Anda di halaman 1dari 12

Pengantar Ekonomi

Internasional
Oleh : Ni Ketut Supadmi

Teori Perdagangan Internasional

1. Teori Klasik
a)

Kemanfaat Absolut (Absolute Advantage:


Adam Smith)
Teori Absolute mendasarkan pada besaran/variabel riil bukan
moneter sehingga sering dikenal dengan nama teori murni
(pure theory) perdagangan internasional. Murni dalam arti
bahwa teori ini memusatkan perhatiannya pada variabel riil
seperti misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya
tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang.
Makin banyak tenaga kerja yang digunakan akan makin
tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value ).
Kelebihan dari teori Absolute advantage yaitu terjadinya
perdagangan bebas antara dua negara yang saling memiliki
keunggulan absolut yang berbeda, dimana terjadi interaksi
ekspor dan impor hal ini meningkatkan kemakmuran negara.
Kelemahannya yaitu apabila hanya satu negara yang memiliki
keunggulan absolut maka perdagangan internasional tidak
akan terjadi karena tidak ada keuntungan.

b)

c)

Kemanfaatan Relatif (Comparative Advantage: JS Mill)


Teori ini menyatakan bahwa suatu Negara akan menghasilkan
dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki
comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang
dimiliki comparative disadvantage yaitu suatu barang yang
dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang
yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar.
Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat
menerangkan berapa nilai tukar dan berapa keuntungan
karena pertukaran dimana kedua hal ini tidak dapat
diterangkan oleh teori absolute advantage.
Biaya Relatif (Comparative Cost: David Ricardo)
Titik pangkal teori Ricardo tentang perdagangan internasional
adalah teorinya tentang nilai/value. Menurut dia nilai/value
sesuatu barang tergantung daribanyaknya tenaga kerja yang
dicurahka untuk memproduksi barang tersebut (labor cost
value theory). Perdagangan antar Negara akan timbul apabila
masing-masing Negara memiliki comparative cost yang kecil.

Teori-teori klasik disusun berdasarkan beberapa


anggapan,antara lain:
Hanya ada 2 negara, 2 barang, keadaan full employment,
persaingan sempurna, mobilitas dalam Negara yang tinggi
dari factor-faktor produksi (tengakerja dan capital) tetapi
immobile secara internasional.
Beberapa kritik pada teori klasik :
Bahwa tenaga kerja nyatanya tidak homogen
Mobilitas tenaga kerja di dalam negeri mungkin tidak
sebebas seperti dalam anggapan klasik. Hal ini disebabkan
oleh ikatan keluarga, ketidaktentuan tentang pekerjaan
yang baru di tempat dan sebagainya.
Dengan adanya non competing group dari tenaga kerja
menyebabkan tidak mungkin nilai suatu barang dinyatakan
dengan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan.

d)

Kelemahan Teori Klasik


Teori klasik menjelaskan bahwa keuntungan dari
perdagangan internasional itu timbul karena adanya
comparative advantage yang berbeda antara dua Negara.
Teori nilai tenaga kerja menjelaskan mengapa terdapat
perbedaan dalam comparative advantage itu karena
adanya perbedaan di dalam fungsi produksi antara dua
Negara atau lebih. Jika fungsi produksinya sama, maka
kebutuhan tenaga kerja juga akan sama nilai produksinya
sama
sehingga
tidak
akan
terjadi
perdagangan
internasional.
Oleh
karena
itu
syarat
timbulnya
perdagangan antarnegara adalah perbedaan fungsi
produksi di antara dua Negara tersebut. Namun teori
klasik tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat
perbedaan fungsi produksi antara dua Negara.

2.Teori Modern
a)

b)

Faktor Proporsi (Hecksher & Ohlin)


Teori yang lebih modern seperti yang dikemukakan oleh
Hecksher dan Ohlin menyatakan bahwa perbedaan dalam
opportunity cost suatu Negara dengan Negara lain kerena
adanya perbedaan dalam jumlah factor produksi yang
dimilikinya.
Kesamaan Harga Faktor Produksi (Factor Price
Equalization)
Inti dari teori ini adalah bahwa perdagangan bebas cenderung
mengabaikan harga faktor-faktor produksi sama di beberapa
Negara. Dari teori factor proporsi Hecksher dan Ohlin, selama
Negara A memperbanyak produksi barang X akan
mengakibatkan bertambahnya permintaan tenaga kerja,
sebaliknya makin berkurangnya produksi barang Y berarti
makin sedikitnya permintaan akan capital. Hal ini akan
cenderung menurunkan upah (harga daripada tenga kerja) dan
menaikkan harga daripada capital (rate of return).

c)

d)

e)

Teori Permintaan dan Penawaran


Pada prinsipnya perdagangan antara dua egara itu timbul karena
adanya perbedaan didalam permintaan maupun penawaran.
Permintaan ini berbeda misalnya, karena perbedaan pendapatan dan
selera sedangkan penawaran misalnya, dikarenakan perbedaan di
dalam jumlah dan kualitas factor-faktor produksi, tingkat teknologi dan
eksternalitas.
Kurva Kemungkinan Produksi dan Indifference
Production possibility curve ( PPC )adalah kurva yang menunjukkan
berbagai kemungkinan kombinasi output yang dihasilkan suatu Negara
dengan sejumlah faktor produksi tertentu secara full employment.
Dalam hal ini bentuk PPC akan tergantung pada asusmsi tentang
Opportunity Cost yang digunakan yaitu PPC Constant cost dan PPC
increasing cost
Offer Curve
Teori Offer Curve ini diperkenalkan oleh dua ekonom inggris yaitu
Marshall dan Edgeworth yang menggambarkan sebagai kurva yang
menunjukkan kesediaan suatu Negara untuk menawarkan/menukarkan
suatu barang dengan barang lainnya pada berbagai kemungkinan
harga.Kelebihan dari offer curve yaitu masing-masing Negara akan
memperoleh manfaat dari perdagangan internasional yaitu mencapai
tingkat kepuasan yang lebih tinggi.


3. Studi Empirik Teori Perdagangan Internasional

Beberapa studi untuk melakukan test terhadap teori


perdagangan khususnya teori Ricardo dan Hecksher &
Ohlin hasilnya sangat berfariasi. Ada yang mendukung
tetapi
ada
pula
yang
tidak
sejalan
dengan
teori/hipotesisnya.
Hipotesa kedua teori tersebut menyangkut tentang
komposisi/strutuktur barang yang diperdagangan serta
pemilikan sumber daya (Factor Endowment). Menurut
David Ricardo komposisi barang ekspor atau impor dari
suatu negara ditentukan oleh produktifitas tenaga kerja
pada masing-masing industri. Suatu Negara akan
mengekspor barang dimana produktivitas tenaga kerja
pada produksi barang tersebut paling tinggi dan
mengimpor barang yang produktivitas tenaga kerjanya
paling rendah.

4.Alternative Teori

a)

b)

Beberapa alternative teori yang mencoba menjelaskan


komposisi/struktur barang yagn diperdagangkan muncul,
diantaranya:
Keterampilan (Human Skills). Suatu ciri yang membedakan
negara maju dengan negara berkembang adalah dalam hal
keterampilan
keahlian
tenaga
kerja.
Secara
umum
keterampilan/keahlian tenaga kerja di negara maju jauh lebih
tinggi baik dalam jumlah, jenis maupun kualitasnya. Oleh karena
itu negara maju cenderung mengekspor barang yang dapat
tenaga ahli atau terampil. Sebaliknya, negara berkembang akan
mengekspor barang yang padat tenaga tidak ahli/terampil.
Skala ekonomis (economies of scale). Menurut teori ini
suatu Negara yang pasar dalam negerinya luas cenderung
mengekspor barang yang dapat dihasilkan biaya rata-rata
menurun dengan mekin besarnya skala perusahaan (economies
of scale). Sebaliknya suatu Negara kecil di mana pasar dalam
negerinya sempit cenderung mengekspor barang yang tidak
memenuhi syarat skala perusahaan yang ekonomis.

c)

d)

Kemjuan teknologi. Suatu Negara yang industrinya


telah maju biasanya dapat menciptakan barang baru,
sehingga dapat menikmati pasar luar negeri untuk produk
barunya. Namun lama-kelamaan Negara lain meniru
(memproduksi
barang
tiruan)
dan
kemudian
mengekspornya. Biasanya negaranya meniru untuk
mendasarkan pada adanya tenaga kerja yang murah.
Product Cycle. Teori ini menekankan pada standardisasi
produk. Untuk produk baru biasanya masih belum
distandarisir. Dengan makin luasnya pasar serta makin
berkembangnya teknologi proses prosuksi maka produk
maupun proses prosuksi semakin semakin distandardisir,
bahkan
mungkin
nantinya
secara
internasioanal
ditentukan standarnya.

THANK
YOU