi anggota tim proyek. Sementara hasil analisis menggunakan korelasi Pearson
menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja tim proyek dengan keberhasilan proyek. Faktor-faktor tersebut adalah kemampuan
anggota memecahkan masalah, saling percaya antara anggota tim, semangat dan komitmen
anggota tim, keberhasilan proyek yang pernah dikerjakan oleh anggota tim, tim berhasil
menyelesaikan pekerjaan sesuai mutu, tepat waktu, budaya perusahaan, kemampuan perusahaan
menganalisis resiko suatu proyek, dan manajemen perusahaan.

Findy Kamaruzzaman, 2012, STUDI KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PROYEK


KONSTRUKSI (STUDY OF DELAY IN THE COMPLETION OF CONSTRUCTION
PROJECTS), JURNAL TEKNIK SIPIL UNTAN / VOLUME 12 NOMOR 2 DESEMBER 2012

Pada pekerjaan proyek konstruksi biasanya terjadi kendala pada pengerjaan proyek
tersebut, baik kendala yang memang sudah diperhitungkan maupun kendala yang di luar
perhitungan perencana. Kendala tersebut menjadi penyebab terlambatnya penyelesaian proyek,
sehingga proyek tersebut tidak berlangsung sesuai dengan rencana. Keterlambatan pekerjaan
konstruksi akan menyebabkan kerugian baik moril maupun material. Pihak yang terkena dampak
kerugian tersebut adalah pihak yang berhubungan langsung dengan proyek yaitu kontraktor.
Kontraktor akan mengalami kerugian waktu dan biaya, karena keuntungan yang diharapkan oleh
kontraktor berkurang, dan tidak mencapai target yang diharapkan bahkan tidak mendapat
keuntungan sama sekali. Bagi owner, keterlambatan penyelesaian pekerjaan proyek akan
menyebabkan kerugian terhadap waktu operasi hasil proyek, sehingga penggunaan hasil
pembangunan proyek menjadi mundur atau terlambat. Dari kasus tersebut di atas maka
penyusunan jurnal ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi
penghambat pengerjaan proyek di daerah Kota Pontianak.

Bermacam-macam masalah penyebab keterlambatan proyek, antara lain masalah bahan,


tenaga kerja, peralatan, keuangan, lingkungan, dan masalah manajemen yang kurang baik. Dari
hasil penelitian terdapat berbagai macam faktor yang menjadi penyebab utama yang
mempengaruhi keterlambatan penyelesaian proyek jalan beton di Kota Pontianak adalah faktor
sosial dan budaya, faktor bahan dan faktor cuaca. Faktor bahan terdiri dari kenaikan harga bahan,
kelangkaan material dan kekurangan bahan. Dari berbagai factor penghambat terdapat berbagai
solusi dalam menghadapinya meliputi:
a. Solusi dalam menghadapi faktor sosial dan budaya adalah melakukan sosialisasi dari
tujuan dan manfaat kegiatan proyek kepada penduduk dengan melibatkan aparat
pemerintah yang meliputi Dinas Pekerjaan Umum, Aset Daerah, Kecamatan, Kelurahan,
RT/RW dan masyarakat.
b. Solusi dalam menghadapi faktor bahan adalah melakukan pemesanan lebih awal dan
melakukan perjanjian atau kontrak antara pelaksana dan penyedia bahan.
c. Solusi dalam menghadapi faktor cuaca saat pelaksanaan adalah menyiapkan penutup
plastik beton untuk mengatasi jika terjadi hujan agar mutu beton tetap terjamin.

Noerlina , 2008, PERENCANAAN

MANAJEMEN PROYEK SISTEM


INFORMASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI ONLINE BISNIS, Jurnal
Piranti Warta Vol.11 No.3 Agustus 2008: 440-450

Dalam menghadapi persaingan pada zaman perkembangan teknologi sekarang ini,


perusahaan harus melakukan kegiatan operasional menggunakan teknologi
informasi agar dapat terus bersaing. Salah satu teknologi informasi yang harus
dikembangkan adalah perangkat lunak. Perangkat lunak digunakan untuk
memudahkan pelanggan dalam melakukan transaksi ke perusahaan. Dengan
demikian, perusahaan perlu mengembangkan dan membuat perangkat lunak yang
dapat mendukung kegiatan operasional agar kegiatan operasional dapat dilakukan
dengan lebih efektif dan efisien. Salah satu cara agar perkembangan perangkat
lunak dapat berjalan dengan baik dan lancar, yaitu menggunakan teknik
manajemen proyek sistem informasi.
Dalam membuat suatu proyek sistem informasi, keberhasilan suatu proyek harus
dimulai dengan perencanaan dan penyusunan tahap yang benar serta tahap yang
sistematis. Manajemen proyek yang baik turut menentukan keberhasilan
perusahaan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengakhiri proyek.
Dalam pengembangan proyek Online bisnis yang akan dilaksanakan, perusahaan
harus menentukan posisi Project Leader yang umumnya ditempati oleh manajer
departemen IT perusahaan. Pra-perencanaan dan pengumpulan data proyek yang
diperlukan, dilakukan mulai dari perusahaan beralih kepemimpinan. Setelah praperencanaan dan pengumpulan data proyek telah selesai, dilakukan perencanaan
oleh Project Leader kemudian langsung membentuk tim proyek yang dibagi menjadi
empat bagian, yaitu bagian server side, client side, database/network, dan

analysis/design. Setelah membentuk tim proyek, Project Leader langsung


melakukan pembagian tugas kepada masing-masing bagian dalam tim proyek.
Dalam pengembangan proyek Online bisnis terdapat beberapa faktor kunci
kesuksesan proyek tersebut yang terdiri dari, pertama, Misi Proyek. Kedua,
Dukungan dari Manajemen Atas. Ketiga, Perencanaan dan Penjadwalan. Keempat,
Personel dan Kemampuan Teknis. Kelima, Pemantauan, Pengendalian, dan
Feedback.

PENDAYAGUNAAN TENAGA KERJA PADA


PROYEK KONSTRUKSI (STUDI KASUS: PT TRAKINDO UTAMA MANADO), Jurnal
Pricilia Asmita Wowor, 2013,

Sipil Statik Vol.1 No.6, Mei 2013 (459-465) ISSN: 2337-6732

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah memacu perkembangan
industri yang ada di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari semakin banyaknya proyek yang ada
dan dilaksanakan berbagai teknologi dan inovasi baru yang diterapkan. Akan tetapi dengan
perkembangan ini banyak juga pelaksanaan suatu proyek tidak dibarengi dengan penggunaan
tenaga kerja yang terampil dibidangnya serta perencanaan dan pola pendayagunaanya tidak
diterapkan secara baik bahkan tidak direncanakan secara tepat. Pendayagunaan tenaga kerja
yang kurang baik dan tidak tepat akan menjadi sumber masalah yang sangat besar. Hal ini
dikarenakan sumber daya tenaga kerja merupakan satu sumber daya yang sangat penting dalam
pelaksanaaan suatu proyek. Oleh karena itu dalam pelaksanaan suatu proyek harus ada suatu pola
pendayagunaan yang tepat agar sasaran yang di capai dapat terwujud.
Proyek yang diteliti ialah PT. Trakindo Utama, dengan konsultan PT. Deserco dan
sebagai kontraktor untuk pekerjaan sipil dan arsitektur adalah PT. Cakra Buana Megah yang
membidangi pekerjaan struktur bangunan. Dimana struktur bangunan menggunakan konstruksi
baja. Karena aktivitas pekerjaan banyak menggunakan baja maka banyak sumber daya tenaga
kerja yang digunakan adalah tenaga terampil yang didatangkan kontraktor dari Jawa, dengan
alasan bahwa tenaga kerja dari Jawalah yang terampil dan mengerti tentang pekerjaan yang di
laksanakan. Pada proyek ini tenaga kerja yang ada ditempatkan sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan yang ada, Yaitu untuk setiap pekerjaan ditempatkan 1 orang mandor, untuk mengawasi
pelaksanaan pekerjaan dan juga beberapa orang pekerja untuk pelaksanaan tersebut. Sistem
pemberian upah pada tenaga kerja selama pengamatan pekerjaan diperhitungkan dengan
seberapa besar volume produk yang dihasilkan perhari. Tenaga kerja yang ada dipekerjakan
bergiliran dan dibagi giliran. Untuk pembagian kerja pagi atau malam dilakukan bila ada kerja
lembur.Untuk mendapatkan tenaga kerja yang efisien dan optimal perlu diperhatikan beberapa
hal berikut:
Disiplin tenaga kerja dalam bekerja perlu ditingkatkan

Perlu adanya peningkatan penga-wasan terhadap tenaga kerja, sehingga pekerja lebih
rajin dan ulet lagi.
Perencanaan jumlah tenaga kerja dalam setiap pelaksanaan setiap pekerja harus dibuat
sebaiknya dengan suatu pola pendayagunaan yang tepat salah satunya dengan adanya
perataan sumber daya tenaga agar tidak akan terjadi kekurangan tenaga dan
menghindarkan dari PHK.

Gede Wira Hadinata, 2013, ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

PEMBENGKAKAN REALISASI BIAYA TERHADAP RENCANA ANGGARAN


PELAKSANAAN PADA PROYEK

KONSTRUKSI GEDUNG,

Jurnal Ilmiah Elektronik Infrastruktur Teknik Sipil, Volume 2, No.

2, April 2013

Pada pelaksanaan proyek konstruksi, pembiayaan merupakan bahan pertimbangan utama


karena biasanya menyangkut jumlah yang besar dan rentan terhadap resiko kegagalan.
Pembiayaan suatu proyek konstruksi tidak terlepas dari pengaruh situasi ekonomi. Pada
pembiayaan suatu proyek konstruksi terdapat beberapa jenis anggaran proyek yang fungsinya
untuk mendapatkan suatu perkiraan biaya atau anggaran. Rencana anggaran biaya (RAB)
merupakan besarnya biaya yang diperkirakan akan digunakan dalam pekerjaan suatu proyek
konstruksi yang disusun berdasarkan gambar.
Terdapat beberapa masalah yang sering timbul dalam proyek konstruksi, misalnya
masalah perubahan biaya proyek sehingga pengendalian biaya proyek merupakan hal yang
sangat penting menentukan keberhasilan kontraktor dalam proyek yang ditanganinya. Dalam hal
ini, pihak kontraktor harus dapat mengelola proyek yang dikerjakan agar tidak terjadi
pembengkakan realisasi biaya proyek (RBP). Berdasarkan hasil analisis pada penelitian dapat
disimpulkan bahwa, Faktor-faktor yang menjadi penyebab pembengkakan realisasi biaya proyek
terhadap RAP terdiri dari 32 faktor diantaranya adalah Pemilihan alat berat, biaya sewa
peralatan, dan pemilihan material yang digunakan. Pemilihan alat berat merupakan sub factor
yang paling dominan penyebab pembengkakan realisasi biaya proyek.
Evan Zulis, STRATEGI PENAWARAN UNTUK MEMENANGKAN TENDER PROYEK
KONSTRUKSI, jurnal Teknik Sipil FT Untan
Dalam upaya mendapatkan pekerjaan pada sektor jasa konstruksi hampir selalu melalui proses yang
dinamakan pelelangan. Proses ini menjadi sangat penting bagi pengusaha jasa konstruksi, karena kelangsungan
hidupnya sangatlah tergantung dari berhasil atau tidaknya proses ini. Penetapan harga pelelangan ditentukan oleh

Permasalahan utama kontraktor


dalam mengajukan penawaran adalah menempatkan harga penawaran tidak dapat diajukan
terlalu tinggi dengan harapan untuk mendapatkan profit yang besar. sebaliknya tidak dapat
mengajukan harga terlalu rendah dengan harapan peluang mendapatkan proyek semakin besar.
Dua kondisi yang berlawanan ini berlangsung dalam waktu yang sama, sehingga akan sangat
menyulitkan kontraktor untuk menentukan harga penawaran. Dalam penawaran pelelangan
proyek, segala sesuatunya harus nampak jelas dan rasional, sehingga hal ini sangat penting
dalam menentukan strategi penawaran yang tepat.
berbagai pertimbangan dan terkadang hanya berdasarkan naluri bisnis.

Salah satu strategi penawaran yang ada, adalah model gates yang memiliki kelebihan, yaitu
dapat menghasilkan mark up optimum yang lebih besar dibanding model lainnya. mark up
adalah selisih harga penawaran dengan biaya Estimasi dibagi dengan biaya estimasi dalam
besaran persen. Model Strategi penawaran Gates mengasumsikan bahwa estimasi biaya adalah
sama dengan biaya aktual.
Dari hasil analisa didapatkan hasil pembahasan dimana untuk menggunakan model gates yang
dipakai dalam suatu penawaran sangat tergantung dari keadaan pesaing, dalam arti apakah
pesaing mengerti model, pesaing tidak membutuhkan pekerjaan karena sudah mempunyai
banyak pekerjaan, atau pesaing lagi sangat memerlukan pekerjaan.
Dalam menyusun strategi penawaran untuk memenangkan tender, model gates pesaing tidak
dikenal dapat digunakan sebagai gambaran dalam meletakkan harga penawaran dengan analisis
data tahun-tahun sebelumnya. Pemenang tender adalah penawar yang meletakkan harga terendah
tanpa mengabaikan pertangungjawaban mutu dan kualitas pekerjaan. Kebiasaan peserta lelang
mendokumentasikan riwayat penawaran pesaingnya akan sangat membantu dalam mendeteksi
mark up yang diterapkan oleh pesaingnya.