Anda di halaman 1dari 3

LO 3

Pemberian Fluor Secara Sistemik


Fluoride sistemik adalah fluoride yang diperoleh tubuh melalui
pencernaan dan ikut membentuk struktur gigi. Fluoride sistemik juga
memberikan perlindungan topikal karena fluoride ada di dalam air liur
yang terus membasahi gigi. Fluoride sistemik ini meliputi fluoridasi air
minum dan melalui pemberian makanan tambahan fluoride yang
berbentuk tablet, tetes atau tablet isap. Namun di sisi lain, para ahli sudah
mengembangkan berbagai metode penggunaan fluor, yang kemudian
dibedakan menjadi metode perorangan dan kolektif. Berikut adalah
mekanisme fluor secara sistemik:
1. Absorpsi
Kira-kira 75-90 % dari fluor yang dikonsumsi diserap. Didalam
lambung yang bersifat asam, fluor dikonversi menjadi hidrogen
fluorida (HF) dan hamper 40% dari fluor yang dikonsumsi diserap oleh
lambung dalam bentuk HF. pH asam lambung yang tinggi akan
mengurangkan absorpsi dengan mengurangkan konsentrasi HF. Fluor
yang tidak diabsorpsi dilambung akan diserap oleh usus dan pH tidak
mempengaruhi absorpsinya berbanding di lambung. Kadar kation yang
tinggi yang bisa membentuk kompleks dengan fluor (seperti
kalsium,magnesium dan aluminium) turut menyebabkan menurunnya
absorpsi fluor di gastrointestinal.
2. Distribusi
Setelah diabsorpsi ke dalam darah,fluor didistribusikan keseluruh
tubuh dengan kira-kira hampir 99% fluor berada di daerah yang tinggi
kandungan kalsium seperti tulang dan gigi (dentin dan enamel) dimana
ia tersusun seperti crystal lattice. Fluor bisa meleawti plasenta dan
dijumpai didalam air susu ibu pada kadar yang rendah yaitu sama
seperti di dalam darah. Pada kondisi tertentu,kadar fluor pada plasma
juga dapat menjadi indikasi kepada kadar fluor didalam air minum
yang dikonsumsi. USNRC (1993) mengatakan bahawa Air
merupakan sumber utama untuk pengambilan fluor,konsentrasi fluor
plasma puasa pada dewasa muda dan dewasa dalam mikromol per liter

secara kasarnya sama dengan konsenteasi fluor didalam air minum


dalam unit miligram per liter.
3. Ekskresi
Fluor diekskresikan secara primer oleh urin (ICPS,2002). Urinary
fluor clearance meningkat dengan pH urin disebabkan oleh penurunan
konsentrasi HF. Pelbagai faktor seperti diet dan obat-obatan yang bisa
memberi efek kepada pH urin dan ini seterusnya akan memberi efek
terhadap fluoride clearance dan retention.

LO 10
Fluorosis dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Penggunaan air berfluoride pada tingkat kelas 1ppm yang konstan
merupakan penyebab bintik gigi yang paling ringan.
2. Sangat ringan (Very Mild) : dalam jenis ini ada daerah putih sangat
kecil yang kadang-kadang terlihat pada permukaan gigi, tapi tidak
melibatkan lebih dari 25% dari permukaan gigi.
3. Ringan (Mild) : dalam jenis ini ada keterlibatan gigi lebih luas dan
melibatkan 50% dari permukaan gigi.
4. Sedang (Moderate) : gigi memiliki keterlibatan permukaan yang lebih
banyak, mengalami atrisi, dan menunjukkan pigmentasi kuning atau
coklat.
5. Berat (Severe) : semua permukaan enamel terlibat, terdapat noda coklat
yang luas, dan permukaan gigi mengalami korosi.

LO 4
Penetapan kadar fluorida dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara
lain

dengan

kromatografi-ion,

ion-selective

electrode,

dan

kolorimetri

(Fawell,Bailey, Chilton, Dahi,Fewtrell, & Magara, 2006). Diantara metode yang


disarankan untuk penentuan ion fluorida dalam air, metode elektroda dan

kolorimetri merupakan metode yang paling memuaskan pada saat ini


(Pudjianto,1984).
Pada metode kolorimetri bahan-bahan kimia yang digunakan yaitu :
Standard Natrium Fluorida, Sodium 2-parasulfofenilazo 1,8-dihidroksi-3,6naftalen disulfonat (SPADNS), Zirkonil klorida oktahidrat, Asam klorida Pekat,
dan Aquadest.
Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah Spektrofotometer UV-Vis, Timbangan
analitik mikro pipet, lemari pendingin, alat-alat gelas.
Cara kerja :
-

Membuat larutan induk fluorida


Membuat larutan standar fluorida
Membuat larutan pereaksi SPADNS
Membuat larutan asam zirkonil
Membuat larutan pembanding

Cara menentukan kadarnya : Diukur serapannya pada panjang gelombang


maksimum setiap 5 menit selama 30 menit dengan menggunakan blanko larutan
pembanding SPADNS.
Sumber :
1. Astriningrum, Yodifta, dkk. 2010. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. VII,
No. 3, Desember 2010, 46-57 ANALISIS KANDUNGAN ION
FLUORIDA PADA SAMPEL AIR TANAH DAN AIR PAM SECARA
SPEKTROFOTOMETRI Universitas Indonesia FMIPA, Departemen
Farmasi
2. Herdiyati, Yetty, dkk. 2010. Penggunaan Fluor dalam Kedokteran Gigi.
Bandung: FKG UNPAD