Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN PRAKTIKUM BAHAN MAKANAN TERNAK ( BMT )

BAB I. PENDAHULUAN
Ternak-ternak

dipelihara

untuk

dimanfaatkan

tenaga/diambil

hasilnya

dengan

cara

mengembangbiakkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani. Agar ternak


peliharaan tumbuh sehat dan kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan
penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup
dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari
pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai
dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam
jumlah cukup. Pakan yang sering diberikan pada ternak kerja antara lain berupa: hijauan dan
konsentrat (makanan penguat).
Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah
kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan,
dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya
(temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang
berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.Rekomendasi yang diberikan oleh
Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan
ternak terhadap pakan dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia.
Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi
ternak ruminansia, yang
akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di
lapangan.
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi
pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok.
Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang
dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.Tinggi rendah konsumsi pakan

pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal
(kondisi ternak itu sendiri).
MANFAAT PAKAN
1. Sumber energi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein
kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya,
bahan pakan sumber energi
dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput
benggala dan rumput setaria).
2. Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan
protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan
sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan
bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan
sentero

c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan
sebagainya).
3. Sumber Vitamin dan Mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung
beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat
pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan
batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan
terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.Saat
ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang
dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan,
misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

A. Bahan pakan
1. JENIS BAHAN PAKAN
Tepung Ikan
Merupakan bahan utama untu keseimbangan asam amino. Kandungan protein antara 60
70 % (impor) dan 45 55 % (lokal), tergantung pada : materi ikan, proses pengolahan, dan
penyimpanan kandungan proteinnya sangat tergantung kepada jenis ikan yang digunakan, ikan
laut akan lebih baik dibandingkan dengan ikan darat jika digunakan untuk membuat tepung ikan
Dapat mendukung bahan baku asal nabati. Harga per satuan beratnya relatif mahal sehingga
bahan baku ini hanya digunakan sebesar 5-12% terhadap total komposisi.
Sumber : LUBIS, 1953. Ilmu Makanan Ternak.
Tepung Daging
Merupakan produk kering jaringan mamalia (non bulu, kuku, viseral,dan kulit).
Kandungan protein cukup tinggi antara 50 60 %. Kombinasi jagung dan tepung daging dengan
proporsi yang cukup tinggi dalam ransum akan berbahaya bagi monogastrik.
Sumber : (Pardede dan Asmira, 1997)
Tepung Tulang

Salah satu sumber mineral makro pakan adalah tepung tulang. Tepung ini mengandung
yaitu kalsium 24% dan fosfor 12%. Namun, penggunaannya hanya terbatas sebagai pelengkap
jika nutrisi dalam komposisi bahan baku yang ada tidak mencukupi. Pabrik pakan umumnya
menggunakan meat and bone meal (tepung daging dan tulang) sebagai sumber mineral dan
protein sekaligus. Bahan ini biasanya diimpor dari luar negeri. Penggunaan tepung tulang sudah
jarang dilakukan, apalagi sudah banyak sumber mineral sintetis yang diproduksi oleh pabrik
pembuat bahan baku pakan maupun farmasi.
Sumber : Parakkasi, 1995.pembuatan bahan pakan ternak.
Padi
Karena merupakan makanan pokok di Indonesia, penggunaannya untuk ternak sangat
terbatas Gabah adalah butir padi yang belum digiling, kandungan protein lebih rendah daripada
jagung serta miskin vitamin A. Menir, merupakan pecahan beras pada penumbukan padi. Sering
digunakan pada unggas (ayam kampung).
Dedak Padi
Merupakan hasil ikutan industri penggilingan padi; di Indonesia terdapat 3 kualitas, yaitu :
dedak kasar, dedak halus/lunteh, bekatul. Dedak kasar, dedak yang diperoleh dari hasil
penumbukan atau penggilingan pertama; kualitas rendah; kandungan PK 6 %; SK >20 % ;
lebih banyak digunakan pada ternak ruminansia dan kuda.
Dedak halus
Dedak halus, merupakan hasil ikutan penumbukan atau penggilingan untuk memperoleh
beras asah; kandungan PK 11 % dengan SK 10%; kaya vitamin dan niasin; mudah tengik;
kandungan serat kasar tergantung pada terikutnya kulit gabah; dapat digunakan untuk ternak non
ruminansia.
Bekatul, diperoleh dari penumbukan atau penggilingan terakhir; merupakan bagian
endosperm; selaput dan lembaga; kandungan PK mencapai 12 % dengan serat kasar 5%;
mudah tengik; tidak mengandung kulit gabah.
Kualitas bervariasi, dipengaruhi banyaknya kulit gabah. Kulit gabah mengandung serat
kasar dengan kadar silika 11 19 %, hal ini merupakan pembatas nutrisi yang menyebabkan
dedak padi tidak dapat digunakan berlebihan. Kadar protein lebih tinggi daripada jagung,

kualitas proteinnyapun lebih baik.Penggunaan yang terlalu tinggi akan melembekkan lemak
karkas. Mempunyai masalah terhadap penyimpanan.Dapat menggantikan sebagian peran jagung.
Sumber : LUBIS, 1953. Ilmu Makanan Ternak

Jagung
Bahan ini diharuskan untuk digunakan pada ransum unggas komersial pada umumnya.
Merupakan biji-bijian sumber energi dengan kadar protein yang rendah (lisin dan tritophan),
rendah serat kasar dan mengandung energi yang tinggi; juga merupakan sumber Xantophil,
provit-A, asam lemak. Kandungan PK 9,8%; rendahnya kualitas protein karena adanya zein
(50% dari seluruh protein jagung) yang bersifat larut dalam alkohol. Penggunaan jagung dalam
ransum harus ditambahkan sumber protein atau asam amino sintetik. Kadar lemak yang relatif
tinggi menyebabkan tidak tahan disimpan lama. Komposisi zat makanannya dipengaruhi oleh
varietas dan lingkungan penanamannya.
Sumber : LUBIS, 1953. Ilmu Makanan Ternak.

Dedak Jagung/Empok
Merupakan lapisan luar biji jagung, mencakup kulit dan ujung tudung dengan sedikit
bagaian pati lembaganya. Kandungan protein tidak lebih banyak daripada jagungnya. Pemberian
terlalu tinggi dapat menyebabkan ulkus lambung, karena kandungan kulit biji. Bila diberikan
pada unggas, hasilnya kurang baik bila dibandingkan dengan biji jagung. Tetes atau Molases
merupakan hasil ikutan pabrik gula kandungan protein rendah (3-4 %); kandungan energi tinggi
dlaam bentuk mono dan disakarida banyak digunakan pada ternak ruminansia selain sumber
energi juga bermanfaat sebagai : penambah rasa, mengurangi sifat berdebu pakan, pellet binder,
stimulus aktivitas mikroba, carrier NPN dan vitamin dalam suplemen betuk cairan. penggunaan
pada ruminansia sampai 15 %, pada unggas < 10 %. penggunaan berlebihan dapat memunculkan
sifat laksatif (penyebab mencret)penggunaan berlebihan juga mempersulit prosesmixing.Kualitas
tergantung mutu tebu dan proses pengolahannya
Bungkil Kelapa

Bungkil kelapa adalah bahan pakan tenak yang berasal dari sisapembuatan minyak kelapa.
Bahan pakan ini mengandung protein nabati dansangat potensial untuk meningkatkan kualitas
karkas.Kandungan nilai gizi bungkil kelapa dapat dilihat pada Tabel 8.Tabel 8. Kandungan nilai
gizi bungkil kelapaKandungan Zat Kadar Zat Bahan kering (%) 84.40, Protein kasar (%)
21.00, TDN (%) 81.30, Serat kasar (%) 15.00, Lemak kasar (%) 1.80
Sumber : a. Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Departemen Peternakan FP USU
(2008)b. NRC (1995)
Bungkil Kelapa
Merupakan bahan yang berasal dari hasil ikutan ekstraksi minyak daging kelapa kering
(kopra). Dari segi nutrisi tidak memuaskan, tetapi merupakan bahan alternatif yang penting
untuk menutup kekurangan kebutuhan protein pakan. Kekurangan lisin dan metionin (nutrisi
pembatas) dapat ditutupi dengan penggunaan tepung ikan atau asam amino sintetik. Pada ternak
babi, penggunaannya tidak boleh lebih dari 20 %.
Sumber : Parakkasi, 1995. Pembuatan pakan ternak.
Bungkil Kedele
Merupakan bahan baku dengan kandungan protein yang tinggi (4351 %). Mempunyai
pembatas nutrisi berupa rendahnya kandungan lisin dan metionin. Bahan ini lebih banyak
digunakan pada ternak unggas dan babi. Merupakan bahan favorit pada formulasi ransum; pada
ternak babi dapat mencapai penggunaan 93 % dan pada ternak ayam maksimal 45 %.
Sumber : (Pardede dan Asmira, 1997)
Molases
Molases atau tetes tebu adalah hasil sampingan pengolahan tebu menjadigula. Bentuk
fisiknya berupa cairan yang kental dan berwarna hitam. Kandungankarbohidrat, protein dan
mineral protein cukup tinggi, sehingga bisa jugadigunakan untuk pakan ternak walaupun sifatnya
hanya sebagai pendukung.Disamping harganya murah, kelebihan tetes tebu adalah terletak pada
aroma danrasanya. Oleh karena itu apabila dicampur dalam ransum maka akan bisamemperbaiki
aroma dan rasanya (Hasan danIshida, 1992) Kandungan Zat Kadar Zat Bahan kering (%) 67.50,
Protein kasar (%) 3.50, TDN (%) 81.00 Serat kasar (%) 0.38, Lemak kasar (%) 0.08

Sumber : a. Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Departemen Peternakan FP USU
(2008)b. NRC (1995)
Ubi kayu
sumber energi yang realtif murah dan mudah didapat kandungan PK < 3 % dan SK
rendahmengandung racun asam sianida/HCN (termasuk daun) dengan pengolahan dapat
mengurangi kadar HCN.
Garam Dapur
Garam yang umum digunakan untuk bahan baku pakan adalah garam dapur berbentuk
serbuk yang mengandung yodium sekitar 30-100 ppm. Garam dapur (NaCI) sering digunakan
sebagai tambahan untuk mencukupi kebutuhan kedua mineral yang dikandungnya, yaitu natrium
dan klor. Penggunaarmya dibatasi sampai 0,25% saja, karena jika berlebihan akan
mengakibatkan proses ekskresi atau pengeluaran cairan kotoran meningkat. Keadaan ini akan
menyebabkan alas litter menjadi sangat lembab dan basah. Akibatnya, akan timbul gangguan
penyakit bagi unggas yang dipelihara.
Sumber : Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Departemen Peternakan FP USU
(2008)b. NRC (1995)
Garam
Garam yang dimaksud disini adalah garam dapur (NaCl) dimana selainberfungsi sebagai
mineral juga berfungsi sebagai pembatas konsumsi yangberlebihan bagi ternak karena adanya
rasa asin.Garam dapur ditambahkan sebanyak 0,5% untuk meningkatkan tingkatkonsumsi
konsentrat berenergi tinggi sampai menjadi 1,25 - 1,75 kg/ekor/hari.Semula pengaruhnya terlihat
meningkatkan konsumsi kemudian menurunkansampai jumlah yang dikehendaki (Parakkasi,
1995).

Urea

Urea yang ditambahkan dalam ransum ruminansia dengan kadar yangberbeda - beda,
ternyata dirombak menjadi protein oleh mikroorganisme rumen.Urea merupakan bahan pakan
sumber nitrogen yang dapat difermentasi di dalamsistem pencernaan ruminansia. Urea dalam
proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi protein kasar dan
daya cerna. Urea biladiberikan kepada ruminansia akan melengkapi sebagian dari kebutuhan
protein,karena dapat disintesis menjadi protein oleh mikroorganisme dalam rumen(Anggorodi,
1984). Menurut yang dilaporkan Basir (1990) selain meningkatkankualitas hijauan, urea juga
dapat dimanfaatkan sebagai pengganti protein butir- butiran. Urea juga dapat memenuhi
kebutuhan protein untuk pertumbuhan padaproduksi ternak ruminansia.
Sumber : a. Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Departemen Peternakan FP USU
(2008)b. NRC (1995)
2.Penentuan ke ternak
Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan
komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah
dicerna, karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber
protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral). Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:
Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang
di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu
daerah dan daerah lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat)
perlu dihitung terlebih dahulu.
Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama
kandungan energi dan potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung
minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein, serat kasar 12%.
3.Proses penyusunan ransum
Penyusunan ransum ternak adalah cara meramu bahan-bahan pakan ternak Untuk
memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan tingkat produksi yang diinginkan, pada bagian
sebelumnya telah diterangkan bahwa zat-zat makanan utama yang dibutuhkan oleh ternak

Ruminansia dan harus mendapat perhatian terlebih dahulu adalah bahan kering, protein, energi,
kalsum dan posfor . cara terbaru dalam menyusun ransum adalah didasarkan pada 100 % bahan
kering (dry matter basis), walaupun demikian masih memungkinkan untuk merubahnya kedalam
bentuk yang tersedia (as-fed basis). Dalam menyusun ransum seimbang (balance ration)
dibutuhkan data- data :
1. Data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .
2. Data komposisi zat-zat makanan dari bahan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum.

Tahapan-tahapan didalam menyusun ransum seimbang adalah sebagai berikut


1. Harus megetahui kondisi ternak yang akan diberi pakan apakah ternak dalam
keadaan pertumbuhan ,produksi atau kerja.
2. Siapkan data kebutuhan ternak akan zat-zat makanan .
3. Tentukan bahan-bahan pakan yang akan digunakan dalam menyusun ransum,
dengan mengingat syarat-syaratnya.
4. Siapkan data komposisi zat-zat makanan dari bahan-bahan pakan yang akan
digunakan.
5. Disusun daftar bahan bahan pakan yang digunakan dan komposisi zat-zat
makanannya ,dengan membuatnya kedalam bentuk tabel.
6. Diperhitungkan ransum seimbang .
7. Diteliti susunan zat-zat makanan ransum seimbang ,apakah sudah sesuai
dengan kebutuhannya .
8. Apabila ransum telah seimbang ,cek kembali dengan menjawab pertanyaan
pertanyaan sebagai berikut
a. Apakah ada kelebihan zat-zat makanan didalam ransum ,bila ada sampai seberapa jauh
pengaruhnya terhadap ternak . bila kekurangan zat-zat makanan ,apa pengaruhnya terhadap
ternak dan apa yang harus anda kerjakan .
b. Apakah ransum tersebut telah merupakan ransum yang murah, tetapi

telah memenuhi syarat .


c. Perlukah ditahbah pakan tambahan pada ransum tersebut seperti
garam,mineral,kapur dan sebagainya.
B. Formulasi ransum
Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan pada ternak selama 24 jam.
Sedangkan yang dimaksud dengan bahan pakan adalah komponen ransum yang dapat
memberikan manfaat bagi ternak yang mengkonsumsinya Ransum merupakan factor yang sangat
penting di dalam suatu usaha peternakan, karena ransum berpengaruh langsung terhadap
produksi ternak. Perubahan ransum baik secara kualitas maupun kuantitas maupun perubahan
pada komponennya akan dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup serius. Sehingga
untuk mengembalikan produksi seperti semula sebelum perubahan ransum cukup sulit dicapai
dan akan memakan waktu cukup lama.
2.

Metode atau cara yang ada

Untuk menyusun ransum dapat digunakan metoda yang sesuai dengan kepentingannya.
Dalam garis besarnya, ada 5 (lima) metoda yang bisa digunakan yaitu:
1. Trial and error method
2. Pearson's square method
3. Exact method
4. Simultaneous method
5. Linear programming method.
1. Trial and error method
Sesuai dengan namanya, dalam metoda ini ada langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu:
memilih bahan pakan yang akan digunakan
menghitung berulang kali sampai mendapatkan hasil yang sesuai atau mendekati dengan apa
yang dicari.
2. Pearson's square.
Pearsons square merupakan metoda sederhana dan hanya dipakai untuk mencampur dua
macam bahan yang berbeda kadarnya menjadi satu campuran yang menjadi kadar diantara kedua
bahan yang dicampurkan. Jadi metoda ini hanya berlaku untuk satu macam zat gizi.
Suatu Contoh:

Misalnya, pakan untuk ayam pullet (dara) umur 10-16 minggu mengandung protein 16,8%
(menurut spesifikasi pembibit ayam Charoen Pokphand). Pakan tersebut akan dibuat dengan
mencampur 3 bahan pakan, yaitu dedak + 10% PK, jagung + 8% PK, dan konsentrat petelur 3238% PK (tergantung pabrik pembuatnya), misalnya 36%PK.
Dari ketiga bahan tersebut dapat dijelaskan bahwa jagung adalah sebagai sumber energi,
konsentrat sebagai sumber protein, dan dedak bahan pakan yang banyak digunakan sebagai
penyubal karena kandungan energinya yang rendah(kecernaannya rendah). Oleh karena itu,
dedak dalam penggunaannya dibatasi antara 25-30%, dalam hal ini kita batasi 25%.
Sehingga untuk membuat 100 kg campuran pakan dengan kandungan protein 16,8%, maka
perhitungannya adalah sebagai berikut:Dedak yang digunakan 25% dari 100 kg campuran pakan
= 25 kgMaka campuran jagung dan konsentrat = 100-25=75 kgDedak sebanyak 25 kg memberi
sumbangan protein sebanyak 10% x 25 kg = 2,5 kgSementara, campuran bahan pakan sebanyak
100 kg dengan kandungan protein 16,8% setara 16,8% x 100 kg = 16,8 kg protein. Karena
sumbangan protein dari dedak sebanyak 2,5 kg, maka protein yang harus dipenuhi dari
konsentrat dan jagung sebanyak 16,8-2,5= 14,3 kg. Jagung dan konsentrat sebanyak 75 kg
mengandung protein sebanyak 14,3 kg, maka kualitas proteinnya = 14,3/75 x 100% = 19,07%.
Berapa kg konsentrat dan jagung yang digunakan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
Konsentrat 36

11,07

19,07

Jagung

16,93 +
28,00

Maka, susunan ransum ayam pullet adalah:


Konsentrat = 11,07/28 x 75 kg = 29,65 kg
Jagung
= 16,93/28 x 75 kg = 45,35 kg
Dedak
= 25,00 kg
Total
= 100,00 kg

4.Exact method
Metoda ini lebih praktis digunakan untuk menyusun ransum ruminan, walaupun dapat pula
digunakan untuk non ruminan. Sebagai contoh, ransum sapi dengan berat 200 kg untuk
digemukkan. Langkah yang harus diketahui adalah:
a. Kebutuhan gizinya
b. Macam dan kandungan gizi bahan pakan yang akan dipakai
c. Jumlah pakan hijauan untuk seluruh kebutuhan TDN
d. Jumlah konsentrat untuk menggantikan sebagian dari pakan hijauan
a. Kebutuhan gizi harian untuk sapi dengan berat 200 kg. Berdasarkan tabel kebutuhan gizi bagi
sapi dengan berat 200 kg adalah sebagai berikut:
BK (kg)
5

PK (kg)
0,61

TDN (kg)
3,7

Ca (%)
0,023

P (%)
0,017

b. Macam kandungan gizi bahan pakan yang akan digunakan


Bahan

BK

PK

Rumput
Jagung

15
86

2,6
8,9

TDN
(%)
9
78

Ca

0,9
0,02

0,07
0,31

c. Jumlah pakan hijauan untuk keseluruhan kebutuhan TDN


Kebutuhan atau jumlah TDN seluruhnya hanya bila dari rumput
= jumlah kg rumput x % TDN rumput
3,7 = jumlah kg rumput x 9/100
Jadi, jumlah (kg) rumput = 3,7/0,09 = 41 kg
Rumput segar sebanyak 41 kg mengandung:
-BK sebesar 41 x 15/100 = 6,15 kg
-PK sebesar 41 x 2,6/100 = 1,07 kg
-TDN sebesar 41 x 9/100 = 3,69 kg
Berdasarkan kebutuhan gizi adalah:

Kebutuhan
Tersedia
Kelebihan

BK (kg)
5
6,15
1,15

PK (kg)
0,61
1,07
0,46

TDN (kg)
3,7
3,69
cukup

Rumput sebanyak 41 kg bagi sapi seberat 200 kg adalah terlalu bulky, sehingga perlu
dikurangi dengan jalan disubstitusikan dengan konsentrat (jagung). Berdasarkan kandungan
TDN, 1 kg rumput mempunyai 9/100 kg TDN dan 1 kg jagung mempunyai 78/100 kg TDN.
Jadi, nilai TDN untuk 1 kg jagung setara dengan 0,78/0,09 kg rumput = 8,67 kg (untuk
satuan TDN yang sama). Berdasarkan kandungan bahan kering (BK), maka 1 kg jagung dengan
86% BK mengandung 0,86 kg BK. Sementara, 8,67 kg rumput dengan 15% BK setara dengan
1,34 kg BK. Jadi, bila 8,67 kg rumput diganti dengan 1 kg jagung untuk nilai TDN yang sama,
ternyata masih kekurangan BK sebanyak 1,34-8,67 = 0,44 kg BK. Kelebihan BK sebanyak 1,15
kg yang berasal dari rumput bila diganti dengan jagung agar tidak ada kelebihan maka
diperlukan jagung sebanyak 1,15/0,44 kg = 2,61 kg.
- Untuk BK : rumput menyediakan = 18,38 x Total TDN yang dikandung dalam jagung sebanyak
2,61 kg setara dengan rumput sebanyak
=2,61 x 8,67 kg rumput
=22,62 kg rumput.
Bila digunakan jagung sebanyak 2,61 kg sebagai pengganti sebagian rumput maka rumputnya
harus dikurangi sehingga tinggal 41 kg - 22,62 kg rumput = 18,38 kg rumput.
Dari perhitungan tadi, ransumnya menjadi: 18,38 kg rumput dan 2,61 kg jagung.
d. Pengujian kandungan gizi ransum
0,15 kg

= 2,76 kg BK

Jagung menyediakan

= 2,61 x 0,86 kg

= 2,24 kg BK

Jadi, jumlah BK tersedia sebanyak

= 5 kg BK

Sedangkan jumlah BK yang dibutuhkan

= 5 kg BK

- Untuk PK: rumput menyediakan = 18,38 x 0,026 kg


Jagung menyediakan
Jadi, jumlah PK tersedia

= 2,61 x 0,089 kg

= 0,48 kg PK
= 0, 23 kg PK
= 0,71 kg PK

Sedangkan jumlah PK dibutuhkan


- Untuk TDN: rumput menyediakan = 18,38 x 0,09 kg

= 0,61 kg PK
= 1,66 kg TDN

Jagung menyediakan = 2,61 x 0,78 kg

= 2,04 kg TDN

Jadi, jumlah TDN tersedia

= 3,37 kg TDN

Jadi, jumlah TDN dibutuhkan

= 3,37 kg TDN

Mengingat kebutuhan akan energi sudah tercukupi, maka susunan ransum tersebut sudah
cukup baik. Adanya kelebihan protein bukan merupakan hal yang penting karena sebagai faktor
pembatas disini adalah energi dan bukan perotein. Untuk kandungan mineral bisa ditentukan dan
bila masih dibawah kebutuhan (kurang) bisa ditambahkan mineral mix atau bahan pakan sumber
mineral yang lain.
4. Simultaneous equation method.
Metoda ini disebut juga dengan persamaan aljabar, karena ada dua hal yang dicari,
misalnya PK dan ME, disamping menggunakan bahan pakan yang lebih dari dua macam. Cara
pemakaiannya seperti contoh pada perhitungan harga bahan pakan berdasarkan kandungan zat
gizinya.
5. Linear programming method.
Metoda ini merupakan metoda yang diharapkan bisa menghitung atau menjawab jenis
bahan pakan berdasarkan kebutuhan ternak dan mempertimbangkan kendala-kendala dalam
penyusunan ransum. Perhitungannya lebih komplek dan biasanya perhitungan ini dengan
menggunakan software (program) komputer. Program yang akan digunakan adalah program
Lindo (DOS). Berikut adalah beberapa perintah yang digunakan dalam formulasi ransum dengan
menggunakan Lindo.
MIN, minimize (digunakan untuk memerintahkan perhitungan penggunaan bahan pakan secara
minimal)
ST, subject to
EXT, extended (digunakan untuk menambah persamaan)
END, (digunakan untuk perintah selesai menambah persamaan)
DEL, delete (digunakan untuk menghapus persamaan)
ALTER (digunakan untuk merubah koefisien suatu variable dalam persamaan)

LOOK (digunakan untuk melihat persamaan yang telah dibuat


ALL (untuk melihat semua persamaan dari baris persamaan ke)
GO (digunakan untuk memproses data)
SAVE (digunakan untuk menyimpan data persamaan yang telah dibuat)
QUIT (keluar dari program Lindo)
RETRIEVE (digunakan untuk memanggil file data yang pernah ada)
2

Manfaat atau Gunanya


Ransum merupakan factor yang sangat penting di dalam suatu usaha peternakan, karena
ransum berpengaruh langsung terhadap produksi ternak. Perubahan ransum baik secara kualitas
maupun kuantitas maupun perubahan pada komponennya akan dapat menyebabkan penurunan
produksi yang cukup serius. Sehingga untuk mengembalikan produksi seperti semula sebelum
perubahan ransum cukup sulit dicapai dan akan memakan waktu cukup lama.

BAB II. METODE PRAKTIKUM


A.

1.
2.
3.
4.

Alat dan Bahan pakan


Alat
Pensil
Meja
Kertas
penggaris
Bahan
1.sampel bungkil sawit
2.sampel konsentrat
3.sampel tepung ikan ( baru)
4.sampel tepung ikan lama
5. sampel CGM
6.sampel bungkil kedelai( lama)
7. sampe bungkil kedelai (baru)
8.sampel bungkil kelapa
9.sampel tepung tulang
10.sampel molases

11.sampel tepung tapioka


12.sampel tepung onggok(lama)
13. sampel tepung gaplek
14.sampel .dedak padi
15.sampel jagung tongkol muda
16 sampel jagung tongkol jelek
17.sampel jerami jagung
18.sampel mineral suplemen
19.sampel kalsium
20.sampel mineral 12
21.sampel garam
22.sampel Urea
23.sampel indgo

B. Formulasi ransum
Alat
Satu unit komputer dan
Alat tulis

Bahan
Petunjuk program LINDO
BAB III. HASIL PAKTIKUM
A . Bahan Pakan
N
NAMA
O
PAKAN
1

Bungkil
sawit(lama)

Konsentrat(
KL)
tepung ikan
(baru)

3
4
5
6
7
8
9
1
0
11

tepung ikan
lama
CGM
bungkil
kedelai
( lama)
bungkil
kedelai
(baru)
bungkil
kelapa
tepung
tulang
molases

tepung
tapioka

NAMA
LATIN

PROSES
BAHAN
PAKAN

Elaeis
guineans
is
concent
rat

pengiling
an
pengilin
gan
Pengilin
gan

CIRI-CIRI
WAR
NA
coklat

BAU

RAS
A

tengi
k

protein

kuning
coklat

protein
Ikan
busu
k

Pengilin
gan
Zea
mays
Glicine
max

pengiling
an

putih

Glicine
max

pengiling
an

putih

Cocos
nucifera

pengilin
gan
pengiling
an

coklat

Sacchar
um
officinar
um
Manoho
t
esculent
a

kuning

coklat
hitam

Putih

SUMB
ER

tengi
k
haru mani
m
s

energi

1
2

tepung
onggok(lam
a
tepung
gaplek

1
3
1
4
1
5

dedak padi
jagung
tongkol
muda

1
6

jagung
tongkol
jelek
jerami
jagung
mineral
suplemen
kalsium

1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3

Manihot
esculent
a
Cassava
root
meal
Oryza
Pengilin
sativa
gan
Zea
Pengilin
mays
gan

Coklat

Zea
mays
Zea
mays

Pengilin
gan

Coklat
Pink
muda
Cream

NaCl

Urea
indIgo

Coklat

Kunin
g
keabua
n
Pengiling Kuning
an

mineral 12
garam

Coklat

Indigo
sp

Merah
bata
pengkista Putih
l
Pengkrist Putih
al
Hijau
tua

B.Program lindo
LP OPTIMUM FOUND AT STEP

10

OBJECTIVE FUNCTION VALUE


1)

1.00000000

VARIABLE
VALUE
BD
.091895
TI
.100000
BK
.030000
BS
.030000
TD
.000000
J
.450000
D
.262471
S
.000000

REDUCED COST
.000000
.000000
.000000
.000000
.000000
.000000
.000000
.000000

Asi
n

M
MG
I
SAVE

.020000
.015633
.020000
.000000

.000000
.000000
.000000
.000000

ROW SLACK OR SURPLUS DUAL PRICES


2)
.000000
-1.000000
3)
.000000
.000000
--MORE

BAB IV. PEMBAHASAN


A .Bahan Pakan
Biji-bijian
Bahan makanan sumber energi asal biji-bijian yang biasa digunakan sebagai makanan
ternak antara lain : padi (gabah, menir, beras), jagung, sorghum. Masalah dalam penggunaan
bahan makanan sumber energi pada ternak ruminansia, bila digunakan dalam jumlah tinggi
sebagai makanan penguat(High Concentration Rations) akan menyebabkan terjadinya
digestve disturbance, oleh karena itu rasio hijauan dan konsentrat perlu mendapatkan
perhatian.
Jagung.
Jagung (Zea mays) merupakan bahan pakan sumber energi yang paling umum
digunakan untuk pakan unggas. Hal ini dikarenakan jagung sangat palatable dan sangat besar
kandungan energinya. Nilai energi yang dapat dimetabolis (metabolisable energy, ME) yang
terkandung dalam jagung digunakan sebagai standard terhadap bahan pakan sumber energi
lain. Kandungan nutrisi jagung giling (dasar bahan kering) adalah 9,0% PK, 4,0% LK, 2,5 %
SK, 1,5% Abu, dan 83% BETN, 0,02% Ca, dan 0,25% P, serta 3,45 kkal/g. Jagung kuning
mempunyai kelebihan adanya xanthophil yang memberikan warna kuning pada produkproduk ternak.

Dedak padi
Produk sampingan dari penggilingan padi (Oryza sativa) adalah dedak Sebenarnya,
pada proses penggilingan padi, hasil yang didapatkan selain beras, adalah bekatul padi
(sebanyak 2-3%), dedak padi (6-8%), dan sekam (20%). Dedak padi adalah by-product utama
yang didapatkan dari proses penggilingan padi dihasilkan dari lapisan bagian dalam biji, lebih
banyak penggunaannya dibandingkan dengan dedak. Hal ini karena kadar serat yang
dikandungnya lebih rendah dan kandungan ME yang lebih tinggi. Namun demikian,
ketersediaan bekatul sangat sedikit karena tidak semua penggilingan padi mengoperasikan
mesin penggiling multiple-stage yang memisahkan bekatul dari dedak. Dedak kualitas bagus
mengandung sekitar 13% PK, 13% lemak, dan 13% serat dan kaya sumber vitamin B dan
trace mineral. Nilai ME dedak padi, selain mengandung serat, relatif tinggi. Sementara itu,
kandungan lemak yang tinggi harus diperhitungkan, dimana hal ini dapat menyebabkan
masalah ransiditas (ketengikan) selama dalam penyimpanan di climat tropis. Dedak padi
mengandung enzim lipolytic yang menjadi aktif ketika dedak dipisahkan dari beras dan
kandungan asam lemak bebas meningkat dengan cepat.
Tabel : Komposisi kimia dedak padi yang didapat dari tipe penggilingan padi yang berbeda
yang biasa digunakan di Asia (%, dasar bahan kering)

Protein Kasar
Serat Kasar
Lemak
Abu

Modern
10,0
12,6-12,9
23,4-31,6
12,8-14,3

Tipe penggiling
Semi-modern
9,0-11,0
15,4-15,9
19,2-19,7
14,1-15,0

Traditional
7,3-7,5
29,3-30,9
6,6-8,6
15,5-20,5

Tepung Ubi Kayu


Ubi kayu (Manihot esculenta) merupakan bahan pakan sumber energi non-tradisional
ubi kayu untuk sebagai bahan pakan sekaligus untuk pembuatan pellet dengan level antara 540%, tergantung jenis.tepung ubi kayu terdiri atas kurang lebih 13,0% air, 2,6% protein,
78,4% TDN, 3,6 % SK, 1,0% lemak, 1,4% abu. Kadar protein dapat di cerna ( termasuk zat
zat amidin ) adalah 2,1% dan MP = 81.
Tepung tulang
Salah satu sumber mineral makro pakan adalah tepung tulang. Tepung ini
mengandung yaitu kalsium 24% dan fosfor 12%. Namun, penggunaannya hanya terbatas
sebagai pelengkap jika nutrisi dalam komposisi bahan baku yang ada tidak mencukupi.
Pabrik pakan umumnya menggunakan meat and bone meal (tepung daging dan tulang)

sebagai sumber mineral dan protein sekaligus. Bahan ini biasanya diimpor dari luar negeri.
Penggunaan tepung tulang sudah jarang dilakukan, apalagi sudah banyak sumber mineral
sintetis yang diproduksi oleh pabrik pembuat bahan baku pakan maupun farmasi.

Tepung ikan
Tepung ikan ini terbuat dari ikan dimana tepung ikan yang baik sekali dan tidak
terlalu banyak duri nya, mengandung lebih dari 60% protein. Bahan pakan memiliki
kandungan nutrisi Air 12%, Protein 53,3%, BETN 4,3%, Serat kasar 8,4%, Lemak 8,4% ,
abu 20,9%. bau tepung ini tidak sedap, karna berasal dari daging ikan. Namun bagus sekali
untuk ternak.
Tepung udang
Tepung udang yang di buat hanya dari dagingnya saja, jauh lebih banyak mengandung
zat zat protein. oleh karena sudah terlepas dari kulit kulit dan kepalanya, maka kadar zat
zat mineral pun rendah sekali. Susunan zat zat makanan dari tepung udang adalah : 16 % air,
75 % protein, 0% hidrat arang, 3,0% lemak dan 6,0% abu. Kadar protein yang dapat dicerna
adalah kira kira 60,0% dan nilai Mp =45.
Molasses tebu
Molasses atau tetes merupakan by-product industri gula tebu (Saccharum
officinarum) dan merupakan penggati biji-bijian yang penting. Molasses mengandung
karbohidrat yang tinggi dan sangat palatable. Kandungan ME kira-kira 70% dari jagung. Ada
dua type molasses, yaitu final atau blackstrap dan high-test. Final molasses mempunyai
kandungan sedikit gula dan tinggi kandungan abu (terutama kalium). Sementara high-test
molasses, baik berbentuk cairan maupun padatan digunakan sampai 30% dalam pakan
unggas. Penggunaan level yang tingg pada final molasses akan menghasilkan permasalahan
dan menyebabkan excreta yang basah. Susunan zat makananya adalah 20,3% air, 1,3% pk,
74,9% BETN, 0,0 SK, lemak dan abu 3,5 %.kadar protein dapat di cerna adalah 0,4%,
sedangkan MP nya 59.
Bungkil kedelai
Bungkil kedelai (Glycine max) merupakan legum penting yang ditanam untuk
kebutuhan pangan dan minyak tanaman Bungkil biji kedelai mengandung. Bungkil kedelai

yang diproses dengan baik merupakan sumber potein yang sangat baik untuk semua kelas
unggas, dengan penggunaan yang tidak terbatas. Kadar protein bungkil kedelai lebih tinggi
dan di samping itu kadar lemak nya tidak lah terlalau tinggi sperti kacang tanah dan bungkil
kelpa sawit.Susnan angka analisis nya Air 11,65%, Protein 42,7%, BETN 16,9%, Lemak
10,4%, abu 9,4%. bungkil ini bagus sekali dipakai dalam kombinasi dengan makan yang
bebutir sebangsa padi, keterbatasan ada nya bunkil kedelai, menjadikan bahan pakan ini
memiliki harga yng cukup mahal.
Bungkil sawit
Bungkil sawi tyang bahasa latin nya ( elais guineensis) memiliki warna caoklat dan
berbau tengik. Sebagian besar masyrakat di gunakan sebagai bahan baku pembuatan mnyak
goring, namun ternyata bungkil dari sawit ini pun dapat di gunakan sebagai bahan pakan pada
ternak. Dengan memiliki kandungan nutrisi yaitu Air 10,45%, Protein 35,0%, BETN 24,0%,
Serat kasar 9,5% , Lemak / abu 4,3%. Sehingga bahan pakan yang berasal dari bungkil sawit
ini dapat bagus untuk di berikan kepada ternak sebagai bahan pakan tambahan
Bungkil Kelapa
Merupakan bahan yang berasal dari hasil ikutan ekstraksi minyak daging kelapa
kering (kopra). Dari segi nutrisi tidak memuaskan, tetapi merupakan bahan alternatif yang
penting untuk menutup kekurangan kebutuhan protein pakan. Kekurangan lisin dan metionin
(nutrisi pembatas) dapat ditutupi dengan penggunaan tepung ikan atau asam amino sintetik.
Kandungan nilai gizi bungkil kelapaKandungan Zat Kadar Zat Bahan kering (%)
84.40 Protein kasar (%) 21.00 TDN (%) 81.30Serat kasar (%) 15.00, Lemak kasar (%) 1.80.
Pada ternak babi, penggunaannya tidak boleh lebih dari 20 %.
Garam
Garam yang dimaksud disini adalah garam dapur (NaCl) dimana selainberfungsi
sebagai mineral juga berfungsi sebagai pembatas konsumsi yangberlebihan bagi ternak
karena adanya rasa asin. Garam dapur ditambahkan sebanyak 0,5% untuk meningkatkan
tingkatkonsumsi konsentrat berenergi tinggi sampai menjadi 1,25 - 1,75 kg/ekor/hari.Semula
pengaruhnya terlihat meningkatkan konsumsi kemudian menurunkansampai jumlah yang
dikehendaki.
Urea
Urea yang ditambahkan dalam ransum ruminansia dengan kadar yangberbeda - beda,
ternyata dirombak menjadi protein oleh mikroorganisme rumen.Urea merupakan bahan pakan
sumber nitrogen yang dapat difermentasi di dalamsistem pencernaan ruminansia. Urea dalam

proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi protein kasar
dan daya cerna. Urea biladiberikan kepada ruminansia akan melengkapi sebagian dari
kebutuhan protein,karena dapat disintesis menjadi protein oleh mikroorganisme dalam
rumen.
C.
Program lindo
Pada praktikum ini menggunakan program lindo dimana penggunaan bahan pakan di
optimalkan sbb :
a)
Bungkil kedelai digunakan antara 5 10 %.
b)
Tepung ikan di gunakan antara 5 10 %.
c)
Dedak digunakan 25 30 5.
d)
Jagung digunakan antara 5 45 %.
e)
Tepung daun indigo di gunakan 2 %.
f)
Bungkil kelapa di gunakan 3 8 %.
g)
Bungkil sawit di gunakan 3 8 %.
h)
Minyak di gunakan 2 %.

MIN, minimize (digunakan untuk memerintahkan perhitungan penggunaan bahan

pakan secara minimal)

ST, subject to

EXT, extended (digunakan untuk menambah persamaan)

END, (digunakan untuk perintah selesai menambah persamaan)

DEL, delete (digunakan untuk menghapus persamaan)

ALTER (digunakan untuk merubah koefisien suatu variable dalam persamaan)

LOOK (digunakan untuk melihat persamaan yang telah dibuat

ALL (untuk melihat semua persamaan dari baris persamaan ke)

GO (digunakan untuk memproses data)

SAVE (digunakan untuk menyimpan data persamaan yang telah dibuat)

QUIT (keluar dari program Lindo)

RETRIEVE (digunakan untuk memanggil file data yang pernah ada)

BAB V. KESIMPULAN
Pada praktikum ini mahasiswa dapat mengamati dan mengetahui berbagai jenis bahan
pakan dengan melihat, mencium, meraba, dan merasa, selain itu mahasiswa dapat menyusun
ransum bahan pakan, dan menguunakan program lindo untuk mempermudah perhitungan
dalam menyusun ransum bahan pakan. Didalam pengembangan ransum yang bergizi, yang
cukup memenuhi kebutuhan ternak, dan dalam jumlah tertentu dapat memberikan hasil yang
sesuai dengan tujuannya, maka teknologi dalam menyusun ransum tersebut di atas lebih

banyak memerlukan pengetahuan dan pengalaman. Dengan kata lain, menyusun ransum
adalah mempertemukan kebutuhan zat gizi ternak (untuk hidup pokok, kerja, pertambahan
berat badan, produksi susu, atau produksi telur) dengan zat gizi yang dikandung dalam pakan
(diet).

V. DAFTAR PUSTAKA
Kaharudin, Muzani A.2004. membuat ransum murah dari hasil pertanian dan limbah agro
industri, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Nusa Tenggara Barat.
R. Murni, Suparjo 2008. Buku Ajar Pemanfaatan Limbah Untuk Pakan Ternak. Fakultas
Pertanian.Universitas Jambi.
Mustari, S,P. Dkk, 2000. Pembuatan Pakan Ternak Unggas. Penerbit CV. Amissco. Jakarta.
D. A. LUBIS, 1953. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Kota Bogor.
Parakkasi, 1995. Pembuatan bahan pakan.Ilmu Nutrisi.Jakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM
MK. BAHAN MAKANAN TERNAK DAN FORMULASI
RANSUM
Oleh:
ZOHDIN
NIM. E1C009085
DOSEN
HIDAYAT
Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
MEI 2011
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak dan tidak beracun
terhadap ternak tersebut.Mengenalibahan pakan adalah sebagai kewajiban bagi setiap
mahasiswa yang berada di fakultas peternakan.

Pentingnya bahan pakan khususnya untuk ternak merupakan hal yang tidak bisa kita
pungkiri untuk kita tidak mempelajarinya. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat,
menjadikan kebutuhan protein hewani juga meningkat. Peningkatan jumlahpenduduk diikuti
dengan meningkatnya kebutuhan lahan untuk perumahan. Hal ini menyebabkan luas lahan
pertanian mengalami penurunan, yang berpengaruh pada ketersediaan hijauan sumber pakan
ternak ruminansia dan bahan konsentrat.
Tingginya konsumsi ternak terhadap pakan membuat para peternak sapi,ayam,kambing
maupun hewan ternak lainnya mencari alternative pakan selain hijauan dan dedak padi pada
umumnya.Para peternak pada saat ini telah menambahkan protein,sumber energi,mineral,dan
lain sebagainya. Tentu dengan berbagai jenis pakan yang ada disekitar kita baik dalam bentuk
bungkil maupun limbah dari pertanian dan limbah dari pengolahan tempe dan tahu.
Kebutuhan protein hewani yang kian meningkat, harus diikuti dengan peningkatan produksi
tenak ruminansia sebagai salah satu sumber protein hewani, sebagai upaya untuk mencapai
swasembada daging sapi 2014. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
ternak ruminansia diantaranya dengan perbaikan kualitas bibit ternak (secara genetik),
peningkatan mutu pakan ternak, dan peningkatan kualitas kesehatan ternak.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari pengenalan bahan pakan adalah mahasiswa dapat menjelaskan
berbagai macama bahan pakan sumber energi, protein (hewani dan nabati), hijauan makanan
ternak, vitamin, feedaditive, minerak, obat-obatan, dan bahan pemalsu pakan.
Sedangkan manfaatnya yaitu kita dapat lebih mengenal dan membedakan secara lebih
spesifik antara berbagai macam bahan pakan ternak.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Lubis (2007), Hijauan makanan ternak bahan makanan yang berupa daun-daunan,
kadang-kadang masih bercampur dengan batang, ranting, serta bunganya yang umumnya
masih berasal dari tanaman sebangsa rumput (Graminea, Cyperaceae) atau daun kacangkacangan (Leguminosae) atau jenis lainnya.
Urip Santoso (2003) menyatakan bahwa bentuk fisik bahan makanan dapat dibagi
dalam 3 kelompok yaitu bahan makan butiran ( jagung, kacang-kacangan, sorgum ), bahan
makan berbentuk tepung ( dedak halus, tepung ikan, tepung tulang ) dan bahan makan
berbentuk cairan ( minyak ikan, minyak kelapa, molasses ).Dan pengelompokan iti
dikelompokkan lagi kedalam bahan pakan sumber energi,protein,lemak,dan vitamin.Semua
jenis bahan pakan untuk ternak tentulah sangat bermamafaat untuk ternak.
Sinurat (2000), Limbah pabrik kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan
pakan alternatif ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (BIS)
dan lumpur minyak sawit (Solid Decanter Waste = SDW).
Dr. Stephen Long (2004), yang telah lama menjadi peneliti tanaman, mengatakan
adanya kemungkinan bahwa rumput gajah bisa menjadi salah satu opsi yang membantu untuk
menggantikan bahan bakar minyak pada tahun 2030.
Menurut NH. Mon.eith,E.H (2000) hoult Zea mays merupakan salah satu biji-bijian
yang sangat pentingdan secara geografis paling banyak ditanam karena jagung adalah sumber
protei pada ternak.
Menurut Sarmono (2007), menyatakan bahwa ada beberapa bentuk pakan ayam
buras yaitu tepung halus, tepung kasar, pellet, atau bijian yang utuh. Pakan tepung halus
digunakan untuk fase starter, tepung kasar untuk fase grower, selanjutnya pakan ayam buras
dewasa berbentuk pellet, biji utuh, atau tepung kasar.
Budi Harjho,(2003) mengatakan Bahan-bahan sumber mineral kalsium yang sering
ditambahkan kedalam pakan ternak untuk menambah kandungan nutrisi mineral kalsium
antara lain:
a.

Tepung tulang
Tepung tulang yang diperoses ini mengandung kalsium 24% .dibeberpa pabrik makanan
ternak mempergunakan tepung tulang yang tercampur dengan sisa-sisa daging atau limbah
rumah potong. Sesuai dengan namanya maka tepung tulang ini digunakan untuk tambahan

dan juga sebagai pelengkap untuk melengkapi kandungan nutrisi mineral kalsium pada pakan
ternak.
b. Tepung kerang
Tepung karang atau CaCO3 merupakan sumber kalsium yang baik mengandung kalsium 38%
atau 98% kalsium karbonat, bila menggunakan tepung karang sebagai bahan makanan ternak
sifatnya hanya sebagai pelengkap dan tidak harus di tambahkan tujuanya adalah untuk
menambah nilai mineral kalsium pada pakan ternak.
c.

Garam
Garam dapur atau NaCl ini merupakan bahan alami yang di gunakan untuk melengkapi
mineral-mineral lainnaya yang dibutuhkan oleh ternak, bila menggunakan garam sebagai
tambahan makanan ternak maka tidak boleh lebih dari 0,25%. Disamping itu masih banyak
lagi sumber mineral kalsium yang kini sudah tidak digunakan lagi karena sudah ada buatan
pabrik seperti kapur makan, rock phosphate, dicalsiumphosfate, aragonite, dan gypsum.
E. Salamah (2006)dalam bukunya Ransum untuk ayam Kampung menyebutkan
Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahan pakan
nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan daun-daunan yang
suka dimakan oleh ayam buras.Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mem
punyai kandungan protein tinggi seperti seperti bungkil kelapa.bungkil kedele dan bahan
pakan asal kacang-kacangan. Dan tentu saja kaya akan energi seperti jagung. Berikut
penjelasan skilas tentang bahan pakan tersebut.
Zardian utama,(2001) mengatakan Probiotik starbio adalah koloni bibit mikroba
(berasal dari lambung sapi) yang dikemas dalam campuran tanah dan akar rumput serta daundaun atau ranting-ranting yang dibusukkan, dalam koloni tersebut terdapat mikroba khusus
yang memiliki fungsi yang berbeda, misalnya Cellumonas clostridium thermocellulosa
(pencerna lemak), Agaricus dan Coprinus (pencerna lignin), serta Klebssiella dan
Azozpirillum transiliensis (pencerna protein). Probiotik starbio merupakan probiotik anaerob
penghasil enzim pemecah karbohidrat (selulosa, hemiselulosa, lignin) dan protein serta
lemak. Manfaat starbio dalam ransum ternak adalah meningkatkan daya cerna, penyerapan
zat nutrisi dan efisiensi penggunaan ransum. Starbio juga dapat menghilangkan bau kotoran
ternak.
Keenan, C.W (1995), Leucaena leucocephala merupakan pohon kecil daun-daunnya
hijau indah dan majemuk, biji-bijinya terdapat dalam polong.
Hanum, (2005) Kulit pisang mengandung kabohidrat cukup tinggi yaitu 18,50%
sehingga dapat digunakan untuk pengganti sebagian jagung atau dedak dalam pakan. Hasil

analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yaitu
68,90% dan karbohidrat sebesar 18,50%. padahal kulit pisang memiliki kandungan
kabohidrat yang masih baik digunakan sebagai pengganti bahan pakan konvensional (jagung)
untuk menekan biaya produksi. Kandungan zat makanan kulit pisang Ambon menurut
Hanum(1989), kadar air 68,90%; pati 8,17%; serat kasar 12,66%. Kandungan protein kasar
berkisar antara 6,52%.
Henni.J. k (2007) mengatakan Pelepah kelapa sawit telah lama kami manfaatkan
menjadi pakan utama bagi sapi-sapi yang ada di peternakan kami, ungkap pria yang akrab
disapa Hen ini dengan lugas.Para peternak di Kelompok Ternak Maju Sejahtera yakin betul
pelepah kelapa sawit memiliki dampak positif bagi pertumbuhan sapi-sapi mereka.Hen
memiliki dua jenis sapi yang dipelihara saat ini, yaitu sapi Bali dan sapi Simmental.Sapi Bali
merupakan sapi plasma nutfah Indonesia. Sapi ini merupakan hasil domestikasi dari banteng
(Bibos Banteng), jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional
Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia
ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di
berbagai daerah di Indonesia.
Hermawati, (2003)mengatakan Pakan buatan yang mengandung tepung kulit pisang
dengan kadar serat 30%, 50% dan 70% dapat diterima sebagai alternatif pakan ayam broiler
untuk menghasilkan daging dengan kadar kolesterol rendah. Penggunaan tepung kulit pisang
sebagai bahan pakan ayam broiler sebaiknya pada kadar 30% atau 50%. Hal tersebut dapat
dilihat berdasarkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, berat
karkas, kolesterol daging menghasilkan nilai yang cukup baik. Kesimpulan dari hasil
penelitian ini bahwa pemberian pakan buatan yang mengandung tepung kulit pisang dapat
menghasilkan daging ayam broiler dengan kadar kolesterol rendah.
Henk W. Hoogenkamp (2003),menuturkan dalam Asia Pacific Food Industry,
perusahaan pengolahan makanan dan daging di berbagai negara termasuk di Asia kini mulai
berlomba memprogramkan penggunaan dedak padi stabilisasi sebagai bahan/ramuan kunci
bagi optimalisasi kualitas produk mereka. Hasil-hasil penelitian di lembaga-lembaga
penelitian dan universitas di Amerika Serikat, Eropa dan Asia (Thailand dan Pilipina) telah
mengkonfirmasi kemampuan dedak padi stabilisasi mengikat air dengan intensitas yang
tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang dibanding isolat protein kedelai pada tingkat
penggunaan 4%.Dedak padi yang telah dikenal sebagai bahan untuk makanan suplemen dan
fungsional, dalam bentuk terstabilisasi memiliki potensi untuk meningkatkan sifat fungsional
dan stabilisasi emulsi daging dan daging giling kasar.

Suprapto dan Rasyid(2002), dalam penelitiannya mengatakan Pemanfaatan limbah


merupakan salah satu alternative untuk menaikkan nilai ekonmi limbah tersebut.Pemanfaatan
limbah pertanian diantaranya adalah tongkol jagung, yang selama ini hanya dijadikan sebagai
pakan ternak atau hasil industri minyak jagung yang tidak diolah kembali menjadi sesuatu
yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Untuk itulah dalam penelitian ini akan dimanfaatkan
limbah pertanian yaitu tongkol jagung sebagai penghasil glukosa, sehingga limbah ini dapat
bermanfaat bagi penigkatan nilai tambah limbah pertanian. Seiring dengan kebutuhan jagung
yang cukup tinggi, maka akan bertambah pula limbah yang dihasilkan dari industri pangan
dan pakan berbahan baku jagung. Limbah yang dihasilkan diantaranya adalah tongkol jagung
yang biasanya tidak dipergunakan lagi ataupun nilai ekonominya sangat rendah. Umumnya
tongkol jagung dipergunakan sebagai pakan ternak sapi, ataupun di daerah pedesaan tongkol
jagung ini dapat dimanfaatkan sebagai obat diare .
Garcia et al. (2004) mengamati bahwa kecernaan pakan yang mengandung sorghum
dengan kandungan maupun tanpa kandungan tannin berbeda ketika dihadapkan dengan suhu
lingkungan yang berbeda. koefisien kecernaannya lebih tinggi pada suhu lingkungan 32oC
dibanding 25oC.
Suprapto dan rasyid,(2002)mengatakan bahwa Tanaman jagung termasuk jenis
tanaman pangan yang diketahui banyak mengandung serat kasar dimana tersusun atas
senyawa kompleks lignin, hemiselulose dan selulose (lignoselulose), dan masing-masing
merupakan senyawa-senyawa yang potensial dapat dikonversi menjadi senyawa lain secara
biologi. Tanaman jagung yang diambil khasiatnya adalah bagian buah ,tongkol, kulit dan
menir jagun,semua itu berguna bagi pakan ternak. Selulose merupakan sumber karbon yang
dapat digunakan mikroorganisme sebagai substrat

dalam proses fermentasi untuk

mengahsilkan produk yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.


Allen D. Tilman dkk (2003) menyatakan bahwa pemberian vitamin harus cukup
tinggi untuk mencegah tanda-tanda defisiensi dan menghasilkan pertumbuhan maximum
seperti pemberian vitamin A, B komplek yang dalam hal ini kebutuhan akan riboflavin akan
dipengaruhi oleh takaran protein dalam makanan karena pemberian vitamin sangat penting
untuk keperluan metabolisme KH tubuh.
Dwiyanto, dkk. (2001). Hasil ikutan tanaman tebu merupakan pakan sumber serat
atau energi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia adalah pucuk tebu,
daun tebu, ampas tebu (bagase), blotong dan tetes (molases). Pucuk tebu memiliki daya cerna
dan nilai gizi yang relatif rendah, hal tersebut dapat dilihat dari kandungan serat kasarnya
yang cukup tinggi (42,30%). Akan tetapi dengan tindakan pengolahan kimiawi, hayati dan

fisik, secara signifikan mampu meningkatkan daya cerna, kandungan gizi dan konsumsi
pakan.
III. MATERI DAN METODA
3.1 Waktu Dan Tempat
Adapun pratikum Bahan Pakan Dan Formulasi Ransumdiadakan pada hari jumat
tanggal 27 April 2012 jam 02.00 bertempat di Laboratorium Nutrisi Dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
3.2 Materi
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum pengenalan bahan pakan terdiri dari :
1) bahan pakan sumber energi, tepung ikan, tepung kerang, tepung darah, tepung tulang,
tepung bekicot, tepung kedelei, ampas tahu, bungkil kedelei, pati, tepung jagung, 2) bahan
pakan sumber energi, jagung, menir, tongkol jangung, bis, sekam, molasses, 3) bahan pakan
sumber mineral, tepung cangkang keong, tepung kulit kerang, tepung tulang, tepung darah,
4) bahan pakan sumber limbah pertanian/agroindustri, ampas tahu, bungkil sawit, pelepah
sawit, 5) hijauan tanaman pakan, rumput gajah, rumput meksiko, rumput gajah, rumput
setaria, rumput benggala, rumput lapang, calopogonium, lamtoro, kaliandra, 6) bahan palsuan
pakan, pasir, serbuk gergaji, sekam, serbuk batu bata, tepung kapur,7) adiktif pakan dan obatobatan lainnya.
3.3 Metoda
Pada praktikum pengenalan bahan pakan adapun metodanya yaitu praktikan diminta
untuk mengelompokan bahan pakan sumber protein hewani dan nabati, sumber energi,
hijauan makanan ternak, vitamin, aditif, mineral, obat-obatan dan bahan pemalsuan
pakan.Praktikan juga mendengarkan dan memperhatikan asdos menjelaskan pengelompokan
bahan pakan yang ada, kemudian di catat dibuku diktat dan disalin kembali di laporan
sementara praktikum.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Pengenalan Bahan Pakan
Pada praktikum pengenalan bahan pakan ini kita membahas beberapa macam jenis
pakan.Adapun bahan pakanan dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu bahan pakanan yang

berasal dari hewan, bahan makanan yang berasal dari tumbuhan dan palsuan bahan pakan
serta suplemen.
1. Bahan Pakan Sumber Protein
a. Protein Hewani
Adapun pengelompokan bahan pakan yang merupakan jenis protein hewani pada tabel
dibawah ini.
No

Bahan pakan

Tepung ikan

2
3
4

Bentuk

Tekstur

Warna

Bau

Tepung

Halus

Cokelat

Amis

Tepung darah

Tepung

Halus

Coklat tua

Amis

Tepung bekicot

Tepung

Halus

Abu-abu

Amis

Gumpal

Lembut

Hitam

Amis

Tepung Jeroan
ikan

fisik

Pakan sumber energi adalah bahan pakan yang memiliki kandungan protein kasar >
20% dan serat kasar < 18%.Ini dapat berupa asal hewani atau nabati.Menurut Antan (2002)
Pakan sumber protein yang baik adalah yang berasal dari tumbuhan seperti bungkil dan
bakatul, juga yang berasal dari hewani seperti tepung ikan.Sunarso et al. (2009), Zat pakan
(zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna, dapat diserap dan
bermanfaat bagi tubuh (ada 6 macam zat pakan: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan
vitamin
Tepung ikan merupakan sumber protein utama bagi unggas, karena bahan makanan
tersebut mengandung semua asam-asam amino yang dibutuhkan ayam dalam jumlah cukup
dan teristemewa merupakan sumber lisin dan methionin yang baik.Penggunaan tepung ikan
dalam ransum unggas seringkali harus dibatasi untuk mencegah bau ikan yang meresap ke
dalam daging atau telur.Tepung ikan merupakan bahan pakan sumber protein hewani yang
mudah didapat tetapi merupakan bahan pakan yang penting karena mempunyai kandungan
protein yang lebih baik daripada sumber protein yang berasal dari nabati.Hal ini sesuai
dengan teori Nurhayati (2008) yang menyatakan tepung ikan merupakan bahan pakan sumber
protein yang paling baik dibandingkan dengan bahan yang lainnya.
b. Protein Nabati
Adapun pengelompokan bahan pakan yang merupakan jenis protein nabati pada tabel
dibawah ini.

No

Bahan pakan

Tepung kedele

Ampas tahu

Bungkil kedele

Bentuk
fisik
Tepung
Gumpalan
lembab
Kasar

Tekstur

Warna

Bau

Halus

Kuning

kedele

Halus

Putih

Asam

Halus

Coklat

Asam

Putih
4

Tepung jagung

Tepung

Kasar

kekuning-

Tidak bau

kuningan
5

Pati

Tepung

Kasar

Putih

Tidak bau

BIS

Serbuk

Kasar

Coklat

Bau sawit

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa ampas tahu merupakan sumber protein nabatai
yang sering digunakan dalam ransum ternbak terutama ruminansia.Hal ini seuaia dengan teori
Parrakkasi.A.(1995) yang menyatakan bahwa bungkil kedele, ampas tahu merupakan bahan
pakan sumber protein nabati yang lazim digunakan sebagai pakan ternak.
Tepung Kedele Keuntungan: mengandung lisin asam amino essensial yang paling
essensial dan aroma makanan lebih sedap, penggunaannya 10%. Kekurangan: mengandung
zat yang dapat menghambat enzim tripsin, dapat dikendalikan dengan cara memasak.
Kandungan

gizi:

Protein:

39,6%,

Lemak=14,3%,

Karbohidrat=29,5%,

Abu=5,4%,

Serat=2,8%, Air=8,4%, Nilai ubah=3-5.


Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa.Sebagai bahan
ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi

Protein=17,09%, Lemak=9,44%,

Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.


Bungkil kedelei merupakan limbah dari industri minyak biji kedele. Bungkil ini sangat
disukai ternak namun, penggunaannya harus diperhatikan karena zat penghambat tripsin
mungkin masih tersisa pada bungkil kedele yang diproduksi dengan pemakaian suhu yang
rendah Hal ini dipertegas oleh pendapat Suhendra (2004)Setelah dilakukan pengujian secara
kuantitatif bahwa di dalam bungkil kedele masih terdapat suatu senywa penghambat,
sehingga penggunaan harus diperhatikan.
2. Bahan Pakan Sumber Energi

Dikatakan sumber energi karena memiliki kadar Serat kasar <18%, Protein kasar <20%,
dan dinding sel <35%.
a. Bentuk Biji-bijian atau Butiran butiran
Adapun pengelompokan bahan pakan yang merupakan jenis Biji-bijian atau Butiran
butiran pada tabel dibawah ini
Bahan

Bentuk

Berat

pakan

fisik

(g)

Jagung

Butiran

Menir

Butiran

No

Ukuran (mm)
Warna
Panjang

Lebar

0,1343

7mm

8mm

Kuning

0,36

2mm

2mm

Putih

Bau

Tidak
bau
Bau
beras

Petter (2002), menyatakan bahwa dedak mempunyai produk yang beraneka, karena
dapat berbentuk bekatul, dedak halus, kurang halus, sedang, kasar dan kasar sekali. Dari hasil
pemeriksaan laboratorium terhadap dedak halus yang berasal dari bahan kering udara
diketahui bahwa komposisinya11,7 % air, 8,9 % protein, 13,1 % abu mineral, 5,6 % lemak,
16,1 % serat kasar dan 44,6 % bahan tepung.
Dari tabel dapat dijelaskan bahwa pati, Menir, sekam padi, dan jagung merupakan
bahan-bahan pakan sumber energi selain tongkol jagung atau sorghum dan padi, Padi bahan
pakan sumber energi yang cukup mahal disamping itu padi merupaan bahan pakan pokok
manusia sehingga jarang atau tidak pernah digunakan sebagai bahan pakan ternak kecuali
yang berkualiyas yaitu pecahan-pecahan besar dari penggilingan.
Pati, Menir, sekam padi dan jagung merupakan sumber energi yang utama karena
kandungan karbohidratnya. Hal ini sesuai dengan teori Sembiring (2001) yang menyatakan
bahwa bahan pakan sumber energi yang utama adalah bahan pakan yang kandungan
utamanya berupa karbohidrat yang mana lebih mudah ditebolisme daripada energi yang
berasal dari lemak.
Untuk dedak padi/ sekam padi walaupun hasil ikutan dari penggilingan beras akan
tetapi masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber berenergi. Hal ini sesuai dengan teori Trobos
(2007) yang menyatakan dedak padi atau sekam padi merupakan hasil ikutan dari
penggilingan beras yang masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber energi, yang
berbentuk bubuk/ serbuk.

b. Bentuk Cairan
Adapun pengelompokan bahan pakan yang merupakan jenis sumber energy yang
berbentuk cair pada tabel dibawah ini
No

Bahan pakan

Molases

Bentuk
fisik

Warna

Kental

Bau

Rasa

Hitam

Madu
Manis
pekat
Molases adalah sebuah produk dari Limbah industry pembuatan kecap. Molases
memiliki warna hitam pekat, tekstur kental, rasanya manis dan baunya seperti madu.
3. Bahan Pakan Sumber Mineral
Adapun pengelompokan bahan pakan yang merupakan sumber energy pada tabel
dibawah ini
No

Bahan pakan

Bentuk fisik

Warna

Bau

Tepung kulit kerang

Tepung

Abu-abu

Amis

Tepung tulang

Tepung

coklat

Amis

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa kandungan dari tulang, kerabang telur, kulit
karang adalah cadanp sehingga jika dibuat tepung dan dicampukan kedalam ransum akan
berperan sebagai sumber mineral.
Tepung tulang, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang merupakan bahan pakan
sumber mineral yang sering digunakan dalam ransum ternak. Hal ini sesuai dengan teori
Handaka (2008) yaitu bahan-bahan pakan sumber mineral antara lain tepung tulang, tepung
kulit kerang, mineral supplement.
Warna dari 3 macam bahan pakan sumber mineral hampir sama yaitu abu-abu karena
mineral merupakan bahan anorganik yang merupakan abu, setelah melalui proses
pembakaran dalam tanur.
4. Bahan Pakan Asal Limbah Pertanian / Agroindustry
Adapun pengelompokan bahan pakan yang merupakan bahan pakan asal limbah
pertanian / agroindustry pada tabel dibawah ini

No.

Nama

Asal

Limbah

Limbah

Bentuk

Warna

Bau

Tongkol
jagung

Tongkol

Kuning
Kuning

Apek

Kuning

Menyerupai

kehijauan

tebu

Klobot

Jagung

Kelopak

Bagase

Tebu

Serat

Sawit

Batang

Cream

Tahu/Kedele

Lembek

Putih

Pelepah
sawit
Ampas
Tahu

Menyerupai

Jagung

jagung

Menyerupai
tebu
Menyerupai
tahu

Bahan pakan asal limbah pertanian adalah dimana hasil dari pengolahan pertanian /
agroindustri yang masih memiliki arti atau kandungan zat makanan yang dapat di
manfaatkan. Bahan baku limbah (By-Product Feedstuffs) adalah bahan-bahan yang diperoleh
dari proses komersial dan proses tersebut dilakukan untuk menghasilkan hasil utama dari
bahan baku yang lain, satu dengan istilah lainnya bahan baku itu merupakan hasil sampingan
dari suatu proses pengolahan bahan. Limbah sering memberikan sumbangan yang cukup
besar dalam penyediaan bahan baku terrnak.
Hal diatas sesuai dengan pendapat Syafrial (2005) Nilai nutrisi limbah bervariasi dari
bahan yang bergizi tinggi serta mengandung protein dan energi yang mudah dicerna sampai
kepada produk yang sedikit nilai nutrisinya seperti sekam padi dan kerabang kacang tanah
Menurut Sukria 2001 dalam bukunya yang diterbitkan dari IPB-Press limbah dapat
dikelompokkan kedalam beberapa kategori, yaitu:
a)

High Roughage By-Produck Feed. Kelas ini memiliki kandungan atau nilai nutrisi yang
rendah, yang termasuk dalam kelas ini adalah sekam padi, sekam kedele, sekam kacang
tanah, cottonseed hulls, janggel jagung, jerami, nutshells, dan lain-lain.

b)

Limbah sumber energi dan protein. Limbah ini biasanya berasal dari industri pengolahan
makanan manusia, yaitumolase, limbah dari wet milling dan browing industries.

c)

Waste Product. Biasanya berasal dari pengolahan komersial seperti pabrik, sampah kota, dan
lain-lain.
Beberapa kendala dalam pengembangan energi terbarukan adalah ketersediaan bahan,
keamanan supply, harga, kemudahan penanganan dan penggunaannya.Faktor-faktor eksternal
seperti pengembangan teknologi, subsidi, isu-isu lingkungan dan perundang-undangan

memainkan peranan dalam pengembangan energi terbarukan Koopmans, 2008.Dengan


mempertimbangkan potensi limbah pertanian dan penggunaannya di pedesaan, penelitianpenelitianenergi terbarukan dalam hal pengelolaan konservasi energi dan penggunaan
secaraefisien

adalah

penting

untuk

dilakukan

untuk

mendukung

pembangunan

pertanianberkelanjutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi limbah jagung,


produkturunannya sebagai sumber bio energi dan potensi lain limbah jagung sebagai bahan
baku industri.diantaranya adalah untuk pakan ternak, dalam hal ini pemerintah telah
mencanangkan program pengembangan peternakan secara terintegrasi (Crop Livestock
System/ CLS). Oleh karena itu, optimasi pemanfaatan limbah jagung sangat diperlukan untuk
mendapatkan keuntungan yang optimal. Untuk memperkirakan potensi riil energy limbah
jagung, penggunaan tongkol jagung untuk keperluan bahan bakar sekitar 90% sedangkan
limbah batang dan daun sekitar 30% dari potensi yang ada. Sumber energi terbarukan yang
berasal dari komoditas jagung di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal.Studi
mengenai pengembangan potensi sumber energi terbarukan yang berasal dari komoditas
jagung telah dilakukan di berbagai negara.Potensi pemanfaatan dan pengembangan sumber
energi terbarukan tersebut sangat banyak bukan hanya untuk pakan ternak.sehingga jagung
merupakan bahan komersil.
Jagung memiliki banyak kegunaan, diantaranya yaitu: daun sebagai hijauan pakan
ruminansia, biji jagung sebagai sumber energi ternak unggas, sedangkan limbah jagung
lainnya seperti kulit jagung, bonggol jagung dan dedak jagung dapat dimanfaatkan sebagai
pakan ternak. Pemanfaatan tongkol jagung untuk pakan ternak melalui proses fermentasi
dengan cara mencampur tongkol jagung dengan bakteri trikoderma dan gula pasir Prasetyo,
2002; Ditjen. Peternakan, 2003.Sebuah perusahaan di Iowa, AS berhasil memanfaatkan
tongkol jagung sebagai berbagai produk yang ramah lingkungan. Tongkol memiliki sifat-sifat
seperti salah satu bagiannya keras dan sebagian bersifat menyerap (absorbent), juga sifatsifat
yang merupakan gabungan beberapa sifat, seperti: tidak terjadi reaksi kimia bila dicampur
dengan zat kimia lain (inert), dapat terurai secara alami dan ringan sehingga tongkol jagung
berupakan bahan ideal campuran pakan, bahan campuran insektisida dan pupuk. Serta dapat
digunakan sebagai alas hewan peliharaan karena alami, bersih dan dapat mengurangi bau
tidak sedap.Beberapa ragi seperti Candida polymorpha dan Pichia miso secara aerob dapat
merubah D-xylose mejadi xylitol sebagai produk utamanya dengan efisiensi konversi
mencapai 90%.Penemuan ini membanggakan karena xylitol adalah suatu gula alkohol yang
merupakan pemanis alami yang terdapat dalam jumlah kecil pada berbagai varietas buahbuahan dan sayuran.Xylitol tidak membentuk asam dan digunakan sebagai gula substitusi

bagi penderita diabetes.Xylitol sering dipakai sebagai bahan permen karet dan pasta gigi.
Macam-macam gula dalam residu tongkoljagung (% berat kering) adalah xylose: 65,
arabinose: 10 dan glukose: 25 Lachke,(2002).
5. Hijauan Pakan Ternak
Hijauan pakan ternaksangat banyak ragamnya, antara lain rumput gajah, rumput
meksiko,rumput raja, rumput setaria, rumput mutiara, rumput benggala, rumput lapang,
rumput kumpai, rumput kaliandra, legume callopo (callopogonium muconoides), lamtoro
(Leucaena leuchepala), rumput teki.
No

Nama Hijauan
Rumput Gajah

(Pennisetum
purpureum)

Rumput
2

Meksiko
(Euchalena
Mexicana)

Gambar Literatur

Rumput Raja
(.)

Rumput Staria
4

(Setaria
sphacelata)

Rumput
Mutiara

Rumput
Benggala

Rumput
Kumpai

Rumput
Kaliandra

Legum Callopo
9

(Callopogoniu
m muconoides)

Lamtoro
10

(Leucaena
leuchepala)

11

Rumut Teki

1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)


Pennisetum purpureum disebut juga Rumput Gajah (Indonesia). Rumput ini berasal
dari Afrika daerah tropik, perennial dan dapat tumbuh setinggi 3-4,5 m. Berkembang dengan
rhizoma yang panjangnya dapat mencapai 1 m. Panjang daun 1690 cm dan lebar daun 835
mm. Kultur teknis rumput ini adalah bahan tanam berupa pols dan stek, interval pemotongan
40-60 hari, responsif terhadap pupuk nitrogen, campuran dengan legum seperti Centro dan
Kudzu, produksinya 100-200 ton/ha/th (segar), 15 ton/ha/th bahan kering (BK), renovasi 4-8
tahun (Reksohadiprojo, 1994).
Klasifikasi Pennisetum purpureum
Phyllum

: Spermatophyta

SubPhyllum

: Angiospermae

Classis

: Monocotyledoneae

Ordo

: Glumiflora

Familia

: Gramineae

SubFamilia

: Panicurdeae

Genus

: Pennisetum

Species

: Pennisetum purpureum

2. Rumput Meksiko (Euchalena Mexicana)


Nama latin rumput meksiko ini adalah Euchalena Mexicana. Rumput meksiko ini
berasal dari Amerika tengah dan meksiko. Rumput ini memiliki bentuk perennial, dengan
tinggi 2,5 4 meter, mempunyai batang tegak, tahan terhadap naungan. Pada curah hujan
yang cukup maka pertumbuhan rumput ini akan baik. Rumput meksiko ini dapat ditanam
dengan cara stek ataupun sobekan rumput. Selain rumput potong juga dapat dibuat

silase.Rumput meksiko ini mengandung HCN, sebelum diberikan ke ternak, haruslah di


layukan terlebih dahulu.
Adapun Klasifikasi rumput meksiko ini adalah :
Kingdom

: Plantae Plants

Subkingdom : Tracheobionta Vascular plants


Superdivision : Spermatophyta Seed plants
Division
Class

: Magnoliophyta Flowering plants


: Liliopsida Monocotyledons

Subclass

: Commelinidae

Order

: Cyperales

Family

: Poaceae Grass family

Genus

: Zea L. corn

Species

: Zeamexicana (Schrad.) Kuntze Mexican teosinte

3. Rumput Raja (Pannisetum purpopoides)


Rumput raja mempunyai karakteristik tumbuh tegak berumpun-rumpun, ketinggian
dapat mencapai kurang lebih 4 m, batang tebal dan keras, daun lebar agak tegak, dan ada bulu
agak panjang pada daun helaian dekat liguna. Permukaan daun luas dan tidak berbunga
kecuali jika di tanam di daerah yang dingin.Rumput raja dapat di tanam di daeah yang subur
di dataran rendah sampai dataran tinggi, dengan curah hujan tahunan lebih dari 1.000 mm.
Produksi hijauan rumput raja dua kali lipat dari produksi rumput gajah, yaitu dapat
mencapai 40 ton rumput segar/hektar sekali panen atau setara 200-250 ton rumput
segar/hektar/tahun. Mutu hijauan rumput raja lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumput
gajah Hawai ataupun rumput Afrika.
Klasifikasi king grass
Divisi

: Angiospermae

Klass

: Monocotyledoneae

Ordo

: Graminales

Family

: Graminaceae

Genus

: Pannisetum

Spesies

: Pannisetum purpopoides

4. Rumput Setaria (Setaria sphacelata)


Setaria
sphacelata
atau
setaria
memiliki

spesifikasi

sebagai

berikut

Dapat tumbuh didaerah dataran tinggi mulai dari 1000m diatas permukaan laut. Setaria dapat
dikembangbiakan dengan cara merecah akarnya. Cirri khas dari rumput ini yaitu pada bawah

batangnya berwarna merah, rumput ini juga dapat bersimbiosis dengan mikroba yang dapat
memfiksasi nitrogen.
Adapun klasifikasi rumput setaria adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Superdivision : Spermatophyta
Division

: Magnoliophyta

Class

: Liliopsida

Subclass

: Commelinidae

Order

: Cyperales

Family

: Poaceae

Genus

: Setaria P. Beauv

Species

: Setaria sphacelata

Rumput setaria sering juga disebut sebagai rumput setaria lampung. Rumput setaria
tumbuh tegak, berumpun lebat, tinggi dapat mencapai 2 m, berdaun halus dan lebar berwarna
hijau gelap, berbatang lunak dengan warna merah keungu-unguan, pangkal batang pipih, dan
pelepah daun pada pangkal batang tersusun seperti kipas.
Rumput setaria sangat cocok di tanam di tanah yang mempunyai ketinggian 1200 m
dpl, dengan curah hujan tahunan 750 mm atau lebih, dapat tumbuh di berbagai jenis tanah,
dan tahan terhadap genangan air. Pembiakan dapat di lakukan dengan memisahkan rumpun
dan menanamnya dengan jarak 60 x 60 cm. Pemupukan di lakukan pada tanaman berumur
kurang lebih dua minggu, dengan pupuk urea 100 kg/hektar lahan, dan sebulan sekali di
tambah dengan 100 kg urea/hektar.
Produksi hijauan rumput setaria dapat mencapai 100 ton rumput segar/hektar/tahun.
Komosisi rumput setaria (dasar bahan kering) terdiri atas; abu 11,5%, ekstrak eter (EE) 2,8%,
serat kasar (SK) 32,5%, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 44,8%, protein ksar (PK) 8,3%
dan total digestible nutrients (TDN) 52,88%.
5. Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa)
Rumput tumbuh rindang berserak, agak lemah, tinggi 15 50 cm, tumbuh subur pada
tanah lembab di sisi jalan, pinggir selokan, mempunyai banyak percabangan.Batang bersegi,
daun berhadapan bersilang, tangkal daun pendek/hampir duduk, panjang daun 2 5 cm,
ujung runcing, tulang daun satu di tengah.Ujung daun mempunyal rambut yang pendek.
Bunga keluar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa bunga

majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10 mm. Buah built,
ujungnya pecah-pecah.
Adapun klasifikasi Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) adalah sebagai berikut :
Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Rubiales

Famili

: Rubiaceae

Genus

: Hedyotis

Spesies

: Hedyotis corymbosa L

6. Rumput Benggala (Panicum maximum)


Panicum maximum disebut juga rumput benggala berasal dari Afrika tropik dan sub
tropik. Ciri-cirinya bersifat perennial, batang tegak, kuat, dan membentuk rumpun. Akarnya
membentuk serabut dalam, buku dan lidah daun berbulu. Warna bunga hijau atau keunguan
(Tumbuh pada daerah dataran rendah sampai pegunungan 01200 m di atas permukaan laut.
Produksi Panicum maximum yang dihasilkan mencapai 100150 ton/ha/th dalam bahan segar.
Panen pertama dilakukan setelah 23 bulan setelah penanaman (Sutopo, 1985).
Klasifikasi Panicum maximum :
Divisi

: Angiospermae

Klass

: Monocotyledoneae

Ordo

: Graminales

Family

: Graminaceae

Genus

: Panicum

Spesies

: Panicum maximum

7. Rumput Kumpai (Hymenachne amplexicaulis)


Bahan baku lokal yang banyak terdapat di Sumatra Selatan yang dapat digunakan
sebagais a l a h s a t u b a h a n b a k u p a k a n a d a l a h r u m p u t k u m p a i
( H.amplexicaulis) . R u m p u t k u m p a i (H.amplexicaulis) dapat dijadikan bahan baku pakan
ikan nila karena kemampuan ikan nila untuk memanfaatkan tanaman air dan pakan hijauan
cukup baik. Menurut Risanti (2008), rumput kumpaimengandung beberapa nutrisi penting
seperti karbohidrat (44,19%), protein (14,06%) dan lemak (0,27%).Penelitian terhadap rumput
kumpai telah banyak dilakukan namun menggunakan dosis yangsama. Menurut Tanbiyaskur
(2008), rumput kumpai dapat meningkatkan pertumbuhan ikan niladengan dosis 15% /kg pakan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dilakukan penelitian lanjutanuntuk mengetahui pengaruh
peningkatan proporsi rumput kumpai pada pakan ikan nila sampai dengan dosis 35%
/kg pakan. Menurut Hertampf dan Pascual (2000), penambahan bahan rumput-rumputan
memungkinkan sampai dengan 35% /kg pakan
Adapun klasifikasi Rumput mutiara (Hedyotis corymbosa) adalah sebagai berikut :

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Rubiales

Famili

: Rubiaceae

Genus

: Hedyotis

Spesies

: Hedyotis corymbosa L

8. Rumput Kaliandra (Calliandra callothyrus)


Tinggi tanaman (pohon) kaliandra dapat mencapai 8 m. tanaman kaliandra dapat
tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dpl, toleran terhadap tanah yang kurang
subur, dapat tumbuh cepat dan berbintil akar sehingga mampu menahan erosi tanah dan air.
Manfaat kaliandra pada makana ternak adalah sebagai bank protein. Penanaman
kaliandra pada tanah-tanah yang kurang produktif dapat menekan pertumbuhan gulma. Selain
itu tanaman ini dapat digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan penyubur tanah.
Daun kaliandra mudah dikeringkan dan dapat dibuat sebagai tepung makanan ternak
kambing. Kaliandra mengandung protein kasar 22,4%, lemak 4,1%, energi kasar 46,30
kkal/kg, SDN 24,0%, lignin 1995,0%, Ca 1,6% dan P 0,2%.
Ada baiknya sewaktu pemberian makanan kepada ternak di berikan secara campur. Hal
ini bertujuan agar kandungan yang berada di dalam masing-masing tanaman dapat saling
melengkapi, sehingga kambing akan merasa tercukupi kandungan gizi maupun proteinnya.
Selain itu juga akan meminimalkan kambing merasa bosan makan apabila di sajikan dalam
satu jenis tanaman saja secara berulang-ulang.
Kambing akan memilih daun yang dia paling sukai terlebih dahulu, setelah daunan
yang disukainya habis, maka kambing baru akan menyantap rumputan jenis yang lain.
Adapun klasifikasi dari rumput kaliandra adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus

: Calliandra

Spesies

: Calliandra callothyrus

9. Legum Callopo (Callopogonium muconoides)


Tanaman ini tumbuh menjalar dan bisa memanjang sampai 30-50 cm. Tanaman ini
beradaptasi pada tanah yang basah dan tidak tahan terhadap kekeringan.Batang dan daun

yang muda berbulu, berwarna coklat keemasan.Bentuk daun bulat dan berkelompok 3 dalam
satu tangkai.Bunganya kecil berwarna ungu.Jenis legum ini kurang disukai oleh ternak
karena daun dan batangnya berbulu.Biasa ditanam dengan biji dengan kebutuhan 6-9
Kg/ha.Dapat ditanam dengan rumput Rhodes dan Brachiaria.
Klasifikasi Callopogonium muconoides
Divisi

: Spermatophyta

Klass

: Dicotyledoneae

Ordo

: Leguminales

Family

: Leguminaceae

Genus

: Callopogonium

Spesies

: Callopogoniummuconoides

10. Lamtoro (Leucaena leuchepala)


Tanaman legum berkayu yang berumur panjang ini tingginya bisa mencapai 10 m.
Berasal dari Amerika tengah (Meksiko) dan Amerika Selatan. Berakar dalam, daun menyirip
ganda, anak daun ellips agak oval dan kecil. Warna daun hijau tua agak kelabu. Tumbuh baik
pada tanah sedang sampai berat dengan ketinggian tempat 700-1.200 m dpl dan curah hujan
berkisar 700-1.650 mm/tahun. Jenis legum ini bisa dijadikan sebagai sumber protein bagi
ternak.
Adapun klasifikasi Leucaena leucocephalaadalah sebagai berikut :
Divisi
: Spermatophyta
Klass
: Dicotyledoneae
Ordo
: Leguminales
Family
: Leguminaceae
Genus
: Leucaena
Spesies
: Leucaena leucocephala
11. Rumput teki (Cyperus rotundus)
Teki merupakan rumput semu menahun dengan tinggi 10-95 cm. Batang rumputnya
berbentuk segitiga dan tajam.Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal
batang membentuk roset akar dengan pelepah daun tertutup tanah.Helaian daun berbentuk
pita bersilang sejajar.Permukaan atas berwarna hijau mengkilas dengan panjang daun 10-30
cm dan lebar 3-6 cm.
Rumput teki tumbuh liar di tempat terbuka atau sfikit terlindung dari sinar matahari
seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, dipinggir jalan atau di lahan
pertanian.Tumbuhan ini terdapat pada ketinggian 2-3000 meter di atas permukaan laut.
Tumbuhan ini secgai gulma yang susah diberantas. (http://wong168.wordpress.com).
Adapun klasifikasi rumput teki (Cyperus rotundus L.) sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Superdivisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida
Ordo : Cyperales
Famili

: Cyperaceae

Genus

: Cyperus

Spesies

: Cyperus rotundus L.

12. Bahan palsuan pakan


Adapun bahan palsuan yang di temukan yaitu batu bata giling dan serbuk gergaji.
Dimana kedua bahan ini memiliki tekstur yang hampir sama. Akan tetapi ada hal yang sulit
untuk dipalsukan yaitu bau yang pasti berbeda, hal ini sesuai dengan teori Antonio. A. (2001)
yang menyatakan bahwa bahan-bahan pemalsu pakan merupakan bahan-bahan yang bentuk,
tekstur, hampir sama dengan bahan pakan yang dipalsukan akan tetapi satu hal yang sulit
untuk dipalsukan yaitu bau.

No

Nama bahan

Serbuk gergaji

Pasir

3
4

Warna
Kunin

Bentuk

Digunakan palsuan
pakan

Kasar

Dedak padi

Caklat

Butiran

Tepung kulit kerang

Serbuk batu bata

Merah

Halus

Tepung darah

Sekam

Coklat

Butiran

Dedak

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa batu bata geling dan serbuk gergaji kayu jika
dilihat terkstur dan warnannya akan mirip dengan bahan pakn musalanya serbuk gergaji kayu
mirip dengan dedak padi, kemiripan inilah bahan pakan tersebut dicampurkan kedalam
ransum. Akan tetapi ada hal yang sulit untuk dipalsukan yaitu bau yang pasti berbeda, hal ini
sesuai dengan teori Parrakkasi.A. (1999) yang menyatakan bahwa bahan-bahan pemalsu
pakan merupakan bahan-bahan yang bentuk, tekstur, hampir sama dengan bahan pakan yang
dipalsukan akan tetapi satu hal yang sulit untuk dipalsukan yaitu bau.
13. Pengenalan Obat-obatan
Supaya sehat dan dapat tumbuh dengan baik maka ayam perlu diberi obat.Adapun
macam-macam obat dan fungsinya di tumjukan pada tabel di bawah ini.
1 Nama Obat : Therapy

Kegunanan :
1. Mengobati Kolera (barak Hijau)
2. Synovitis (radang persendian)
3. pullorum (berak kapur)
4. CDR ( ngorok)
5. Koksidiosis (berak darah, ngantuk)
6. Korisal (pilek)
Bentuk dan Warna : Bubuk dan Kuning
Cara pemakaian :
1. Stress : 5 sendok untuk 4 liter air selama 2-3 hari berturut-turut
2. Pencegahan : 5 sendok untuk 4 liter air selama 5-7 hari berturutturut
Kandungan bahan : Oxytetracycline Hcl (100 g)
Vitamin A dan K
Ampolium
Produsen : Medion Bandung Indonesia
Nama Obat = Vita
2 Chicks
1. Mempercepat pertumbuhan dan mengurangi angka kematian
2. Mengatasi Stress
3. Mencegah kekurangan vitamin

Umur 0-2 minggu setiap hari takaran A


3-4 minggu setiap hri takaran B
5 dewasa selama gangguan takaran A
Bacitracin MD, Vit (A, D3, E, K3, B1, B2, B6, B12, C), nicotine acid, CaD-Pantotthenate

Produsen = Medion-Bandung
Nama Obat : Neo
3 Bro
1. Mempercepat pertumbuhan broiler
2. Mengurangi angka kematian
3. Meningkatkan efisiensi penggunaan ransum

Umur 0-6 minggu : 1 gram tiap 2 liter air minum atau 1 gram tiap kg ransum
6-9 minggu : 1 gram tiap 3 liter air minum atau 1 gram tiap 1,5 kg
ransum
Methionin, sodium salycylate, Vit (A, D 3, E, K3, B1, B2, B6, B12, C), CaD-Pantotthenate, nicotinamide, zine, mangahere, magnesium, copper,
cobait
Produsen = Medion Bandung
Nama Obat : Trimezyn-S
4
1. Untuk mengatasi korisa
2. Coli bacilsosis
3. CRD
4. Kolera
5. Pullorum

Tiap 1 gram untuk 1-2 liter air minum, diberikan selama 3-5 hari
berturut-turut.
Kandungan bahan : sel faisazine, trime throprim
Produsen = Medion-Bandung

Nama Obat : Dexynet


5
Kegunaan : Untuk mengurangi angka kematian
Bentuk = serbuk halus

Rasa : bau seperti pur


Produsen = Medion - Indonesia
Nama Obat = Coxy
6
Kegunaan : Untuk mengobati Koksidiosis dan Kolera
Konsidiosis => 5 gram tiap 1 liter air minum, pemberian secara 3-2-3,
3 hari dengan obat, 2 hari tanpa obat dan 3 hari lagi dengan obat.
Koleras =. 3,75 gram tiap 1 liter air minum diberikan selama 6 hari
berturut-turut.

Kandungan bahan = sosium sulfa quino xaline, vit (A,K)


Produsen = Medion Bandung
7Nama Obat : Multivit
Kegunaan :
1. Mempercepat Pertumbuhan & mempertambahan berat badan ayam
pedaging
2. Membantu nafsu & meningkatkan efisiensi penggunaan ransum
3. Mencegah Stress
Bentuk dan Warna : Bubuk dan Orange
Cara Pemakaian :
Unggas : Segera larutkan ke dalam 10 ltr air minum selama 3-5 hari
berturut-turut
Kandungan Bahan : Vitamin A, D3, B2, K3, C
Produsen : PT Pyridium Bandung - Indonesia

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum yang berjudul pengenalan
bahan pakan dan alat-alat laboraturium, analisis proksimat, formulasi ransum dan mencampur
ransum dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu perlu praktikan pahami bahwa selama praktikan
mengikuti praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum praktikan dapat memahami jenisjenis bahan pakan serta termasuk sumber apa bahan pakan tersebut.
5.2 Saran
Setelah terlaksanannya praktikum saya mengharapkan agar para praktikan dapat
mengerjakannya atau mengembangkan ilmu ini dilingkungan sekitar tempat mereka tinggal
sehingga ilmu ini dapat bermanfaat untuk masyarakat dan agar peternakan dapat dipandang
lebih baik dimata masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi. R. 1997. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.
Antonio. A. 2001.Bahan Pemalsuan Pakan.Erlangga.Yogjakarta
Hendalia, et.al. 2008. Biokimia Nutrisi. Fapet UNJA. Jambi.
Mozeys, 2003.Ilmu Makanan Ternak Dasar.Gajah Mada University.Yogyakarta.
Nurhayati, et.al. 2008. Nutrisi Ternak Unggas. Fapet UNJA. Jambi.
Parning, Mika, Marlan. 2000. Penuntun Belajar Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Yudistira.
Jakarta.
Parrakkasi.a. 1995.Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Tobing.L.R. 1991. Kimia Organik Pangan. Depdikbud. Jakarta.
Trobos. 2007. Pasar Menganga Bibit Langka. PT. PWI. Jakarta.
Trobos. 2008. Tuna Budidaya Jepang Mengancam. PT. PWI. Jakarta.
16

abel 2. Nomenklatur Konsentrat


No
1

Nama
Tepung

Asal

Bagian

Proses

Sumber

Grade

Jagung

Biji

Dikeringkan,

Energi

PK: 11%

jagung

Biji

digiling

Jagung

Biji

Dipipil

SK: 5%

Energi

jagung

PK: 8,5%
SK: 2,5%

merah
3

Jagung

Jagung

Biji

Dipipil

Energi

kuning

PK: 8,5%
SK: 2,5%

pipilan
4

Molasses

Tetes tebu

Endapan

Diendapkan/

tetes tebu

kristalisasi

Energi

PK: 1520%
SK: 13%

Limbah

Roti

roti

Onggok

Limbah
soun

Singkong

Soun

Limbah

Dikeringkan,

roti

digiling

Ampas

Dikeringkan,

singkong

digiling

Limbah

Dikeringkan,

soun

digiling

Energi

PK: 11%
SK: 12%

Energi

PK: 0,8%
SK: 2,2%

Energi

PK: 20%
SK: 25%

Gambar

10

Bekatul

Pollard

Millet

Kulit ari

Kulit ari

Dikeringkan,

padi

padi

digiling

Gandum

Kulit ari

Dikeringkan,

gandum

digiling

Biji

Dipipil

Biji millet

Energi

PK: 12%
SK: 4%

Energi

PK: 15%
SK:10%

Energi

PK: 8,4%
SK: 6%

11

Urea

Batuan

Batuan

Dihaluskan,

alam

alam

pemurnian

Protein

PK:SK:-

(kristalisasi)
12

Tepung

Kedelai

kedelai

Biji

dikeringkan

kedelai

digiling

Protein

PK:
37,9%
SK: 3,2%

13

Tepung

Ikan

Ikan utuh

ikan

dikeringkan

Protein

digiling

PK:
54,6%
SK: 2%

14

Tepung

Kerang

kerang

Daging

dikeringkan

dalam

digiling

Mineral

PK: 1527%

kerang
(bukan
15

Tepung
darah
sapi

Sapi

cangkang)
Darah sapi

dikeringkan
digiling

Protein

PK:90%
SK: 1%

16

Tepung

Udang

udang

17

Bungkil

Kedelai

kedelai

Udang

dikeringkan

utuh

digiling

Bungkil

dikeringkan

kedelai/

digiling

Protein

PK: 65%
SK:-

Protein

PK: 42%
SK: 6%

limbah
18

Bungkil

Kelapa

kelapa

kedelai
Bungkil

dikeringkan

kelapa/

digiling

Protein

PK: 20%
SK: 12%

limbah
19

Tepung

Ayam

kelapa
Tulang

tulang

dikeringkan

Mineral

digiling

PK: 12%
SK: 2%

ayam
20

Tepung

Ikan

tulang
ikan dan
21

sirip
Tepung

Tulang

dikeringkan

ikan dan

digiling

Keong

SK: 2%

Cangkang

Dicuci,

keong

dikeringkan,

SK:

digiling

0,08%

keong
Premix

Batuan

Batuan

Digiling

Mineral

Mineral

alam

23

Tepung
kerabang
telur

PK: 12%

sirip

cangkang

22

Mineral

Telur

PK: 15%

PK: SK: -

Kerabang

Dikeringkan,
digiling

Mineral

PK: 7,6%
SK:-

24

Tepung

udang

Kulit

kepala

Dikeringkan,

Mineral

digiling

SK:

udang
25

26

Kapur

Phosphat
alam

27

28

CuSO4

Tepung

11,4%
Batuan

Batuan

Dibakar

kapur

kapur

(dikeringkan),

12,7%

digiling

SK:

Dikeringkan,

Mineral

0,95%
K: 0,80%

mineral

PK: -

Batuan

Phosphat

phosphat

Mineral

PK:

digiling

Batuab

Batu

Digiling/

alam

phosphat

dihaluskan

Udang

Kulit

Dikeringkan,

kulit

29

PK: 16 %

SK: -

Mineral

digiling

PK: 43,
40%

udang

SK:

Feed

Berbagai

Berbagai

Divaksin/

Pakan

17,6%
PK: -

aditive

komposis

komposisi

dicampur

tambahan

SK: -

i pakan/

pakan/

campuran

campuran

vitamin,

vitamin,

mineral,

mineral,

suplemen

suplemen

Bahan makanan ternak atau pakan diartikan sebagai semua bahan yang dapat dimakan
oleh ternak. Bahan pakan mengandung sejumlah senyawa yang dibutuhkan oleh ternak dalam
menunjang proses kehidupan yang disebut zat makanan. Setiap bahan pakan perlu diberi tata
nama yang baku, karena: (1) jumlah bahan pakan ternak mencapai puluhan sampai ratusan,
(2) diperlukan pencirian pemberian nama yang baik, (3) hasil sampingan yang dihasilkan dari
produk pangan manusia semakin banyak, dan (4) processing menyebabkan bahan asal yang
berbeda menjadi bahan baru dan kandungan gizi berubah (Sutardi, 2001).

Ciri-ciri bahan makanan dibedakan dan dipisahkan dengan mengkhususkan dari


kualitas-kualitas bahan makanan yang dihubungkan dengan perbedaan nilai gizinya.
Pemberian tata nama Internasional didasarkan atas enam fase, yaitu: (1) asal mula, yaitu
nama ilmiah dan nama umum; (2) bagian, yaitu bagian yang diberikan pada ternak
sebagaimana proses yang dialami; (3) proses atau perlakuan, yang dialami oleh bagian
tanaman pakan atau pengawetan; (4) tingkat kedewasaan, yang akan mempengaruhi nilai gizi
hijauan, silage dan beberapa produk hewan ternak, (5) pemotongan atau defoliasi, khusus
untuk hijauan. Beberapa tanaman hijauan dipotong dan dipanen beberapa kali dalam satu
tahun, (6) grade atau garansi yang diberikan pabrik, misal kadar protein, lemak , serat kasar
(Sutardi, 2002).
Umumnya limbah pertanian berupa hijauan banyak dimanfaatkan sebagai pakan serat
untuk ternak ruminansia (Guntoro, 2008). Salah satunya adalah tanaman pisang. Kandungan
protein kasar bagian tanaman pisang tergolong rendah, tetapi kadar abunya tinggi. Hasil
analisis laboratorium Balai Penelitian Ternak (BALITNAK) Bogor mendapatkan 15,5% ratarata kadar total abu (Wina, 2011).
k.
l. Tepung Tulang
Peran tepung tulang sebagai campuran pakan unggas adalah sebagai sumber kalsium
dan fosfor. Tidak semua jenis tulang dapat digunakan sebagai bahan baku tepung tulang,
tetapi hanya tulang ternak dewasa saja yang dapat digunakan, seperti tulang sapi, kerbau,
babi, dan kuda.Tepung tulang yang baik biasanya memenuhi beberapa syarat, diantaranya
berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar air paling
tinggi 5%.
m. Kacang kedelei(Glycine max)
Kedelai merupakan sumber protein nabati dan sumber energi. Namun, sebagai bahan
pakan unggas kedelai mempunyai kelemahan karena mengandung anti-tripsin yang dapat
menghambat pertumbuhan unggas. Oleh karena itu, sebelum digunakan kedelai harus
disangrai terlebih dahulu. Dengan perlakuan tersebut dapat melemahkan zat anti-tripsin yang
merugikan bagi unggas. Selain itu, penggunaan kedelai sebagai bahan pakan unggas dinilai
kurang ekonomis.
n.
o. Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa diperoleh dari ampas kopra. Bungkil kelapa mengandung 11% air,
minyak 20%, protein 45%, karbohidrat 12 dan 5% abu. Bungkil kelapa banyak dimanfaatkan

sebagai pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Negara
pengimpor bungkil kelapa terbesar adalah Belgia yang mendatangkan bungkil kelapa dari
Ceylon rata-rata 24.000 ton per tahun.
p. Tepung Ikan
Tepung ikan adalah sumber protein yang sangat baik untuk unggas, karena
mengandung asam-asam amino essensial yang cukup untuk kebutuhan ayam dan sumber dari
lisin dan metionin, tepung ikan yang tidak rusak karena pengolahan mengandung energi
metabolis yang cukup tinggi dibanding dengan bahan-bahan makanan lainnya yang
digunakan dalam ransum unggas.
q.

B.

Klasifikasi Bahan Pakan Menurut Asal


Menurut asalnya. Bahan pakan asal nabati misalnya hijauan pakan (Forages) hijauan

pakan ini dikenal pula dengan istilah hijauan makanan ternak (HMT) Contohnya: Rumput
Rumput-rumputan :rumput gajah,teki, ilalang dll), leguminosa contoh kalopo, centro, serta
hijauan lain selain rumput dan legume nangka, ketelapohon) Jerami atau sisa tanaman
pertanian. Bebijian (Co: Jagung, shorgum, gandum,padi) Umbi (ketela pohon, rambat,
kentang)Hasil sisa ato hasil sampingan industri pertanian(bungil, bekatul, onggok, tetes).
Bahan pakan asal Hewan : Tepung daging, tpg tulang, tpg darah, tpg susu, tpg telur Bahan
Pakan asal ikan : Tepung ikan, tepung kepala udang dll (Priyono, 2008).
Jamaluddin (2011) membagi bahan pakan berdasarkan asalnya menjadi dua golongan
yaitu bahan pakan asal hewan contoh tepung limbah katak, tepung bekicot, tepung jangkrik,

tepung bulu, tepung ikan dan lain-lain. Dan bahan pakan asal nabati misalnya bungkil kelapa,
rumput-rumputan, kacang-kacangan dan lain.
Selain bahan pakan yang berasal dari hewani dan bahan pakan dari asal nabati masih
terdapat bahan pakan yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Bahan pakan ini berasal dari
alam atau secara alami. Yang termasuk bahan pakan alami adalah urea dan sulfur. Bahan
pakan ini dibutuhkan oleh ternak sebagai feed aditif dan ada juga sebagai sumber mineral.
(Anggorodi, 1995)
C.

Klasifikasi Bahan Pakan Menurut Sumber


Menurut Anggorodi (1995) ada beberapa bahan pakan berdasarkan sumbernya dan ini

berkaitan dengan kandungan gizinya apakah termasuk sumber energi seperti dedak dan ubi
kayu, sumber protein ada dua yaitu dari tanaman seperti bungkil kelapa dan kedelai dan dari
hewani seperti tepung darah dan tepung bulu. Selanjutnya sumber mineral seperti tepung
tulang, kapur dan garam, sumber vitamin seperti minyak ikan dan juga sebagai imbuhan
pakan seperti antibiotika, hormon dan enzim.
Sumber Energi.
Bahan makanan sumber energi pada umumnya merupakan bahan pakan yang
mempunyai kadar protein sekitar 12 % dimana 75-80 % dapat dicerna. Penyusun utama
bahan makanan sumber energi adalah karbohidrat, yang masih utuh berupa biji biasanya
bagian merupakan pati yang daya cernanya sekitar 95 % serta mempunyai kadar serat kasar
yang bervariasi yang dapat mempengaruhi daya cerna (Novikah, 2010).
Sumber Protein
Bahan pakan sumber protein terdiri dari dua sumber yaitu protein yang berasal dari
sumber hewani dan yang berasal dari sumber nabati. Sumber protein nabati terutama dari
jenis kacang-kacangan dan dari jenis leguminosa. Sumber protein hewani diantaranya adalah
BR 1, BR 5 dan pellet (Novikah, 2010).

Sumber Mineral
Mineral merupakan komponen dari pesenyawaan organik jaringan tubuh dan
persenyawaan kimiawi lainnya yang berperan dalam proses metabolisme. Kebutuhannya
sangat sedikit tetapi sangat vital, teutama pada proses tumbuh dan bereproduksi penyusunnya
yaitu kalsium dan fosfor (Novikah, 2010).
Sumber Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik, biasanya tidak disintesis oleh jaringan tubuh dan
diperlukan dalam jumlah sedikit. Vitamin ini digunakan sebagai koenzim atau regulator
metabolisme. Vitamin digolongkan menjadi dua yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan
vitamin yang larut dalam air. Vitamin A, D, E, K adalah vitamin yang larut dalam lemak.
Sedangkan vitamin yang larut dalam air adalah tiamin, ribofialin, asam nukleat, folasin,
boitin dan asam pentotenat. Sedangkan vitamin C tidak dapat disintesis oleh tubuh jadi sangat
diperlukan dalam ransum (Novikah, 2010).
D.

Klasifikasi Bahan Pakan Menurut Nomenklatur Internasional


Menurut Tillman, Dkk (1984), Nomenklatur internasional telah membagi pakan

ternak

dalam

1).

kering

Forage

delapan
dan

roughage,

kelas,
yakni

semua

yaitu
hay

dan

:
jerami

kering.

2). Pasture, ramban yakni semua tanaman yang diberikan segar sebagai hijauan
3). Silase, yakni semua makanan yang dipotong-potong atau dicacah-cacah dan
difermentasikan
4). Makanan sumber energi, yakni semua biji-bijian, hasil ikutannya yang mempunyai
kandungan

20%

dan

10%

serat

kasar

5). Makanan sumber protein 20% atau lebih dan dapat berasal dari tanaman, hewan, ikan dan
milk
6).

Makanan

sumber

mineral

7).

Makanan

sumber

protein

8). Makanan aditif, yaitu zat-zat tertentu yang biasanya ditambahkan kepada ransum seperti
antibiotika, zat warna, hormon dan obat-obatan lainnya.
Pasture atau pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman
ataupun tumbuh-tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan
bunga. Yang termasuk hijauan segar ataupun silase. Sedangkan hijauan kering berupa hay
ataupun jerami kering (Sugeng, 2003).
E.

Klasifikasi Bahan Pakan Menurut Tekstur


Menurut Anonim (2012), bahan pakan menurut teksturnya terbagi menjadi dua yaitu

1) Kasar
Kondisi bahan pakan yang tidak teratur dan gampang digenggam
2) Halus
Kondisi bahan pakan yang lembut dan sulit digenggam
F.

Klasifikasi Bahan Pakan Menurut Bau


Menurut Anonim (2012), bahan pakan menurut teksturnya terbagi menjadi dua yaitu

tengik dan khas


G.

Bahan Pakan Berdasarkan Bentuk


Egarusiani (2009), membagi bahan pakan menurut bentuk fisiknya dibedakan menjadi

3 juga yaitu:
1. Bentuk butiran(Co: jagung ,shorgum.
2.

Bentuk Tepung(co: dedak, bekatu, tepung ikan,dll),

3. Bentuk cair(Co: minyak ikan dan minyak kedelai).

Menurut bentuk fisiknya dibedakan menjadi tiga yaitu bentuk butiran contoh jagung
dan shorgum, bentuk tepung misalnya dedak, bekatul, tepung ikan dan lain-lain, serta bentuk
cair yakni minyak ikan, minyak kedelai dan lain-lain. (Jamaluddin, 2011).

METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum mengenai Pengenalan Bahan Pakan
Secara Makroskopis dilaksanakan pada hari Kamis, 8 Maret 2012 Pukul 15.00 Wita sampai
selesai di Laboratorium Anggrostologi, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Materi Praktikum
Alat-alat yang digunakan pada praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum
mengenai Pengenalan Bahan Pakan Secara Makroskopis adalah kamera foto.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum
mengenai Pengenalan Bahan Pakan Secara Makroskopis adalah rumput gajah (Pennisetum
purpureum), lamtoro (Leucaena leucocephala), centro (Centrocema pubescens), tapal kuda
(Centella asiatica), kalopo (calopogonium muconoides), gamal (Gliricidia maculata), rumput
gajah mini (Pennicetum purpureum CV Mott), daun murbei (Morus alba L), tepung rese,
tepung CaCo3, jagung, kacang gude, tepung tulang, kacang kedelei, sulfur, tepung premis,
tepung ikan, dan bungkil kelapa.
Metodologi Praktikum
Menyiapkan bahan-bahan serta alat yang akan digunakan dalam praktikum.
Selanjutnya mencatat nama bahan, nama ilmiah, ciri-ciri, asal, nomenklatur Internasional,
bentuk, warna, tekstur, bau, asal dan sumber.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan mengenai bahan pakan maka diperoleh
hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Bahan Pakan (Hijauan) Secara Makroskopis
No Nama Bahan
1
Rumput gajah

Nama Ilmiah
Pennisetum

Ciri-ciri
Berbulu halus, daun

purpureum

menyirip runcing, batang

Asal
Afrika

beruas, bunga kuning


2

Lamtoro

Leucena

emas, berbentuk lilin.


Bunga putih, daun jamak, Amerika

leucocepala

warna coklat pada kulit


batang, memiliki

Sentro

Tapal kuda

Centrocema

kambiun
Bunga berwarna ungu, Amerika

pubescens

berdaun tiga, menjalar, tengah dan

Centella

permukaan daun halus


Selatan
Berdaun
lebar, Jawa barat

asiatica

permukaan daun halus,


ujung

Kalopo

Rumput gajah

daun

terbelah,

Calopogonium

memiliki urat daun


Bulu kuning keemasan, Amerika

muconoides

permukaan daun kasar,

Pennisetum

berakar serabut.
Berbulu halus, daun

Afrika

Purpureum CV menyirip runcing, batang

Gamal

Daun murbei

Mott

beruas, bunga kuning

Gliricidia

emas, berbentuk lilin.


Bunga putih, daun oval,

Amerika

maculata

permukaan daun halus

Selatan

Morus alba L

dan batang agak tinggi


Daunnya warna hijau

Cina

lebar dan memanjang,


Sumber : Data Hasil Pengamatan Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.

Pembahasan
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa bahan pakan asal hijauan terbagi atas dua
macam yakni bahan pakan hijauan yang termasuk bangsa rumput-rumputan dan kacangkacangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Puslitbangnak (2011) yang menyatakan bahwa
sebagian besar hijauan pakan adalah rerumputan dan semak dengan kandungan protein antara
6-10% dan TDN 50% atau kurang sehingga hanya cocok untuk hidup pokok. Di musim
penghujan hijauan ini berlimpah, sebaliknya di musim kemarau sedikit. Pada musim kemarau
limbah tanaman pangan, khususnya jerami padi menjadi sumber penting hijauan di samping
rumput. Jerami ini mengandung protein 5% atau kurang dan kecernaan sekitar 30-40%
sehingga tidak menunjang kebutuhan hidup pokok. Meskipun demikian, karena
produktivitasnya tinggi, 6-11 ton bahan kering/ha, produk ini harus ditingkatkan gizinya
dengan perlakuan seperti amoniasi agar dapat dimanfaatkan secara optimal.20 Hasil
penelitian menunjukkan bahwa seekor sapi seberat 300 kg mampu mengkonsumsi bahan
kering jerami olahan sebanyak 8 kg/hari.
Sumberdaya tanaman pakan pada umumnya mengandalkan berbagai jenis tanaman
hijauan pakan kelompok rumput-rumputan (Gramineae) dan leguminosa (Leguminoseae).
Namun mengandalkan sumberdaya tanaman hijauan pakan ini secara kuantitatif, kualitatif
dan kontinyuitas sulit diharapkan karena ketersediaan alokasi lahan yang diperuntukkan.
Sumberdaya pakan yang potensial adalah pemanfaatan limbah pertanian dan industri
pertanian. Di daerah pertanian lahan kering dapat diharapkan ketersediaan jerami padi,
jerami jagung, pucuk tebu, juga jerami kacang tanah dan kedelai, disamping hasil pengolahan
hasil pertanian katul dan berbagai bungkil (Egarusiani, 2009).

Hasil
Tabel 2. Hasil Pengamatan Bahan Pakan (Hijauan) Secara Makroskopis

No. Bahan

Bentuk

Nomenklatur

Tekstur

Bau

Asal

Sumber

Pakan
Tepung

Serbuk

Internasional
V

Kasar

Tengik Hewan

Rese
Tepung

kasar
Tepung

VI

Halus

Khas

i
Alami

Mineral

3
4

CaCoT
Jagung
Kacang

Butiran
Butiran

IV
V

Kasar
Kasar

Khas
Khas

Nabati
Nabati

Energi
Protein

gude
Tepung

Tepung

VI

Kasar

Tengik Hewan

Mineral

tulang
Kacang

Butiran

Kasar

Khas

i
Nabati

Protein

7
8

kedelei
Sulfur
Bungkil

Tepung
Serbuk

VI
V

Halus
Kasar

Khas
Khas

Alami
Nabati

Mineral
Protein

kelapa
Tepung

Tepung

Kasar

Tengik Hewan

Protein

10

ikan
Tepung

Tepung

VI

Halus

Khas

i
Alami

Protein

Mineral

premis
Sumber : Data Hasil Pengamatan Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.

Pembahasan
Dari hasil pengamatan mengenai bahan pakan maka diperoleh hasil bahwa
berdasarkan asalnya maka bahan pakan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu bahan pakan
yang berasal dari hewan, bahan pakan alami dan bahan pakan yang berasal dari nabati. Yang
termasuk bahan pakan yang berasal dari hewani adalah tepung rese, tepung tulang, dan
tepung ikan. Sedangkan yang termasuk bahan pakan yang berasal dari nabati jagung, kacang
gude kacang kedelei dan bungkil kelapa. Sedangkan yang termasuk bahan pakan alami
adalah tepung CaCoT, tepung premis dan sulfur. Hal ini sesuai dengan pendapat Egarusiani
(2009) yang membagi tiga bahan pakan berdasarkan asalnya yakni bahan pakan yang berasal
dari tanaman, misalnya tanaman hijauan, jerami atau sisa hasil pertanian, butiran, umbi-

umbian, dan hasil sampingan industri. Bahan pakan asal hewan yakni tepung tulang, tepung
darah, dan lain-lain.
Menurut Priyono (2008), bahan pakan yang bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan
konsentrat adalah biji-bijian beras, jagung, sorghum dan millet. SE dan TDN nya tinggi,
kandungan potein kasar menengah dan serat kasar yang rendah, kandungan mineral
bervariasi, tepung daging, tepung tulang dan daging, tepung darah, hasil samping pengolahan
ikan seperti tepung ikan dan ikan kecil, hasil sampingan pengolahan susu seperti bubuk susu
skim, whey dan lemak susu.
Menurut Anggorodi (1995), ada beberapa bahan pakan berdasarkan sumbernya dan
ini berkaitan dengan kandungan gizinya apakah termasuk sumber energi seperti dedak dan
ubi kayu, sumber protein ada dua yaitu dari tanaman seperti bungkil kelapa dan kedelai dan
dari hewani seperti tepung darah dan tepung bulu. Selanjutnya sumber mineral seperti tepung
tulang, kapur dan garam, sumber vitamin seperti minyak ikan dan juga sebagai imbuhan
pakan seperti antibiotika, hormon dan enzim.
Menurut Tillman, Dkk (1984), Nomenklatur internasional telah membagi pakan
ternak dalam delapan kelas, yaitu : (1) Forage kering dan roughage, yakni semua hay dan
jerami kering, (2) Pasture, ramban yakni semua tanaman yang diberikan segar sebagai
hijauan, (3) Silase, yakni semua makanan yang dipotong-potong atau dicacah-cacah dan
difermentasikan, (4) Makanan sumber energi, yakni semua biji-bijian, hasil ikutannya yang
mempunyai kandungan 20% dan 10% serat kasar, (5) Makanan sumber protein 20% atau
lebih dan dapat berasal dari tanaman, hewan, ikan dan milk, (6) Makanan sumber
mineral

(7) Makanan sumber protein dan (8) Makanan aditif, yaitu zat-zat tertentu yang

biasanya ditambahkan kepada ransum seperti antibiotika, zat warna, hormon dan obat-obatan
lainnya.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan mengenai Pengenalan Bahan
Pakan Secara Makroskopis maka dapat disimpulkan :

Berdasarkan bentuknya bahan pakan dapat dibedakan menjadi bentuk serbuk (tepung rese
dan bungkil kelapa), bentuk butiran (jagung, kacang gude dan kacang kedelei) dan bentuk
tepung (tepung tulang, sulfur, tepung CaCoT, tepung premis dan tepung ikan).

Berdasarkan teksturnya dapat dibedakan kasar (tepung rese, jagung, kacang gude, kacang
kedelei dan bungkil kelapa) dan tekstur halus (tepung tulang, tepung CaCoT, tepung premis
dan tepung ikan)

Berdasarkan baunya terbagi dua yaitu khas (jagung, kacang gude, kacang kedelei, bungkil
kelapa, sulfur, tepung CaCoT dan tepung premis) dan tengik (tepung rese, tepung tulang dan
tepung ikan)

Bahan pakan dari asalnya terbagi atas tiga yaitu nabati, hewani dan alami. Asal nabati
(jagung, kacang gude kacang kedelei dan bungkil kelapa), asal hewani (tepung rese, tepung
tulang, dan tepung ikan) dan alami (tepung CaCoT, tepung premis dan sulfur)

Berdasarkan sumber maka dapat dibedakan sebagai sumber protein (kacang gude, kacang
kedelei, bungkil kelapa, tepung rese dan tepung ikan), sumber energi (jagung) dan sumber
mineral (tepung tulang, tepung CaCoT, tepung premis dan sulfur)

Berdasarkan Nomenklatur Internasional yaitu V (kacang gude, kacang kedelei, bungkil


kelapa, tepung rese, tepung tulang dan tepung ikan), IV (jagung) dan VI (tepung CaCoT,
tepung premis dan sulfur)

Bahan pakan hijauan terbagi atas dua yaitu rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput
gajah mini (Pennisetum purpureum CV Mott) dan leguminosa yaitu lamtoro (Leucena
leucocepala), sentro (Centrocema pubescens), kalopo (Calopogonium muconoides), tapal
kuda (Centella asiatica), gamal (Gliricidia maculata) dan daun murbei (Morus alba L).

Saran
Untuk asisten, agar lebih tegas mengawasi praktikan saat praktikum berlangsung.
Untuk Laboratorium, sebaiknya kebersihan laboratorium diperhatikan

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Pakan, Ransum, Konsentrat, Hijauan. http://myluckyta.wordpress. Com/2011/12/08
(Diakses 11 Maret 2012).
Anonim, 2012. Penuntun Praktikum Bahan Pakan Formulasi Ransum. Universitas Hasnuddin.
Makassar
Anggorodi. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas.PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta
Egarusiani. 2009. Bahan Kuliah Bahan Pakan. www. Wordpress.com (Diakses 11 Maret 2012).
Jamaluddin,
H.
Ternak
pun
Memerlukan
Gizi
yang
jamaluddin.blogspot.com/2011/03 (Diakses 11 Maret 2012).

Cukup.

http://hardianti-

Priyono. 2008. Konsentrat. Ilmu Peternakan. www. Undip. Ac.id (Diakses 11 Maret 2012).
Puslitbangnak. 2011. Sumber Bahan Pakan Lokal Ternak Ruminansia. Jawa Barat.

Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo., 1984. Ilmu


Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sinaga, Sauland. 2009. Nutrisi dan Ransum Babi. www. Wordpress.com (Diakses 11 Maret 2012).

http://abidahnovika.blogspot.com/2010/06/klasifikasi-bahan-pakan-secara.html?
zx=8a2451dc72670e49
Keberhasilan usaha peternakan ditentukan oleh 3 faktor yang sama pentingnya yaitu,
breeding ( pemulian biakan, bibit), feeding ( pakan) dan management ( tata laksana). Namun
jika dilihat dari sisi biaya maka konstribusi pakan sangat lah besar yaitu sebesar 75 % dari
total biaya produksi(Tillman, 1997).
Pada umumnya pengertian pakan (feed) digunakan untuk hewan, sedangkan pangan ( food)
untuk manusia. Berkaitan dengan pakan maka dihadapkan dengan masalah-masalah seperti
kuantitatif, kualitatif , kontinuitas dan keseimbangan zat yang terkandung
didalamnya(Tillman, 1997).
Bahan pakan adalah suatu yang dapat diberikan pada ternak ( baik bahan organik maupun
non organik)yang sebagian maupun keseluruhannya dapat dicerna ternak tanpa mengganggu
kesehatan ternak tersebut.
Bahan pakan sekurang-kurangnyamempunyai 3 fungsi/ peran yaitu ; a) peran sosial, b) peran
psikologis, dan c) peran fisiologis( Sutardi, 1980).
Zat pakan ( zat makanan) adalah bagian pakan yang dapa dicerna, diserap dan
bermanfaat bagi tubuh, yang secara umum dapat dibagi menjadi 6 yaitu, air, protein,
karbohidrat, mineral, lemak dan vitamin. Adapun fungsinya antara lain ;
a). Air
pelarut zat pakan
pengangkut zat pakan
membantu kelancaran proses pernapasan, penyerapan dan pembangunan ampas metabolisme
memperlancar reaksi kimia dalam tubuh
pengatur suhu tubuh
membantu kelancaran kerja saraf dan pancaindra
sebagai bantalan yang melindungi organ dari guncangan/truma dari luar
sebagai pelicin/ pelumas
b). Mineral
memelihara kondisi ionik dalam tubuh ; memelihara kondisi ph dalam tubuh
memelihara tkanan osmotik dalam tubuh
menjaga kepekaan syaraf
mengatur transport zat pakan
mengatur permeabilitas membran sel
kofaktor enzim dan metabolisme tubuh
c) Protein
bahan pembangun dan pengganti sel tubuh yang rusak
bahan baku pembuatan enzim, hormon, antibodi,
menyediakan energi
d). Lemak
sumber energi
sumber air metabolik
insulatur

sebagai carieer vitamin dan asam lemak esensial


bahan baku pembentukan hormon steroid
e). Karbohidrat
sumber energi
pembakar lemak
memperkecil penggunaan protein sebagai energi
menambah cit rasa
memelihara kesehatam dan fungsi normal alat pencernaan
f). Vitamin
membantu pembentukan dan pemeliharaan jaringan epitel
memperlancar metabolisme energi
membantu pembentukkan ulang
antioksidan
membantu proses pembekuan darah( Sutardi, 1980).
Ransum adalah campuran 2 atau lebih bahan pakan yang disusun untuk memenuhi
kebutuhan ternak selama 24 jam.
Secara umum telah dikenal pengertian bahan pakan berdasarkan asalnya ( nabati dan
hewani), berdasarkan sifatnya ( hijauan dan konsentrat) dan berdasarkan zat gizinya (sumber
protein, energi dan mineral).
Namun secara internasional bahan pakan dibagi menjadi 8 kelas antara lain :

Pakan kasar (roughage), adalah bahan pakan yang banyak mengandung serat kasar ( >
18 % ) dan rendah energinya, misal; jerami padi, batang jagung, pucuk tebu) hijauan
kering dll.

Hijauan segar ( green forage, pasture), contoh : rumput/ hijauan segar lainnya yang
baru dipotong, adang rumput dll.

silase ( silage) adalah hijauan yang sengaja diawetkan melalui proses permentasi.

Sumber energi adalah bahan pakan yang banyak mengandung energi


( kandungan energi > 2250 Kkal/kg), contoh ; butiran-butiran seperti jagung,
sorghum, kedele, kacang dll. Umbi-umbian seperti ketela pohon, ketela rambat,
kentang dll, minyak, lemak hewan (tallow), hasil samping industri pertanian seperti
bekatul,pollard, tetes dll.

Sumber protein adalah bahan pakan ang banyak mengandung protein


( kandungan protein >20%), contoh dari sumber hewani seperti tepung ikan, daging,
darah, susu skim dll , dari sumber nabati seperti kacang-kacangan/ leguminosa,
bungkil dll

Sumber mineral, contoh : tepung tulang, kerang, kapur, dicaphos (dicalcium


phospathe), tricaphos (tricalcium phospathe), garam dll.

Sumber Vitamin contoh; buah-buahan, hijaunan dll.

Bahan additive adalah bahan yang perlu ditambahkan dalam ransum dalam

jumlah relatif sedikit untuk melengkapi ransum, contoh vitamin mix


( PCARRD, 1987).
Prosesing pada bahan pakan sangat penting mempengaruhi, karena dapat memberikan
keuntungan bahkan mengakibatkan kerugian, jika misalnya terjadi kerusakan fisik maupun
kimiayang tidak dikehendaki. Beberapa contoh pressing bahan pakan seperti : Chopping
(pemotogan ukuran), Drying (pengeringan), Grinding (penggilingan), Soaking (perendaman),
Cooking (pemasakan), pelleting (pembuatan pellet), Crumbling (pembuatan crumble),
Ensileng (pembuatan silase).
Dalam menyusun ransum terdapat beberapa cara yang umum digunakan oleh para peternak
maupun perusahaan pakan dengan skala besar yaitu ; Metode Diagonal (pearsons square),
Metode coba-coba (Trial and Error), Metode Simultanneous dan linear programming
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah toples atau tempat bahan pakan
dan alat-alat tulis.
Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah dedak halus, jagung giling, tetes tebu
(molasses), ampas tahu, kacang kedelai, biji karet, tepung gandum, biji bunga matahari,
kacang tanah, susu, mineral mix, kapur, sulfuma, tepung batu halus, tebung ubi kayu, biji
kapuk, tepung daun pisang, tepung sagu, tetes tebu/molases, tepung ikan, tepung kepala
udang, petai cina, tepung udang, tepung bekicot, starbio, isi rumen giling, garam, abu, urea,
vitamin B kompleks IPI, vitamin C IPI, vitamin B kompleks IPI cair, vitamin A IPI, vitamin
B12 IPI, vitamin vita chicks IPI, mineral bebek, mineral suplement, ampicilin, tetraxillin, dan
top mix.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 14.25 WITA - selesai kamis 20 dan 27 Mei 2010.
Bertempat di laboratorium nutrisi fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Prosedur kerja
Praktikum ini menggunakan metode coba-coba ( trail and error ) sehingga tahapannya sebagi
berikut ;

Lihat tabel kebutuhan (feeding standard) zat pakan sesuai dengan tujuan beternak.

Lihat komposisi zat pakan.

Pertimbangkan faktor-faktor pembatas.

Pertimbangkan harga.

Susun ransumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Tabel 1. Bahan pakan dan Klasifikasinya

Bahan Pakan

Klasifikasi

Warna

Bau

Tekstur

Tepung Sagu

Sumber energi

Putih

Sedikit kasar

Tepung ubi Kayu

Sumber energi

putih

Lembut

Tetes

Sumber energi

hitam

wangi

Kental

Biji kapuk

Sumber energi

kehitaman

kapuk

Biji

Tepung daun
pisang
Petai Cina

Sumber energi

coklat

pisang

Serbuk lembut

Sumber Protein

biji

Tepung bekicot

Sumber protein

Coklat
kehitaman
coklat

anyir

Kasar

Tepung ikan

Sumber protein

coklat

anyir

Kasar

Tepung udang

Sumber protein

coklat

anyir

Serbuk lembut

Tepung kepala udang

Sumber protein

Coklat muda

anyir

Serbuk kasar

Tepung batu halus

Sumber mineral

krim

kasar

Mineral mix

Sumber mineral

Coklat muda

menyengat

Bulat

kapur

Sumber mineral

putih

Agak kasar

sulfuna

additive

Abu-abu

Bulat keras

starbio

additive

coklat

Agak kasar

Isi rumen

additive

Coklat tua

Tabel 2. Analisis Nutrisi Bahan Baku


Protein
No
Bahan Pakan BK %
%
1
Dedak padi
89,6
15,9
Bungkil
2
86
9
kedelai
3
Jagung
77
5,4
4
Molases
85
41,7
5
Ampas tahu
16,2
23,7
6
Mineral mix
90
0

anyir

Serbuk kasar

9,1

Serat
Kasar %
8,4

EM
(Kkal/ kg
2730

3,8

2,5

3430

1200

0
3,5
10,1
0

0
6,5
23,6
0

1960
2240
2700
0

1200
2500
750
21.000

Lemak %

Harga (Rp)/kg
950

Penyusunan bahan pakan menjadi formulasi ransum dengan menggunakan cara coba-coba (
Trial and Error ).
Tabel 3. Perhitungan nilai Protein Pada Ransum
bahan pakan
Jumlah(kg )
% BK
KgBk

% Protein

KgProtein

Dedak padi
Bungkil
kedelai
Jagung
Molases
Ampas tahu
Mineral mix

Jumlah

60
15

0,896
0,860

53.76
12.9

0,159
0.09

9.54
1.35

15
2
7,5
0,5
100

0,770
0,850
0,162
0,900

11.55
1.7
1.21
0.45
81.57

0,54
0,417
0,237
0

8.1
0.834
1.7775
0
21.6015

Persentasi Protein = Kg Protein X 100%


Kg Bk
= 21.6015 X 100%
81.57
= 26,48 %

Tabel 4. Perhitungan nilai Lemak Pada Ransum

Bahan
pakan
Dedak padi
Bungkil
kedelai
Jagung
Molases
Ampas tahu
Mineral mix

Jumlah

Jumlah(kg )

% BK

KgBk

% lemak

Kglemak

60

0,896

53.76

0.091

5.46

15

0,860

12.9

0.038

0.57

15
2
7,5
0,5
100

0,770
0,850
0,162
0,900

11.55
1.7
1.21
0.45
81.57

0
0.035
0.101
0

0
0.07
0.7575
0
6.86

Persentasi Lemak = Kg lemak X 100%


Kg Bk
= 6,86 X 100%
81.57
= 8,4 %

Tabel 5. Perhitungan nilai Serat Kasar Pada Ransum

Bahan
pakan

Jumlah(kg )

% BK

KgBk

SK %

Kgsk

Dedak padi
Bungkil
kedelai
Jagung
Molases
Ampas tahu
Mineral mix

60
15

0,896
0,860

53.76
12.9

0.084
0.025

5.04
0.375

15
2
7,5
0,5
100

0,770
0,850
0,162
0,900

11.55
1.7
1.21
0.45
81.57

0
0.065
0.236
0

0
0.13
1.77
0
14.63

Jumlah

Persentasi Serat Kasar = Kg serat kasar X 100%


Kg Bk
= 14.63 X 100%

81.57
= 18 %

Tabel 6. Perhitungan Biaya

Bahan pakan

Jumlah(kg )

Harga Rp/kg

B
iaya (Rp)

Dedak padi
Bungkil kedelai
Jagung
Molases
Ampas tahu
Mineral mix

jumlah

60
15
15
2
7,5
0,5
100

950
1200
1200
2500
750
21.000

57000
37500
18000
2400
5625
10500
131025

Harga ransum = total biaya


Jumlah
= Rp.131025
100 kg
= 1310.25 Rp/Kg

PEMBAHASAN

Pada penyusunan Formulasi ransum ini di gunakan Metode coba-coba ( Trial and Error ),
sehingga di perlukan percoban yang berkali-kali untuk menyempurnakan susunan ransum,
sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak tanpa melupakan aspek-aspek yang lain,
berupa faktor-faktor pembatas terhadap pemberian suatu pakan pada ternak, atau maupun
juga ditinjau dari segi ekonomisnya. Dalam penyusunan ini ransum dikatagorekan sebagai
ransum all consetrat diet ( full consentrat).
Adapun dipilihnya jenis-jenis pakan diatas dikarenakan kebanyakan peternak memilih bahanbahan tersebut mingkin karena ketersediaannya dan kemudahannya untuk di dapatkan.
Adapun kandungan dalam pakan tersebut adalah :
1. Dedak padi
Komposisi zat-zat makanannya dari gabah yang kering betul adalah , 10,7% air, 7,5
Protein, 62,0% bahan ekstrak tiada N, 10,0% serat kasar, 2,25 lemak%, 7,5% abu ( zat-zat
Mineral ). Kadar protein yang dapat dicerna 5,7% . Pada umumnya semua butir-butir
sebangsa padi mengandung banyak zat pati yang mudah dicerna, sedangkan kadar protein
tidak sampai 10%, disamping itu dedak juga kaya akanvitamin B1, akan tetapi miskin vitamin
A dan D.
Penggunaan dedak pada penyusunan ransum ini adalah paling banyak yaitu sebesar 60 % dari
total ransum yang di susun, karena dedak merupakan sumber energi yang sangat besar
nilainya, dan mempunyai harga yang lebih terjangkau, serta tidak adanya faktor pembatas
tentang pemberian bahan ini pada ternak. Selain sebagai bagian dari bahan penyusun suatu
ransum, dedak juga dapat diberikan kepada ternak tanpa tambahan bahan lain.

2. Bungkil Kedelai
Bungkil-bungkilan adalah hasil ikutan prossing biji-bijian khususnya kacangkacangan setelah diambil minyaknya yang tertinggal adalah protein kasar, serat kasar
beberapa pati dan mineral, serta protein kasar pada bungkil lebih tinggi. Bungkil kedelai
merupakan bungkil yang terbaik diantara bungkil-bungkil yang lain karena mengandung AA
glycine. Komposisi yang terdapat pada bungkil kedelai adalah
Bk= 86 %
EE= 5,2%
PK= 46,7 %
Abu= 7,4% SK= 7%
BETN= 33,7%
Dan protein yang dapat dicerna 36.3 %. Pembrian bungkil kedelai pada penyusunan ransum
ini adalah sebanyak 15 %, ini disebabkan pada masa penggemukan protein tidak banyak
diperlukan, tetapi tetap harus ada. Bungkil kedelai dipilih karena bungkil kedelai mempunyai
nilai gizi yang lumayan tinggi dan kenapa tidak menggunakan tepung ikan sebagai sumber
protein adalah karena segi harga dan juga dari segi palatabilitas ternak itu sendiri.
3. Jagung
Dibandingkan dengan beras, jagung masih sedikit lebih tinggi kadar proteinnya.
Susunan zat-zat makanan yang terkandung didaalamnya adalah, 13.5% air, 9.8 Protein,
68.8% bahan ekstrak tiada N, 2.7% serat kasar, 4.2 lemak%, 71.4% abu ( zat-zat Mineral ).
Kadar protein yang dapat dicerna 7.1%. Jagung banyak mengandung Provitamin A, asam
amino cystine, akan tetapi tidak mengandung lysine dan tryptophan. Pada penyusunan
formulasi ransum ini jagung diberikan sebanyak 15% dari totol berat ransum karena jagung
merupakan sumber energi sementara pada kasus ini formulasi ransum disusun untuk
penggemukan ternak potong sehingga diperlukan sumber energi yang banyak sehingga di
cari sumber energi yang lebih besar ataupun sama besar tetapi dengan harga yang lebih
rendah di banding jangung. Selain itu pemberian pakan jagung yang terlalu banyak dapat
mengakibatkan karkas menjadi lembek.
4. Ampas tahu
Ampas tahu merupakan sisa dari pembuatan tahu yang dibuat dari kacang kedelai,
ampas tahu dapat diberikan kepada ternak besar maupun kecil. Ampas tahu mengandung 80%
air . komposisi zat-zat makanan yang terdapat didalamnyaadalah protein 5%, 5,8% BTEN,
3,5% serat kasar, 1,2 % lemak, dan abu 0,8% dengan kadar protein yang dapat dicerna
22,3%. Dalam penyusunan ransum ampas tahu diberikan sebanyak 7,5% dari total berat
ransum. Ini di sebabkan pemberian ampas tahu yang terlalu banyak pada ternak dapat
mengakibatkan perdagian menjadi lunak.
5. Molases
Merupakan hasil sisa dari pengolahan pabrik gula, bahan ini banyak mengandung zatzat protein akan tetapi miskin akan zat-za- hidra arang yang mudah dapat dicerna. Molases
mudah menjadi asam dan jika demikan bahan ini tidak dapat digunakan lagi.
Adapun kandungan zat-zat makanan yang terdapat pada molases adalah 20,3% air, 1,3 %
Protein, 74.9% BTEN, Bahan ekstrak 0%, serat kasar )0,0%, lemak 0,0% dan abu 3,5 %
sedang kadar protein yang dapat dicerna adalah 0,4%. Pada penyusunan ransum ini molases
diberikan sebanyak 2 % dari berat pakan. Dikarenakan protein yang dapat dicerna hanya
sedikit sekali, dan bila di berikan terlalu banyak pada ternak akan mengakibatkan ternak
menjadi mencret/ diare.
6. Mineral Mix
Merupakan gabungan atau pun campuran dari berbagai mineral dan vitamin yang
berfungsi sebagai pelengkap nilai gizi pada formulasi ransum. Penggunaanya pada ransum
hanya diberikan sedikit saja karena hanya sebagai pelengkap saja dan harganya yang tinggi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Bahan pakan adalah suatu yang dapat diberikan pada ternak ( baik bahan
organik maupun non organik)yang sebagian maupun keseluruhannya dapat
dicerna ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak
2. Zat pakan ( zat makanan) adalah bagian pakan yang dapa dicerna, diserap dan
bermanfaat bagi tubuh, yang secara umum dapat dibagi menjadi 6 yaitu, air,
protein, karbohidrat, mineral, lemak dan vitamin
3. Namun secara internasional bahan pakan dibagi menjadi 8 kelas antara lain :
Pakan kasar (roughage), Hijauan segar ( green forage, pasture), silase (
silage), Sumber energi, Sumber protein, Sumber mineral, Bahan additive,
Sumber Vitamin
4. Dalam menyusun ransum terdapat beberapa cara , yaitu :
Metode Diagonal ( pearsons square)
Metode coba-coba ( Trial and Error )
Metode Simultanneous
linear programming

http://laporankuahmadmujahidin6133.blogspot.com/2012/06/bahan-pakan-danformolasi-ransum.html