Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai produk yang tergolong ke dalam industri kreatif, batik di Indonesia
mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan ini dipicu oleh naiknya
permintaan yang tidak saja di pasar domestik, namun juga pasar luar negeri. Sentra batik
banyak bermunculan di berbagai wilayah Indonesia. Banyaknya sentra batik ini
menunjukkan bahwa sebagai industri kreatif, batik menjadi produk unggulan Indonesia
yang memiliki daya saing kuat di pasar internasional.
Kota Samarinda merupakan salah satu sentra batik yang mempunyai kualitas
produk terbaik. Seiring dengan perkembangan perdagangan produk batik, motif, corak, dan
jenis batik yang dihasilkan juga mengikuti kebutuhan dan keinginan pasar. Motif tidak
hanya tradisional, tetapi juga kontemporer bahkan banyak dirancang motif unik seperti logo
klub sepakbola, maupun tokoh animasi yang sedang menjadi idola. Dalam hal corak juga
mengikuti perkembangan motifnya. Khususnya aplikasi warna yang tidak saja warna dasar
seperti hitam, coklat, dan biru, tetapi juga warna lain dengan berbagai macam gradasi dan
teknik pewarnaan yang juga semakin beragam dan berkembang.
Perkembangan permintaan pasar yang mampu meningkatkan munculnya sentra
batik di berbagai wilayah Indonesia menimbulkan semakin ketatnya persaingan. Jenis batik
yang dihasilkan juga berbeda yaitu batik tulis, batik cap, maupun kombinasi tulis dan cap.
Ditinjau dari aspek pemasaran, setiap jenis batik tersebut mempunyai segmen pasar yang
berbeda, sehingga atribut produk batik juga harus disesuaikan dengan segmen pasar
masing-masing. Bahkan pesaing tidak hanya dari pasar domestik, tetapi juga dari luar
negeri, terutama dari China. Persaingan tersebut semakin ketat dengan munculnya kain
tekstil bermotif batik. Oleh karenanya perlu dilakukan peningkatan kualitas produk batik
agar pertumbuhan tekstil bermotif batik ini dapat ditekan. Namun peningkatan kualitas
produk tentu tidak sebatas untuk menghadapi pertumbuhan teksil bermotif batik, tetapi
justru dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja produk agar dapat lebih bersaing di
pasar global. Demikian juga para pelaku usaha batik di kota Samarinda berusaha untuk
meningkatkan kualitas produk batiknya.

Untuk itu, kami akan melakukan penelitian dan analisis pengendalian kualitas dalam
mengurangi kecacatan produk di salah satu sentra penghasil Batik Samarinda dengan
menggunakan metode Six Sigma sebagai alat analisis sehingga diharapkan mutu produk
dapat meningkat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai
berikut Bagaimana perbaikan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan tingkat kecacatan
dalam produksi Batik Samarinda ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui jenis kecacatan produk yang sering terjadi.
2. Untuk Mengetahui level sigma pada produk.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kecacatan produk.
4. Dapat memberikan usulan perbaikan dalam mencegah terjadinya kecacatan produk
kain.

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pengertian Manajemen Operasional atau Produksi


2.1.1. Pengertian Manajemen
Berikut ini merupakan beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian
manajemen yaitu:
Stephen P. Robbins dan Mary Coulter (2003;6), menyatakan bahwa manajemen
adalah:
"Manajemen adalah proses pengkoordinasian kegiatan pekerjaan sehingga dapat
diselesaikan secara efektif dan efisien dengan melalui orang lain".
Sedangkan manajemen menurut Malayu. S. P. Hasibuan (2003;2) adalah:
"Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumberdaya
manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu".
Dari definisi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen
merupakan alat yang dihasilkan oleh perpaduan antara ilmu dan seni yang digunakan
untuk memanfaatkan, mengorganisasikan, serta mengendalikan sumber daya yang dimiliki
secara efektif dan efisien dalam rangka pencapaian tujuan.
1.1.1.2. Pengertian Produksi
Kegiatan produksi merupakan unsur yang paling penting dalam sebuah organisasi
industri. Produksi memiliki beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli,
sebagai berikut:
Menurut Sofjan Assauri (2004;11) yaitu:
"Produksi adalah kegiatan yang mentranformasikan masukan (input) menjadi
keluaran (outpu), tercakup semua aktifitas atau kegiatan yang menghasilkan
barang/jasa, serta kegiatan-kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha
untuk menghasilkan produk tersebut"
Menurut Reksohadiprodjo (2002;2) dalam bukunya yang berjudul "Manajemen
Operasi" menjelaskan bahwa:
"Produksi adalah transformasi faktor-faktor produksi (bahan mentah, tenaga kerja,
modal dan teknologi) menjadi hasil-hasil produksi (produk)"
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa produksi adalah proses menciptakan
barang dan jasa atau proses merubah input menjadi output, serta kegiatan-kegiatan yang
mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk yang berguna.
2.1.3.1. Pengertian Manajemen Operasional
Di dalam melakukan proses produksi diperlukan sekali manajemen yang baik, hal ini
bertujuan untuk melakukan pengaturan ataupun pengawasan proses produksi agar sesuai
dengan standar yang telah dibuat, baik kesesuain standar proses produksi maupun
kesesuain standar dari produk yang telah dihasilkan. Proses produksi ini merupakan suatu
proses perubahan atau transformasi dari input menjadi output, dengan menggunakan

sumberdaya yang dimiliki. Hal ini kemudian dikenal sebagai manajemen produksi atau
manajemen operasional.
Menurut Jay Heizer dan Barry Render, (2001;4), menyatakan bahwa Manajemen
Operasi adalah:
"Manajemen operasi merupakan aktivitas yang berhubungan dengan penciptaan
barang dan jasa, melalui proses transfortasi dari input hingga output"
Sedangkan menurut Stephen P. Robbins dan Mary Coulter, (2003;526) Manajemen
Operasi adalah:
"Manajemen operasi berhubungan dengan desain, operasi dan pengawasan
terhadap proses transformasi, yang merubah sumberdaya seperti tenaga kerja,
bahan mentah menjadi barang atau jasa yang dijual kepada konsumen).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen operasi merupakan
suatu aktivitas yang berupaya untuk merencanakan, mendesain, memperbaiki sistem
operasi dalam rangka mengubah input menjadi output dengan menggunakan sumber daya
yang dimilikioleh perusahaan secara efektif dan efisien untuk menghasilkan produk atau
jasa yang akan dijual ke konsumen.
2.2 Pengertian Pengendalian Kualitas
Pengertian pengendalian kualitas menurut Sofjan Assauri (2004;210) adalah
sebagai berikut:
"Pengawasan mutu merupakan usaha untuk mempertahankan mutu/kualitas dari
barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah
ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan".
Pengendalian kualitas produk menurut Hubeis (1999), erat kaitannya dengan sistem
pengolahan yang melibatkan bahan baku, proses, pengolahan, penyimpanan yang terjadi
dan hasil akhir. Pengendalian kualitas produk juga bisa memberikan makna upaya
pengembangan kualitas produk pangan yang dihasilkan oleh perusahaan atau produsen
untuk memenuhi kesesuain kualitas yang dibutuhkan konsumen.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik

kesimpulan

bahwa

pengendalian kualitas adalah suatu tekni dan aktivitas untuk mencapai, mempertahankan
dan meningkatikan kualitas suatu produk dan jasa agar sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan dan dapat memenuhi kepuasan konsumen.
2.3 Tujuan Pengendalian
.
2.4 Pengembangan Hipotesis
Berikut ini merupakan beberapa tujuan dari penerapan six sigma ini anatara lain 1)
pengurangan biaya produksi, 2) peningkatkan produktivitas, 3) pangsa pasar menjadi lebih
berkembang, 4) pengurangan cacat, dan 5) terjadinya pengembangan produk atau jasa,

dan lain-lain. Oleh karena itu konsep six sigma ini mempunyai manfaat yang sangat besar
terutama dalam hal pengurangan variasi proses produksi serta pengurangan produk cacat
akibatnya, kepuasan konsumen akan meningkat. Selain itu dalam konsep six sigma ini
menghendaki adanya perbaikan secara terus menerus supaya hasil yang dicapai dapat
lebih baik lagi.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis membuat suatu hipotesis bahwa
"dengan menggunakan metode six sigma yang efektif dan efisien secara continuous,
maka dapat mengurangi cacat produk".
2.5 Kerangka Konsep
Hipotesis: "dengan menggunakan metode six sigma yang efektif dan efisien
secara continuous, maka dapat mengurangi cacat produk".
Variable Independent

Variable Dependent

Mengurangi cacat
produk

Metode Six Sigma

Uji Analisis

PERUSAHAAN

Feed back

MANAJEMEN
OPERASIONAL

KEPUASAN
KONSUMEN

PENGENDALIAN
KUALITAS

MENGURANGI
CACAT PRODUK

QUALITY CONTROL

SIX SIGMA

DEFINE

MEASURE

ANALYZE

IMPROVE

CONTROL

BAB III
DEFINISI OPERASIONAL DAN PENGUKURAN VARIABLE
3.1 Definisi Operasional
Six Sigma merupakan suatu metode yang mempunyai susunan atau tahapan yang
jelas dalam rangka mengurangi tingkat variasi proses sekaligus produk cacat menuju
kesempurnaan dengan menggunakan statistik, problem solving tools, serta ketekunan,
disiplin, dan dukungan dari semua pihak yang terkait dengan perusahan.
Berikut ini merupakan konsep dasar dari six sigma, dimana konsep dasar ini sudah
terstruktur yaitu yang dikenal dengan DMAIC, yaitu:
1. Define: pada tahap ini tim pelaksana mengidentifikasi permasalahan, mendefinisikan
spesifikasi pelanggan, dan menentukan tujuan (pengurangan cacat/biaya dan target
waktu)
2. Measure:

tahap

untuk

memvalidasi

permasalahan,

mengukur/menganalisis

permasalahan dari data yang ada.


3. Analyze: menentukan faktor-faktor yang paling mempengaruhi proses; artinya
mencari satu atau dua faktor yang kalau itu diperbaiki akan memperbaiki proses kita
secara dramatis.
4. Improve: tahap ini kita mendiskusikan ide-ide untuk memperbaiki sistem kita
berdasarkan hasil analisa terdahulu, melakukan percobaan untuk melihat hasilnya,
jika bagus lalu dibuatkan prosedur bakunya (standard operating procedure-SOP).
5. Control: di tahap ini kita harus membuat rencana dan desain pengukuran agar hasil
yang sudah bagus bisa dilakukan secara berkesinambungan. Dalam tahap ini kita
membuat semacam metrics untuk selalu dimonitor dan dikoreksi bila sudah mulai
menurun ataupun untuk melakukan perbaikan lagi.
3.2 Definisi dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, data diartikan sebagai kenyataan yang ada yang
berfungsi sebagai bahan sumber untuk menyusun suatu pendapat, keterangan yang benar,
dan keterangan atau bahan yang dipakai untuk penalaran dan penyelidikan.
Terdapat 4 type sumber data didalam penelitian seperti berikut:
1. Narasumber (informan)
Dalam penelitian kuantitatif sumber data ini disebut responden, yaitu orang yang
memberikan respon atau tanggapan terhadap apa yang diminta atau ditentukan
oleh peneliti. Sedangkan pada penelitian kualitatif posisis narasumber sangat penting,
bukan skedar memberi respon, melainkan juga sebagai pemilik informasi. Karena itu,
ia disebut informan (orang yang memberikan informasi, sumber informasi, sumber
data) atau disebut juga subyek yang diteliti.
2. Peristiwa Atau Aktivitas

Data atau informasi juga dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap peristiwa atau
aktivitas yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Dari peristiwa atau
kejadian ini, peneliti bisa mengetahui proses bagaimana sesuatu terjadi secara lebih
pasti karena menyaksikan sendiri secara langsung. Dengan mengamati sebuah
peristiwa atau aktivitas, peneliti dapat melakukan cross check terhadap informasi
verbal yang diberikan oleh subyek yang diteliti.
3. Tempat Atau Lokasi
Tempat atau lokasi yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian
juga merupakan salah satu jenis sumber data. Informasi tentang kondisi dari lokasi
peristiwa atau aktivitas dilakukan bisa digali lewat sumber lokasi peristiwa atau
aktivitas yang dilakukan bisa digali lewat sumber lokasinya, baik yang merupakan
tempat maupun lingkungnnya.
4. Dokumen atau Arsip
Dokumen merupakan bahan tertulis atau benda yang berkaitan dengan suatu
peristiwa atau aktivitas tertentu. Ia bisa merupakan rekaman atau dokumen tertulis
seperti arsip data base surat-surat rekaman gambar benda-benda peninggalan yang
berkaitan dengan suatu peristiwa.
Dari uraian sumber data diatas, maka dalam penelitian ini menggunakan sumber
data yang berasal dari Narasumber dan Dokumen karena data diperoleh dengan bertanya
langsung kepada Narasumber yang terkait dan dari jurnal-jurnal hasil penelitian
sebelumnya.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 jenis data, yaitu:
1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara
langsung dari sumber datanya. Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus
mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang digunakan dengan wawancara
langsung dengan Owner/Pemilik sentra Batik Samarinda.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai
sumber yang telah ada. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti
laporan, jurnal, dan artikel-artikel dari internet.
3.4 Teknik Pengambilan Data
Dalam memperoleh data untuk menganalisis mengenai penerapan six sigma ada
beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Wawancara, yaitu proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung secara
lisan antara dua orang atau lebih dengan mendengarkan secara langsung informasiinformasi atau keterangan-keterangan.

2. Metode wirelessnet dan website, yaitu pengumpulan data-data melalui internet.


3.5 Alat Analisis dan Pengujian Hipotesis
Setelah data yang diperlukan terkumpul, maka penulis mengadakan pengolahan
data untuk menggambarkan keadaan yang ada dengan alat bantu yang digunakan untuk
menganalisis masalah. Alat bantu tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penetapan critical to quality (CTQ)
Mengidentifikasi dan merumuskan dimensi kualitas yang penting (CTQ) dalam produk
batik dari perspektif konsumen, pedagang, dan pelaku usaha batik. CTQ merupakan
atribut utama dari kebutuhan konsumen. CTQ dapat diartikan sebagai elemen dari
proses/ kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap pencapaian kualitas yang
diinginkan
2. Diagram Pareto
Digunakan untuk mendeskripsikan jenis cacat produk

batik (penyimpangan dari

critical to quality) dan proporsi produk batik yang cacat terhadap jumlah produksi
pada periode waktu tertentu, dan dideskripsikan secara kualitatif.
3. Diagram Ishikawa (Fishbone Diagramm)
Diagram Ishikawa digunakan untuk mengidentifikasi apa saja penyebab setiap
jenis cacat/rusak produk batik.
Selanjutnya penelitian memerlukan perbandingan antara dua keadaan atau
tepatnya dua populasi. Misalnya membandingkan dua cara mengajar, dua cara produksi,
daya sembuh dua macam obat, atau untuk penelitian ini adalah perbedaan jumlah cacat
produksi sebelum diterapkan metode six sigma dan setelah diterapkan metode six sigma.
Misalnya terdapat dua populasi normal masing-masing dengan rata-rata 1 dan 2.
Pasangan hipotesis nol dan tandingannya akan diuji (uji dua pihak), seperti berikut:
H0 : 1 = 2
H1 : 1 2
Pengujian hipotesa dalam penelitian ini adalah:

H0 : DPMO1 = DPMO2 tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada

pengendaliaan kualitas setelah adanya penerapan metode Six Sigma.


H1 : DPMO1 DPMO2 Terdapat perbedaan yang signifikan pada pengendalian
kualitas setelah adanya penerapan metode Six Sigma.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Penetapan CTQ
Dengan beragamnya motif dan desain produk batik, setiap pelaku usaha
sentra Batik Samarinda memformulasikan critical to quality (CTQ) dengan berbedabeda
1.
2.
3.
4.
5.

sesuai dengan 5 aspek pokok :


Jenis produk
Segmentasi pasar
selera konsumen
Tipe proses produksi
Penggunaan bahan
Berdasarkan keenam aspek pokok dalam penentuan CTQ, maka jenis-jenis CTQ

untuk sentra Batik Samarinda adalah sebagai berikut :


1.
2.
3.
4.

Kain sobek
warna tidak sesuai (ketepatan jenis warna)
Lilin tidak tembus di balik kain
Warna keluar dari batas lilin

Diagram Pareto
Pada sentra Batik Samarinda Pekalongan dari total 203 produk yang rusak, tidak
semuanya terkandung satu jenis CTQ tetapi bisa lebih dari satu, bahkan ada yang sampai
3 jenis CTQ. Sehingga jumlah total jenis CTQ adalah 224 buah.
Tabel 1. Frekuensi CTQ pada Sentra Batik Pekalongan
BATIK SAMARINDA

Jenis Cacat

Jumlah

Warna Tidak Sesuai


Lilin Tidak Tembus
Warna Keluar Batas
Kain Sobek
Jumlah

77
72
58
17
224

Frekuensi
Kumulatif
77
149
207
224

% Dari Total

34%
32%
26%
8%
100%

Persentase
Kumulatif
34%
66%
92%
100%

Sedangkan bagan pareto berdasarkan tabel 1. tersebut adalah sebagai berikut:

100%
90%

200

80%
70%

150

60%
50%

100

40%
30%

50

20%

Jumlah Kerusakan
Akumulasi (%)

10%
0

0%

4.2 Pembahasan
Tahap Define
Pada tahap ini ditentukan sasaran dan tujuan perbaikan, yang menjadi obyek
penelitian adalah kain Batik Samarinda, karena produk ini merupakan produk khas kota
Samarinda. Identifikasi CTQ dikembangkan dari spesifikasi yang bersumber dari voice of
customer dan standart spesifikasi yang ada. Kondisi kain Batik yang diproduksi dan
diterima oleh konsumen harus Bebas dari cacat (Kain sobek, warna tidak sesuai, Lilin tidak
tembus di balik kain dan Warna keluar dari batas lilin).
Tahap Measure
Pada sentra Batik Samarinda, jenis kerusakan
campuran warna
(kombinasi)

tidak

sesuai.

bahan-bahan pewarna

Ketidaksesuaian
tidak

dalam

ini

jumlah

terbesar

terjadi

karena

dikarenakan pencampuran
proporsi

yang

konsisten,

sehingga konsistensi warna tidak terjaga (34%). Perbaikan kerusakan ini (membuat
warna kain menjadi putih kembali), secara tenis dapat dilakukan, tetapi justru secara biaya,

waktu dan jam tenaga kerja akan inefisiensi. Demikian juga dengan kerusakan karena lilin
tidak tembus di balikkain (32%), juga inefisiensi apabila dilakukan perbaikan. Crirtical to
Quality, nilai sigma dan nilai DPMO kempat cacat ini dapat dilihat pada Tabel.
Tabel.1
Jumlah Cacat Produk Batik Samarinda

No.
1
2
3
4

Jumlah Critical

Jumlah yang

Jumlah Cacat

diamati
60
60
60
60

To Quality

Nilai DPMO

Sigma Level

79166,67
70833,33
79166,67
66666,67
73958,33

2,91
2,97
2,91
3,00
2,95

Potensial
19
17
19
16
Rata-rata

4
4
4
4

Berikut contoh perhitungan untuk penentuan nilai DPMO dan Sigma Level.
DPO =

Jumla h Produk Cacat


Jumla h yang diamati x CTQ Potensial

DPMO = DPO x 1000000


Penentuan nilai Sigma ditentukan dengan rumus:
=normsinv((1000000-DPMO)/1000000)+1,5
Berdasarkan tabel DPMO dan Sigma diperoleh bahwa nilai Sigma rata-rata sebesar
2,95 dan nilai DPMO rata-rata sebesar 73958,33.
Tahap Analyze
Berdasarkan hasil dari tahap measure diketahui CTQ yang paling dominan adalah
Warna tidak sesuai dan Lilin tidak tembus, selanjutnya evaluasi yang dilakukan untuk
mengetahui penyebab jenis cacat yang sering terjadi dijelaskan oleh diagram sebab
akibat yang merupakan suatu pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan
analisis lebih terperinci dalam

menemukan

penyebab-penyebab

suatu masalah,

ketidaksesuaian dan kesenjangan yang ada (Nasution, 2001) dan dievaluasi sebagai
berikut.
Faktor Penyebab Cacat
Manusia
Metode
Peralatan

Penyebab Potensial
Tidak teliti
Kurang terampil
Lelah
Salah proporsi pencampuran warna
Gambar/Motif tidak jelas
Cap tumpul
Sisa lilin masih menempel

Kain sudah robek


Pewarna mengental
Serbuk bahan menggumpal
Lilin terlalu panas

Bahan

Tahap Improve
Pada tahap ini digunakan metode Potential Failure Mode Effect and Analysis
untuk

meningkatkan proses berdasarkan pada hasil analisa tahap analyze. Dari tabel

terlihat bahwa RPN tertinggi ada pada pewarnaan. Ini menunjukkan bahwa proses tersebut
memberikan kontribusi yang besar terhadap terjadinya kerusakan pada kain dan menjadi
prioritas dalam langkah perbaikan seperti yang telah direkomendasikan pada tabel berikut.
Tabel
Failure Mode Effect and Analysis (FMEA)
Proses

Pewarnaan

Failur

Failure

SE

Causes

OC

Controls

Efect

Mode
Warna

Desain

tidak

kain

banyak

penggunaan

sesuai

berantaka

memakai

canting

lilin

untuk

malam

bagian

C
Terlalu

Mengatur

halus,

DE

RP

100

30

atau

kuas

untuk

bagian
berukuran
Pembatikan

Memakai

besar
Mengganti

Liin

Hasil kain

tidak

tidak

lilin

lilin dengan

tembu

sempurna

malam

lilin

antara

yang

titik lelehnya

kain atas

memiliki

80

dan

sifat tidak

celcius

bawah

mudah

yang
derajat

menembu
Penculapan

Warna

Motif

s kain
Pada saat

Mengganti

warna

keluar

yang

pembatika

canting

batas

didapat

yang sudah

tidak

rapi

mampet dan

Kesalahan

rusak
Mencuci

kurang

Penyelesaia

Kain

sempurna
Kain yang

Sobek

telah

pada saat

dengan hati-

dibatik

mencuci

hati

rusak

kain

menggunak

setelah

an tangan

10

direbus
Tahap Control
Berdasarkan hasil dari tahap sebelumnya (Improve) dapat diketahui bahwa yang
menjadi prioritas dalam perbaikan ini yaitu mengurangi atau bahkan menghilangkan cacat
pada proses pewarnaan. Dilihat dari segi penyebab masalah proses pewarnaan
merupakan penyebab yang tidak dapat dikontrol akan tetapi dapat diperkirakan. Maka dari
itu untuk dapat mengatasinya dengan melakukan suatu usaha pencegahan terhadap cacat
yang diakibatkan pada proses pewarnaan tersebut dengan membuat suatu sistem
pengendalian

terhadap

penggunaan

canting

dan

kuas.

Pengendalian

terhadap

penggunaan canting dilakukan dengan mengganti secara periodik dan teratur setelah
proses produksi selama 1 (minggu) atau penggantian canting dilakukan seminggu satu kali.
Berikut ditampilkan tabel hasil pengukuran dan perhitungan jumlah produk cacat
(DPMO) setelah dilakukan penerapan metode six sigma.
Tabel
Nilai DPMO dan Nilai Sigma Setelah Penerapan

No.
1
2
3
4

Jumlah yang
diamati
60
60
60
60

Jumlah Critical
Jumlah Cacat

To Quality

Nilai DPMO

Sigma Level

58333,33
50000
45833,33
37500
47916,67

3,07
3,14
3,19
3,28
3,17

Potensial
14
12
11
9
Rata-rata

4
4
4
4

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pembahasan yang telah diuraikan pada babbab sebelumnya, berikut ini disusun suatu simpulan dan saran mengenai analisis penerapan
metode six sigma guna mengurangi cacat produk industri batik samarinda.
5.1 Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil, yaitu:
1. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisa yang telah dilakukan maka didapatkan
penurunan nilai DPMO (Defect per Miilion Oppurtunities) dan peningkatan nilai
sigma. Nilai perbaikan setelah penerapan metode Six Sigma dapat dilihat pada Tabel.
Tabel
Perbandingan Nilai DPMO dan Sigma Level
(Sebelum dan Sesudah Perbaikan)
Kondisi
Sebelum Perbaikan
Sesudah Perbaikan

Nilai DPMO
73958,33
47916,67

Nilai Sigma
2,95
3,17

2. Berdasarkan hasil Failure Mode Effect Analysis dengan menggunakan score


yang berasal dari Severity, Occurance

dan Detection diperoleh bahwa perbaikan

difokuskan pada pewarnaan. Perbaikan proses pewarnaan dengan membuat suatu


sistem pengendalian terhadap penggunaan canting dan kuas.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang dibuat di atas,
maka terdapat beberapa saran yang dapat diajukan untuk mengatasi masalah mengenai
kecacatan produk adalah sebagai berikut:
1. Disarankan menerapkan sistem pengendalian kualitas dengan menggunakan metode
six sigma secara disiplin dan konsisten sehingga diharapkan jumlah produk cacat
dapat berkurang dengan tahap awal secara teknis mengganti canting 1 (satu) kali
seminggu.
2. Pengendalian kualitas yang dilakukan disarankan dilakukan mencakup seluruh proses
pada setiap jenis produk yang dihasilkan, sehingga apabila terdapat produk yang cacat
maka bisa ditanggulangi secara langsung, hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko
biaya yang ditimbulkan.