Anda di halaman 1dari 2

Mereka Mencaci yang Terpuji

Rasul saw bersabda, “Apakah kalian tidak takjub dan heran melihat Allah
membalikkan caci-maki kaum Quraisy?” (Shahih Bukhari)

Al Imam Al Hafidz Ibn Hajar Al Asqalaniy di dalam kitabnya Fathul Baari


bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan makna hadits ini. Di zaman itu, dari
bencinya orang-orang Quraisy terhadap Sang Nabi, sehingga beliau sudah
diubah namanya bukan lagi Muhammad (Muhammad adalah orang yg banyak
dipuji/terpuji), tetapi dipanggil “Mudzammam” yaitu orang yang selalu dicaci
maki dan dihina.

Demikian gelar Sang Nabi daripada orang-orang kuffar Quraisy, dan gelar itu
sudah menjadi ucapan setiap orang-orang kuffar hingga mereka tidak lagi
menamakan beliau ini Muhammad tapi selalu menamakannya Mudzammam,
orang yang selalu dicaci, orang yang banyak dihina, orang yang sangat terhina.
Maka Rasul saw melihat wajah-wajah para sahabat bersedih dengan gelar
yang ditaruhkan kepada orang yang dicintai Allah ini. Maka seyogyanya kalian
lihat mereka itu mencaci bukan mencaci Muhammad tetapi mencaci
Mudzammam, (diantara cacian orang Qureisy) : Allah melaknat Mudzammam,
Allah memuntahkan kemarahanNya kepada Mudzammam, Allah mencelakakan
Mudzammam, mereka tidak menyebut Muhammad tetapi mereka menyebut
Mudzammam. Maksudnya: “Caciannya bukan kepadaku, Aku Muhammad.”

Nama “Muhammad” artinya nama yang selalu dipuji dan yang banyak padanya
sifat-sifat yang terpuji. Dan beliaulah saw memang orang yang paling berhak
menyandang nama Muhammad. Orang yang paling banyak dipuji dan orang yang
berkumpul padanya sifat-sifat yang terpuji. Memang orang yang paling banyak
dipuji seluruh langit dan bumi adalah Nabiyuna Muhammad saw. Dimuliakan
dan dicintai di langit dan bumi, tujuh lapis langitpun diperintah oleh Allah
untuk gembira dengan kedatangan Sang Nabi.

Sebagaimana diriwayatkan didalam Shahihain Bukhari dan Muslim ketika


Rasul saw Mi’raj ke langit dan malaikat menjawab, “Semulia-mulia yang datang
telah datang”, ucapan ini di setiap langit sampai ke langit yang ketujuh.
Disambut dan dimuliakan oleh penduduk langit dari kalangan malaikat.
Tentunya disambut dan dicintai oleh jiwa mukminin-mukminat dan para Nabi
karena beliau juga teriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika malam Isra’
wal Mi’raj disambut oleh para Nabi. Mereka memuji Sang Nabi “Marhaban
Yaa Akhi Shalih wa waladun shalih………..” disambut oleh Nabi Adam as
“Selamat datang wahai saudaraku yang shaleh, wahai anakku yang shaleh”.
Demikian para Nabi terus menyambut beliau saw hingga semua Nabi
diperintah oleh Allah menyambut Rasulullah Muhammad saw, beruntunglah
jiwa yang mencintai Nabi Muhammad saw karena cinta kita kepada Sang Nabi,
lambang cinta kita kepada Allah.

Kita lihat bagaimana para sahabat mencintai Sang Nabi, hadits ini juga
melambangkan kepada kita bahwa manusia yang paling mulia ini juga banyak
dicaci, banyak dihina, Hadits ini menghibur semua orang-orang yang dicaci
dan dihina bahwa ada satu orang yang digelari Mudzammam, orang yang paling
banyak dicaci dan paling banyak dihina dan ialah manusia yang paling terpuji
Muhammad Rasulullah. Jangan sampai diantara kita merasa hina dan sedih
kalau orang menghina kita, ada orang yang paling mulia justru digelari orang
yang paling banyak dicaci. Demikian indahnya hadits ini menenangkan orang-
orang yang terhina dan tercaci, menenangkan orang yang terdzalimi dan
ditindas dan beliau saw berkata “Mereka mencaci Mudzammam, sedangkan
aku Muhammad” karena beliau saw dipuji oleh orang-orang dari mukminin-
mukminat, para Nabi, para malaikat dan Allah. Allah memuji beliau saw :
“sungguh kau (wahai Muhammad saw) berada pada akhlak yang agung”, padahal
“Azhim” adalah salah satu dari sifat-sifat Allah. Bukan Sang Nabi memiliki
sifat Allah, bukan itu maksudnya. Maksudnya Allah ingin memuliakan derajat
Sang Nabi sedemikian tingginya.

Alangkah mulianya hadits ini ketika dibaca oleh orang-orang yang terhina dan
orang-orang yang difitnah dan dicaci, dia akan ingat bahwa manusia yang
paling terpujipun digelari orang yang paling banyak dihina
shallallahuwassallama wabarik alaihi.

(majelisrasulullah.org)