Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan
aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi
digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846 yang
artinya tidak ada rasa sakit.1
Anestesi menurut arti kata adalah hilangnya kesadaran rasa sakit, namun
obat anestasi umum tidak hanya menghilangkan rasa sakit akan tetapi juga
menghilangkan kesadaran. Pada operasi-operasi daerah tertentu seperti operasi
pada bagian perut, maka selain hilangnya rasa sakit dan kesadaran, dibutuhkan
juga relaksasi otot yang optimal agar operasi dapat berjalan dengan lancar.2
Obat anestesi yang baik harus memenuhi trias anestesi yaitu, efek
hipnotik, efek analgesia dan efek relaksasi otot. Akan tetapi, dari berbagai obat
anestesi hanya eter yang memiliki trias anestesia. Oleh karena itu anestesi
modern saat ini menggunakan obat-obat selain eter, maka anestesi diperoleh
dengan menggabungkan berbagai macam obat.2
Obat anestesi dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu anestesi lokal yang
merupakan penghilang rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran dan anestesi
umum sebagai penghilang rasa sakit yang disertai hilangnya kesadaran. Semua
zat anestesi umum menghambat susunan saraf secara bertahap, mula-mula
fungsi yang kompleks akan dihambat dan yang paling akhir adalah medula
oblongata yang mengandung pusat vasomotor dan pusat pernafasan yang vital.
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter menjadi 4 stadium, yaitu
stadium analgesia, stadium delirium, stadium pembedahan dan stadium paralisis
medulla.1
Obat anestetik lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila
dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini bekerja
pada setiap bagian saraf. Pemberian anestetik lokal pada kulit akan menghambat

transmisi impuls sensorik, sebaliknya pemberian anestetik lokal pada batang


saraf

menyebabkan

paralisis

sensorik

dan motorik

di

daerah

yang

dipersarafinya. Mekanisme kerja anestetik lokal adalah mencegah konduksi dan


timbulnya impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di membran sel.1
Prinsip dasar farmakologi obat anestetik, meliputi transfer membran,
absorbsi, metabolisme, distribusi dan eliminasi obat. Pada anestetik lokal,
peristiwa farmakologik ini lebih sederhana tanpa mempengaruhi pusat
kesadaran di SSP.1
Kepentingan utama farmakologi anestetik secara klinis adalah dalam
menentukan dosis yang optimal untuk suatu obat, dimana dalam selang dosis
tersebut obat akan mempunyai efek terapi tanpa menimbulkan efek toksik.
Seberapa besar jumlah yang diperlukan ditentukan dengan menentukan tingkat
konsentrasi minimal yang dapat menimbulkan efek separuh dari efek terapi
yang diharapkan, dan tingkat konsentrasi maksimal yang umumnya ditentukan
pada jumlah konsentrasi obat.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anestesi Inhalasi
Obat anestesia inhalasi adalah obat anestesia yang berupa gas atau cairan
mudah menguap, yang diberikan melalui pernafasan pasien. Campuran gas atau
uap obat anestesia dan oksigen masuk mengikuti udara inspirasi, mengisi
seluruh rongga paru, selanjutnya mengalami difusi dari alveoli ke kapiler sesuai
dengan sifat fisik masing-masing gas.2
2

Anestesi inhalasi adalah obat yang paling sering digunakan pada


anestesia umum. Penambahan sekurang-kurangnya 1% anestetik volatil pada
oksigen inspirasi dapat menyebabkan keadaan tidak sadar dan amnesia, yang
merupakan hal yang penting dari anestesia umum. Bila ditambahkan obat
intravena seperti opioid atau benzodiazepin, serta menggunakan teknik yang
baik, akan menghasilkan keadaan sedasi/hipnosis dan analgesi yang lebih
dalam.
Obat anestesi inhalasi biasanya dipakai untuk pemeliharaan pada
anestesi umum, akan tetapi juga dapat dipakai sebagai induksi, terutama pada
pasien anak-anak. Gas anestesi inhalasi yang banyak dipakai adalah isofluran
dan dua gas baru lainnya yaitu sevofluran dan desfluran. sedangkan pada anakanak, halotan dan sevofluran paling sering dipakai. Walaupun dari obat-obat ini
memiliki efek yang sama (sebagai contoh : penurunan tekanan darah tergantung
dosis), namun setiap gas ini memiliki efek yang unik, yang menjadi
pertimbangan bagi para klinisi untuk memilih obat mana yang akan dipakai.
Perbedaan ini harus disesuaikan dengan kesehatan pasien dan efek yang
direncanakan sesuai dengan prosedur bedah. 2
Eter
Eter merupakan obat anestesi inhalasi yang orisinal dibuat oleh Valerius
Cardus pada tahun 1540, dengan memanaskan etil alkohol dengan asam sulfur
dibawah suhu 130C. Eter tidak berwarna , mudah menguap, dan berbau khas.
Secara farmakologi klinis, eter mempengaruhi sejumlah fungsi sistem
organ tubuh. Eter mampu meningkatkan denyut nadi, merangsang simpatis, dan
mendepresi vagal. Aritmia jarang terjadi. Frekuensi napas bertambah pada
permulaan anestesi, dan kemudian melambat. Sekresi saluran napas meningkat.
Tekanan intrakranial juga meningkat akibat dilatasi pembuluh darah otak.4
Halotan
Halotan merupakan anestetik umum inhalasi dengan nama IUPAC 2bromo-2-kloro-1,1,1-trifluoroetan. Halotan merupakan satu dari dua agen
anestetik inhalasi yang terdaftar dalam formulasi WHO 2004 untuk anestesi
induksi dan pemeliharaan, selain eter. Perbedaannya adalah, halotan merupakan
agen anestetik yang bersifat terfluorinasi.2

Penggunaan halotan perlu mempertimbangkan fisiologis hepar, karena


halotan secara bermakna dapat memicu hepatitis fulminan. Halotan juga bersifat
mendepresi miokardial sehingga menyebabkan bradikardi dan hipotensi.
Peningkatan sensitivitas terhadap katekolamin mampu menyebabkan aritmia
jantung. Efek samping lainnya adalah PONVS (Postoperative nausea, vomiting,
and Shivering), peningkatan tekanan intrakrnial, penurunan aliran darah renal
dan GFR, hipertermia. 4
Enfluran
Enfluran merupakan eter terhalogenasi yang telah digunakan sebagai
anestesi inhalasi sejak dikembangkan tahun 1963.
Enfluran berbentuk cair pada suhu kamar, mudah menguap dan berbau
enak. Enfluran merupakan anestesi poten, mendepresi SSP dan menimbulkan
efek hipnotik. Pada anestesi yang dalam dapat menimbulkan penurunan tekanan
darah disebabkan depresi pada miokard. Selain itu, enfluran juga mendepresi
napas dengan menurunkan volume tidal. Pada otot, terjadi efek relaksasi sedang
dan efek ini meningkatkan kinerja obat-obat relaksan otot.

Desfluran
Desfluran (2,2,2-trifluoro-1-fluoroetil-difluorometil eter) merupakan etil
metil eter berfluorinasi yang digunakan sebagai agen pemelihara anestesi
umum. Bersama dengan sevofluran, penggunaannya mulai menggantikan
isofluran, meskipun harganya lebih mahal. Desfluran memiliki onset kerja yang
sangat singkat dan kelarutan dalam darahnya sangat rendah.1
Isofluran
Seperti anestesi inhalasi yang lain, isofluran juga mendepresi
napas.Volume tidal dan frekuensi napas dapat menurun menimbulkan dilatasi
bronkus, sehingga baik untuk kasus penyakit paru obstruksi menahun.4
Depresi terhadap jantung minimal dibandingkan enfluran dan halotan.
Pada beberapa kasus dapat menyebabkan takikardi. Isofluran memiliki efek
relaksasi otot yang baik dan berpotensiasi dengan obat relaksan otot, namun
tidak terlalu merelaksasi otot uterus pada kasus obstetri.4

Berbeda dengan enfluran, obat ini tidak menimbulkan perubahan


gambaran epileptiform pada EEG, serta tidak begitu mempengaruhi aliran darah
otak. Metabolisme yang minimal menyebabkan obat ini aman bagi fungsi hepar
dan ginjal.4
Sevofluran
Penggunaan sevofluran dapat diberikan bersama oksigen dan N2O.
Onset kerja obat sangat cepat, dan konsentrasinya dalam darah relatif rendah.4
Sevofluran dapat membentuk 2 senyawa hasil degradasi selama anestesi
dilakukan, yaitu senyawa A dan senyawa B, yang pembentukannya akan
meningkat terutama bila suhu terlalu tinggi atau sodalime telah rusak. Senyawa
A dapat menyebabkan nekrosis renal pada tikus, sedangkan pada manusia,
derajat kerusakan jaringan ginjal masih sedang dalam penelitian. Dengan
memperhatikan hal ini, sevofluran dianjurkan diberikan dengan minimum aliran
gas 2 liter/menit, karena aliran yang rendah akan memicu peningkatan
temperatur sodalime.2
Nitrous Oksida
Nitrous oksida merupakan gas inhalan yang digunakan sebagai agen
pemelihara anestesi umum. Penggunaan nitrous oksida bersama dengan oksigen
atau udara. Efek anestesi nitrous oksida menurun bila digunakan secara tunggal,
sehingga perlu pula penambahan agen anstetik lainnya dengan dosis rendah.
Nitrous oksida memiliki efek analgetik yang baik.
N2O nerupakan zat anestesi lemah, menimbulkan efek analgesia dan
hipnotik lemah. Efek kardiovaskular minimal, sehingga perubahan pada
frekuensi jantung, irama dan curah jantung maupun EKG juga minimal.
Pernapasan tidak banyak dipengaruhi. Depresi napas terjadi pada pemakaian
N2O tanpa oksigen. Sensitivitas laring dan trakea terhadap manipulasi
menurun.3
2.2. Anestetik Intravena
Obat anestesi intravena adalah obat anestesi yang diberikan melalui jalur
intravena, baik obat yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh
otot. Setelah berada didalam pembuluh darah vena, obat-obat ini akan diedarkan
ke seluruh jaringan tubuh melalui sirkulasi umum, selanjutnya akan menuju

target organ masing-masing dan akhirnya diekskresikan sesuai dengan


farmakodinamiknya masing-masing.5
Propofol
Penggunaan propofol 1,5 2,5 mg/kgBB (atau setara dengan thiopental
4-5 mg/kgBB atau methohexital 1,5 mg/kgBB) dengan penyuntikan cepat (< 15
detik) menimbulkan turunnya kesadaran dalam waktu 30 detik. Propofol lebih
cepat dan sempurna mengembalikan kesadaran dibandingkan obat anestesia lain
yang disuntikan secara cepat. Selain cepat mengembalikan kesadaran, propofol
memberikan gejala sisa yang minimal pada SSP. Nyeri pada tempat suntikan
lebih sering apabila obat disuntikan pada pembuluh darah vena yang kecil.
Propofol menjadi pilihan obat induksi terutama karena cepat dan efek
mengembalikan kesadaran yang komplit. Infus intravena propofol dengan atau
tanpa obat anestesia lain menjadi metode yang sering digunakan sebagai sedasi
atau sebagai bagian penyeimbang atau anestesi total iv. Penggunaan propofol
melalui infus secara terus menerus sering digunakan di ruang ICU. 1
Ditemukan bradikardia dan asistol setelah pemberian propofol telah
pada pasien dewasa sehat sebagai propilaksis antikolinergik. Risiko
bradycardia-related death selama anestesia propofol sebesar 1,4 / 100.000.
Bentuk bradikardi yang parah dan fatal pada anak di ICU ditemukan pada
pemberian sedasi propofol yang lama. Anestesi propofol dibandingkan anestesi
lain meningkatkan refleks okulokardiak pada pembedahan strabismus anak
selama pemberian antikolonergik.
Pada Hepar dan ginjal, propofol tidak menggangu fungsi hepar dan
ginjal yang dinilai dari enzim transamin hati dan konsentrasi kreatinin. Infus
propofol yang lama menimbulkan luka pada sel hepar akibat asidosis laktat,
bradidisritmia, dan rhabdomyolisis. Infus propifol yang lama menyebabkan urin
yang berwarna kehijauan akibat adanya rantai phenol. Namun perubahan warna
urin ini tidak mengganggu fungsi ginjal. Namun ekskresi asam urat meningkat
pada pasien yang mendapat propofol yang ditandai dengan urin yang keruh,
terdapat kristal asam urat, pH dan suhu urin yang rendah.
Barbiturat

Barbiturat selama beberapa saat telah digunakan secara ekstensif sebagai


hipnotik dan sedatif. Namun sekarang, kecuali untuk beberapa penggunaan
yang spesifik, barbiturat telah banyak digantikan dengan benzodiazepine yang
lebih aman, pengecualian fenobarbital, yang memiliki anti konvulsi yang masih
banyak digunakan.
Efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat
dicapai, mulai dari sedasi, hipnosis, koma sampai dengan kematian. Efek
antiansietas barbiturat berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan. Efek
hipnotik barbiturat dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis
hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang
mengganggu. Efek anastesi umumnya diperlihatkan oleh golongan tiobarbital
dan beberapa oksibarbital untuk anastesi umum. Untuk efek antikonvulsi
umumnya diberikan oleh berbiturat yang mengandung substitusi 5-fenil
misalnya fenobarbital.6
Benzodiazepin
Benzodiazepin adalah obat yang memiliki lima efek farmakologi
sekaligus, yaitu anxiolisis, sedasi, anti konvulsi, relaksasi otot melalui medula
spinalis, dan amnesia retrograde. Benzodiazepine banyak digunakan dalam
praktik klinik. Keunggulan benzodiazepine dari barbiturate yaitu rendahnya
tingkat toleransi obat, potensi penyalahgunaan yang rendah, margin dosis aman
yang lebar, rendahnya toleransi obat dan tidak menginduksi enzim mikrosom di
hati. Benzodiazepin telah banyak digunakan sebagai pengganti barbiturat
sebagai premedikasi dan menimbulkan sedasi pada pasien dalam monitorng
anestesi. Dalam masa perioperatif, midazolam telah menggantikan penggunaan
diazepam. Selain itu, benzodiazepine memiliki antagonis khusus yaitu
flumazenil.7
Kelelahan dan mengantuk adalah efek samping yang biasa pada
penggunaan lama benzodiazepine. Sedasi akan menggangu aktivitas setidaknya
selama 2 minggu. Penggunaan yang lama benzodiazepine tidak akan
mengganggu tekanan darah, denyut jantung, ritme jantung dan ventilasi. Namun
penggunaannya sebaiknya hati-hati pada pasien dengan penyakit paru kronis. 1
Ketamin
7

Ketamin mempuyai efek analgesi yang kuat sekali akan tetapi efek
hipnotiknya kurang (tidur ringan) yang disertai penerimaan keadaan lingkungan
yang salah (anestesi disosiasi).8
Ketamin merupakan zat anestesi dengan aksi satu arah yang berarti efek
analgesinya akan hilang bila obat itu telah didetoksikasi/dieksresi, dengan
demikian pemakaian lama harus dihindarkan. Anestetik ini adalah suatu derivat
dari pencyclidin suatu obat anti psikosa. Induksi ketamin pada prinsipnya sama
dengan tiopental. Namun penampakan pasien pada saat tidak sadar berbeda
dengan bila menggunakan barbiturat. Pasien tidak tampak tidur. Mata
mungkin tetap terbuka tetapi tidak menjawab bila diajak bicara dan tidak ada
respon terhadap rangsangan nyeri. Tonus otot rahang biasanya baik setelah
pemberian ketamin. Demikian juga reflek batuk. Untuk prosedur yang singkat
ketamin dapat diberikan secara iv/im setiap beberapa menit untuk mencegah
rasa sakit.8
Ketamin adalah obat yang memiliki efek analgesia pada pemberian
dengan dosis subanestesia dan menimbulkan induksi pada pemberian intravena
dan dosis yang lebih besar. Ketamin juga memiliki efek menurunkan refleks
batuk, laringospasm yang disebabkan ketamine induced salivary secretions.
Glycopyrrolatr lebih disukai daripada atropin dan scopolamin karena dapat
melewati sawar darah otak dan meningkatkan insiden delirium emergensi. 9
Intensitas analgesia pada dosis subanestesia yakni 0,2 0,5 mg/kgBB
secara intravena. Konsentrasi plasma ketamin memiliki efek analgesia lebih
rendah dari pada pemakaian secara oral daripada intramuskular yang dinilai dari
konsentrasi norketamin akibat metabolisme awal di hati yang terjadi pada
pemakaian secara oral. Efek analgesia ini lebih nyata pada nyeri somatik
dibandingkan nyeri viseral. Efek ketamin ini disebabkan aktifitasnya pada
talamus dan sistem limbik yang bertanggung jawab terhadap interpretasi nyeri.
Dosis yang lebih rendah dapat juga digunakan sebagai tambahan analgesia
opioid.
Induksi ketamin didapatkan dari pemakaian ketamin 1-2 mg/kgBB
secara intravena dan 4-8 mg/kgBB pada pemakaian secara intramuskular.

Suntikan ketamin tidak menimbulkan nyeri dan iritasi pada vena. Dosis yang
lebih besar meningkatkan metabolisme katamin. Kesadaran hilang 30-60 detik
setelah pemakaian secara intravena dan 2-4 menit pemakaian secara
intramuskular. Penurunan kesadaran sebading atau berbeda sedikit terhadap
penurunan refleks faring dan laring. Pengembalian kesadaran terjadi 10-20
menit seletal dosis induksi ketamin, namun orientasi kembali sepenuh nya
setelah 60-90 menit. Amnesia terjadi pada menit ke 60- 90 setelah pemulihan
kesadaran namun ketamin tidak menimbulkan amnesia retrograde.
2.3. Obat Anestesi Lokal
Anestetik lokal adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila
digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Anestetik
lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.5
Anestetik lokal bekerja merintangi secara bolak-balik penerusan impulsimpuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa
dingin. Anestetik lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf.
Tempat kerjanya terutama di mukosa. Disamping itu, anestesia lokal
mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari
beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap
SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot.6
Anestesi lokal sering kali digunakan secara parenteral (injeksi) pada
pembedahan kecil dimana anestesi umum tidak perlu atau tidak diinginkan.
Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak digunakan
adalah:
Anestesi permukaan.
Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter
gigi untuk mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan
kecil seperti menjahit luka di kulit. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat
tidak akan mengganggu proses penyembuhan luka.
Anestesi Infiltrasi.
Tujuannya untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada
atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya

rasa di kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di
kulit atau gusi (pada pencabutan gigi).

Anestesi Blok
Cara ini dapat digunakan pada tindakan pembedahan maupun untuk
tujuan diagnostik dan terapi.
Anestesi Spinal
Obat disuntikkan di tulang punggung dan diperoleh pembiusan dari
kaki sampai tulang dada hanya dalam beberapa menit. Anestesi spinal ini
bermanfaat untuk operasi perut bagian bawah, perineum atau tungkai bawah.
Anestesi Epidural
Anestesi epidural (blokade subarakhnoid atau intratekal) disuntikkan
di ruang epidural yakni ruang antara kedua selaput keras dari sumsum
belakang.
Anestesi Kaudal
Anestesi kaudal adalah bentuk anestesi epidural yang disuntikkan
melalui tempat yang berbeda yaitu ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus
skralis. Efek sampingnya adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP dan
efek

kardiodepresifnya

(menekan

fungsi

jantung)

dengan

gejala

penghambatan penapasan dan sirkulasi darah. Anestesi lokal dapat pula


mengakibatkan reaksi hipersensitasi.
Contoh obat-obatan anestesi lokal :
Dibukain2
Devirat kuinon ini, merupakan anestetik lokal yang paling kuat, paling
toksik dan mempunyai masa kerja panjang. Dibandingkan dengan prokain,
dibukain kira-kira 15 kali lebih kuat dan toksik dengan masa kerja 3 kali lebih
panjang. Dibukain HCl digunakan untuk anesthesia suntikan pada kadar 0,050,1%; untuk anesthesia topical telinga 0,5-2%; dan untuk kulit berupa salep
0.5-1%. Dosis total dibukain pada anesthesia spinal ialah 7,5-10mg.
Lidokain2
Lidokain (Xilokain) adalah anestetik lokal yang kuat yang digunakan
secara luas dengan pemberian topical dan suntikan. Anestesi terjadi lebih
cepat, lebih kuat, lebih lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan
10

oleh prokain. Lidokain merupakan aminoetilamid. Pada larutan 0,5%


toksisitasnya sama, tetapi pada larutan 2% lebih toksik daripada prokain.
Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anesthesia infiltrasi,
sedangkan larutan 1,0-2% untuk anesthesia blok dan topical. Anesthesia ini
efektif bila digunakan tanpa vasokonstriktor, tetapi kecepatan absorbs dan
toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Lidokain
merupakan obat terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap prokain dan
juga epinefrin. Lidokain dapat menimbulkan kantuk sediaan berupa larutan
0,5%-5% dengan atau tanpa epinefrin. (1:50.000 sampai 1: 200.000).
Bupivakain (Markain)2
Struktur mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin
dan butyl piperidin. Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja
yang panjang, dengan efek blockade terhadap sensorik lebih besar daripada
motorik. Karena efek ini bupivakain lebih popular digunakan untuk
memperpanjang analgesia selama persalinan dan masa pascapembedahan.
Suatu penelitian menunjukan bahwa bupivakain dapat mengurangi dosis
penggunaan morfin dalam mengontrol nyeri pada pasca pembedahan Caesar.
Pada dosis efektif yang sebanding, bupivakain lebih kardiotoksik daripada
lidokain.
Lidokain dan bupivakain, keduanya menghambat saluran Na+ jantung
(cardiac Na+ channels) selama sistolik. Namun bupivakain terdisosiasi jauh
lebih lambat daripada lidokain selama diastolic, sehingga ada fraksi yang
cukup besar tetap terhambat pada akhir diastolik. Manifestasi klinik berupa
aritma ventrikuler yang berat dan depresi miokard. Keadaan ini dapat terjadi
pada pemberian bupivakain dosis besar. Toksisitas jantung yang disebabkan
oleh bupivakain sulit diatasi dan bertambah berat dengan adanya asidosis,
hiperkarbia, dan hipoksemia. Ropivakain juga merupakan anestetik lokal yang
mempunyai masa kerja panjang, dengan toksisitas terhadap jantung lebih
rendah daripada bupivakain pada dosis efektif yang sebanding, namun sedikit
kurang kuat dalam menimbulkan anestesia dibandingkan bupivakain. Larutan
bupivakain hidroklorida tersedia dalam konsentrasi 0,25% untuk anestesia

11

infiltrasi dan 0,5% untuk suntikan paravertebral. Tanpa epinefrin, dosis


maksimum untuk anesthesia infiltrasi adalah sekitar 2 mg/KgBB.
2.4. Analgetik
Obat analgetik adalah obat yang mempunyai efek menghilangkan atau
mengurangi nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran atau fungsi sensorik
lainnya. Obat analgesik bekerja dengan meningkatkan ambang nyeri,
mempengaruhi emosi (sehingga mempengaruhi persepsi nyeri), menimbulkan
sedasi atau sopor (sehingga nilai ambang nyeri naik) atau mengubah persepsi
modalitas nyeri. Pada dasarnya obat analgesik dapat digolongkan ke dalam
analgesik golongan narkotik dan analgesik golongan non-narkotik. Narkotik
adalah bahan atau zat yang punya efek mirip Morfin yang menimbulkan efek
narkosis (keadaan seperti tidur). Analgesik opiat adalah obat yang mempunyai
efek analgesik kuat tetapi tidak menimbulkan efek narkosis dan adiksi
sebagaimana Morfin, maka nama analgesik narkotik kurang tepat.4
Definisi nyeri menurut The International Association for the Study of
Pain adalah pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang
disertai oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual. Nyeri sering
dilukiskan sebagai suatu yang berbahaya (noksius, protofatik) atau yang tidak
berbahaya (non-noksius, epikritik) misalnya sentuhan ringan, kehangatan,
tekanan ringan.7
Mekanisme terjadinya nyeri melewati 4 tahapan yaitu: 7
Transduksi
Kemudian terjadi perubahan patofisiologis karena mediator-mediator
nyeri mempengaruhi juga nosiseptor diluar daerah trauma sehingga lingkaran
nyerimeluas. Selanjutnya terjadi proses sensitisasi perifer yaitu menurunnya
nilai ambang rangsang nosiseptor karena pengaruh mediator-mediator tersebut
di atas dan penurunan pH jaringan. Akibatnya nyeri dapat timbul karena
rangsang yang sebelumnya tidak menimbulkan nyeri misalnya rabaan.
Sensitisasi perifer ini mengakibatkan pula terjadinya sensitisasi sentral yaitu
hipereksitabilitas neuron pada korda spinalis, terpengaruhnya neuron simpatis
dan perubahan intraseluler yang menyebabkan nyeri dirasakan lebih lama.

12

Rangsangan nyeri diubah menjadi depolarisasi membrane reseptor yang


kemudian menjadi impuls syaraf.
Transmisi
Transmisi adalah proses penerusan impuls nyeri dari nosiseptor saraf
perifer melewati kornu dorsalis, korda spinalis menuju korteks serebri.
Transmisi sepanjang akson berlangsung karena proses polarisasi, sedangkan
dari neuron presinaps ke pasca sinaps melewati neurotransmitter.
Modulasi
Modulasi adalah proses pengendalian internal oleh sistem saraf, dapat
meningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri. Hambatan terjadi
melalui sistem analgesia endogen yang melibatkan bermacam-macam
neurotansmiter antara lain golongan endorphin yang dikeluarkan oleh sel otak
dan neuron di korda spinalis. Impuls ini bermula dari area periaquaductuagrey
(PAG) dan menghambat transmisi impuls pre maupun pasca sinaps di tingkat
korda spinalis. Modulasi nyeri dapat timbul di nosiseptor perifer medula
spinalis atau supraspinalis.
Persepsi
Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan saraf pusat tentang impuls
nyeri yang diterima. Rekonstruksi merupakan hasil interaksi sistem saraf
sensoris, informasi kognitif (korteks serebri) dan pengalaman emosional
(hipokampus dan amigdala). Persepsi menentukan berat ringannya nyeri yang
dirasakan.
1. Opioid
Opioid ialah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan
dengan reseptor Morfin. Opioid sering digunakan dalam anestesi untuk
mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan. Bahkan
terkadang digunakan untuk anestesi narkotik total pada pembedahan jantung.
Opium adalah getah candu. Opiat adalah obat yang dibuat dari opium.
Analgesik opioid digolongkan dalam 3 kelompok, di antaranya adalah agonis
opiat, antagonis opiat dan kombinasi.10
Reseptor opioid sebenarnya tersebar luas di seluruh jaringan sistem saraf
pusat, tetapi lebih terkonsentrasi di otak tengah yaitu di sistem limbik, thalamus,
hipotalamus, korpus striatum, sistem aktivasi retikular dan di korda spinalis

13

yaitu substansia gelatinosa dan dijumpai pula di pleksus saraf usus. Molekul
opioid dan polipeptida endogen (metenkefalin, beta-endorfin, dinorfin)
berinteraksi dengan reseptor morfin dan menghasilkan efek.
Jenis Analgetik Opioid
Berdasarkan struktur kimia, analgetik opioid di bedakan menjadi 3
kelompok : 1

Alkaloid opium (natural) : morfin dan kodein

Derivate semisintetik : diasetilmorfin (heroin), hidromorfin, oksimorfon,


hidrokodon, dan oksikodon.

Derifat sintetik
Fenilpiperidine : petidin, fentanil, dan alfentanil.
Benzmorfans : pentazosin, fenazosin dan siklasozin.
Morfinans : lavorvanol
Propionanilides : metadon
Tramadol
Reseptor Reseptor Opioid1,2
Sebagai analgetik, opioid bekerja secara sentral pada reseptor reseptor
opioid yang diketahui ada 4 reseptor, yaitu :

Reseptor Mu
Morfin bekerja secara agonis pada reseptor ini. Stimilasi pada reseptor ini
akan menimbulkan analgesia, rasa segar, euphoria dan depresi respirasi.

Reseptor Kappa
Stimulasi reseptor ini menimbulkan analgesia, sedasi dan anesthesia. Morfin
bekerja pada reseptor ini.

Reseptor Sigma
Stimulasi reseptor ini menimbulkan perasaan disforia, halusinasi, pupil
medriasis, dan stimulasi respirasi.

Reseptor Delta
Pada manusia peran reseptor ini belum diketahui dengan jelas. Diduga
memperkuat reseptor Mu.
Efek Farmakologi
14

Golongan opioid yang sering digunakan sebagai obat premedikasi pada


anestesi adalah : petidin dan morfin. Sedangkan fentanil digunakan sebagai
suplemen anesthesia.1
Terhadap susunan saraf pusat
Sebagai analgetik, obat ini bekerja pada thalamus dan substansia
gelatinosa medulla spinalis, di samping itu, narkotik juga mempunyai efek
sedasi.1,2
Terhadap respirasi
Menimbulkan depresi pusat nafas terutama pada bayi dan orang tua.
Efek ini semakin manifest pada keadaan umum pasien yang buruk sehingga
perlu pertimbangan seksama dalam penggunaanya. Namun demikian efek ini
dapat dipulihkan dengan nalorpin atau nalokson.1,2,3
Terhadap bronkus, petidin menyebabkan dilatasi bronkus, sedangakan
morfin menyebabkan konstriksi akibat pengaruh pelepasan histamine.4
Terhadap sirkulasi1
Tidak menimbulkan depresi system sirkulasi, sehingga cukup aman
diberikan pada semua pasien kecuali bayi dan orang tua.
Pada kehamilan, opiod dapat melewati bairer plasenta sehingga bisa
menimbulkan depresi nafas pada bayi baru lahir.
Terhadap system lain1
Merangsang pusat muntah, menimbulkan spasme spinter kandung
empedu sehingga menimbulkan kolik abdomen. Morfin merangsang pelepasa
histamine sehingga bisa menimbulkan rasa gatal seluruh tubuh atu minimal
pada daerah hidung, sedangkan petidin, pelepasan histaminnya bersifat local
ditempat suntikan.
MORFIN
Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial
lebih mudah dan menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver
somniferum. Morfin paling mudah larut dalam air dibandingkan golongan
opioid lain dan kerja analgesinya cukup panjang (long acting).1,2

15

Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif,
yakni tidak begitu mempengaharui unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa
getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran ; bahkan persepsi nyeripun tidak
selalu hilang setelah pemberian morfin dosis terapi.2,3
Efek analgesi morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin
meninggikan ambang rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi,
artinya morfin dapat mengubah reaksi yang timbul dikorteks serebri pada waktu
persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri dari thalamus ; (3) morfin
memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.2
Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang
mengandung otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua
sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi,
perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi
parasimpatis, miosis, mual muntah, hiper aktif reflek spinal, konvulsi dan
sekresi hormone anti diuretika (ADH).2
Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit
yang luka. Morfin juga dapat mmenembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi
usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada
efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang
sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin. Ekresi
morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam
tinja dan keringat.2
Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau
menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik nonopioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering
diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ;
(3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer,

16

pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan
; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.3
Efek samping
Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi
depresi pernafasan, nausea, vomitus, dizzines, mental berkabut, disforia,
pruritus, konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier, retensi urin, dan
hipotensi.
Dosis dan sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam
bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk
menghilangkan atau mengguranggi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB.
Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg
diperlukan.2
PETIDIN
Petidin ( meperidin, demerol) adalah zat sintetik yang formulanya sangat
berbeda dengan morfin, tetapi mempunyai efek klinik dan efek samping yang
mendekati sama. Secara kimia petidin adalah etil-1metil-fenilpiperidin-4karboksilat.2

Farmakodinamik
Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor
m (mu). Seperti halnya morfin, meperidin (petidin) menimbulkan efek
analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas dan efek sentral lainnya. Waktu paruh
petidin adalah 5 jam. Efektivitasnya lebih rendah dibanding morfin, tetapi leih
tinggi dari kodein. Durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam.
Dibandingkan dengan morfin, meperidin lebih efektif terhadap nyeri neuropatik.
Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut :

17

1. Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut
dalam air.
2. Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam
meperidinat dan asam normeperidinat. Normeperidin adalah metabolit yang
masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin, tetapi efek analgesinya
sudah berkurang 50%. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam
urin.
3. Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan
pandangan dan takikardia.
4. Seperti morpin ia menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi
lebih ringan.
5. Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang
tidak ada hubungannya dengan hipiotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada
dewasa. Morfin tidak.
6. Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.
Farmakokinetik2
Absorbsi meperidin setelah cara pemberian apapun berlangsung baik.
Akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM.
Kadar puncak dalam plasma biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang
dicapai antar individu sangat bervariasi. Setelah pemberian meperidin IV,
kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2 jam pertama,
kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. Kurang lebih 60% meperidin
dalam plasma terikat protein. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Pada
manusia meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang
kemudian sebagian mengalami konyugasi. Meperidin dalam bentuk utuh sangat
sedikit ditemukan dalam urin. Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin
ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N-demitilasi.
Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan metabolik
otak, dan tekanan intra kranial. Berbeda dengan morfin, petidin tidak menunda

18

persalinan, akan tetapi dapat masuk kefetus dan menimbulkan depresi respirasi
pada kelahiran.
Indikasi
Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada
beberapa keadaan klinis, meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang
lebih pendek daripada morfin. Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan
analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik, untuk menimbulkan analgesia
obstetrik dibandingkan dengan morfin, meperidin kurang karena menyebabkan
depresi nafas pada janin.2,3,4
Dosis dan sediaan
Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml,
25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Sebagian
besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk bayi dan
anak ; 1-1,8 mg/kg BB.2
Efek samping
Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa
pusing, berkeringat, euforia, mulut kering, mual-muntah, perasaan lemah,
gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi.1,2,3,4
FENTANIL
Fentanil adalah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 x
morfin. Fentanil merupakan opioid sintetik dari kelompok fenilpiperedin. Lebih
larut dalam lemak dan lebih mudah menembus sawar jaringan.2,3
Farmakodinamik
Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu
analgesik, fentanil 75-125 kali lebih potendibandingkan dengan morfin. Awitan
yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih
besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. Fentanil (dan opioid lain)
meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. Keadaan itu sebagian
disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi menekan

19

hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi.
Fentanil

dikombinasikan

dengan

droperidol

untuk

menimbulkan

neureptanalgesia.2
Farmakokinetik
Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif
hampir sama dengan dengan morfin, tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika
pertama kali melewatinya. Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase
dan hidrosilasidan, sedangkan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin.2
Indikasi
Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. Dosis 1-3
/kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya
dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. Dosis
besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan
anastesia dengan kombinasi bensodioazepam dan inhalasi dosis rendah, pada
bedah jantung. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml.1,2,3,4
Efek samping
Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya
dapat dicegah dengan pelumpuh otot. Dosis besar dapat mencegah peningkatan
kadar gula, katekolamin plasma, ADH, rennin, aldosteron dan kortisol.
Obat terbaru dari golongan fentanil adalah remifentanil, yang
dimetabolisir oleh esterase plasma nonspesifik, yang menghasilkan obat dengan
waktu paruh yang singkat, tidak seperti narkotik lain durasi efeknya relatif tidak
tergantung dengan durasi infusinya..
2. Non Steroid Anti Inflammatory Drugs (NSAID)
NSAID adalah suatu kelompok obat yang berfungsui sebagai anti
inflamasi, analgetik dan antipiretik. NSAID merupakan obat yang heterogen,
bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi. Walaupun demikian,
obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun
efek samping.
Hampir semua obat NSAID mempunyai tiga jenis efek yang penting
yaitu :
20

a. Efek anti-inflamatori : memodifikasi reaksi inflamasi


b. Efek analgesik : meredakan suatu rasa nyeri
c. Efek antipiretik : menurunkan suhu badan yang meningkat
Secara umumnya, semua efek-efek ini berhubungan dengan tindakan
awal obat-obat tersebut yaitu penghambatan arakidonat siklooksigenase
sekaligus menghambat sintesa prostaglandin dan tromboksan (Rang et al.,
2003). Terdapat dua tipe enzim siklooksigenase yaitu COX-1 dan COX-2.
COX-1 merupakan enzim konstitutif yang dihasilkan oleh kebanyakan jaringan
termasuklah platlet darah (Rang et al., 2003). Enzim ini memainkan peranan
penting dalam menjaga homeostasis jaringan tubuh khususnya ginjal, saluran
cerna dan trombosit. Di mukosa lambung, aktivasi COX-1 menghasilkan
prostasiklin yang bersifat sitoprotektif. COX-2 pula diinduksi dalam sel-sel
inflamatori sebaik sahaja diaktivasi. Dalam hal ini, stimulus inflamatoar seperti
sitokin inflamatori primer yaitu interleukin-1 (IL-1) dan tumour necrosis factor (TNF- ), endotoksin dan factor pertumbuhan (growth factors) yang
dilepaskan menjadi sangat penting dalam aktivasi enzim tersebut.Ternyata
sekarang COX-2 juga mempunyai fungsi fisiologis yaitu di ginjal, jaringan
vaskular dan pada proses pembaikan jaringan. Tromboksan A2, yang disentesis
trombosit oleh COX-1, menyebabkan agregasi trombosit, vasokonstriksi dan
proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin yang disintesis oleh COX-2 di
endotel makrovaskular melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan
agregasi trombosit, vasodilatasi dan efek anti-proliferatif.
Efek Antipiretik
Suhu tubuh yang normal diregulasi oleh pusat suhu di hipotalamus
dengan cara mengatur keseimbangan antara penggunaan dan penghasilan panas.
Demam berlaku apabila terdapat suatu gangguan pada termostat hipotalamus ini
yang kemudiannya dapat menyebabkan suhu set-point tubuh meningkat. Di
sinilah peran OAINS dalam mengembalikan suhu tubuh seperti semula. Selepas
set-point kembali normal, bermulalah mekanisme regulasi (seperti dilatasi
pembuluh darah superfisial, berkeringat dan lain-lain) beroperasi untuk
menurunkan suhu tubuh. Walaubagaimanapun, suhu tubuh yang normal tidak
akan terpengaruh oleh OAINS (Rang et al., 2003). OAINS dikenali juga sebagai
21

antipiretik karena kebolehannya dalam menginhibisi produksi prostaglandin di


hipotalamus. Sewaktu terjadi reaksi inflamasi, endotoksin dari bakteri akan
menyebabkan perlepasan pirogen interleukin-1 (IL-1) dari makrofag yang
seterusnya akan menstimulasi penghasilan prostaglandin tipe-E (PGEs) di
hipotalamus di mana hal ini akan menyebabkan peningkatan set-point suhu
tubuh. Pada waktu ini, COX-2 mungkin memainkan peranan penting karena ia
diinduksi oleh IL-1 dalam pembuluh darah di hipotalamus. Enzim COX-3 juga
mungkin memainkan peranan penting dalam mekanisme demam. Namun,
terdapat bukti yang mengatakan bahawa prostaglandin bukan satu-satunya
mediator demam, maka oleh itu OAINS mungkin mempunyai efek antipiretik
tambahan dalam mekanisme yang masih lagi belum diketahui.
Efek Analgesik
OAINS terutamanya sangat efektif dalam meredakan rasa nyeri yang
berhubungan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan karena ia menurunkan
produksi prostaglandin yang mensensitisasikan nosiseptor kepada mediatormediator inflamasi seperti bradikinin. Oleh itu, zat-zat ini efektif dalam
menanggulangi artritis, bursitis, nyeri pada otot dan vaskuler, nyeri gigi,
dismenorea, nyeri semasa postpartum dan nyeri akibat metastase kanker tulang
(semua kondisi yang berhubungan dengan peningkatan sintesis prostaglandin).
Jika dikombinasikan dengan opioid, gabungan tersebut bisa meredakan nyeri
paska operasi. Kebolehan obat ini dalam meredakan nyeri kepala mungkin
berkait rapat dengan menurunkan efek vasodilatasi oleh prostaglandin pada
pembuluh darah di serebri. Terdapat juga bukti yang mengatakan bahawa ia
mempunyai efek sentral yang bertindak terutamanya pada medulla spinalis.
Efek Anti-inflamatori
Terdapat berbagai mediator kimiawi yang menyebabkan reaksi inflamasi
dan alergi. Setiap respon seperti vasodilatasi, peningkatan permeabilitas
vaskuler, akumulasi sel dan lain-lain bisa ditimbulkan oleh berbagai mekanisme
yang berlainan. Lebih-lebih lagi, mediator- mediator yang berlainan diperlukan
untuk berlakunya setiap reaksi inflamasi dan alergi yang berbeda dan
sesetengah mediator juga mempunyai interaksi yang kompleks dengan zat-zat

22

lain misalnya nitrik oksida (NO) dalam jumlah yang sedikit akan menstimulasi
aktivitas

siklooksigenase,

tetapi

dalam

jumlah

yang

banyak

akan

menghambatnya.
OAINS menurunkan hampir semua komponen respon inflamasi dan
reaksi imun di mana COX-2 memainkan peranannya seperti :
1. Vasodilatasi
2. Edema (oleh mekanisme tidak langsung: vasodilatasi membantu tindakan
mediator inflamasi seperti histamin yang meningkatkan permeabilitas venul
postkapiler)
3. Nyeri Penghambat siklooksigenase tidak mempunyai efek terhadap proses
(perembesan enzim lisosom, produksi oksigen radikal yang toksik) yang
menyebabkan kerusakan jaringan pada kondisi inflamasi kronis seperti arteritis
reumatoid, vaskulitis dan nefritis.
Kesimpulannya, golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase
sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2

terganggu. Setiap obat

menghambat siklooksigenase dengan kekuatan dan selektivitas yang berbeda


(Gunawan et al., 2008).
Efek Samping Obat
Selain menimbulkan efek terapi yang sama, OAINS juga memiliki efek
samping serupa, karena didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis
prostaglandin. Secara umum, golongan obat ini berpotensi menyebabkan efek
samping pada berbagai sistem organ yaitu saluran cerna, ginjal, hati dan kulit.
Efek samping terutama meningkat pada pasien usia lanjut karena paling sering
membutuhkan OAINS dan umumnya membutuhkan banyak obat-obatan karena
menderita berbagai penyakit. Hal ini juga bisa berlaku jika obat golongan ini
digunakan pada jangka masa panjang.
1. Gangguan pada saluran cerna. Gangguan pada gastrointestinal merupakan
efek samping yang paling sering terjadi dari pemakaian obat ini yang
disebabkan oleh hambatan dari enzim COX-1. Enzim COX-1 penting untuk
sintesa prostaglandin yang normalnya menghambat sekresi asam dan sebagai
pelindung mukosa lambung. Gejala-gejala gastrointestinal yang sering berlaku

23

adalah dispepsia, diare (tetapi kadang-kadang bisa konstipasi), mual dan muntah
dan pada sesetengah kasus bisa terjadi perdarahan lambung dan tukak peptik.
Terdapat kajian yang mengatakan bahawa penggunaan agen COX-2 selektif
bisa mengurangkan kerusakan mukosa lambung tetapi berpotensi menimbulkan
perubahan terhadap sistem kardiovaskuler pada sesetengah pasien.
2. Efek samping pada ginjal. Dosis terapeutik bagi OAINS pada individu yang
sehat bisa menyebabkan sedikit gangguan pada faal ginjal, tetapi pada pasien
yang tidak sehat bisa menyebabkan insufisiensi ginjal akut (masih reversibel
untuk menghentikan kerja obat). Hal ini berlaku karena obat ini menghambat
biosintesa dari prostanoid (PGE2 dan prostaglandin I2 (PGI2, prostasiklin))
yang terlibat dalam pengaturan keseimbangan hemodinamik ginjal terutama
sekali pada penyakit ginjal yang berhubungan dengan PGE2 . Penggunaan
berlebihan OAINS secara habitual bertahun-tahun dihubungkan dengan
terjadinya nefropati analgesik.
3. Efek samping pada kulit (reaksi inflamasi pada kulit). Reaksi pada kulit
merupakan gejala kedua paling sering terjadi dari penggunaan obat ini, terutama
asam mefenamik (frekuensi: 10-15%) dan sulindac (frekuensi:5-10%). Jenisjenis reaksi pada kulit yang bisa dilihat adalah seperti ras ringan, urtikaria dan
reaksi fotosensitifitas, hingga kejadian yang lebih fatal (jarang).
4. Efek samping lain. Efek-efek samping yang jarang berlaku termasuk
gangguan pada sum-sum tulang dan penyakit hati (lebih cenderung terkena pada
pasien yang mengalami gangguan hati). Kelebihan dosis parasetamol bisa
menyebabkan gagal hati dan penggunaan aspirin pada pasien asma yang sensitif
terhadap OAINS bisa menyebabkan asma lebih sering terjadi.
Obat NSAID dikelompokan sebagai berikut :
1. Derivate asam salisilat, misalnya aspirin
2. Derivate paraaminofenol, misalnya parasetamol
3. Derivate asam propiont, misalnya ibuprofen, ketoprofen
4. Derivate asam fenamat, misalnya asam mefenamat
5. Derivate asam fenilasetat, misalnya diklofenak
6. Derivate asam asetat indol, misalnya indometasin
7. Derivate pirazolon, misaalnya fenilbutazon dan oksifenbutazon
8. Derivate oksikam, misalnya piroksikam, meloksikam
Aspirin (Asam Asetisalisilat atau asetosal)
- Mempunyai efek analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi
24

- Efek samping utama : perpanjangan masa perdarahan, hepatotoxic (dosis


besar) dan iritasi lambung
- Di indikasikan pada demam, nyeri tidak spesifik seperti sakit kepala, nyeri
otot dan sendi (arthritis rematoid)
- Aspirin juga digunakan untuk pencegahan terjadinya thrombus (bekuan darah)
pada pembuluh darah koroner jantung dan pembuluh darah otak
Asetaminofen (Parasetamol)
- Merupakan penghambat prostaglandin yang lemah
- Parasetamol memiliki efek analgetik dan antipiretik,tetapi kemampuan
antinflasi sangat lemah
- Intoksikasi akut parasetamol adalah N-asetilsistein, yang harus diberikan
dalam 24 jam sejak intake parasetamol
Ibuprofen
- Mempunyai efek analgetik, antipiretik,dan antiinflamasi, namun efek
antiinflamasinya memerlukan dosis lebih besar.
- Efek sampingnya ringan, seperti sakit kepala dan iritasi lambung ringan.
Asam Mefenamat
- Mempunyai efek analgetik dan antiinflamasi, tetai tidak memberikan efek
antipiretik
Diklofenak
- Diberikan untuk antiinflamasi dan bisa diberikan untuk terapi simpomatik
jangka panjang untuk arthritis rematoid, osteoarthritis, dan spondilitis ankilosa.
Indometasin
- Mempunyai efek antipiretik, antiinflamasi dan analgetik sebanding dengan
aspirin, tetapi lebih toxic
Fenilbutazon
- Hanya digunakan untuk antiinflamasi dan mempunyai efek meningkatkan
ekskresi asam urat melalui urin sehingga bisa digunakan pada arthritis gout
Piroksikam
- Hanya diindikasikan untuk inflamasi sendi.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Katzung, Bertram G. Basic and Clinical Pharmacology 10th edition. Singapore

: Mc Graw Hill Lange. 2007.


2. Mangku, Gde.; Senapathi, Tjokorda Gde Agung Senaphati. Obat-obat

anestetika. Buku Ajar Ilmu Anestesi dan Reanimasi. Jakarta : Indeks Jakarta.
2010.
3. Barash, Paul G.; Cullen, Bruce F.; Stoelting, Robert K. Basic principles of

clinical pharmacology. Dalam Clinical Anesthesia 5 th edition. Lippincott


Williams & Wilkins. 2006.
4. Dachlan R. Farmakologi obat-obat anestesia. Dalam Anestesiologi FKUI.

Editor: Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S, Dachlan R. Bagian Anestesiologi


dan Terapi Intensif FKUI, Jakarta, 1989
5. Santoso S, Hadi RD. Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Indonesia., Jakarta, 1995.
dan
Linux.
Barbiturat.

6. Kedokteran

2007.

(Diakses

dari

www.medlinux.blogspot.com, tanggal 6 November 2015)


7. Tjay TH, Rahardja K. Sedativa dan Hipnotika. In : Obat-obat Penting Edisi

Ke-5. Jakarta : Gramedia; 2002.


8. Kedokteran
dan
Linux.

Ketamin.

2009.

(Diakses

dari

www.medlinux.blogspot.com, tanggal 6 November 2015)


9. Stoelting RK, Hillier SC. Nonbarbiturate Intravenous Anesthetic Drugs. In :

Pharmacology & Physiology in Anestetic Practice 4th Edition. Philadelphia :


Lipincott William & Wilkins; 2006.
RK, Hillier SC. Opioid Agonists and Antagonists. In :

10. Stoelting

Pharmacology & Physiology in Anestetic Practice 4th Edition. Philadelphia :


Lipincott William & Wilkins; 2006.

26