Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TUTORIAL

BLOK THT SKENARIO I


ADUH, TELINGAKU SAKIT!

Kelompok X
Adityo Kumoro Jati

G0013005

Alifis Sayandri Meiasyifa

G0013019

Andika Pratama

G0013027

Deonika Ariscieka Putri

G0013071

Devita Yunieke Putri

G0013073

Karina Fadhilah Ahmad

G0013127

Nailatul Arifah

G0013171

Ridhani Rahma V.

G0013201

Taranida Hanifah

G0013223

Yani Dwi Pratiwi

G0013231

Vincentius Novian Romilio

G0013237

Zaka Jauhar Firdaus

G0013245

Tutor: dr. Anik Lestari M.Kes


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2015
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..
DAFTAR ISI
BAB I ..
PENDAHULUAN..
BAB II..
PEMBAHASAN..
BAB III.
KESIMPULAN.
SARAN.
DAFTAR PUSTAKA...

1
2
3
4
22
23
24

BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO I

ADUH, TELINGAKU SAKIT!


Seorang anak laki-laki usia 8 tahun dibawa ibunya ke praktek dokter umum.
Berdasarkan keterangan ibu pasien dikatakan bahwa pasien dibawa ke dokter karena keluhan
telinga kanan keluar cairan kuning kental, tidak berbau busuk sejak tiga hari yang lalu.
Sebelum timbul keluhan tersebut, pasien demam dan mengeluh telinganya sakit. Pasien
mengalami batuk pilek sejak 7 hari yang lalu. Sejak satu tahun terakhir pasien sering batuk
pilek minimal sebulan sekali. Riwayat keluar cairan dari telinga sebelumnya disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan: kesadaran compos mentis, tanda vital dalam batas
normal. Pada pemeriksaan telinga dengan otoskopi didapatkan telinga kanan liang telinga
lapang, tampak sekret mukopurulen, dan tampak perforasi membran timpani sentral
(pulsating point +). Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior didapatkan sekret seromukous,
konka inferior oedema, hiperemis, septum nasi deviasi (-), palatal phenomenona -/-. Pada
pemeriksaan tenggorok didapatkan tonsil T3-T3, hiperemis, kripta melebar, detritus +. Pada
pemeriksaan kelenjar getah bening leher tidak didapatkan lymphadenopathy.
Pemeriksaan penunjang dengan rontgen Kepala Lateral fokus Adenoid, tampak
gambaran soft tissue mass di regio nasofaring, dicurigai hipertrofi adenoid, dengna A/N ratio
0.8.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Langkah I: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah dalam


skenario
1. Pulsating point: Terdapat pada perforasi membran timpani, adanya pulsasi pada
membran timpani.
2. Otoskopi: suatu pemeriksaan untuk melihat warna, kontur, refleks cahaya dari
membran timpani dan melihat adanya sekret telinga
3. Palatal phenomenon: Tampak adanya benda gelap yang bergerak keatas dan
dinding belakang nasofaring akan terlihat gelap (langkah-langkah dijelaskan pada
Jump 7 nomor 2)
4. Mukopurulen: Sekret yang mengandung mukus dan pus.
5. Rhinoskopi anterior: Memeriksa rongga hidung bagian dalam dari depan.
Diperlukan spekulum hidung. Bisa digunakan untuk melihat vestibulum hidung,
septum terutama bagian anterior, konka inferior, konka media, konka superior,
serta meatus sinus paranasal dan keadaan mukosa rongga hidung. Jika rongga
hidung menyempit akibat edema mukosa, bisa dimasukkan tampon kapas
adrenalin pantokain untuk mengurangi edema mukosa dan menciutkan konka
sehingga rongga hidung lebih lapang.
6. Rontgen kepala lateral
7. Detritus: bahan partikular yang dihasilkan dengan atau sisa pengausan atau
desintegrasi jaringan
8. Tonsil T3-T3: Tonsil besarnya jarak arkus anterior dan uvulae
9. Seromukous: substansi yang dihasilkan dalam sekresi
10. A/N ratio 0.8: Rasio adenoid nasofaring. Nilai A merupakan jarak dalam antara
konveksitas maksimum bayangan adenoid dan garis lurus sepanjang tepi anterior
basis oksipitus os oksipitalis. Nilai N merupakan jarak ataupun tepi posterior
platum durum dengan tepi anterior sinkondrolis sefenobasis oksipitalis. Bila
sikondrosis tidak jelas maka titik tersebut dicari dari titik potong tepi posterior
inferior lamina pethrigoid lateral dan atap dari tulang yang membatasi nasofaring.
11. Hiperemis: Terlihat kemerahan akibat terjadinya vasodilatasi.
B. Langkah II: Menentukan atau mendefinisikan permasalahan
Permasalahan pada skenario Aduh, telingaku sakit! antara lain:
1. Bagaimana anatomi, histologi, dan fisiologi dari sistem auditiva?
2. Bagaiman hubungan umur dan jenis kelamin dengan keluhan?
3. Bagaimana hubungan telinga sakit, demam, dengan keluhan batuk pilek?
4

4. Bagaimana patofisiologi cairan kuning kental yang keluar dari telinga beserta
penjelasan macam-macam cairan telinga?
5. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik, rhinoskopi anterior, tenggorok, dan
6.
7.
8.
9.

pemeriksaan penunjang Kepala Lateral?


Bagaimana hubungan limphadenophaty dengan keluhan dan mekanismenya?
Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari otoskopi dan rhinoskopi anterior?
Bagaimana hubungan kecurigaan hipertrofi adenoid dengan keluhan?
Apa diagnosis banding dan diagnosis kerja serta penatalaksanaannya?

C. Langkah III. Menganalisis permasalahan dan membuat pernyataan sementara


mengenai permasalahan (tersebut dalam langkah II)
1. Bagaimana anatomi, histologi, dan fisiologi dari sistem auditiva?
a. Anatomi organ pendengaran
Aurikel (daun telinga)
- Terdiri dari tulang rawan dan kulit
- Terdapat konkha, tragus, antitragus, helix, antihelix dan lobules
- Fungsi utama aurikel adalah untuk menangkap gelombang suara dan
mengarahkannya ke dalam MAE
Meatus Auditorius Eksternal (liang telinga luar)
- Panjang + 2, 5 cm, berbentuk huruf S
- 1/3 bagian luar terdiri dari tulang rawan, banyak terdapat kelenjar
-

minyak dan kel. Serumen


2/3 bagian sisanya terdiri dari tulang ( temporal ) dan sedikit

kelenjar serumen.
Rambut halus dan serumen berfungsi untuk mencegah serangga

kecil masuk.
MAE ini juga berfungsi sebagai buffer terhadap perubahan
kelembaban dan temperatur yang dapat mengganggu elastisitas

membran tympani
Membrana Tympani
Terdiri dari jaringan fibrosa elastic
- Bentuk bundar dan cekung dari luar
- Terdapat bagian yang disebut pars flaksida, pars tensa dan umbo.
- Reflek cahaya ke arah kiri jam tujuh dan jam lima ke kanan
- Dibagi 4 kwadran ; atas depan, atas belakang, bawah depan dan
-

bawah belakang
Berfungsi menerima getaran suara dan meneruskannya pada tulang

pendengaran
Tulang-tulang Pendengaran
- Terdiri dari Maleus, Incus dan Stapes
- Merupakan tulang terkecil pada tubuh manusia.
- Berfungsi menurunkan amplitudo getaran yang diterima dari
membran tympani dan meneruskannya kjendela oval
5

Cavum Tympani
Merupakan ruangan yang berhubungan dengan tulang Mastoid,
sehingga bila terjadi infeksi pada telinga tengah dapat menjalar menjadi

mastoiditis
Tuba Eustachius
- Bermula dari ruang tympani ke arah bawah sampai nasofaring
- Struktur mukosanya merupakan kelanjutan dari mukosa nasofaring
- Tuba dapat tertutup pada kondisi peningkatan tekanan secara
-

mendadak.
Tuba ini terbuka saat menelan dan bersin
Berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara di luar tubuh

dengan di dalam telinga tengah


Koklea
- Skala vestibuli yang berhubungan dengan vestibular berisi
-

perilymph.
Skala tympani yang berakhir pada jendela bulat, berisi perilymph
Skala media / duktus koklearis yang berisi endolymph
Dasar skala vestibuli disebut membran basalis, dimana terdapat

organ corti dan sel rambut sebagai organ pendengaran


Kanalis Semi Sirkularis
- Terdiri dari 3 duktus semiserkular, masing-masing berujung pada
ampula.
- Pada ampula terdapat sel rambut, krista dan kupula
- Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal rotasi
Vestibula
Terdiri dari sakulus dan utrikel yang mengandung macula. Berkaitan
dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal posisi. Itulah nama-nama
bagian dari telinga anda, kalau belum jelas silahkan anda cari lagi
materi tentang nama bagian-bagian yang terdapat pada telinga.
sekarang aku akan mengklasifikasikan bagian-bagian telinga yang ku
tuliskan di atas termasuk kedalam kategori apa? apakah anatomi telinga
luar, anatomi telinga tengah, atau anatomi telinga dalam?. aku bahas
satu persatu yah, mulai dari anatomi telinga luar dulu.
b. Histologi organ pendengaran
Telinga adalah struktur khusus untuk pendengaran, keseimbangan, dan
pemeliharaan keseimbangan. Sistem pendengaran terdiri Dri tiga bagian
utama: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga Dalam Gambaran perbesaran-lemah

memperlihatkan

karakteristik labirin di telinga dalam. Labyrinthus osseus cochlearis


berputar mengelilingi sumbu pusat tulang spongiosa yang disebut
6

modiolus. Di dalam modiolus terdapat ganglion spirale, yang terdiri dari


banyak aferen bipolar atau neuron sensorik. Dendrit dari neuron bipolar ini
menjulur dan menyarafi sel rambut yang terletak di apparatus pendengaran
yaitu organ corti. Akson dari neuron-neuron aferen ini menyatu dan
membentuk saraf koklear, yang terletak di modiolus.
Labyrinthus osseus telinga dalam dibagi dua rongga utama oleh lamina
spiralis cochleae dan membrane basilar. Lamina spiralis cochleale
menonjol dari modiolus sekitar separuh jalan ke dalam lumen saluran
koklea. Membrane basilar berlanjut dari lamina spiralis cochleae ke
ligamentum spirale, yaitu penebalan jaringan ikat periosteum di dindidng
luar bertulang kanal koklear.
Dinding luar skala media dibentuk oleh suatu daerah vascular yaitu
stria vascularis. Epitel bertingkat yang melapisi stria vascularis
mengandung suatu anyaman kapiler intraepithelial yang terbentuk dari
pembuluh-pembuluh darah yang mendarahi jaringan ikat di ligamentum
spirale. Ligamentum spirale mengandung serat kolagen, fibroblast
berpigmen, dan banyak pembuluh darah.
Atap ductus cochlearis dibentuk olehmembrana vestibularis tipis, yang
memisahkan duktus koklearis dari duktus vestibularis. Membrane
vestibularis terbentang dari ligamentum spirale di dinding luar duktus
koklearis yang terletak dibagian atas stria vaskularis hingga periosteum
tebal lamina spiralis cochleae dekat limbus spiralis.
Limbus spiralis adalah massa tebal jaringan ikat periosteum lamina
spiralis cochleae yang meluas ke dalam dan membentuk dasar duktus
koklearis. Limbus spiralis dilapisi oleh epitel yang tampak silindris dan
ditunjang oleh perluasan lateral lamina spiralis cochleae. Perluasan lateral
ekstraselular epitel limbus spiralis melebihi limbus spiralis membentuk
membrane tectoria yang menutupi terowongan spiral dalam dan sebagai
oranum spirale.
Membrane basilar adalah jaringan ikat vascular yang membentyuk
dinding bawah duktus koklearis. Organum spirale terletak diatas seratserat membrane basilar dan terdiri dari sel rambut liar sensorik, sel
penunjang, terowongan spiral dalam, dan terowongan dalam.
Serat aferem saraf kokhlear dari sel bipolar terletak di ganglion spirale
berjalan menembus lamina spiralis cochleae dan bersinaps dengan sel
rambut luar di organum spirale. Kanal koklear dibagi menjadi duktus
7

vestibularis, duktus koklearis, dan duktus timpani. Membrane vestibularis


tipis memisahkan duktus koklearis dari skala vestibule. Membrane basilar
yang lebih tebal memisahkan duktus koklearis dari duktus timpani.
Membrane basilar terbentang dari jaringan ikat ligamentum sipare
hingga limbus spurales tebal. Membrane basilar menyokong organum
spirale dengan sel rambut sensoriknya dan sel penunjang. Membrane
tectoria terjulur dari limbus spiralis. Membrane tectoria menutupi sebagian
organum spirale dengan sel rambut. Sel ganglion spirale bipolar sensorik
terletak di koklea bertulang. Akson aferen dari sel ganglion spirale berjalan
menembus lamina spiralis ke organum spirale tempat dendrit-dendritnya
bersinaos dengan sel rambut.
c. Fisiologi organ pendengaran
Gelombang suara diterima dan dikumpulkan oleh daun telinga
(auricula), kemudian disalurkan ke membran tympani melalui meatus
acusticus externus. Saat mencapai membran tympani, gelombang suara
yang bertekanan tinggi dan rendah berselang seling menyebabkan gendang
telinga yang sangat peka tersebut menekuk keluar-masuk seirama dengan
frekuensi gelombang suara. Ketika membran timpani bergetar sebagai
respons terhadap gelombang suara, rantai tulang-tulang tersebut juga
bergerak dengan frekuensi sama, memindahkan frekuensi gerakan tersebut
dari membrana timpani ke jendela oval. Tulang stapes yang bergetar
masuk-keluar dari tingkat oval menimbulkan getaran pada perilymph di
scala vestibuli. Oleh karena luas permukaan membran tympani 22 kali
lebih besar dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan tekanan
gelombang suara15-22 kali pada tingkap oval. Selain karena luas
permukaan membran timpani yang jauh lebih besar, efek dari pengungkit
tulang-tulang pendengaran juga turut berkontribusi dalam peningkatan
tekanan gelombang suara.
Gerakan stapes yang menyerupai piston terhadap jendela oval
menyebabkan timbulnya gelombang tekanan di kompartemen atas. Karena
cairan tidak dapat ditekan, tekanan dihamburkan melalui dua cara sewaktu
stapes menyebabkan jendela oval menonjol ke dalam yaitu, perubahan
posisi jendela bundar dan defleksi membrana basilaris.
Pada jalur pertama, gelombang tekanan mendorong perilimfe ke depan
di kompartemen atas, kemudian mengelilingi helikoterma, dan ke
8

kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela


bundar menonjol ke luar untuk mengkompensasi peningkatan tekanan.
Ketika stapes bergerak mundur dan menarik jendela oval ke luar, perilimfe
mengalir ke arah yang berlawanan mengubah posisi jendela bundar ke arah
dalam.
Pada jalur kedua, gelombang tekanan frekuensi yang berkaitan dengan
penerimaan suara mengambil jalan pintas. Gelombang tekanan di
kompartemen atas dipindahkan melalui membrana vestibularis yang tipis,
ke dalam duktus koklearis dan kemudian melalui mebrana basilaris ke
kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela
bundar menonjol ke luar-masuk bergantian.
Membran basilaris yang terletak dekat telinga tengah lebih pendek dan
kaku, akan bergetar bila ada getaran dengan nada rendah. Hal ini dapat
diibaratkan dengan senar gitar yang pendek dan tegang, akan beresonansi
dengan nada tinggi. Getaran yang bernada tinggi pada perilymp scala
vestibuli akan melintasi membrana vestibularis yang terletak dekat ke
telinga tengah. Sebaliknya nada rendah akan menggetarkan bagian
membrana basilaris di daerah apex. Getaran ini kemudian akan turun ke
perilymp scala tympani, kemudian keluar melalui tingkap bulat ke telinga
tengah untuk diredam.
Karena organ corti menumpang pada membrana basilaris, sewaktu
membrana basilaris bergetar, sel-sel rambut juga bergerak naik turun dan
rambut-rambut tersebut akan membengkok ke depan dan belakang
sewaktu membrana basilaris menggeser posisinya terhadap membrana
tektorial. Perubahan bentuk mekanis rambut yang maju mundur ini
menyebabkan saluran-saluran ion gerbang mekanis di sel-sel rambut
terbuka dan tertutup secara bergantian. Hal ini menyebabkan perubahan
potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang bergantian. Sel-sel rambut
berkomunikasi melalui sinaps kimiawi dengan ujung-ujung serat saraf
aferen yang membentuk saraf auditorius (koklearis). Depolarisasi sel-sel
rambut menyebabkan peningkatan kecepatan pengeluaran zat perantara
mereka yang menaikan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya,
kecepatan pembentukan potensial aksi berkurang ketika sel-sel rambut
mengeluarkan sedikit zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi
(sewaktu membrana basilaris bergerak ke bawah). Perubahan potensial
9

berjenjang di reseptor mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan


potensial aksi yang merambat ke otak. Impuls kemudian dijalarkan melalui
saraf otak statoacustikus (saraf pendengaran) ke medulla oblongata
kemudian ke colliculus. Persepsi auditif terjadi setelah proses sensori atau
sensasi auditif.
2. Bagaiman hubungan umur dengan keluhan?
Telinga tengah dan nasofaring dihubungkan melalui tuba eustachii. Pada nakanak, tuba eustachii lebih datar, pendek dan lebar sehingga infeksi pada nasofaring
cenderung lebih mudah menyebar ke telinga tengah. Oleh sebab itulah anak-anak
merupakan faktor resiko otitis media.
3. Bagaimana hubungan telinga sakit, demam, dengan keluhan batuk pilek?
Demam merupakan salah satu gejala dari infeksi pada telinga. Infeksi yang
dialami pasien kemungkinan berasal dari infeksi saluran napas bagian atas,
melalui tuba eustachius, yang menyebabkan kongesti dan edema pada mukosan
saluran napas atas termasuk nasofaring dan tuba auditiva. Hal ini mengakibatkan
tuba mengalami mengalami penyempitan, dan tekanan pada telinga tengah
menjadi negatif. Bakteri yang menetap dalam telinga tengah menyebabkan
peradangan di daerah lokal, sehingga merangsang sistem imun dan pelepasan
mediator inflamasi, salah satunya prostaglandin yang menimbulkan manifestasi
demam dan rasa sakit dalam telinga.
Streptococcus merupakan penyebab utama batuk pilek dan penyakit saluran
napas lainnya. Virus maupun bakteri tersebut masuk ke saluran telinga tengah
melalui saluran eustachius, yang akan menyebabkan peradangan dan bengkak
sehingga terjadi penyumbatan. Bakteri dan virus tersebut terperangkap dan
mengeluarkan nanah sebagai bentuk dari pertahanan diri.
Nanah tidak bisa mengalir keluar karena saluran tersumbat. Akibat
tertimbunnya nanah, terjadi penekanan ke gendang telinga dan pasien merasakan
nyeri, demam, serta penurunan fungsi pendengaran. Jika tidak ditangani lebih
lanjut bisa menyebabkan tobeknya membran tymphani.
4. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari otoskopi dan rhinoskopi anterior?
a. Otoskopi
Indikasi:
- Pemeriksaan rutin pada telinga tengah dan luar
- Untuk membantu diagnosis patologis
- Untuk debridement cerumen dan pemngambilan corpus allienum
Kontraindikasi: tidak ada kontraindikasi khusus
10

b. Rhinoskopi
Indikasi:
- Hanya bila hasil evaluasi sistemik menunjukkan kalau oenyakit nasal
- adalah primary problem
- Chronic nasal discharge yang tidak merespon dengan terapi sederhana
- Epistaksis
- Stertor
- Evaluasi dan pemeriksaan cavum nasi, sinus paranasal, dan nasopharynx
- Evaluasi septum nasi dan obstruksi jalan nafas
- Skrining awal tumor
- Pelaksanaan prosedur terapi (irigasi, kultur, balloon dilation)
- Membuang darah dan jaringan parut pascaoperasi
Kontraindikasi: Tidak ada kontraindikasi absolut, kontraindikasi relatif jika
pasien tidak bisa diajak kerja sama

11

D. Langkah IV: Menginventarisasi permasalahan secara sistematis dan pernyataan


sementara mengenai permasalahan pada skenario
Pasien datang

Keluhan:

Anak laki-laki, usia 8 tahun

Faktor resiko otitis media

Pemeriksaan

Telinga keluar cairan kuning


kental, tidak berbau sejak 3
hari
Sebelumnya: demam dan
telinga sakit
Batuk pilek sejak 7 hari lalu
RPD: batuk pilek minimal
sebulan sekali sejak 1 tahun

Fisik: compos mentis, vital sign normal


Otoskopi: telinga kanan liang telinga lapang, sekret
mukopurulen, perforasi sentral membran timpani (pulsating
point +)
- Rhinoskopi ant: sekret seromukous, konka inferior oedem,
hiperemis, septum nasi deviasi (-), palatal phenomenon -/- Tenggorok: tonsil T3-T3, hiperemis, kripta melebar, detritus +
- Kelenjar getah bening leher: lymphadenopathy (-)
-Rontgen Kepala Lateral fokus Adenoid: gambaran soft tissue mass
di regio nasofaring, A/N
ratio 0.8banding
Diagnosis

Diagnosis utama

Penatalaksanaan
E. Langkah V: Merumuskan tujuan pembelajaran
1. Bagaimana patofisiologi cairan kuning kental yang keluar dari telinga beserta
penjelasan macam-macam cairan yang keluar dari telinga?
2. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik, rhinoskopi anterior, tenggorok, dan
3.
4.
5.
6.
7.

pemeriksaan penunjang Kepala Lateral?


Bagaimana hubungan limphadenophaty dengan keluhan dan mekanismenya?
Bagaimana hubungan kecurigaan hipertrofi adenoid dengan keluhan?
Apa diagnosis banding dan diagnosis kerja serta penatalaksanaannya?
Bagaimana patofisiologi diagnosis kerja (proses perjalanan penyakit)?
Bagaimana komplikasi dari diagnosis?

F. Langkah VI: Mengumpulkan informasi baru

12

Masing-masing anggota kelompok A-10 telah mencari sumbersumber ilmiah dari


beberapa buku referensi maupun akses internet yang sesuai dengan topik diskusi
tutorial ini secara mandiri untuk disampaikan dalam pertemuan berikutnya.

G. Langkah VII: Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru yang
sudah diperoleh
1. Patofisiologi keluarnya cairan kuning kental dari telinga kanan dan macam-macam
cairan yang keluar dari telinga.
Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan
faring. Secara fisiologis, mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga
tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi.
Ketika pertahanan tubuh terganggu, maka tubuh akan lebih mudah terserang
bakteri, virus, antigen asing. Seperti yang dijelaskan dalam skenario, pasien
mengalami batuk pilek selama 7 hari terakhir. Infeksi yang menyerang saluran
pernapasan bisa menjalar ke cavum tympani melalui tuba eustachii. Terlebih pada
anak-anak, secara anatomis, cavum tympani pada anak-anak lebih horizontal, lebar,
dan pendek sehingga akan lebih mudah kuman masuk ke cavum tympani.
Infeksi yang menjalar dari nasofaring ke kavum timpani bisa menyebabkan
peradangan tuba eustachius, ditandai dengan adanya vasodilatasi, oedem, dan
peningkatan permeabilitas membran sehingga terjadi efusi cairan ke telinga tengah.
Cairan yang awalnya jernih, bisa menjadi keruh karena bercampur dengan bakteri.
Cairan yang walnya tak berbau karena bakteri yang terlibat hanya bakteri penyebab
ISPA, lama-kelamaan cairan tersebut berbau karena telah bercampur dengan bakteri
lain (contoh: Pseudomonas gram negatif. Jika tidak dikeluarkan cairan tersebut akan
terakumulasi cairan di telinga tengah akan menyebabkan bulging membran tympani.
Makin lama membran tympani yang tidak mampu lagi menampung cairan yang terus
disekresi akan mengalami perforasi dan cairan tersebut mengalir keluar telinga.
Sekret yang keluar dari telinga disebut otore. Apakah sekret ini keluar dari
satu atau kedua telinga, disertai rasa nyeri atau tidak dan sudah berapa lama. Sekret
yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan sekret yang banyak bersifat
mukoid umumnya berasal dari telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya
kolesteatom. Bila bercampur dengan darah harus dicurigai adanya infeksi akut yang

13

berat atau tumor. Bila cairan yang keluar seperti air yang jernih, harus waspada
adanya cairan liquor cerebrospinal.
2. Interpretasi pemeriksaan fisik (rhinoskopi anterior, tenggorokan) dan pemeriksaan
penunjang.
a. Interpretasi pemeriksaan tenggorokan
Mekanisme pemeriksaan Tonsil
dengan bantuan spatel, lidah ditekan untuk melihat keadaan tonsil. Dinilai
warnanya, besar, muara kripte apakah melebar, ada detritus, nyeri tekan,
hiperemis.
Arahkan cahaya lampu kepala kedalam dinding belakang
nasofaring sevara tegak lurus
Pada normalnya akan terlihat cahaya lampu terang benderang
Lalu minta pasien untuk bilang iiiii
Setelah itu amati perubahan pada dinding belakang nasofaring.
Pada normalnya dinding belakang nasofaring akan terlihat lebih
gelap karena pergerakan dari palatum mole.
Setelah itu minta pasien berhenti bilang iiiiii
Lalu amati lagi pada palatum mole. Normalnya palatum mole akan
bergerak kebawah sehingga dinding belakang nasofaring akan
terlihat terang.
Pada skenario disebutkan bahawa palatal phenomena -/- yang artinya
adalah saat pasien diminta untuk bilang iiii palatum mole tidak bergerak
sehingga tidak tampak adanya benda gelap yang bergerak keatas dan
dinding belakang nasofaring akan terlihat tetap terang benderang. Palatal
phenomena -/- juga dapat ditemukan pada penderita hipertrofi adenoid

ataupun pada penderita tumor nasofaring.


Pembesaran tonsil :
T0 : tonsil berada dalam fosa tonsil atau telah diangkat
T1 : tonsil besarnya jarak arkus anterior dan uvulae
T2 : tonsil besarnya jarak arkus anterior dan uvulae
T3 : tonsil besarnya jarak arkus anterior dan uvulae
T4 : mencapai arkus anterior atau lebih
Hiperemis : tanda inflamasi
Kripte melebar dan detritus : sisa infeksi
Mekanisme terjadinya hasil pemeriksaan
Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada pada
fosa tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri dari
banyak jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki kanal

14

(saluran) yang ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara tersebut


tampak oleh kita berupa lubang yang disebut kripta.
Saat folikel mengalami peradangan, tonsil akan membengkak dan
membentuk eksudat yang akan mengalir dalam saluran (kanal) lalu keluar
dan mengisi kripta yang terlihat sebagai kotoran putih atau bercak kuning.
Kotoran ini disebut detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit
polimorfonuklear, bakteri yang mati dan epitel tonsil yang terlepas.
b. Interpretasi pemeriksaan penunjang
Mekanisme pemeriksaan penunjang rontgen Kepala Lateral
Pemeriksaan radiografi kepala true lateral dilakukan untuk mengetahui
ukuran hipertrofi adenoid dengan mengukur besarnya adenoid dan
nasofaring kemudian menghitung rasionya. Parameter pemeriksaan adalah;
posisi pasien Erect (kepala ekstensi dengan garis dari craniomeatal
memebentuk sudut 15 terhadap garis horizontal).Jarak tube cassette
sejauh 180cm dari sentral sinar 2,5 cm) dibawah meatus akustikus
eksternus untuk memperlihatkan daerah nasofaring. Dan pada skenario
didapatkan rasio A/N 0.8 yang mendandakan bahwa adanya pembesaran
kelenjar adenoid (N<0.71)
3. Hubungan limfadenopati dengan keluhan.
Jaringan limfonodi merupakan salah satu komponen penting mekanisme
imunitas tubuh. Bila terdapat infeksi, ukurannya akan membesar dan dapat diraba. Hal
ini disebut limfadenopati. (Tortora, 2014)
Pada skenario ini disebutkan bahwa tidak terdapat limfadenopati di kelenjar
getah bening leher, berarti menunjukan bahwa infeksi belum menyebar sampai ke
daerah leher.
4. Hubungan kecurigaan hipertrofi adenoid dengan keluhan.
Pembesaran adenoid dapat di ringkas menjadi dua yaitu secara fisiologis dan
faktor infeksi. Secara fisiologis adenoid akan mengalami hipertrofi pada masa
puncaknya yaitu 3-7 tahun. Biasanya asimptomatik, namun jika cukup membesar
akan menimbulkan gejala. Hipertrofi adenoid juga didapatkan pada anak yang
mengalami infeksi kronik atau rekuren pada saluran pernapasan atas atau
ISPA. Hipertrofi adenoid terjadi akibat adenoiditis yag berulang kali antara usia 4-14
tahun.
Pada balita jaringan limfoid dalam cincin waldeyer sangat kecil. Pada anak
berumur 4 tahun bertambah besar karena aktivitas imun, karena tonsil dan adenoid
(pharyngeal tonsil) merupakan organ limfoid pertama di dalam tubuh yang menfagosit
15

kuman-kuman patogen. Jaringan tonsil dan adenoid mempunyai peranan penting


sebagai organ yang khusus dalam respon imun humoral maupun selular, seperti pada
bagian epithelium kripte, folikel limfoid dan bagian ekstrafolikuler. Oleh karena itu,
hipertrofi dari jaringan merupakan respons terhadap kolonisasi dari flora normal itu
sendiri dan mikroorganisme pathogen.
Adenoid dapat membesar seukuran bola ping-pong, yang mengakibatkan
tersumbatnya jalan udara yang melalui hidung sehingga dibutuhkan adanya usaha
yang keras untuk bernafas sebagai akibatnya terjadi ventilasi melalui mulut yang
terbuka. Adenoid dapat menyebabkan obstruksi pada jalan udara pada nasal sehingga
mempengaruhi suara.
Pembesaran adenoid dapat menyebabkan obstruksi pada tuba eustachius yang
akhirnya menjadi tuli konduktif karena adanya cairan dalam telinga tengah akibat
tuba eustachius yang tidak bekerja efisien karena adanya sumbatan.
Selain itu pembesaran adenoid juga dapat menyebabkan terjadinya retraksi
membran timpani karena tekanan negatif dari cairan obstruksi di tuba eustachius yang
meninggi sehingga dapat mengarah kepada terjadinya otitis media. Jika pembesaran
ke arah lateral, maka dapat menyebabkan kelainan pada tuba Eustachius, sedangkan
jika pembesaran adenoid ke arah anterior/koana, maka dapat menyebabkan obstruksi
nasi.
Tanda dan gejala klinik seseorang yang mengalami hipertrofi adenoid seperti
bernapas melalui mulut, sleep apnea, dan gangguan telinga tengah.
5. Diagnosis banding, diagnosis kerja serta tata laksana.
a. Diagnosis banding
Otitis Media Akut
Otitis Media Kronis dengan Effusi
Otitis Media Supuratif Kronis
Ramsay-Hunt Syndrome
b. Diagnosis kerja : Otitis Media Akut
c. Tata laksana
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, beserta pemeriksaan
penunjang diketahui bahwa diagnosis kerja pada skenario adalah Otitis Media
Akut stadium perforasi. Hal ini dikarenakan dari pemeriksaan otoskop didapatkan
membran timpani sudah mengalami perforasi.
Penatalaksanaan untuk OMA stadium perforasi adalah dengan memberikan
obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat.
Biasanya secret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 710 hari.
16

Pemberian

preparat

analgesik-antipiretik

diberikan

untuk

terapi

medikamentosa berdasarkan keluhan yang dialami pasien. Contoh preparat


analgesik-antipiretik yang bisa diberikan adalah paracetamol.

6. Patofisiologi diagnosis kerja (perjalanan penyakit)


Stadium OMA
OMA dalam perjalanan penyakitnya dibagi menjadi lima stadium, bergantung
pada perubahan pada mukosa telinga tengah, yaitu stadium oklusi tuba Eustachius,
stadium hiperemis atau stadium pre-supurasi, stadium supurasi, stadium perforasi dan
stadium resolusi (Djaafar, 2007).
A. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
i. Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai
oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani
negatif di dalam telinga tengah, dengan adanya absorpsi udara.
Retraksi membran timpani terjadi dan posisi malleus menjadi lebih
horizontal, refleks cahaya juga berkurang. Edema yang terjadi pada
tuba Eustachius juga menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi,
membran timpani kadang-kadang tetap normal dan tidak ada kelainan,
atau hanya berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi
tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari
otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi. Tidak terjadi
demam pada stadium ini (Djaafar, 2007; Dhingra, 2007).
B. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi
i. Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran
timpani, yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis,
edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat.
Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga
terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. Proses inflamasi
berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti.
Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien
mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh dan demam. Pendengaran
mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan, tergantung dari
cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan
udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala berkisar antara
dua belas jam sampai dengan satu hari (Djaafar, 2007; Dhingra, 2007).
17

C. Stadium Supurasi
i. Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen
atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Selain itu
edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel
superfisial terhancur. Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum
timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah
liang telinga luar. Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit,
nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
Pasien selalu gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. Dapat disertai
dengan gangguan pendengaran konduktif. Pada bayi demam tinggi
dapat disertai muntah dan kejang. Stadium supurasi yang berlanjut dan
tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan iskemia membran
timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran
timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum
timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil, sehingga tekanan
kapiler membran timpani meningkat, lalu menimbulkan nekrosis.
Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau
yellow spot.
D. Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi. Bedah
kecil ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga
nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada
membran timpani akan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur, lubang
tempat perforasi lebih sulit menutup kembali. Membran timpani mungkin tidak
menutup kembali jikanya tidak utuh lagi.
E. Stadium Perforasi
i. Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga
sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga
tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret
bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh
terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh
menurun dan dapat tertidur nyenyak.
ii. Jika mebran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah
tetap berlangsung melebihi tiga minggu, maka keadaan ini disebut
otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap
18

berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua bulan,


maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (Djaafar, 2007;
Dhingra, 2007).
F. Stadium Resolusi
i. Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan
berkurangnya dan berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh
membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani
menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya
kering. Pendengaran kembali normal. Stadium ini berlangsung
walaupun tanpa pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya
tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Apabila stadium
resolusi gagal terjadi, maka akan berlanjut menjadi otitis media
supuratif kronik. Kegagalan stadium ini berupa perforasi membran
timpani menetap, dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau
hilang timbul.
ii. Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis
media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum
timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.
7. Komplikasi
Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar pertahanan telinga tengah yang
normal dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur disekitarnya.
Pertahanan pertama ini ialah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa
saluran napas, mampu melokasasi infeksi. Bila sawar ini runtuh, masih ada sawar
kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel mastoid. Bila sawar ini runtuh,
maka struktur lunak disekitarnya akan terkena. Runtuhnya periostium akan
menyebabkan terjadinya abses subperiosteal, suatu komplikasi yang relatif tidak
berbahaya. Tetapi bila infeksi mengarah kedalam, ke tulang temporal, maka akan
menyebabkan paresis n. Facialis atau labirintis. Bila kearah cranial akan
menyebabkan abses ekstradural dan abses otak. Bila sawar tulang terlampaui, suatu
dinding pertahanan ketiga yaitu jaringan granuler akan terbentuk. Bisa juga
menyebabkan mastoiditis, kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak
ditangani, keseimbangan tubuh terganggu dan kejang.
BAB III

19

KESIMPULAN

Dari hasil diskusi skenario 2 blok THT, kami menyimpulkan bahwa paisen menderita
otitis media akut stadium perforasi. Hal imi berdasarkan temuan adanya perforasi pada
membran tympani disertai adanya pulsating point dan gejala lainnya. Selain itu, adamya
riwayat batuk pilek atau infeksi saluran napas atas serta kecurigaan adanya hipertrofi adenoid
yang dapat meningkatkan faktor resiko terjadinya infeksi telinga tengah.
Penatalaksanaan untuk OMA stadium perforasi adalah dengan memberikan obat cuci
telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya secret akan hilang
dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.

SARAN
20

Pada diskusi tutorial di skenario 1 blok THT ini kelompok kami memiliki beberapa
kekurangan, pertama kami kurang aktif bertanya apabila ada informasi yang tidak jelas atau
membuat bingung dan terkadang kurang lengkap. Kedua, kurangnya pemahaman sumber
baik dalam textbook maupun jurnal sehingga dalam menerangkan ke anggota lain pun tidak
dapat jelas dan kadang membuat bingung. Selain itu, kesiapan materi dan keaktifan anggota
kelompok juga masih perlu diperbaiki agar diskusi dapat berjalan dengan lancar dan
berbobot.
Oleh karena itu, saran untuk diskusi ini dan kedepannya adalah harus lebih aktif
bertanya bila ada informasi yang belum jelas, bila informasi dianggap kurang lengkap
seharusnya bisa lebih aktif untuk melengkapi atau bahkan menggalinya lebih dalam (dengan
catatan masih dalam topik dan tidak meluas kemana-mana). Yang kedua, kami harus benarbenar memahami dan mengerti maksud dari sumber yang dibaca sehingga ketika
disampaikan ke anggota lain tidak membuat bingung dan akhirnya semua bisa paham dan
mengerti. Kami juga harus melatih diri menyampaikan materi dengan lebih terstruktur dan
dapat menghubungkan antara Learning Objective satu dengan Learning objective lain agar
berhubungan dan menemukan titik terang. Diharapkan dalam diskusi selanjutnya kami bisa
lebih sistematis dan terstruktur dalam menjalani diskusi tutorial.

DAFTAR PUSTAKA
21

Bansal M. 2013. Diseases of Ear Nose and Throat. New Delhi. Haypee Brothers

Tortora G, Derrickson B. 2014. Principles of Anatomy and Physiology 14th ed. United States.
Wiley

Adams, G.L., Boies, L.R., dan Hilger, P.A. 2013. Boies: Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta: EGC.

FKUI. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher Edisi
Ketujuh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Amar MA, Djamin R, Murtala B, Patellongi I, Pieter NAL, Punagi AQ. 2013. Hubungan
antara rasio adenoid-nasofaring berdasarkan radiografi kepala true lateral dengan
tekanan telinga tengah berdasarkan timpanogram penderita hipertrofi adenoid.
Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Elysabeth, Gunawan SG, Nafrialdy, Setiabudy R. 2012. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke 5.
Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI

Otitis Media. Waseem, M. Otitis Media. http://emedicine.medscape.com/article/994656overview. Diakses, September 2015

Tauriainen S, Oikarinen S, Taimen K, et al. Temporal relationship between human


parechovirus 1 infection and otitis media in young children. J Infect Dis. 2008 Jul 1.
198(1):35-40.

22