Anda di halaman 1dari 33

Sifat-sifat koloid

1. Efek Tyndall
Sifat pengahamburan cahaya oleh koloid di temukan oleh John Tyndall, oleh karena itu sifat ini
dinamakan Tyndall. Efek dari Tyndall digunakan untuk membedakan system koloid dari larutan
sejati, contoh dalam kehidupan sehari hari dapat diamati dari langit yang tampak berwarna biru
atau terkandang merah/oranye.
Selain itu contoh lainnya adalah pada koloid kanji dan larutan Na2Cr2O7, maka sinar
dihamburkan oleh system koloid tetapi tidak dihamburkan oleh larutan sejati hal ini dapat dilihat
terdapat berkas sinar pada larutan. Larutan koloid kanji memiliki partikel-partikel koloid relatif
besar untuk dapat menhamburkan sinar dan sebaliknya Na2Cr2O7 memiliki partikel-partikel
yang relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi sedikit kecil dan sulit diamati.

2. Gerak Brown
Dibawah mikroskop ultra, partikel koloid akan tampak sebagai titik cahaya. Jika pergerakan titik
cahaya atau partikel tersebut diikuti, partikel itu bergerak terus-menerus dengan gerakan zigzag.
Hal ini pertama kali diamati oleh Robert Brown (1773-1858), seorang ahli botani inggris pada
tahun 1827. Ia sedang mengamati butiran sari tumbuhan pada permukaan air dengan mikroskop.
Partikel koloid dalam medium pendispersinya disebut gerak brown.
Bagaimana gerak brown dijelaskan?
Partikel partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut bersifat acak seperti pada zat
cair dan gas. Sistem koloid dengan medium pendipersi zat cair atau gas, partikel-partikel

menghasilkan tumbukan. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Partikel koloid cukup
kecil, tumbukan cenderung tidak seimbang. Dan menyebabkan perubahan arah partikel sehingga
terjadi gerak zigzag atau gerak brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak brown. Semakin besar ukuran
partikel, semakin lambat gerak brown.
Gerak Brown dipengerahui oleh suhu. Semakin tinggi suhu system, koloid, semakin besar energi
kinektik yang dimiliki partikel medium. Akibatnya, gerak Brown dari partikel fase terdispersinya
semakin cepat. Semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

3. Adsorpsi koloid

Partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka partikel zat cair atau gas akan
terakumulasi. Fenomena disebut adsorpsi. Jadi adsorpsi terkait dengan penyerapan partikel pada
permukaan zat. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel
pendispersi pada permukaanya. Daya adsorpsi partikel koloid tergolong besar Karenna
partikelnya memberikan sesuatu permukaan yang luas. Sifat ini telah digunakan dalam berbagai
proses seperti penjernihan air.

4. Muatan koloid sol


Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid. Semua partikel koloid memiliki muatan
sejenis (positif dan negatif). Maka terdapat gaya tolak menolak antar partikel koloid. Partikel
koloid tidak dapat bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid. Sistem koloid
secara keseluruhan bersifat netral.
a. Sumber muatan koloid sol
Partikel-partikel koloid mendapat mutan listrik melalui dua cara, yaitu dengan proses adsorpsi
dan proses ionisasi gugus permukaan partikelnya.
- Proses adsorpsi
Partikel koloid dapat mengadsorpsi partikel bermuatan dari fase pendispersinya. Jenis muatan
tergantung dari jenis partikel yang bermuatan. Partikel sol Fel (OH)3 kemampuan untuk
mengadsorpsi kation dari medium pendisperinya sehingga bermuatan positif, sedangkal partikel
sol As2S3 mengadsorpsi anion dari medium pendispersinya sehingga bermuatan negatif.
Sol AgCI dalam medium pendispersi dengan kation Ag+ berlebihan akan mengadsorpsi Ag+
sehingga bermuatan positif. Jika anion CI- berlebih, maka sol AgCI akan mengadsorpsi ion CIsehingga bermuatan positif.
- Proses ionisasi gugus permukaan partikel
Beberapa partikel koloid memperoleh muatan dari proses ionisasi gugus-gugus yang ada pada
permukaan partikel koloid.

Koloid protein
Koloid protein adalah jenis koloid sol yang mempunyai gugus yang bersifat asam (-COOH) dan
biasa (-NH2). Kedua gugus ini dapat terionisasi dan memberikan muatan pada molekul protein.
Pada ph rendah , gugus basa NH2 akan menerima proton dan membentuk gugus NH3. Ph
tinggi, gugus COOH akan mendonorkan proton dan membentuk gugus COO-. Pada pH
intermediet partikel protein bermuatan netral karena muatan NH3+ dan COO- saling
meniadakan.
Koloid sabun dan deterjen
Pada konsentrasi relatif pekat, molekul ini dapat bergabung membentuk partikel berukuran
koloid yang disebut misel. Zat yang molejulnya bergabung secara spontan dalam suatu fase
pendispersi dan membentuk partikel berukuran koloid disebut koloid terasosiasi.
Sabun adalah garam karboksilat dengan rumus R-COO-Na+.
Anion R-COO- terdiri dari gugus R- yang bersifat non pola. Gugus R- atau ekor non-polar tidak
larut dalam air sehingga akan terorientasi ke pusat.
b. Kestabilan koloid
Muatan partikel koloid adalah sejenis cenderung karena sering tolak-monolak.
c. Lapisan bermutar ganda
Permukaan partikel Koloid mendapat muatan bahwa partikel-partikel. lapisan bermuatan listrik
ini selanjutnya akan menarik ion-ion dengan
Bagaimana sebenarnya struktur dari lapisan bermuatan ganda ini?
Permukaan lapisan ganda ini mengikuti model Helmoslzt. Sekarang model yang lebih akurat
adalah :
Lapisan padat : koloid menarik ion-ion dengan muatan yang berlawanan.
Lapisandifusi : merupakan lapisan dimana muatan berlawanan dari medium pendispersi difusi
d. Elektroforesis
Partikel koloid sol bermuatan listrik, maka partikel ini akan bergerak dalm medan listrik.
Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik disebut elektrofesis.
Femonema elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan partikel koloid.

5. Koagulasi
Partikel-partikel koloid yang bersifat stabil karena memiliki muatan listrik sejenis. Apabila
muatan listrik itu hilang , maka partikel koloid tersebut akan bergabung membentuk gumpalan.
Proses penggumpalan partikel koloid dan pengendapannya disebut Koagulasi.
Penghilangan muatan listrik pada partikel koloid ini dapat dilakukan empat cara yaitu :
a. Menggunakan prinsip elektroforesis
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke electrode dengan
muatan berlawanan. Ketika partikel mencapai electrode, maka partikel akan kehilangan
muatannya.
b. Penambahan koloid lain dengan muatan berlawanan
Sistem koloid bermuatan positif dicampur dengan sistem koloid lain yang bermuatan negatif,
kedua koloid tersebut akan saling mengadsorpsi menjadi netral maka terbentuk kogulasi.
c. Penambahan elektrolit
Elektrolit ditambahkan kedalam sistem koloid maka partikel koloid yang bermuatan negatif akan
menarik ion positif dari elektrolit. Partikel koloid yang bermuatan positif akan menarik ion
negatif dari elektrolit. Menyebabkan partikel koloid tersebut dikelilingi lapisan kedua yang
memiliki muatan berlawanan.
d. Pendidihan
Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan jumlah tumbukan antara partikel-partikel sol dengan
molekul-molekul air bertambah banyak. Menyebabkan lepasnya elekrolit yang teradsorpsi pada
permukaan koloid.

6. Koloid pelindung
Ukuran partikel koloid berada di antara partikel larutan dan suspensi, karena itu cara
pembuatannya dapat dilakukan dengan memperbesar partikel larutan atau memperkecil partikel
suspensi. Maka dari itu, ada dua metode dasar dalam pembuatan iystem koloid sol, yaitu:
- Metode kondensasi yang merupakan metode bergabungnya partikel-partikel kecil larutan sejati
yang membentuk partikel-partikel berukuran koloid.
- Metode dispersi yang merupakan metode dipecahnya partikel-partikel besar sehingga menjadi
partikel-partikel berukuran koloid.
halaman utama

Sifat-Sifat Koloid
Kata Kunci: adsorbsi, efek tyndall, gerak brown, koagulasi, koloid
Ditulis oleh Redaksi chem-is-try.org pada 11-04-2009

Sifat-sifat khas koloid meliputi :


a. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid.
b. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid.

Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+

Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-

c. Adsorbsi
Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi (penyerapan) terhadap partikel atau ion atau
senyawa yang lain.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan dari absorbsi yang artinya
penyerapan sampai ke bawah permukaan).
Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+.
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S2.
d. Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya
koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara
kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
e. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan medium pendispersinya cairan.
Koloid Liofil:
sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya besar terhadap medium pendispersinya.
Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat
Koloid Liofob:
sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya kecil terhadap medium pendispersinya.

Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+

Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-

Sistem koloid, yang terdiri dari koloid sol, emulsi, dan buih masingmasing mempunyai sifat-sifat tertentu. Untuk lebih jelasnya, mari
kita simak penjelasan berikut ini:

1.

Koloid Sol

A.

Pembagian Koloid Sol

Seperti yang telah dijelaskan, sol merupakan jenis koloid


dimana fase terdispersinya merupakan zat padat. Berdasarkan
medium pendispersinya, sol dapat dibagi menjadi:

1.

Sol Padat

Sol padat merupakan sol di dalam medium pendispersi


padat. Contohnya adalah paduan logam, gelas berwarna, dan intan
hitam.

Sol 2.

Sol Cair (Sol)

Sol cair merupakan sol di dalam medium pendispersi cair.


Contohnya adalah cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat, dll.

Sol3.

Sol Gas (Aerosol Padat)

Sol gas merupakan sol di dalam medium pendispersi padat.


Contohnya adalah debu di udara, asap pembakaran, dll.

B.

Sifat-Sifat Koloid Sol

1.

Efek Tyndall

Efek tyndall ini ditemukan oleh John


Tyndall

(1820-1893),

seorang

ahli

fisika

Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek


tyndall.
Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika
suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan
sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut
tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid
(gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena
partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif
besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya,
pada

larutan

sejati, partikel-partikelnya

relatif kecil sehingga

hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

2.

Gerak Brown

Jika kita amati system koloid dibawah mikroskop ultra, maka


kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak
membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown.
Pergerakan tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut:
Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan
tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau

hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk system


koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan
partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikelpartikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari
segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka
tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga
terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan
arah gerak partikel sehingga terjadi gerak
zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid,
semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian
pula, semakin besar ukuran partikel kolopid,
semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal
ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit
diamati dalam larutan dan tidak ditemukan
dalam zat padat (suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu
system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang dimiliki
partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown
dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian
pula sebaliknya, semakin rendah suhu system koloid, maka gerak
Brown semakin lambat.

3.

Adsorpsi koloid

Apabila partikel-partikel sol padat


ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka
pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut
akan terakumulasi pada permukaan zat padat

tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi. Beda halnya dengan


absorpsi. Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke
dalam sol padat bukan di atas permukaannya, melainkan di dalam
sol padat tersebut.
Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi
partikel-partikel pada permukaannya, baik partikel netral atau
bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai permukaan yang
sangat luas.

4.

Muatan Koloid Sol

Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid. Semua


partikel koloid pasti mempunyai muatan sejenis (positif atau
negatif). Oleh karena muatannya sejenis, maka terdapat gaya tolak
menolak antar partikel koloid. Hal ini mengakibatkan partikelpartikel tersebut tidak mau bergabung sehingga memberikan
kestabilan pada sistem koloid. Namun demikian, system koloid
secara keseluruhan bersifat netral karena partikel-partikel koloid
yang

bermuatan

ini

akan

menarik

ion-ion

dengan

muatan

berlawanan dalam medium pendispersinya. Berikut ini adalah


penjelasannya:

a.

Sumber Muatan Koloid Sol

Partikel-partikel koloid mendapat muatan listrik melalui dua


cara, yaitu dengan proses adsorpsi dan proses ionisasi gugus
permukaan partikel.

i.

Proses Adsorpsi

Proses adsorpsi ini merupakan peristiwa dimana partikel


koloid menyerap partikel bermuatan dari fase pendispersinya.
Sehingga partikel koloid menjadi bermuatan. Jenis muatannya
tergantung pada jenis partikel bermuatan yang diserap apakah
anion atau kation.
Sebagai contoh: partikel sol Fe(OH)3 (bermuatan positif)
mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi kation dari medium
pendispersinya sehingga sol Fe(OH)

bermuatan positif, sedangkan

partikel sol As2S3 (bermuatan negatif) mengadsorpsi anion dari


medium pendispersinya sehingga bermuatan negatif.
Partikel koloid sol tersebut tidak selalu mengadsorpsi ion yang
sama. Hal itu tergantung pada muatan yang berlebih dari medium
pendispersinya. Misalnya, jika sol AgCl terdapat pada medium
pendispersi dengan kation Ag+ berlebih, maka AgCl akan bermuatan
positif. Sedangkan jika AgCl terdapat pada medium pendispersi
dengan anion Cl- berlebih, maka sol AgCl akan bermuatan negatif.

ii.

Proses Ionisasi Gugus Permukaan Partikel

Beberapa partikel koloid memperoleh muatan dari proses


ionisasi gugus yang ada pada permukaan partikel koloid. Contohnya
adalah koloid protein dan koloid sabun/ deterjen.

a.

Pada koloid protein:

Koloid ini adalah jenis sol yang mempunyai gugus yang


bersifat asam (-COOH) dan basa (-NH 2). Kedua gugus ini dapat
terionisasi dan memberikan muatan pada molekul-molekul protein.
Pada pH rendah (konsentrasi H+ tinggi), gugus basa NH2 akan
menerima proton (H+) dan membentuk gugus NH3+
NH2

H+

-NH3+

Pada pH tinggi, -COOH akan mendonorkan proton H + dan


membentuk gugus
COOH +

H+

COO

COO-

Maka, partikel sol protein bermuatan positif pada pH rendah

dan bermuatan negatif pada pH tingi. Pada titik pH isoelektrik,


partikel-partikel protein bermuatan netral karena muatan

-NH3+

COO- saling meniadakan menjadi netral.

b.

Pada koloid sabun / deterjen

Molekul sabun dan deterjen lebih kecil daripada molekul


koloid. Pada konsentrasi relatif pekat, kedua molekul ini dapat
bergabung dan membentuk partikel-partikel berukuran koloid yang
disebut misel. Lalu zat-zat yang tergabung dalam suatu fase
pendispersi dan membentuk partikel-partikel berukuran koloid
disebut koloid terasosiasi.

Sabun adalah garam karboksilat dengan partikel R-COO -Na+. Di


dalam air partikel ini akan terionisasi.

R-COO-Na+ R-COO- + Na+


Anion

Anion-anion R-COO- akan bergabung membentuk misel. Gugus


R- tidak larut dalam air sehingga akan terorientasi ke pusat,
sedangkan COO- larut dalam air sehingga berada di permukaan

yang bersentuhan dengan air.

b.

Kestabilan Koloid

Partikel-partikel koloid ialah bermuatan sejenis. Maka terjadi


gaya

tolak-menolak

yang

mencegah

partikel-partikel

koloid

bergabung dan mengendap akibat gaya gravitasi. Oleh karena itu,


selain gerak Brown, muatan koloid juga berperan besar dalam
menjaga kestabilan koloid.

c.

Lapisan Bermuatan Ganda

Pada
mempunyai
didapatkannya

awalnya,

partikel-partikel

muatan

yang

dari

ion

yang

sejenis
diadsorpsi

koloid
yang
dari

medium pendispersinya. Apabila dalam larutan ditambahkan larutan


yang berbeda muatan dengan system koloid, maka sistem koloid itu
akan menarik muatan yang berbeda tersebut sehingga membentuk
lapisan ganda. Lapisan pertama ialah lapisan padat di mana muatan
partikel koloid menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dari
medium pendispersi. Sedangkan lapisan kedua berupa lapisan difusi
dimana muatan dari medium pendispersi terdifusi ke partikel koloid.

Model lapisan berganda tersebut tijelaskan pada lapisan ganda


Stern. Adanya lapisan ini menyebabkan secara keseluruhan bersifat
netral.

d.

Elektroforesis

Oleh karena partikel sol bermuatan


listrik, maka partikel ini akan bergerak dalam
medan

listrik.

Pergerakan

ini

disebut

elektroforesis. Untuk lebih jelas, mari kita lihat


tabung berikut di samping.
Pada

gambar,

terlihat

bahwa

partikel-partikel

koloid

bermuatan positif tersebut bergerak menuju elektrode dengan


muatan berlawanan, yaitu elektrode negatif. Jika sistem koloid
bermuatan negatif, maka partikel itu akan menuju elektrode positif.

e.

Koagulasi

Jika partikel-partikel koloid tersebut bersifat


netral,

maka

akan

terjadi

penggumpalan

dan

pengendapan karena pengaruh gravitasi. Proses


penggumpalan

dan

pengendapan

ini

disebut

koagulasi.
Penetralan partikel koloid dapat dilakukan dengan 4 cara,
yaitu

1.

Menggunakan prinsip elektroforesis

Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel


koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan berlawanan.
Ketika partikel ini mencapai elektrode, maka system koloid akan
kehilangan muatannya dan bersifat netral.

2.

Penambahan koloid lain dengan muatan berlawanan

Ketika koloid bermuatan positif dicampur dengan koloid


bermuatan negatif, maka muatan tersebut akan saling menghilang
dan bersifat netral.

3.

Penambahan elektrolit

Jika suatu elektrolit ditambahkan pada system koloid, maka


partikel koloid yang bermuatan negatif akan mengasorpsi ion positif
(kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan

mengasorpsi ion negative (anion) dari elektrolit. Dari adsorpsi


diatas, maka terjadi proses koagulasi.

4.

Pendidihan

Kenaikan

suhu

sistem

koloid

menyebabkan

jumlah

tumbukan antara partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air


bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi
pada permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.

f.

Koloid pelindung

Sistem koloid di mana partikel terdispersinya mempunyai


daya adsorpsi relatif besar disebut koloid liofil yang bersifat lebih
stabil. Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai gaya
absorpsi yang cukup kecil, maka disebut koloid liofob yang bersifat
kurang stabil. Yang berfungsi sebagai koloid pelindung ialah koloid
liofil.
Sol liofob/ hidrofob mudah terkoagulasi dengan sedikit
penambahan elektrolit, tetapi menjadi lebih stabil jika ditambahkan
koloid pelindung yaiut koloid liofil. Berikut ini penjelasan yang lebih
lengkap mengenai koloid liofil dan liofob:

Koloid liofil (suka cairan) adalah koloid di mana terdapat


gaya tarik-menarik yang cukup besar
antara fase terdispersi dan medium pendispersi. Contoh,
disperse kanji, sabun, deterjen.

Koloid liofob (tidak suka cairan) adalah koloid di mana


terdapat gaya tarik-menarik yang lemah atau
bahkan tidak ada sama sekali antar fase terdispersi dan
medium pendispersinya. Contoh, disperse
emas, belerang dalam air.

Sifat-Sifat

Sol Liofil

Sol Liofob

Pembuatan

Dapat dibuat
langsung dengan
mencampurkan fase
terdispersi dengan
medium
terdispersinya

Tidak dapat dibuat


hanya dengan
mencampur fase
terdispersi dan
medium
pendisperinya

Muatan partikel

Mempunyai muatan Memiliki muatan


yang kecil atau tidak positif atau negative
bermuatan

Adsorpsi medium
pendispersi

Partikel-partikel sol
liofil mengadsorpsi
medium
pendispersinya.
Terdapat proses
solvasi/ hidrasi, yaitu
terbentuknya lapisan
medium pendispersi
yang teradsorpsi di
sekeliling partikel

Partikel-partikel sol
liofob tidak
mengadsorpsi
medium
pendispersinya.
Muatan partikel
diperoleh dari
adsorpsi partikelpartikel ion yang
bermuatan listrik

sehingga
menyebabkan
partikel sol liofil tidak
saling bergabung
Viskositas
(kekentalan)

Viskositas sol liofil > Viskositas sol


viskositas medium
hidrofob hampir
pendispersi
sama dengan
viskositas medium
pendispersi

Penggumpalan

Tidak mudah
Mudah menggumpal
menggumpal dengan dengan penambahan
penambahan
elektrolit karena
elektrolit
mempunyai muatan.

Sifat reversibel

Reversibel, artinya
Irreversibel artinya
fase terdispersi sol
sol liofob yang telah
liofil dapat
menggumpal tidak
dipisahkan dengan dapat diubah menjadi
koagulasi, kemudian sol
dapat diubah kembali
menjadi sol dengan
penambahan
medium
pendispersinya.

Efek Tyndall

Memberikan efek
Tyndall yang lemah

Memberikan efek
Tyndall yang jelas

Migrasi dalam
medan listrik

Dapat bermigrasi ke
anode, katode, atau
tidak bermigrasi
sama sekali

Akan bergerak ke
anode atau katode,
tergantung jenis
muatan partikel

C.

Pembuatan Koloid Sol

Ada dua dasar metode pembuatan koloid sol, yaitu metode


kondensasi dan metode dispersi.

1.

Metode Kondensasi

Metode di mana partikel-partikel kecil larutan sejati bergabung


membentuk partikel-partikel berukuran koloid. Proses ini melibatkan
penggabungan partikel-partikel larutan (atom, ion). Hal ini dilakukan
melalui

beberapa

reaksi

kimia,

yaitu

dekomposisi

rangkap,

hidrolisis, redoks, dan penggantian pelarut.

a. a.

Metode kondensasi
i.

ksi dekompi.

Reaksi dekomposisi rangkap

Sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S perlahan

melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang


berwarna kuning terang

As2O3

3 H2S

As2S3 (koloid) + 3H2O

Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3

dan larutan HCl encer.

AgNO3

ii. ii.

HCl

AgCl (koloid) + HNO3

Reaksi Hidrolisis

Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam

Al dalam air mendidih

AlCl3

3H2O

Al(OH)3 (koloid) + 3HCl

Sol Fe(OH)3 dapat diperoleh dari rekasi hidrolisis garam

Fe dalam air mendidih

FeCl3

3H2O

Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl

iii. iii.

Reaksi redoks

Sol Au daoat dibuat dengan mereduksi larutan garamnya


menggunakan pereduksi organik formaldehida HCHO

2AuCl3 + 3HCHO

+ 3H2O 2Au (koloid) + 6HCl +

3HCOOH

iv. iv.

Penggantian pelarut

Belerang sukar larut dalam air, tetapi mudah larut


dalam alcohol seperti etanol. Jadi, untuk membuat sol belerang
dengan medium pendispersi air, belerang dilarutkan terlebih
dahulu dalam etanol sampai jenuh. Stelah iut, larutan belerang
dalam etanol ini ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air
sambil diaduk. Belerang akan menggumpal menjadi partikel
koloid akibat penurunan kelarutan belerang dalam air.

2.

Metode Dispersi

Metode di mana partikel-partikel besar dipecah menjadi


partikel-partikel berukuran koloid yang kemudian didispersikan
dalam medium pendispersinya. Caranya dapat berupa cara mekanik
maupun peptisasi

i.Car

i.

Mekanik

Pengertian dengan cara mekanik adalah penghalusan


partikel-partikel kasar zat padat dengan penggilingan untuk
membentuk partikel-partikel berukuran koloid. Alat yang
digunakan disebut penggilingan koloid.

Alat penggilingan koloid terdiri dari 2 pelat baja dengan


arah rotasi berlawanan. Partikel kasar akan dimasukkan ke ruang
antara kedua pelat tersebut dan selanjutnya digiling. Partikel
berukuran koloid yang terbuntuk kemudian didispersikan dalam
medium pendispersinya untuk membuat system koloid. Contoh
koloid yang dibuat dalam proses ini ialah koloid grafit untuk
pelumas, tinta cetak, cat, dan sol belerang.

ii. ii.

Cara peptisasi

Cara peptisasi adalah proses dispersinya


endapan

menjadi

system

koloid

dengan

penambahan zat pemecah. Zat pemecah yang


dimaksud

adalah

elektrolit,

terutama

yang

mengandung ion sejenis, atau pelarut tertentu.


Sebagai contoh: Jika pada endapan Fe(OH) 3
ditambahkan elektrolit FeCl3 (mempunyai ion
Fe3+ yang sejenis) maka Fe(OH)3 maka Fe(OH)3 akan mengadsorpsi
ion-ion Fe3+ tersebut. Sehingga, endapan menjadi bermuatan positif
dan memisahkan diri untuk membentuk partikel-partikel koloid.

Beberapa contoh lain :

Sol NiS dibuat dengan penambahan H2S kedalam endapan

NiS
-

Sol AgCl dibuat dengan penambahan HCl ke dalam endapan

AgCl
-

Sol Al(OH)3 dibuat dengan penambahan AlCl3 ke dalam

endapan Al(OH)3

iii. Cara busur Bredig

Cara busur Bredig digunakan untuk


membuat sol logam seperti Ag, Au, dan Pt.
Alat yang digunakan dapat disimak pada
gambar berikut.
Logam yang akan diubah menjadi partikel-partikel koloid
digunakan sebagai elektrode. Dua elektrode logam dicelupkan ke
dalam medium pendispersi (air dingin) sedemikian sehingga
kedua ujungnya saling berdekatan. Kemudian kedua elektrode
diberi loncatan listrik. Panas yang timbul akan menyebabkan
logam menguap. Uapnya kemudian akan terkondensasi dalam
medium pendispersi dingin. Hasil kondensasi ini berupa partikelpartikel koloid.

D.

Pemurnian Koloid Sol

Partikel dari zat pelarut bisa mengganggu kestabilan koloid


sehingga harus dimurnikan. Ada 3 metode yang dapat digunakan,
yaitu dialisis, elektrodialisis, dan penyaring ultra.

1.

Dialisis

Pergerakan ion-ion dan molekul kecil


melalui selaput semipermeabel (yang tidak dapat
dilalui

partikel

Percobaannya

koloid)

dengan

disebut

menaruh

sistem

diasis.
koloid

pada

selaput

semipermeabel, lalu menaruhnya di air. Zat yang terlarut di dalam


air kemudian akan keluar dari selaput itu, sedangkan system koloid
tidak. Lalu air dialirkan sehingga mengambil zat-zat yang terlarut.

2.

Elektrodialisis

Elektrodialisis merupakan proses dialisis di


bawah pengaruh medan listrik.
Listrik tegangan tinggi dialirkan melalui 2
layar logam yang menyokong selaput semipermeabel. Kemudian,
partikel-partikel zat terlarut dalam system koloid berupa ion-ion
akan bergerak menuju electrode dengan muatan berlawanan.
Adanya pengaruh medan listrik pempercepat proses pemurnian.

3.

Penyaring Ultra

Apabila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa


seperti selofan, maka ukuran pori-pori akan berkurang. Kertas
saring ini telah dimodifikasi menjadi penyaring ultra.

2.

Koloid Emulsi

Seperti yang telah dijelaskan, emulsi merupakan jenis koloid


dimana fase terdispersinya merupakan zat cair. Kemudian,
berdasarkan medium pendispersinya, emulsi dapat dibagi menjadi:

1.

Emulsi Gas (Aerosol Cair)

Emulsi gas merupakan emulsi di dalam medium pendispersi


gas. Aerosol cair seperti hairspray dan baygon, dapat membentuk
system koloid dengan bantuan bahan pendorong seperti CFC. Selain
itu juga mempunyai sifat seperti sol liofob yaitu efek Tyndall, gerak
Brown.

2.

Emulsi Cair

Emulsi cair merupakan emulsi di dalam medium pendispersi


cair. Emulsi cair melibatkan campuran dua zat cair yang tidak dapat
saling melarutkan jika dicampurkan yaitu zat cair polar dan zat cair
non-polar. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air dan zat lainnya
seperti minyak.

Sifat emulsi cair yang penting ialah:

1.

Demulsifikasi

Kestabilan
pendinginan,

emulsi

proses

cair

dapat

sentrifugasi,

rusak

akibat

penambahan

pemanasan,

elektrolit,

dan

perusakan zat pengelmusi.


2.

Pengenceran
Emulsi

dapat

diencerkan

dengan

penambahan

sejumlah

medium pendispersinya.

3.

Emulsi Padat atau Gel

Gel merupakan emulsi didalam medium pendispersi zat padat.


Gel dapat dianggap terbentuk akibat penggumpalan sebagian sol

cair. Pada penggumpalan ini, partikel-partikel sol akan bergabung


membentuk suatu rantai panjang. Rantai ini kemudian akan saling
bertaut sehingga terbentuk suatu struktur padatan di mana medium
pendispersi

cair

terperangkap

dalam

lubung-lubang

struktur

tersebut.
Berdasarkan sifat keelastisitasnya, gel dapat dibagi menjadi:
1.

Gel elastis
Gel yang bersifat elastis, yaitu dapat berubah

bentuk jika diberi gaya dan kembali ke bentuk


awal jika gaya ditiadakan. Contoh adalah sabun
dan gelatin.

2.

Gel non-elastis

Gel yang bersifat tidak elastis, artinya tidak berubah jika diberi
gaya. Contoh adalah gel silika.

3.

Koloid Buih

Buih merupakan koloid dimana fase terdispersinya merupakan


gas. Kemudian, berdasarkan medium pendispersinya, buih dapat
dibagi menjadi:

1.

Buih Cair (Buih)

Buih cair adalah sistem


koloid dengan fase terdispersi
gas dan medium pendispersi zat
cair. Biasanya fase terdispersi
gas berupa udara atau CO2. Kestabilan buih diperoleh karena adanya
zat pembuih (surfaktan). Zat ini teradsorpsi ke daerah antar fase
dan

mengikat

gelembung-gelembung

gas

sehingga

diperoleh

kestabilan. Contohnya adalah buih yang dihasilkan alat pemadam


kebakaran dan kocokan putih telur.

Sifat-sifat buih cair ialah:

Struktur buih cair berubah dengan waktu karena drainase

(pemisahan medium pendispersi) akibat kerapatan fas dan zat cair


yang jauh berbeda, rusaknya film antara dua gelembung gas, dan
ukuran gelembung gas menjadi lebih besar akibat difusi.

Struktur buih cair dapat berubah jika diberi gaya dari luar.

2.

Buih Padat

Buih padat adalah sistem koloid dengan fase terdispersi gas


dan medium pendispersi zat padat. Kestabilan buih padat diperoleh
dari zat pembuih (surfaktan). Beberapa buih padat yang kita kenal
adalah roti, styrofoam, batu apung,dll.

Sebagai catatan, tidak terdapat buih gas, dimana medium


pendispersi dan fase terdispersi sama-sama berupa gas. Hal itu
karena campuran dari keduanya tergolong sebagai larutan.