Anda di halaman 1dari 8

Pengeluaran Keringat sebagai Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh

Natasha Natalia Gunawan


102014198
Kelompok B5
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Natasha.2014fk798@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Tubuh mempunyai suatu panas untuk menjadi syarat terjadinya berbagai metabolisme. Suhu
tersebut harus dipertahankan dalam batas optimal dengan cara pengeluaran dan penerimaan
panas. Transfer panas tersebut dapat terjadi dengan berbagai cara seperti konduksi, konveksi,
radiasi, dan evaporasi. Pembentukan panas juga sangat bergantung dengan kecepatan
metabolisme yang terjadi di dalam tubuh dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Mekanisme pengaturan suhu yang dilakukan tubuh juga dapat terjadi pada bagian tubuh tertentu
untuk mempertahankan suhu normal. Salah satu mekanisme pengaturan suhu dalam pengeluaran
panas adalah dengan berkeringat yang sekresinya diatur oleh kelenjar keringat.
Kata Kunci: Suhu Tubuh, Transfer Panas, Pengeluaran Panas, Berkeringat
Abstract
Body has a core temperature for a variety of metabolisms. The temperature must be maintained
within optimum limits by way of expenditure and receipt of heat. The heat transfer can occur in
various ways such as conduction, convection, radiation and evaporation. Heat formation is also
very dependent on the speed of metabolism that occurs in the body with the factors that influence
it. Temperature adjustment mechanism that made the body can also occur in certain parts of the
body to maintain normal temperature. One of the mechanisms of temperature regulation in heat
dissipation by sweating secretion is regulated by the sweat glands.
Keywords: Body Temperature, Heat Transfer, Heat Loss, Sweating
Pendahuluan
Panas adalah suatu bentuk energi yang dapat diukur menggunakan thermometer dengan
satuan unit yang disebut Kalori. Suatu kalori dianggap sebagai sejumlah panas yang dibutuhkan
untuk meningkatkan suhu dari 1 gram air 1 o C.1 Rentang suhu normal bersikar antara 36 o C
sampai lebih dari 37,5o C. Suhu tubuh meningkat ketika melakukan aktivitas dan bervariasi

mengikuti suhu lingkungan. Bila kecepatan pembentukan panas di dalam tubuh lebih besar
daripada kecepatan pengeluaran panas, panas akan timbul di dalam tubuh dan suhu tubuh akan
meningkat. Sebaliknya bila pengeluaran panas lebih besar, panas tubuh dan suhu tubuh akan
menurun.2
Pada makalah ini akan dibahas mengenai seorang laki-laki berusia 35 tahun yang sejak
sebulan lalu bekerja di pabrik kue dengan suhu ruangan 27 o C dan kelembapan udara 65%. Pada
saat bekerja, ia merasa kepanasan dan mengeluarkan banyak keringat sehingga ia sering merasa
haus.
Identifikasi Istilah
Tidak ada istilah yang tidak diketahui.
Rumusan Masalah
Laki-laki 35 tahun saat bekerja merasakan kepanasan dan mengeluarkan keringat
Analisis Masalah
Faktor yang mempengaruhi
pengeluaran keringat

Proses
Pengeluara
n

Suh
u
Tub
uh

Proses
pembentuka
n

Mekanisme
kerja
kelenjar
keringat

Hipotesis
Laki-laki 35 tahun merasa kepanasan dan mengeluarkan keringat untuk mempertahankan
suhu tubuh.

Suhu Tubuh
Suhu inti tubuh adalah suatu suhu di dalam struktur tubuh di bagian dalam kulit dan
lapisan subkutan sedangkan suhu kulit tubuh adalah suhu dekat dengan permukaan tubuh yaitu di
kulit dan lapisan subkutan. Berdasarkan suhu lingkungan, suhu kulit tubuh 1-6o C lebih rendah
dibandingkan suhu inti tubuh. Suhu inti tubuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan denaturasi
protein di dalam tubuh dan bila terlalu rendah dapat menyebabkan aritmia jantung yang dapat
mengakibatkan kematian.1
Pembentukan Panas
Pembentukan panas pada tubuh sebanding dengan kecepatan metabolisme. Faktor yang
mempengaruhi kecepatan metabolisme dan berakibat pada pembentukan panas tubuh yaitu
aktivitas. Pada saat beraktivitas berat, kecepatan metabolisme meningkat sebesar 15x
dibandingkan keadaan basal. Pada latihan fisik atlet-atlet, kecepatan metabolisme dapat
meningkat menjadi 20x. Faktor kedua adalah hormon. Hormon tiroid adalah regulator utama dari
kecepatan metabolisme basal atau basal metabolic rate (BMR). BMR akan meningkat bila
jumlah darah pada hormon tiroid meningkat. Hormon tiroid meningkatkan BMR sebagai proses
stimulasi respirasi selular secara aerob. Pada proses respirasi aerob, sel menggunakan oksigen
lebih banyak untuk memproduksi Adenosin Tri Phospate (ATP) sehingga lebih banyak panas
yang dihasilkan dan mengakibatkan panas tubuh meningkat. Hormon lain yang mempunyai efek
kecil dalam BMR adalah testosterone, insulin, dan hormon pertumbuhan yang dapat
meningkatkan kecepatan metabolisme. Faktor ketiga yaitu sistem saraf. Ketika melakukan suatu
aktivitas fisik yang berat atau dalam keadaan stress, saraf simpatis dari persarafan otonom
terstimulasi dan neuron pascaganglionnya akan melepaskan norepinephrine (NE) yang akan
menstimulasi disekresinya hormon epinephrine dan norepinephrine dari medulla adrenal. Kedua
hormon ini akan meningkatkan kecepatan metabolisme di badan sel. Faktor keempat adalah suhu
tubuh. Semakin tinggi suhu tubuh, semakin tinggi kecepatan metabolisme. Setiap kenaikan 1 o C
di suhu inti tubuh akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia hingga mencapai 10%. Sebagai
akibatnya, kecepatan metabolisme akan meningkat. Faktor kelima adalah proses pencernaan
makanan. Proses pencernaan akan meningkatkan kecepatan metabolisme hingga 10-20%
dikarenakan energy yang diperlukan untuk mencerna, mengabsorbsi, dan menyimpan nutrisi.
Faktor keenam adalah usia. Kecepatan metabolisme pada anak-anak adalah dua kali dari orang

lanjut usia dikarenakan tingginya reaksi dan metabolisme yang berhubungan dengan
pertumbuhan. Faktor-faktor lain yang juga berperan kecil dalam mempengaruhi kecepatan
metabolisme dan produksi panas adalah jenis kelamin yaitu perempuan yang mempunyai
kecepatan metabolisme yang lebih lambat dibandingkan laki-laki kecuali dalam keadaan fase
kehamilan dan menyusui, iklim yaitu kecepatan metabolisme lebih lambat pada iklim tropis, dan
dalam keadaan tidur.1
Pengeluaran Panas
Proses untuk mengontrol suhu tubuh bergantung pada kemampuan untuk kehilangan
panas ke lingkungan dalam kecepatan yang sama dengan produksinya melalui reaksi
metabolisme. Panas dapat ditransfer dari tubuh ke lingkungan dengan empat cara, yaitu
konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi.2

Mekanisme Pengeluaran Panas3


Konduksi adalah pertukaran panas yang terjadi di antara molekul dari dua material yang
berkontak langsung satu sama lain.2 Laju pemindahan panas melalui konduksi tergantung pada
perbedaan suhu antara benda yang bersentuhan dan konduktivitas termal benda yang terlibat atau
seberapa mudah benda tersebut menghantarkan panas.4 Hasilnya, sekitar 3% dari panas tubuh
yang hilang melalui konduksi ke material padat yang berkontak dengan tubuh seperti kursi,

perhiasan, dan pakaian. Selain itu, panas pun bisa dikeluarkan melalui konduksi, seperti ketika
berkontak dengan air dingin.2
Konveksi adalah proses mengirimkan panas dengan pergerakan dari cairan ataupun gas
antara area dengan suhu yang berbeda. Kontak dari udara mengakibatkan transfer panas baik
melalui konveksi.2 Saat tubuh kehilangan panas melalui konduksi ke udara sekitar yang lebih
dingin, udara yang berkontak langsung dengan kulit menjadi lebih hangat Karena udara hangat
lebih ringan daripada udara dingin, udara yang telah dingin tersebut naik sedangkan udara dingin
masuk ke samping kulit menggantikan udara yang telah hangat tersebut. Hal ini disebut
pergerakan konveksi yang membantu panas menjauhi tubuh. 4 Hasilnya, 15% panas tubuh hilang
ke udara melalui konduksi dan konveksi.2
Radiasi adalah proses pengiriman panas dalam bentuk sinar inframerah antara sebuah
objek yang lebih hangat dan objek yang lebih dingin tanpa adanya kontak fisik. X Energi panas
ditransferkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau gelombang panas yang merambat
dalam suatu ruang. Ketika energi radiasi mengenai sebuah benda dan diserap, energy gerakan
gelombang akan diubah menjadi panas di dalam benda. Selama evaporasi dari permukaan kulit,
panas yang diperlukan untuk mengubah air dari keadaan cair menjadi gas diserap dari kulit
sehingga tubuh menjadi lebih dingin. Pembuangan panas melalui evaporasi terjadi terus menerus
dari lapisan dalam saluran pernapasan dan dari permukaan kulit. Panas keluar melalui H 2O di
udara ekspirasi akibat pelembapan udara sewaktu udara melewati sistem pernapasan dan H 2O
berdifusi menembus kulit dan menguap.4
Mekanisme Sekresi Keringat
Berkeringat adalah proses pengeluaran panas secara evaporative aktif di bawah control
simpatis. Laju pengeluaran panas evaporative dapat diubah-uabh dengan mengubah banyaknya
keringat, yaitu mekanisme homeostatic untuk mengeluarkan kelebihan panas sesuai dengan
kebutuhan. Ketika suhu lingkungan melebihi suhu kulit, berkeringat adalah cara untuk
mengeluarkan panas karena dalam keadaan ini, tubuh memperoleh panas melalui konduksi dan
radiasi. Pada suhu normal, sekitar 100 mL keringat dihasilkan setiap hari dan meningkat menjadi
1,5 L selama cuaca panas dan 4 L saat olahraga berat.4

Kelenjar keringat berbentuk tubular yang terdiri dari dua bagian: bagian yang bergelung
di subdermis dalam yang menyekresi keringat dan bagian duktus yang berjalan keluar melalui
dermis dan epidermis kulit. Bagian sekretorik kelenjar keringat menyekresi cairan yang disebut
secret primer atau secret precursor dan konsentrasi zat-zatnya akan dimodifikasi sewaktu cairan
mengalir melalui duktus. Sekret precursor adalah hasil sekresi aktif sel-sel epitel yang melapisi
bagian bergelung dari kelenjar keringat. Serat saraf simpatik kolinergik berakhir pada atau dekat
sel-sel kelenjar yang mengeluarkan secret tersebut.2
Keringat adalah larutan garam encer yang dikeluarkan secara aktif ke permukaan kulit
oleh kelenjar keringat ekrin yang tersebar di seluruh tubuh. Kelenjar keringat ekrin
mensekresikan keringat yang asin dan jernih untuk mendinginkan tubuh sedangkan kelenjar
keringat apokrin yang terletak di area ketiak dan genital mensekresikan keringat yang tebal dan
kental yang kaya akan bahan organik dan berbau karena adanya bakteri yang menguraikan
komponen organic tersebut. Faktor yang menentukan tingkat penguapan keringat adalah
kelembapan relative udara sekitar. Ketika kelembapan udara relative tinggi, udara hampir jenih
oleh H2O sehingga kemampuan udara untuk menerima tambahan kelembapan dari kulit menjadi
terbatas.4
Pengaturan Suhu Tubuh melalui Peran Hipotalamus
Suhu tubuh hampir seluruhnya diatur oleh mekanisme persarafan umpan balik, dan
hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang terletak di hipotalamus.
Agar mekanisme umpan balik ini dapat berlangsung, perlu adanya detector suhu untuk
menentukan kapan suhu tubuh menjadi sangat panas atau dingin. Area utama di otak tempat
panas dan dingin yang mempengaruhi pengaturan suhu tubuh adalah nucleus preoptik dan
nucleus hipotalamik anterior hipotalamus. Area tersebut mengandung sejumlah neuran yang
sensitive terhadap panas dan dingin yang berfungsi untuk sensor suhu dalam mengontrol suhu
tubuh. Pada jaringan kulit, reseptor dingin lebih banyak dibandingkan dengan reseptor panas
sehingga deteksi suhu di bagian perifer lebih menyangkut deteksi suhu dingin daripada panas.
Area hipotalamus yang dirangsang oleh sinyal sensorik suhu terletak pada hipotalamus posterior,
sinyak sensorik suhu area preoptik di hipotalamus anterior juga dihantarkan ke dalam area
hipotalamus posterior. Di bagian ini, sinyal dari area preoptik dan dari bagian tubuh lain

dikombinasikan untuk mengatur reaksi pembentukan panas atau penyimpanan panas di dalam
tubuh. Bila pusat suhu hipotalamus mendeteksi bahwa suhu tubuh terlalu panas atau dingin,
hipotalamus akan memberikan prosedur penurunan atau peningkatan suhu yang sesuai.5
Mekanisme penurunan suhu tubuh bila tubuh terlalu panas yaitu dengan vasodilatasi
pembuluh darah kulit. Pada hampir semua area di dalam tubuh, pembuluh darah berdilatasi
dengan kuat, disebabkan oleh hambatan pusat simpatis di hipotalamus posterior yang
menyebabkan vasokonstriksi. Vasodilatasi ini akan meningkatkan kecepatan pemindahan panas
ke kulit sebanyak delapan kali lipat. Mekanisme penurunan suhu kedua adalah dengan
berkeringat. Dengan berkeringat, kecepatan pengeluaran panas meningkat dengan evaporasi
ketika suhu inti tubuh melebihi 37 o C. Peningkatan suhu tubuh tambahan sebesar 1 o C
menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak untuk membuang 10 kali keceoatan
pembentukan panas tubuh basal. Mekanisme ketiga adalah penurunan pembentukan panas
dengan cara menghambat mekanisme pembentukan panas seperti menggigil dan termogenesis
kimia.2

Mekanisme Pengaturan Suhu6


Mekanisme peningkatan suhu tubuh bila tubuh terlalu dingin yaitu dengan vasokonstriksi
kulit di seluruh tubuh yang disebabkan oleh rangsangan dari pusat simpatis hipotalamus

posterior. Mekanisme kedua yaitu dengan poliereksi yaitu rangsangan simpatis yang
menyebabkan otot arektor pili di folikel rambut berkontraksi dan menyebabkan rambut berdiri
tegak. Hal ini menyebabkan terbentuknya lapisan tebal sebagai isolator udara sehingga
pemindahan panas ke lingkungan sangat ditekan. Mekanisme ketiga yaitu dengan termogenesis
atau pembentukan panas dengan memicu terjadinya proses menggigil, rangsangan simpatis, dan
sekresi tiroksin.2
Kesimpulan
Pria 35 tahun mengeluarkan keringat sebagai mekanisme dalam pengeluaran panas untuk
mempertahankan suhu tubuh karena tubuhnya menerima panas dari suhu lingkungan.

Daftar Pustaka
1. Tortora GJ dan Derrickson B. Principles of anatomy and physiology. 13 th Ed. Danvers:
John Wiley & Sons; 2011. p. 1049.
2. Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-12. Singapore: Elsevier; 2011. h. 939
3. Slideshare. Temperature regulation by skin. Diakses dari
http://www.slideshare.net/virgo9/temperature-regulation-by-skin, 13 Oktober 2015
4. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 8. Jakarta: EGC; 2012. h. 721.
5. Sherwood L. Human physiology from cells to system. 6th Ed. Belmont: Thomson
Brooks/Cole; 2007. p. 686-8.
6. Drypharmacist. Exessecive sweating. Diakses dari

http://www.drypharmacist.com/excessive-sweating---more-ways-than-one.html, 13
Oktober 2015.

Anda mungkin juga menyukai