Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan
suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan
ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifatsifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan
suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme
bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat
diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar
spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga
dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme.
Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau
langka dalam suatu populasi (Wikipedia, 2012)
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan
genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang
berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum
dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang.
Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang
besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang
mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi
melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini
dengan seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetik (Bahasa Inggris: Genetic Drift)
merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat
suatu populasi. Hanyutan genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan
diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi.
Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil, perubahan ini
akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses
ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Dan sebenarnya,
kemiripan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa
semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses
divergen yang terjadi secara perlahan ini.
Dokumentasi fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan oleh cabang biologi yang
dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga mengembangkan dan menguji teori-teori
1 |Makalah Evolusi

yang menjelaskan penyebab evolusi. Kajian catatan fosil dan keanekaragaman hayati
organisme-organisme hidup telah meyakinkan para ilmuwan pada pertengahan abad ke19 bahwa spesies berubah dari waktu ke waktu. Namun, mekanisme yang mendorong
perubahan ini tetap tidaklah jelas sampai pada publikasi tahun 1859 oleh Charles Darwin,
On the Origin of Species yang menjelaskan dengan detail teori evolusi melalui seleksi
alam. Karya Darwin dengan segera diikuti oleh penerimaan teori evolusi dalam
komunitas ilmiah. Pada tahun 1930, teori seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori
pewarisan Mendel, membentuk sintesis evolusi modern, yang menghubungkan satuan
evolusi (gen) dengan mekanisme evolusi (seleksi alam). Kekuatan penjelasan dan prediksi
teori ini mendorong riset yang secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru, di
mana hal ini telah menjadi prinsip pusat biologi modern yang memberikan penjelasan
secara lebih menyeluruh tentang keanekaragaman hayati di bumi.
Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun
sebenarnya biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun demikian,
Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak
terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin mengenai
evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai
teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.
Teori evolusi yang dikemukakan oleh para ahli evolusi tidak terlepas dari peranan
berkembangnya zaman, tiap-tiap perubahan suatu teori dimunculkan dari beberapa teori
yang sebelumnya dapat dibantah oleh para ahli yang telah melakukan penelitian terkait
dengan evolusi yang dengan perubahan yang terjadi di alam semesta ini. salah satu
contoh yaitu terbantahnya teori Darwin oleh teorinya Harun yahya, Darwin menyatakan
bahwa makhluk hidup yang ada dimuka bumu ini beserta isinya ada dengan sendirinya,
teori ini dapat dibantah oleh Harun yahya dengan membuktikan bahwa alam semesta
beserta isinya tidak terjadi dengan sendirinya namun ada yang menciptakan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa apa saja pola pokok evolusi?
2. Bagaimana definisi pola pokok evolusi?
3. Seperti apa pola pokok evolusi?
1.3 Tujuan Penelitian
2 |Makalah Evolusi

Dimana makalah ini bertujuan :


1. Untuk mengetahui apa saja pola pokok evolusi
2. Untuk mengetahui definisi pokok evolusi
3. Untuk mengetahui seperti apa pola pokok evolusi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pola Pokok Evolusi
2.1.1 Definisi Mengenai Teori Evolusi
Teori evolusipun banyak mengalami perubahan. Hingga kini masih banyak dapat
mendapat tantangan. Tantangan yang timbul terjadi karena ada konsep yang salah
mengenai evolusi.hampir semua pertentangan yang timbul pada teori evolusi di
sebabkan oleh pengertian yang salah mengenai teori evolusi dan banyaknya
subjektivitas dan emosi yang ikut mengambil bagian dalam menarik kesimpulan.
Konsep yang salah :
1. Teori evolusi menerangkan bagaimana kera berubah menjadi manusia
2. Evolusi adalah proses perubahan dari suatu organisme ke organisme yang lain
Konsep yang benar :
1. Kera merupakan kerabat yang paling dekat dengan manusia
3 |Makalah Evolusi

2. Evolusi adalah perubahan frekwensi alel suatu populasi persatuan waktu


Menurut teori evolusi, kera mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan
manusia.
Tetapi teori evolusi tidak menerangkan bahwa kera adalah nenek moyang langsung
dari manusia. Pada dasarnya teori evolusi menerangkan bahwa perubahan
frekuensi alel dari suatu populasi merupakan proses evolusi. Dengan demikian,
semua organisme berevolusi dari waktu ke waktu.
2.1.2 Bahan Dasar Perubahan Evolusi Keanekaragaman
Adalah modal utama proses evolusi, tanpa aadanya keragaman, proses
evolusi tidak dapat terjadi. Dapat dibayangkan, bahwa setiap anggota suatu species
adalah identik. Kalau satu orang sakit, besoknya semua ikut sakit, akan sulit sekali
menemukan siapa anggota kita karena semua orang sama. Jadi keanekaragaman
merupakan hal yang tidak dapat digantikan. Dalam evolusi organisme ada sejumlah
loncatan penting evolusi yang menentukan sejarah kehidupan di muka bumi.

2.1.3 Kemunculan Dan Kepunahan


Lamanya bumi kosong menunjukkan bahwa proses yang terjadi untuk
menghasilkan suatu kehidupan berlangsung sangat sulit. Banyak organisme yang
muncul tetapi kemudian punah juga menunjukkan bahwa proses yang terjadi
sangat rumit. Kepunahan massal merupakan suatu bencana. Tetapi kepunahan
massalpun merupakan suatu anugrah bagi organisme lainnya. Adanya kepunahan
dapat memberikan kesempatan munculnya organisme lain yang tertekan
sebelumnya tertekan perkembangan evolusinya. Berkembangnya suatu kelompok
organisme erat kaitannya dengan menurunnya organisme lain. Hal ini
menunjukkan kelompok yang satu bersaing dengan yang lain dalam banyak aspek,
misalnya makanan, relung dll. Sedangkan ada dua kelompok dan berkembang
bersama. Sebenarnya kedua kelompok tersebut tidak berinteraksi, mempunyai
kebutuhan relung yang berbeda. Makanan yang berbeda dll.
2.1.4. Radiasi Adaptif
4 |Makalah Evolusi

Pada proses kepunahan akan sselalu diikuti dengan berkembangnya suatu


kelompok organisme.selain kepunahan massal, terbentuknya habitat baru juga
merupakan kesempatan bagi suatu kelompok organisme unruk melakukan radiasi
adaptasi. Berhasilnya suatu kelompok organisme untuk berkembang dikenal
dengan radiasi adaptasi. Pada masa it segala bentuk keaneka ragaman yang
mungkin akan muncul. Biasanya pada proses kepunahan, maka faktor predator dan
pesaing akan berkurang dengan drastis. Hal ini menyebabkan adanya variasi yang
sebenarnya kurang menguntungkan muncul tanpa gangguan, mengingat predator
telah tidak ada. Radiasi hanya mungkin terjadi setelah kepunahan massal.
Walaupun demikian masih ada satu parameter lain yang diperlukan, yaitu keaneka
ragaman. Tanpa keanekaragaman maka radiasi adaptasi dari suatu kelompok
organisme tidak akan terjadi. Misalnya kalau kuda dapat berevolusi dari hewan
sebesar kancil, mengapa kelompok kancil tidak mengalami hal yang sama. Dari
data kancil yang ada jumlah species kancil hanya ada tiga atau empat species saja.
Sedangkan nenek moyang kuda meliputi puluhan species. Jadi sudah jelas bahwa
kelompok kancil tidak mempunyai keanekaragaman yang cukup.
Organisme yang termassuk sukses dalam radiasi adaptasi adalah :
1. Reptilia termasuk dinosaurus akibat adanya daratan yang masih kosong
2. Kuda akibat dari berkurangnya hutan dan terbentuknya padang rumput.
3. Mamalia akibat dari musnahnya dinosaurus
4. Angiospermae akibat dari evolusi yang memungkinkan kehidupan di daratan.
Contoh hasil radiasi adaptif : hipertelisme atau hypermorphosis. Hipertelisme
adalah keadaan yang mengakomodasikan suatu struktur yang biasanya tidak
banyak bermanfaat dan bahkan mengganggu. Contohnya adalah kasus rusa
Megaloceros giganteus yang mempunyai tanduk yang laur biasa besarnya,
sehingga rusa jantan sukar untuk bergerak. Dalam keadaan umum, rusa jantan yang
demikian akan ssulit sekali melindungi diri apabiladiserang oleh musuh, apalagi
kalau di dalam huta, aknan mudah terkait diantara pepohonan. Contoh lain adalah
kerbau dengan tanduk 2 meter kadang- kadang ,mmassih kita jumpai. Dalam hutan,
kerbau demikian akan mudah sekali terjerat diantara pohon-pohonan sehingga akan
mudah dimangsa oleh harimau. Merak juga dapat dipakai sebagai contoh, karena
jantan tidak dapat terbang terlalu jauh dan mudah dimagsa karnivora seperti
harimau atau kucing hutan. Dijepang ada jenis ayam ras yang dikenal dengan
Onaga dori juga merupakan contoh hypertelisme. Ayam ras ini mempunyai bulu
5 |Makalah Evolusi

ekor yang dapat mencapai 5 meter. Ekor yang sedemikian panjang menyebabkan
ayam tersebut sukar untuk terbang.
2.1.5 Tendensi, Kerdil Dan Raksasa
Awal kehidupan dimulai dari organisme bersel satu. Kemudian meuncul
organisme bersel banyak. Ada kecendrungan menjadi besar dengan memiliki sel
banyak. Kecendrungan ini mulai terlihat sejak awal kehidupan. Mengapa hal itu
harus terjadi. Struktur yang diciptakan bertambah lama semakin rumit, hal tersebut
seiring berjalan dengan bertambahnya ukuran. Demikian pula dalam kehidupan
seharii-hari. Dalam mengatasi predator terdapat kecendrungan dari suatu
organisme untuk tumbuh lebih besar dan lebih kuat. Di laut. Ada sejenis kerang
yang menjadi mangsa dari kepiting. Penelitian yang dilakukan pada kerang selama
berpuluh ahun menunjukkan bahwa tebal cangkang kerang meningkat sejalan
dengan waktu. Tetapi ukuran capit kepitingpun meningkat seiring dengan
berjalannya waktu. Kalau kita bandingkan antara primata primitif hingga yang
paling maju, maka akan terlihat bahwa ukuran tubuhnyapun menjadi makin lama
makin besar dan berkulminasi pada gorilla. Pada manusiapun terlihat
kecendrungan. Apabila pada awal abad ke -19 ukuran tubuh manusia rata-rata 155
cm, maka manusia dewasa sekarang sudah berkisar antara 160-170 cm. Penelitian
yang dilakukan pada fosil di daerah pulau-pulau terkecil menunjukkan tendensi
yang lain. Organisme yang berukuran kecil cendrung menjadi besar. Contohnya
pada sejumlah fosil tikus di bebarapa pulau di Eropa (Kreta,Malta, Siprus) atau
Indonesia (Sulawesi, Sumba, Flores) menujukkan adanya tikus berukuran besar
bagi sesama anggota marganya, sedangkan organisme yang biasanya besar
cendrung menjadi kecil. Gajah purba, kuda nil yang ditemukan di pulau-pulau
tersebut diatas semuanya berukuran jauh lebih kecil kalau di bandingkan dengan
populasi dari Asia atau Eropa daratan. Hal ini tampaknya berlaku pada di
indonesia. Salah satu tikus terbesar di indonesia (Papagomys darmandvillei)
berasal dari flores yang ukurannyaa dapat mencapai sekitar 60 cm dengan berat
sekitar 5 kg. Semua pohon cendrung menjadi tinggi. Tujuan tersebut sebenarnya
adalah seleksi terhadap padatnya pohin dan perlombaan untuk memperoleh sinar
matahari yang maksimum. Apakah kecendrungan memang ada. Bebrapa ahli
menolak anggapan bahawa kecendrungan tersebut ada. Diperkirakan dalam
sseleksi alam yang bekerja mempunyai tenggang waktu yang lama, sehingga
6 |Makalah Evolusi

terlihat sebagai suatu kecendrungan. Apabila kecendrungan merupakan aspek


pokok dari evolusi, maka evolusi mempunyai tujuan akhir. Adanya organisme
kerdil tidak dapat diabaikan bahwa evolusi juga bekerja ke arah yang lebih kecil.
Dengan demikian hingga kini, para ahli menolak bahwa kecendrungan merupakan
aspek yang penting dalam evolusi. Gen kerdil yang berada dalam keadaan
heterozigot (carrier) mempunyai kesempatan bertemu sehingga dihasilkan individu
yang kecil. Karena populasi kecil, maka kemungkinan hewan kerdil secara fisik
hanya akan kawin dengan anggota populasi yang berukuran kerdil pula. Dengan
demikian mereka akan membentuk populasi kerdil. Sedangkan yang beruluran
besar akan bersaing dengan yang berukuran kecil dalam kebutuhan makanan.
Karena yang besar perlu makan banyak sedangkan yang kecil tidak, maka hewan
besar cendrung tidak pernah kenyang, sehingga kualitas hidupnya menurun.
Dengan demikian mereka kalah bersaing bukan karena interaksi, tetapi karena
tidak mempunyai kesempatan memperoleh kualitas hidup yang mencukupi.

2.1.6. Timbulnya Kehidupan


Didaratan Salah satu kejadianyang cukup penting dalam evolusi adalah
berhasilnya organisme menginvasi daratan.
Untuk dapat menginvasi daratan diperlukan :
1. Kutikula dan dinding sel untuk mencegah penguapan
2. Spora yang berdinding chitine
3. Jaringan pembuluh
4. Perakaran untuk dapat tetap berhubungan dengan air
5. Percabangan untuk menangkap oksigen dan memperluas permukaan
6. Stomata untuk pertukaran oksigen dan penyaluran makanan ke atas
7. Kayu untuk menopang batang tubuh
8. Daun untuk mengefisienkan penagkapan cahaya
9. Biji yang keras dengan masa dormansi
10. Pembentukan bunga dengan asesori
Pada hewan, struktur yang diperlukan :
7 |Makalah Evolusi

1. Kulit atau struktur lain pencegah kekeringan


2. Sistem seksualitas internal
3. Terbentuknya sel telur berdinding ganda (Telur Amniota) atau beranak
4. Kulit tubuh yang ditutupi perisai (misalnya kura-kura dan dinosaurus) atau ssisik
guna melindungi diri terhadap kekeringan
5. Terbentuknya sistem ekskresi yang terpisah kalau dibandingkan dengan hewan
vertebrata lainnya yang telah ada sebelumnya (Ikan, Ampibia)
6. Penciuman yang lebih baik
7. Pendengaran yang lebih baik
8. Mekanisme keseimbangan tubuh
9. Mata yang terlindung (membran nicitans, kelopak mata)
10. Alat pergerakan yang sesuai untuk di darat
11. Paru-paru
2.1.7 Timbulnya Seks Dan Jenis Kelamin
Seks adalah penyatuan materi genetik dari suatu organisme. Pada dasarnya
seks menyangkut tiga hal yaitu : hidup. Tumbuh dan berkembag biak. Seksualitas
menghasilkan eukariot. Diperkirakan sel prokariot yang mula-mula ada mengalami
kesulitan untuk memperoleh makanan. Dengan melakukan simbiosis, ternyata dua
macam prokariot yang berbeda, yang satu dapat melakukan pergerakan untuk
pindah ke tempat yang lain, sedangkan yang lain misalnnya melakukan respirasi,
karena mempunyai mitokondria. Dengan demikian dibentuk organisme yang dapat
bergerak dan dapat melakukan respirasi. Pergerakan diperlukan karena pada waktu
itu prokariot yang ada semuanya anaerob. Dengan adanya mitokondria, mereka
dapat mencari makan dengan lebih efisien. Seks dapat menyangkut satu sampai
pada beberapa individu. Monoseksual : antara satu individu, biasanya pada
tumbuhan. Atau dalam banyak kasus kita kenal dengan autofekundasi Diseksual :
menyangkut dua individu. Pada paramecium terjadi antara dua individu tanpa
pembedaan antara jantan dan betina, tetapi dapat juga terjadi pada dua jenis
kelamin yang berbeda. Paraseksual : melibatkan lebih dari dua individu. Terjadi
pada Acrasia, Dictyostelium Serratia dan Volvox. Biasanya ada sejumlah individu
yang bergabungdan kemudian membentuk alat reproduksi. Konsekuensi dari
seksualitas adalah variabilitas dari anggota populasi, penurunan sifat, tingkah laku
kawin-interaksi antar individu, kehidupan sosial, kesintasan (survivalitas) spesies .
8 |Makalah Evolusi

2.1.8 Berkembangnya Akal Budi Dan Kebudayaan


Akal Budi Dan Kebudayaan Adalah Ciri Yang Hanya Dimiliki Manusia
Akal budi dan kebudayaan adalah ciri yang hanya dimilki oleh manusia. Adanya
akal budi merupakan salah satu loncatan pentiing dalam evolusi dan sangat
menentukan kesintasan manusia di muka bumi. Meskipun tidak diketahui dari
mana asalnya akal budi, namun apabila kita bandingkan antara intelegensia Homo
erectus dengan kera, maka perbedaannya tidak terlalu besar. Demikian pula antara
Homo sapiens pertama dengan Homo erectus tidak terjadi loncatan yang mencolok
baru kemudian inteligensia manusia berkembang dengan pesat. Melihat dari
keberadaan manusia tanpa alat untuk mempertahankan diri, maka intelegensia
merupakan satu-satunya alat untuk mempertahankan kehidupan. Adanya kehidupan
sosial dan saingan yang berat dengan organisme lain (termasuk manusia lain) dan
alam sekitar merupakan tantangan bagi manusia untuk mengembangkan
inteligensia. Kemampuan wanita untuk menerima pria menyebabkan terbentuknya
kehidupan social. Dengan adanya kehidupan sosial, maka ada tekanan untuk
mempertahankan keutuhan pasangan dan keluarga, manusia yang lemah mulai
mengembangkan perlatan dari tongkat untuk mengusir hewan menjadi alat untuk
berburu (terutama menangkap ikan). Tekanan hewan buas menyebabkan manusia
mencari tempat yang aman untuk nmempertahankan diri, terutama di gua-gua.
Kebutuhan akan makanan seperti daging memaksa manusia untuk berburu,
sedangkan meramu di hutan kemudian ditiinggalkan oleh karena resiko bertemu
hewan buas dan saingan dengan manusia lain (mungkin termasuk juga Homo
erectus dan Homo sapiens neaderthalensis yang bertubuh lebih kuat) menyebabkan
manusia lebih menetap. Sisa makanan, terutama biji-bijian yang dibuang di sekitar
tempat hidup memberikan pengetahuan mengenai bercocok tanam. Dengan
demikian mulailah manusia mengembangkan kebudayaan.
2.1.9 Kecepatan Evolusi
Kecepatan evolusi dapat di ukur sebagai besarnya perubahan pada suatu
organisme sejalan dengan waktu. Aspek yang diukur dapat sangat bervariasi sesuai
dengan kelompok organisme yang dipelajari. Salah satu aspek yang dianggap ideal
adalah perubahan genetik dalam suatu populasi.kecepatan perubahan suatu gen

9 |Makalah Evolusi

sangat bergantung kepada tipe gen itu sendiri.Sesuatu yang sangat esensial untuk
kehidupan, biasanya berevolusi sangat lambat.

Primata menunjukkan perlambatan dalam kecepatan mutasi. Diperkirakan


kecepatan evolusi juga berkaitan dengan waktu generasi. Karena mutasi yang
mempengaruhi mutasi terdapat pada sel gamet dan bukan pada sel somatis.
Dengan demikian, mutasi yang diturunkan pada organisme berumur
panjang lebih lama dibandingkan dengan organisme berumur pendek. Kecepatan
mutasi berbeda antara gen yang aktif dengan gen yang tidak aktif. Pada gen yang
tidak aktif, kebanyakan mutasi bersifat netral, sehingga mutasi apapun yang terjadi
tidak banyak mempengaruhi kemampuan organisme tersebut. Kecepatan evolusi
pada suatu gen menunjukkan bahwa daerah yang mempengaruhi asam amino yang
akan dihasilkan terjadi lebih sedikit mutasi dibandingkan dengan mutasi pada
kodon ketiga (mutasi diam).

10 |Makalah Evolusi

2.1.10 Evolusi Genom


Jumlah DNA yang dimiliki eukariot tidak sebanding dengan jumlah
gen yang ada. Pada manusia sejak sel gamet bertemu dan membentuk zigot hingga
kita meninggal terdapat sekitar 30.000 protein yang terbentuk. Oleh karena itu
jumlah gen yang dibutuhkan hanya sekitar 50.000. menurut perhitungan analisis
DNA dan kromosom manusia terdapat paling banyak sekitar 100.000 gen.
Sedangkan jumlah DNA yang kita miliki dapat menampung sekitar 5 juta gen.
Banyaknya DNA berbanding lurus dengan kompleksitasnya. Walaupun demikian
jumlah DNA yang tetinggibahkan dimiliki oleh sejumlah ikan berparu-paru,
kebanyakan ampibia, terutama salamnder yang jumlah DNAnya jauh lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah DNA manusia. Jumlah DNA terbesar dimiliki oleh
protozoa, ganggang biru dan Angiospermae. Tingginya jumlah DNApada eukariot
merupakan tidak sebanding dengan gen yang ada (paradoks) karena jumlah DNA
yang mempunyai fungsi adalah 5% saja.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1. Pola pokok evolusi adalah sebagai berikut :
a. Bahan dasar perubahan evolusi keanekaragaman
b. Kemunculan dan kepunahan
c. Radiasi adaptif
d. Tendensi, kerdil dan raksasa
e. Timbulnya kehidupan
f. Timbulnya seks dan jenis kelamin
g. Berkembangnya akal budi dan kebudayaan
h. Kecepatan evolusi
i. Evolusi genom
3.1.2.

Evolusi adalah perubahan frekuensi alel dari suatu populasi merupakan proses
evolusi. Dengan demikian, semua organisme berevolusi dari waktu ke waktu.
11 |Makalah Evolusi

3.1.3. Seperti apa pola pokok evolusi


a. Bahan dasar perubahan evolusi keanekaragaman modal utama proses
evolusi, tanpa aadanya keragaman, proses evolusi tidak dapat terjadi.
b. Kemunculan dan kepunahan lamanya bumi kosong menunjukkan bahwa
proses yang terjadi untuk menghasilkan suatu kehidupan berlangsung
sangat sulit.
c. Radiasi adaptif pada proses kepunahan akan sselalu diikuti dengan
berkembangnya suatu kelompok organisme.selain kepunahan massal,
terbentuknya habitat baru juga merupakan kesempatan bagi suatu
kelompok organisme unruk melakukan radiasi adaptasi.
d. Tendensi, kerdil dan raksasa awal kehidupan dimulai dari organisme bersel
satu. Kemudian meuncul organisme bersel banyak.
e. Timbulnya kehidupan didaratan Salah satu kejadianyang cukup penting
dalam evolusi adalah berhasilnya organisme menginvasi daratan.
f. Timbulnya seks dan jenis kelamin seks adalah penyatuan materi genetik
dari suatu organisme. Pada dasarnya seks menyangkut tiga hal yaitu :
hidup. Tumbuh dan berkembag biak. Seksualitas menghasilkan eukariot.
g. Berkembangnya akal budi dan kepercayaan adalah ciri yang hanya
dimiliki manusia akal budi dan kebudayaan adalah ciri yang hanya dimilki
oleh manusia. Adanya akal budi merupakan salah satu loncatan pentiing
dalam evolusi dan sangat menentukan kesintasan manusia di muka bumi.
h. Kecepatan evolusi dapat di ukur sebagai besarnya perubahan pada suatu
organisme sejalan dengan waktu.
i. Evolusi genom Jumlah DNA yang dimiliki eukariot tidak sebanding
dengan jumlah gen yang ada. Pada manusia sejak sel gamet bertemu dan
membentuk zigot hingga kita meninggal terdapat sekitar 30.000 protein
yang terbentuk. Oleh karena itu jumlah gen yang dibutuhkan hanya sekitar
50.000.
3.2. Saran
Diharapkan setelah membaca makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi
untuk membuat makalah berikutnya.

12 |Makalah Evolusi

13 |Makalah Evolusi