Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Mayoritas dari lesi yang terjadi pada mammae adalah benigna. Hampir
40% dari pasien yang mengunjungi poliklinik dengan keluhan pada mammae
mempunyai lesi jinak. Perhatian yang lebih sering diberikan pada lesi maligna
karena kanker payudara merupakan lesi maligna yang paling sering terjadi pada
wanita di negara barat walaupun sebenarnya insidens lesi benigna payudara
adalah lebih tinggi berbanding lesi maligna. Penggunaan mammografi, Ultrasound
, Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan juga biopsi payudara dapat membantu
dalam menegakkan diagnosis lesi benigna pada mayoritas dari pasien. Mayoritas
dari lesi benigna tidak terkait dengan pertambahan risiko untuk menjadi kanker,
maka prosedur bedah yang tidak diperlukan harus dihindari. Pada masa lalu,
kebanyakkan dari lesi benigna ini dieksisi dan hasilnya terdapat peningkatan dari
jumlah pembedahan yang tidak diperlukan. Faktor utama adalah karena
pandangan dari wanita itu sendiri bahwa lesi ini adalah sebuah keganasan. Oleh
karena itu, penting bagi ahli patologi, ahli radiologi dan ahli onkologi untuk
mendeteksi lesi benigna dan membedakannya dengan kanker payudara in situ dan
invasif serta mencari faktor risiko terjadinya kanker supaya penatalaksanaan yang
sesuai dapat diberikan kepada pasien. Menurut kepustakaan dikatakan bahwa
penyebab tersering massa pada mammae adalah kista, Fibroadenoma mammae
dan karsinoma. Kista dan Fibroadenoma mammae terbentuk di dalam lobus
manakala karsinoma pula terbentuk di duktus terminalis. Keluhan lain yang sering
timbul adalah nipple discharge dan menurut kepustakaan dikatakan penyebab
tersering dari gejala ini adalah papilloma dan duct estasia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

2.1.

DEFINISI
Tumor atau neoplasma secara umum di artikan sebagai benjolan
atau pembengkakan yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal dalam
tubuh. Pertumbuhan tumor dapat bersifat ganas (malignan) atau jinak
(benign).
Tumor

jinak

mammae

ialah

lesi

jinak

yang

disebabkan

pertumbuhan sel abnormal yang dapat terjadi pada payudara.


2.2.

ANATOMI PAYUDARA

Gambar 1. Gambaran umum (1,2)


Mammae dextra dan mammae sinistra berisi glandula mammaria
dan terdapat dalam fascia superficialis dinding thorax ventral. Pada wanita
dan pria memiliki sepasang mamma, namun pada pria glandula mamma
tersebut tidak berkembang dan mengalami rudimenter.

Mammae
terletak

di

bagian
anterior dan termasuk bagian dari lateral thoraks. Kelenjar susu yang
bentuknya bulat ini terletak di fasia pektoralis. Mammae melebar ke arah
superior dari iga dua, inferior dari kartilago kosta enam dan medial dari
sternum serta lateral linea midaksilanis. Pada bagian mammae yang paling
menonjol terdapat sebuah papilla, dikelilingi oleh daerah yang lebih gelap
yang disebut areola. Terdapat Langer lines pada kompleks nipple(papilla)areola yang melebar ke luar secara sirkumfranse (melingkar). Langer lines
ini signifikan secara klinis kepada ahli bedah dalam menentukan area
insisi pada biopsi mammae. Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar
ini keluar dari lingkarannya ke arah aksila, disebut penonjolan Spence atau
ekor payudara.
Mammae berisi 15-20 lobus glandula mammaria yang tiap
lobusnya terdiri dari bebrapa lobulus. Tiap-tiap lobulus memiliki saluran
kearah papilla yang disebut ductus laktiferus. Diantara kelenjar susu dan
fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat
jaringan lemak yang disebut ruang retromamer.

Diantara lobulus tersebut ada jaringan ikat yang disebut


ligamentum suspensorium Cooper yang berfungsi sebagai penyangga.
Struktur payudara terdiri atas:

2.3.

Parenkim epithelial

Lemak, pembuluh darah, syaraf dan saluran getah bening

Otot dan fasia

VASKULARISASI DAN PERSYARAFAN


1. Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari:
a. Rami intercostales arterioles dari anteria thoracica interna, yaitu salah
satu cabang dari arteri subclavia
b. Arteri thoracica lateralis (a.

mamania

ekstema)

dan

arteri

thoracoacromialis, yaitu cabang dari arteri axillanis


c. Arteri intercostales posterior, cabang pars thoracica aortae dalam
spatial intercostales I, II. dan IV
2.

Vena
Pada payudara terdapat tiga grup vena:
a. Cabang-cabang perforantes v. mammaria intema
b. Cabang-cabang v. Aksilaris
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis

3.

Limfe
Penyaluran limfe dan mammae sangat penting peranannya dalam
metastase sel kanker.
a. Bagian terbesar disalurkan ke nodi lymphoidei axillares, terutama ke
kelompok pectoral, tetapi ada juga yang disalurkan ke kelompok
apical, subskapular, lateral, dan sentral.

Terdapat enam grup kelenjar getah bening axilla:


1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna, terletak dibawah tepi
lateral m. pectorals mayor, sepanjang tepi medial aksila.
2. Kelenjar getah bening scapula, terletak sepanjang

vasa

subskapularis dan thorakodorsalis, mulai dari percabangan v.


aksilaris menjadi v. subskapularis sampai ke tempat masuknya v.
thorako-dorsalis ke dalani m. latissimus dorsi.

3. Keleniar getah bening sentral (Central node), terletak dalam


jaringan lemak di pusat ketiak. Kelenjar getah bening ini relatif
mudah diraba dan merupakan kelenjar getah bening yang terbesar
dan terbanyak.
4. Kelenjar getah bening interpectoral (Rotters node), terletak
diantara m. pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis
v. thorakoakromialis.
5. Kelenjar getah bening v. aksilaris, terletak sepanjang v. aksilaris
bagian lateral, mulai dari white tendon m. lattisimus dorsi sampai
ke medial dan percabangan v. aksilanis v. thorako-akromalis.
6. Kelenjar getah bening subklavikula, mulai dari medial percabangan
v. aksilanis v. thorako-akromialis sampai dimana v. aksilanis
menghilang

dibawah

tendon

m.

subklavius.

Kelenjar

ini

merupakan kelenjar axial yang tertinggi dan termedial letaknya.


Semua getah bening yang berasal dan kelenjar-kelenjar getah
bening aksila masuk ke dalam kelenjar ini.
b. Sisanya

disalurkan

ke

nodi

limphoidei

infraclaviculares,

supraclaviculares, dan parasternales.


c. Persyarafan (3)
Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis
dan nervus interkostalis. Jaringan kelenjar mammae sendiri dipersarafi
oleh saraf simpatik.
Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubung dengan
penyulit paralisis dan mati rasa pasca bedah, yakni nervus
interkostobrakialis, nervus kutaneus brakialis medialis yang mengurus
sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi
aksila, saraf ini sukar disingkirkan sehingga sering terjadi mati rasa
pada daerah tersebut. 4 syaraf nervus pektoralis yang menginervasi
muskulus pektoralis mayor dan minor, nervus torakodorsalis yang
menginervasi muskulus latissimus dorsi, dan nervus torakalis longus

yang menginervasi muskulus serratus anterior sedapat mungkin


dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila.
2.4.

FISIOLOGI
Perkembangan dan fungsi payudara dimulai oleh berbagai hormon.
Estrogen

diketahui

merangsang

perkembangan

duktus

mamilaris.

Progesterone memulai perkembangan lobules-lobulus payudara juga


deferensiasi sel epitel. Prolaktin merangsang laktogenesis.
1. Pubertas

terjadi

pembesaran

payudara

yang

diakibatkan

karena

bertambahnya jaringan kelenjar dan deposit jaringan lemak.


2. Siklus menstruasi pada fase premestruasi akan terjadi pembesaran vascular
dan pembesaran kelenjar, kemudian akan terjadi regresi kelenjar pada fase
pasca menstruasi.
3. Kehamilan dan laktasi : pada kehamilan tua dan setelah melahirkan,
payudara kolostrum sampai sekitar 3-4 han postpartum, kemudian sekresi
susu dimulai sebagai respon terhadap rangsang penghisapan dan bayi
(sucking refleks).
4. Monopouse : Lobulus beinvolusi. Lemak menggantikan
2.5.

JENIS-JENIS TUMOR JINAK PAYUDARA

A. Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma adalah lesi yang sering terjadi pada mammae.
Setelah menopause, tumor tersebut tidak lagi ditemukan. Fibroadenoma
sering membesar mencapai ukuran 1 atau 2 cm. Kadang fibroadenoma
tumbuh multiple (lebih 5 lesi pada satu mammae), tetapi sangat jarang.
Pada masa adolesens, fibroadenoma tumbuh dalam ukuran yang besar.
Pertumbuhan bisa cepat sekali selama kehamilan dan laktasi atau
menjelang menopause, saat ransangan estrogen meningkat. Nodul
Fibroadenoma sering soliter, mudah digerakkan dengan diameter 1 hingga
10 cm. Jarang terjadinya tumor yang multiple dan diameternya melebihi
10 cm (giantfibroadenoma).

INSIDENS : Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang


terutama terdapat pada wanita muda berusia 15-25 tahun. fibroadenoma
terjadi secara asimptomatik pada 25% wanita.
ETIOPATOGENESIS : Etiologi dari fibroadenoma masih belum
diketahui pasti tetapi dikatakan bahwa hipersensitivitas terhadap estrogen
pada lobul dianggap menjadi penyebabnya. Usia menarche, usia
menopause

dan

terapi

hormonal

termasuklah

kontrasepsi

oral

tidak merubah risiko terjadinya lesi ini. Faktor genetik juga dikatakan

tidak berpengaruh tetapi adanya riwayat keluarga (first-degree) dengan


karsinoma mammae dikatakan meningkatkan risiko terjadinya penyakit
ini. Fibroadenoma mammae dianggap mewakili sekelompok lobus
hiperplastik dari mammae yang dikenal sebagai kelainan dari
pertumbuhan normal dan involusi. Fibroadenoma sering terbentuk
sewaktu menarche (15-25 tahun), waktu dimana struktur lobul
ditambahkan ke dalam sistem duktus pada mammae. Lobul hiperplastik
sering terjadi pada waktu ini dan dianggap merupakan bagian dari
perkembangan mammae.
GAMBARAN KLINIS : Biasanya wanita muda menyadari
terdapatnya benjolan pada payudara ketika sedang mandi atau berpakaian.
Kebanyakan benjolan berdiameter 2-3 cm, namun FAM dapat tumbuh
dengan ukuran yang lebih besar (giant fibroadenoma). Pada pemeriksaan,
benjolan FAM kenyal dan halus. Benjolan tersebut tidak menimbulkan
reaksi radang (merah, nyeri, panas), mobile (dapat digerakkan) dan tidak
menyebabkan pengerutan kulit payudara ataupun retraksi puting (puting
masuk). Benjolan tersebut berlobus-lobus. Tumor ini tidak melekat pada
jaringan sekitarnya sehingga mudah untuk digerakkan dan Kadang-kadang
fibroadenoma tumbuh multipel. Mayoritas tumor ini terdapat pada kuadran
lateral superior dari mammae. Biasanya fibroadenoma tidak nyeri, namun
kadang nyeri jika ditekan.
DIAGNOSIS : Diagnosa bisa ditegakkan melalui pemeriksaan
fisik walaupun dianjurkan juga untuk dilakukan aspirasi sitologi. Fineneedle aspiration (FNA) sitologi merupakan metode diagnosa yang akurat.
Diagnosa fibroadenoma bisa ditegakkan melalui gambaran klinik pada
pasien usia muda dan karena itu, mammografi tidak rutin dikerjakan.
Fibroadenoma dapat dengan mudah didiagnosa melalui Biopsi Aspirasi Jarum
Halus (BAJAH) atau biopsi jarum dengan diameter yang lebih besar (core needle
biopsi).

GAMBARAN HISTOPATOLOGIS : Menunjukkan stroma


fibroblastik longgar yang terdiri dari ruang seperti saluran (ductlike)
dilapisi epithelium yang terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk. Ductlike
atau ruang glandular ini dilapisi dengan lapisan sel tunggal atau multiple
yang regular dan berbatas tegas serta membran basalis yang intak
PENATALAKSANAAN : Pada fibroadenoma dilakukan eksisi
dibawah pengaruh anestesi lokal atau general. Fibroadenoma residif
setelah pengangkatan jarang terjadi. Sekiranya berlaku rekurensi, terdapat
beberapa faktor yang diduga berpengaruh. Pertama, pembentukan dari
trulymetachronous fibroadenoma. Kedua, asal dari tumor tidak diangkat
secara menyeluruh sewaktu operasi dan mungkin karena presentasi dari
tumor phyllodes yang tidak terdiagnosa
B. Kista Mammae
Kista adalah ruang berisi cairan yang dibatasi sel-sel glandular.
Kista terbentuk dari cairan yang berasal dari kelenjar payudara. Mikrokista
terlalu kecil untuk dapat diraba, Kista tidak dapat dibedakan dengan massa
lain pada mammae dengan mammografi atau pemeriksaan fisis dan
ditemukan hanya bila jaringan tersebut dilihat di bawah mikroskop. Jika
cairan terus berkembang akan terbentuk makrokista. Makrokista ini dapat
dengan mudah diraba dan diameternya dapat mencapai 1 sampai 2 inchi.

10

INSIDENS : Dikatakan bahwa kista ditemukan pada 1/3 dari


wanita berusia antara 35 sampai 50 tahun. Secara klasik, kista dialami
wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun, walaupun terdapat
juga insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada individu yang
menggunakan terapi pengganti hormon.
ETIOPATOGENESIS : Kista Mammae seperti fibroadenoma,
kista mammae merupakan suatu kelainan dari fisiologi normal lobular.
Penyebab utama terjadinya kelainan ini masih belum diketahui pasti
walaupun terdapat bukti yang mengaitkan pembentukan kista ini dengan
hiperestrogenism akibat penggunaan terapi pengganti hormon. Patogenesis
dari kista mammae ini masih belum jelas. Penelitian awal menyatakan
bahwa kista mammae terjadi karena distensi duktus atau involusi lobus.
Sewaktu

proses

ini

terjadi,

lobus

membentuk

mikrokista

yang

akan bergabung menjadi kista yang lebih besar; perubahan ini terjadi
karena adanya obstruksi dari aliran lobus dan jaringan fibrous yang
menggantikan stroma.
GAMBARAN KLINIS : Karekteristik kista mammae adalah licin
dan teraba kenyal pada palpasi. Kista ini dapat juga mobile namun tidak
seperti fibroadenoma. Gambaran klasik dari kista ini bisa menghilang jika

11

kista terletak pada bagian dalam mammae. Jaringan normal dari nodular
mammae yang meliputi kista bisa menyembunyikan gambaran klasik dari
lesi yakni licin semasa dipalpasi. Selama perkembangannya, pelebaran
yang terjadi pada jaringan payudara menimbulkan rasa nyeri. Benjolan
bulat yang dapat digerakkan dan terutama nyeri bila disentuh, mengarah
pada kista.
DIAGNOSIS : Diagnosis kista mammae ditegakkan melalui
pemeriksaan klinis dan aspirasi sitologi. Jumlah cairan yang diaspirasi
biasanya antara 6 atau 8 ml. Cairan dari kista bisa berbeda warnanya,
mulai dari kuning pudar sampai hitam, kadang terlihat translusen dan bisa
juga kelihatan tebal dan bengkak. Mammografi dan ultrasonografi juga
membantu dalam penegakkan diagnosis tetapi pemeriksaan ini tidak begitu
penting bagi pasien yang simptomatik.
PENATALAKSANAAN : Eksisi merupakan tatalaksana bagi kista
mammae. Namun terapi ini sudah tidak dilakukan karena simple aspiration
sudah memadai. Setelah diaspirasi, kista akan menjadi lembek dan tidak
teraba tetapi masih bisa dideteksi dengan mammografi. Walau
bagaimanapun, bukti klinis perlu bahwa tidak terdapat massa setelah
dilakukan aspirasi. Terdapat dua cardinal rules bagi menunjukkan aspirasi
kista berhasil yakni (1) massa menghilang secara keseluruhan setelah
diaspirasi dan (2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi darah.
Sekiranya kondisi ini tidak terpenuhi, ultrasonografi, needle biopsy dan
eksisi direkomendasikan. Terdapat dua indikasi untuk dilakukan eksisi
pada kista. Indikasi pertama adalah sekiranya cairan aspirasi mengandungi
darah ( selagi tidak disebabkan oleh trauma dari jarum ), kemungkinan
terjadinya intrakistik karsinoma yang sangat jarang ditemukan. Indikasi
kedua adalah rekurensi dari kista. Hal ini bisa terjadi karena aspirasi yang
tidak adekuat dan terapi lanjut perlu diberikan sebelum dilakukan eksisi.
C. Papilloma Intraduktus

12

Papilloma Intraduktus merupakan tumor benigna pada epithelium


duktus mammae dimana terjadinya hipertrofi pada epithelium dan
mioepithelial. Tumor ini bisa terjadi disepanjang sistem duktus dan
predileksinya adalah pada ujung dari sistem duktus yakni sinus lactiferous
dan duktus terminalis.
INSIDENS : Papilloma Intraduktus soliter sering terjadi pada
wanita paramenopausal atau postmenopausal dengan insidens tertinggi
pada dekade ke enam.
ETIOPATOGENESIS : Etiologi dan patogenesis dari penyakit ini
masih belum jelas. Dari kepustakaan dikatakan bahwa, Papilloma
Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel fibrokistik yang
hiperplasia.
GAMBARAN KLINIS : Hampir 90% dari papilloma intraduktus
adalah dari tipe soliter. Papilloma Intraduktus soliter sering timbul pada
duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien datang dengan nipple
discharge yang serous dan bercampur darah. Ada juga pasien yang datang
dengan keluhan massa pada area subareola walaupun massa ini lebih
sering ditemukan pada pemeriksaan fisis. Massa yang teraba sebenarnya
adalah duktus yang berdilatasi.
GAMBARAN HISTOLOGI : Secara histologi, tumor ini terdiri
dari papilla multipel yang masing-masing terdiri dari jaringan ikat yang
dilapisi sel epitel kuboidal atau silinder yang biasanya terdiri dari dua
lapisan terluar epitel menutupi lapisan mioepitel.
PENATALAKSANAAN : Umumnya, pasien diterapi secara
konservatif dan papilloma serta nipple discharge dapat menghilang secara
spontan dalam waktu beberapa minggu. Apabila hal ini tidak berlaku,
eksisi lokal duktus yang terkait bisa dilakukan. Eksisi duktus terminal
merupakan prosedur

bedah

pilihan

sebagai

penatalaksanan

nipple

discharge. Pada prosedur ini,digunakan anestesi lokal dengan atau tanpa


sedasi. Tujuannnya adalah untuk eksisi dari duktus yang terkait dengan
nipple discharge dengan pengangkatan jaringan sekitar seminimal

13

mungkin. Apabila lesi benigna ini dicurigai mengalami perubahan kearah


maligna, terapi yang diberikan adalah eksisi luas disertai radiasi.

D. Kelainan Fibrokistik
Penyakit fibrokistik atau dikenal juga sebagai mammary displasia
adalah benjolan payudara yang sering dialami oleh sebagian besar wanita.
Benjolan ini harus dibedakan dengan keganasan. Kelainan fibrokistik pada
payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan jaringan fibrous dan
glandular.
INSIDENS : Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada
wanita berusia 25-50 tahun (>50%).
GAMBARAN KLINIS : Kelainan ini terdapat benjolan
fibrokistik biasanya multipel, keras, adanya kista, fibrosis, benjolan
konsistensi lunak, terdapat penebalan, dan rasa nyeri. Kista dapat
membesar dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena
hubungannya dengan perubahan hormonal tiap bulannya. Wanita dengan
kelainan fibrokistik mengalami nyeri payudara siklik berkaitan dengan
adanya perubahan hormon estrogen dan progesteron. Biasanya payudara
teraba lebih keras dan benjolan pada payudara membesar sesaat sebelum
menstruasi. Gejala tersebut menghilang seminggu setelah menstruasi
selesai. Benjolan biasanya menghilang setelah wanita memasuki fase
menopause.

Pembengkakan

payudara

biasanya

berkurang

setelah

menstruasi berhenti.
DIAGNOSIS : Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari
pemeriksaan fisik, mammogram, atau biopsi. Biopsi dilakukan terutama
untuk

menyingkirkan

kemungkinan

diagnosis

kanker.

Perubahan

fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadran atas


maupun bawah.
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan
dengan seksama untuk membedakannya dengan keganasan. Apabila

14

melalui pemeriksaan fisik didapatkan benjolan difus (tidak memiliki batas


jelas), terutama berada di bagian atas-luar payudara tanpa ada benjolan
yang

dominan,

maka

diperlukan

pemeriksaan

mammogram

dan

pemeriksaan ulangan setelah periode menstruasi berikutnya. Apabila


keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau kehijauan, sebaiknya
diperiksakan tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila
cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari beberapa
kelenjar, maka kemungkinan benjolan tersebut jinak.
PENATALAKSANAAN : Medikamentosa simptomatis, operasi
apabila medikamentosa tidak menghilangkan keluhannya dan ditemukan
pada usia pertengahan sampai usia lanjut.
E. Tumor Filoides (Kistosarkoma filoides)
Tumor filodes atau dikenal dengan kistosarkoma filodes adalah
tumor

fibroepitelial

yang

ditandai

dengan

hiperselular

stroma

dikombinasikan dengan komponen epitel. Tumor filodes umum terjadi


pada dekade 5 atau 6. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada kedua
payudara), dan biasanya muncul sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit
dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi, meskipun tumor filodes
biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya yang
cepat. Tumor filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat
menyusup secara lokal dan mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya
cepat dan dapat ditemukan dalam ukuran yang besar.
INSIDENS : Tumor ini terdapat pada semua usia, kebanyakan
pada usia 45 tahun.
GAMBARAN KLINIS : Tumor filoides adalah tipe yang jarang
dari tumor payudara, yang hampir sama dengan fibroadenoma yaitu terdiri
dari dua jaringan, jaringan stroma dan glandular. Berbentuk bulat lonjong
dengan permukaan berbenjol-benjol, berbatas tegas dengan ukuran yang
lebih besar dari fibroadenoma. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada
kedua payudara), dan biasanya muncul sebagai benjolan yang terisolasi

15

dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran bervariasi, meskipun tumor


filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya
yang cepat.
PENATALAKSANAAN : Tumor filoides jinak diterapi dengan
cara melakukan pengangkatan tumor disertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi)
jaringan payudara sekitar yang normal. Sedangkan tumor filoides yang
ganas dengan batas infiltratif mungkin membutuhkan mastektomi
(pengambilan jaringan payudara). Mastektomi sebaiknya dihindari apabila
memungkinkan. Apabila pemeriksaan patologi memberikan hasil tumor
filodes ganas, maka re-eksisi komplit dari seluruh area harus dilakukan
agar tidak ada sel keganasan yang tersisa.
F. Adenosis Sklerosis
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan
kelainan fibrokistik. Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang
mencakup kelenjar-kelenjar yang lebih banyak dari biasanya. Apabila
pembesaran lobulus saling berdekatan satu sama lain, maka kumpulan
lobulus dengan adenosis ini kemungkinan dapat diraba. Adenosis sklerotik
adalah tipe khusus dari adenosis dimana pembesaran lobulus disertai
dengan parut seperti jaringan fibrous.
Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya
adenosis

agregasi,

atau

tumor

adenosis.

Sangat

penting

untuk

digarisbawahi walaupun merupakan tumor, namun kondisi ini termasuk


jinak dan bukanlah kanker.
GAMBARAN KLINIS : Apabila adenosis dan adenosis sklerotik
cukup luas sehingga dapat diraba, dokter akan sulit membedakan tumor ini
dengan kanker melalui pemeriksaan fisik payudara. Perubahan histologis
berupa proliferasi (proliferasi duktus) dan involusi (stromal fibrosis,
regresi epitel). Adenosis sklerosis dengan karakteristik lobus payudara
yang terdistorsi dan biasanya muncul pada mikrokista multipel, tetapi
biasanya muncul berupa massa yang dapat terpalpasi. Kalsifikasi dapat

16

terbentuk pada adenosis, adenosis sklerotik, dan kanker, sehingga makin


membingungkan diagnosis.
PENATALAKSANAAN : Biopsi melalui aspirasi jarum halus
biasanya dapat menunjukkan apakah tumor ini jinak atau tidak. Namun
dengan biopsi melalui pembedahan dianjurkan untuk memastikan tidak
terjadinya kanker.
G. Galaktokel
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang
sedang hamil atau menyusui atau dengan kata lain merupakan dilatasi
kistik suatu duktus yang tersumbat yang terbentuk selama masa laktasi.
Galaktokel merupakan lesi benigna yang luar biasa pada payudara dan
merupakan timbunan air susu yang dilapisi oleh epitel kuboid. Seperti
kista lainnya, galaktokel tidak bersifat seperti kanker.
GAMBARAN KLINIS : Biasanya galaktokel tampak rata, Kista
menimbulkan benjolan yang nyeri dan mungkin pecah sehingga memicu
reaksi peradangan lokal serta dapat menyebabkan terbentuknya fokus
indurasi persisten. Benjolan dapat digerakkan, walaupun dapat juga keras
dan susah digerakkan
DIAGNOSIS : Untuk menegakkan diagnosa dilakukan skrining
sonografi, dimana akan terlihat penyebaran dan kepadatan tumor tersebut.
PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan galaktokel dilakukan
dengan aspirasi jarum halus untuk mengeluarkan sekret susu. Pembedahan
dilakukan jika kista terlalu kental dan sulit di aspirasi

17

H. Mastitis

Mastitis adalah infeksi yang sering menyerang wanita yang sedang


menyusui atau pada wanita yang mengalami kerusakan atau keretakan
pada kulit sekitar puting.
ETIOPATOGENESIS : Kerusakan pada kulit sekitar puting
tersebut akan memudahkan bakteri dari permukaan kulit untuk memasuki
duktus yang menjadi tempat berkembangnya bakteri dan menarik sel-sel
inflamasi. Sel-sel inflamasi melepaskan substansi untuk melawan infeksi,
namun juga menyebabkan pembengkakan jaringan dan peningkatan aliran
darah.
GAMBARAN KLINIS : Pada mastitis menyebabkan payudara
menjadi merah, nyeri, dan terasa hangat saat perabaan. Terkadang sukar
dibedakan dengan karsinoma, yaitu adanya massa berkonsistensi keras,
bisa melekat ke kulit, dan menimbulkan retraksi puting susu akibat fibrosis
periduktal, dan bisa terdapat pembesaran kelenjar getah bening aksila.
PENATALAKSANAAN : Pada mastitis dengan kondisi ini
diterapi dengan antibiotik. Pada beberapa kasus, mastitis berkembang

18

menjadi abses atau kumpulan pus yang harus dikeluarkan melalui


pembedahan.
I. Ductus Ectasia
Ektasia duktus merupakan lesi benigna yang ditandai adanya
pelebaran dan pengerasan dari duktus.
INSIDENS : Ektasia duktus adalah kondisi yang biasanya
menyerang wanita usia sekitar 40 sampai 50 tahun dan di anggap sebagai
variasi normal proses payudara wanita usia lanjut.
GAMBARAN KLINIS : Adanya massa berupa ductus yang
membesar dicirikan dengan sekresi puting yang berwarna hijau atau hitam
pekat, dan lengket. Pada puting serta daerah disekitarnya akan terasa sakit
serta tampak kemerahan.
PENATALAKSANAAN

Kondisi

ini

umumnya

tidak

memerlukan tindakan apapun, atau dapat membaik dengan melakukan


pengkompresan dengan air hangat dan obat-obat antibiotik. Apabila
keluhan tidak membaik, duktus yang abnormal dapat diangkat melalui
pembedahan dengan cara insisi pada tepi areola.
J. Nekrosis Lemak
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak
rusak, bisa terjadi spontan atau akibat dari cedera yang mengenai
payudara. Ketika tubuh berusaha memperbaiki jaringan payudara yang
rusak, daerah yang mengalami kerusakan tergantikan menjadi jaringan
parut.
GAMBARAN KLINIS : Nekrosis lemak berupa massa keras yang
sering agak nyeri tetapi tidak membesar. Kadang terdapat retraksi kulit dan
batasnya tidak rata.
DIAGNOSIS

Karena

kebanyakan

kanker

payudara

berkonsistensi keras, daerah yang mengalami nekrosis lemak dengan

19

jaringan parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika hanya dari
pemeriksaan fisik ataupun mammogram sekalipun.
GAMBARAN HISTOPATOLOGIS : Terdapat nekrosis jaringan
lemak yang kemudian menjadi fibrosis.
PENATALAKSANAAN : Dengan biopsi jarum atau dengan
tindakan pembedahan eksisi
2.7.

DIAGNOSIS
Pemeriksaan Fisik
1. SADARI (Pemeriksaan payudara sendiri)
Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini
apabila terdapat benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai ganas,
sehingga dapat menurunkan angka kematian. Meskipun angka kejadian
kanker payudara rendah pada wanita muda, namun sangat penting untuk
diajarkan SADARI semasa muda agar terbiasa melakukannya di kala tua.
Wanita premenopause (belum memasuki masa menopause) sebaiknya
melakukan SADARI setiap bulan, 1 minggu setelah siklus menstruasinya
selesai.
Cara melakukan SADARI adalah :
1. Wanita sebaiknya melakukan SADARI pada posisi duduk atau berdiri
menghadap cermin.
2. Pertama kali dicari asimetris dari kedua payudara, kerutan pada kulit
payudara, dan puting yang masuk.
3. Angkat lengannya lurus melewati kepala atau lakukan gerakan bertolak
pinggang untuk mengkontraksikan otot pektoralis (otot dada) untuk
memperjelas kerutan pada kulit payudara.
4. Sembari duduk / berdiri, rabalah payudara dengan tangan sebelahnya.
5. Selanjutnya sembari tidur, dan kembali meraba payudara dan ketiak.

20

6. Terakhir tekan puting untuk melihat apakah ada cairan.

Pemeriksaan Penunjang
Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan
pada payudara adalah mammografi dan ultrasonografi (USG). Teknik yang
baru adalah menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan
Nuklear skintigrafi.
1. Mammografi
Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi
tidak teraba; jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening.
Ketepatan 83 95%, tergantung dari teknisi dan ahli radiologinya.
Mammografi adalah metode terbaik untuk mendeteksi benjolan
yang tidak teraba namun terkadang justru tidak dapat mendeteksi benjolan
yang teraba atau kanker payudara yang dapat dideteksi oleh USG.

21

Mammografi digunakan untuk skrining rutin pada wanita di usia awal 40


tahun untuk mendeteksi dini kanker payudara.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan lesi solid dan kistik.
3. Scintimammografi
Adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan
radiosotop Tc 99 sestamibi. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas tinggi
untuk menilai aktivitas sel kanker pada payudara. Selain itu dapat pula
mendeteksi lesi multipel dan keterlibatan KGB regional.
4. Diagnosis Pasti (3)
Diagnosa pasti hanya dapat ditegakan dengan pemeriksaan
histopatologis. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan beberapa cara,
yaitu
-

Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)

Needle core biopsi dengan jarum Silverman

Excisional biopsy dan pemeriksaan frozen section (potong beku)

waktu operasi
Pemeriksaan potong beku (frozen section) waktu operasi banyak
dilakukan di senter-senter pendidikan. Ketepatan cukup tinggi 97,65 %
dengan tidak ada false positif dan hanya 0,6 % false negatif.

22

BAB III
KESIMPULAN
1. Tumor jinak mamma ialah lesi jinak yang berasal dari dari parenkim,
stroma, areola dan papilla mammae.
2. Hampir semua etiologi tumor jinak payudara belum secara pasti. Namun,
berbagai penelitian beranggapan pengaruh hormonal merupakan pemicu
terjadinya tumor jinak payudara yang ada.
3. Jenis-jenis tumor jinak payudara antara lain :
a. Fibroadenoma mammae
b. Kista mammae
c. Papilloma intraduktus
d. Kelainan fibrokistik
e. Tumor filoides
f. Adenosis sklerosis
g. Galaktokel
h. Mastitis
i. Ductus ektasia
j. Nekrosis lemak

DAFTAR PUSTAKA

23

1. Sjamsuhidajat, R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, Jakarta,


EGC, 2010, hal : 475-478.
2. Pierce A.G, Neil R.B, At a Glance Ilmu Bedah, Edisi 3, Jakarta, Erlangga,
2007.
3. Staf pengajar bagian ilmu bedah FKUI, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah,
Jakarta, Penerbit FKUI, 2010, hal : 324-326; 333-334.
4. http:// emedicine.medscape.com/article/435779-overview
5. http://www.holoogic.com/benign-breast-tumors/

24