Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

Pengaruh Fototropisme Terhadap


Perkecambahan Biji Kacang Hijau (Phaseolus
radiatus) dan Jagung (Zea Mays)
Faisal Prihatoro (1511100001), Riska Maziyah (1511100017), Laellatul Badriyah (1511100049),
Wahyu Noviarini (1511100075) dan Dosen Pembimbing : Tutik Nurhidayati, M.Si
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: tutik@bio.its.ac.id
AbstrakGerak yang terjadi pada tumbuhan yang
disebabkan oleh adanya rangsang cahaya disebut
fototropisme. Bila cahaya yang datang dari atas
tumbuhan, tumbuhan akan tumbuh tegak mengarah ke
atas. Fototropisme dibedakan menjadi dua, yaitu gerak
endonom yang terdiri dari gerak nutasi dan higroskopi
dan gerak esionom yang dibedakan menjadi gerak nasti,
tropisme, dan taksis. Penelitian mengenai pengaruh
fotropisme terhadap perkecambahan biji kacang hijau
(Phaseolus radiatus) dan jagung (Zea mays) ini bertujuan
untuk mengetahui arah perkecambahan karena pengaruh
cahaya. Perendaman biji Phaseolus radiatus dan Zea mays
dilakukan untuk mendapatkan biji pilihan, kemudian biji
ditanam di atas media kapas di dalam botol nescafe
dengan perlakuan botol I ditutup semua permukaaan
botol sehingga cahaya tidak dapat masuk, botol II ditutup
dengan aluminium foil seperti botol I, tetapi diberi lubang
pada salah satu pinggiran botol, dan botol III dibiarkan
terbuka sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan selama
10 hari dan dilakukan pemanenan pada hari ke-10
dengan variabel tinggi batang, jumlah dan warna daun
serta arah perkecambahan. Penelitian ini di lakukan di
Laboratorium Botani Jurusan Biologi ITS pada tanggal 12
18 November 2013. Hasil dari penelitian ini adalah
bahwa pada botol yang tertutup seluruh permukaannya
kecambah biji Phaseolus radiates dan Vigna radiata
mengalami etiolasi dan daunnya bewarna kuning pucat.
Sedangkan pada botol yang diberi lubang sebagian dan
yang terbuka seluruhnya mengalami fototropisme dengan
daun bewarna hijau segar.
Kata KunciFototropisme, Etiolasi, Perkecambahan, Auksin

I. PENDAHULUAN
ENELITIAN ini bertujuan untuk mengetahui arah
perkecambahan karena pengaruh cahaya. Gerak pada
bagian tumbuhan yang arahnya dipengaruhi oleh arah
datangnya rangsangan disebut tropisme. Gerak tropisme
terjadi karena gerak tumbuh tumbuhan. Berdasarkan jenis
rangsangan yang diterima oleh tumbuhan. Tropisme
dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu fototropisme,
geotropisme, hidrotropisme dan tigmotropisme. Fototropisme
adalah gerak yang terjadi pada tumbuhan yang disebabkan
oleh adanya rangsangan cahaya. Bila cahaya yang datang dari

atas tumbuhan, tumbuhan akan tumbuh tegak mengarah ke


atas [1].
Macam-macam gerak dibedakan menjadi gerak endonom
dan gerak eksinom. Gerak endonom adalah gerak bagian
tubuh tumbuhan yang disebabkan oleh rangsangan dari
dalam. Jenis rangsangan juga belum jelas sehingga ada pakar
yang menyebutkan gerakan tersebut terjadi karena kemauan
tumbuhan itu sendiri, maka sering disebut gerak otonom.
Contoh gerak endonom, antara lain gerak sitoplasma pada sel
umbi lapis bawang merah, gerak melingkar batang gadung
(Dioscorea sp.), palmae, maupun batang kacang panjang.
Ujung batang gadung akan selalu melilit batang rambatnya ke
arah kiri, sedangkan ujung batang kacang panjang akan
melilit ke arah kanan [2]. Contoh dari gerak endonom adalah
gerak protoplasma pada sel-sel daun tanaman lidah buaya
dan umbi lapis bawang merah yang masih hidup. Gerak
melengkungnya kuncup daun karena perbedaan kecepatan
tumbuh. Dan gerak tumbuhan ketika tumbuh, seperti
tumbuhnya akar, batang, daun, dan bunga. Pada tumbuhan
yang sedang mengalami masa pertumbuhan terjadi
penambahan massa dan jumlah sel.
Gerak endonom dibagi menjadi 2 macam yaitu nutasi dan
higroskopis. Nutasi adalah Gerak spontan dari tumbuhan
yang tidak disebabkan adanya rangsangan dari luar. Misalnya
gerakan aliran sitoplasma pada tanaman air Hydrilla
verticillata [2]. Sedangkan, higroskopis adalah Gerak bagian
tumbuhan yang terjadi karena adanya perubahan kadar air
pada tumbuhan secara terus menerus, akibatnya kondisi
menjadi sangat kering pada kulit buah atau kotak spora
sehingga kulit biji atau kotak spora pecah. Misalnya:
pecahnya kulit buah polong-polongan (lamtoro, kembang
merak, kacang buncis, kacang merah), membukanya kotak
spora (sporangium) tumbuhan paku (Pteridophyta) dan lumut
(Bryophyta) [2].
Gerak esionom adalah gerak tumbuhan yang
disebabkan karena adanya rangsang dari luar. Contoh
rangsangan dari luar yang dapat merangsang gerak tumbuhan
adalah cahaya, suhu, gravitasi bumi, dll. Berdasarkan
sifatnya, gerak esionom dibedakan menjadi tiga, yaitu: gerak
nasti, gerak tropisme, dan gerak taksis [3]. Gerak eksinom

dibedakan menjadi gerak nasti, gerak tropisme, dan gerak


taksis.
Gerak nasti adalah gerak bagian tumbuhan yang tidak
dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan. Gerak nasti
terdiri atas termonasti, fotonasti, seismonasti, dan

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

niktinasti. Gerak tropisme adalah gerak bagian tumbuhan


yang dipengaruhi arah datangnya rangsangan. Gerak
tropisme dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu
hidrotropisme,fototropisme,geotropisme, tigmotropisme,
kemptropisme.Gerak
taksis
merupakan
gerak
perpindahan tempat sebagian atau seluruh bagian
tumbuhan akibat dari adanya rangsangan [4]. Macam
macam gerak taksis meliputi kemotaksis dan fototaksis.
Fototropisme kuncup utama pada kebanyakan tanaman
yang tumbuh di tempat terbuka dilakukan untuk
berkembang kearah vertikal, meskipun batangnya sering
tumbuh secara horizontal. Jika sebuah kotak diisi
tanaman yang tumbuh secara vertikal dan lubang dibuat
agar cahaya dapat masuk dari salah satu sisi, maka ujung
taaman mulai membengkok kearah cahaya. Pada
beberapa saat bila kotak tersebut dipindahkan dengan
kompensasi pertumbuhamn pembengkokan dikarenakan
ujung tanaman tumbuh secaravertikal. Pergerakan
pertumbuhan kearah cahaya disebut fototropisme positif,
sedangkan pergerakan tumbuhan menjauhi cahaya
disebut fototropisme negatif. Pucuk dan kuncup ujung
beberapa tanaman merupakan fototropisme positif,
namun akan sangat sensitif dengan cahaya [5].
Fototropisme adalah gerak bagian tumbuhan yang
dipengaruhi oleh arah datangnya cahaya. Pembelokan ini
disebabkan juga oleh kesensitifan hormon auksin.
Hormon auksin adalah hormon pada tumbuhan yang
berperan merangsang pembelahan sel dan pengembangan
sel yang bersifat menjauhi cahaya [6]. Auksin terdapat
paling banyak pada bagian koleoktil yang di produksi
pada ujung tunas akar dan ujung tunas batang. Apabila
tumbuhan mendapatkan cahaya matahari dari salah stu
sisi maka akan terjadi perbedaan konsentrasi antara
hormon auksin pada bagian tumbuhan yang terpapar
cahaya matahari dan yang tidak. Pada bagian yang
terpapar sinar matahari, memiliki konsentrasi hormon
auksin yang lebih kecil dibandingkan bagian tumbuhan
yang tidak terpapar sinar matahari. Pengaruh hormon
auksin dalam konsentrasi yang berbeda pada bagian
tubuh tanaman mengakibatkan terjadinya pertumbuhan
yang tidak seimbang. Bagian yang mengandung auksin
lebih banyak memiliki kecepatan tumbuh yang lebih
besar. Adapun bagian yang kekurangan akan mengalami
pertumbuhan lebih lambat. Jika ini terjadi pada pucuk
batang, terjadi pembengkokan arah pertumbuhan.
Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel
memperlihatkan bahwa auksin dapat menaikkan tekanan
osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air,
menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding-dinding
sel, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan
plastisitas, mengembangnya dinding sel [5]. Dalam hal
ini, auksin bertanggung jawab untuk rilis proton (dengan
mengaktifkan pompa proton), yang menurunkan pH
dalam sel-sel pada sisi gelap dari tanaman. Ini
pengasaman daerah dinding sel mengaktifkan enzim yang
dikenal sebagai expansins yang memutuskan ikatan

dalam struktur dinding sel, membuat dinding sel kurang


kaku. Selain itu, lingkungan asam menyebabkan
gangguan ikatan hidrogen dalam selulosa yang
membentuk dinding sel. Penurunan kekuatan dinding sel
menyebabkan sel membengkak, mengerahkan tekanan
mekanik yang mendorong gerakan fototropisme.
Fungsi utama Auksin adalah mempengaruhi
pertambahan panjang batang, pertumbuhan, diferensiasi
dan percabangan akar; perkembangan buah; dominansi
apikal; fototropisme dan geotropisme. Fungsi Auksin
yang paling karakteristik adalah meningkatkan
pembesaran sel [7]. Auksin memiliki kapasitas tinggi
untuk mempengaruhi pertumbuhan, hal ini terbukti
setelah dilakukan beberapa penelitian disimpulkan bahwa
auksin memiliki peranan penting dalam mengatur struktur
dan fungsi organ tanaman [8]. Berbagai jaringan pada
tanaman memiliki respon yang berbeda terhadap auksin
[9].
Pada penelitian ini digunakan 2 macam biji untuk
mengetahui perkacambahannya karena pengaruh cahaya,
yaitu biji jagung (Zea mays) dan kacang hijau
(Phaseolus radiatus). Jagung (Zea mays) adalah tanaman
semusim dan termasuk jenis rerumputan/graminae yang
mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan
munculnya cabang anakan pada beberapa genotype dan
lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku dan
ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan
satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian
terpisah pada suatu tanaman sehingga lazim terjadi
penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari
pendek, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisisasi
bunga jantan dan dikendalikan oleh genotype, lama
penyinaran dan suhu [10]. Jagung termasuk
perkecambahan hypogeal. Perkecambahan hypogeal
adalah perkecambahan yang menghasilkan kecambah
dengan kotiledon tetap berada di bawah permukaan tanah
[11]
. Kacang hijau temasuk perkecambahan epigeal.
Perkecambahan epigeal adalah perkecambahan yang
menghasilkan kecambah dengan kotiledon terangkat ke
atas permukaan tanah [11].
II. METODOLOGI
Waktu dan Lokasi
Praktikum penelitian fototropisme dilaksanakan di
Laboratorium Botani Jurusan Biologi ITS, dimulai pada hari
Selasa tanggal 12 November 2013 hingga hari Senin tanggal
18 November 2013. Praktikum dilakukan selama 10 hari
untuk menunggu pemanenan biji Phaseolus radiatus dan Zea
mays dengan pengamatan yang dilkukan setiap hari.

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

3
Botol I dan II ditutup seluruh permukaan dengan
aluminium foil sehingga tidak ada cahaya yang masuk ke
botol, sedangkan botol III dan IV ditutup seluruh permukaan
botol dengan aluminium foil namun diberi lubang pada salah
satu sisi botol sehingga memungkinkan cahaya masuk.
Selanjutnya botol V dan VI dibiarkan terbuka sebagai kontrol.
Pengamatan dilakukan setiap hari selama 10 hari dengan
variabel tinggi batang dan jumlah daun. Hal tersebut
dilakukan karena merupakan variabel yang paling
memperlihatkan adanya aktivitas pertumbuhan.

Gambar 1. Gedung Biologi ITS, Jalan Teknik Perkapalan

Perlakuan Fototropisme
Penelitian ini diawali dengan merendam biji jagung (Zea
mays) dan kacang hijau (Phaseolus radiatus) selama 1 jam.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui kualitas biji yang baik.
Selanjutnya, dipilih 30 biji terbaik Phaseolus radiatus dan 30
biji dengan kualitas terbaik untuk biji Zea mays, dengan
diperkirakan biji-biji tersebut memiliki ukuran dan berat jenis
yang sama. Disiapkan 6 buah botol nescafe bersih kemudian
dialasi bagian bawahnya dengan kapas lemak yang dibashi
dengan air secukupnya.
Kemudian dimasukan ke dalam masing-masing
botol sebanyak 10 biji pilihan dan ditutup botol dengan
aluminum foil. Botol I dan II ditutup seluruh permukaan
dengan aluminium foil sehingga tidak ada cahaya yang
masuk ke botol, sedangkan botol III dan IV ditutup seluruh
permukaan botol dengan aluminium foil namun diberi lubang
pada salah satu sisi botol sehingga memungkinkan cahaya
masuk. Selanjutnya botol V dan VI dibiarkan terbuka sebagai
control.
III. PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
arah perkecambahan biji Phaseolus radiatus dan Zea mays
karena pengaruh cahaya matahari. Penelitian ini dimulai
dengan perendaman biji Phaseolus radiatus dan Zea mays.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui kualitas biji yang baik
yang ditunjukan dengan biji yang tenggelam karena proses
imbibisi. Imbibisi air merupakan salah satu proses untuk
mempercepat perkecambahan. Menurut [12] air dibutuhkan
untuk melunakkan biji sehingga menjadi pecah agar terjadi
pengembangan embrio dan endosperm serta memberikan
fasilitas masuknya oksigen ke dalam biji melalui dinding sel
yang diimbibisi oleh air sehingga gas dapat masuk ke dalam
sel melalui proses difusi. Selanjutnya, dipilih 30 biji
Phaseolus radiatus maupun Zea mays dengan kualitas yang
terbaik, dengan kemungkinan masing-masing biji memiliki
ukuran serta berat jenis yang sama.
Setelah dipilih biji dengan kualitas terbaik, dimasukan
kapas sebagai media perkecambahan ke dalam botol nescafe
dan ditata sedemikian rupa hingga menutupi permukaan
dasar botol. Kemudian dibasahi dengan air secukupnya.
Menurut [13] bahwa perkecambahan benih dapat dipengaruhi
oleh faktor dalam yang meliputi: tingkat kemasakan benih,
ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan,
serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan
cahaya. Setelah media tumbuh siap, 10 biji dimasukan ke
dalam masing-masing botol dan dibungkus dengan
aluminium foil.

Pada Hasil pengamatan yang dilakukan setelah tujuh hari


didapa tkan pertumbuhan kacang panjang lebih cepat
dibangdingkan dengan pertumbuhan jagung. Biji yang
diletakan pada 3 botol yang berbeda memiliki perbedaan
dalam hal tinggi tanaman dan warna daun serta arah
tumbuhnya.
Pada biji Phaseolus radiatus ( Grafik 1) kontrol
terjadi pertumbuhan pada semua biji, dimana
perkecambahan yang paling panjang terjadi pada biji ke2, yaitu dengan tinggi batang 21,6 cm. Sedangkan
panjang kecambah yang paling pendek terjadi pada biji
ke-9 dengan tinggi 2,2 cm.

Gambar 2. Kacang hijau control

Pada Kacang hijau yang sebagian tertutup alumunium


foil didapatkan 1 biji yang tidak tumbuh karena biji
mengalami kebusukan. Selain itu perkecambahan yang
paling tinggi terjadi pada biji ke-1, yaitu dengan tinggi
batang 13,5 cm. Sedangkan panjang kecambah yang
paling pendek terjadi pada biji ke-7 dengan tinggi 5,5
cm.Dari pengamatan morfologi baik biji kontrol maupun
biji yang tertutup sebagian didapatkan daun berwarna
hijau segar semua, batang bewarna putih dengan struktur
batang halus, akar berupa akar tunggang yang
bercabang, dan arah pertumbuhannya membengkok
kearah cahaya semua.

Gambar 3. Kacang hijau setengah tertutup alumunium foil

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

Dan pada kacang hijau yang tertutup alumunium


semua didapatkan semua biji tumbuh, perkecambahan
yang paling tinggi terjadi pada biji ke-2, yaitu dengan
tinggi batang 24,8 cm. Sedangkan panjang kecambah
yang paling pendek terjadi pada biji ke-9 dengan tinggi
12,3 cm. Dari pengamatan morfologi didapatkan daun
berwarna kuning pucat semua, batang bewarna putih
dengan struktur batang halus, akar berupa akar tunggang
yang bercabang, dan arah pertumbuhannya lurus ke atas.

paling tinggi terjadi pada biji ke-1, yaitu dengan tinggi


batang 9 cm. Sedangkan panjang kecambah yang paling
pendek terjadi pada biji ke-7 dengan tinggi 6,4cm. Dari
pengamatan morfologi baik jagung kontrol dan jagung
tertutup sebagian didapatkan daun berwarna hijau segar
semua, akar berupa akar serabut, dan arah
pertumbuhannya lurus ke atas.

Gambar 6. Jagung setengah tertutup alumunium foil


Gambar 4. Kacang hijau tertutup aluminum foil penuh

Dan pada jagung yang tertutup alumunium semua


didapatkan 1 biji tidak tumbuh karena busuk, dan
perkecambahan yang paling tinggi terjadi pada biji ke-6,
yaitu dengan tinggi batang 16,5 cm. Sedangkan panjang
kecambah yang paling pendek terjadi pada biji ke-8
dengan tinggi 10,5 cm. Dari pengamatan morfologi
didapatkan daun berwarna kuning pucat semua, akar
berupa akar serabut, dan arah pertumbuhannya
membengkok.

Grafik 1. Perkecambahan pada Phaseolus radiates

Sedangkan pada Perkecambahan biji Zea mays


(grafik 2) pada biji kontrol didapatkan 5 biji yang tidak
tumbuh karena mengalami pembusukan, dan dari ke 5
biji sisinya, perkecambahan yang paling panjang dengan
tinggi batang 8 cm. Sedangkan panjang kecambah yang
paling pendek dengan tinggi 6 cm.

Gambar 7. Jagung tertutup alumunium foil penuh

Grafik 2. Perkecambahan pada Zea mays


Gambar 5. Jagung control

Pada jagung yang sebagian tertutup alumunium foil


didapatkan 2 biji yang tidak tumbuh karena biji
mengalami kebusukan. Selain itu perkecambahan yang

Adanya biji yang tidak tumbuh (membusuk) atau


tidak mengalami perkecambahan dimungkinkan karena
kualitas biji yang tidak bagus, sehingga tidak dapat
melakukan penyerapan air dengan baik atau karena biji

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

tersbut belum terpatahkan masa dormansinya. Kematian


pada biji ini dapat disebabkan karena beberapa hal, yaitu
viabilitas biji yang rendah, perendaman biji yang terlalu
lama,menyebabkan masuknya air berlebih ke dalam biji,
kapas yang digunakan tidak steril ataupun kapas terlalu
basah sehingga kondisi didalam gelas terlalu lembab dan
mempercepat tumbuhnya jamur patogen [14].
Tahapan yang terjadi pada proses perkecambahan secara
garis besar meliputi :
1. Penyerapan air oleh biji yang menyebabkan
melunaknya kulit biji. Calon akar mulai keluar
dan tumbuh ke arah bumi (geotropisme).
2. Mulai terjadi aktifitas sel dan enzim-enzim yang
terdapat dalam biji, serta ditandai dengan
meningkatnya proses respirasi biji. Pada tahap ini
secara morfologis dapat diamati dengan mulai
tumbuhnya hypocotyl dan cotyledon atau daun
lembaga.
3. Penguraian
komponen
kimia
kompleks
(karbohidrat, protein dan lemak menjadi unsur
yang lebih sederhana untuk ditranslokasikan ke
titik-titik tumbuh. Penyusutan keping lembaga
mulai tampak seiring dengan mulai terbentuknya
paracotyledon yang menyerupai daun tersusun
berhadapan.
4. Terjadinya proses asimilasi untuk menghasilkan
energi
bagi
pertumbuhan
sel-sel
baru.
Pembentukan calon daun muda mulai terlihat pada
fase ini.
5. Pertumbuhan kecambah berlanjut melalui proses
pembelahan, pembesaran dan pembagian sel.
Terbentuknya daun yang tetap merupakan ciri
morfologis yang bisa diamati pada tahap ini [14].
Dari proses perkecambahan tersebut, maka biji yang
akan dikecambahkan direndam selama 1-2 jam sebelum
disemai, karena imbibisi air akan menyebabkan lunaknya
kulit biji dan akan mengaktifkan enzim-enzim dan
hormon- hormone pertumbuhan sehingga mulai tumbuh
calon akar, hipocotil dan kotiledon, dari sinilah akan
dimulai pertumbuhan.
Fototropisme kuncup utama pada kebanyakan tanaman
yang tumbuh di tempat terbuka dilakukan untuk
berkembang kearah vertikal, meskipun batangnya sering
tumbuh secara horizontal. Jika sebuah kotak diisi
tanaman yang tumbuh secara vertikal dan lubang dibuat
agar cahaya dapat masuk dari salah satu sisi, maka ujung
tanaman mulai membengkok kearah cahaya. Pada
beberapa saat bila kotak tersebut dipindahkan dengan
kompensasi pertumbuhan pembengkokan dikarenakan
ujung tanaman tumbuh secara vertikal. Pergerakan
pertumbuhan kearah cahaya disebut fototropisme positif,
sedangkan pergerakan tumbuhan menjauhi cahaya
disebut fototropisme negatif. Pucuk dan kuncup ujung
beberapa tanamanmerupakan fototropisme positif, namun
akan sangat sensitif dengan cahaya [5].

Dari kedua grafik di atas dapat dilihat bahwa


antara tanaman baik jagung maupun kacang hijau dengan
perlakuan ditutup alumunium foil seluruhnya memiliki
pertumbuhan yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan
dengan perlakuan kontrol dan botol yang ditutup
sebagian. hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan yang
tidak dipengaruhi oleh cahaya matahari akan tumbuh
optimal karena hormon auksin bekerja dengan baik.
Hormon auksin adalah hormon pada tumbuhan yang
berperan merangsang pembelahan sel dan pengembangan
sel yang bersifat menjauhi cahaya [6]. Hormon auksin
dapat bekerja maksimal pada tempat yang berkosentrasi
rendah yaitu ruang yang gelap dan cahaya matahari yang
tidak terlalu banyak. Hormon auksin dapat menghambat
pertumbuhan tanaman apabila berada pada daerah
dengan konsentrasi tinggi dan auksin dapat rusak. Hal
inilah yang menyebabkan batang membelok ke arah
datangnya sinar bila diletakkan mendatar, karena bagian
yang tidak terkena sinar pertumbuhannya lebih cepat dari
bagian yang terkena sinar, akibatnya batang melengkung
ke arah datangnya sinar [5].
Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel
memperlihatkan bahwa auksin dapat menaikkan tekanan
osmotik, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air,
menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding-dinding
sel, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan plastisitas, mengembangnya dinding sel [5]. Dalam hal ini,
auksin bertanggung jawab untuk rilis proton (dengan
mengaktifkan pompa proton), yang menurunkan pH
dalam sel-sel pada sisi gelap dari tanaman. Ini
pengasaman daerah dinding sel mengaktifkan enzim yang
dikenal sebagai expansins yang memutuskan ikatan
dalam struktur dinding sel, membuat dinding sel kurang
kaku. Selain itu, lingkungan asam menyebabkan
gangguan ikatan hidrogen dalam selulosa yang
membentuk dinding sel. Penurunan kekuatan dinding sel
menyebabkan sel membengkak, mengerahkan tekanan
mekanik yang mendorong gerakan fototropisme.
Seperti pada batang tanaman ini :

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

Gambar 8. Pengaruh Hormon Auksin Pada Pertumbuhan Dan


Perkembangan Sel

Pada kecambah jagung yang tertutup seluruhnya


pertumbuhnnya membengkok hal ini dikarenakan
pertumbuhan yang semakin panjang dan terhalang oleh
aluminium foil, karena tidak sampai menembus maka
tumbuhnya akan membengkok. Sedangkan kecambah
yang terkena sinar matahari akan mengalami pembelokan
menuju arah sinar matahari, hal ini meruppakan
mekanisme fototropisme.
Cahaya berperan penting pada pertumbuhan tanaman
yaitu sebagai berikut:
1.Cahaya merupakan faktor esensial pertumbuhan dan
perkembangan.
2.Cahaya memegang peranan penting dalam proses
fisiologis tanaman, terutama fotosintesis, respirasi, dan
transpirasi.
3.Fotosintesis adalah sebagai sumber energi bagi reaksi
cahaya, fotolisis air menghasilkan daya asimilasi
4.Cahaya matahari ditangkap daun sebagai foton. Tidak
semua radiasi matahari mampu diserap tanaman,
cahaya tampak, dg panjang gelombang 400 s/d 700 nm.
5. Cahaya yang diserap daun 1-5% untuk fotosintesis,
75-85% untuk memanaskan daun dan transpirasi.
6. Peranan cahaya dalam respirasi, fotorespirasi,
menaikkan suhu.
[9]
Peran cahaya tersebut yang mengakibatkan adanya
warna daun yang kuning pucat pada kecambah yang
tidak terkena sinar matahari, sedangkan kecambah yang
terkena sinar matahari berwarna hijau segar. Hal ini
disebabkan karena Selama proses perkecambahan biji
akan menggunakan energi dari kotiledon yang berisi
cadangan makanan hingga bisa menghasilkan energi
sendiri. Dalam hal ini tumbuhan membutuhkan cahaya
untuk melangsungkan proses fotosintesis. Jika tidak
terdapat cahaya (seperti pada perlakuan) maka tumbuhan
hanya mengambil energi dari kotiledon yang jumlahnya
terbatas. Selain itu karena tidak ada cahaya maka
tumbuhan tidak membentuk klorofil secara sempurna
sehingga warna batang dan daun juga tidak hijau karena

tidak ada klorofil,melainkan warnanya menjadi kuning.


Ketika cadangan makanan pada kotiledon habis maka
tanaman ini akan mati. Pada kecambah yang berdaun
hijau ini menunjukkan bahwa tanaman dapat melakukan
proses fotosintesis sehingga metabolisme energinya
berjalan dengan baik.
Tanaman yang berada ada keadaan tertutup
alumunium foil secara penuh ini mengalami etiolasi yaitu
dimana tanaman mengalami pertumbuhan yang sangat
cepat karena diletakkan ditempat gelap dan tidak terkena
sinar matahari, hormon auksin akan bekerja dengan baik
tetapi pertumbuhan yang dialami akan mengakibatkan
batang tidak kokoh, daun yang menguning akibat tidak
terjadi fotosintesis sehingga kloroplas mengalami
etioplas, keadaan ini dapat dikembalikan pada keadaan
normal dimana tumbuhan dipindahkan pada tempat yang
terkena sinar matahari,hal ini disebut dengan De-etiolasi
[16].
Tanaman kacang hijau (Phaseolus radiates) memilki
tipe perkecambahan epigeal. Pada perkecambahan
kacang hijau kotiledon terangkat ke atas permukaan
tanah. Dalam proses perkecambahan epigeal, setelah
radikel menembus kulit benih, hipokotil memanjang
melengkung menembus ke atas permukaan tanah. Setelah
hipokotil menembus permukaan tanah, kemudian
hipokotil meluruskan diri dan dengan cara demikian
kotiledon yang masih tertangkup tertarik ke atas
permukaan tanah juga. Kulit benih akan tertinggal di
permukaan tanah, dan selanjutnya kotiledon membuka
dan daun pertama (plumula) muncul ke udara. Beberapa
saat kemudian, kotiledon meluruh dan jatuh ke tanah
[12].
Sedangkan tanaman jagung (Zea mays) tipe
perkecambahannya adalah hipogeal. Perkecambahan
pada jagung adalah perecambahan yang menghasilkan
kecambah dengan kotiledon tetap berada di bawah
permukaan tanah. Dalam proses perkecambahan
hipogeal, plumula dan radikel masing-masing menembus
kulit benih. Radikel menuju ke bawah dilinungi oleh
koleoriza, dan plumula menuju ke atas dilindungi oleh
koleoptil. Setelah kolepotil menembus permukaan tanah
dari bawah mencapai udara, lalu membuka dan plumula
terbebas dari lindungan koleoptil dan terus tumbuh dan
berkembang, sedangkan koleoptil sendiri berhenti tumbuh
[12].
Tabel 4.2 Uji ANOVA data pertumbuhan kacang hijau
Sumber
DF
JK
KT
F
P
Varians
Perlakuan 2
379,9
189,9 7,86 0,002
Galat
27
652,6
24,2
Total
29
1032,4
Dari data pengamatan pada Anova diatas menunjukkan
bahwa hipotesis tolak H0 karena P-value < , Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan kacang hijau

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan 2013 Kelompok 6

dengan 3 perlakuan kontrol, setengah tertutup, tertutup


minimal ada satu yang memberikan perbedaan yang
signifikan.
Tabel 4.2 Uji ANOVA data pertumbuhan kacang hijau
Sumber
DF JK
KT
F
P
Varians
Perlakuan 2
358,6 179,3 11,71 0,000
Galat
27
413,5 15,3
Total
29
772,1
Dari data pengamatan pada Anova diatas menunjukkan
bahwa hipotesis tolak H0 karena P-value < , Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan jagung dengan 3
perlakuan kontrol, setengah tertutup, tertutup minimal
ada satu yang memberikan perbedaan yang signifikan.Uji
ANOVA dilakukan untuk mengetahui apakah masingmasing perlakuan memberikan hasil yang berbeda pada
percobaan [17].
IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan penilitian yang sudah dilakukan dapat dibuat


kesimpulan bahwa petumbuhan kecambah biji Phaseolus
radiatus dan Zea mays
botol yang tertutup seluruh
permukaannya mengalami etiolasi dan daunnya bewarana
kuning pucat. Etiolasi yaitu dimana tanaman mengalami

pertumbuhan yang sangat cepat karena diletakkan


ditempat gelap dan tidak terkena sinar matahari, hormon
auksin akan bekerja dengan baik tetapi pertumbuhan
yang dialami akan mengakibatkan batang tidak kokoh,
daun yang menguning akibat tidak terjadi fotosintesis.
Sedangkan pada botol yang diberi lubang sebagian dan
terbuka seluruhnya menunjukkan hasil yang sama yaitu
kecambah mengalami pertumbuhan menuju arah cahaya
matahari yang disebut fototropisme dan daunnya bewarna
hijau segar.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]

[7]
[8]

Prawiranata, W. dkk. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid 3.


Bogor: Departemen Botani Fakultas Pertanian IPB (1991)
Champbell, at all. Biologi. Edisi Ke Lima, Jilid III. Erlangga :
Jakarta (2004)
Hidayah, Firman. Gerak Esionom. Laboratorium Virtual Biologi
(2012). Diakses dari www.labvirtualbiologi.webege.com pada
tanggal 24 November 2013 pukul 10.48 WIB
Lakitan, Benyamin. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Pt. Raja
Grafindo Persada : Jakarta.(2007)
Salisbury, F. B. dan Cleon. W. Ross. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 1.
ITB : Bandung (1995)
Suhentaka. PENGARUH KONSENTRASI BADAN NAA PADA
TAHAP MULTIPLIKASI SECARA IN VITRO TERHADAP
KEBERHASILAN AKLIMATISASI NENAS (Ananas comosus (L)
Merr) KULTIVAR SMOOTH CAYENNE. Makalah Seminar
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian (2006)
Widyastuti, N. dan D. Tjokrokusumo. Peranan beberapa zat
pengatur tumbuh (zpt) tanaman pada kultur in vitro. Jurnal Sains
dan Teknologi Indonesia. Jakarta. (2007) 3 (5):55-63.
William, D., A. Teale, I. Paponov and K. Palme. Auxin in action:
signalling, transport and the control of plant growth and development
Nature Reviews. Molecular Cell Biology. Nature publishing group.
(2006) 7: 847-859

7
[9]

Lakitan, Benyamin. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Pt. Raja


Grafindo Persada : Jakarta.(2007)
[10] Kevin B., K. Dean, and E. Riechers. Recent developments in auxin
biology and new opportunities for auxinic herbicide research.
Pesticide Biochemistry and Physiology. (2007) 89 :1-11.
[11] Subekti, Nuning Argo, Syafrudin, Roy Efendi dan Sri Sunarti.
Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai
Penelitian Tanaman Serelia, Maros. (2013)
[12] Pramono, Eko. Perkecambahan Benih. Jurusan Budidaya Pertanian :
Fakultas Pertanian Universitas Lampung. (2009
[13] Suwarno, Faiza C. Pengaruh Cahaya Dan Perlakuan Benih
Terhadap Perkecambahan Benih Pepaya (Carica papaya L.).
IPB:Bandung (2013)
[14] Setiowati, Tetty dan Deswaty Furqonita. Biologi Interaktif. Azka
Press:Jakarta (2007)
[15] Mudiana, Deden. Perkecambahan Syzygium Cumini (L.) Skeels.
Germination Of Syzygium Cumini (L.) Skeels. Balai Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (Lipi), Pasuruan 67163 Issn: 1412-033x Volume 8,
Nomor 1 Januari 2007
[16] W Solymosi, Katalin. Etiolation Symptoms In Sunflower
(Helianthus Annuus) Cotyledons Partially Covered By The
Pericarp Of The Achene. Department of Plant Anatomy, Eotvos
University, Pazmany P. s. 1/c, Budapest, H-1117 Hungary
Department of Plant Anatomy, Eotvos University, Pazmany P. s.
1/c, Budapest, H-1117 Hungary. Annals of Botany 99: 857867,
2007.
[17] Santoso, Singgih. Statistik Parametrik + CD. PT Elex Media
Komputindo : Jakarta (2006)
Santoso, Singgih. Statistik Parametrik + CD. PT Elex Media
Komputindo : Jakarta (2006)