Anda di halaman 1dari 9

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Sekolah

: SMK Negeri 1 Udanawu Blitar

Mata Pelajaran

: Prinsip-prinsip Bisnis Ritail (Paket Keahlian C3 Pengelolaan Bisnis


Ritail)

Kelas/Semester

: XI / Ganjil

Pertemuan ke

: 1 s.d 8

Alokasi Waktu

: 2 x 45 menit (16 jp)

Materi Pokok

: Pengertian, peran dan Fungsi Bisnis Ritail

A. Kompetensi Inti
1.

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

2.

Menghayatidan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong,


kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktifdan menunjukan sikap sebagai
bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

3.

Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan


metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan,

kebangsaan, kenegaraan, dan

peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah.
4.

Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan
tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.

B. Kompetensi Dasar.
1.1

Memahami nilai-nilai keimanan dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas


alam terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya

1.2

Mendeskripsikan kebesaran Tuhan yang menciptakan berbagai sumber energi di alam

1.3

Mengamalkan nilai-nilai keimanan sesuai dengan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari

2.1

Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun;
hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam
aktivitas sehari-hari .

2.2

Menghargai kerja individu dan kelompok sebagai wujud implementasi dalam melaksanakan
Penbelajaran.

3.1
4.1

Mendiskripsikan pengertian, peran dan fungsi bisnis ritel.


Mempresentasikan pengertian, peran dan fungsi bisnis ritel

C. Indikator Pencapaian Kompetensi


Kognitif
Menyebutkan pengertian bisnis ritail.
Menyebutkan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan usaha ritail.
Menjelaskan peran bisnis ritail.
Menjelaskan fungsi-fungsi bisnis ritail.
Menyebutkan kelebihan dan kekurangan bisnis ritail
Psikomotor
Mempresentasikan pengertian, peran dan fungsi bisnis ritel
Menganalisis kebijakan-kebijakan pemerintah pada bisnis ritail.
D. Tujuan Pembelajaran :
Kognitif
Siswa mampu menyebutkan pengertian bisnis ritail.
Siswa mampu menyebutkan faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan usaha ritail.
Siswa mampu menjelaskan peran bisnis ritail.
Siswa mampu menjelaskan fungsi-fungsi bisnis ritail.
Siswa mampu menyebutkan kelebihan dan kekurangan bisnis ritail
Psikomotor
Siswa mampu mempresentasikan pengertian, peran dan fungsi bisnis ritel
Siswa mampu menganalisis kebijakan-kebijakan pemerintah pada bisnis ritail.
E. Materi Pokok :
Pendahuluan
Pengertian bisnis ritail.
Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan usaha ritail.
Peran bisnis ritail.
Fungsi-fungsi bisnis ritail.
Kelebihan dan kekurangan bisnis ritail
Kebijakan-kebijakan pemerintah pada bisnis ritail.
F. Metode Pembelajaran
Pendekatan

: Scientific (Keterampilan Proses dan Kooperatif)

Model

: Kooperatif

Metode

: discovery dan diskusi 7

G. Langkah-langkah Pembelajaran :
No

Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan
a. Orientasi
1. Membuka pelajaran dengan salam secaran komunikatif.
2. Memeriksa kehadiran siswa secara komunikatif, disiplin dan
tanggung jawab.
b. Apersepsi
1. Siswa diajak mengamati kondisi riil perkembangan bisnis ritail,
dengan menunjukkan perbedaan yang mencolok antara pasar
1
tradisonal dengan toko-toko modern dengan contoh gambar
sehingga dapat menarik minat dan kreatifitas dari siswa.
2. Siswa diarahkan untuk menjabarkan tujuan pembelajaran.
c. Motivasi
1. Memperhatikan minat siswa secara toleransi dan demokratis.
2. Menumbuhkan sikap berani siswa dalam menyampaikan
pendapat.
3. Menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang
disampaikan.
Kegiatan Inti
a. Siswa mempelajari dan mengamati materi tentang pengertian, ruang
lingkup, peran dan fungsi bisnis ritail dengan menggunakan
berbagai media.
Siswa diminta membaca secara sungguh-sungguh modul yang
berkaitani. .
b. Kegiatan Diskusi
1. Siswa berkelompok berjumlah 4-5 siswa, menurut kategori
yang diusulkan siswa.
2. Siswa membaca, mengamati dan mendiskusikan materi.
2
3. Siswa saling berinteraksi dalam pelaksanaan diskusi
4. Siswa membuat kesimpulan dengan bimbingan guru.
5. Beberapa kelompok untuk presentasi di depan kelas
6. Siswa mengerjakan soal-soal latihan.
7. Soal latihan dibahas bersama agar siswa mengetahui letak
kesalahan dari jawabannya di dalam soal-soal latihan.
c. Kegiatan akhir
1. Siswa bertanya dan mengajukan pendapatnya.
2. Memberikan pelatihan dengan soal-soal latihan.
3. Membahas soal latihan, agar siswa mengetahui letak kesalahan
dari jawabannya di dalam soal-soal latihan.

Wakt
u

Penilaian
1 2 3

Penutup
a. Melakukan tanya jawab tentang materi yang disampaikan secara
bersahabat dan komunikatif.
b. Menyimpulkan materi yang disampaikan secara komunikatif.
c. Memberikan tugas kepada para siswa dengan toleransi, disiplin dan
tanggung jawab.
d. Menyampaikan salam penutup secara komunikatif.

H. Sumber Belajar.
1. Ngadiman, 2008, Pemasaran Jilid 1, Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta.
2. Ngadiman, 2008, Pemasaran Jilid 2, Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta
3. Rozaniwati, Tata Purwata, 2010, Modul Membuka Usaha Eceran / Ritel, Erlangga :
Jakarta.
4. Sopiah Syihabudhin, 2008, Manajemen Bisnis Ritel, Yogyakarta : Penerbit Andi
5. Sumber Internet
I.

Media Pembelajaran
1. Makalah download dari internet.
2. Materi presentasi dengan power point

J. PENILAIAN HASIL BELAJAR


a. Teknik Penilaian
:
1. Tes tertulis
2. Penugasan / tes perbuatan
b. Bentuk Instrumen
:
1. Tes.
a. Uraian
b. Soal Essay
2. Non Tes
Lembar pengamatan diskusi
Form penilaian sikap

Mengetahui
Kepala SMK N 1 Udanawu Blitar

Blitar, 14 Juli 2014


Guru Mata Pelajaran

Drs. HARTOYO, M.M.


NIP. 195701011982031029

Moerdoko, S.Pd.
NIP. 196707302006041005

LAMPIRAN 1 : MATERI AJAR


A. Pengertian Usaha Eceran/Ritel
Kata Ritel berasal dari bahasa perancis, retailler , yang berarti memotong atau memecahkan
sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Eceran berarti secara satu-satu; sedikit-sedikit
(tentang penjualan atau pembelian barang); ketengan. Usaha eceran/ritel adalah semua kegiatan
yang terlibat dalam penjualan atau pembelian barang, jasa ataupun keduanya secara sedikit-sedikit
atau satu-satu langsung kepada konsumen akhir untuk keperluan konsumsi pribadi, keluarga,
ataupun rumah tangga dan bukan untuk keperluan bisnis (dijual kembali). Usaha eceran atau ritel
tidak hanya terbatas pada penjualan barang, seperti sabun, minuman, ataupun deterjen, tetapi juga
layanan jasa seperti jasa potong rambut, ataupun penyewaan mobil.
Usaha eceran/ritel pun tidak harus selalu di lakukan di toko, tapi juga bisa dilakukan melalui
telepon atau internet, disebut juga dengan eceran/ritel non-toko.
Secara garis besar, usaha ritel yang berfokus pada penjualan barang sehari-hari terbagi dua, yaitu
usaha ritel tradisional dan usaha ritel modern. Ciri-ciri usaha ritel tradisional adalah sederhana,
tempatnya tidak terlalu luas, barang yang dijual tidak terlalu banyak jenisnya, sistem
pengelolaan / manajemennya masih sederhana, tidak menawarkan kenyamanan berbelanja dan
masih ada proses tawar-menawar harga dengan pedagang, serta produk yang dijual tidak
dipajang secara terbuka sehingga pelanggan tidak mengetahui apakah peritel memiliki barang
yang dicari atau tidak.
Sedangkan usaha ritel modern adalah sebaliknya, menawarkan tempat yang luas, barang yang
dijual banyak jenisnya, sistem manajemen terkelola dengan baik, menawarkan kenyamanan
berbelanja, harga jual sudah tetap (fixed price) sehingga tidak ada proses tawar-menawar dan
adanya sistem swalayan / pelayanan mandiri, serta pemajangan produk pada rak terbuka sehingga
pelanggan bisa melihat, memilih, bahkan mencoba produk terlebih dahulu sebelum memutuskan
untuk membeli.
B. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Usaha Ritel
Ada tiga faktor yang dapat mendorong usaha ritel berhasil, antara lain sebagai berikut.
1. Lokasi Usaha
Faktor utama yang harus diperhatikan dalam memulai atupun mengembangkan usaha ritel
adala faktor lokasi. Panduan dalam memilih lokasi usaha ritel yang baik menurut Guswai
(2009) adalah sebagai berikut.:
a. Terlihat (visible)
Lokasi usaha ritel yang baik adalah harus terlihat oleh banyak orang yang lalu lalang di
lokasi tersebut.
b. Lalu lintas yang padat (heavy traffic)
Semakin banyak lokasi usaha ritel dilalui orang, maka semakin banyak orang yang tahu
mengenai usaha ritel tersebut.
c. Arah pulang ke rumah (direction to home)
Pada umumnya, pelanggan berbelanja di suatu toko ritel pada saat pulang ke rumah.
Sangat jarang orang berbelanja pada saat akan berangkat kerja.
d. Fasilitas umum (public facilities)
Lokasi usaha ritel yang baik adalah dekat dengan fasilitas umum seperti terminal angkutan
umum, pasar, atau stasiun kereta. Fasilitas umum tersebut bisa menjadi pendorong bagi
sumber lalu lalang calon pembeli/pelanggan untuk kemudian berbelanja di toko ritel. Hal
ini disebut dengan impulsive buying atau pembelian yang tidak direncanakan.
e. Biaya akuisisi (acquisition cost)
Biaya merupakan hal yang harus dipertimbangkan dalam berbagai jenis usaha. Peritel
harus memutuskan apakah akan membeli suatu lahan atau menyewa suatu lokasi tertentu.
Peritel hendaknya melakukan studi kelayakan dari sisi keuangan untuk memutuskan suatu
lokasi usaha ritel tertentu.
f. Peraturan/perizinan (regulation)
Dalam menentukan suatu lokasi usaha ritel harus juga mempertimbangkan peraturan yang
berlaku. Hendaknya peritel tidak menempatkan usahanya pada lokasi yang memang tidak
diperuntukan untuk usaha, seperti taman kota dan bantaran sungai.
g. Akses (access)

Akses merupakan jalan masuk dan keluar menuju lokasi. Akses yang baik haruslah
memudahkan calon pembeli/pelanggan untuk sampai ke suatu usaha ritel. Jenis-jenis
hambatan akses bisa berupa perubahan arus lalu lintas atau halangan langsung ke lokasi
toko, seperti pembatas jalan.
h. Infrastruktur (infrastructure)
Infrastruktur yang dapat menunjang keberadaan suatu usaha ritel, antara lain lahan parkir
yang memadai, toilet, dan lampu penerangan. Hal tersebut dapat menunjang kenyamanan
pelanggan dalam mengunjungi suatu toko ritel.
i. Potensi pasar yang tersedia (captive market
Pelanggan biasanya akan memilih lokasi belanja yang dekat dengan kediamannya.
Menetapkan lokasi usaha ritel yang dekat dengan pelanggan akan meringankan usaha
peritel dalam mencari pelanggan.
j. Legalitas (legality)
Untuk memutuskan apakah membeli atau menyewa sebuah lokasi untuk menempatkan
usaha, peritel harus memastikan bahwa lokasi tersebut tidak sedang memiliki masalah
hukum (sengketa). Segala perjanjian jual beli maupun sewa-menyewa hendaknya
dilakukan di hadapan notaris. Pihak notaris akan memeriksa kelengkapan dokumen
sebelum melakukan pengesahan jual beli ataupun sewa-menyewa.
Kesalahan dalam menentukan lokasi usaha ritel dapat memiliki dampak jangka panjang.
Peritel harus mempertimbangkan biaya yang sudah dikeluarkan ketika menjalankan usaha ritel
seperti pemasangan listrik, jaringan sistem komputer, dan dekorasi bangunan. Memindahkan
bisnis ke lokasi yang baru yang dinilai akan lebih menguntungkan juga bukan hal yang mudah
karena harus mempertimbangkan barbagai hal, seperti luas ruangan yang dibutuhkan, dekorasi
ruangan, perizinan, dan lain sebagainya.
2. Harga yang tepat
Usaha ritel biasanya menjual produk-produk yang biasa dibeli/dikonsumsi pelanggan seharihari. Oleh karena itu, pelanggan bisa mengontrol harga dengan baik. Jika suatu toko menjual
produk dengan harga yang tinggi, maka pelanggan akan pindah ke toko lain yang menawarkan
harga yang lebih rendah, sehingga toko menjadi sepi pelangaan. Sebaliknya, penetapan harga
yang terlalu murah mengakibatkan minimnya keuntungan yang akan diperoleh, sehingga
peritel belum tentu mampu menutup biaya-biaya yang timbul dalam menjalankan usahanya.
3. Suasana toko
Suasana toko yang sesuai bisa mendorong pelanggan untuk datang dan berlama-lama di dalam
toko, seperti memasang alunan musik ataupun mengatur tata cahaya toko. Ada dua hal yang
perlu di perhatikan untuk menciptakan suasana toko yang menyenangkan, yaitu eksterior toko
dan interior toko.
a. Eksterior toko, meliputi keseluruhan bangunan fisik yang bisa dilihat dari bentuk
bangunan, pintu masuk, tangga, dinding, jendela dan sebagainya. Eksterior toko berperan
dalam mengounikasikan informasi tentang apa yang ada didalam gedung, serta dapat
membentuk citra terhadap keseluruhan tampilan toko.
b. Interior toko, meliputi estetika toko, desain ruangan, dan tata letak toko, seperti
penempatan barang, kasir, serta perlengkapan lainnya
Jika pelanggan menangkap eksterior toko dengan baik, maka ia akan termotivasi untuk
memasuki toko. Ketika pelanggan sudah memasuki toko, ia akan memperhatikan interior
toko dengan cermat. Jika pelanggan memiliki persepsi / anggapan yang baik tentang suatu
toko, maka ia akan senang dan betah berlama-lama didalam toko.
c. Selain eksterior dan interior toko, faktor penting lainnya yang memengaruhi keberhasilan
toko adalah pramuniaga. Pramuniaga menentukan puas tidaknya pelanggan setelah
berkunjung sehingga terjadi transaksi jual beli ditoko tersebut. Pramuniaga yang
berkualitas sangat menunjang kemajuan toko. Pramuniaga sebaiknya mampu menarik
simpati pelanggan dengan segala keramahannya, tegur sapanya, informasi yang diberikan,
cara bicara, dan suasana yang bersahabat.
C. Peran dan Fungsi Usaha Ritel

1. Peran Usaha Ritel


Produsen menjual produknya kepada grosir (wholesaler). Kemudian grosir menjualnya
kepada pedagang eceran / ritel ( pengecer / peritel). Pengecer / peritel adalah orang-orang atau
toko yang kegiatan utamanya mengecerkan barang. Mereka menjual barang pada konsumen akhir.
Pemasaran ritel ini sangat penting artinya bagi produsen karena melalui usaha ritel, produsen
dapat memperoleh informasi berharga mengenai produknya. Produsen dapat mewawancarai
peritel mengenai pendapat konsumen mengenai bentuk, rasa, daya tahan, harga dan segala sesuatu
mengenai produknya. Selain itu juga dapat diketahui mengenai kondisi perusahaan pesaing.
Produsen dan peritel dapat menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Produsen dapat
memasang iklan, mengadakan undian, atau memberi hadiah kepada konsumen melalui toko-toko
peritel. Kadang kala ada produsen yang langsung memberikan bonus kepada peritel.
Usaha ritel memberikan kebutuhan ekonomis bagi pelanggan melalui lima cara, antara
lain :
a. Memberikan suplai / pasokan barang dan jasa pada saat dan ketika dibutuhkan
konsumen/pelanggan dengan sedikit atau tanpa penundaan. Usaha ritel biasanya berlokasi
didekat rumah pelanggan, sehingga pelanggan bisa dengan segera mendapatkan suatu produk
tanpa perlu menunggu lama.
b. Memudahkan konsumen/pelanggan dalam memilih atau membandingkan bentuk, kualitas, dan
barang serta jasa yang ditawarkan. Pelanggan mungkin hanya ingin lebih dari sekedar
mendapatkan barang yang diinginkan pada tempat yang nyaman. Mereka hampir ingin selalu
belanja di mana bisa mendapatkan kemudahan memilih, membandingkan kualitas, bentuk, dan
harga dari produk yang diinginkan. Dalam menarik dan memuaskan pelanggan, para peritel
biasanya akan berusaha menciptakan suasana belanja yang nyaman.
c. Menjaga harga jual tetap rendah agar mampu bersaing dalam memuaskan pelanggan.
d. Membantu meningkatkan standar hidup masyarakat. Produk yang dijual dalam usaha ritel,
tergantung pada apa yang dibeli dan dikonsumsi oleh masyarakat. Upaya promosi yang
dilakukan, tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat mengenai beragam produk
barang dan jasa, tetapi juga dapat meningkatkan keinginan pelanggan untuk membeli. Hasil
akhirnya adalah peningkatan standar hidup dan penjualan produk.
e. Adanya usaha ritel juga memungkinkan dilakukannya produksi besar-besaran (produksi
massal). Produksi massal tidak akan dapat dilakukan tanpa sistem pengecer yang efektif dalam
mendistribusikan produk yang dibuat secara massal bagi pelanggan.
Peran ritel dalam kehidupan perekonomian secara keseluruhan, yaitu sebagai pihak akhir
(final link) dalam suatu rantai produksi, yang dimulai dari pengolahan bahan baku, sampai
dengan distribusi barang (dan jasa ) ke konsumen akhir.
2. Fungsi Usaha Ritel
Fungsi usaha ritel dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan antara lain :
a. Melakukan kegiatan usahanya di lokasi yang nyaman dan mudah di akses pelanggan,
seperti di sekitar rumah-rumah penduduk,
b. Memberikan beragam produk sehingga memungkinkan pelanggan bisa memilih produk
yang diinginkan,
c. Membagi produk yang besar sehingga dapat dijual dalam kemasan/ukuran yang kecil,
d. Mengubah produk menjadi bentuk yang lebih menarik. Adakalanya untuk meningkatkan
penjualan, peritel menggunakan promosi beli satu gratis satu. Dalam hal ini, produk
dikemas secara menarik sehingga pelanggan tertarik untuk
e. Menyimpan produk agar tetap tersedia pada harga yang relatif tetap,
f. Membantu terjadinya perubahan (perpindahan) kepemilikan barang, dari produsen ke
konsumen,
g. Mengakibatkann perpindahan barang melalui sistem distribusi,
h. Memberikan informasi, tidak hanya ke pelanggan, tapi juga ke pemasok,
i. Memberikan jaminan produk, layanan purna jual, dan turut menangani keluhan pelanggan,
j. Memberikan fasilitas kredit dan sewa. Contohnya, jasa penyewaan mobil yang kegiatan
usahanya menyewakan mobil, atau toko komputer yang menyediakan fasilitas pembelian
komputer jinjing (laptop) secara kredit.
D. Kelebihan Dan Kekurangan Usaha Ritel

Usaha ritel memiliki kelebihan dan kekurangannya dalam kegiatannya. Kelebihan dan kekurangan
usaha ritel, antara lain sebagai berikut.
1. Kelebihan Usaha Ritel
Kelebihan usaha ritel, antara lain :
a. Modal yang diperlukan cukup kecil, namun keuntungan yang diperoleh cukup besar.
b. Umumnya lokasi usaha ritel strategis. Mereka mendekatkan tempat wisata dengan tepat
berkumpul konsumen, seperti didekat pemukiman penduduk, terminal bis, atau kantorkantor.
c. Hubungan antara peritel dengan pelanggan cukup dekat, karena adanya komunikasi dua
arah antara pelanggan dengan peritel.
2. Kekurangan Usaha Ritel
Kekurangan usaha ritel, antara lain :
a. Keahlian dalam mengelola toko ritel berskala kecil kurang diperhatikan oleh peritel.
Usaha ritel berskala kecil terkadang dianggap hanyalah sebagai pendapatan tambahan
sebagai pengisi waktu luang, sehingga peritel kurang memperhatikan aspek pengelolaan
usahanya.
b. Administrasi (pembukuan) kurang atau bahkan tidak diperhatikan oleh peritel, sehingga
terkadang uang atau modalnya habis tidak terlacak
c. Promosi usaha tidak dapat dilakukan dengan maksimal, sehingga ada usaha ritel yang
tidak diketahui oleh calon pembeli atau pelanggan.
E. Analisis Kebijakan Pemerintah
Banyaknya peritel asing dari luar negeri, seperti lotte mart, carrefour, dan giant bisa
membuat para peritel lokal kesulitan untuk bersaing. Untuk melindungi pengusaha lokal / dalam
negeri, pemerintah telah memberlakukan beberaapa peraturan ,diantaranya dengan mengeluarkan
peraturan presiden no. 112 tahun 2007 , mengenai penataan dan pembinaan pasar tradisional ,
pusat perbelanjaan , dan toko modern. Dalam peraturan ini , pemerintah menetapkan zona/luas
wilayah usaha pasar tradisional (toko, kios, dan toko modern. Batas luas lantai penjualan toko
modern adalah sebagai berikut :
a. Minimarket, kurang dari 400 m2;
b. Supermarket, 400 m2 s.d 5000 m2;
c. Hypermarket, di atas 5000 m2;
d. Department store, di atas 400 m2;
e. Perkulakan, di atas 5000 m2.
lokasi toko modrn harus mengacu pada rencana tata ruang wilayah kota/kabupaten dan rencana
detail tata ruang kabupaten/kota termasuk peraturan zonasinya. Pendirian toko modern juga wajib
memperhatikan jarak lokasi usahanya misalnya dengan pasar tradisional yang telah ada
sebelumnya. Peraturan yang mengatur mengenai jarak antara toko modern dengan pasar
tradisional di atur dalam peraturan daerah. Misalnya untuk wilayah DKI jakarta, hal ini diatur
dalam pasal 10 peraturan daerah provinsi DKI jakarta no. 2 tahun 2002, tentang perpasaran
swasta. Dalam pasal ini ditentukan mengenai jarak sarana/tempat usaha sebagai berikut :
a. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya 100 m2 s.d 200 m2 harus berjarak radius 0,5 km
dari pasar lingkungan dan terletak di sisi jalan lingkungan/kolektor/arteri;
b. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 200 m2 harus berjarak radius 1,0 km dari
pasar lingkungan dan letak di sisi jalan kolektor/arteri;
c. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 1000 m2 s.d 2000 m2 harus berjarak
radius 1,5 km dari pasar lingkungan dan letak di sisi jalan kolektor/arteri;
d. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 2000 m2 s.d 4000 m2 harus berjarak
radius 2 km dari pasar lingkungan dan letak di sisi jalan kolektor/arteri;
e. Usaha perpasaran swasta yang luas lantainya di atas 4000 m2 harus berjarak 2,5 km dari pasar
lingkungan dan harus terletak di sisi jalan kolektor/arteri.
Selain melalui peraturan presiden, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga turut
mengawasi persaingan yang terjadi antara peritel besar/modern dengan peritel kecil/pasar
tradisional.

LAMPIRAN 2 : Penilaian
a. Penilaian test