Anda di halaman 1dari 21

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

PEMBERSIHAN KARANG GIGI


1.

NAMA PEKERJAAN
Pembersihan Karang Gigi

2. TUJUAN PROSES
a. Sebagai acuan untuk melakukan tindakan pembersihan karang gigi yang tepat.
3.

KETERAMPILAN PETUGAS
a. Dokter gigi
b. Perawat gigi

4. PERALATAN
a. Alat
Ultra Scaller
b. Bahan
4.2.1 Polibag dan penjempitnya
4.2.2 Alkohol 70 %
4.2.3 Betadine
5. URAIAN UMUM
Pembersihan karang gigi sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya penyakit
ginggiva, penyakit periodontal dan karies gigi. Pembersihan karang gigi atau scaling
hanya bisa dilakukan di puskesmas atau di sarana-sarana kesehatan karena
menggunakan alat yang disebut Ultra Scaller dan dilakukan oleh dokter gigi atau
perawat gigi yang terlatih.
6. PROSEDUR
1. Pasien dipersilahkan masuk dan duduk dikursi depan meja dokter.
2. Dilakukan anamnesa dan dicatat di kartu status.
3. Mengukur Tekanan Darah Pasien.
4. Persiapan alat-alat.
5 . P a s i e n d i s i l a h k a n d u d u k d i d e n t a l c h a i r.
6. Posisi mulut pasien setinggi siku operator.
7. Sandaran kursi dalam posisi 45
8. Pasien diinstruksikan kumur terlebih dahulu.
9. Operator memakai sarung tangan, kacamata untuk melindungi mata
dan masker untuk mengurangi inhalasi dan kontaminasi aerosol yang
dihasilkan saat pembersihan karang gigi. Lampu dinyalakan lalu
pasien diinstruksikan untuk buka mulut.
10. Ultrasonic scaler dipegang seperti memegang pulpen, dan
diletakkan pada posisi yang tepat untuk menghasilkan pandangan

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

yang baik dari tip. Aspirasi yang adekuat sangat penting untuk
menghindari akumulai air dalam mulut. Kekuatan yang digunakan
sebaiknya tidak terlalu besar untuk mengeluarkan kalkulus.
11. Tekanan yang pendek, vertikal, dan horisontal dilakukan secara bergantian di
atas deposit. Tekanan lateral yang besar tidak diperlukan karena energi getar
dari alat.
12. Pembersihan karang gigi ini harus dilakukan dengan gerakan yang konstan dan
tip harus paralel atau dengan sudut tidak lebih dari 15 derajat terhadap
permukaan gigi,untuk menghindari permukaan gigi tergores.
13. Alat harus di off-kan secara periodik supaya terjadi aspirasi air dan permukaan
gigi dapat terlihat dengan baik.
14. Pasien diinstruksikan kumur dan kemudian diolesi dengan povidone Iodine.
15. Instruksi Pasien.
16. Kursi diturunkan.
17. Pemberian resep apabila diperlukan.
18. Menyelesaikan administrasi.
7. CATATAN MUTU
a. Buku status Gigi
b. Register gigi
c. Form tindakan ( Bukti bayar)

Sumber :(Fermin A.Carranza, Jr., Dr. Odont. Dan Michael G. Newman, D.D.S,
Clinical Periodontology, W.B. Saunders Company,Philadelphia;465)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

INSTRUKSI KERJA PENCABUTAN GIGI PERMANEN

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

1. NAMA PEKERJAAN
Pencabutan gigi permanen
2. TUJUAN PROSES
Sebagai acuan dalam melakukan pencabutan gigi permanen di unit pelayanan gigi di
puskesmas Pekkae.
3. KETERAMPILAN PETUGAS
Dokter gigi
Perawat gigi terlatih, di bawah pengawasan dokter gigi yang bertugas
4. PERALATAN
Alat
Alat Pemeriksaan ( Sonde, pinset, kaca mulut dan ekscavator )
Cito jet/jarum suntik disposibel 2,5 ml atau 3 ml
Bein
Tang gigi sesuai indikasi
Bahan
Obat suntik untuk cito jet
Kapas/tampon
Sarung tangan
Masker
Betadine 10 %
Obat Lidocaine untuk jarum suntik disposibel
5. URAIAN UMUM
Pencabutan gigi adalah pencabutan gigi yang sudah tidak dapat dipertahankan lagi, atau
atas permintaan pasien dengan alasan tertentu
Pemeriksaan radiologi sangat diperlukan sebelum dilakukan pencabutan gigi untuk
mengetahui keadaan jaringan pendukung gigi, merupakan anjuran
Persetujuan tindakan medik adalah formulir yang diisi oleh pasien yang akan di cabut
giginya, dan pasien sudah mengerti tindakan yang akan dilakukan.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

Semua pekerjaan perawat gigi merupakan tanggung jawab dokter gigi di unit masingmasing / yang bertugas saat itu, dan pendelegasian pekerjaan berdasarkan
pendidikan, keterampilan, pengalaman dan pengamatan
Pemberian antibiotik dilakukan apabila pasca abses, penyakit sistemik, dan pencabutan
dengan penyulit, dll, sedangkan pencabutan normal tidak perlu dengan antibiotik
6. RENCANA PERAWATAN
TAHAP YANG DILAKUKAN

Alat yang digunakan disterilkan lebih dahulu dengan :


- Boiling water
- Alkohol
Mengukur Tekanan Darah Pasien.
Memberitahu pasien bahwa giginya harus dicabut dan memberitahu setiap tahap yang

akan dilakukan, serta menanyakan apakah pasien sudah makan atau belum.
Posisi pasien, untuk gigi RA : posisi pasien ralatif lebih tinggi (di atas dataran siku), dan
duduk pada kursi setengah menyandar. Untuk gigi RB : Posisi pasien relatif lebih

rendah (di bawah dataran siku) dan posisi kursi tegak.


Jika anestesi sudah bereaksi, gunakan elevator (bein) untuk mengetes anestesi,
memperkirakan mobilitas gigi, memisahkan perlekatan gingiva,dan
mengawali pelonggaran alveolus.Mobilitas yang cukup dicapai apabila

elevator ditekan ke apikal dan juga dirotasi ke bukal/fasial.


Penyelesaian pencabutan gigi dilakukan dengan menggunakan tang, tang
dipegang dengan posisi telapak tangan menghadap ke bawah untuk gigi

bawah, dan menghadap ke atas untuk gigi atas.


Arah aplikasi tekanan untuk pencabutan gigi terutama adalah menutup,

paralel (apikal dan oklusal), lateral (bukal, fasial-lingual) dan rotasi.


Apabila gigi sudah tercabut, perikasa soket untuk memastikan tidak ada sisa

gigi/fragmen tulang
Kompresi soket lalu gigit tampon kurang lebih 30 menit s/d 1 jam.
Pemberian tampon betadine pada bekas pencabutan.
Pemberian obat analgesik, antibiotik, bila perlu anti inflamasi.

7. CATATAN MUTU
Buku Status Pasien gigi
Register gigi
Formulir Rujukan Internal /Eksternal
Formulir Persetujuan/penolakan Tindakan Medis

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

Lembaran Resep
Form Tindakan Gigi
Buku pemantauan sasaran mutu
KONSELING/EDUKASI
Menjelaskan kepada pasien/pengantar setelah pencabutan untuk :
Menggigit tampon 1 jam, boleh meludah tapi tampon tidak dibuang/tetap digigit.
Tidak menyentuh bekas pencabutan dengan lidah karena bisa menyebabkan infeksi
Tidak menghisap-hisap karena bisa menyebabkan infeksi
Tidak berkumur-kumur terlalu keras selama 24 jam, menghindari perdarahan dan infeksi
Mengajukan kepada pasien/pengantar untuk menjaga kebersihan mulut dengan cara
menyikat gigi sesudah makan dan sebelum tidur dengan memperagakan cara menyikat
gigi yang benar
Memberi kesempatan pada pasien/pengantar untuk menanyakan hal yang kurang jelas dan
menjawab pertanyaan sampai pasien/penderita jelas
Mengecek pemahaman pasien/pengantar dengan memberikan pertanyaan terbuka atas
informasi yang sudah disampaikan
Mengucapkan terima kasih sudah datang dan semoga lekas sembuh.
Sumber : (Pederson,G.W, DDS.,M.S.D, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996; 32-36)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

ATRAUMATIK RESTORATIVE TREATMENT


(KONSERVASI GIGI)

1. NAMA PEKERJAAN
Atraumatik Restorative Treatment (Konservasi Gigi)
2. TUJUAN
Sebagai acuan kerja untuk mendapatkan diagnosa yang tepat pada kasus hiperaemi
pulpa sehingga dapat dilakukan terapi yang tepat, di unit pelayanan gigi Puskesmas
Pekkae.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

3. KETERAMPILAN PETUGAS
- Dokter gigi
- Perawat gigi dibawah pengawasan dan tanggung jawab dokter gigi unit dan
mempunyai pengalaman 2 tahun
4. PERALATAN
Alat : sonde, kaca mulut, sonde, excavator, pinset,gelas kumur.
Bahan : Zink oxide eugenol, Glass Ionomer,alkohol.
5. URAIAN UMUM
5.1 Hiperaemi pulpa adalah kerusakan pada gigi dimana terjadi dilatasi
pembuluh darah pada pulpa sehingga aliran darah arteri dalam pulpa akan
bertambah.
5.2.
Gejala subyektif :
-Adanya rasa sakit bila kemasukan makanan
- Nyeri dapat ditahan sbentar, tetapi setelah rangsang hilang, nyeri pun
hilang.
- Rangsangan asam, manis, dan dingin terasa sakit
-Tidak ada nyeri spontan.
5.3. Gejala obyektif :
-Karies media / Profunda dan Pulpa belum terbuka.
-Tidak ada periodontitis.
-Test Vitalitas
Sondasi
: ( - ) atau (+),
Chlor Ethil : ( + )
-Diagnosa banding
Pulpitis akut dan pulpitis chronis
6. PROSEDUR
.
6.1.
Dokter gigi/perawat gigi melakukan anamnesa.
6.1.1 Sejak kapan sakitnya.
6.1.2. Apakah ada rasa sakit / ngilu bila kemasukan makanan dan minuman
dingin.
6.1.2 Apakah ada rasa sakit spontan pada malam hari.
6.2. Dokter/perawat gigi melakukan pemeriksaan :
6.2.1 Visual ; tampak caries media sampai profunda
6.2.2 Sondase : bisa (-) negatif / (+) positif
6.2.3 Thermis ; dengan Chlor ethyl : + (positive), ada rasa ngilu.
6.3 Tetapkan diagnosa yang tepat
6.4 Lakukan terapi sesuai diagnosa.
6.4.1. Sterilisasi alat dengan boiling water.
6.4.2 Pasien dibaringkan pada dental unit.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

6.4.3

Operator duduk di kursi samping kanan kepala pasien, disesuaikan dengan


gigi yang akan dirawat.
6.4.4. Pengambilan jaringan karies dengan ekskavator dengan gerakan memutar.
6.4.5
Kavitas dibersihkan dengan butiran kapas yang dibasahi air, dan k
kemudian keringkan dengan butiran kapas.
6.4.6 Kavitas dibersihkan dengan dentin conditioner untuk meningkatkan ikatan
antara bahan tumpat dengan jaringan gigi, digunakan selama 10 detik.
6.4.7 Daerah kerja diisolasi dengan gulungan kapas,selanjutnya bahan tumpat
diaduk sesuai dengan aturan pakai,dan dimasukkan ke dalam kavitas
dengan filling instrument. Untuk kavitas kelas II dan III, bahan tumpat
dapat ditekan dengan matriks, sedangkan pada kavitas klas I di oklusal
dianjurkan untuk menekannya dengan jari segera setelah bahan tumpat
tidak mengkilat lagi.
6.4.8 Rapikan bahan tumpatan dengan pengukir/carver dan diulas dengan pernis
tahan air, jika tumpatan terasa tinggi tentunya harus dikurangi lagi sampai
pasien merasa nyaman, dan akhirnya harus diulas dengan pernis kembali.

7.

CATATAN MUTU
7.1 Status pasien gigi
7.2 Buku harian register gigi
Sumber : (Edi Hartini Sundoro, Serba SerbiIlmu KonservasiGigi. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia, 2005;164-169)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

drg. SRI ANDRIYANI


H. TASWI, S.Farm, Apt PENCABUTAN
GIGI SULUNG
NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024
NIP. 19700413 199103 1 006

I.

NAMA PEKERJAAN
Pencabutan gigi sulung.
2. TUJUAN PROSES
a. Sebagai acuan dalam melakukan pencabutan gigi permanen di unit
pelayanan gigi di puskesmas Pekkae.
3. KETERAMPILAN PETUGAS
a. Dokter gigi
b. Perawat gigi
4. PERALATAN
a. Alat
i. Alat Pemeriksaan ( Sonde, pinset, kaca mulut dan ekscavator )

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

ii. Bein
iii. Tang gigi sesuai indikasi
b. Bahan
i. Kapas/tampon
ii. Sarung tangan
iii. Masker
iv. Betadine 10 %
v. Chlor Ethyl
5. URAIAN UMUM
a. Pencabutan gigi sulung adalah pencabutan gigi pada anak-anak yang
sudah goyang atau sudah tumbuh penggantinya.
b. Persetujuan tindakan medik adalah formulir yang diisi oleh orang tua
pasien yang akan di cabut giginya, dan orang tua pasien sudah mengerti
tindakan yang akan dilakukan
c. Semua pekerjaan perawat gigi merupakan tanggung jawab dokter gigi
di unit masing-masing / yang bertugas saat itu, dan pendelegasian
pekerjaan berdasarkan pendidikan, keterampilan, pengalaman dan
pengamatan.
6. PROSEDUR
Persiapan penderita
Menjelaskan kepada penderita bahwa akan dilakukan tindakan pencabutan gigi
sulungnya dengan tujuan untukmemberi kesempatan gigi permanen tumbuh dengan
baik
Menjelaskan kepada penderita bahwa sebelumnya pencabutan akan dilakukan
pembiusan dan setelah itu penderita akan merasakan dingin (bila menggunakan Chlor
Ethyl). Minta ijin penderita/pengantar untuk dilakukan tindakan (bolehkah saya mulai
sekarang ?)
1. Mempersiapkan alat dan obat anastesi dan alat tindakan pencabutan gigi sulung yang
sudah disteril di media instrument.
2. Mencuci tangan dengan sabun dan memakai sarung tangan steril
Menggunakan Chlor Ethyl :
1. Mengambil kapas steril menggunakan pinset dan menetesinya dengan betadine
2. Mengolesi gusi pada daerah gigi yang akan dicabut dengan gerakan searah 1 kali
3. Mengambil kapas 2 buah gulungan dengan pinset, kemudian kapas dipegang dengan
tangan kiri
4. Memegang Tabung Chlor Ethyl dengan tangan kanan kemudian ujungnya didekatkan
pada kapas dengan jarak 1 cm kemudian menyemprot kapas dengan Chlor Ethyl,
tunggu sampai kapas berbuih
5. Meminta pasien membuka mulut kemudian meletakkan kapas sambil di tekan pada
bagian bukal dan lingual/palatinal gigi yang akan dicabut.
6. Meletakkan ujung tang pada bagian bukal dan lingual/palatinal gigi sampai dengan
cervical gigi /bifurcasi gigi

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

7. Pada gigi yang mempunyai 1 akar (gigi anterior)memutar gigi searah sambil ditarik
keluar
8. Pada gigi yang mempunyai lebih 1 akar menggerak-gerakkan gigi ke arah bukal dan
lingual/palatinal supaya gigi terlepas dan menarik gigi keluar
PENGOBATAN
Mencatat pengobatan pada kartu status penderita

Sumber : (Pederson,G.W, DDS.,M.S.D, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta,


Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996; 32-36)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

KRITERIA RUJUKAN PASIEN GIGI


1. .NAMA PEKERJAAN
Kriteria rujukan pasien gigi
2.TUJUAN PROSES
Sebagai acuan dalam menentukan kriteria rujukan pasien gigi dalam
melaksanakan tindakan medis dan rujukan pasien di unit pelayanan gigi
Puskesmas Pekkae.
3.KETERAMPILAN PETUGAS
3.1
Dokter gigi
3.2
Perawat gigi
4. PERALATAN
4.1 Alat
4.1.1 ATK

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

4.2 Bahan
4.2.1
4.2.2

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

Form Rujukan internal


Form rujukan eksternal

5. URAIAN UMUM
5.1
Rujukan pasien gigi yang dimaksud adalah rujukan dari unit gigi ke unit
lainnya, baik di dalam Puskesmas maupun ke luar Puskesmas
5.2
Rujukan internal adalah rujukan di dalam Puskesmas, rujukan antar unit
5.3
Rujukan eksternal, adalah rujukan ke unit lain/ rumah sakit di luar
Puskesmas karena tidak ada fasilitas yang memadai baik tenaga maupun
peralatan
5.4
Perawat gigi adalah perawat gigi yang telah mempunyai pengalaman
bekerja minimal 2 tahun dan di bawah tanggung jawab dokter gigi unit
6. PROSEDUR
Tindakan Pencabutan Gigi
6.1 Semua pasien dengan usia di atas 20 Tahun yang akan dilakukan tindakan
pencabutan gigi harus dilakukan pemeriksaan tekanan darah, dan dicatat
tekanan darah dalam buku status atau persetujuan tindakan medis jika
dilakukan pencabutan

Klasifikasi tingkat tekanan darah ( mmHg ) berdasarkan JNC VII


Kategori
Optimal
Normal
High normal
Grade I MT ( mild )
Grade 2 MT
Grade 2 MT
Isolated systolic
hipertension

Sistolik
< 120
120 129
130 - 139
140 159
160 179
> 180
> 140

Diastolik
< 80
80 84
85 89
90 99
100 109
> 110

Normal
Prehipertension
Stage I Hipertensi
Stage II Hipertensi
< 90

6.2 Pencabutan gigi dapat dilakukan pada kategori normal dan high normal ( Lihat
umur pasien ) , dengan catatan pasien dalam kondisi baik dan tidak mempunyai
komplikasi DM, Ginjal, Jantung
6.3 Pada Kategori Grade I MT dan Grade II IMT dengan tekanan seperti kolom di
atas , dilakukan rujukan internal dan, ikuti anjuran dari dokter yang menerima
rujukan
6.4 Jika diizinkan dilakukan tindakan oleh dokter, perhatikan atau Tanya kepada
pasien obat yang diminum terakhir ( Pengencer darah ) seperti Aspilet, Ascardia

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

dll, harus dihentikan 2 hari sebelum pencabutan dan 2 hari setelah pencabutan
untuk menghindari perdarahan setelah pencabutan.
Diabetes mellitus
6.5 Jika dicurigai DM Dokter gigi meminta pasien untuk melakukan pemeriksaan
penyaring yaitu Glukosa darah sewaktu atau, glukosa darah puasa dan glukosa
darah 2 jam sesudah makan.
Bukan DM
Belum Pasti
DM
Glukosa darah sewaktu
<110
110 199
200
Glukosa darah puasa
<110
110 125
> 125
Glukosa darah 2 jam PP
< 140
140 200
> 200
6.6 Jika pasien dalam kondisi normal bukan DM, dapat dilakukan pencabutan
apabila glukosa darah sewaktu dan diantara 110 dan 200 dapat lakukan rujukan
internal untuk pencabutan.
6.7 Sedangkan pasien dengan DM terkontrol dapat dilakukan pencabutan dengan
izin dokter yang merawat
Kelainan Jantung
6.8 Semua pasien dengan kelainan Jantung, dilakukan rujukan internal dulu untuk
memastikan apakah pasien tersebut ada kelainan jantung ( Diagnosanya belum
pasti, hanya menurut pengakuan pasien saja ).
6.9 Sedangkan untuk pasien yang diagnosanya sudah jelas lakukan rujukan eksternal
seperti :
6.9.1 MCI ( Mio Card Infark )
6.9.2 Decomp ( pembengkakan jantung )
6.9.3 Angina Pectoris
6.9.4 Jantung Koroner

6.9.5
6.9.6

6.9.7

Pasca Tindakan Medis gigi


Terjadi perdarahan setelah dilakukan tindakan pencabutan gigi, dimana
sudah dilakukan penanganan perdarahan tetapi belum dapat di atasi.
Pasien mengalami syok anafilaktik, terlebih dahulu dilakukan penanganan
sesuai petunjuk kerja anafilaktik syok jika tidak ada perbaikan rujukan ke
Rumah sakit
Pasien Pasca radiasi
Pasien yang mendapat pengobatan kanker dengan radiasi, 6 bulan setelah
radiasi baru dapat dilakukan tindakan pencabutan gigi, mengingat jaringan
saraf dan pembuluh darah masih rapuh

7. CATATAN MUTU
7.1 Rujukan Internal
7.2 Rujukan Eksternal

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

7.3 Buku Daftar rujukan pasien


7.4 Buku status pasien gigi

Sumber : (Pederson,G.W, DDS.,M.S.D, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta,


Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996; 101-102)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

INSTRUKSI KERJA ANAMNESA


SKRINING PASIEN
1. Riwayat Kesehatan
Mendapatkan riwayat kesehatan dan kesehatan gigi dengan teliti sebelum
melakukan perawatan adalah

kewajiban.Paling tidak riwayat kesehatan harus

meliputi kesehatan umum, rasa sakit yang ada, obat-obatan dan pengobatan, alergi,
diabetes, dan tekanan darah.
2. Evaluasi Fisik

Pengamatan awal : pengamatan terhadap pasien dimulai saat pasien masuk ke


bagian poli gigi. Mula-mula jenis kelamin, umurnya, selanjutnya tinggi badan,
cara berjalan dan lain-lain. Sesudah mengevaluasi, perhatian kita terarah pada
kelakuan pasien yang mencerminkan status mental pasien. Pasien yang sangat
cemas atau takut munkin menutupi kondisi dengan bicara berlebihan dan
berkeringat berlebihan atau secara terus terang mengakui kenyataan.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tekanan darah

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

: Penentuan tanda-tanda vital sangat diperlukan pada pasien

poli gigi. Pengukuran tekanan darah tidak hanya dilakukan terhadap pasien
yang diduga hipertensi saja, tetapi bisa dipakai pedoman pada kejadiankejadian yang merugikan sewaktu melakukan perawatan atau sesudahnya.
Tekanan diastolik merupakan indikator yang lebih baik dari hipertensi
dibanding tekanan sistolik : diatas 90 mmHg adalah hipertensi ringan, di atas
100 mmHg hipertensi sedang, pasien dengan tekanan diastolik di atas 110
mmHg merupakan tanda hipertensi yang berat.

Denyut nadi : Meningkatnya denyut nadi kebanyakan terjadi pada pasien yang
takut/cemas dan juga adanya hipertiroid. Ketidakteraturan denyut sering
disebabkan oleh adanya kontraksi ventrikel prematur (PVC). Pada saat
tersebut, perlu dilakukan konsultasi medis sebelum melakukan perawatan.

Respirasi : Dengan mengobservasi pernapasan pasien bisa diungkapkan adanya


hiperventilasi (frekuensi pernapasan orang dewasa adalah 14-18), mengi dari
asma atau kelainan lainnya.

3. Pemeriksaan akhir
Informasi yang didapat dari riwayat kesehatan, evaluasi fisik menghasilkan
evaluasi akhir dari individu yang merupakan calon penerima perawatan bedah
mulut.Pasien mungkin merupakan calon yang baik untuk prosedur yang diusulkan;
atau mungkin diperlukan perubahan perawatan, misalnya pemberian antibiotik
profilaksis, atau mungkin pasien mempunyai resiko tertentu yang memerlukan
penundaan atau rujukan.Jika pemeriksaan akhir meragukan, adalah bijaksana
untuk menghubungi dokter umumnya, atau merujuk pasien untuk dilakukan
pemeriksaan kesehatan.
Sumber : (Pederson,G.W, DDS.,M.S.D, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996; 101-102)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

INSTRUKSI KERJA KONSELING/EDUKASI


Sesudah pencabutan gigi biasanya diikuti dengan rasa sakit, perdarahan, dan
pembengkakan dalam berbagai tingkatan.Sebaiknya diketahui kalau hal tersebut
adalah akibat yang wajar dari pencabutan gigi.
1. PERDARAHAN,bisa dikontrol dengan baik dengan menggigit tampon selama
30 menit sampai 1 jam sesudah pencabutan.Tampon akan memacu terjadinya
beku darah dan melindungi beku darah tersebut. Adanya perdarahan yang
kadang-kadang keluar selama 24 jam pertama sesudah pencabutan masih bisa
dikatakan normal.
2. EDEMA, meskipun edema pasca pencabutan gigi biasanya tidak terlalu berat,
tetapi perlu dicegah
Dengan aplikasi dingin.Kompres es atau potongan-potongan es dalam kantung
plastik yang kemudian dibungkus sebuah atau dua buah handuk adalah metode
yang tepat untuk aplikasi dingin. Selama 24 jam pertama pasca pencabutan,
dianjurkan aplikasi dingin selama 30 menit. Pemberian minuman panas
sebaiknya dihindari karena akan meningkatkan edema.
3. RASA SAKIT/KETIDAKNYAMANAN sesudah pencabutan gigi tidak akan
terjadi sampai pengaruh anestesinya hilang. Saat pulihnya sensasi dari anestesi
adalah saat paling tidak nyaman. Pasien sebaiknya meminum obat yang telah
diresepkan untuk mengurangi rasa sakit tersebut.
4. HINDARI :
- Hindarkan kerusakan daerah bekas pencabutan karena makanan yang
keras.
- Jangan mengisap daerah bekas pencabutan.
- Jangan mengunyah permen karet atau merokok.
- Jangan memberikan rangsang panas pada daerah wajah di dekat
pencabutan.
- Jangan meminum alkohol.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

PADA KEADAAN DIMANA ANDA MERASA MENGALAMI MASALAH DI


LUAR YANG TELAH DISEBUTKAN DI ATAS SILAHKAN HUBUNGI
drg. SRI ANDRIYANITLP : 081355530388
Sumber : (Pederson,G.W, DDS.,M.S.D, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996; 35-36)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

INSTRUKSI KERJA STERILISASI

Di bagian poli gigi, pemliharaan alat di bagi menjadi 3 bagian sesuai dengan
penggunaan dan aplikasinya.

Alat-alat kritis, adalah alat-alat yang berkontak langsung dengan daerah steril
pada tubuh yaitu semua struktur atau jaringan yang tertutup kulit atau mukosa,
karena semua ini mudah terkena infeksi. Apabila memungkinkan sebaiknya
peralatan disterilisasi dengan autoklaf. Apabila tidak memungkinkan
menggunakan autoklaf, maka cara lain untuk mensterilkan adalah dengan air
mendidih sekurang-kurangnya 10 menit. Caranya . Merebus Merupakan tekhnik
disinfeksi yang paling mudah. Waktu yang dianjurkan adalah 15 menit dihitung
setelah air mendidih. Sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5-10 menit
pemanasan tetapi spora dan virus mampu bertahan berjam-jam dengan cara ini.
Untuk proses sterilisasi dengan autoklaf, hal pertama yang dilakukan adalah diisi
sampai elemen panas, kemudian dimasukan alat-alat yang akan sterilisasi. Setelah
itu, ditutup secara horisontal agar rapat, kemudian diatur klep uap , kemudian
dinyalakan tombol on-off dan diatur waktu 15-20 menit. Lalu ditunggu sampai
autoklaf berbunyi, 0,1 Mpa setelah itu ditunggu selama 20 menit. Lalu dimatikan
tombol on-off dan dibuka klep uap secara perlahan-lahan untuk mengeluarkan uap
yang ada di autoklaf, lalu ditunggu hingga mencapai tekana 0 Mpa.Setelah itu
dibuka tutupnya dan diambil alatnya, dan alat-alatpun Steril.Tujuan mencapai
tekanan 0 Mpa adalah agar saat dibuka tutup tidak terlepas atau terluntar untuk
kenyamanan tekanan didalam autoklaf dan diluar autoklaf (berbeda tekanannya).

Alat-alat semikritis, adalah alat-alat yang bisa bersentuhan tetapi sebenarnya


tidak dipergunakan untuk penetrasi ke membran mukosa mulut. Meskipun
terkontaminasi saliva dan darah, alat tersebut biasanya tidak membawa
kontaminan ke daerah steril tubuh. Contohnya kaca mulut, dan alat diagnostik
lainnya. Dapat disterilkan dengan bahan-bahan desinfektan seperti povidone iodine
yang diencerkan sesuai petunjuk pabrik selama 30 menit.

Alat-alat nonkritis, adalah peralatan yang biasanya tidak tidak berkontak dengan
membran mukosa. Seperti pengontrol posisi kursi, lampu, kran air. Apabila

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

terkontaminasi dengan darah, saliva atau keduanya,mula-mula harus dilap dengan


handuk pengisap kemudian desinfeksi dengan larutan antikuman yang cocok.
Sumber : (Pederson,G.W, DDS.,M.S.D, Buku Ajar Praktis Bedah Mulut, Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1996; 35-36)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

drg. SRI ANDRIYANI


H. TASWI, S.Farm, Apt
PENATALAKSANAAN
DENTO
ALVEOLAR
ABSES
NIP. 19790307
200604 2 024NIP.
19790307 200604 2 024
NIP. 19700413 199103 1 006

1. NAMA PEKERJAAN
Penatalaksanaan dento alveolar abses.
2. TUJUAN
1.1 Sebagai acuan kerja untuk mendapatkan diagnosa yang tepat pada penyakit dento
alveolar abses sehingga dapat dilakukan terapi yang tepat di Puskesmas Pekkae.
3. KETERAMPILAN PETUGAS
- Dokter Gigi
4. PERALATAN
Dokter gigi/Perawat gigi mempersiapkan alat diagnosa seperti sonde, kaca
mulut, pinset dan excavator, High speed bur.
5

URAIAN UMUM
Dento alveolar abses adalah suatu pengumpulan nanah terlokalisasi didalam tulang
alveolar pada apeks akar setelah matinya pulpa dengan perluasan infeksi melalui
foramen apikal masuk ke dalam jaringan periapikal.
5.1.1

Gejala Subyektif :
5.1.1.1 Adanya pembengkakan pada pipi
5.1.1.2 Demam, suhu badan naik
5.1.1.3 Gigi terasa sakit dan kadang-kadang disertai goyang
5.1.1.4 Penderita sukar tidur, lesu dan pusing.
5.1.1.5 Kelenjar lymphe membesar.
5.2 Gejala Obyektif
5.2.1.1 Gigi gangraen dengan sondasi : (-)
5.2.1.2 P/T
: (+)
5.2.1.3 Adanya pembengkakan
5.2.1.3.1 Pada gigi depan atas pembengkakan meluas pada bibir
atas dan sampai pada kelompak mata

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

5.2.1.3.2
5.2.1.3.3
5.2.1.3.4

Hal :

Pada gigi posterior atas meluas pada pipi


Pada gigi anterior bawah pembengkakan pada bibir
bawah dapat meluas ke dagu
Pada gigi posterior bawah pembengkakan pada pipi
meluas sampai bawah telinga atau sampai batas sekeliling
rahang bawah menuju submandibularis

PROSEDUR
6.1 Dokter gigi /perawat gigi melakukan anamnesa
6.2 Dokter gigi melakukan pemeriksaan obyektif
6.3 Lakukan drainase jika gigi yang sakit belum terbuka ( Open bur )
6.4 Dokter merencanakan terapi atau tindakan yang akan dilakukan
6.4.1 Lakukan pengobatan atau tindakan yang sesuai dengan diagnosa
6.4.2 1. Beri obat antibotik
2. Beri pereda rasa sakit / penurun demam jika pasien demam
3. Lakukan perawatan endodontik atau cabut gigi penyebab

7 CATATAN MUTU
Buku status pasien
7.1 Buku register gigi
7.2 Buku register loket
7.3 Lembaran Resep
7.4 Formulir Rujukan Internal dan Eksternal
7.5 Forn Surat Keterangan Sakit

Sumber : (Grossman,L.I, Ilmu Endodontik Dalam Praktek, Jakarta, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, 1995; 21-23)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

TAMBALAN AMALGAM KELAS I


1. NAMA PEKERJAAN
1.1 Tambalan amalgam kelas I
2. TUJUAN PROSES
2.1 Sebagai acuan kerja untuk mendapatkan tindakan yang tepat pada penambalan
gigi dengan bahan tambalan amalgam pada kasus kelas I Black ( karies
oklusal) di unit pelayanan gigi Puskesmas Pekkae.
3. KETERAMPILAN PETUGAS
3.1 Doktergigi
3.2 Perawat gigi terlatih

4.1.1
4.1.2
4.1.3
4.1.4
4.1.5
4.2.1
4.2.2
4.2.3
4.2.4

4. PERALATAN
4.1 Alat
Amalgam Stoper/Amalgam Pistol
Burnisher Bulat dan bercabang
Lumpang dan Alu
Handpiece dan bur
Plugger
4.2 Bahan
Gelas Kumur yang telah diisi air
Aloi Hg-Sn
Ca(OH)2
Pernis copalite
5.

URAIAN UMUM
5.1 Tambalan amalgam kelas I adalah tambalan pada permukaan oklusal dari
gigi susu atau permanenet gigi premolar dan molar yang mengalami
demineralisasi secara klinik dan dentin di bawahnya telah mengalami
diskolorisasi dan terlihat dari email sekitarnya
5.2 Dilaksanakan di ruang pemeriksaan /klinik gigi oleh seorang doktergigi /
perawat gigi pada semua pasien yang giginya berlubang pada permukaan
oklusal.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

PROSEDUR
6.1 Menjelaskan kepada pasien bahwa akan dilakukan penambalan gigi dengan
bahan tambalan amalgam, setelah mendapatkan persetujuan baru dilakukan
tindakan
6.2 Operator mencuci tangan dan mengeringkan seperti diatur dlm petunjuk
kerja lalu memakai masker dan sarung tangan.
6.3 Membuat kavitas permukaan kelas I Black dengan menggunakan bur.
6.4 Membersihkan kavitas dengan air dan keringkan dengan semprotan udara.
6.5 Memberikan lapisan semen pelapik Ca(OH)2, diamkan 1 menit.
6.6 Membersihkan kelebihan semen dengan excavator tajam.
6.7 Mengulaskan dinding kavitas dengan pernis copalite dengan menggunakan
kapas kecil.
6.8 Amalgam dicampur lalu ditempatkan dalam tempat plastik kecil. Ujung
pistol amalgam dibenamkan pada campuran amalgam dan jikatelah terisi
penuh ditumpatkan ke kavitas, lalu dimampatkan dengan plugger.
6.9 Setelah proses selesai,permukaan tumpatan hendaknya dihaluskan dengan
burnisher.

7. CATATAN MUTU
a.
b.

Status pasien gigi


Buku harian register gigi

Sumber : (Pitt Ford.T.R., Restorasi Gigi, Edisi 2; Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 1993,
Hal : 62, 73)

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

PERAWATAN SALURAN AKAR (ENDODONSIA)/PULPEKTOMI


1. NAMA PEKERJAAN
Perawatan Saluran Akar (Endodonsia) / Pulpektomi
2. TUJUAN
Sebagai acuan petugas untuk melakukan perawatan endodonsia dengan tepat.
3. KETERAMPILAN PETUGAS
3.1 Dokter Gigi
4. ALAT DAN BAHAN
Alat :
4.1 Citoject,mirror, pinset, sonde, ekskavator dan kuret.
4.2 Hand Piece high speed dan Bur
4.3 Rimer dan K- File
4.4 Barbed Broach
4.5 Absorbent points
.
Bahan :
4.6 Larutan salin dan Sodium hipoklorit
4.7 Lidokain 2%
4.8 Cavit
4.9 Eugenol, CHKM.
5. URAIAN UMUM
Pulpektomi adalah pengambilan jaringan pulpa gigi baik pada gigi vital atau pada
gigi non vital. Pada pulpektomi, pulpa benar-benar robek dari saluran akar waktu
diekstirpasi. Reaksi terdiri dari perdarahan, inflamasi, dan perbaikan. Meskipun
dapat timbul rasa sakit, biasanya minimal dan dapat ditanggulangi dengan
analgesik ringan.
6. PROSEDUR
6.1 Sterilisasi alat-alat yang akan digunakan.
6.2 Anestesi gigi yang terserang.
6.3 Buat jalan masuk kedalam pulpa.
6.4 Keluarkan pulpa dari kamar pulpa ekskavator atau kuret.
6.5 Lakukan irigasi dan debridement di dalam kamar pulpa.
6.6 Temukan orifis saluran akar.
6.7 Lakukan ekstirpasi jaringan pulpa dengan melakukan instrumentasi yang
berurutan dengan menggunakan reamer atau file sampai 1 mm dari apeks akar
radiografik.
6.8 Lakukan irigasi dengan larutan salin dan larutan sodium hipoklorit.
6.9 Bersihkan debris dengan barbed broach, pilih yang agak longgar sehingga
dapat berputar didalam saluran akar tanpa kemungkinan terjepit.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.: IK/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Hal :

6.10 Keringkan saluran akar dengan absorbent poits yang steril.


6.11Masukkan gulungan kapas yang telah dibasahi dengan bahan pereda rasa sakit
seperti eugenol.
6.12 Letakkan Suatu tumpatan sementara seperti misalnya cavit.
6.13 Hilangkan trauma oklusal.
6.14 Beri resep obat analgesika yang hanya digunakan bila timbul rasa sakit.
7. CATATAN MUTU
7.1 Buku status gigi
7.2 Buku register gigi

MENGETAHUI
KEPALA UPTD PUSKESMAS PEKKAE KOORDINATOR POLIKLINIK GIGI

H. TASWI, S.Farm, Apt


NIP. 19700413 199103 1 006

drg. SRI ANDRIYANI


NIP. 19790307 200604 2 024NIP. 19790307 200604 2 024

Anda mungkin juga menyukai