Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dengan produksi
minyak per ha yang paling tinggi dari penghasil minyak nabati lainnya.
Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah
Malaysia. Sebanyak 85% pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia
dan Malaysia.
Walaupun produksi kelapa sawit di Indonesia secara umum mengalami
peningkatan, namun peningkatan produksi ini belum optimal karena ada
beberapa faktor yang menyebabkan produksi tidak optimal seperti
masalah kesuburan tanah, bibit unggul, dan gangguan hama
penyakit tanaman kelapa sawit.

Ada banyak hama yang merusak tanaman kelapa sawit salah satunya
adalah ulat api. Ulat api merupakan hama pemakan daun kelapa sawit yang
harus dikendalikan diperkebunan kelapa sawit. Diantara jenis-jenis ulat api
thosea asigna dikenal sebagai ulat yang paling rakus dan yang paling sering
menimbulkan kerugian di perkebunan kelapa sawit baik pada tanaman muda
tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun pada tanaman tua tanaman
menghasilkan (TM).
Pengendalian hama ulat pemakan daun kelapa sawit merupakan suatu
faktor penting dalam manajemen perkebunan kelapa sawit. Sampai kini
pengendalian hama ini masih terus dilakukan dengan penyemprotan
Insektisida walaupun menimbulkan efek sampingan yang tidak baik. Oleh
karena itu konsep pengendalian hama terpadu harus dilaksanakan di
perkebunan kelapa sawit.
Pengendalian hama terpadu adalah dengan menggunkan metode
pemanfaatan daun pepaya sebagai Insektisida nabati untuk pengendalian ulat
pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) di areal tanaman menghasilkan.
Dengan pembuatan Insektisida nabati tersebut dapat menekan pertumbuhan
UPDKS diperkebunan kelapa sawit. Hampir semua bagian tanaman pepaya

dapat dimanfaatkan mulai dari daun, batang, akar, maupun buah. Getah
pepaya yang sering disebut sebagai papain dapat digunakan untuk berbagai
macam keperluan antara lain adalah penjernih bir, pengempuk daging, bahan
baku industri penyamak kulit, serta digunakan dalam industri farmasi dan
kosmetik ( Warisno 2003 ).
(Seila 2010). Berdasarkan hasil uji efek antipiretik ekstrak daun pepaya
pada tikus Wistar yang diamati selama 120 menit, dapat disimpulkan bahwa
ekstrak daun pepaya dengan dosis 200mg/kg BB dapat memberikan efek
antipiretik pada tikus Wistar, namun efek antipiretiknya lebih rendah
dibandingkan dengan parasetamol.
Pembuatan Insektisida nabati penting dilakukan karena terbukti dapat
digunakan

sebagai

menggandung

pengendalian

bahan aktif

hama

penyakit

tanaman

karena

papain dan cost pembuatanya tidak mahal

sehingga sangat efektif diaplikasikan diperusahaan perkebunan kelapa sawit.


1.2 Tujuan Penelitian
1.
2.

Mengatahui kandugan daun pepaya


Megetahui manfaat daun pepaya sebagai Insektisida nabati untuk
pengendalian UPDKS areal TM

1.3 Manfaat Penelitian


1. Menambah ilmu pengetahuan mengenai daun pepaya (Caricapapaya L.)
sebagai Insektisida nabati
2. Untuk dapat dijadikan acuan pada penelitian selanjutnya
1.4 Hipotesa Penelitian
1. Dengan pembuatan Insektisida nabati dapat menekan pertumbuhan
2.

UPDKS di areal TM
Daun pepaya mengandung bahan aktif papain sehingga dapat dijadikan
untuk pembuatan Insektisida nabati

1.5 Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini hanyalah membahas tentang


pemanfaatan daun pepaya, kandugan daun pepaya dan pengendalian UPDKS pada
areal tanaman menghasilkan dengan penggunaan herbisida nabati daun pepaya.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1 Botani Tanaman Kelapa Sawit


Menurut Anonimus (2010), kelapa sawit terdiri dari berbagai bagian
bagian yaitu : akar, batang dan daun.
Akar yang pertama muncul dari biji yang telah berkecambah adalah
radikula yang panjangnya 15 cm. Selanjutnya akan tumbuh akar primer yang
keluar dari bagian bawah batangdengan arah 45 dari permukaan tanah. Dari akar
primer ini akan tumbuh akar sekunder, tertier dan kwarter. Penyebaran akar sangat
dipengaruhi oleh kondisi tanah (Pahan, 2006).
Batang berbentuk silindris dan mempunyai diameter 45 cm 60 cm pada
tanaman dewasa. Bagian bawah umumnya lebih besar disebut bongkol batang.
Tinggi tanaman sangat bervariasi mencapai 15 18 m (Anonimus, 2010).
Daun terdiri dari pelepah daun, anak daun dan lidi. Setiap anak daun
terdiri dari lidi dan dua helaian daun. Pelepah daun letaknya pada batang menurut
spiral, ada yang kearah kiri dan umumnya kearah kanan. Dalam satu tandan di
jumpai bunga jantan dan bunga betina (Pahan, 2006).
2.1.1 Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit
Syarat tumbuh tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian
yaitu:
1. Tanah
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti
podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan
alluvial. Tekstur lempung atau lempung berpasir dengan pH tanah 4,0
6,0 (Anonimus, 2010).

2. Iklim
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropik basah
disekitar lintang utara selatan 12 C. Jumlah curah hujan yang baik

adalah 200 2500 mm/tahun dan temperatur yang optimal bagi


pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah 24-28 C (Anonimus, 2010).
2.2 Kandungan Kimia Daun Pepaya
Daun pepaya mengandung sejumlah komponen aktif yang dapat
meningkatkan kekuatan total antioksidan di dalam darah dan menurunkan
level perooxidation level, seperti papain, chymopapain, cystatin, -tocopherol,
ascorbic acid, flavonoid, cyanogenic glucosides dan glucosinolates (Seigler,
2002).

Gambar 2.2 daun pepaya


Daun pepaya mengandung enzim papain, alkaloid karpain, pseudo
karpain, glikosida, karposid, dan saponin. (Muhlisah, 2001).