Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zat warna merupakan suatu zat yang dapat menyerap suatu partikel warna dan lalu
memantulkannya kembali atau meneruskan warnanya dengan panjang gelombang tertentu
sehingga mempunyai warna yang khas. Zat-zat warna dapat diperoleh dari tanaman maupun
hewan tetapi ada pula yang dapat disintesis. Banyak sekali zat-zat warna yang biasa
digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya pada industri tekstil, kertas, plastik,
makanan, kosmetik dan sebagainya, dan salah satu contoh zat warnanya adalah rhodamin B.
Zat-zat warna tersebut dapat diadsorpsi untuk menjelaskan bahwa ada konsentrasi yang
lebih besar dari molekul yang teradsorpsi pada permukaan padatan daripada dalam fase gas
atau dalam badan larutan. Beberapa contoh adsorben yang umum digunakan adalah karbon
aktif, silika gel, alumina, zeolit dan penyaring molekul. Limbah zat warna yang dibuang ke
sungai akan sangat mengganggu aktivitas biologi yang ada, kualitas air tanah juga akan
terpengaruh karena adanya zat warna. Adsorpsi zat warna oleh adsorben telah banyak
dilakukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya saja dalam penanganan limbah cair yang
mengandung zat warna berbahaya dan bersifat karsinogenik.
Proses adsorpsi oleh karbon aktif terbukti memberikan hasil yang baik dalam
menyisihkan kandungan warna maupun organik, namun biaya menjadi sangat mahal untuk
mengganti karbon aktif yang jenuh. Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari kinetika
adsorpsi karbon aktif terhadap asam oksalat dalam larutan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada percobaan ini yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah yang dimaksud adsorpsi ?


Apa yang mempengaruhi besar kecilnya adsorpsi?
Apa hubungan adsorbi dan adsorben ?
Apa faktor-faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi ?
Bagaimana proses adsorpsi arang aktif?
Bagaimana proses kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam oksalat dalam
larutan?

1.3 Batasan Masalah

Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada
masalah tentang :
1.
2.
3.
4.

Pengertian dari adsorpsi


Pengertian kinetika adsorpsi
Proses terjadinya arang aktif
Proses terjadinya kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam oksalat dalam
larutan

1.4 Tujuan percobaan


Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
1. Untuk mengetahi pengertian adsorpsi
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi besar kecilnya adsorpsi
3. Untuk mempelajari kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam oksalat dalam
larutan
4. Untuk mengetahui proses adsorpsi arang aktif
5. Unutk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi
1.5

Manfaat Percobaan
1.
1.

Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari percobaan ini adalah :


Praktikan mampu mengetahui kinetika adsorpsi
Praktikan mampu mengetahui apa saja yang mempengaruhi besar kecilnya

2.
3.

adsorpsi
Praktikan dapat mengetahui cara menghirung nilai dari kinetika adsorpsi
Praktikan mampu memprediksi terbentuknya endapan atau tidak dari suatu reaksi
kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam oksalat dalam larutan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Adsorpsi atau penyerapan adalah pembentukan lapisan gas pada permukaan padatan
atau kadang-kadang cairan. Dalam proses adsorpsi ada zat yang terserap pada suatu
2

permukaan zat lain yang disebut adsorbat, sedangkan zat yang permukaannya dapat menyerap
zat lain disebut adsorben. Adsorpsi atau penyerapan berbeda dengan absorpsi atau
penyerapan, sebab pada proses absorpsi zat yang terserap menembus ke dalam zat penyerap.
Secara kimia absorpsi adalah masuknya gas ke dalam padatan atau larutan, atau masuknya
cairan ke dalam padatan. Sedangkan secara fisika, absorpsi adalah perubahan energi radiasi
elektromagnetik, bunyi, berkas partikel, dan lain-lain ke dalam bentuk energi lain jika
dilewatkan pada suatu medium. Bila foton diserap akan terjadi suatu peralihan ke keadaan
tereksitasi (Daintith, 1994).
Menurut Indra (2008), salah satu sifat penting dari permukaan zat adalah adsorpsi.
Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida (cairan maupun gas) terikat pada
suatu padatan dan akhirnya membentuk suatu film (lapisan tipis) pada permukaan padatan
tersebut. Berbeda dengan absorpsi dimana fluida terserap oleh fluida lainnya dengan
membentuk suatu larutan.
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan substansi terlarut (soluble) yang
ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan kimia
fisika antara substansi dengan penyerapnya.
Adsorpsi memegang peranan penting dalam berbagai industri.Manfaat dan kegunaan
adsorpsi telah di kenal manusia sejak zaman dahulu kala dan telah di manfaatkan untuk
meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Berikut ini adalah beberapa contoh manfaat dan
kegunaan adsorpsi dalam industri dan kehidupan manusia:
Manfaat dan kegunaan adsorpsi:

Untuk menjernihkan air yang keruh

Pemutihan gula pasir pada industri gula

Pemurnian minyak kelapa sawit

Pewarnaan serat wol, kapas atau sutera

Penggunaan Norit untuk mengobati sakit perut

Proses adsorpsi yang terjadi pada kimisorpsi, partikel melekat pada permukaan dengan
membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen), dan cenderung mencari tempat yang
memaksimumkan bilangan koordinasinya dengan substrat. Peristiwa adsorpsi disebabkan oleh
gaya tarik molekul-molekul di permukaan adsorbens. Dimana adsorben yang biasa digunakan

dalam percobaan adalah kabon aktif, sedangkan zat yang diserap adalah asam asetat (Keenan,
1999).
Menurut Atkins(1990), peristiwa adsorpsi yang terjadi jika berada pada permukaan
dua fasa yang bersih ditambahkan komponen ketiga, maka komponen ketiga ini akan sangat
mempengaruhi sifat permukaan. Komponen yang ditambahkan adalah molekul yang
teradsorpsi pada permukaan (dan karenanya dinamakan surface aktif). Jumlah zat yang
terserap setiap berat adsorbens, tergantung konsentrasi dari zat terlarut. Namun demikian, bila
adsorbens sudah jenuh, konsentrasi tidak lagi berpengaruh. Adsorpsi dan desorpsi (pelepasan)
merupakan kesetimbangan.
Suatu adsorbens dengan bahan dan jenis tertentu, banyaknya gas yang dapat diserap,
makin besar bila temperatur kritis semakin tinggi atau gas tersebut mudah dicairkan. Semakin
luas permukaan dari suatu adsorben yang digunakan, maka semakin banyak gas yang dapat
diserap. Luas permukaan sukar ditentukan, hingga biasanya daya serap dihitung tiap satuan
massa adsorben. Daya serap zat padat terhadap gas tergantung dari jenis adsorben, jenis gas,
luas permukaan adsorben, temperatur dan tekanan gas.
Adsorbsi secara umum adalah proses penggumpalan subtansi terlarut (soluble) yang
ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan kimia
fisika antara subtansi dengan penyerapannya.
Adsorbsi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ;
a. Adsorbsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan suatu
proses bolak balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar
daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan
diadsorbsi pada permukaan adsorben.
b. Adsorbsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang
teradsorbsi.

Adsorpsi Fisik

Adsorpsi Kimia

Molekul terikat pada adsorben oleh Molekul terikat pada adsorben oleh ikatan
gaya van der Waals
kimia

Mempunyai entalpi reaksi 4 sampai Mempunyai entalpi reaksi 40 sampai


40 kJ/mol
800 kJ/mol
Dapat membentuk lapisan multilayer

Membentuk lapisan monolayer

Adsorpsi hanya terjadi pada suhu di


bawah titik didih adsorbat
Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi
Jumlah
adsorpsi
pada
permukaan
Jumlah adsorpsi pada permukaan merupakan karakteristik adsorben dan
merupakan fungsi adsorbat
adsorbat
Tidak melibatkan
tertentu

energi

aktifasi
Melibatkan energi aktifasi tertentu

Bersifat tidak spesifik

Bersifat sangat spesifik

Tabel 1.1. Perbedaan adsorpsi fisik dan kimia


Kinetika adsorpsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh adsorben
dalam fungsi waktu. Adsorpsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik
atom atau molekul pada permukaan zat padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat
atau zat cair, mempunyai gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang
mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya
adsorpsi. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap masuk ke dalam
absorbens sedangkan pada adsorpsi zat yang diserap hanya terdapat pada permukaannya
(Sukardjo, 1990).
Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika (disebabkan oleh gaya
Van Der Waals) ada pada permukaan adsorbens dan adsorpsi kimia terjadi reaksi antara zat
yang diserap dengan adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat
padatnya yang merupakan fungsi tekanan dan suhu.
Adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan adalah
arang. Zat ini banyak dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat-zat warna dalam larutan.
Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut sangat mirip dengan
penyerapan gas oleh zat padat.
Besar kecilnya adsorpsi dipengaruhi macam adsorban, macam zat yang teradsorpsi,
konsentrasi adsorben dan zat, luas permukaan, temperatur dan tekanan zat yang teradsorpsi.
Adsorpsi digunakan untuk menyatakan bahwa ada zat lain yang terserap pada zat itu,
misalnya karbon aktif dapat menyerap molekul-molekul asam asetat dalam larutannya. Tiap
5

partikel adsorban dikelilingi oleh molekul yang diserap karena terjadi interaksi tarik-menarik.
Zat-zat yang terlarut dapat diadsorpsi oleh zat padat, misalnya CH3COOH oleh karbon aktif,
NH3 oleh karbon aktif, fenolftalein dari larutan asam atau basa oleh karbon aktif, Ag + atau Cloleh AgCl. C lebih baik menyerap non elektrolit dan makin besar BM semakin baik. Zat
anorganik lebih baik menyerap elektrolit. Adanya pemilihan zat yang diserap menyebabkan
timbulnya adsorpsi negatif. Dalam larutan KCl, H 2O diserap oleh arang darah, hingga
konsentrasi naik (Gusri,2008).
Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida (cairan atau gas) terikat
kepada suatu padatan dan akhirnya membentuk suatu film (lapisan tipis) pada permukaan
padatan tersebut. Faktor faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi ini antara lain : jenis
adsorben, jenis adsorbat (jenis , kepolaran adsorbat, jenis ikatan, ukuran adsorbat, viskositas
campuran), temperatur dan pengaruh pH. Kinetika adsorpsi menyatakan tingkat kecepatan
penyerapan yang terjadi pada adsorben terhadap adsorbat. Laju adsorpsi didasarkan atas
asumsi bahwa adsorpsi ion Cu ke dalam partikel serbuk gergaji adalah suatu proses difusi
yang dikendalikan oleh proses dapat balik tingkat pertama. Untuk pengujian laju adsorpsi
yang mungkin (Husni, 2007).
Adsorbsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat
lain, sebagai akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaaan zat tersebut.
Proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi tergantung pada beberapa faktor,
yaitu :
a. Jenis adsorben
b.Jenis adsorbat
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat terlarut
e. Temperatur
Pada peristiwa adsorbsi ini, bila konsentrasi zat pada bidang batas menjadi lebih besar
daripada konsentrasi medan salah satu fase adsorbs maka disebut adsorbs positif. Demikian
juga sebaliknya apabila konsentrasi zat pada bidang batas menjadi lebih kecil daripada
konsentrasi medan salah satu fase adsorbs maka disebut adsorbs negatif. Hubungan antara
jumlah substansi yang diserap oleh adsorban dan tekanan atau konsentrasi pada
kesetimbangan pada suhu konstan disebut adsorbsi isothermis (Khopkar, 2007).
Menurut Sukardjo (1990), seperti halnya kinetika kimia, kinetika adsorpsi juga
berhubungan dengan laju reaksi. Hanya saja, kinetika adsorpsi lebih khusus, yang hanya
6

membahas sifat penting dari permukaan zat. Kinetika adsorpsi yaitu laju penyerapan suatu
fluida oleh adsorben dalam suatu jangka waktu tertentu. Kinetika adsorpsi suatu zat dapat
diketahui dengan mengukur perubahan konsentrasi zat teradsorpsi tersebut dan menganalisis
nilai k (berupa slope/kemiringan) serta memplotkannya pada grafik. Kinetika adsorpsi
dipengaruhi oleh kecepatan adsorpsi. Kecepatan adsorpsi dapat didefinisikan sebagai
banyaknya zat yang teradsorpsi per satuan waktu. Kecepatan atau besar kecilnya adsorpsi
dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :

Macam adsorben

Macam zat yang diadsorpsi (adsorbate)

Luas permukaan adsorben

Konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsorbate)

Temperatur

Jumlah zat yang diadsorpsi pada permukaan adsorben merupakan proses


berkesetimbangan, sebab laju peristiwa adsorpsi disertai dengan terjadinya desorpsi. Pada
awal reaksi, peristiwa adsorpsi lebih dominan dibandingkan dengan peristiwa desorpsi,
sehingga adsorpsi berlangsung cepat. Pada waktu tertentu peristiwa adsorpsi cenderung
berlangsung lambat, dan sebaliknya laju desorpsi cenderung meningkat. Waktu ketika laju
adsorpsi adalah sama dengan laju desorpsi sering disebut sebagai keadaan berkesetimbangan.
Pada keadaan berkesetimbangan tidak teramati perubahan secara makroskopis. Waktu
tercapainya keadaan setimbang pada proses adsorpsi adalah berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi
oleh jenis interaksi yang terjadi antara adsorben dengan adsorbat. Secara umum waktu
tercapainya kesetimbangan adsorpsi melalui mekanisme fisika (fisisorpsi) lebih cepat
dibandingkan dengan melalui mekanisme kimia atau kemisorpsi (Castellan,1982).
Istilah adsorpsi digunakan untuk menjelaskan kenyataan bahwa ada konsentrasi yang
lebih besar dari molekul yang teradsorpsi pada permukaan padatan daripada dalam fasa gas
atau dalam badan larutan. Secara umum, adsorben padatan dengan ukuran partikel kecil
digunakan dan sering dengan ketidaksempurnaan permukaan seperti keretakan dan lubang
yang dapat meningkatkan luas permukaan persatuan massa. Partikel-partikel berpori yang
kecil tersebut mempunyai luas permukaan spesifik antara 10 1000 m 2 g-1. Beberapa contoh
adsorben yang umum digunakan adalah karbon aktif, silika gel (SiO 2), alumina (Al2O3), zeolit
dan penyaring molekul (Taba, 2011).
7

Adsorpsi adalah suatu proses dimana suatu komponen bergerak dari suatu fasa menuju
permukaan yang lain sehingga terjadi perubahan konsentrasi pada permukaan. Zat yang
diserap disebut adsorbat sedangkan zat yang menyerap disebut adsorben. Pada umumnya
adsorpsi dapat dibedakan menjadi dua yaitu adsorpsi kimia (kemisorpsi) dan adsorpsi fisika
(fisisorpsi). Adsorpsi fisika disebabkan oleh interaksi antara adsorben dan adsorbat karena
adanya gaya tarik Van der Waals, adsorpsi ini biasanya bersifat reversibel karena terjadi
melalui interaksi yang lemah antara adsorben dan adsorbat, tidak melalui ikatan kovalen.
Panas adsorpsi fisika tidak lebih dari 15-20 kkal/mol atau 63-84 kJ/mol. Adsorpsi kimia
adalah adsorpsi yang melibatkan interaksi yang lebih kuat antara adsorben dan adsorbat
sehingga adsorbat tidak bebas bergerak dari satu bagian ke bagian yang lain. Proses ini
bersifat irreversibel sehingga adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk
memisahkan adsorbat. Panas adsorpsi kimia biasanya lebih besar dari 20-30 kkal/mol atau 84126 kJ/mol (Parker, 1993 ).
Adsorpsi ialah pengumpulan zat terlarut di permukaan media dan merupakan jenis
adhesi yang terjadi pada zat padat atau zat cair yang kontak dengan zat lainnya. Proses ini
menghasilkan akumulasi konsentrasi zat tertentu di permukaan media setelah terjadi kontak
antarmuka atau bidang batas (paras, interface) cairan dengan cairan, cairan dengan gas atau
cairan dengan padatan dalam waktu tertentu. Contohnya antara lain dehumidifikasi, yaitu
pengeringan udara dengan desiccant (penyerap), pemisahan zat yang tidak diinginkan dari
udara atau air menggunakan karbon aktif, ion exchanger untuk zat terlarut di dalam larutan
dengan ion dari media exchanger. Artinya, pengolahan air minum dengan karbon aktif
hanyalah salah satu dari terapan adsorpsi.
Atas dasar fenomena kejadiannya, adsorpsi juga dibedakan menjadi tiga macam. Yang
pertama disebut chemisorption, terjadi karena ikatan kimia (chemical bonding) antara molekul
zat terlarut (solute) dengan molekul adsorban. Adsorpsi ini bersifat sangat eksotermis dan
tidak dapat berbalik (irreversible). Yang kedua, adsorpsi fisika (physical adsorption, terjadi
karena gaya tarik molekul oleh gaya van der Waals dan yang ketiga disebut ion exchange
(pertukaran ion), terjadi karena gaya elektrostatis.
Bagaimana terjadinya fenomena adsorpsi itu? Ahli pengolahan air membagi adsorpsi
menjadi tiga langkah, yaitu (1) makrotransport: perpindahan zat pencemar, disebut juga
adsorbat (zat yang diadsorpsi), di dalam air menuju permukaan adsorban; (2) mikrotransport:
perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban; (3) sorpsi: pelekatan zat adsorbat
ke dinding pori-pori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis.
8

Ada sejumlah hal yang mempengaruhi efektivitas adsorpsi, yaitu: (1) jenis adsorban,
apakah berupa arang batok, batubara (antrasit), sekam, dll; (2) temperatur lingkungan (udara,
air, cairan): proses adsorpsi makin baik jika temperaturnya makin rendah; (3) jenis adsorbat,
bergantung pada bangun molekul zat, kelarutan zat (makin mudah larut, makin sulit
diadsorpsi), taraf ionisasi (zat organik yang tidak terionisasi lebih mudah diadsorpsi).
Berdasarkan jenis adsorbatnya, tingkat adsorpsi digolongkan menjadi tiga, yaitu lemah
(weak), terjadi pada zat anorganik kecuali golongan halogen (salah satunya adalah klor).
Adsorpsi menengah (medium), terjadi pada zat organik alifatik dan adsorpsi kuat (strong)
terjadi pada senyawa aromatik (zat organik yang berbau (aroma) dengan struktur benzena,
C6H6) (Anonim,2009).
Penyerapan bersifat selektif, yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut sangat mirip
dengan penyerapan gas oleh zat padat. Jenis adsorben yang biasa digunakan yaitu:
a. Karbon aktif/arang aktif/ norit.
Sejak perang dunia pertama arang aktif produksi dari peruraian kayu sudah dikenal
sebagai adsorben atau penyerap yang efektif sehingga banyak dipakai sebagai adsorben pada
topeng gas Arang aktif adalah bahan berupa karbon bebas yang masing-masing berikatan
secara kovalen atau arang yang telah dibuat dan diolah secara khusus melalui proses aktifasi,
sehingga pori-porinya terbuka dan dengan demikian mempunyai daya serap yang besar
terhadap zat-zat lainnya, baik dalam fase cair maupun dalam fase gas. Dengan demikian,
permukaan arang aktif bersifat non-polar. Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan,
dimana semakin kecil pori-pori arang aktif, mengakibatkan luas permukaan semakin besar.
Dengan demikian kecepatan adsorpsi bertambah. Untuk meningkatkan kecepatan adsorpsi,
dianjurkan menggunakan arang aktif yang telah dihaluskan. Karbon aktif ini cocok digunakan
untuk mengadsorpsi zat-zat organik. Komposisi arang aktif terdiri dari silika (SiO2), karbon,
kadar air dan kadar debu. Unsur silika merupakan kadar bahan yang keras dan tidak mudah
larut dalam air, maka khususnya silika yang bersifat sebagai pembersih partikel yang
terkandung dalam air keruh dapat dibersihkan sehingga diperoleh air yang jernih.
Bahan baku yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah maupun mineral
yang mengandung karbon dapat dibuat menjadi arang aktif yaitu dibuat melalui proses
pembakaran secara karbonisasi (aktifasi) dari semua bahan yang mengandung unsur karbon
dalam tempat tertutup dan dioksidasi/ diaktifkan dengan udara atau uap untuk menghilangkan
hidrokarbon yang akan menghalangi/ mengganggu penyerapan zat organik. Bahan tersebut
9

antar lain tulang, kayu lunak maupun keras, sekam, tongkol jagung, tempurung kelapa, ampas
penggilingan tebu, ampas pembuatan kertas, serbuk gergaji, dan batubara (Effendi, 2006).
Secara umum dan sederhana, proses pembuatan arang aktif terdiri dari 3 tahap, yaitu :
1. Dehidrasi : proses penghilangan air dimana bahan baku dipanaskan sampai
temperatur 170C.
2. Karbonisasi : pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Suhu diatas 170C
akan menghasilkan CO dan CO2. Pada suhu 275C, dekomposisi menghasilkan
tar, methanol dan hasil samping lainnya. Pembentukan karbon terjadi pada
temperatur 400-600C.
3. Aktifasi : dekomposisi tar dan perluasan pori-pori. Dapat dilakukan dengan uap
atau CO2 sebagai aktifator.
Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang
bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon
atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan
sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan
berpengaruh terhadap daya adsorpsi.
Menurut Widjanarko (1996), proses pembuatan arang aktif dibagi menjadi 2, yaitu
1) Proses Kimia
Bahan baku dicampur dengan bahan-bahan kimia tertentu, kemudian dibuat padat.
Selanjutnya padatan tersebut dibentuk menjadi batangan dan dikeringkan serta dipotongpotong. Aktifasi dilakukan pada temperatur 100C. Arang aktif yang dihasilkan dicuci dengan
air selanjutnya dikeringkan pada temperatur 300C. Dengan proses kimia, bahan baku dapat
dikarbonisasi terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan bahan-bahan kimia.

2) Proses Fisika
Bahan baku terlebih dahulu dibuat arang. Selanjutnya arang tersebut digiling, diayak
untuk selanjutnya diaktifasi dengan cara pemanasan pada temperatur 1000C yang disertai
pengaliran uap.
Sifat arang aktif yang paling penting adalah daya serap. Untuk menghilangkan bahanbahan terlarut dalam air, biasa menggunakan arang aktif dengan mengubah sifat permukaan
partikel karbon melalui proses oksidasi. Partikel ini akan menyerap bahan-bahan organik dan
10

akan terakomulasi pada bidang permukaannya. Pada umumnya ion organik dapat diturunkan
dengan arang aktif.
Adsorpsi oleh arang aktif akan melepaskan gas, cairan dan zat padat dari larutan dimana
kecepatan reaksi dan kesempurnaan pelepasan tergantung pada pH, suhu, konsentrasi awal,
ukuran molekul, berat molekul dan struktur molekul. Penyerapan terbesar adalah pada pH
rendah. Dalam laboratorium manual disebutkan bahwa pada umumnya kapasitas penyerapan
arang aktif akan meningkat dengan turunnya pH dan suhu air. Pada pH rendah aktifitas dari
bahan larut dengan larutan meningkat sehingga bahan-bahan larut untuk tertahan pada arang
aktif lebih rendah (Atkins, 1990).
Menurut Mulyono (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi adsorbsi suatu
adsorben diantaranya sebagai berikut:

Luas permukaan adsorben

Semakin luas permukaan adsorben, maka semakin banyak adsorbat yang diserap,
sehingga preses adsorbsi semakin efektif.

Ukuran partikel

Semakin kecil ukuran suatu artikel maka semakin besar kecepatan adsorbs nya.
Ukuran diameter dalam bentuk butiran adalah lebih dari 0,1 mm, sedangkan ukuran
dalam diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh.
1. Waktu kontak
Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan
molekul adsorbat berlangsung lebih baik. Konsentrasi zat-zat organik akan turun
apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit.

Distribusi ukuran pori

Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang masuk
kedalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengadsorbsi atau adsorben merupakan
bahan yang sangat berpori dan adsorbsi berlangsung terutama pada dinding-dinding
pori atau letak-letak tertentu di dalam partikel tense.
Hal-hal yang dapat dilihat dari kurva isoterm adalah sebagai berikut:
1. Kurva isoterm yang cenderung datar artinya, isoterm yang digunakan menyerap
padakapasitas konstan melebihi daerah kesetimbangan.
2. Kurva isoterm yang curam artinya kapasitas adsorpsi meningkat seiring dengan
meningkatnya konsentrasi kesetimbangan.
11

Penentuan kinetika adsorpsi dapat dilakukan dengan menggunakan metode regresi


linear terhadap persamaan orde nol, orde satu, orde dua, dan orde tiga. Model kinetika orde
ke nol dapat dirumuskan sebagai berikut:
Ce = -k0t +C0 ............................................................. (1)
Model kinetika orde satu dirumuskan
ln Ce = -k1t + ln C0 ................................................... (2)
Persamaan orde dua, dirumuskan:
1/Ce- 1/ Co = k2t ...................................................................(3)
Sedangkan untuk persamaan orde ke tiga dapat dirumuskan sebagai berikut:
1/Co2 = 1/Co2 + 2k3t ............................................................ (4)
Melalui pengaluran data Ce, ln Ce, 1/Ce, 1/Ce 2 terhadap t dapat diketahui kesesuaian
data terhadap model kinetika, yaitu dari nilai korelasi (R2 ) sedangkan nilai konstanta reaksi
orde 0 (k0), orde 1(k1), orde 2(k2) dan orde 3 (k3) diperoleh dari kemiringan (slope) dan
perpotongan (intercept) (Singh et al,2008).
Model kinetika reaksi yang digunakan adalah orde satu, orde dua, pseudo orde satu,
pseudo orde dua, Elovich, film difussion mass transfer, model Weber-Morris, model
Dumwald- Wagner dan intraparticle difussion. Persamaan nonlinear dan linear model kinetika
dapat dilihat pada tabel 1.1.
Reaksi yang hanya tergantung pada konsentrasi salah satu reaktannya akan mengikuti
model kinetika orde satu sedangkan model kinetika orde dua tergantung pada kuadrat
konsentrasi salah satu reaktannya atau konsentrasi dua reaktan yang terlibat.

12

Tabel 1.1 Persamaan Model Kinetika Reaksi Adsorpsi


Dimana Ct adalah konsentrasi pada waktu t, C 0 ada konsentrasi awal, k1 adalah tetapan
laju reaksi orde satu, k2 adalah tetapan reaksi orde dua dan t adalah waktu. Model kinetika
pseudo orde satu diturunkan berdasarkan persamaan laju reaksi Lagergren. Pada 1898,
Lagergren pertama kali memperkenalkan persamaan adsorpsi cair-padat berdasarkan kapasitas
padatan (Ho,Y.S.,2004).
Secara umum analisis kinetika adsorpsi terbagi atas tiga bagian yaitu orde satu, orde
dua dan orde tiga. Peristiwa kinetika adsorpsi dapat dipelajari hubungan konsentrasi spesies
terhadap perubahan waktu. Kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam asetat dapat
ditentukan dengan mengukur perubahan konsentrasi asam asetat sebagai fungsi waktu dan
menganalisisnya dengan analisis harga k (konstanta kesetimbangan adsorpsi) atau dengan
grafik. Ketiga analisis kinetika adsorpsi tersebut adalah:
1.

Orde satu
-dC = kC
dt

ln C

= kt + ln Co

Dari persamaan tersebut, diperoleh grafik hubungan antara ln C dengan t, yang


merupakan garis lurus dengan slope k dan intersep ln Co.
2. Orde dua

Dari persamaan diatas diperoleh grafik hubungan antara 1/C dengan t, yang merupakan
garis lurus dengan slope k dan intersep 1/Co.
13

3. Orde tiga

Dari persamaan diatas, maka grafik hubungan antara 1/C 2 dengan t, yang merupakan
garis lurus dengan slope 2 k dan intersep 1/Co2
Kinetika adsorpsi yaitu laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben dalam suatu jangka
waktu tertentu. Kinetika adsorpsi suatu zat dapat diketahui dengan mengukur perubahan
konsentrasi zat teradsorpsi tersebut, dan menganalisis nilai k (berupa slope/kemiringan) serta
memplotkannya pada grafik.Kinetika adsorpsi dipengaruhi oleh kecepatan adsorpsi.Kecepatan
adsorpsi dapat didefinisikan sebagai banyaknya zat yang teradsorpsi per satuan waktu(Tony,
1987).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu:

Sifat serapan

Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh arang aktif, tetapi kemampuannya
untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing-masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah
besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari struktur yang sama,
seperti dalam deret homolog. Adsorpsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus
fungsi, ikatan rangkap, dan struktur rantai dari senyawa serapan.

Temperatur

Dalam pemakaian arang aktif dianjurkan untuk mengamati temperatur pada saat
berlangsungnya proses. Faktor yang mempengaruhi temperatur proses adsorpsi adalah
viskositas dan stabilitas senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifatsifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna maupun dekomposisi, maka
14

perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada
temperatur kamar atau bila memungkinkan pada temperatur yang lebih rendah.

pH (derajat keasaman)

Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu


dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam
mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya apabila pH asam
organik dinaikkan yaitu dengan penambahan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai
akibat terbentuknya garam.

Waktu singgung

Bila arang aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai
kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang
digunakan.
Selisih ditentukan oleh dosis arang aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu
singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel arang
aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan (Keenan, 1999).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:

Buret 50 mL

: 1 buah

Erlenmeyer 250 mL

: 10 buah

Corong Pisah

: 1 buah

Kertas Saring

Gelas Piala 100 mL

: 2 buah

Gelas Ukur 25 mL

: 1 buah

Gelas Ukur 100 mL

: 1 buah
15

Pipet Tetes

: 5 buah

3.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:

NaOH (standar 0.5 N)

Larutan CH3COOH 1 N dan 0.5 N

Indikator fenolftalein

3.2 Gambar Alat

Erlenmeyer 250 mL
Buret

Corong Pisah

Kertas Saring

16

Gelas Piala
Gelas Ukur

Pipet Tetes
Gambar 3.1 Alat Percobaan

3.3 Prosedur Kerja


1. Menyiapkan 10 buah erlenmeyer 250 ml
2. Mengisi lima buah erlenmeyer dengan larutan asetat 1 N masing-masing 25 ml dan lima
buah erlenmeyer laiinnya dengan larutan asam asetat 0.5 N masing-masing 25 ml
3. Menimbang 2 gram karbon aktif sebanyak 10 kali
4. Memasukkan 2 gram karbon aktif kedalam erlenmeyer yang berisis larutan asam asetat,
mengocok selama 1 menit, setelah membiarkan dalam selang waktu masing-masing 30
menit, 60 menit, 90 menit, 120 menit, dan 24 jam
5. Menyaring masing-masing filtrat yang didapatkan diukur volumenya dan menitrasi
masing-masing dengan NaOH 0.5 N
3.4 Diagram Alir Metode Kerja
Persiapan 10 buah erlenmeyer 250 ml

17

Pengisian lima buah erlenmeyer dengan larutan asetat 1 N masingmasing 25 ml dan 5 buah erlenmeyer lain dengan larutan asam asetat
0.5N masing-masing 25 ml

Penimbangan 2 gram karbon aktif sebanyak 10 kali


Pemasukan tiap 2 gram karbon aktif kedalam erlenmeyer yang
berisi larutan asam asetat, pengocokan selama 1 menit, dan
pembiaran dalam selang waktu masing-masing 30 menit,60 menit,
90 menit, 120 menit dan 24 jam.

Penyaringan filtrat masing-masing yang didapatkan ukur


volumenya dan penitrasian masing-masing dengan NaOH 0.5 N

Hasil Pengamatan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Waktu

CH3COOH0,5 N

CH3COOH 1 N

V filtrat (ml)

V NaOH(ml)

V filtrat(ml)

V NaOH(ml)

30 menit

19 ml

14 ml

17 ml

32 ml

60 menit

17.5 ml

14 ml

12 ml

22 ml

90 menit

15 ml

22,5 ml

15.5 ml

11 ml

120 menit

17 ml

13 ml

17 ml

36 ml

24 jam

17.5 ml

11 ml

13 ml

24 ml

Tabel 4.1.1 Data Hasil Percobaan


18

Waktu

CH3COOH0,5 N

CH3COOH 1 N

1/C

1/C2

1/C

1/C2

30 menit

3,57

12,75

1,56

2,44

60 menit

3,75

12,75

2,27

5,165

90 menit

2,22

4,94

4,54

20,66

120 menit

3,85

14,79

1,33

1,77

24 jam

2,86

8,16

2,08

4,34

Tabel 4.1.2 Data Hasil Perhitungan


4.2 pembahasan
Pada percobaan ini akan ditentukan kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap
CHCOOH (asam asetat) dalam larutan. Terdapat dua macam konsentrasi larutan CHCOOH
yang digunakan, yaitu CHCOOH 0,5 N dan CHCOOH 1 N.
Dalam percobaan ini dilakukan proses kinetika adsorpsi, di mana kinetika adsorpsi
sendiri merupakan suatu proses penyerapan suatu zat adsorbat pada permukaan adsorben
dalam fungsi waktu. Di mana pada percobaan ini digunakan adsorbat berupa larutan
CHCOOH, sedangkan yang berfungsi sebagai adsorben yaitu karbon aktif.
Karbon aktif merupakan karbon yang mempunyai rumus kimia C dan berbentuk
amorf, di mana telah mengalami perubahan baik sifat-sifat fisik maupun kimianya. Hal ini
menjadikan permukaan karbon aktif lebih luas (300-2000 m/gram) yang mana berhubungan
dengan struktur poriinternal yang menjadikan karbon aktif bersifat sebagai adsorben.
Karbon aktif yang digunakan di percobaan ini yakni dalam bentuk serbuk di mana
memiliki luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dalam bentuk bongkahan atau
batangan. Karbon aktif ini memiliki struktur berpori dan luas permukaan yang besar, sehingga
diharapkan efektif untuk melakukan penyerapan terhadap adsorbat. Luas permukaan adsorban
akan berpengaruh terhadap banyaknya substansi adsorbat yang nantinya dapat melekat pada
adsorban. Sehingga, dengan luas permukaan karbon aktif yang luas inilah diharapkan semakin
banyaknya CHCOOH yang akan melekat pada permukaan karbon aktif tersebut.
Saat larutan CHCOOH telah ditambah dengan karbon aktif dan larutan dikocok
selama satu menit. Pengadukan bertujuan untuk menjadikan larutan homogen dan juga untuk

19

lebih mengaktifkan karbon aktif sehingga pori-pori karbon menjadi lebih besar dan
memperluas permukaan karbon yang mana dapat mempermudah proses adsorpsi.
Larutan yang telah diaduk kemudian perlu didiamkan terlebih dahulu dengan rentang
waktu 30, 60, 90 menit,120 menit dan 24 jam. Tujuan pendiaman ini yaitu agar proses
adsorpsi yang terjadi pada permukaan zat bisa berlangsung sempurna dan tercapai
kesetimbangan antara adsorben dan adsorbatnya. Perbedaan waktu pada proses pendiaman ini
tentu akan memberikan pengaruh terhadap proses adsorpsinya. Semakin lama waktu
pendiamannya, maka jumlah yang teradsorpsi juga semakin banyak, di mana ditunjukkan
dengan konsentrasi larutan CHCOOH dalam larutan yang semakin rendah. Hal ini
disebabkan karena semakin lama waktu pendiaman berarti semakin lama terjadinya proses
adsorpsinya yang mana dapat memungkinkan proses difusi dan penyerapan molekul adsorbat
CHCOOH berlangsung lebih baik terhadap ardsorbennya.
Saat larutan didiamkan terjadi proses kinetika adsorpsi, di mana dengan adanya
karbon aktif menyebabkan adsorben dan adsorbat membentuk gaya tarik menarik antar
molekul (terjadi ikatan kimia fisika). Dikarenakan tidak adanya gaya lain yang mengimbangi
gaya tersebut, sehingga molekul-molekul tersebut mengalami gaya tarik ke dalam.
Partikelpartikel kecil adsorban yang dilepaskan pada adsorpsi kimia merupakan ikatan kuat
antara adsorban dengan adsorbat, sehingga tidak memungkinkan terjadi proses bolak-balik.
Larutan yang telah didiamkan dengan selang waktu tertentu tersebut kemudian di
disaring sehingga diperoleh filtrat yang berwarna bening. Penyaringan dapat dilakukan tidak
hanya sekali, karena apabila diperoleh filtrat yang masih mengandung karbon aktif (larutan
bening tapi masih mengandung sedikit serbuk hitam) maka larutan perlu disaring ulang hinga
benar-benar diperoleh filtrat yang benar-benar bening.
Filtrat yang diperoleh kemudian dititrasi dengan NaOH 0,5 N. Titrasi ini dimaksudkan
untuk mengetahui konsentrasi CHCOOH setelah mengalami adsorpsi oleh karbon aktif.
Sebelumnya, ke dalam larutan CHCOOH ditambahkan indicator PP 2 tetes. Penggunaan
indicator PP ini dikarenakan reaksi yang terjadi yakni antara asam lemah (CHCOOH) dengan
basa kuat (NaOH), sehingga dimungkinkan saat mencapai titik ekivalen larutan akan
cenderung bersifat basa. Seperti yang telah diketahui bahwa indicator PP memiliki range pH
antara 8,2 10 (pH basa). Indicator ini akan menunjukkan perubahan warna dari bening
menjadi merah muda saat mencapai titik ekivalen.
Berdasarkan hasil percobaan diketahui bahwa pada larutan CHCOOH 0,5 N saat
didiamkan 30 menit, 60 menit, 90 menit,120 menit dan 24 jam konsentrasi CHCOOH
20

berturut-turut yaitu 0,28 N, 0,28 N, 0,45N, 0,26 N, dan 0,35 N. Sehingga konsentrasi asam
asetat yang terserap oleh karbon aktif yaitu berturut-turut 0,22 N, 0,22N, 0,05 N, 0,24N dan
0,15 N.
Sementara itu, pada larutan CHCOOH 1 N diperoleh hasil saat didiamkan 30 menit,
60 menit, 90 menit,120 menit dan 24 jam konsentrasi CHCOOH berturut-turut 0,64N,
0,44N, 0,22N, 0,75N, dan 0,48 N. Sehingga konsentrasi asam asetat yang terserap oleh karbon
aktif yaitu berturut-turut 0,36N, 0,56N, 0,78N, 0,25 N, 0,52 N.
Dari data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi asam
asetat maka semakin banyak yang terserap oleh karbon aktif.
Persamaan yang terjadi pada saat titrasi antara CHCOOH dan NaOH adalah sebagai
berikut.
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Berdasarkan hasil percobaan di atas maka dapat ditentukan kinetika adsorpsinya, di
mana berdasarkan tinjauan pustaka di atas menyatakan bahwa analisis kinetika adsorpsi
terbagi atas tiga bagian yaitu orde satu, dua dan tiga dengan menggunakan grafik hubungan
antara waktu (t) dan konsentrasi (C) setelah diadsorpsi.

Grafik 4.2.1 hubungan antara waktu dan konsentrasi setelah diabsorbsi untuk asam
asetat 0,5 N

21

Grafik 4.2.2 hubungan antara waktu dan konsentrasi setelah diabsorbsi untuk asam
asetat 1 N
Dari grafik diatas untuk asam asetat 0,5 N tampak data yang didapatkan praktikan
tidak valid, sehingga tidak dapat ditentukan orde reaksinya.
Sementara itu, pada adsorpsi CHCOOH 1 N terbentuk garis lurus dengan R 2= 1,
sehingga pada adsorpsi CHCOOH 1 N mengikuti orde tiga.
Seperti halnya kinetika kimia, kinetika adsorpsi juga berhubungan dengan laju reaksi.
Hanya saja, kinetika adsorpsi lebih khusus, yang hanya membahas sifat penting dari
permukaan zat. Kinetika adsorpsi yaitu laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben dalam
suatu jangka waktu tertentu.
Kinetika adsorpsi suatu zat dapat diketahui dengan mengukur perubahan konsentrasi zat
teradsorpsi tersebut, dan menganalisis nilai k (berupa slope/kemiringan) serta memplotkannya
pada grafik.
Kinetika adsorpsi dipengaruhi oleh kecepatan adsorpsi. Kecepatan adsorpsi dapat
didefinisikan sebagai banyaknya zat yang teradsorpsi per satuan waktu. Seperti halnya laju
reaksi, banyak faktor yang mempengaruhi kinetika adsorpsi atau cepat atau lambatnya
penyerapan terjadi. Kecepatan atau besar kecilnya adsorpsi dipengaruhi oleh beberapa hal,
diantaranya :

Macam adsorben :
contoh adsorben yang paling sering digunakan adalah karbon aktif

Macam zat yang diadsorpsi (adsorbate) :


Macam zat yang diadsopsi juga sangat berpengaruh karena semakin banyak zat-zat
impuritis (zat pengotor) pada suatu fluida atau larutan maka semakin lambat
kinetika atau kecepatan penyerapannya (adsorpsi)

Luas permukaan adsorben :


22

Semakin luas permukaan adsorben maka semakin cepat efektif kemampuan


menyerap zat-zat impuritis sehingga larutan menjadi lebih murni dan cenderung
lebih bersih dari zat-zat impuritis atau zat-zat pengotor tersebut.

Konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsorbate) :


Semakin tinggi konsentrasi maka ion yang dihasilkan juga semakin banyak
sehingga mempengaruhi adsorpsi atau penyerapan larutan tersebut.

Temperatur :
Semakin tinggi temperatur semakin sulit untuk menyerap zat, temperatur lebih
efektif digunakan untuk adsopsi adalah temperatur kamar (suhu ruang, yaitu 298K)

Kecepatan putar sentrifugasi :


Semakin cepat kecepatan sentrifugasi maka semakin cepat larutan tersebut murni
dan hal tersebut biasa dilakukan pada percobaan konduktometri, yaitu daya hantar
listriknya yang semakin tinggi pula.

BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan pada percobaan kali ini yaitu:
1. Adsorbsi secara umum adalah proses penggumpalan subtansi terlarut (soluble) yang
ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu
ikatan kimia fisika antara subtansi dengan penyerapannya.
2. Proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi tergantung pada beberapa faktor,
yaitu :
a. Jenis adsorben
b.Jenis adsorbat
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat terlarut
e. Temperatur
23

3. Pada larutan CHCOOH 1 N diperoleh hasil saat didiamkan 30 menit, 60 menit, 90


menit,120 menit dan 24 jam konsentrasi CHCOOH berturut-turut 0,64N, 0,44N,
0,22N, 0,75N, dan 0,48 N. Sehingga konsentrasi asam asetat yang terserap oleh karbon
aktif yaitu berturut-turut 0,36N, 0,56N, 0,78N, 0,25 N, 0,52 N. Dari data-data tersebut
dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi asam asetat maka semakin
banyak yang terserap oleh karbon aktif.

Anonim.2009. Adsorpsi Karbon Aktif. http://www.airlimbahku.com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif.html. Diakses tanggal 11 Mei 2014


Atkins, P.W.1997. Kimia Fisika Jilid 2.Jakarta:Erlangga
Dainith, J.1994.Kamus Lengkap Kimia. Jakarta:Erlangga
Castellan,1982.Physical Chemestry. Edisi ketiga. Addison-Wesley Publishing Company
Gusri.2008. Kinetika Adsorpsi. Diakses 11 Mei 2014
http://gusriwandi.blogspot.com/2008/12/kinetika-absorbsi.html
Ho, Y. S., 2004.Citation Review of Lagergren Kinetic Rate Equation on Adsorption Reactions,
Scientometrics, 59(1), 171-177.
Khopkar, S. M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta:UI-press
Mulyono, HAM. 2005. Kamus Kimia Cetakan ke-3. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

24

Singh, S., Verma, L.K., Sambi, S.S. & Sharma, S.K. 2008. Adsorption Behaviour of Ni (II)
from Water onto Zeolite X: Kinetics and Equilibrium Studies. In Proceedings of the World
Congress on Engineering and Computer Science 2008.

25