Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN LBM 1

MANAGEMENT DENTAL FOR CHILD


SGD 1

Addina Aimana Sabila


Agustia Fardeli
Akhmad Zaida Gresfullah
Anfa Nihlatul Firdausy
Muqsitha Fitri Nugrahani
Nurhidayati Saputri Hasmy
Raisa Rosi
Rizqi Wahyu Lestari Suwarto
Sofiana Farida
Wilda Noor Izzati Muslim
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
2015/2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.,


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kami, sehingga kami bisa menyelesaikan laporan hasil SGD 1 Managemen dental
for child . Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas SGD yang telah dilaksanakan.
Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah
membantu kami dalam mengerjakan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
teman-teman mahasiswa yang juga sudah bersusah payah membantu baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan laporan ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya
dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik
dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima
masukan,saran dan usul guna penyempurnaan laporan ini ini. Kami berharap semoga laporan ini
dapat berguna bagi kita bersama.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Semarang, 17 Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3

Skenario Kasus
Tujuan
Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN
BAB III PETA KONSEP
BAB IV PENUTUP
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Skenario Kasus
a. JUDUL : kunjungan pertama anak ke dokter gigi
Sekenario
Seorang anak Dara umur 6 tahun diajak ibunya untuk memeriksakan gigi. An. Dara
datang dengan berani karena disambut oleh dental team dengan ramah, tetapi saat
dipersilahkan duduk di dental unit kelihatan ragu ragu. Melihat tingkah laku dara tersebut
dokter gigi pipit melakukan berbagai upaya pendekatan non pharmakologis behaviour,
tetapi tetep sukar meyakinkan Dara. Akhirnya dokter pipit mencoba dengan mengenakan
instrumen sederhana yang akan digunakan pada saat perawatan, ternyata dara mulai bisa
membuka mulut.
1.2 Tujuan
Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana cara manegemen perawatan dan tata
laksama pada anak dan mengetahui peran dental team.

1.3 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara dokter gigi dalam menangani anak saat kunjungan pertama ?
2. Bagaimana teknik komunikasi dokter gigi terhadap anak ?
3. Apa saja tingkah laku anak dari psikologinya ?
4. Bagaimana upaya untuk mengatasi anak dalam keragu raguan, kritis, takut, hiperaktif,
tempramen ?
5. Hal apa yang menyebabkan anak takut ke dokter gigi?
6. Bagaimana Peranan orang tua terhadap kunjungan ke dokter gigi ?
7. Bagaimana dokter gigi memberikan edukasi pada orang tua anak, agar anak termotivasi
pergi ke doketer gigi?
8. Bagaimana teknik pendekatan dalam pengendalian tingkah laku ank selama perawatan ?

9. Tujuan dari pendekatan non farmakologi behavior?


10. Bagaimana penanganan ank berdasarkan usianya ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tehnik Managemen Anak Saat Kunjungan Pertama
1. Komunikasi yang baik pada anak :
a. Menciptakan komunikasi
Yakni mengikutsertakan anak dalam percakapan, diperlukan selain agar dokter
gigi dapat memahami pasien, juga sekaligus membuat anak jadi lebih rileks. Banyak cara
untuk menciptakan komunikasi verbal, dan keefektivan dari komunikasi ini tergantung
dari usia anak. Tahap awal yang sangat baik untuk memulainya ialah dengan memberikan
komentar-komentar yang bersifat pujian dan diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang
merangsang timbulnya jawaban dari anak, selain kata ya atau tidak.
b. Melalui Komunikator
Biasanya, asisten dental yang berbicara dengan anak selama perjalanan pasien
dari ruang resepsionis sampai ke ruang operator dan juga selama proses preparasi di
dental unit.
c. Kejelasan pasien
Komunikasi ialah sesuatu yang kompleks dan multisensoris. Didalamnya
mencakup penyampai pesan (dokter gigi), media (kata-kata yang diucapkan), dan
penerima pesan (pasien). Pesan yang disampaikan harus dapat dimengerti dengan satu
pemikiran yang sama antara penyampai pesan dan penerima pesan. Sangat sering
digunakan eufimisme (pengganti kata) untuk lebih dimengerti dalam menjelaskan
prosedur terhadap pasien muda.
Berikut contohnya:
Terminologi dental kata ganti :
- alginate
: puding
- crown
: gigi robot
- bur
: sikat kecil
- radiograf
: gambar gigi
- anestesi
: obat penidur untuk gigi
- karies
: kutu / cacing pada gigi

d. Kontrol suara
Dokter gigi sebaiknya mengeluarkan kata-kata yang tegas tetapi lembut, agar
dapat menarik perhatian anak atan memberhentikan si anak dari segala aktivitas yang
sedang dikerjakannya.
e. Komunikasi multisensori
Komunikasi verbal fokus pada apa yang diucapkan dan bagaimana kata-kata itu
diucapkan. Komunikasi non-verbal juga dapat disampaikan melalui kontak tubuh.
Contohnya, dokter gigi meletakkan tangannya pada pundak anak saat duduk di dental
chair agar merasakan kehangatan dan lebih merasa bersahabat. Kontak mata juga penting.
Dokter gigi sebaiknya menatap anak dengan tatapan lembut dan tidak melotot.
f. Masalah kepemilikan
Pada suatu masa, adakalanya dokter gigi lupa dengan siapa dia berhadapan.
Mereka memanggil kamu kepada anak tersebut. Panggillan si anak dengan panggilan di
rumahnya karena kata kamu lebih mengimplikasikan bahwa anak tersebut salah.
g. Aktif mendengarkan
Mendengarkan juga penting dalam merawat anak. Aktif mendengarkan ialah
tahap kedua terbaik yang diungkapkan Wepman dan Sonnenberg dalam teknik
berkomunikasi. Sehingga pasien terstimulasi untuk mengungkapkan apa yang
dirasakannya.
h. Respon yang tepat
Dokter gigi juga harus memberikan respon yang positif terhadap apa-apa yang
diungkapkan anak.
i. komunikasi verbal dan non verbal
Memberikan dukungan verbal dan meyakinkan pasien merupakan strategi yang
sering dilakukan. Pendekatan ini harus diadopsi oleh seluruh tim pada saat berinteraksi
dengan pasien (Hmud & Walsh, 2009). Banyak cara untuk memulai komunikasi secara
verbal, misalnya untuk anak kecil dapat ditanyakan tentang pakaian baru, kakak adik,
benda atau binatang kesayangannya, sedangkan anak besar ditanyakan tentang sekolah,
aktifitas, olah raga atau teman sebaya (Finn, 1973)

j. bimbingan kerjasama
Model komunikasi bimbingan kerjasama antara dokter gigi dan pasien merupakan
strategi yang baik. Pada perawatan ini diharapkan pasien dapat mematuhi dokter gigi dan

anak dapat bersifat kooperatif selama perawatan. Perubahan nada dan volume suara dapat
digunakan untuk mengubah perilaku dan mengkomunikasikan perasaan kepada anak
(karolina, 2008)

Contoh komunikasi dengan bimbingan kerjasama yang dapat dilakukan oleh dokter gigi
antara lain:
buka sedikit lebih lebar mulutnya, anak manis

apakah engkau siap untuk dimulai sekarang, maukah manis?

sayang, saya suka caramu membuat mulutmu tetap terbuka lebar

2. Modelling
Modelling merupakan prinsip psikolgis yaitu belajar dari pengamatan model. Anak
diajak mengamati anak lain sebayanya yang sedang dirawat giginya yang berperilaku
kooperatif, baik secara langsung atau melalui film dan video demonstrasi tentang
perawatan gigi. Pengamatan terhadap model yang diamati dapat memberikan pengaruh
positif terhadap perilaku anak. Teknik ini sangat memberikan efek pada anak-anak yang
berumur 3-5 tahun dan sangat baik digunakan pada saat kunjungan pertama anak ke dokter
gigi.
3. Tell Show Do (TSD)
Addelston memperkenalkan konsep Tell Show Do (TSD) sebagai prosedur pengelolaan
atau manajemen perilaku untuk merawat gigi anak dan cara ini sangat sederhana dan cukup
efektif.
Tell : artinya mengatakan kepada anak dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh anak
tersebut. Tentang apa yang akan dilakukan. Dalam hal ini dijelaskan juga alat-alat yang
mungkin akan digunakan. Setiap kali anak akan menunjukkan hal yang positif diberikan
penghargaan.
Show :artinya enunjukkan objek sesuai dengan yang diterangkan sebelumnya
tanpamenimbulkan rasa takut. Dalam hal ini dapat dipergunakan model
gigi,menunjukkan alat yang akan dipergunakan misalnya bur dan kalau perlu
dipegangpasien.
Do : yaitu tahap akhir yang dilakukan jika tahap show telah dapat diterima oleh
anak. Pada tahap doanak didiberikan perlakuan sesuai dengan apa yang telah diceritakan
maupun ditunjukkan.
Pada waktu melakukan TSD harus sesuai dengan yang diceritakan atau ditunjukkan, jadi
jangan sampai anak merasa dibohongi. Pendekatan dengan cara TSD dapat dilakukan

bersama-sama dengan cara modeling. Cara pendekatan dengan TSD dapat diterapkan
untuk semua jenis perawatan pada anak kecuali melakukan suntikan.
a. Tujuan
Untuk memungkinkan anak untuk mempelajari dan memahami prosedur perawatan gigi
dengan cara yang meminimalkan kecemasan. Digunakan dengan imbalan, secara bertahap
membentuk perilaku anak terhadap penerimaan prosedur invasif lebih.
b. Indikasi
Bisa digunakan dengan semua pasien. Dapat digunakan untukberurusan dengan yang sudah
ada kecemasan dan ketakutan, atau dengan pasienmenghadapi kedokteran gigi untuk
pertama kalinya.
4. Hand Over Mouth Exercise (HOME)
Hand Over Mouth Exercise(HOME) adalah suatu teknik manajemen perilaku
digunakan pada kasus yang selektif misalnya pada anak yang agresif dan histeris yang
tidak dapat ditangani secara langsung. Teknik ini juga sering digunakan bersama teknik
sedasi inhalasi.Tujuannya ialah untuk mendapatkan perhatian dari anak sehingga
komunikasi dapat dijalin dan diperoleh kerjasama dalam melakukan perawatan yang aman.
Teknik ini hanya digunakan sebagai upaya terakhir dan tidak boleh digunakan secara
rutin.31
5. Distraksi
Teknik distraksi adalah suatu proses pengalihan dari fokus atau perhatian pada nyeri ke
stimulus yang lain. Distraksi digunakan untuk memusatkan perhatian anak agar
menghiraukan rasa nyeri. Beberapa teknik distraksi yang dikenal dalam pendekatan pada
anak antara lain distraksi visual seperti melihat gambar di buku, bermain video games,
distraksi pendengaran dengan mendengarkan musik atau bercerita juga sangat efektif.
Dokter gigi yang berbicara selagi mengaplikan pasta topical ataupun anastesi local juga
menggunakan distraksi verbal.
6. Desensitasi
Desensitasi tradisional digunakan untuk anak yang gelisah, takut, ataupun fobia pada
perawatan gigi. Prinsip ini dapat dengan mudah di gunakan dan di manfaatkan oleh dokter
gigi anak dengan semua pasien, yang meana pasien memiliki riwayat buruk pada
perawatan dokter gigi.
a. Tujuan
Untukmembantu anakmengatasikecemasan pada perawatan gigi dan untuk memberikan
serangkaian pengalaman mengatasi kecemasan anak pada perawatan gigi. Bisa di lakukan
dengan :
latih pasienserileks mungkin
jangan membuat perilaku yang menakut - nakuti pasien
mengatur waktu dan lama perwatan : karena lama perawatan akan mempengaruhi
perilaku anak dan di jadwalkan dengan baik kapan pasien akan masuk ke ruang
perawatan

mengalihkan perhatian : berguna untuk mengurangi rasa takut bosan dan memberikan
kesempatan dalam memberikan prosedur perawatan
hipnotis : bisa di berikan pada pasien yang kooperatif dimana akan mempengaruhi dari
pikiran pasien agar mengubah fikiran buruk soal perawatan menjadi fikiran positif
modifikasi tingkah laku : mengukuhkan tingkah laku anak di berikan senyum
penghargaan dan perilaku yang baik dari dokter
kehadiran orang tua di dalam ruangan : memberikan rasa aman dan mengurangi rasa
aman karena anak biasanya lebih percaya dan merasa aman terhadap keluarganya

Indikasi :Bisa digunakan dengan semua pasien anak.


7. Pengaturan Suara (Voice Control)
Nada suara dapat juga digunakan untuk mengubah perilaku anak.Perubahan nada dan
volume suara dapat digunakan untuk mengkomunikasikan perasaan kepada anak.Perintah
yang tiba-tiba dan tegas dapat mengejutkan dan menarik perhatian anak dengan cepat.
Dengan adanya perhatian anak yang diperoleh melalui intonasi tersebut, dokter gigi dapat
melanjutkan komunikasinya atau untuk menghentikan apa yang sudah dilakukan oleh anak.
Tujuannya untuk mengontrol perilaku mengganggu dan untuk mendapatkan perhatian
anak. Teknik ini dapat digunakan dengan semua pasien.
8. Reinforcement
Merupakan tindakan untuk menghargai prestasi yang telah dicapai, agar prestasi
tersebut diulang. Pada umumnya anak akan senang jika prestasi yang telahditunjukkan
dihargai dan diberi hadiah. Hal ini dapat meningkatkan keberaniananak dan dipertahankan
untuk perawatan dikemudian hari. Reinforcementmempunyai keuntungan karena dokter
gigi secara langsung dapat mengontrol pemberian hadiah yang akan diberikan dipraktek
untuk meningkatkan frekwensi tingkah laku yang diinginkan.
9. Negatif range formens
Adalah teguran yang di kalukan dengan tujuan menjelaskan apa yang tidak boleh di
kaukan di lakukan dikter gig dengan baik dengan caraa yang halus dan membuat anak
mengerti apa yang dokter gigi dengan baik tanpa membua anak merasa tertekan dan
merasa takut di laukan dengan baik dan perlahan.
10. Fisikal rist range by the dentis
Tehnik ini di gunakan dengan cara menahan tangan anak dengan kasih sayang agar
anak tidak melakukan gerakan yang tidak di inginkan karena setiap anak terkadang sering
melakukan gerakan yang tidak di inginkan oleh dokter, tampa terkendali dan secara reflek
dan hal ini harus di kendalikan dengan baik oleh seorang dokter gig.
11. Physical restraint by the assistant
Pengekangan fisik yang dilakukan oleh asisten dokter gigi yaitu dengan menahan
pergerakan anak dengan menahan tangan anak, menstabilkan kepala, dan mengontrol

pergerakan kaki. Sama halnya dengan physical restraint by the dentist , teknik ini juga
termasuk salah satu teknik yang kontroversial
2.2 Metode pengelolaan tingkah laku secara farmakologi
1

a
b
c
d
e

Sedasi (SED)
Sedasi merupakan penanganan tingkah laku secara farmakologi.Sedasi dapat diberikan
melalui oral, intravena, intramuskular, dan inhalasi. Pasien yang diberikan sedasi,
kesadarannya masih ada dan refleksnya normal termasuk refleks batuk.1,2
Obat yang digunakan untuk menenangkan anak yang tidak merespon teknik pengelolaan
tingkah laku lain atau tidak dapat memahami prosedur gigi. Seringkali, obat ini diberikan
secara oral.
Memfasilitasi perawatan yang berkualitas
Meminimalisasi tingkah laku buruk yang ekstrim
Meningkatkan respon fisiologis positif terhadap perawatan
Meningkatkan kenyamanan dan keamanan pasien
Mengembalikan pasien ke kondisi fisiologis yang aman
Syarat penggunaan sedasi:
Operator harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai agen yang akan digunakan
dan telah terlatih secara formal untuk mengadmisitrasikan agen tersebut.
b Penggunaan sedatif harus direncanakan dengan matang dan didokumentasikan jenis agen,
ital pasien, efek samping. Keputusan untuk menggunakan harus berdasarkan analisis
terhadap profil tingkah laku pasien, asal dan tingkat perawatan, perbandingan risk vs
benefit terhadap status fisik pasien, kemampuan ekonomi dan kemampuan keluarga untuk
memenuhi tuntutan perawatan yang luas.
c Pasien harus dievaluasi dengan hati-hati dari waktu onset agen sampai pulih kembali
untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi yang dapat mengubah respon yang
diharapkan terhadap agen sedatif yang dapat membahayakan pasien.
Harus ada informed consent yang ditandatangani oleh orang tua/wali.
e Fasilitas klinik harus cukup nyaman dan lengkap untuk menangani kondisi gawat darurat
yang mungkin muncul.

Local Anasthesia (Anatesi lokal)


Anastesi lokal, diberikan untuk menghilangkan rasa sakit pada perawatan. Anastesi local
secara topikal, injeksi secara perlahan dapat membuat anak tidak lagi merasa sakit sehingga
anak dapat bekerja sama dengan baik.7

General Anasthesia
General anesthesia digunakan sebagai suatu jalan terakhir dalam memberikan perawatan gigi
dan mulut. Hal ini dilakukan apabila anak memerlukan perawatan sesegera mungkin namun

memiliki trauma emosional pada perawatan dental. Biasanya juga dilakukan pada anak yang
sudah ada pembengkakan, cellulitis yang sudah parah, dan anak dalam keadaan sakit
2.3 psikologi anak ( tingkah laku anak )
1. Klasifikasi perilaku anak menurut Wright
MenurutWright, perilaku anaksecara umum dapatdiklasifikasikan menjadi tiga kategori yakni

a. Kooperatif(Cooperative)
Sikap kooperatif ini ditunjukkan dengan sikap anak yang cukup tenang, memiliki rasa takut
yang minimal, dan antusias terhadap perawatan gigi dan mulut yang diberikan. Anak
dengan sikap kooperatif memudahkan dokter gigi dalam melakukan perawatan dan
pendekatan yang dapat dilakukan, yakni dengan menggunakan teknik tell show do (TSD).
b. Tidak mampu kooperatif (Lacking in cooperative ability)
Kategori ini terdapat pada anak-anak yang masih sangat muda misalnya anak usia dibawah
3 tahun dengan kemampuan komunikasi yang terbatas dan pemahaman yang kurang
mengenai perawatan yang akan dilakukan. Kelompok lain yang termasuk dalam kategori
tidak mampu kooperatif adalah mereka dengan keterbatasan fisik maupun mental. Oleh
karena itu, anak dengan kondisi seperti ini membutuhkan teknik manajemen perilaku yang
khusus, misalnya dengan menggunakan premedikasi maupun anastesi umum.
c. Berpotensikooperatif(Potentially cooperative)
Kategori perilaku ini berbeda dengan tidak mampu kooperatif.Karena anak dalam kategori
ini memiliki kapabilitas untuk menjadi kooperatif.Sehingga diperlukan kompetensi dokter
gigi yang mampu melakukan manajemen perilaku dalam mengembangkan potensi
kooperatif menjadi kooperatif.
2. Klasifikasi perilaku anak menurut Frankl
Salah satu sistem klasifikasi perilaku anak dalam perawatan gigidiperkenalkan oleh Frankl
dikenal sebagai skala yang disebut : FranklBehavioral Rating Scale.
Frankl mengklasifikasikanperilaku anak menjadi empatkelompok sesuai dengansikapanak
dan kerjasama pada perawatan gigi dan mulut,yakni:
a. Jelas negatif (--)
Anak menolak perawatan gigi yang akan dilakukan. Penolakan ini ditunjukkan dengan cara
menangis keras, penuh rasa takut, mengisolasi diri, anak bersikap menentang dan tidak
mau mendengar apapun yang dikatakan oleh dokter gigi.
b. Negatif (-)
Anak enggan menerima perawatan, bersikap tidak kooperatif, menunjukkan beberapa
perilaku negatif, tetapi tidak diucapkan misalnya cemberut atau menyendiri.

c. Positif (+)
Anak mau menerima perawatan tetapi selalu bersikap hati-hati, bersedia untuk menuruti
dokter giginya dengan mengajukan syarat tetapi si anak tersebut tetap mengikuti arahan
dokter giginya secara kooperatif.
d. Jelas positif (++)
Anak menjalin hubungan yang baik dengan dokter gigi, anak tertarik dengan prosedur
perawatan gigi, anak juga merasa senang, menikmati prosedur perawatan gigi,
menunjukkan kontak verbal yang baik, dan banyak bertanya.
3. Klasifikasi perilaku anak menurut White
Pada dasarnya pembagian perilaku yang diajukan oleh White merupakan penjelasan atas
dua klasifikasi perilaku sebelumnya, khususnya penjelasan atas klasifikasi potensial
kooperatif yang masih belum jelas. Klasifikasi perilaku anak terhadapat perawatan gigi dan
mulut menurut White, yaitu:
1. Perilaku kooperatif (Cooperative patient)
Perilaku kooperatif merupakan kunci keberhasilan dokter gigi dalam melakukan perawatan
gigi dan mulut.Anak dapat dirawat dengan baik jika dia menunjukkan sikap positif
terhadap perawatan yang dilakukan.Kebanyakan pasien gigi anak menunjukkan sikap
kooperatif dalam kunjungannya ke dokter gigi. Tanda-tanda pasien anak dan remaja yang
tergolong kooperatif adalah:
a. Tampak rileks dan menikmati kunjungan sejak di ruang tunggu
b. Mengikuti semua instruksi yang disampaikan dengan rileks
c. Memahami sendiri semua perintah
d. Terlihat antusias terhadap perawatan yang akan dilakukan
e. Penanganan dalam klinik biasanya cukup dengan teknik tell show do (TSD)
f. Adanya hubungan antara dokter
2. Perilaku tidak mampu kooperatif (Inability to cooperative patient)
Ada dua kelompok pasien yang termasuk dalam kelompok perilaku tidak mampu
kooperatif, yakni:
a. Anak yang berumur di bawah 3 tahun yang masih sangat bergantung kepada ibunya.

b. Pasien anak atau remaja yang handicapped, baik retardasi mental maupun keterbatasan
fisik/cacat.
Kedua kelompok pasien ini pada dasarnya adalah ketidak mampuan untuk berkomunikasi
dan untuk memahami segala instruksi.Hal ini sangat menyulitkan dokter gigi dalam
melakukan perawatan.Pasien anak dengan kategori tidak mampu kooperatif dapat
ditangani dengan premedikasi dan menggunakan anastesi umum.
3. Perilaku histeris (Out of control patient)
Ada beberapa karakteristik pada pasien anak yang tergolong dalam perilaku histeris, yakni:
a. Pasien umumnya berumur 3-6 tahun dan merupakan kunjungan pertama
b. Tangisan yang keras, memekik, dan marah
c. Merengek dan mudah marah
d. Memiliki tingkat kecemasan dan ketakutan yang tinggi
Perilaku jenis ini dapat ditangani dengan mengevaluasi pasien sebelum melakukan
perawatan dan melakukan pendekatan kepada anak secara lembut disertai pemberian
penjelasan mengenai prosedur perawatan untuk mengurangi tingkat kecemasannya.
4. Perilaku keras kepala (Obstinate/ defiant patient)
Beberapa karakteristik anak dengan perilaku keras kepala, yakni:
a. Melawan pada setiap instruksi
b. Pasif mempertahankan diri dan tidak ada perhatian terhadap perintah
c. Berdiam diri tidak mau bergerak dan membuka mulut.
d. Bersikap menentang dan tidak sopan
Pasien anak dengan perilaku keras kepala dapat ditangani dengan mencoba memahami dan
melakukan komunikasi dengan pasien tersebut tanpa melakukan paksaan. Karena dengan
paksaan akan semakin menyulitkan dokter gigi dalam melakukan perawatan.
5. Perilaku pemalu (Timid patient)
Perilaku pemalu dalam perawatan gigi dan mulut merupakan suatu perasaan gelisah atau
mengalami hambatan dalam membentuk hubungan atau komunikasi antara dokter gigi dan
pasien anak sehingga mengganggu tercapainya keberhasilan perawatan. Pemalu dapat
berubah menjadi fobia yang menjadikan pasien tersebut menjadi tidak kooperatif terhadap
perawatan gigi dan mulut.16 Karakteristik anak dengan perilaku pemalu, yakni:
a. Pemalu karena takut berbuat salah dan susah mendengarkan instruksi
b. Menghindari kontak mata dan berlindung di belakang orang tua

c. Tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja


d. Membutuhkan dorongan kepercayaan diri
e. Berasal dari lingkungan keluarga yang bersifat overprotektif.
6. Perilaku tegang (Tense patient)
a. Anak tersebut tampak tegang secara fisik, dahi dan tangan berkeringat, bibir kering
b. Suara terdengar tremor
c. Memulai percakapan dengan tidak dan saya tidak akan
d. Tangan bergetar
e. Menatap ke sekeliling ruang klinik
f. Menerima perawatan yang diberikan
g. Anak jenis ini ingin tampak berani dan tumbuh dewasa.
7. Perilaku cengeng (Whining patient)
a. Merengek atau menangis sepanjang prosedur perawatan
b. Masih tetap bisa menerima perawatan
c. Bisa menerima perhatian dari dokter gigi
d. Penangan yang paling tepat adalah dokter gigi harus bersikap sabar dan tenang. Dokter
gigi sebaiknya memberikan pujian terhadap mereka jika bersikap kooperatif selama
perawatan gigi dan menyampaikan bahwa tidak akan lama lagi dan mereka bisa pulang ke
rumah.
4. Menurut Thomas Enches
- Easy child : anaknya mudah diatur, mudah gembira, mudah untuk menerima pengalaman
baru
- Difficult child : sulit ditenangkan, sulit mengekspresikan emosinya
- Slow to warm up child : interaksi dg cara perlahan, mebutuhkan waktu utk interaksi

2.3 Upaya untuk mengatasi anak dalam tempramen, takut, kritis, keragu raguan,
hiperaktif,

Tempramen :

Harus menerima watak anak apa adanya

Lihat sisi positifnya setiap kepribadaian ada manfaatnya

Kita harus bisa membedakan tempamen ( susah menyesuaikan diri ) dan


Berperilaku negartif ( marah marah karena nakal tidak seperti biasanya )

Tetep tenanag dan tidak emosi

Bantu anak untuk mengendaalikan emosi

Sisikan waaktu secara fokus kepada hal positif

Memberikan hal yang positif dan di berikan hadiah agar termotivasi

Mengenalkan terlebih dahulu terhadap siuasi, kondisi dan di kenalkan alatnya


dahulu

Bersikap tulus dan menyayangi

Menghargai apa yang di pilih anak

Hindari labeling pada anak

Hand over mouth : dengan menutup mulut anak kontra indikasi : anak kurang
kooperatif, menahan dgn handuk contohnya dan memberikan bisikan dengan
baik.

Rasa takut ( tangku):

Cara desensitisasi memberikan tangangan de yang takut dampai tidak lagi dimana
di gantikan rasa takut dengan cara berulang kali dgn 3 tahap :
1

Santai

Menakutkan dari takut sampei tidak takut

Dan di ualang terus menerus

Karena drg yang tidak langsung melakukan hal hal pendaahuluan


Kritis :

Mendengarkan apa yang di ucapkan anak

Perhaatikan apa yang di lakukan dan di tanyakan

Dengan respon positif dan bersikap ramah pada anak

Kejujuran di jawab dengan sejujur jujurnya dan apa adannya

Mengunakan bahasa yang tidak tinggi

Di rangsang dengan penalaran analogi

Ramah dalam sikap

Jangan menolak pertanyaan


Strategi drg agar anak tidak takut :
1 Primer :
Mengondisikan tempat praktek
Dokter gigi yang bersikap baik
Memberikan rasaa anak dan nyaman agar berhasil dalam penanganan

Sekunder : komunikasi verval dan non

Tersier : sensitisasi, modelling

Hiperaktif
Anak dengan karakter hiperaaktif bisa di tangani dengan memfokuskan anak pada
suatu barang atau tindakan. Bida dengan di berikan suatuhadiah sebagai jaminan
dimana akan harus memaatuhi terlebih dahulu apa yang di perintahkan oleh
seorang dokter gigi. Ada mainan anak-anak kecil untuk mengalihkan perhatian
atau berupa hadiah.

2.4 Hal apa yang menyebabkan anak takut ke dokter gigi


1. Pengalaman pertama ke drg
2. Imajinasi anak , yg meras tersakiti
3. 3 rasa takut , subjektif(anka memiliki perasaan yg menyebabkan rasa takut), objektif(ada
pengalaman yg tidak menyenangkan , seperti trauma), sugesti ( rasa takut yg didapat dr orang
disekitarnya)
4. Anak mudah gelisah dan sensitive
5. internal :

Usia

Pengalaman pertama

Sugesti : dari cerita org lain

Perasaan trauma terhadap perawatan sebelumnya

Ketakukan dan kecemasan

6. Eksternal :
- Orang tua
-

Dental faktor : dari alat alat yang menyebabkan ketakutan

dari dokter gigi sendiri yang mempengaruhi


Pendidikan : dimana anak akan tidak takut jika sebelumnya sudah mengetahui
ilmunya atau tujuan baiak yang akan di dapatkan manfaat

Sosisla ekonomi

Dari pola asuh org tua yang cemas

2.5 Bagaimana peranan orang tua terhadap perawatan gigi anak

Untuk mencapai keberhasilan dalam perawatan gigi maka hendaknya dokter gigi

terutama memahami konsep Pedodontic Treatment Triangle.Pedodontic Treatment


Triangle adalah gambaran hubungan antar komponen dalam segitiga perawatan pedodontik
dimana setiap komponen saling berhubungan erat, posisi anak pada puncak segitiga dan
posisi orang tua serta dokter gigi pada masing-masing sudut kaki segitiga.Garis menunjukan
komunikasi berjalan dua arah antar masing komponen dan merupakan hubungan timbal
balik.Anak menjadi fokus dari dokter gigi dan dibantu oleh orang tua. Perawatan gigi anak
akan dipusatkan pada orientasi anak sebagai pasien dan orangtuanya, dokter gigi akan
bertindak untuk mengarahkan orang tua pada perawatan yang diindikasikan kepada anaknya.
Pada usia bayi sampai dengan 18 tahun diperlukan komunikasi dan kerja sama dari dokter
gigi dengan anak dan orang tua dalam perawatan gigi anak.
Gambar 2.1 Pedodontic treatment triangle (Sumber: Soeparmin S. Pedodontic treatment
tringle berperan dalam proses keberhasilan perawatan gigi anak. 2011
Hal yang perlu di perhatikan sebaagai orang tua anak agar dapat tercipta komunikasi antar
personel oleh dokter gigi dengan pasien anak dan orang tuanya terdapat syarat yang harus
dipenuhi, yaitu:
a. Positiveness (sikap positif)
Dokter gigi diharapkan mau menunjukkan sikap positif pada pesan yang
disampaikan oleh pasien anak atau orang tuanya seperti keluhan, usulan, pendapat,
pertanyaan.
b. Supportiveness (sikap mendukung)
Ketika pasien atau orang tua pasien anak Nampak ragu untuk memutuskan sebuah
pilihan tindakan, maka dokter gigi diharapkan memberikan dukungan agar keraguan
tersebut berkurang atau bahkan hilang.
c. Equality (keseimbangan antara pelaku komunikasi)

Yang dimaksud dengan kesamaan atau kesetaraan adalah bahwa diantara dokter
gigi, pasien, dan orang tua pasien tidak boleh ada kedudukan yang sangat berbeda
misalnya dokter yang menguasai semua keadaan dan pasien yang tidak berdaya.
d. Openess (sikap dan keinginan untuk terbuka)
Dokter gigi bila perlu juga mengatakan kesulitan yang dihadapinya saat
menangani masalah pasien. Dengan keterbukaan komunikasi ini maka akan terbangun
kepercayaan dari pasien anak dan orang tuanya.
- Ibu mempengaruhi rasa takut pada anak ( sebagai dokter gigi harus bisa
mengantisipasi dari ibunya terlebih dahulu)
-

Memotivator ( memberikan anak apa maksud dan tujuan demi kebaikan anak
dengan baik agar anak mau dan tidak ragu pergi ke dokter gigi)
edukator ( memberikan pendidikan kesehatan dan perilaku sehat dan diinginkan )
fasilitator ( sebagai perantara dalam pemecahan masalah sebagai panutan )

Sebisa mungikin orang tua tau apa yang akan di lakukan dan tanggap terhadap
apa yang terjadi pad anak upaya prefentif dan mencegah sebelum sakit harus
segera di konsiltasika ( agar kunjungan menyenagkan )

Dasar menejemen dari dokter gigi memahami ilmu pedodontik : konponen


triangulasi Orientasi anak dan mengarahkan org tua kepada anak dan harus
terjalin komunikasi baik antar drg dan orang tua dalam perawatan gigi.

2.6 Tujuan dari pendekatan non farmakologi behavior


1 Untuk memahami prosedur perawatan gigi seminimal mungkin untuk mengurangi
kecemasan anak dengan cara : modeling, desensitifikasi, memperhatikan
kontraindikasi, perilaku anak secara bertahap agar anak terbisa datang ke dokter
gigi
2

Mengurangi kecemasan, menciptakan kerjasama anak dan drg, mengetahu riayat


anak ke drg

Tujuan mengatur tingkah laku dan gejala koknitif dgn tujuan :mengurangi beban
drg, akan membuat lingkungan yang aman karena trauma anak bisa di minimalisir

2.7 Penanganan anak berdasarkan usianya


Kematangan anak bisa dikelompokkan mengikuti kronologis tingkatan usia sebagai berikut: 1
1. Usia 2 tahun
Anak yang berusia dua tahun memiliki kosakata yang bervariasi dari 15 sampai 1000
kata.Anak pada periode ini takut pada gerakan mendadak yang tidak terduga. Pergerakan
mendadak pada kursi gigi

(dental chair) tanpa peringatan akan menimbulkan rasa takut, cahaya yang terang juga terasa
menakutkan bagi anak. Memisahkan anak pada usia ini dari orang tuanya sangat sulit.
Sebisa mungkin anak pada periode usia dua tahun ditemani oleh orang tua atau pendamping
selama berada di ruang perawatan.
2. Usia 3 tahun
Anak usia tiga tahun memiliki keinginan untuk berbicara dan mendengarkan. Pada usia
ini, sikap kooperatif muncul dan dokter gigi bisa mulai menggunakan pendekatan positif
dengan anak tersebut .
3. Usia 4 tahun
Seorang anak usia empat tahun umumnya mendengarkan dan tertarik untuk menjelaskan.
Jika tidak diatur dengan baik pada beberapa situasi anak usia empat tahun bisa menjadi tidak
patuh dan menentang.
4. Usia 5 tahun
Usia ini merupakan periode dari penggabungan, dimana anak pada usia lima tahun
senang melakukan aktifitas berkelompok dan siap berpartisipasi didalamnya dan mereka
juga memiliki sedikit rasa khawatir bila terpisah dari orangtuanya saat melakukan perawatan
gigi.
5. Usia 6 sampai 12 tahun
Biasanya anak pada usia ini bisa menangani ketakutan terhadap prosedur perawatan gigi
karena dokter gigi bisa menjelaskan apa yang akan dilakukan dan alasan kenapa perawatan
tersebut dilakukan.
Usia 2 tahun : cenderung takut dengan gerakan yang mendadak, penanganan bias dilakukan
desenditasi.
Usia 3 tahun : sudah mulai mendengarkan kata dokter, sudah mulai kooperatif, penanganan
bias dilakukan tell-show-do, modeling, bisa dengan memperlihatkan video.
Usia 4 tahun : sudah mulai mendengarkan, cenderung ingin menjelaskan dan menentang,
penanganan bias dilakukan parental presence, home jika anak sangat menentang.
Usia 5 tahun : cenderung ingin melakukan hal baru
Usia 6-12 tahin : anak cenderung waspada terhadap kegiatan yang akan dilakukan
2.8 Dental team
DENTAL TEAM
Pengertian Tim Tenaga Kesehatan Keperawatan gigi (Dental Auxilaries International)
adalah tim kesehatan yang terdiri dari dentist, hygienist, assistant, secretary, technician serta
therapist yakni :
Dentist
: Dokter gigi yang mempunyai wewenang lebih (mencakup keseluruhan)
dalam kesehatan gigi dibandingkan dengan anggota tim lainnya.
Hygiene
: memberikan pencegahan dan promosi kesehatan, mengelola anestesi lokal
dan radiografi, penggunaan X-ray, scaling, polishing, dan pemberian fluorida.

Assistant : menyiapkan peralatan yang digunakan dalam praktik kesehatan gigi.


Secretary : melayani, mendata data setiap pasien.
Technician : membuat, mencetak, memperbaiki gigi palsu serta membuat mahkota gigi.
Therapist : terapi gigi atau pelengkap gigi.

STANDARD OF DENTAL TEAM


1 Put patients interest first

Memperlakukan setiap pasien dengan bermartabat dan hormat setiap saat.

Jujur dan bertindak dengan integritas.

Mengambil pendekatan holistik dan pencegahan untuk pasien

peduli yang tepat untuk masing-masing pasien.

Mengobati pasien di lingkungan yang higienis dan aman.

Mengobati pasien cukup, sebagai individu dan tanpa


diskriminasi.

Menempatkan kepentingan pasien sebelum Anda sendiri atau orang


dari setiap rekan, bisnis atau organisasi.

Memiliki pengaturan yang tepat di tempat untuk pasien


untuk mencari kompensasi jika mereka mengalami kerusakan.

Cari tahu tentang hukum dan peraturan yang mempengaruhi


pekerjaan Anda dan mengikuti mereka

Berkomunikasi secara efektif dengan pasien

Berkomunikasi secara efektif dengan pasien - mendengarkan mereka, memberi mereka


waktu untuk mempertimbangkan informasi dan mengambil mereka pandangan
individu dan komunikasi perlu mempertimbangkan.

Mengakui dan mempromosikan hak-hak pasien untuk dan tanggung jawab untuk
membuat keputusan tentang kesehatan mereka prioritas dan perawatan.

Memberikan pasien informasi yang mereka butuhkan, dengan cara mereka bisa
mengerti, sehingga mereka dapat membuat informasi keputusan.

Memberikan pasien informasi yang jelas tentang biaya.

Mendapatkan persetujuan yang valid

Memperoleh persetujuan valid sebelum memulai pengobatan, menjelaskan semua


pilihan yang relevan dan biaya yang mungkin.

Pastikan bahwa pasien (atau wakil mereka) memahami keputusan mereka diminta
untuk membuat.

Pastikan bahwa persetujuan pasien tetap berlaku pada setiap tahap penyelidikan atau
pengobatan.

Menjaga dan melindungi patients'information

Membuat dan menjaga kontemporer, lengkap dan


catatan pasien akurat.

Melindungi kerahasiaan informasi pasien dan


hanya menggunakannya untuk tujuan yang diberikan.

Hanya merilis informasi pasien tanpa mereka izin dalam keadaan luar biasa.

Memastikan bahwa pasien dapat memiliki akses ke catatan mereka.

Menyimpan informasi pasien aman setiap saat, apakah


catatan Anda diadakan di atas kertas atau elektronik.

Memiliki prosedur pengaduan yang jelas dan efektif

Pastikan bahwa ada prosedur pengaduan yang efektif


tersedia bagi pasien untuk menggunakan, dan mengikuti
Prosedur setiap saat.

Menghormati hak pasien untuk mengeluh.

Berikan pasien yang mengeluh prompt dan


respon konstruktif

Bekerja dengan rekan-rekan dengan cara yang adalah kepentingan terbaik pasien '

Bekerja secara efektif dengan rekan-rekan Anda dan berkontribusi


untuk kerja sama tim yang baik.

Akan tepat didukung ketika merawat pasien.

Delegasi dan merujuk secara tepat dan efektif.

Hanya menerima rujukan atau delegasi jika Anda terlatih dan kompeten untuk
melaksanakan perawatan dan Anda percaya bahwa apa yang Anda diminta untuk
lakukan adalah sesuai untuk pasien.

Berkomunikasi dengan jelas dan efektif dengan tim lain anggota dan rekan dalam
kepentingan pasien.

Menunjukkan manajemen yang efektif dan kepemimpinan


keterampilan jika Anda mengelola sebuah tim.

Menjaga, mengembangkan dan bekerja dalam pengetahuan profesional dan keterampilan

Memberikan kualitas layanan yang baik berdasarkan bukti saat ini


dan bimbingan berwibawa.

Bekerja dalam pengetahuan, keterampilan, profesional


kompetensi dan kemampuan.

Memperbarui dan mengembangkan pengetahuan profesional Anda


dan keterampilan seluruh hidup Anda bekerja

Raise conserns if patients risk

Selalu menempatkan keselamatan pasien pertama.

Tindakan segera jika pasien atau rekan beresiko dan mengambil langkah-langkah
untuk melindungi mereka.

Pastikan jika Anda menggunakan, mengelola atau memimpin sebuah tim yang
Anda
mendorong dan mendukung budaya di mana staf dapat meningkatkan
keprihatinan secara terbuka dan tanpa takut akan pembalasan.

Pastikan jika Anda menggunakan, mengelola atau memimpin sebuah tim yang ada
merupakan prosedur yang efektif di tempat untuk meningkatkan kekhawatiran,
bahwa prosedur ini tersedia untuk semua staf dan bahwa itu adalah diikuti setiap
saat.

Mengambil tindakan yang tepat jika Anda memiliki kekhawatiran tentang


mungkin penyalahgunaan anak-anak atau orang dewasa yang rentan.

2.9 Tujuan pendekatan non pharmacologi behavior


- Untuk mengatur tungkah laku dan menangani gejala kognitif pasien
- Untuk menciptakan komunikasi anak dan orang tua

Untuk mengetahui riwayat pasien, karakter anak


Untuk melakukan prosedur perawatan yang sederhana
Menciptakn kerja sama antara dokter gigi dan anak
Untuk mengurangi beban dari dokter gigi
Mengurangi kecemasan anak
Bisa membuat lingkungan yang aman selama kita melakukan perawatan

BAB III
PETA KONSEP
Anak erkunjung
untuk melakukan
perawatan gigi

Ragu ragu saat di


ingin di lakukan
perawatan
Faktor interna

Rasa takut
Faktor
eksternal

Penanganan
non
farmakologi
behavior

Pharmacology
behavior

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Setiap anak yang datang berobat ke dokter gigi memiliki kondisi kesehatan gigi yang
berbeda-beda dan akan memperlihatkan perilaku yang berbeda pula terhadap perawatan gigi dan
mulut yang akan diberikan. Ada anak yang berperilaku kooperatif terhadap perawatan gigi dan tidak
sedikit yang berperilaku tidak kooperatif. Perilaku yang tidak kooperatif merupakan manifestasi dari
rasa takut dan cemas anak terhadap perawatan gigi dan mulut. Penyebabnya dapat berasal dari anak
itu sendiri, orang tua, dokter gigi, ataupun lingkungan klinik. Dimana sebagai seotang dokter gigi
haruslah bisa membuat seorang anak merasa aman dan tidak takut selama sebelum, sesudah, maupun
saat menjani perawatan agar tercipta suasana yang anak mau dan memudahkan dokter gigi dalam
melakukan perawatan dan menanganan.maka dari itu di perlukan beberapa tehnik non farmakologi
dan farmakologi sebagai upaya managemen dalam kedokteran gigi. Dan peran antara dental team,
anak sendiri, dan peran orang tua sangat berperan dan harus berjalan dengan baik dan di butuhkan
komunikasi yang baik diantaranya.

DAFTAR PUSTAKA
1

McDonal, R. and Avery, D. R. 2004. Dentistry for the Child and Aldolescent. 8 thed
St Louis, Mosby Years Book, Inc, p.357-360

Pinkham JR. 1994. Pediatrik Dentistry Infancy ThroughAldolescence. Second edition,


Canada : W.B Saunders Company ; p. 451-459

Suhariadji F.X, 1998. Penggunaan Pit danFissure Sealant sebagai Salah


SatuPencegahankaries Gigi padaAnak-anak, FakultasKedokteran Gigi Unair.

Welbury, R. Raadal M, Lygidakis 2004, EAPD guidelines for the use of pitand fissure
sealant.

LEMBAR PERSETUJUAN
LAPORAN TUTORIAL
SGD 1 LBM 1
MANAGMENT DENTAL FOR CHILD
Telah Disetujui oleh :

Semarang, 17 oktober 2015

Tutor SGD 1

drg. Sandy Christiono, Sp.KGA