Anda di halaman 1dari 9

FILSAFAT ISLAM IBNU SINA DAN PEMIKIRAN TENTANG JIWA

Saturday, 13 April 201310komentar

Oleh : Syafieh, M. Fil. I


A.

Pendahuluan

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik,
sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang
semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu - satunya filosof besar Islam yang telah
berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah
mendominasi
tradisi
filsafat
muslim
beberapa
abad.
Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia
miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam
menemukan metode - metode dan alasan - alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali
pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi
dalam
sistem
keagamaan
Islam.
B.
1.

Ibnu
Biografi

Sina
dan

Pendidikannya

Ibnu Sina , nama asli beliau adalah Abu Ali Hosain ibnu bdullah ibnu Sina. Di Eropa (dunia
Barat) ia lebih dikenal dengan sebutan Avicenna. Ia lahir di sebuah desa Afsyana, di daerah
dekat Bukhara pada tahun 340 H. Bertepatan dengan tahun 980 M. Saat ia lahir kota
kelahirannya sedang dalam keadaan kacau, karena saat itu kekuasaan Abbasiyah mulai mundur
dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaannya kini mulai melepaskan diri
untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahannya dikuasai oleh golongan
Banu
Buwaih
pada
tahun
334
H,
hingga
tahun
447
H.[1]
Menurut sejarah hidup yang disusun oleh Ibnu Sina, bernama Jurjani, dari sejak kecil Ibnu Sina

telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya. Ilmu-ilmu itu adalah
Ilmu fisika, matematika, kedokteran, hukum dan lain-lain. Sewaktu Ibnu Sina masih berusia 17
tahun, ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati Pangeran Nuh
Ibnu Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Setelah orang tua Ibnu Sina meninggal saat
ia brusia 22 tahun, ia pindah ke Jurjan, suatu kota di dekat Laut Kaspia, dan di sanalah ia mulai
menulis ensiklopedinya tentang ilmu kedokteran yang kemudian terkenal dengan nama al-Qanun
fi al-Tibb (The Qanun). Kemudian ia pindah ke Ray, suatu kota di sebelah Teheran, dan bekerja
untuk Ratu Sayyedah dan anknya Majd al-Dawlah. Kemudian Sultan Syams al-Dawlah yang
berkuasa di Hamdan (di bahagian Barat dari Iran) mengangkat Ibnu Sina menjadi Menterinya.
Kemudian ia pindah ke Isfahan dan meninggal di tahun 1037 M, pada usia 58.[2]
Dalam pendidikannya, Ibnu Sina sangat haus dengan pendidikan, hidupnya selalu diwarnai
dengan belajar, diantara guru yang mendidiknya ialah Abu Abdallah Al-Natali dan Ismail sang
Zahid. Karena kecerdasan otaknya yang luar biasa ia dapat menguasai semua ilmu yang
diajarkan kepadanya dengan sempurna dari sang guru, bahkan melebihi pengetahuan sang guru.
[3] Ibnu Sina juga secara tidak langsung berguru kepada al-Farabi, bahkan dalam otobiografinya
disebutkan tentang utang budinya kepada guru kedua ini. Hal ini terjadi ketika ia kesulitan untuk
memahami Metafisika Aristoteles, sekalipun telah ia baca sebanyak 40 kali dan hampir hafal
diluar kepala. Akhirnya, ia tertolong berkat bantuan risalah kecil al-Farabi.[4] Sirajuddin Zar
menambahkan, anekdot ini juga dapat diartikan bahwa Ibnu Sina adalah seorang pewaris Filsafat
Neoplatonisme Islam yang dikembangkan al-Farabi. Dengan istilah lain, Ibnu Sina adalah
pelanjut dan pengembang filsafat Yunani yang sebelumnya telah dirintis al-Farabi dan dibukakan
pintunya
oleh
al-Kindi.[5]
Kehebatan Ibnu sina dalam belajar bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi sistem yang is
miliki menampakkan sebuah keaslian, menunjukkan jenis jiwa yang genius dalam menemukan
metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran
rasionalis murni dan tradisi Intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam
sistem keagamaan Islam. Dapatlah dikemukan bahwa; keaslian yang menyebabkan dirinya
disebut unik tidak hanya terjadi di dalam Islam, tetapi juga terjadi di Abad pertengahan, karena
itu terjadi pula perumusan kembali teologi Katolik Roma yang dilakukan oleh Albert Yang
Agung, terutama oleh Thomas Aquinas yang secara mendasar terpengaruh oleh Ibnu Sina.[6]
2.

Karya-Karya

Ibnu

Sina

Ibnu Sina tidak hanya seorang yang mempunyai andil dalam kenegaraan tetapi ia juga seorang
agamawan. Di dalam kehidupannya selama ia menuntut ilmu, ia juga menyibukkan dirinya untuk
menulis beberapa buku. Jumlah karya tulis Ibnu Sina diperkirakan antara 100 sampai 250 buah
judul.[7]
Adapun

hasil

karya

Ibnu

Sina

yang

terkenal

antara

lain:

a. As-Syifa, buku ini adalah buku filsafat yang terpenting dan terbesar, terdiri dari 4 bagian,
yaitu logika, fisika, matematika, dan metafisika (ketuhanan). Buku tersebut mempunyai beberapa
naskah yang tersebar diberbagai perpustakaan Barat dan Timur. Bagian Ketuhanan dan fisika
pernah di cetak dengan cetakan batu di Teheran. Pada tahun 1956, Lembaga Keilmuan

Cekoslowakia (LKC) di Praha menerbitkan pasal keenam dari buku ini perihal ilmu jiwa, denga
terjemahannya ke dalam bahasa Prancis, di bawah asuhan Jean Pacuch. Bagian logika diterbitkan
di Kairo pada tahun 1945, dengan nama Al Burhan, di bawah asuhan Dr. Abdurrahman Badawi.
b. An-Najat, buku ini merupakan ringkasan buku yang paling populer, yakni As-Syifa, dan
pernah diterbitkan bersama-sama dengan buku Al-Qanun dalam ilmu ketdokteran pada tahun
1593
M,
di
Roma
dan
pada
tahun
1331
M,
di
Mesir.
c. Al-Syarat Wat-Tanbihat, buku ini adalah buku terakhir dan yang paling baik, bahkan buku
ini pernah diterbitkan di Leiden pada tahun 1892 M. Sedangkan sebagiannya diterjemahkan ke
dalam bahas Prancis, kemudian diterbitkan lagi di Kairo pada tahun 1947 M di bawah asuhan Dr.
Sulaiman
Dunya.
d. Al-Hikmat Al-Masyriqiyyah, buku ini banyak dibicarakan orang karena tidak jelasnya
maksud dan judul buku, di tambah lagi naskah-naskahnya yang masih ada memuat bagian
logika. Ada yang mengatakan bahwa isi buku tersebut mengenai tasawuf. Tetapi menurut Carlos
Nallino,
berisi
filsafat
Timur
sebagai
imbangan
dari
filsafat
Barat.
e. Al-Qanun, atau Canon of Medicine, menurut penyebutan orang-orang Barat. Buku ini pernah
diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan pernah menjadi buku standard untuk Universitas
Eropa, sampai akhir Abad ke 17 H. Buku tersebut pernah diterbitkan di Roma tahun 1593 M dan
India
tahun
1323
M.[8]
Selain itu, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terpenting
adalah Hayy ibn Yaqzhan, Risalah Ath-Thair, Risalah fi Sirr Al-Qadar, Risalah fi Al-Isyq, dan
Tahshil As-Saadah. Sedangkan puisi terpentingnya adalah Al-Urjuzah fi Ath-Thibb, AlQashidah Al-Muzdawiyyah, dan Al-Qashidah Al-Ainiyyah. Bahkan masih banyak karya lain
lagi
yang
ditulis
dalam
bentuk
puisi
ke
dalam
bahasa
Persia.[9]
3.

Pemikirannya

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik,
sedang di antara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan
yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah
berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah
mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena
ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang
menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang
diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual
Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam. Di antara filsafat
Ibnu
Sina,
antara
lain
sebagai
berikut:
a.

Filsafat

Wujud

Mengenai Wujud Tuhan, Ibnu Sina memiliki pendapat yang berbeda dari Ibnu Farabi. Ibnu Sina
bahwa Akal Pertama mempunyai dua sifat; sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah,

dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya (wajibul Wujudul Lighairi dan
Mumkinul Wujudul Lidzatihi) dalam bahasa Inggris (Necessary by virtue of the Necessary Being
dan Possible in essence). Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran: Tuhan, dirinya
sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan,
timbul akal-akal, dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa-jiwa dan
dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit.[10]
Walaupun Ibnu Sina memiliki pandangan yang berbeda dari akal, namun ada pendapat Ibnu Sina
yang sama dengan al-Farabi, tentang wujud Tuhan bersifat emanasionistis. Perkataannya dari
Tuhannlah Kemaujudan Yang Mesti mengalir Inteligensi pertama, sendirian karena hanya dari
yang tunggal, yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Akan tetapi, sifat inteligensi pertama itu
tidak selamanya mutlak satu, karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin, dan
kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan. Berkat kedua sifat itu, yang sejak saat itu
melingkupi seluruh ciptaan di dunia, inteligensi pertama memunculkan dua kemaujudan, yaitu:
pertama, Inteligensi kedua melalui kebaikan ego tertinggi dari adanya aktualitas. Kedua, lingkup
pertama dan tertinggi berdasarkan segi terendah dari adanya kemungkinan alamiahnya.
Dua proses pemancaran ini berjalan terus menerus sampai kita mencapai inteligensi kesepuluh
yang mengatur dunia ini, oleh sebab demikian banyak para filsafat Muslim yang disebut
Malaikat Jibril. Nama ini diberikan karena ia memberikan bentuk atau memberitahukan
materi dunia ini, yaitu materi fisik dan akal manusia. Oleh karena itu, ia juga disebut pemberi
bentuk.[11]
Menurut Ibnu Sina, bahwa Tuhan, dan hanya Tuhan saja yang memiliki wujud Tunggal secara
mutlak. Sedangkan segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang mendua. Karena
ketunggalannya, apakah Tuhan itu, dan kenyataan bahwa ia ada, bukanlah dua unsur dalam satu
wujud, tetapi satu unsur anatomik dalam wujud yang Tunggal. Tentang apakah Tuhan itu dann
hakikat Tuhan adalah identik dengan eksistensi-Nya. Hal ini bukan merupakan kejadian bagi
wujud lainnya, karena tidak ada kejadian lain yang eksistensinya identik dengan esensinya.
Dengan kata lain, seorang suku Eskimo yang tidak pernah melihat gajah, maka ia tergolong salah
seorang yang berdasarkan kenyataan itu sendiri mengetahui bahwa gajah itu ada. Demikian
halnya, adanya Tuhan adalah satu keniscayaan, sedangkan adanya sesuatu yang lain hanya
mungkin dan diturunkan dari adanya Tuhan, dan dugaan bahwa Tuhan itu tidak ada mengandung
kontradiksi, karena dengan demikian yang lain pun juga tidak akan ada.[12]
Ibnu Sina dalam membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Dialah Allah, maka ia tidak perlu
mencari dalil dengan salah satu makhluknya, tetapi cukup dalil adanya Wujud Pertama, yakni ;
Wajibul Wujud. Sedangkan jagad raya ini, yakni mumkinul wujud memerlukan sesuatu sebab
(illat) yang mengeluarkannya menjadi wujud karena wujudnya tidak dari zatnya sendiri. Dengan
demikian, dalam menetapkan Yang Pertama (Allah, kita tidak memerlukan perenungan selain
terhadap wujud itu sendiri, tanpa memerlukan pembuktian wujud-Nya dengan salah satu
makhluk-Nya. Sebagai pembuktian dari wacana di atas, al-Quran menggambarkannya dalam
Surat
Fushshilat
ayat
53
yang
berbunyi:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.
Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?.
b.

Filsafat

Jiwa

Menurut pendapat Ibnu Sina, jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai
wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan yang sesuai dan
dapat menerima jiwa lahir di dunia ini. Sungguhpun jiwa manusia tidak mempunyai fungsifungsi fisik, dengan demikian tidak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai
daya
yang
berpikir,
yakni
jiwa
yang
masih
berhajat
pada
badan.
Pendapatnya juga searah dengan Aristoteles, Ibnu Sina menekankan eratnya hubungan antara
jiwa dan raga, tetapi semua kecenderungan pemikiran Aristoteles menolak suatu pandangan dua
subtansi, dua subtansi ini di yakininya sebagai bentuk dari dualisme radikal. Sejauhmana dua
aspek doktrinnya itu bersesuaian merupakan suatu pertanyaan yang berbeda, tentunya Ibnu Sina
tidak menggunakan dualismenya untuk mengembangkan suatu tinjauan yang sejajar dan
kebetulan tentang hubungan jiwa raga. Menurut Ibnu Sina, hal ini adalah cara pembuktian yang
lebih langsung tentang subtansialitas nonbadan, jiwa, yang berlaku bukan sebagai argumen,
tetapi sebagai pembuka mata.[13] Jiwa manusia , sebagai jiwa-jiwa lain segala apa yang terdapat
di bawah bulan, memancar dari Akal kesepuluh.[14] Kemudian Ibnu Sina membagi jiwa dalam
tiga
bahagian
:
i.

Jiwa tumbuh-tumbuhan (an-Nafsul

Nabatiyah), yakni meliputi beberapa daya;

1.

Makan

(nutrition),

2.

Tumbuh

(Growth),

3.
ii.

Berkembang
Jiwa

binatang

biak

(an-Nafsul

Hayawaniah),

(reproduction)

yakni

meliputi

bebrapa

daya;

1.

Gerak

(locomotion),

2.

Menangkap

(perception).

Dua
a.

daya
Menangkap

ini
dari

dibagi
luar

lagi
(al-Mudrikah

menjadi
minal

dua
kharij)

bahagian
dengan

pancaindera.

b.
Menangkap dari dalam (al-Mudrikah minad dakhil) dengan indera-indera yang meliputi : 1)
Indera bersama yang menerima segala apa yang dirangkap oleh pancaindera, 2) Representasi
yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama, 3) Imaginasi yang menyusun
apa yang disimpan dalam representasi, 4) Estimasi yang dapat manangkap hal-hal abstrak yang
terlepas dari materinya, umpama keharusan lari bagi kambing dari anjing srigala, 5) Rekoleksi

yang

menyimpan

iii.

Jiwa

hal-hal

manusia

abstrak

(an-Nafsul

yang
Natiqah)

diterima
meliputi

Praktis
(practical)
yang
hubungannya
Teoritis (theoritical) yang hubungannya adalah

adalah
dengan

oleh
dua

estimasi.
daya

dengan
badan.
hal-hal abstrak.[15]

Dengan demikian, sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiea tumbuhtumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan
dan binatang yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang. Tetapi jika
jiwa manusia (an-Nafsul Natiqah) yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat
menyerupai
Malaikat
dan
dekat
pada
kesempurnaan.
Ibnu Sina, meski ia seorang dokter, namun ia sadar bahwa penjelasan mengenai jiwa bukan tugas
seorang dokter dan tidak masuk dalam disiplin ilmu tersebut. Oleh karenanya dalam al-quran di
jelaskan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan jiwa beserta berbagai potensinnya, yang
mana para dokter dan filosof berbeda pendapat dalam hal ini. Oleh sebab itu, Ibnu Sina
mengatakan bahwa maalah jiwa adalah urusan filosof. Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan
ini tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir Arab sejak abad 10 M. Sampai akhir abad 19
M, maupun pada filsafat scholastik Yahudi dan Masehi terutama tokoh-tokohnya, seperti:
Gundisalus, Guillaume, Albert Yong Agung, St. Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Duns Scotf,
serta berhubungan dengan pemikiran Descartes tentang hakikat dan adanya jiwa.
c.

Filsafat

Tentang

Ke-Nabian

Mengenai pemikiran Ibnu Sina tentang kenabian, ia berpendapat bahwa Nabi adalah manusia
yang paling unggul, lebih unggul dari filosof karena Nabi memiliki akal aktual yang sempurna
tanpa latihan atau studi keras, sedangkan filosof mendapatkannya dengan usaha dan susah payah.
Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal intelektual, akal aktuil, dan akal
mustafad.
Banyak para filosof yang membuat tingkatan akal menjadi empat bahagian, di antaranya, AlFarabi, Nashiruddin Ath-Tusi, dan lainnya. kalau diklasifikasikan akal-akal tersebut seperti di
bawah
ini:
mempunyai

i.
Akal Materil (alaklul hayulaani) materil intellect yang semata-mata
potensi
untuk
berpikir
dan
belum
dilatih
walaupun
sedikit.
ii.

berpikir
iii.

Intellectus in habitu (alaklu bilmalakah) yang telah mulai dilatih untuk


tentang
hal-hal
abstrak.
Akal Aktuil (alaklu bilfiil) yang telah dapat berpikir tentang hal-hal abstrak.

iv. Akal Mustafad (alaklu mustafaadu) acquired intellect) yaitu akal yang telah
sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dengan tidak perlu pada daya dan upaya. Akal yang
telah terlatih begitu rupa, sehingga hal-hal yang abstrak selamanya terdapat dalam akal yang

serupa ini. Akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari Akal
Aktif
(alaklu
faaala).[16]
Setelah melihat penjelasan di atas mempunyai empat tingkat dan yang terendah di antaranya
ialah ada akal materil atau (alaklul hayulan). Biasanya akal materil tidak bisa sepenuhnya
menangkap hal-hal yang abstrak, namun ketika manusia mempergunakan akal materil ini, Allah
menganugerahkan kepada manusia agar akal materil dapat bekerja lebih besar lagi. Dalam hal ini
Ibnu Sina memberi nama al-hadas yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materil serupa ini
begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan Akal
Aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akhirnya aka ini
menjadi tinggi, dan diperoleh bagi manusia-manusia terkhusus pada pilihan Allah mereka yang
mendapatkannya
adalah
para
Nab-Nabi
Allah.
Jadi wahyu dalam pengertian di atas yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang
baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama
yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai
kualitas potensi yang diperlukan, juga tak diragukan lagi karena dalam kenyataannya wahyu
tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbolsimbol. Namun sejauh mana wahyu itu mendorong? Kecuali kalau Nabi dapat menyatakan
wawasan moralnya ke dalam tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip moral yang memadai, dan
sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu
imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, Nabi berhak mendapat mendapatkan
derajat
seorang
filosof.
Salah satu ungkapan Ibnu Sina tentang perihala Nabi yakni; Ada wujud yang berdiri sendiri dan
ada pula yang tidak berdiri sendiri. Yang pertama lebih unggul daripada yang kedua. Ada bentuk
dan substansi yang tidak berada dalam meteri dan ada pula yang berada dalam materi. Yang
pertama lebih unggul daripada yang kedua, selanjutnya ada hewan yang rasional (manusia) dan
ada pula hewan yang tidak rasional (binatang). Yang pertama lebih unggul daripada yang kedua
selanjutnya ada manusia yang memiliki akal aktual dengan sempurna secara langsung (tanpa
latihan, tanpa belajar keras) dan ada pula yang memiliki akal aktual dengan sempurna secara
tidak langsung (yakni melalui latihan dan studi), maka yang pertama yakni para Nabi yang lebih
unggul daripada yang kedua, yakni para filsuf. Para Nabi berada di puncak keunggulan atau
keutamaan dalam lingkungan makhluk-makhluk materi. Karena yang lebih unggul harus
memimpin
segenap
manusia
yang
diunggulinya.[17]
Menurut Ibnu Sina, seorang Nabi sangat identik dengan akal aktif, dan sepanjang identitas ini
masih berlaku, akal aktif itu disebut Aql Mustafad (akal yang telah dicapai). Namun, Nabi
manusia tidak identik dengan akal aktif. Dengan demikian, pemberi wahyu dalam satu internal
dengan Nabi, dalam hal lain, yaitu sepanjang pengertian pemberi wahyu , yaitu manusia yang
eksternal dengannya. Oleh sebab itu, Nabi dalam hal sebagai manusia secara aksidental bukan
secara esensial, adalah akal aktif (untuk pengertian istilah aksidental).[18]
C.

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Sina sependapat dengan al-Farabi

mengenai filsafat jiwanya. Ibnu Sina dapat berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua
sifat, yaitu: Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah dan Sifat mungkin wujudnya, jika
ditinjau
dari
hakikat
dirinya.
Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa yaitu tumbuh-tumbuhan,
binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuhan atau hewan
mempengaruhi seseorang maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi jika jiwa manuisa
yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat
dengan
kesempurnaan.
Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan).
Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan proses emanasi tersebut memancar segala yang
ada.
Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul
wujud
(jika
tidak
ada
atau
ada
menimbulkan
tidak
mujstahil).
Pemikiran tentang kenabian menjelaskan bahwa nabi merupakan manusia yang paling unggul
dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa latihan, sedangkan filosof
mendapatkannya
dengan
usaha
yang
keras.
DAFTAR
A.

PUSTAKA

Mustofa,

Daudy,

Ahmad,

Filsafat
Kuliah

Islam,
Filsafat

Bandung:
Islam,

Jakarta:

Pustaka
Bulan

Setia,

1999

Bintang,

1986

Dahlan, Abdul Azis, Filsafat dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Cet. Ke. 2 Jilid. 4,
Jakarta:
Ikhtiar
Baru
Van
Hoeve,
2003
Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam terj. R. Mulyadhi Kartanegara, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986
Mustofa,

A.

Filsafat

Islam,

Bandung:

Pustaka

Setia,

2004

Nasution, Harun, Filsafat dan Mitisisme dalam Islam, Cet. Ke IX, Jakarta: Bulan Bintang, 1973
---------------------, Akal dan Wahyu

dalam Islam, Jakarta: Universitas Indonesi, 1983

Nasution, Hasyimsah, Filsafat Islam, Cet. Ke-3, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002
Syarif, M.M. History of Muslim Philosophy, vol. I, Wisbaden: Otto Horossowitz, 1963
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
[1] Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hal. 188

[2] Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme dalam Islam, Cet. Ke IX,( Jakarta: Bulan Bintang,
1973),
hal.
34
[3] Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam terj. R. Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta: Pustaka Jaya,
1986),
hlm.
191
[4]

Ibid.,

hal.

190

[5] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004),
hal.
93
[6] M.M. Syarif, History of Muslim Philosophy, vol. I, (Wisbaden: Otto Horossowitz, 1963), hal.
102
[7] Shams Innati, Ibnu Sina dalam, Sayyed Hosen Naser dan Oliver Leaman (edt), Ensiklopedia
,
hlm.
286.
[8]

A.

Mustofa,

Filsafat

Islam,

[9] Shams Innati, Ibnu Sina dalam,


Ensiklopedia
,
[10]

Harun

[11]

Dedi

[12]

M.

[13]

Dedi

Nasution,

Filsafat

Supriyadi,
M.

(Bandung:

Setia,

1999),

hal.

190

Sayyed Hosen Naser dan Oliver Leaman (edt),


hlm.
287

dan

Mitisisme

Pengantar
Syarif,

Supriyadi,

Pustaka

dalam

Filsafat
Para

Pengantar

Islam

Islam

filosof
Filsafat

...

,
Islam

,
,
hlm.

hlm.

35

hlm.129
104
hlm.138

[14] Akal Kesepuluh dimaksud adalah akal Mustafad (alaklu mustafad), yaitu akal yang telah
sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya; akal yang telah
terlatih begitu rupa, sehingga hal-hal yang abstrak selamanya terdapat dalam akal yang serupa
ini; akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif (aklul
faal). Lihat, Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam , hlm. 37.
[15]
[16]

Ibid

hlm.

Ibid,.

36
hlm.37

[17] Abdul Azis Dahlan, Filsafat dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Cet. Ke. 2 Jilid. 4,
(Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2003), hlm. 202
Read more: http://syafieh.blogspot.com/2013/04/filsafat-islam-ibnu-sina-danpemikiran.html#ixzz3pNrdmwQ2