Anda di halaman 1dari 6
HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP KESIAPAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN PERILAKU KEKERASAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMALANREA MAKASSAR_ Elisabet Yane Stover’, Dahrianis*, Sri Purnama Rauf* *STIKES Nani Hasanuddin Makassar ?STIKES Nani Hasanuddin Makassar SPoltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK Menurut Notoatmodjo pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang, baik secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan defenisi ini, perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada dir sendiri, orang lain dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu perilaku kekerasan saat sedang berlangsung atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan) (Keliat, 2009), Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan keluarga tentang perilaku kekerasan terhadap kesiapan keluarga dalam merawat pasien perilaku kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar penelitian ini mengguakan pendekatan cross sectional dimana peneliti melakukan pendekatan dengan menggunakan kuesioner-penelitian ini dimulai pada 24J juni sampai 13 July 2013.Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah aksidental sampling. Dari 32 sampel terdapat 17 (53,1%) keluarga yang siap merawat pasien perilaku kekerasan, yang keluarganya memiliki penngetahuan baik sebanyak 3 (9,4%) keluarga dan keluarga yang pengetahuannya kurang sebanyak 14 (43,8%) keluarga. Dan terdapat 15 (46,9%) keluarga yang tidak siap merawat pasien perilaku kekerasan, keluarga yang tahu dan tidak siap merawat sebanyak 13 (40,6%), yang idak tau dan tidak siap merawat sebanyak 2 (6,2%) keluarga. Berdasarkan uli statistic chi-square di peroleh nilal 9,000. Dengan responden demikian p 0,05. Jika p< a (0,05) maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima yang berarti ada hubungan antara tingkat depresi dengan tingkat kemandirian lansia dalam aklivitas sehari-hari.Sedangkan jka p > a (0,05) maka hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat depresi dengan tingkat kemandirian tansia dalam aktivitas sehari-hari HASIL PENELITIAN ‘Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kelompok Umur Pada Responden Di Wilayah Kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar Kelompok y Umur " %e 6-42 Tahun 16 50 43 - 69 Tahun 16 50 Total 32 100.0 ‘Sumber : Data Primer 2073, Tabel 1 di alas menunjukkan bahwa dari 32 keluarga yang menjadi responden terdapat usia 16 — 42 tahun sebanyak 16 orang (50%) dan 43-69 tahun sebanyak 16 orang (50%). Tabel 3, Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Keluarga Tentang Perilaku Kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar Tahun 2013 Pengetahuan Keluaraga h % Tentang Perilaku 6 Kekerasan Tahu 16 50 Tidak Tahu 16 50 Toial 32 100.0 Tabel 3 di atas_menunjukkan bahwa dari 32 keluarga yang diambil sebagai subjek Penelitian tedapat 16 (50%) keluarga yang berpengetahuan balk mengenal_perialku kekerasan dan terdapat 16 (50%) keluarga yang berpengetahuan kurang tahu mengenai perilaku kekerasan. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kesiapan Keluarga Dalam Merawat pasien jiwa berperilaku kekerasan di wilayah kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar Tahun 2013 Kesiapan Keluarga Dalam Merawat n % Siap 7 Bat Tidak Siap 45 46.9 Total 32 700.0 Tabel 4 di atas_menunjukkan bahwa dari 32 keluarga yang di ambil sebagai subjek peneliian terdapat 17 (53,1%) keluarga yang siap dalam merawat pasien ja perlaku kekerasan dan 15 (46,9%) keluarga yang tidak siap dalam merawat pasien jiwa perlaku kekerasan. Analisis Bivariat Tabel 5. Hubungan Pengetahuan Keluaraga Dan Kesiapan Keluarga Dalam Merawat Pasien Perilaku Kekerasan di Wilayah Kerja Pushes Tanslones” Makassar Taken Tabel 2. Dis Frotuens Berdsarkan Jets ES Kelamin Pada Responden Di Puskesmas roluarge |_Kesiapan Keluarga | Tamalanrea Makassar Tahun 2013 ‘tentang | Siap Tak otal Jenis Kelamin: n % Perilaku Siap Laki—laki 18 56.2 Tahu | 3 406 [16 [500 Perempuan “4 43.8 Tidak Tahu | 14 6.2 | 16 | 50.0 Tea 32 | too Tat 17 vente 00 Table 2 di atas menunjukkan bahwa dari 32 pasien jiwa yang diambil subjek peneliian, terdapat 18 orang (56,2%) yang berjenis ‘kelamin lakilaki dan 14 orang (43,8%) yang berjenis kelamin peremouan. Volume 4 Nomor 3 Tahun 2014 © ISSN: 2302-1721 Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa dari 32 keluarga yang diambil sebagai subjek penelitian terdapat 17 (53,1%) keluarga yang siap merawat pasien perilaku kekerasan, yang keluarganya memiliki pengetahuan balk sebanyak 3 (9,4%) keluarga dan keluarga yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 14 (43,8%) keluarga. Dan terdapat 15 (48,9%) keluarga yang yang tidak siap merawat pasien perilaku kekerasan, yang keluarganya tahu dan tidak siap merawat sebanyak 13 (40,6%) keluarga, yang tidak tau dan tidak siap merawat sebanyak 2 (6,2%) keluarga Berdasarkan analisis bivariat dengan uji Chi-Square alternative exact test dengan nilai kemaknaan a= 0,05 dimana hasil penelitian di Peroleh p = 0,000 yang menunjukkan p < a atau 0,000 < 0,05, berarti terdapat hubungan antara’ variabel_— independent —_yaitu Pengetahuan keluarga dalam merawat pasien perilaku kekerasan di wilayah kerja, Puskesmas Tamalanrea Makassar. PEMBAHASAN Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah merupakan hasil dari lahu dan ini setelah orang melakukan Penginderaan terhadap obyek _tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni_indera_penglihatan, Pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperolen melalui mata dan telingan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tamalanrea di peroleh hasil bahwa terdapat 3 keluarga yang memilki pengetahuan balk dan siap dalam merawat pasien perilaku kekerasan. Hal ini dikarenakan keluarga selalu menambah pengetahuan dengan membaca dan bimbingan-bimbingan dari petugas Kesehatan mengenai perkembangan pasion terutama hal-hal yang yang dapat terjadi pada pasien serta menjaga komunikasi yang baik dengan pasien. Aplikasinya adalah keluarga dapat meminimalisir terjadinya perilaku kekerasan Pengetahuan — keluarga_—- mengenai Kesehatan mental merupakan awal usaha dalam memberikan ikiim yang Kondusif bagi anggota keluarganya. Keluarga selain dapat meningkatkan dan mempertahankan Kesehatan mental anggota keluarganya, juga dapat menjadi sumber masalah bagi anggota keluarga yang mengalami Ketidakstabilan mental sebagai akibat minimnya pengetahuan mengenai persoalan kejiwaan_ keluarganya (Notosoedirdjo & Latipun, 2005) Berdasarkan penelitian Pearson (1993) di Cina, didapatkan hasii bahwa dari 150 koresponden anggota keluarga yang salah satu anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa, keluarga yang memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 78.3% dan selebinnya 21.7% koresponden tidak peduli akan kondisi Keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Setelah dibandingkan antara kondisi —anggota—keluarga.=—yang berpengetahuan baik dan yang tidak memiliki pengetahuan baikitidak peduli diketahui bagaimana perawatan terhadap anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa, di mana —kondisi—keluarga yang berpengetahuan baik —lebih_—_terjaga dibandingkan pada keluarga yang tidak memiliki pengetahuan yang baik. Sehingga sangat diperlukan bagi keluarga untuk memiliki pengetahuan yang balk dalam menghadapi anggotakeluarga__ yang mengalami gangguan jiwa, Pentingnya peran serta keluarga dalam klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai_hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan “institus!” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku (Clement dan’ Buchanan, 1982), Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan di masyarakat. Dan terdapat 13 keluarga yang tahu dan tidak siap merawat pasien perilaku kekerasan. Hal ini di karenakan keluarga memiliki aktivitas yang banyak seperti bekerja dan anggota keluarga yang lain masih dalam jenjang pendidikan. Kesibukan ini menjadi perlimbangan keluarga_ dengan alasan kurangnya waktu untuk merawat. Menurut Friedman (1998), dukungan sosial keluarga adalah sikap, tindakan dan Penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit, Anggota keluarga memenadang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika dipertukan, Friedman dalam Sudiharto (2007), menyalakan bahwa fungsi dasar keluarga antara lain adalah fungsi efektif, yaitu fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh memberikan kasih sayang seta menerima dan mendukung. Menurut Friedman (2003) dukungan sosial keluarga adalah bagian integral dari dukungan sosial. Dampak positif dari dukungan —sosial_-—skeluarga adalah meningkatkan penyesuaian diri seseorang terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan, Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa terdapat 14 keluarga yang memilki pengetahuan kurang tapi siap merawat pasien perilaku kekerasan, Hal ini dikarenakan keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang perilaku kekerasan, Rate-rata keluarga pasien hanya sebatas tahu apa itu perilaku kekerasan. Penyebab, gejala dan cara Volume 4 Nomor 3 Tahun 2014 © ISSN : 2302-1721 menanganinya tidak diketahui oleh keluarga. Keluarga hanya merawat karena menganggap bahwa anggota keluarganya sakit dan mereka harus merawatnyatanpa_—_-mengetahui resikonya, Keluarga adalah orang-orang yang sangat dekat dengan pasion dan dianggap paling banyak tahu kondisi pasien serta dianggap paling banyak memberi pengaruh pada pasien. Sehingga keluarga sangat penting artinya dalam perawatan dan Penyembuhan pasien. Alasan_—_utama pentingnya keluarga dalam perawatan jiwa adalah 4. Keluarga merupakan lingkup yang paling banyak berhubungan dengan pasien 2. Keluarga (dianggap) paling mengetahui kondisi pasien 3. Gangguan jiwa yang timbul pada pasien mungkin disebabkan adanya cara asuh yang kurang sesuai bagi pasien 4, Pasien yang mengalami gangguan jiwa nantinya akan kembali_—kedalam masyarakat; khususnya dalam lingkungan keluarga 5. Keluarga merupakan pemberi perawatan utama dalam mencapal _pemenuhan kebutuhan dasar dan mengoptimalkan ketenangan jiwa bagi pasien 6. Gangguan jiwa mungkin memerlukan terapi yang cukup lama, sehingga pengertian dan kerjasama keluarga sangat penting artinya dalam pengobatan (Beranda Keperawatan Jiwa, 2012). Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi pada salah satu. anggota merupakan dapat, mempengaruhi seluruh sistem, sebaliknya disfungsi keluarga_merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota. Bila ayah sakit maka akan mempengaruhi perilaku anak, dan istrinya, termasuk keluarga lainnya, Salah salu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah; keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku Klien di rumah (Sullinger, 1988), Kecemasan dapat dirasakan oleh individu ataupun sekelompok orang termasuk keluarga, kecemasan meliputi keluarga dan mereka sangat terbebani dengan kondisi penderita. Bahkan tidak sedikit keluarga yang sama sekali tidak mengetahui rencana apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi masalah gangguan jiwa salah satu anggota keluarganya. Kecemasan akan semakin meningkat tanpa pemahaman yang jemih mengenai masalah besar yang dihadapi keluarga. Terkadang masalah ini tidak dapat dihadapi_ dan semakin membuat konflik di dalam keluarga sehingga ering _terjadi Volume 4 Nomor 3 Tahun 2014 © ISSN: 2302-1721 enolakan terhadap penderita gangguan jiwa (Brown & Bradley, 2002), Dalam jurnal National Institue of Mental Health, Samuel Keith (1970) mengadakan penelitian mengenal pengalaman yang dirasakan keluarga dalam —menghadapi anggota kelvarga yang mengalami gangguan jiwa. Keluarga lebih banyak merasakan kecemasan (58.6%) dibandingkan keadaan keluarga yang marah (12.7%) bahkan ada yang menolak (28.7%) keadaan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Kecemasan dan berbagai pengalaman lainnya yang dirasakan oleh keluarga merupakan hal yang wajar dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan hasil penelitian dengan membandingkan teori-teori yang ada, maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan keluarga tentang perilaku kekerasan sangatlah penting dalam morawat pasion perilaku kokerasan, Semakin balk pengetahuan keluarga maka semakin baik pula dan semakin tinggi minat keluarga untuk merawat pasien perilaku kekerasan. Selain itu dukungan dan pernatian keluarga dapat semakin menambah dan mensupor pasien untuk sembuh karena keluarga adalah orang yang sangat dekat dengan pasien dan paling tahu headaan pasien, KESIMPULAN 1. Keluarga yang memiliki anggota keluarga mengalami gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar rata- rata berpengetahuan balk 2. Kesiapan keluarga dalam —_ merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa di wilayah_— kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar rata- rala siap ini terbukti bahwa lebih dominan keluarga yang bersedia_—_merawat dibandingkan dengan keluarga yang tidak siap untuk merawal, 3. Adanya hubungan antara_pengetahuan dan kesiapan keluarga dalam merawat Pasien perilaku kekerasan diwilayah Kerja Puskesmas Tamalanrea Makassar. Semakin tinggi pengetahuan keluarga tentang perialaku kekerasan maka semakin menentukan siapkah keluarga dalam merawat pasien _perilaku kekerasan, SARAN 1. Saran bagi keluarga agar _semakin meningkatkan — pengetahuan _ tentang perlaku kekerasan melalui bimbingan atau dari sumber-sumber bacaan agar lebih memahami lagi cara merawat pasien perllaku kekerasan, baik itu tentang psikologi maupun kebuuhan-kebutuhan asien agar pasien dapat semakin nyaman. 2. Untuk pihak Puskesmas agar selalu memperhatikan dan memberikan penyuluhan lebih lagi mengenal gangguan jiwa terutama tentang perilaku kekerasan dan memiliki kerja sama yang baik dengan keluarga pasien sehingga kebutuhan- kebutuhan pasien dapat terpenuhi terutama keadaan pasien semakin balk. DAFTAR PUSTAKA, Hidayat, A. 2008. Riset keperawatan dan teknik penulisa iimiah.Salemba Medika: Jakarta Kusumawati, Farida & Hartono, Yudi.2010. Buku Afar Keperawatan Jiwa,Salemba Medika ‘Jakarta Keliat, A. Budi & Akemat,2009. Model Praktik Keperawain professional Jiwa. EGC: Jakarta Keliat,Budi & kk.2008. Menanti Empati Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwe, hal 25-27. pusat kajian bencana dan tindak kekerasan departemen psikiatr Ne oedidjo & Latipun. (2005). Kesehatan Menta, Konsop dan Penerapan. Malang: UMM Press. Pearson Professional Limited Khairuddin. (1987). Sosiolog! Keluarge. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta Prasko.2013 dalam hitp:zona-prasko.blogspot.com/plabout-me.htmi, posted 11 Februari 2013. Riyadi, S & Purwanto, 7.2009.Asuhan keperawatan jwa.hal.113-114.Graha limu: Yogyakarta \Videbeck Sheila. 2008. Buku Ajar Keperawatan Ja, hal 3 EGC-Jakarta Yosep iyus. 2007. Keperawatan Ja, Refika Aditama:Bandung ‘Yosep iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama:Bandung, Volume 4 Nomor 3 Tahun 2014 © ISSN : 2302-1721