Anda di halaman 1dari 35

Gambaran Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal Berdasarkan

Indeks DMF-T/def-t dan PUFA/pufa danpada Anak Usia 10-12 Tahun


di SDN Sungai Besar 7 dan SDN Banjarbaru Utara 4

LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK BELAJAR


LAPANGAN
AMALIA APRINDA
ERIKA NORFITRIAH
SORAYA FATIMAH
NOOR BINTANG RAMADHAN

I4D109216
I4D109219
I4D109220
I4D109227

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
JANUARI, 2015

LATAR BELAKANG
PENYAKIT PULPA
DAN JARINGAN
PERIAPIKAL

KASUS
TERBANYAK,
MERUPAKAN 10
KASUS
TERBANYAK DI
PUSKES SEI ULIN

PENYULUHAN
TOPIKAL APLIKASI
EKSTRAKSI GIGI SULUNG GR 3

PERLU SURVEY
TENTANG
GAMBARAN
PENYAKIT PULPA
DAN JARINGAN
PERIAPIKAL USIA
10-12 TAHUN
INTERVENSI
UNTUK
MENURUNKAN
ANGKA
KEJADIAN
PENYAKIT

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana gambaran DMF-T/def-t
pada anak usia 10-12 tahun di SDN
Sungai Besar 7 dan SDN Banjarbaru
Utara 4.
Bagaimana gambaran skor PUFA/pufa
pada anak usia 10-12 tahun di SDN
Sungai Besar 7 dan SDN Banjarbaru
Utara 4.

TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui rata-rata skor DMF-T/def-t pada
anak usia 10-12 tahun di SDN Sungai Besar 7 dan SDN
Banjarbaru Utara 4
Untuk mengetahui gambaran skor PUFA/pufa pada
anak usia 10-12 tahun di SDN Sungai Besar 7 dan SDN
Banjarbaru Utara 4

MANFAAT PENELITIAN

Hasil Penelitian ini diharapkan bermanfaat


untuk memberikan informasi mengenai
gambaran kelainan pulpa dan jaringan
periapikal dengan menggunakan indeks
DMF-T/def-t dan indeks PUFA/pufa pada
anak-anak sekolah dasar yang berumur
10-12 tahun di wilayah kerja Puskesmas
Sungai Ulin.
Dapat pula dijadikan sebagai bahan
rujukan bagi penelitian berikutnya yang
akan meneliti masalah-masalah yang
memiliki relevansi dengan masalah
pada penelitian ini.

KERANGKA KONSEP
Status Kesehatan
Gigi dan Mulut

Akumulasi Debris dan


Kalkulus

Karies

DMFT

PUFA

OHIS

RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
penelitian
survei
analitik
dengan
pendekatan Cross Sectional yaitu suatu
penelitian dengan cara pengamatan,
observasi
atau
pengumpulan
data
sekaligus pada suatu saat atau point time
approach.

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah


:
Alat diagnostik
Nierbeken
Tissue
Kuisioner
Alat tulis
Lap putih
Handuk kecil
Alkohol 70%
Kapas
Aqua gelas
Chlorine
Detergen.

VARIABEL PENELITIAN
Variabel Bebas
Tingkat
pengetahuan
kebersihan gigi dan mulut
Variabel Tergantung
Skor DMF-T/deft dan PUFA/pufa

menjaga

DEFINISI OPERASIONAL
Pengetahuan menjaga kebersihan kesehatan gigi dan
mulut adalah hal yang diketahui oleh responden
terkait dengan cara menjaga kebersihan gigi dan
mulut yang benar yang diukur dengan kuisioner
Indeks skor DMF-T adalah menggambarkan jumlah
banyaknya karies gigi, tumpatan gigi, dan tanggalnya
gigi yang diderita pasien. DMF-T dihitung per gigi,
artinya gigi yang memiliki karies lebih dari 1 (misal
karies pada gigi molar terdapat karies di oklusal dan
di bukal maka karies tetap dihitung satu).
Indeks PUFA adalah sebuah indeks yang digunakan
untuk mengukur keadaan rongga mulut akibat karies
yang tidak dirawat. Pengukuran dilakukan secara
visual dan tidak menggunakan alat. Hanya satu skor
mewakili tiap gigi.

PROSEDUR
PENELITIAN

Tahap Persiapan
Pembuatan surat ijin pemeriksaan
dari puskesmas sungai ulin. Kemudian
melakukan kunjungan awal ke tempat
pemeriksaan dengan membawa surat
ijin pemeriksaan untuk melaporkan
rencana kegiatan, menjelaskan tujuan
dan teknis pelaksanaannya serta
mengumpulkan data jumlah siswasiswi SDN Sungai Besar 7 dan SDN
Banjarbaru Utara 4

Tahap Pelaksanaan
Peneliti membagikan kuisioner pada
siswa-siswi SDN Sungai Besar 7 dan
SDN Banjarbaru Utara 4 untuk
mengetahui gambaran pengetahuan
kesehatan gigi dan mulut siswa-siswi
tersebut.
Kemudian
peneliti
melakukan pemeriksaan klinis dengan
alat diagnostik, dicatat nilai DMFT/deft
dan PUFA/pufa yang didapat. Hasil
pemeriksaan
dicatat
di
lembar
penilaian

ALUR PENELITIAN

TEKNIK PENGUMPULAN DAN


PENGOLAHAN DATA
Data yang didapatkan kemudian
dideskripsikan menggunakan tabel
dan diagram.

TEMPAT DAN WAKTU


PENELITIAN
Penelitian dilakukan di SDN Sungai
Besar 7 dan SDN Banjarbaru Utara 4.
Waktu penelitian dilakukan pada bulan
Desember 2014.

PENYULUHAN KESEHATAN
GIGI DAN MULUT

Sikat Gigi Bersama

Pemeriksaan Status
Kesehatan Gigi dan Mulut

Pencabutan Gigi Sulung

Aplikasi Topikal Fluor

HASIL DAN
PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan DMF-T pada siswa-siswi kelas 5


di SDN Sungai Besar 7 dan SDN Banjarbaru Utara 4,
total indeks D (Decay) berjumlah 184 gigi, M (Missing)
berjumlah 1 gigi, dan F (Filling) 1 gigi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan def-t pada siswasiswi kelas 5 di SDN Sungai Besar 7 dan
SDN Banjarbaru Utara 4, total indeks d
(decay) berjumlah 158 gigi, e (exofiliation)
berjumlah 27 gigi, dan f (filling) 3 gigi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan PUFA pada siswa-siswi kelas 5 di


SDN Sungai Besar 7 dan SDN Banjarbaru Utara 4, total
indeks P (Pulpal Involvement) berjumlah 10 gigi, U
(Ulceration) tidak ada, F (Fistula) tidak ada, dan A
(Abses) tidak ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pemeriksaan pufa pada siswasiswi kelas 5 di SDN Sungai Besar 7 dan
SDN Banjarbaru Utara 4, total indeks p
(pulpal involvement) berjumlah 52 gigi, u
(ulceration) tidak ada, f (fistula) tidak
ada, dan a (abses) tidak ada.

Tabel Indeks DMF-T/def-t siswa-siswi


kelas 5 di SDN Sungai Besar 7 dan SDN
Banjarbaru Utara 4
Indeks rataIndeks Karies

Kategori

Jumlah
rata
Rendah

DMF-T

186

1,8
Rendah

def-t

188

Jumlah Sampel = 103

1,8

Tabel Persentase Indeks PUFA/pufa siswasiswi kelas 5 di SDN Sungai Besar 7 dan SDN
Banjarbaru Utara 4

Indeks Karies

Jumlah

Persentase

PUFA

10

10 x 100 = 5,4%
184

Pufa

52

52 x 100 = 32,9%
158

Hasil dan Pembahasan


Dari hasil kuisioner diketahui bahwa pada umumnya
perilaku siswa-siswi kelas 5 baik di SDN Sungai Besar 7
maupun di SDN Banjarbaru Utara 4 dalam memelihara
kesehatan gigi dan mulutnya sudah cukup baik. Ratarata mereka menyikat giginya dua kali sehari. Pada usia
10-12 tahun diketahui gigi susu sudah banyak yang
digantikan oleh gigi permanen, namun gigi permanen
yang ada baru tumbuh sehingga gigi belum lama
berada di dalam mulut dan belum banyak terpapar
berbagai hal yang menjadi penyebab karies. Hal inilah
mungkin yang menyebabkan rendahnya indeks karies
DMF-T dan deft siswa-siswi kelas 5 baik di SDN Sungai
Besar 7 maupun di SDN Banjarbaru Utara 4.

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan indeks rata-rata PUFA yang didapat
pada penelitian ini, diketahui dari 184 gigi
permanen anak yang mengalami karies 10 giginya
(5,4%) sudah mengenai pulpa. Hal ini sangat
disayangkan mengingat usia anak yang masih
sangat muda yaitu 10-12 tahun. Sedangkan pada
gigi susu diketahui dari 158 gigi, 52 giginya (32,9%)
sudah mengenai pulpa. Hasil indeks pufa yang lebih
besar ini disebabkan karena gigi susu pada anak
tumbuh lebih dahulu daripada gigi permanen
sehingga waktu gigi susu untuk terpapar berbagai
hal yang menyebabkan karies lebih lama.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Jika kita melihat dari distribusi indeks DMF-T dari 184
skor Decay hanya 1 gigi yang dirawat. Begitu juga
dengan indeks def-t dari 158 skor decay hanya 3 gigi
yang dirawat. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik
kesimpulan
bahwa
kesadaran
untuk
melakukan
perawatan gigi ke dokter gigi sejak dini masih sangat
rendah. Tidak salah jika kelainan pulpa dan jaringan
periapikal menjadi penyakit gigi yang paling tinggi di
puskesmas Sungai Ulin Banjarbaru. Hal ini ditunjukkan
dengan pasien yang berkunjung ke puskesmas Sungai
Ulin Banjarbaru kebanyakan giginya dalam keadaan
sakit. Artinya kerusakan gigi tersebut sudah mencapai
pulpa dan tidak bisa lagi dilakukan penambalan biasa.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Intervensi yang dilakukan:
1.Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
dilanjutkan sikat gigi bersama
2.Aplikasi topikal fluor
3.Melakukan rujukan ke Puskesmas Sungai
Ulin

SIMPULAN
Gambaran karies gigi pada siswa-siswi kelas 5 di
SDN Sungai Besar 7 maupun di SDN Banjarbaru
Utara 4 menunjukkan kriteria DMF-T/def-t rendah.
Gambaran persentase indeks PUFA 5,4% artinya
dari 184 gigi permanen anak yang mengalami
karies 10 gigi nya (5,4%) sudah mencapai pulpa.
Begitu juga dengan gigi susu anak yang diperiksa
indeks pufanya mencapai 32,9% artinya dari 158
gigi susu anak yang mengalami karies, 52 gigi
nya (32,9%) sudah mengalami keterlibatan pulpa.

SARAN
Siswa-siswi kelas 5 di SDN Sungai Besar 7
maupun di SDN Banjarbaru Utara 4 sebaiknya
terus memelihara kebersihan gigi dan mulut.
Dalam melakukan pemeliharaan kesehatan gigi
dan mulut peran pendamping (orang tua dan
guru) sangat diperlukan sehingga diperlukan
edukasi/penyuluhan kepada pengajar.
Dinas kesehatan setempat yang bekerjasama
dengan
pihak
sekolah,
sebaiknya
lebih
memperhatikan kesehatan gigi dan mulut pada
siswa siswi di sekolah dasar, karena siswa-siswi
sekolah dasar adalah sasaran yang paling efektif
dalam melaksanakan program-program preventif
kesehatan gigi dan mulut.

TERIMA KASIH