Anda di halaman 1dari 3

Diagnosis Banding

1. Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei dan produknya. Diagnosis Skabies dapat
ditegakkan dengan didapatkannya 2 dari 4 tanda cardinal, yaitu (Handoko,
2010):
- Proritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
-

aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah
keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula
dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar

tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut.


Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk gaaris lurus atau berkelok,
rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau
vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf
(pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).
Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum

korneum yang tipis, yaitu: sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian
volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita),
umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada
bayi dapat menyerang telapak dan telapak kaki (Handoko, 2010).
Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan meneteskan larutan
methylene blue pada lesi lalu dibiarkan dan dihapus menggunakan kertas tisu.
Bila warna larutan methylene blue menetap, berarti tes positif.
2. Creeping Eruption
Creeping eruption adalah kelainan kulit yang merupakan peradangan
berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif, disebabkan
oleh invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing (Aisah,
2010).
Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mulamula akan timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi
berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3mm, dan
berwarna kemerahan. Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar
seperti benang berkelok-kelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul, dan

membentuk terowongan (burrow). Rasa gatal biasanya lebih hebat pada


malam hari (Aisah, 2010).
Tempat predileksi adalah di tungkai, plantar, tangan, anus, bokong dan
paha, juga di bagian tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat
larva berada (Aisah, 2010).
3. Bronkitis Akut

Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronchus yang disebabkan


oleh berbagai macam mikroorganisme baik virus, bakteri, maupun parasit.
Ada 2 jenis bronkitis yaitu bronkitis akut dan kronik. Gejala utama bronkitis
akut adalah batuk-batuk yang dapat berlangsung 2-3 minggu. Batuk bisa atau
tanpa disertai dahak. Dahak dapat berwarna jernih, putih, kuning
kehijauan,atau hijau. Selain batuk, bronkitis akut dapat disertai gejala berikut
ini (Muttaqin, 2008):
1. Demam
2. Sesak napas
3. Bunyi napas mengi atau ngik
4. Rasa tidak nyaman di dada atau sakit dada
Gejala bronkitis akut tidaklah spesifik dan menyerupai gejala infeksi
saluran pernafasan lainnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum
baik, tidak tampak sakit berat, tidak sesak atau takipnea, mungkin ditemukan
adanya nasofaringitis. Pada auskultasi paru didapatkan ronki basah kasar yang
tidak tetap (dapat hilang atau pindah setelah batuk), wheezing dengan
berbagai gradasi dan krepitasi.
4. Asthma bronkial
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang
ditandai dengan mengi episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan
saluran napas. Ciri-ciri klinis yang dominan adalah riwayat episode sesak,
terutama pada malam hari yang sering disertai batuk. Pada pemeriksaan fisik
pasien asma, sering ditemukan perubahan cara bernapas, dan terjadi perubahan
bentuk anatomi toraks. Pada inspeksi dapat ditemukan napas cepat, kesulitan
bernapas, menggunakan otot napas tambahan di leher, perut dan dada. Pada
auskultasi dapat ditemukan mengi atau ekspirasi memanjang (Rengganis,
2008).

Asma dipengaruhi oleh dua faktor yaitu genetik dan lingkungan. Ada
beberapa hal yang harus diketahui dari pasien asma antara lain: riwayat hidung
ingusan atau mampat (rhinitis alergi), mata gatal, merah, dan berair
(konjungtivitis alergi), dan eksem atopi, batuk yang sering kambuh (kronik)
disertai mengi, flu berulang, sakit akibat perubahan musim atau pergantian
cuaca, adanya hambatan beraktivitas karena masalah pernapasan (saat
berolahraga), sering terbangun pada malam hari, riwayat keluarga (riwayat
asma, rinitis atau alergi lainnya dalam keluarga), memelihara binatang di
dalam rumah, banyak kecoa, terdapat bagian yang lembab di dalam rumah.
Pemeriksaan penunjaang yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis
asma adalah Spirometer, Peak Flow Meter, X-ray thorax (Rengganis, 2008).

Aisah, Siti. 2010. Creeping Eruption dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Handoko, Ronny P. 2010. Skabies dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rengganis, Iris. 2008. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial. Majalah
Kedokteran Indonesia.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.