Anda di halaman 1dari 19

Referat

Retardasi Mental

Disususn Oleh :
Ari Filologus Sugiarto
Nim : 11 2013 204
Pembimbing :
Dr. Elly Tania, Sp.Kj

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Smf Ilmu Kedokteran Jiwa
Jakarta

PENDAHULUAN
Retardasi Mental
Keterbelakangan mental atau lazim disebut retardasi mental (RM) adalah suatu keadaan
dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau
sejak masa anak-anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara
keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental
disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit danfren = jiwa) atau tuna mental.
Keadaan tersebut ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah ratarata dan disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri atau
berprilaku adaptif.
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi ke-III (PPDGJ III)
adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap, yang
terutama ditandai oleh hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga
berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu kemampuan kognitif, bahasa, motorik,
dan sosial.
Etiologi
a. Kelainan Kromosom
i. Sindrom Down
Sindrom down adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya
kelebihan kromosom pada pasangan ke-21 dan ditandai dengan retardasi
mental serta anomali fisik yang beragam. Untuk seorang ibu usia
pertengahan (> 32 tahun), resiko memiliki anak dengan sindroma Down
adalah kira-kira 1 dalam 100 kelahiran. Retardasi mental adalah cirri yang
menumpang pada sindrom Down. Sebagian besar pasien berada dlam
kelompok retardasi sedang sampai berat., hanya sebagian kecil yang
memiliki IQ di atas 50. Diagnosis sindrom Down relative mudah pada
anak yang lebih besar tetapi seringkali sukar pada neonates. Tanda yang
paling penting pada neonates adalah hipotonia umum, fisura palpebra yang
oblik, kulit leher yang berlebihan, tengkorak yang kecil dan datar, tulang
pipi yang tinggi, dan lidah yang menonjol. Dapat dilihat juga tangan tebal

dan lebar, dengan garis transversal tunggal pada telapak tangan, dan jari
kelingking pendek dan melengkung ke dalam.
Karakteristik Sindroma Down

ii. Sindrom Fragile X


Sindrom fragile X merupakan bentuk retardasi mental yang
diwariskan dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X. Diyakini
terjadi pada kira-kira 1 tiap 1000 kelahiran laki-laki dan 2000 kelahiran
perempuan. Derajat retardasi mental terentang dari ringan sampai berat.
Ciri

perilakunya

adalah

tingginya

angka

gangguan

defisit

atensi/hiperaktivitas, ganguan belajar, dan gangguan perkembangan


pervasive seperti gangguan akuisitik. Defisit dalam fungsi bahasa adalah
pembicaraan yang cepat dan perseveratif dengan kelainan dalam
mengkombinasikan kata-kata membentuk frasa dan kalimat.
iii. Sindrom Prader-Willi
Kelianan ini akibat dari penghilangan kecil pada kromosom 15,
biasanya terjadi secara sporadik. Prevalensinya kurang dari 1 dalam
10000. Orang dengan sindrom ini menunjukkan perilaku makan yang
kompulsif dan sering kali obesitas, retardasi mental, hipogonadisme,
perawakan pendek, hipotonia, dan tangan dan kaki yang kecil. Anak anak

dengan sindrom ini seringkali memiliki perilaku oposisional yang


menyimpang.

Karakteristik Sindrom Prader-Willi

iv. Sindrom tangisan kucing (cat-cry [cri-du-chat] syndrome)


Anak-anak dengan sindrom tangisa kucing kehilangan bagian dari
kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat dan menunjukkan
banyak

stigmata

yang

seringkali

disertai

dengan

penyimpangan

kromosom, seperti mikrosefali, telinga yang letaknya rendah, fisura


palpebra oblik, hipertelorisme, dan mikrognatia. Tangisan seperti kucing
yang khas (disebabkan oleh kelainan laring) yang memberikan nama
sindrom secara bertahap berubah dan menghilang dengan bertambahnya
usia.
b. Kelainan kromosom lain
Sindrom penyimpangan autosomal lain yang disertai dengan
retardasi mental adalah jauh lebih jarang terjadi dibandingkan Sindrom
Down.
c. Faktor Genetik Lain
Phenylketonuria

(PKU)

merupakan

gangguan

yang

menghambat

metabolisme asam phenylpyruvic, menyebabkan retardasi mental kecuali bila


pola makan amat dikontrol. PKU ditransmisikan dengan trait Mendel autosomal

resesif yang sederhana dan terjadi pada kira-kira yang di institusi adalah kira-kira
1 persen dalam setiap 10.000 sampai 15.000 kelahiran hidup. Bagi orang tua yang
telah memiliki anak dengan PKU, kemungkinan memiliki anak lain dengan PKU
adalah satu dalam setiap empat sampai lima kehamilan selanjutnya. Defek
metabolisme dasar pada PKU adalah ketidakmampuan untuk mengubah
fenilalanin, suatu asam amino esensial, menjadi paratirosin karena tidak adanya
atau tidak aktifnya enzim fenilalanin hidroksilase, yang mengkatalisis perubahan
tersebut.
Sebagian besar pasien dengan PKU mengalami retardasi yang berat, tetapi
beberapa dilaporkan memiliki kecerdasan yang ambang atau normal. Walaupun
gambaran klinis bervariasi, anak PKU tipikal adalah hiperaktif dan menunjukkan
perilaku yang aneh dan tidak dapat diramalkan, yang menyebabkan sulit
ditangani.

Mereka

seringkali

memiliki

temper

tantrum

dan

seringkali

menunjukkan gerakan aneh pada tubuhnya dan anggota gerak atas dan manerisme
memutir tangan, dan perilaku mereka kadang-kadang meyerupai anak autistik
atau skizofrenik. Komunikasi verbal dan nonverbal biasanya sangat terganggu
atau tidak ditemukan. Koordinasi anak adalah buruk, dan mereka memiliki
banyak kesulitan perseptual.

d. Faktor Prenatal
Beberapa

kasus

retardasi

mental

disebabkan

oleh

infeksi

dan

penyalahgunaan obat selama ibu mengandung. Infeksi yang biasanya terjadi


adalah Rubella, yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Penyakit ibu juga dapat
menyebabkan retardasi mental, seperti sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital.

Obat-obatan yang digunakan ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi


melalui plasenta. Sebagian dapat menyebabkan cacat fisik dan retardasi mental
yang parah. Anak-anak yang ibunya minum alkohol selama kehamilan sering lahir
dengan sindrom fetal dan merupakan kasus paling nyata sebagai penyebab
retardasi mental. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen atau cedera
kepala, infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis, terkena racun, seperti cat
yang mengandung timah sangat berpotensi menyebabkan retardasi mental.
e. Faktor Perinatal
Beberapa bukti menunjukkan bahwa bayi prematur dan bayi dengan berat
badan lahir rendah berada dalam risiko tinggi mengalami gangguan neurologis
dan intelektual yang bermanifestasi selama tahun-tahun sekolahnya. Bayi yang
menderita pendarahan intrakranial atau tanda-tanda iskemia serebral terutama
rentan terhadap kelainan kognitif. Derajat gangguan perkembangan saraf biasanya
berhubungan dengan beratnya perdarahan intrakranial.
f. Gangguan Didapat Pada Masa Anak-anak
Kadang-kadang status perkembangan seorang anak dapat berubah secara
dramatik akibat penyakit atau trauma fisik tertentu. Secara retrospektif, kadangkadang sulit untuk memastikan gambaran kemajuan perkembangan anak secara
lengkap sebelum terjadinya gangguan, tetapi efek merugikan pada perkembangan
atau keterampilan anak tampak setelah gangguan. Beberapa penyebab yang
didapat pada masa anak-anak antara lain :
Infeksi.
Infeksi yang paling serius mempengaruhi interitas serebral adalah
ensefalitis dan meningitis.
Trauma kepala
Penyebab cedera kepala yang terkenal pada anak-anak yag menyebabkan
kecacatan mental, termasuk kejang, adalah kecelakaan kendaraan
bermotor. Tetapi, lebih banyak cedera kepala yang disebabkan

oleh

kecelakaan di rumah tangga, seperti terjatuh dari tangga. Penyiksaan anak


juga suatu penyebab cedera kepala.
Masalah lain
Cedera otak dari henti jantung selama anestesia jarang terjadi. Satu
penyebab cedera otak lengkap atau parsial adalah afiksia yang
berhubugan dengan nyaris tenggelam. Pemaparan jangka panjang dengan
timbal adalah penyebab gangguan kecerdasan dan keterampilan belajar.
Tumor intrakranial dengan berbagai jenis dan asal, pembedahan, dan
kemoterapi juga dapat merugikan fungsi otak.
g. Faktor Lingkungan dan Sosiokultural
Suatu bentuk retardasi mental dipengaruhi oleh lingkungan dengan
sosioekonomi rendah. Faktor-faktor psikososial, seperti lingkungan rumah atau
sosial yang miskin, yaitu yang memberi stimulasi intelektual, penelantaran atau
kekerasan dari orang tua, dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam
perkembangan retardasi mental pada anak-anak. Tidak ada penyebab biologis
yang telah dikenali pada kasus tersebut.
Anak-anak dalam keluarga yang miskin dan kekurangan secara
sosiokultural adalah sasaran dari kondisi merugikan perkembangan dan secara
potensial patogenik. Lingkungan prenatal diganggu oleh perawatan medis yang
buruk dan gizi maternal yang buruk. Kehamilan remaja sering disertai dengan
penyulit obstetrik, prematuritas, dan berat badan lahir rendah. Perawatan medis
setelah kelahiran buruk, malnutrisi, pemaparan dengan zat toksin tertentu seperti
timbal dan trauma fisik adalah sering terjadi. Ketidakstabilan keluarga, sering
pindah, dan pengasuh yang berganti-ganti tetapi tidak adekuat sering terjadi.
Selain itu, ibu dalam keluarga tersebut sering berpendidikan rendah dan tidak siap
memberikan stimulasi yang sesuai bagi anak-anaknya.
Masalah lain yang tidak terpecahkan adalah pengaruh ganguan mental
parental yang parah. Gangguan tersebut dapat menganggu pengasuhan dan
stimulasi anak dan aspek lain dari lingkungan mereka, dengan demikian
menempatkan anak pada resiko perkembangan. Anak-anak dari orang tua dengan

gangguan mood dan skizofrenia diketahui berada dalam risiko mengalami


gangguan tersebut dan gangguan yang berhubungan. Penelitian terakhir
menunjukkan tingginya prevalensi gangguan keterampilan motorik dan gangguan
perkembangan lainnya tetapi tidak selalu disertai retardasi mental.
Diagnosis
Menurut pedoman diagnostik PPDGJ III intelegensia bukan merupakan
karakteristik yang berdiri sendiri, melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah besar
ketrampilan khusus yang berbeda. Meskipun ada kecenderungan umum bahwa semua
ketrampilan ini akan berkembang ke tingkat yang serupa pada setiap individu, tetapi ada
ketimpangan (discrepancy) yang luas, terutama pada penyandang RM. Orang yang
demikian mungkin memperlihatkan hendaya berat dalam satu bidang tertentu (misalnya
bahasa) atau mungkin mempunyai suatu area ketrampilan tertentu yang lebih tinggi
(misalnya tugas visuospasial sederhana) pada RM berat. Keadaan ini akan menimbulkan
kesulitan dalam menentukan kriteria diagnostik dimana seorang penyandang RM harus
diklasifikasikan.
Penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia,
termasuk temuan klinis, perilaku adaptif (yang dinilai dalam kaitan dengan latar belakang
budayanya), dan hasil tes psikometrik.
Untuk diagnosis pasti, harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang
meningkatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari lingkungan
sosial biasa sehari hari. Gangguan jiwa dan fisik yang menyertai retardasi mental
mempunyai pengaruh besar pada gambaran klinis dan penggunaan dari semua
keterampilannya. Oleh karena itu kategori diagnostik yang dipilih harus berdasarkan
penilaian kemampuan global dan bukan atas suatu hendaya atau ketrampilan khusus.
Tingkat IQ yang ditetapkan hanya merupakan petunjuk dan seharusnya tidak ditetapkan
secara kaku dalam memandang keabsahan permasalahan lintas budaya.
Kriteria diagnostik untuk RM menurut DSM IV TR adalah sebagai berikut :

1. Fungsi intelektual dibawah rata rata (IQ 70 atau kurang) yang telah diperiksa secara
individual.
2.

Kekurangan atau gangguan dalam perilaku adaptif (sama dengan kekurangan


individu untuk memenuhi tuntutan standar perilaku sesuai dengan usianya dari
lingkungan budayanya) dalam sedikitnya 2 hal, yaitu komunikasi, self-care,
kehidupan rumah-tangga, ketrampilan sosial/interpersonal, menggunakan sarana
komunitas, mengarahkan diri sendiri, ketrampilan akademis fungsional, pekerjaan,
waktu senggang, kesehatan dan keamanan

3.

Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun

Kode diagnostik dan derajat RM menurut DSM IV TR adalah sebagai berikut :


317

Retardasi mental ringan, IQ 50 55 sampai 70

318

Retardasi mental sedang, IQ 35 40 sampai 50 55

318.1 Retardasi mental berat, IQ 20 25 sampai 35 40


318.2 Retardasi mental sangat berat, IQ dibawah 20 atau 25
Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan dan hasilnya
dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ. Dapat dihitung dengan :
IQ = MA/CA x 100%
MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes
CA = Chronological Age, umur yang didapat berdasarkan perhitungan tanggal lahir
Diagnosis retardasi mental dapat dibuat setelah riwayat penyakit, pemeriksaan
intelektual yang baku, dan pengukuran fungsi adaptif menyatakan bahwa perilaku anak
sekarang adalah secara bermakna di bawah tingkat yang diharapakan. Diagnosis sendiri
tidak menyebutkan penyebab ataupun prognosisnya. Suatu riwayat psikiatrik adalah
berguna untuk mendapatkan gambaran longitudinal perkembangan fungsi anak, dan
pemeriksaan stigma fisik, kelainan neurologis, dan tes laboratorium dapat digunakan
untuk memastikan penyebab dan prognosis.
h. Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit paling sering didapatkan dari orang tua atau pengasuh,
dengan perhatian khusus pada kehamilan ibu, persalinan, dan kelahiran. Terdapat
riwayat keluarga retardasi mental, hubungan darah pada orangtua, dan gangguan
herediter. Juga dapat menilai latar belakang sosiokultural pasien, iklim emosional
di rumah, dan fungsi intelektual pasien.
i. Wawancara Psikiatrik
Dua faktor yang sangat penting saat jika mewawancarai pasien adalah
sikap pewawancara dan cara berkomunikasi dengan pasien. Kemampuan verbal
pasien, termasuk bahasa reseptif dan ekspresif, harus dinilai sesegera mungkin
dengan mengobservasi komunikasi verbal dan nonverbal antara pengasuh dan
pasien dan dari riwayat penyakit. Sangat membantu jika memeriksa pasien dan
pengasuhnya bersama-sama. Jika pasien menggunakan bahasa isyarat, pengasuh
dapat sebagai penerjemah.
Orang terertardasi mengalami kegagalan seumur hidup dalam berbagai
bidang, dan mereka mungkin mengalami kecemasan sebelum menjumpai
pewawancara. Pewawancara dan pengasuh harus berusaha untuk memberikan
pasien suatu penjelasan yang jelas, suportif, dan konkret tentang proses
diagnostik, terutama pasein dengan bahasa reseptif yang memadai. Dukungan dan
pujian harus diberikan dalam bahasa yang sesuai dengan usia dan pengertian
pasien.
Pengendalian pasien terhadap pola motilitas harus dipastikan, dan bukti
klinis adanya distraktibilitas dan distorsi dalam persepsi dan daya ingat harus
diperiksa. Pemakaian bahasa, tes realitas, dan kemampuan menggali dan
pengalaman penting untuk dicatat. Sifat dan maturitas pertahanan pasien
(menundukkan diri sendiri menggunakan penghindaran, represi, penyangkalan,
introyeksi, dan isolasi) harus diamati. Potensi sublimasi, toleransi frustasi, dan
pengendalian impuls (terutama terhadap dorongan motorik, agresif, dan seksual)
harus dinilai. Juga penting adalah citra diri dan peranannya dalam perkembangan
keyakinan diri, dan juga penilaian keuletan, ketetapan hati, keingintahuan, dan
kemauan menggali hal yang tidak diketahui.
Pada umumnya pemeriksaan psikiatrik pasien yang teretardasi harus
mengungkapkan bagaimana pasien mengalami stadium perkembangan. Dalam hal

kegagalan atau regresi, juga dapat mengembangkan sifat kepribadian yang


memungkinkan perencanaan logis dari penatalaksanaan dan pendekatan
pengobatan.
j. Pemeriksaan Fisik
Berbagai bagian tubuh memiliki karakteristik tertentu yang sering
ditemukan pada orang retardasi mental dan memiliki penyebab prenatal. Sebagai
contoh, konfigurasi dan ukuran kepala memberikan petunjuk terhadap berbagai
kondisi seperti mikrosefali, hidrosefalus, dan sindroma Down. Wajah pasien
mungkin memiliki beberapa stigmata retardasi mental yang sangat mempermudah
diagnosis. Tanda fasial tersebut adalah hipertelorisme, tulang hidung yang datar,
alis mata yang menonjol, lipatan epikantus, opasitas kornea, perubahan retina yag
letaknya rendah atau bentuknya aneh, lidah yang menonjol, dan gangguan gigi
geligi. Lingkaran kepala harus diukur sebagai bagian dari pemeriksaan klinis.
Warna dan tekstur kulit dan rambut, palatum dengan lengkung yang tinggi, ukuran
kelenjar tiroid, dan ukuran anak dan batang tubuh dan ekstremitasnya adalah
bidang lain yang digali.
k. Pemeriksaan Neurologis
Gangguan sensorik sering terjadi pada orang retardasi mental, sebagai
contoh sampai 10 persen orang retardasi mental mengalami gangguan
pendengaran empat kali lebih tinggi dibandingkan orang normal. Gangguan
sensorik dapat berupa gangguan pendengaran dan gangguan visual. Gangguan
pendengaran terentang dari ketulian kortikal sampai deficit pendengaran yang
ringan. Gangguan visual dapat terentang dari kebutaan sampai gangguan konsep
ruang, pengenalan rancangan, dan konsep citra tubuh.
Gangguan dalam bidang motorik dimanifestasikan oleh kelainan pada
tonus otot (spastisitas atau hipotonia), refleks (hiperefleksia), dan gerakan
involunter (koreoatetosis). Derajat kecacatan lebih kecil ditemukan dalam
kelambanan dan koordinasi yang buruk.
l. Tes Laboratorium
Tes laboratorium yang digunakan pada kasus retardasi mental adalah
pemeriksaan urin dan darah untuk mencari gangguan metabolik. Penentuan

kariotipe dalam laboratorium genetik diindikasikan bila dicurigai adanya


gangguan kromosom.
Amniosintesis, di mana sejumlah kecil cairan amniotik diambil dari ruang
amnion secara transabdominal antara usia kehamilan 14 dan 16 minggu, telah
berguna dalam diagnosis berbagai kelainan kromosom bayi, terutama Sindroma
Down. Amniosintesis dianjukan untuk semua wanita hamil berusia di atas 35
tahun.
Pengambilan sampel vili korionik (CVS; chorionic villi sampling) adalah
teknik skrining yang baru untuk menentukan kelainan janin. Cara ini dilakukan
pada usia kehamilan 8 dan 10 minggu. Hasilnya tersedia dalam waktu singkat
(beberapa jam atau hari), dan jika kehamilan adalah abnormal, keputusan untuk
mengakhiri kehamilan dapat dilakukan dalam trimester pertama. Prosedur
memiliki resiko keguguran antara 2 dan 5 persen.
m. Pemeriksaan Psikologis
Tes psikologis, dilakukan oleh ahli psikologis yang berpengalaman, adalah
bagian standar dari pemeriksaan untuk retardasi mental. Pemeriksaan psikologis
dilakukan untuk menilai kemampuan perseptual, motorik, linguistik, dan
kognititf. Informasi tentang faktor motivasional, emosional, dan interpersonal
juga penting.
Klasifikasi
Menurut PPDGJ-III retardasi mental dibagi menjadi :
F70 Retardasi Mental Ringan
Bila menggunakan tes IQ baku yang tepat, maka IQ berkisar antara 50 69
menunjukkan retardasi mental ringan.
Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada berbagai tingkat,
dan masalah kemampuan berbicara yang mempengaruhi perkembangan kemandirian
dapat menetap sampai dewasa. Walaupun mengalami keterlambatan dalam kemampuan
bahasa, tapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan bicara untuk keperluan sehari
hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam merawat diri sendiri dan mencapai

ketrampilan praktis dan ketrampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya


agak lambat daripada normal.
Kesulitan utama biasanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang bersifat
akademis dan banyak masalah khusus dalam membaca dan menulis.
Etiologi organik hanya dapat diidentifikasikan pada sebagian kecil penderita.
Keadaan lain yang menyertai, seperti autisme, gangguan perkembangan lain, epilepsi,
gangguan tingkah laku, atau disabilitas fisik dapat ditemukan dalam berbagai proporsi.
Bila terdapat gangguan demikian, maka harus diberi kode diagnosis tersendiri.
F71 Retardasi Mental Sedang
IQ biasanya berada dalam rentang 35 49. Umumnya ada profil kesenjangan dari
kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam ketrampilan
visuo-spasial daripada tugas tugas yang tergantung pada bahasa, sedangkan yang
lainnya sangat canggung namun dapat mengadakan interaksi sosial dan percakapan
sederhana.
Tingkat perkembangan bahasa bervariasi, ada yang dapat mengikuti percakapan
sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya untuk kebutuhan
dasar mereka.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasikan pada kebanyakan penyandang
retardasi mental sedang. Autisme masa kanak atau gangguan perkembangan pervasif
lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh besar pada
gambaran klinis dan tipe penatalaksanaan yang dibutuhkan. Epilepsi, disabilitas
neurologik dan fisik juga lazim ditemukan meskipun kebanyakan penyandang retardasi
mental sedang mampu berjalan tanpa bantuan.
Kadang kadang didapatkan gangguan jiwa lain, tetapi karena tingkat
perkembangan bahasanya yang terbatas sehingga sulit menegakkan diagnosis dan harus
tergantung dari informasi yang diperoleh dari orang lain yang mengenalnya. Setiap
gangguan penyerta harus diberi kode diagnosis tersendiri.

F72 Retardasi Mental Berat


IQ biasanya berada dalam rentang 20 34. Pada umumnya mirip dengan retardasi
mental sedang dalam hal :
-

Gambaran klinis

Terdapatnya etiologi organik

Kondisi yang menyertainya

Tingkat prestasi yang rendah

Kebanyakan penyandang retardasi mental berat menderita gangguan motorik yang


mencolok atau defisit lain yang menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan
atau penyimpangan perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan
saraf pusat.

F73 Retardasi Mental Sangat Berat


IQ biasanya dibawah 20. Pemahaman dan penggunaan bahasa terbatas, hanya
mengerti perintah dasar dan mengajukan permohonan sederhana. Keterampilan
visuospasial yang paling dasar dan sederhana tentang memilih dan mencocokkan
mungkin dapat dicapainya dan dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat, penderita
mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan rumah tangga.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar kasus. Biasanya
ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang berat yang mempengaruhi mobilitas, seperti
epilepsi dan hendaya daya lihat dan daya dengar. Sering ada gangguan perkembangan
pervasif dalam bentuk sangat berat khususnya autisme yang tidak khas (atypical autism)
terutam pada penderita yang dapat bergerak.
F78 Retardasi Mental Lainnya
Kategori ini hanya digunakan bila penilaian dari tingkat retardasi mental dengan
memakai prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan karena adanya
gangguan sensorik atau fisik, misalnya buta, bisu, tuli dan penderita yang perilakunya
terganggu berat atau fisiknya tidak mampu.

F79 Retardasi Mental YTT


Jelas terdapat retardasi mental, tetapi tidak ada informasi yang cukup untuk
menggolongkannya dalam salah satu kategori tersebut diatas.

Penatalaksanaan
Retardasi mental berhubungan dengan beberapa gangguan heterogen dan berbagai
faktor psikososial. Terapi yang terbaik untuk retardasi mental adalah pencegahan primer,
sekunder, dan tersier.
A. Pencegahan Primer
Pencegahan

primer

merupakan

tindakan

yang

dilakukan

untuk

menghilangkan atau menurunkan kondisi yang menyebabkan perkembangan


gangguan yang disertai dengan retardasi mental. Tindakan tersebut termasuk :
Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat
umum tentang retardasi mental.
Usaha terus-menerus dari profesional bidang kesehatan untuk menjaga dan
memperbaharui kebijaksanaan kesehatan masyarakat.
Aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan anak yang
optimal.
Eradikasi gangguan yang diketahui disertai dengan kerusakan system saraf
pusat.
Konseling keluarga dan genetik membantu menurunkan insidensi retardasi
mental dalam keluarga dengan riwayat gangguan genetik yang berhubungan
dengan retardasi mental. Untuk anak-anak dan ibu dengan sosioekonomi rendah,
pelayanan medis prenatal dan perinatal yang sesuai dan berbagai program
pelengkap dan bantuan pelayanan sosial dapat menolong menekan komplikasi
medis dan psikososial.
B. Pencegahan Sekunder dan Tersier
Jika suatu gangguan yang disertai dengan retardasi mental telah dikenali,
gangguan harus diobati untuk mempersingkat perjalanan penyakit (pencegahan
sekunder) dan untuk menekan sekuele atau kecacatan yang terjadi setelahnya
(pencegahan tersier).

Gangguan metabolik

dan

endokrin herediter, seperti

PKU

dan

hipotiroidisme, dapat diobati dalam stadium awal dengan kontrol diet atau dengan
terapi penggantian hormon.
Anak retardasi mental seringkali memiliki kesulitan emosional dan
perilaku yang memerlukan terapi psikiatrik. Kemampuan kognitif dan sosial yang
terbatas yang dimiliki anak tersebut memerlukan modalitas terapi psikiatrik yang
dimodifikasi berdasarkan tingkat kecerdasan anak.
a. Pendidikan untuk anak
Lingkungan pendidikan untuk anak-anak dengan retardasi mental
harus termasuk program yang lengkap yang menjawab latihan
keterampilan adaptif, latihan keterampilan sosial, dan latihan kejujuran.
Perhatian khusus harus dipusatkan pada komunikasi dan usaha untuk
meningkatkan kualitas hidup. Terapi kelompok seringkali merupakan
format yang berhasil dimana anak-anak dengan retardasi mental dapat
belajar dan mempraktekkan situasi hidup nyata dan mendapatkan umpan
balik yang mendukung.
b. Terapi perilaku, kognitif, dan psikodinamika
Kesulitan dalam beradaptasi di antara orang retardasi mental
adalah luas dan sangat bervariasi sehingga sejumlah intervensi sendiri atau
dalam kombinasi mungkin berguna.
Terapi perilaku telah digunakan selama bertahun-tahun untuk
membentuk dan meningkatkan perilaku sosial dan untuk mengendalikan
dan menekan perilaku agresif dan destruksi pasien. Dorongan positif untuk
perilaku yang diharapkan dan memulai hukuman (seperti mencabut hak
istimewa) untuk perilaku yang tidak diinginkan telah banyak menolong.
Terapi kognitif seperti menghilangkan keyakinan palsu dan latihan
relaksasi dengan instruksi dari diri sendiri, juga telah dianjurkan untuk
pasien retardasi mental yang mampu mengikuti instruksi pasien.
Terapi psikodinamika telah digunakan pada pasien retardasi mental
dan keluarganya untuk menurunkan konflik tentang harapan yang
menyebabkan kecemasan, kekerasan, dan depresi yang menetap.
c. Pendidikan keluarga

Satu bidang yang penting dalam pendidikan keluarga dari pasien


dengan retardasi mental adalah tentang cara meningkatkan kompetensi dan
harga diri sambil mempertahankan harapan yang realistik untuk pasien.
Keluarga

seringkali

merasa

sulit

untuk

menyeimbangkan

antara

mendorong kemandirian dan memberikan lingkungan yang mengasuh dan


suportif bagi anak retardasi mental, yang kemungkinan mengalami suatu
tingkat penolakan dan kegagalan di luar konteks keluarga.
Orang tua mungkin mendapatkan manfaat dari konseling yang
terus-menerus atau terapi keluarga. Orang tua harus diberikan kesempatan
untuk mengekspresikan perasaan bersalah, putus asa, kesedihan,
penyangkalan yang terus-menerus timbul, dan kemarahan tentang
gangguan dan masa depan anak. Dokter psikiatrik harus siap untuk
memberikan semua informasi medis dasar dan terakhir tentang penyebab,
terapi, dan bidang lain yang berhubungan (seperti latihan khusus dan
perbaikan defek sensorik).
d. Intervensi farmakologis
Pendekatan farmakologis dalam terapi gangguan mental komorbid pada
pasien retardasi mental adalah banyak kesamaannya seperti untuk pasien
yang tidak mengalami retardasi mental. Semakin banyak data yang
mendukung pemakaian berbagai medikasi untuk pasien dengan gangguan
mental yang tidak retardasi mental. Beberapa penelitian telah memusatkan
perhatian pada pemakaian medikasi untuk sindrom perilaku berikut ini
yang sering terjadi di antara retardasi mental:
Agresi dan perilaku melukai diri sendiri
o Beberapa bukti dari penelitian telah menyatakan bahwa lithium
(Eskalith) berguna dalam menurunkan agresi dan perilaku melukai
diri sendiri.
o Antagonis narkotik seperti naltrexone (Trexan) telah dilaporkan
menurunkan perilaku melukai diri sendiri pada pasien retardasi
mental yang juga memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan
austik infantil. Satu hipotesis yang diajukan sebagai mekanisme
kerja terapi naltrexone adalah bahwa obat mempengaruhi

pelepasan opioid endogen yang dianggap berhubungan dengan


melukai diri sendiri.
o Carbamazepine (Tegretol) dan valproic acid (Depakene) adalah
medikasi yang juga bermanfaat pada beberapa kasus perilaku
melukai diri sendiri.
Gerakan motorik stereotipik
Medikasi antipsikotik,

seperti

haloperidol

(Haldol)

dan

chlorpromazine (Thorazine), menurunkan perilaku stimulasi diri


yang berulang pada pasien retardasi mental, terapi medikasi
tersebut tidak meningkatkan perilaku adaptif. Beberapa anak dan
orang dewasa (sampai sepertiga) dengan retardasi mental
menghadapi resiko tinggi mengalami tardive dyskinesia dengan
pemakaian kontinu medikasi antipsikotik.
Perilaku kemarahan eksplosif
Penghambat-, seperti propranolol dan buspirone (BuSpar), telah
dilaporkan menyebabkan penurunan kemarahan ekspolasif di
antara pasien dengan retardasi mental dan gangguan autistik.
Penelitian sistematik diperlukan sebelum obat dapat ditetapkan
sebagai manjur.
Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas
Penelitian terapi methylphenidate pada pasien retardasi mental
ringan dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas
menunjukkan

perbaikan

bermakna

dalam

telah

kemampuan

mempertahankan perhatian dan menyelesaikan tugas. Penelitian


terapi metylphenidate tidak menunjukkan bukti adanya perbaikan
jangka panjang dalam keterampilan sosial atau belajar.
Daftar Pustaka
1. Shapiro Bruce K, Batshaw Mark L. Mental Retardation (Mental Disability). In:
ShreinerJennifer, editor. Nelson Textbook of Pediatrics. 18t ed. Philadelphia: Saunders
Elsevier;2007. p. 191-7.2.
2. Armatas V. Mental Retardation: Definitions, Etiology, Epidemiology, and Diagnosis.
Jurnalof Sport and Health Research 2009; 1 (2): 112-122.3
3. Maslim Rusli, Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III dan DSM - 5

4. Yatchmink

Yvette.

Keterlambatan

Perkembangan:

Maturasi

Yang

Tertinggal

HinggaRetardasi Mental. In: Bani PA, Limanjaya D, Anggraini D, Mahanani DA,


Hartanto H,Mandera LI, et al, editors. Buku Ajar Pediatri Rudolph. 20th ed. Jakarta:
5.
6.
7.
8.

EGC; 2006. p. 136-9.4.


OCallaghan M. Developmental Disability. In: Roberton DM, South M, editor. Practical
Pediatrics. 6th ed. Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier; 2006. p. 108-14.5.
Santrock John W. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2007.6.
Sularyo Titi Sunarwati, Kadim Muzal. Retardasi Mental. Sari Pediatri 2000 Dec; 2 (3):

170-7.7.
9. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC; 1995