Anda di halaman 1dari 22

BAB 1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan
kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan salah satu
negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana
(20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas kakao
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, kualitas biji kakao yang diekspor
oleh Indonesia dikenal sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan produk
kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak difermentasi)
sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah menyebabkan
harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional dikenai potongan
sebesar USD 200/ton atau 10-15 % dari harga pasar. Selain itu, beban pajak ekspor
kakao olahan (sebesar 30%) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beban pajak
impor produk kakao (5%), kondisi tersebut telah menyebabkan jumlah pabrik olahan
kakao Indonesia terus menyusut. Selain itu para pedagang (terutama trader asing)
lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao atau non olahan (Rohman, 2009).
Prospek pemasaran kakao di luar negeri yang baik dan konsumsi kakao di
dalam negeri yang terus meningkat maka usaha perluasan dan peningkatan produksi
kakao terus berlangsung. Dalam pengembangan tanaman kakao selalu mendapatkan
kendala serangan hama dan penyakit. Sampai tahun 1993, yang menjadi hama utama
tanaman kakao adalah kepik penghisap buah kakao Helopeltis theobromae. Sejak
September 1994 ditambah lagi masalah hama, yaitu masuknya penggerek buah kakao
(PBK). Hama PBK itu telah diketahui sebagai hama penting pada pertanaman kakao
di Filipina, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Jawa, Sumatera Utara, dan Sabah
(Malaysia). Akibat serangan PBK dapat menurunkan produksi sampai 80% dan
kerusakan biji sampai 82%, sehingga ditakuti oleh petani dan pengusaha perkebunan
kakao.Kerusakan yang ditimbulkan oleh larva PBK berupa rusaknya biji,
mengeriputnya biji dan timbulnya warna gelap pada kulit biji. Hal itu berarti

turunnya berat dan mutu produk. Kerugian yang disebabkan oleh PBK merupakan
resultante dari turunnya berat dan mutu produk serta meningkatnya biaya panen
karena pemisahan biji sehat dari biji yang rusak memerlukan waktu lama. Sehingga
kita perlu nmengetahui pengakit serta hama apa saja yang merugikan tanaman kakao.

1.2 Tujuan

Mahasiswa memahami dan menggambarkan hama dan penyakit apa saja yang
dapat merugikan tanaman kakao serta gejala yang di timbulkan.

Mahasiswa memahami cara pengendalian OPT tanaman kakao di lapang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


Theobroma cacao adalah nama biologi yang diberikan pada pohon kakao oleh
Linnaeus pada tahun 1753. Tempat alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian
hutan tropis dengan banyak curah hujan, tingkat kelembaban tinggi, dan teduh.
Dalam kondisi seperti ini Theobroma cacao jarang berbuah dan hanya sedikit
menghasilkan biji (Spillane, 1995). Berdasarkan daerah asalnya kakao tumbuh
dibawah naungan pohon-pohon yang tinggi. Habitat seperti itu masih dipertahankan
dalam budi daya kakao dengan menanam pohon pelindung. Kakao mutlak
membutuhkan naungan sejak tanam sampai umur 2 - 3 tahun. Tanaman muda yang
kurang naungan pertumbuhannya akan terlambat. Tanaman ini juga tidak tahan angin
kencang sehingga tanaman pelindung (penaung) dapat berfungsi sebagai penahan
angin (Poedjiwidodo, 1996).
Klasifikasi untuk tanaman kakao menurut Chessman (1994, dalam Suharjo
dan Butar-butar, 1979) adalah :
Divisio

: Spermathophyta

Classis

: Dicotyedoneae

Ordo

: Malvales

Familia

: Sterculiaceae

Genus

: Theobroma

Species

: Cacao

Tanaman kakao termasuk golongan tanaman tahunan yang tergolong dalam


kelompok tanaman caulofloris, yaitu tanaman yang berbunga dan berbuah pada
batang dan cabang. Tanaman ini pada garis besarnya dapat dibagi atas dua bagian,
yaitu bagian vegetatif yang meliputi akar, batang serta daun dan bagian generatif
yang meliputi bunga dan buah (Arman, 2011).
Kakao (Theobroma cacao, L.) merupakan satu-satunya spesies diantara 22
jenis dalam genus Theobroma yang diusahakan secara komersial. Tanaman ini
diperkirakan berasal dari lembah Amazon di Benua Amerika yang mempunyai iklim
tropis. Colombus dalam pengembaraan dan petualangannya di benua menemukan dan
membawanya ke Spanyol (Poedjiwidodo, 1996).
Suitable weather condition is essential at every stage of cocoa production.
Now, when farmers replant old cocoa farms, persistent drought is affecting their
survival. Sensitivity of cocoa production to hours of sunshine, rainfall, soil conditions
and temperature therefore makes it vulnerable to climate change. Changing climate
can also alter development of pests and diseases and change the hosts resistance.
Unfavorable climate promotes pest infestation and disease outbreak on cocoa farms
(Oyekale, 2012). Sehingga dapat di simpulkan bahwa iklim sangat mempengaruhi
pertumbuhan serta produktifitas tanaman kakao
Kakao dibagi tiga kelompok besar yaitu Criollo, Forestero, dan Trinitario.
Sifat kakao Criollo adalah pertumbuhannya kurang kuat, daya hasil lebih rendah
daripada Forestero, relatif gampang terserang hama dan penyakit, permukaan kulit
buah Criollo kasar, berbenjol dan alurnya jelas. Kulit ini tebal tetapi lunak sehingga
mudah dipecah. Kadar lemak dalam biji lebih rendah daripada Forestero tetapi ukuran
bijinya besar, bulat, dan memberikan citarasa khas yang baik. Lama fermentasi
bijinya lebih singkat daripada tipe Forestero. Berdasarkan tata niaga, kakao Criollo
termasuk kelompok kakao mulia (fine flavoured), sementara itu kakao Forestero
termasuk kelompok kakao lindak (bulk). Kelompok kakao Trinitario merupakan
hibrida Criollo dengan Forestero. Sifat morfologi dan fisiologinya sangat beragam

demikian juga daya dan mutu hasilnya (Wood, 1975 dalam Prawoto dan Sulistyowati.
2001).
Kebanyakan konsumen menyukai produk-produk kakao karena cita rasa yang
khas, rasa manis-pahit, dan aroma yang selalu menggugah selera. Kekhasan tersebut
dikarenakan komponen kimia yang menyusun biji kakao, sehingga menghasilkan satu
kesatuan rasa yang lezat dari produk-produk olahan kakao yang utamanya berasal
dari komponen lemak biji kakao yang dapat mencapai 57% (Balonggu, 2013).
Cocoa powder and dark chocolate contain relatively high concentrations of
certain polyphenolic compounds, most notably flavanols. Flavanols, especially the
monomer

epicatechin

and

oligomers

and

polymers

of

flavanols

called

proanthocyanins, can act as strong antioxidants in food systems (Stephen, 2011). Dari
pernyataan tersebut sangatlah jelas bahwa bubuk kakao ataupun dark chocolate
memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan yang paling utama adalah mengandung
anti oksidan tinggi yang sangat pentingt bagi tubuh untuk menangkal radikal bebas.
Biji kakao sangat diperlukan dalam berbagai macam industri karena sifatnya
yang khas, yaitu : (1) biji kakao mengandung lemak yang cukup tinggi (55 %),
dimana lemaknya mempunyai sifat yang unik yaitu membeku pada suhu kamar, akan
tetapi mencair pada suhu tubuh, (2) bagian padatan biji kakao mengandung
komponen flavor dan pewarna yang sangat dibutuhkan dalam industri makanan
(John, 2009). Produk-produk industri kakao dibuat berdasarkan pemanfaatan kedua
sifat biji kakao tersebut, yang umumnya berupa bubuk kakao (cocoa powder) atau
lemak kakao (cocoa butter). Kedua produk ini terutama lemak kakao adalah bahan
yang sangat diperlukan pada industri makanan, farmasi, dan kosmetika (Viskil, 1980).
.Penggunaan

biji

kakao

dalam

industri

makanan

juga

mempunyai

keuntungankeuntungan karena flavor khas kakao sangat digemari konsumen dan


flavor kakao dapat dikombinasikan dengan flavor lain yang kurang enak (De Zaan,
1975). Dalam hal ini kakao mulia mempunyai keunggulan-keunggulan dibanding
dengan lindak. Menurut Minifie, (1999) kakao lindak yang merupakan tipe Forestero
dari Afrika Barat dan Brazillia mempunyai rasa pahit dan kasar. Kakao mulia dari

Jawa, Somoa, dan Amerika Tengah mempunyai flavor yang enak dan warna yang
lebih cerah, dan biasanya dijadikan pencampur untuk memperoleh makanan cokelat
yang bermutu tinggi.
Sebagian besar daerah produsen kakao di Indonesia menghasilkan kakao
curah. Kakao curah berasal dari varietas-varietas yang self-incompatible. Kualitas
kakao curah biasanya rendah, meskipun produksinya lebih tinggi. Bukan rasa yang
diutamakan tetapi biasanya kandungan lemaknya. Kakao secara umum adalah
tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitas-sendiri (lihat
penyerbukan). Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan
penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih
tinggi. Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Ukuran buah jauh lebih besar dari
bunganya, dan berbentuk bulat hingga memanjang. Buah terdiri dari 5 daun buah dan
memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. Warna buah berubah-ubah. Sewaktu
muda berwarna hijau hingga ungu. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna
kuning (Setyohadi, 2007).
Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam.
Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian
disebut pulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi.
Dalam pengolahan pascapanen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji
dikeringkan di bawah sinar matahari (Budi, 2008).
Bibit kakao sebagai bahan tanaman kakao dapat dibiakkan dengan biji,
okulasi, cangkok dan stek, yang biasa digunakan adalah dengan biji, okulasi dan stek.
Untuk mendapatkan bahan tanam yang sehat dan jagur benih yang digunakan
sebaiknya digunakan dari pohon induk terpilih yang telah teruji kualitasnya. Biji yang
digunakan untuk benih dari buah yang tua pada bagian tengah buah, yakni 2/3 bagian
dari untaian biji. Biji bagian pangkal dan ujung tidak diikutsertakan sebagai bahan
tanam. Pembibitan tanaman kakao umumnya dilakukan dalam kantong plastik
(polybag). Sebelum dipindahkan ke dalam polybag terlebih dahulu biji-biji tersebut
dikecambahkan dalam bedengan persemaian. Benih yang didederkan pada

persemaian dalam keadaan tegak, dimana ujung biji tempat tumbuh radikula
ditegakkan di sebelah bawah. Jika keadaan lingkungan mendukung pertumbuhan
benih, maka benih tersebut akan berkecambah pada umur 4 5 hari setelah
pedederan, tetapi biji yang belum berkecambah masih dapat dibiarkan selama 2 3
hari sebelum dibuang sebagai biji apkir bagi yang tidak tumbuh. Stadia kecambah
yang baik untuk dipindahkan ke polybag adalah kecambah yang keping bijinya belum
terbuka, karena jika keping bijinya telah membuka berarti akar tunggang sudah
panjang serta akar lateral telah bercabang-cabang. Hal ini akan menyulitkan pada saat
pemindahan dan sering mengakibatkan akar tunggang menjadi bengkok, sehingga
pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Agar bibit tidak rusak maka pencabutan
bibit dari persemaian sebaiknya dengan menyertakan pasir bedengan (Widayat,
2013).
Pemeliharaan

pada

pembibitan

perlu

dilakukan

untuk

mendapatkan

pertumbuhan bibit yang sehat dan jagur, Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman,
pemupukan, penyemprotan insektisida dan fungisida serta pengaturan naungan yang
disesuaikan dengan umur bibit. Naungan dapat dijarangkan sebanyak 50% pada saat
bibit berumur 2 2,5 bulan dan beransur-ansur dikurangi setelah bibit berumur 3
3,5 bulan. Hal ini dilakukan untuk mengadaptasikan bibit agar dapat menyesuaikan
diri dengan keadaan lapangan. Bibit yang telah berumur 4 6 bulan dipembibitan
siap untuk ditanam ke lapangan (Indarti,2007)
Kakao menjadi produk yang memiliki banyak konsumen diantaranya
domestic maupun luar negeri dan diolah menjadi berbagai macam produk setengah
jadi seperti tepung , pasta atau mentega seperti yang dinyatakan oleh Amzul (2013)
The cocoa beans is either consumed domestically or exported. In domestic market,
the cocoa beans is processed into into intermediate products such as cocoa butter,
paste or powder which will be utilized in the food or other industries .
Consumers taste and preference for differentiated cocoa based on darkness
and flavour quality has been rising over the years. Added value of such specialty
cocoa is expressed by consumers willingness to pay more than the standard

commodity price for the attributes and associations such as augmented health benefits
that differentiate the product (Ambrose, 2011). Menurut Ambrose (2011) consumen
setiap tanunnya terus berkembeng untuk memilih produk coklat yang memeiliki cita
rasa warna yang berbeda serta kualitas yang terbaik.

BAB 3. METODE PRAKTIKUM


3.1

Waktu dan Tempat


Kegiatan praktikum mata praktikum Budidaya Tanaman Perkebunan acara

Organisme Pengganggu Tanaman pada Tanaman Kakao dilaksanakan pada Sabtu, 3


Oktober 2015 mulai pukul 15.00-17.00 WIB bertempat di Fakultas Pertanian
Universitas Jember.

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat

1.

Kamera

2.

Alat tulis

3.2.2

Bahan

1.

Tanaman kopi

2.

Work sheet

3.3

Cara Kerja

1.

Menyiapkan worksheet, alat tulis, dan kamera.

2.

Mengamati OPT pada tanaman kakao sesuai dengan worksheet yang telah
disediakan.

3.

Mengambil gambar OPT maupun gejala serangan yang ada di lapang dengan
kamera.

4.

Mendiskripsikan

gambar

yang

telah

diperoleh

secara

singkat

dan

membandingkan gambar yang ada di literatur.


5.

Membuat laporan dari hasil pengamatan OPT tanaman kakao yang telah
dilakukan.

4.2 Pembahasan
Praktikum kali ini membahas tentang OPT pada tanaman kakao. Berdasarkan
hasil pengamatan. OPT yang terdapat di lapang yaitu Penggerek buah kakao (PBK),
Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis), Penggerek batang/cabang (Zeuzera
coffeae), dan penyakit penting kakao diantaranya yaitu Vascular streak dieback
(VSD), Busuk buah, Kanker batang, Antraknose.
Hama penting yang sering menyerang tanaman kakao adalah Penggerek buah
kakao (PBK), Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis), Penggerek batang/cabang
(Zeuzera coffeae), Tikus dan tupai/bajing dan penyakit penting kakao diantaranya
yaitu Vascular streak dieback (VSD), Busuk buah, Kanker batang, Antraknose, Jamur
akar, Jamur upas.
Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella, Famili Gracillariidae,
Ordo Lepidoptera
Gejala serangan pada buah (warna kuning tidak merata) Hama kakao ini
sangat merugikan. Serangannya dapat merusak hampir semua hasil. Penggerek Buah
Kakao dapat menyerang buah sekecil 3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang
berukuran sekitar 8 cm. Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan
kulit buah, daging buah dan saluran ke biji. Buah yang terserang akan lebih awal
menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi. Biasanya lebih berat

daripada yang sehat. Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran
biji lebih kecil.
Hama ini dapat dikendalikan dengan :
1. sanitasi, Cara sanitasi penting untuk mematikan PBK yang ada dalam buah yang
sudah dipanen. Jika tidak dimatikan, PBK tersebut dapat berkembangbiak dan
menyerang buah yang masih ada di pohon. Setelah buah dipanen, seluruhnya
dibelah, Kulit buah dimasukkan ke dalam lobang dan ditutup dengan tanah atau
dengan plastik untuk membunuh larva yang masih ada / hidup pada buah. Jika
tidak segera dikerjakan simpanlah buah dalam karung plastik yang diikat rapat.
Cara tersebut mencegah PBK keluar dan menyerang buah yang belum masak di
pohon.
2. pemangkasan, Pemangkasan juga bermanfaat untuk mengendalikan PBK. Melalui
pemang-kasan kita mengurangi / membuang cabang, ranting, dan daundaun yang
tidak berguna sehingga penggunaan zat makanan lebih efektif, dan tanaman kakao
akan semakin baik pertumbuhannya, bukan hanya dalam hal tajuk tetapi juga
dalam pertumbuhan buah. Selain itu, pemangkasan akan memberikan banyak
penetrasi sinar matahari, serta gerakan angin yang bebas sehingga akan
mengurangi serangan PBK. Karena itu, lakukanlah pemangkasan yang tepat
waktu dan cara benar, baik dalam pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi,
maupun pemangkasan
3. pemeliharaan. Pemupukan Dampak utama pemupukan terhadap tanaman kakao
adalah merangsang pertumbuhan yang baik. Dampak ini meningkatkan ketahanan
kakao terhadap PBK. Tanaman kakao yang tumbuh sehat akan lebih tahan
terhadap serangan PBK. Karena itu, lakukanlah pemupukan yang benar dengan
memperhatikan dosis, jenis, cara, waktu, dan tempat.
4. membenam kulit buah,
5. memanen satu minggu sekali, Untuk menurunkan jumlah PBK,sebaiknya semua
buah yang sudah masak atau masak awal dipanen seminggu sekali. Cara ini
menghindari perpanjangan perkembangan / Daur hidup PBK dikebun.

6. kondomisasi, dapat mencegah serangan PBK. Kantong tersebut harus dilobangi di


bagian bawah supaya air dapat keluar. Jika tidak dilubangi, mungkin buah kakao
akan membusuk. Saat yang tepat pengantongan adalah pada saat ukuran panjang
buah sekitar 8 cm.
7. serta dengan cara hayati/biologi dengan menggunakan musuh alami.
Kepik pengisap buah kakao Helopeltis spp., Famili Miridae, Ordo Hemiptera
Kepik Helopeltis spp. termasuk hama penting yang menyerang buah kakao
dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi
sebaliknya pada buah muda. Selain kakao, hama ini juga memakan banyak tanaman
lain, diantaranya: teh, jambu biji, jambu mete, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubi
jalar, dll. Buah muda yang terserang mengering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus,
permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua,
tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras
dan retak. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati,
ranting

mengering

dan

meranggas. Hama ini

dapat

dikendalikan

dengan

pemangkasan dan cara hayati.


Penggerek batang/cabang Zeuzera coffeae, Famili Cossidae, Ordo Lepidoptera
Ulat hama ini merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju
empelur (xylem) batang/cabang. Selanjutnya gerekan membelok ke arah atas.
Menyerang tanaman muda. Pada permukaan lubang yang baru digerek sering terdapat
campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Akibat gerekan ulat, bagian tanaman di
atas lubang gerekan akan merana, layu, kering dan mati.
Cara pengendalian meliputi :
1. lubang gerekan dibersihkan dan ulat yang ditemukan dimusnahkan.
2. Cara mekanis yang lain adalah memotong batang/ cabang terserang 10 cm di
bawah lubang gerekan ke arah batang/ cabang, kemudian ulatnya dimusnahkan/
dibakar.

3. Cara hayati bisa dipakai, misalnya dengan Beauveria bassiana, atau agen hayati

lain.
Tikus dan tupai / bajing Famili Muridae dan Sciuridae, Ordo Rodentia
Tikus merupakan hama penting, karena serangannya sangat merugikan. Buah
kakao yang terserang akan berlubang dan akan rusak atau busuk karena kemasukan
air hujan dan serangan bakteri atau jamur. Serangan tikus dapat dibedakan dengan
serangan tupai/bajing. Tikus menyerang buah kakao yang masih muda dan memakan
biji beserta dagingnya. Tikus menyerang terutama pada malam hari. Gejala serangan
tupai/bajing umumnya dijumpai pada buah yang sudah masak karena tupai hanya
memakan daging buah, sedangkan bijinya tidak dimakan. Biasanya, di bawah
buahbuah yang terserang tupai/bajing selalu berceceran biji-biji kakao. Jadi, tikus
benarbenar hama, tetapi tupai tidak karena biji bisa dikumpulkan kembali. Tupai
menjadi hama (merugikan) apabila biji-biji tadi tidak dikumpulkan.
Pengendalian tikus dilakukan dengan sanitasi dan dengan cara hayati. Juga
dapat digunakan umpan racun tikus (rodentisida) dan dengan menggunakan cara
mekanis (perangkap)
Penyakit Vascular streak dieback (VSD) Oncobasidium theobromae, Kelas
Basidiomycetes, Ordo Uredinales
Penyakit VSD disebabkan oleh O. theobromae, yang dapat menyerang di
pembibitan sampai tanaman dewasa. Gejala tanaman terserang, daun-daun
menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau,
dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun (ompong). Bila permukaan bekas
menempelnya daun diiris tipis, akan terlihat gejala bintik 3 kecoklatan. Permukaan
kulit ranting kasar dan belang, bila diiris memanjang tampak jaringan pembuluh kayu
yang rusak berupa garis-garis kecil (streak) berwarna kecoklatan. Penyebaran
penyakit melalui spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif tanaman.
Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban. Embun dan cuaca basah

membantu perkecambahan spora. Pelepasan dan penyebaran spora sangat dipengaruhi


oleh cahaya gelap.
Pengendalian penyakit :
1. Dengan memotong ranting/cabang terserang sampai 30cm pada bagian yang masih
sehat kemudian dipupuk NPK 1,5 kali dosis anjuran.
2. Pemangkasan bentuk yang sekaligus mengurangi kelembaban dan memberikan
sinar matahari yang cukup. Pemangkasan dilakukan pada saat selesai panen
sebelum muncul flush.
3. Parit drainase dibuat untuk menghindari genangan air dalam kebun pada musim
hujan.-Untuk pencegahan, tidak menggunakan bahan tanaman kakao dari kebun
yang terserang VSD, dan menanam klon kakao yang tahan atau toleran terhadap
VSD.
Busuk buah Phytophthora palmivora, Famili Pythiaceae, Ordo Pythiales
Penyakit ini disebabkan oleh jamur P. palmivora yang dapat menyerang buah
muda sampai masak. Buah yang terserang nampak bercak bercak coklat kehitaman,
biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung buah. Apabila keadaan kebun
lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah,
sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek
dan basah. Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab
terutama pada musim hujan. Buah yang membusuk pada pohon juga mendorong
terjadinya infeksi pada buah lain dan menjalar kebagian batang/cabang. Patogen ini
disebarkan oleh angin dan air hujan melalui spora. Pada saat tidak ada buah, jamur
dapat bertahan di dalam tanah. Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada
daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, kelembaban udara dan tanah yang tinggi
terutama pada pertanaman kakao dengan tajuk rapat.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan :
1. sanitasi kebun
2. mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang)

3. kultur teknis
4. Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal
yang penting dilakukan terutama pada musim hujan
5. Penanaman klon resisten atau toleran merupakan cara yang wajib diperhatikan.
Kanker batang Phytophthora palmivora, Famili Pythiaceae, Ordo Pythiales
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang sama dengan penyebab penyakit
busuk buah. Gejala kanker diawali dengan adanya bagian batang/cabang
menggembung berwarna lebih gelap/ kehitam-hitaman dan permukaan kulit retak.
Bagian tersebut membusuk dan basah serta terdapat cairan kemerahan yang kemudian
tampak seperti lapisan karat. Jika lapisan kulit luar dibersihkan, maka akan tampak
lapisan di bawahnya membusuk dan berwarna merah anggur kemudian menjadi
coklat. Penyebaran penyakit kanker batang sama dengan penyebaran penyakit busuk
buah. Penyakit ini dapat terjadi karena pathogen yang menginfeksi buah menjalar
melalui tangkai buah atau bantalan bunga dan mencapai batang/cabang. Penyakit ini
berkembang pada kebun kakao yang mempunyai kelembaban dan curah hujan tinggi
atau sering tergenang air.
Pengendalian penyakit :
1. Dapat dilakukan dengan mengupas kulit batang yang membusuk sampai batas
kulit yang sehat. Luka kupasan dioles dengan fungisida tertentu.
a. Pemangkasan pohon pelindung dan tanaman kakao dilakukan agar di dalam kebun
tidak lembab.
b. Apabila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka tanaman
dipotong atau dibongkar.
Antraknose Colletotrichum

gloeosporioides, Famili

Melanconiacea,

Ordo

Melanconiales
Penyakit

antraknose

disebabkan

oleh

jamur. C.

gloeosporioides yang

menyerang buah, pucuk/daun muda dan ranting muda. Pada daun muda nampak
bintik-bintik coklat tidak beraturan dan dapat menyebabkan gugur daun. Ranting

gundul berbentuk seperti sapu dan mati. Pada buah muda nampak bintik-bintik coklat
yang berkembang menjadi bercak coklat berlekuk (antraknose). Buah muda yang
terserang menjadi layu, kering, dan mengeriput. Serangan pada buah tua akan
menyebabkan gejala busuk kering pada ujungnya. Penyakit ini tersebar melalui spora
yang terbawa angin ataupun percikan air hujan. Penyakit cepat berkembang terutama
pada musim hjan dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi. Pengendalian penyakit
1. Dilakukan dengan dengan memangkas cabang & ranting yang terinfeksi,
mengambil buah-buah yang sakit dikumpulkan dan ditanam atau dibakar.
2. Melakukan pemupukan (N,P,K) satu setengah kali dosis anjuran.
3. Pengaturan naungan sehingga tajuk pohon kakao tidak terkena sinar matahari
langsung dan
4. Perbaikan drainase tanah untuk menghindari genangan air di dalam kebun.
Jamur

akar Ganoderma

philippii(1),

Fomes

lamaoensis(2), Rigidoporus

lignosus/Fomes lignosus
Ada tiga jenis penyakit jamur akar pada tanaman kakao, yaitu: (1) Penyakit
jamur akar merah; (2) Penyakit jamur akar coklat; (3) Penyakit jamur akar putih.
Ketiganya menular melalui kontak akar, umumnya penyakit akar terjadi pada
pertanaman baru bekas hutan. Pembukaan lahan yang tidak sempurna, karena banyak
tunggul dan sisa-sisa akar sakit dari tanaman sebelumnya tertinggal di dalam tanah
akan menjadi sumber penyakit. Ketiga jenis penyakit ini mempunyai gejala: daun
menguning, layu dan gugur, kemudian diikuti dengan kematian tanaman. Untuk
mengetahui penyebabnya, harus melalui pemeriksaan akar.
Pencegahan penyakit dilakukan dengan :
1. Membongkar semua tunggul pada saat persiapan lahan terutama yang terinfeksi
jamur akar.
2. Lubang bekas bongkaran diberi 150gr belerang dan dibiarkan minimal 6 bulan.
3. Pada saat tanam diberi 100 gr Trichoderma sp. per lubang.

4. Pada areal pertanaman, pohon kakao yang terserang berat dibongkar sampai ke
akarnya dan dibakar di tempat itu juga.
5. Lubang bekas bongkaran dibiarkan terkena sinar matahari selama 1 tahun.
6. Minimal 4 pohon di sekitarnya diberi Trichoderma sp. 200gr/pohon pada awal
musim hujan dan diulang setiap 6 bulan sekali sampai tidak ditemukan gejala
penyakit akar di areal pertanaman kakao tersebut.
Jamur upas Corticium salmonicolor, Famili Corticiaceae, Ordo Stereales
Penyakit jamur upas dapat menyerang tanaman kakao, karet, kopi, teh, kina
dan lain-lain. Infeksi jamur ini pertama kali terjadi pada sisi bagian bawah cabang
ataupun ranting. Apabila menyerang ranting dan cabang kecil umumnya tidak
menimbulkan kerugian yang berarti, karena dengan memotong ranting/cabang kecil
yang terserang cukup untuk mengendalikan jamur ini dan tumbuhnya bunga pada
ranting dan cabang kecil tidak kita harapkan. Serangan dimulai dengan adanya
benangbenang jamur tipis seperti sutera, berbentuk sarang laba-laba. Pada fase ini
jamur belum masuk ke dalam jaringan kulit. Pada bagian ujung dari cabang yang
sakit, tampak daun-daun layu dan banyak yang tetap melekat pada cabang, meskipun
sudah kering. Jamur ini menyebar melalui tiupan angina atau percikan air. Keadaan
lembab dan kurang sinar matahari sangat membantu perkembangan penyakit ini.
Pengendalian dapat dilakukan :
1. Dengan cara mekanis, yaitu memotong cabang/ranting sakit sampai 15 cm pada
bagian yang masih sehat; membersihkan /mengeruk benangbenang jamur pada
gejala awal dari cabang yang sakit, kemudian diolesi dengan fungisida.
2. Cara kedua adalah dengan kultur teknis, yaitu pemangkasan pohon pelindung
untuk mengurangi kelembaban kebun sehingga sinar matahari dapat masuk ke
areal pertanaman kakao.
Cara penyebaran hama yaitu terbawanya telur hama oleh manusia atau oleh
angin dan menetas di suatu tempat. Sedangkan penyebaran pathogen yaitu melalui

spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif tanaman, atau melalui spora yang
terbawa angin ataupun percikan air hujan
Dampak Kerugian Akibat Seranga Hama pada Tanaman Hama adalah
sekelompok organisme pengganggu tanaman yagn dapat merusak tanaman budidaya
baik secara fisik maupun fisiologisnya. Dampak kerugian akibat serangan hama
tersebut adalah :
1. Gagal Panen
Akibat serangan hama yang paling ditakuti oleh para petani adalah terjadinya
gagal panen. Kegagalan ini dikarenakan hama yang menyerang tanaman menjadikan
tanaman sebagai bahan makanan, dan tempat tinggal bagi mereka. Hama merusak
tanaman dengan cara :
a.

Menghisap cairan tanaman

b.

Memotong batang tanaman baik yang muda maupun tua

c.

Memakan daun muda dan tua serta tunas-tunas muda pada tanaman

d.

Menghisap cairan dan memakan daging buah yang dapat menurunkan nilai

ekonomis buah
e.

Memnbuat rumah atau sarang sebagai tempat tinggal dan berkembang biak baik

pada batang, daun maupaun buah


2. Menurunnya Jumlah Produksi Tanaman
Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada tanaman maka tanaman
tidak akan mampu menghasilkan produksi secara maksimal karena terjadinya
pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada pada tanaman budidaya. Hal ini
disebabkan karena proses fisiologi tanaman yang terganggu. Dengan daun dan batang
serta tunas-tunas muda yang habis dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman
tidak dapat melaukan proses fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik
bahkan tidak dapat melakukan fotosentesis
3. Pertumbuhan Tanaman yang Terganggu

Serangan hama dapat meyebabkan pertumbuh tanaman menjadi terhambat


dan bahkan tidak jarang mengalami stagnan pertumbuhan atau kerdil. Seperti
serangan hama wereng pada tanaman padi yang dapat mengakibatkan tanaman padi
menjadi kerdi dan tidak dapat berproduksi.
4. Menurunkan Nilai Ekonomis Hasil Produksi
Hama yang menyerang pada buah atau bagian tanaman yang memiliki nilai
ekonomis akan menjadi menurun. Hal ini disebabkan, hama merusak bagian-bagian
buah mupun daun tanaman. Dimana penurunan ini karena adanya bagian yang
diseranga oleh hama mengalami cacat dan busuk serta mengandung ulat atau larvalarva hama. Sehingga produksi tidak dapat dikonsumsi.
5. Kerugian bagi para Petani
Dampak ini timbul karena tidak adanya produksi yang dihasilkan oleh
tanaman atau gagal panen serta turunnya nilai ekonomis hasil produksi. Kerugian ini
disebabkan tidak adanya pendapatan petani sedangkan biaya budidaya tanaman telah
mereka keluarkan dalam jumlah yang sangat besar baik dari segi pengolahan lahan,
benih, penanaman serta perawatan. Sedangkan hasilnya tidak meraka dapatkan. Hal
ini semakain memperpuruk kondisi dan iklim pertanian di Indonesia
6. Terjadinya Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan dilakukan oleh para petani dikarenakan pendapatan yang
mereka dapatkan tidak sesuai dengan pengeluaran yang dilakakan dalam usaha
pertanian. Sehingga muncul pemikiran untuk mengalih fungsikan lahan pertanian
yagn subur ke bidang usaha lain yang lebih menjanjikan keuntungan bagi mereka.
Kondisi seperti ini semakin memperpuruk iklim pertanian di indonesia serta ketahan
bahan pangan dalam negri.
7. Degradasi Agroekosistem
Degradasi ekosistem terjadi karena adanya usaha yng dilakukan oleh para
petani dalam penaggulangan serangan hama yang tidak memikirikan dampak negatif
terhadap

lingkungan

serta

komponen-komponen

penyusun

agroekosistem.

Pencemaran lingkungan tersebut kerena adanya zat-zat yang berbahaya akibat

digunakannya pestisida. Dengan adanya penanggulanag serangan hama yang tida


sesuai ini menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem alami.
8. Munculnya resistensi dan returgensi hama
Dengan penanggulangan serangan hama yang tidak sesuai akan menyebabkan
resistensi atau kekebalan hama terhadap pestisida dan returgensi atau ledakan jumlah
populasi hama yang berakibat pada damapa kerugian aygn lebih komplek dalam
usaha budidaya tanaman itu sendiri.
2. Dampak Kerugian Akibat Serangan Penyakit pada Tanaman
Dampak serangan penyakit tanaman tidak separah dampak yang ditimbulkan
akibat serangan oleh hama. Namun, dampak yang timbul juga tidak kalah hebatnya
dengan serangan hama. Serangan penyakit pada tanaman budidaya lebih banyak
mengarah pada proses fisiologinya. Karena menyerang sel dan jaringan tanaman.
Adapun dampak kerugian yagn ditimbulkan yaitu :
1. Terganggunya Proses Fotosintesis tanaman
Hal ini terjadi karena terjadinya kerusakan pada bagain penampang daun akibat
penyakit. Sehingga daun tidak dapat meyerap sinar matahari secara maksimal.
Penyakit yang menyerang daun antara lain :
a. Karat daun oleh Cendawan Phachyrizi phakospora
b.Penyakit bercak bakteri oleh Xanthomonas phaseoli
c. Virus mozaik yang menyerang daun muda dan tunas muda
2. Terganggunya proses absorbsi unsur hara dan mineral tanah
dengan terganggunya proses penyerapan unsur hara dan mineral dalam tanah
menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu. Penyakit
ini biasanya menyerang bagian akar tanaman sperti penyakit jamur akar merah, putih
pada tanaman karet. Penyekit ini juga menyebabkan tanaman menjadi layu dan mati
akibat kekurangan asupan nutrisi.
3. Kegagalan Panen

serangan penyakit tanaman juga mengakibatkan kegagalan panen. Seperti


pada tanaman jeruk yang terserangan penyakit CCBD. Tanaman jeruk tidak akan
menghasilkan buah akibat serangan penyakit ini. Selain itu, tanaman juga harus di
musnahkan dan diganti dengan tanaman baru yagn merupakan kerugian besar bagi
para petani karena harus mengeluarkan biaya yang besar.
4. Penurunan nilai ekonomis
Disebakan terjadinya kerusakan pada bagian-bagian hasil produksi tanaman.
Seperti terjadi busuk, polong yang tida berisi pada tanaman legum dan lain-lain.
Dengan dampak ini akan semakin mempersulit kehidupan para petani.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

Hama penting yang sering menyerang tanaman kakao adalah Penggerek buah
kakao

(PBK),

Kepik

penghisap

buah

kakao

(Helopeltis),

Penggerek

batang/cabang (Zeuzera coffeae), Tikus dan tupai/bajing

Penyakit penting kakao diantaranya yaitu Vascular streak dieback (VSD), Busuk
buah, Kanker batang, Antraknose, Jamur akar, Jamur upas.

Cara penyebaran hama yaitu terbawanya telur hama oleh manusia atau oleh angin
dan menetas di suatu tempat.

Penyebaran pathogen yaitu melalui spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif
tanaman, atau melalui spora yang terbawa angin ataupun percikan air hujan

Hama dan Patogen menyebabkan banyak kerugian diantaranya produktifitas


menurun dan bahkan gagal panen.

5.2 Saran
Praktikum sudah berjalan dengan baik, namun harus ditingkatkan lagi muatan atau
materi yang diberikan kepada mahasiswa sehingga mahasiswa lebih memahami
maksud dan tujuan kegiatan praktikum ini dengam baik.

DAFTAR PUSTAKA
Budi, 2008. Panduan Praktis Budidaya Kakao. Bogor: Balai Penelitian Tanah
Indarti, Eti. 2007. Efek Pemanasan Terhadap Rendemen Lemak Pada Proses
Pengepresan Biji Kakao. Jurnal Rekayasa Kimia Dan Lingkungan Vol. 6, No. 2,
Hal. 50-54, 2007
Widayat, Heru P. 2013. Perbaikan Mutu Bubuk Kakao Melalui Proses Ekstraksi
Lemak Dan Alkalisasi. Jurnal Teknologi Dan Industri Pertanian Indonesia Vol.
(5) No.2, 2013
Setyohadi. 2007. Diktat Agro Industri Hasil Tanaman Perkebunan. Medan : UsuPress.
Siagian, Balonggu. 2013. Respons Pertumbuhan Bibit Kakao Terhadap Vermikompos
Dan
Pupuk
P.
Jurnal
Online
Agroekoteknologi
Vol.1,
No.4
Amran, Arman. 2011. Analysis Of Socio-Economic Impacts Penyakit Gugur Daun
Cengkeh In Bontomanai Subdistrict, Kepulauan Selayar District. Studi Evaluasi
Gerakan Nasional Peningkatan Produksi Dan Mutu Kakao (Gernas Kakao) Di
Kabupaten.
John. 2009. Studi Evaluasi Gerakan Nasional Peningkatan Produksi Dan Mutu
Kakao (Gernas Kakao) Di Kabupaten. Sedney : Universitas Sedney
Oyekale, A.S. 2012. Determinants Of Climate Change Adaptation Among Cocoa
Farmers In Southwest Nigeria. Vol. 2, Special Issue, Icesr
Rifin, Amzul. 2013. Competitiveness Of Indonesias Cocoa Beans Export In The
World Market. International Journal Of Trade, Economics And Finance, Vol. 4,
No. 5
Crozier, Stephen J. 2011. Cacao Seeds Are A Super Fruit": A Comparative Analysis
Of Various Fruit Powders And Products. Crozier Et Al. Chemistry Central
Journal.
Gockowski , James. 2011. Increasing Income Of Ghanaian Cocoa Farmers: Is
Introduction Of Fine Flavour Cocoa A Viable Alternative. Quarterly Journal Of
International Agriculture 50 (2011), No. 2