Anda di halaman 1dari 10

BAB 1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal di kalangan
masyarakat Indonesia. Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam
tanaman perkebunan. Tanaman ini tersebar di seluruh Nusantara dan mempunyai
kegunaan yang sangat banyak terutama untuk bahan baku pembuatan rokok.
Selain itu tembakau juga dimanfaatkan orang sebagai kunyahan, terutama di
kalangan ibuibu di pedesaan. Selain memberikan efek yang negatif pada
manusia, daun tembakau juga mempunyai manfaat. Manfaat tembakau
diantaranya sebagai antioksidan karena mengandung polifenol, yaitu chlorogenic
acid dan rutin yang dapat menangkal radikal bebas, sebagai insektisida penggerek
batang padi, dan sebagai pewarna pada proses pencelupan kain sutera yang
menggunakan mordan jeruk nipis.
Tembakau juga di ekspor keberapa Negara dan Indonesia salah satu
pengekspor tembakau dengan kulatitas terbaik. Untuk mempertahankan kualitas
tersebut dan produktifitasnya perlu dilakukan inovasi-inovasi. OPT merupakan
salah satu ancaman bagi hasil produksi budidaya tembakau. Pengananan yang
salah akan menyebabkan resistensi, resurgensi dan lain-lain. Inovasi pengendalian
OPT yang dapat menekan populasi OPT secara mekanis yaitu dengan
menggunakan Yellow Trap. Inovasi-inovasi ini merupakan serangkaian dari
Pengendalian Hama Terpadu. Berdasarkan beberapa penelitian yang sudah
dilakukan, Penggunaan yellow trap dapat menjebak hama dikarenakan warna
kuning yang menyebabkan ketertarikan pada hama tersebut sehingga mendekat
lalu terjebak.Hal tersebut dikarenakan hama hanya memiliki 2 tipe pigmen
penglihatan yaitu pigmen yang dapat menyerap warna kining dan hijau serta
pigmen yang dapat menyerap warna biru dan isnar ultraviolet. Sehingga sangat
penting bagi kita untuk mengetahui inovasi-inovasi yang menyangkut OPT pada
tembakau agar kedepannya produksi tembakau dapat terus meningkat dan
kualitasnya tetap terjaga.
Tanaman tembakau merupakan salah satu tanaman tropis asli Amerika, di mana
bangsa pribumi menggunakannya dalam upacara adat dan untuk pengobatan.

Tembakau digunakan pertama kali di Amerika Utara, tembakau masuk ke Eropa


melalui Spanyol (Basyir 2006). Pada awalnya hanya digunakan untuk keperluan
dekorasi dan kedokteraan serta medis saja. Setelah masuknya tembakau ke Eropa
tembakau menjadi semakin populer sebagai barang dagangan, sehingga tanaman
tembakau menyebar dengan sangat cepat di seluruh Eropa, Afrika, Asia, dan
Australia (Matnawi, 1997). Mulai abad ke-15, konsumsi tembakau terus tumbuh.
Pada abad ke-18, tembakau telah diperdagangkan secara internasional dan
menjadi bagian dari kebudayaan sebagian besar bangsa di dunia. Lalu pada abad
ke-19 orang orang Spanyol memperkenalkan cerutu ke Asia lewat Fhilipina dan
kemudian ke Rusia dan Turki sehinga rokok mulai menggantikan penggunaan
tembakau pada pipa, tembakau kunyah dan hirup. Dengan cara itulah, tembakau
menyebar ke negara negara lainnya (Basyir, 2006).
Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa
Spanyol "tabaco" dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya,
dalam bahasa Taino di Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun
pada tumbuhan ini (Bartolome De La Casas, 1552) atau bisa juga dari kata
"tabago", sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau, tetapi
tembakau umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak
1410, yang berasal dari Bahasa Arab "tabbaq", yang dikabarkan ada sejak abad
ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris)
bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis
yang berasal dari Amerika (Wikipedia, 2008).
Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal di kalangan
masyarakat Indonesia. Tembakau adalah tanaman musiman yang tergolong dalam
tanaman perkebunan. Tanaman ini tersebar di seluruh Nusantara dan mempunyai
kegunaan yang sangat banyak terutama untuk bahan baku pembuatan rokok.
Selain itu tembakau juga dimanfaatkan orang sebagai kunyahan (Jawa: susur),
terutama di kalangan ibuibu di pedesaan (Damian, 2013). Selain memberikan
efek yang negatif pada manusia, daun tembakau juga mempunyai manfaat.
Manfaat tembakau diantaranya sebagai antioksidan karena mengandung polifenol,
yaitu chlorogenic acid dan rutin yang dapat menangkal radikal bebas (James.
2013), sebagai insektisida penggerek batang padi (Susilowati, 2005), dan sebagai

pewarna pada proses pencelupan kain sutera yang menggunakan mordan jeruk
nipis (Yuswani, 2013)
Tembakau merupakan komoditi perkebunan dengan nilai ekonomi tinggi
yang banyak dikembangkan petani. Sebagai bahan baku utama rokok, tembakau
Indonesia juga diekspor. Daun tembakau yang diekspor memilki kriteria tertentu
untuk dapat diterima di manca negara. Salah satunya adalah tidak adanya
kerusakan akibat hama dan penyakit yang mampu menurunkan kualitas daun tembakau
yang akhirnya bisa menurunkan citarasa produksi rokok (Yuswani, 2014).
Salah satu hama yang merusak daun tembakau adalah Thrips sp. yang menyerang
daun tua. Menurut Anastasia et al. (2012) gejala yang ditimbulkan Thrips sp. adalah
bercakbercak putih perak pada permukaan daun. Hal ini terjadi karena adanya udara yang
masuk ke dalam jaringan sel-sel yang telah dihisap cairannya oleh hama tersebut. Lama
kelamaan bercak ini kan berubah menjadi warna coklat dan akhirnya daun akan mati.
Pengendalian Hama masih mengutamakan penggunaan pestisida kimiawi
khususnya kalangan masyarakat petani di banyak negara (Weintraub and Horowitz,
1996). Hal ini disebabkan karena pestisida sangat efektif dan praktis bagi petani dalam
mengendalikan hama dibanding cara-cara lainnya. Namun dampak negatif yang
ditimbulkan semakin dirasakan oleh masyarakat terutaman aspek kesehatan (Tri, 2010).
Menurut teknik pengendalian hama secara terpadu salah satu cara pengendalian
organisme pengganggu tanaman adalah secara mekanik dengan menggunakan alat
perangkap. Perangkap sintetis berperekat dapat digunakan untuk menangkap serangga
hama yang bersayap agar populasinya tetap terkendali. Perangkap sintetis berperekat
telah lama digunakan oleh petani untuk memantau dan mengurangi imago capside dan
hama lain yang aktif di rumah kaca (Chu et al, 2003). Penggunaan perangkap merupakan
pengendalian dengan alternative yang biasa dilakukan secara fisik dan mekanik, dengan
penggunaan perangkap diharapkan bisa mengurangi populasi hama serangga yang
merusak (Darma, 2013).
Penggunaan perangkap warna berperakat merupakan suatu metode sederhana
untuk mengetahui ukuran relatif serangga dan untuk mendeteksi awal munculnya
serangga. Metode ini lebih efisien dibandingkan dengan metode satuan unit contoh,
karena perangkap langsung mengumpulkan serangga yang berada yang berada disekitar
tanaman. Efisiensi perangkap dapat ditingkatkan dengan penggunaan umpan berupa
makanan maupun zat atraktan. Perangkap seperti ini dapat digunakan memonitor populasi
hama bahkan dalam tingkat kepadatan rendah (Danise,2009).

Praktikum kali ini akan bahas mengenai efektifitas yellow trap sebagai
upaya pengendalian OPT pada tanaman tembakau.
1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu untuk membuat dan mengaplikasikan perangkap hama

berupa perangkap warna.


Untuk mengetahui perkembangan populasi hama.
Melatih mahasiswa mampu merakit perangkap hama, pengaplikasian serta
dapat menganalisis atau mengamati jenis hama yang terperangkap ke
dalam perangkap warna kuning.

BAB 2. METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Teknologi Inovasi Produksi Pertanian acara Pemanfaatan
Perangkap Kuning Untuk Memantau Perkembangan Populasi Hama dilaksanakan
pada hari senin, 21 September 2015 di lahan tembakau antirogi pada pukul 05.15
sampai selesai.
2.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Ajir
2. Tali
3. Gelas plastik
4. Kertas atau plastik kuning
4.2.2 Bahan
1. Lem,
2. Perangkap kuning,
3. Pertanaman cabai atau tembakau
3.3 Cara Kerja
1.

Mahasiswa membentuk kelompok yang terdiri dari 5-10

mahasiswa
2.

Setiap kelompok kemudian mengambil perangkap kuning


dari pabrikan

3.

Setiap kelompok membuat ajir setinggi kurang lebih

4.

setengah meter, kemudian dipasang di lahan tanaman tembakau


Ajir kemudian dipasangi dengan perangkap kuning
dengan cara menggantungkannya Perangkap kemudian dibiarkan selama lima
hari, kemudian diamati jenis serangga yang tertangkap dan jumlahnya

BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil
Data Golongan Pengamatan Populasi Hama Yang Terperangkap
Klp.

Jenis Hama Terperangkap

Jmlh

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kutu

Kutu

Daun

Hijau

5
6
2
1
3
2
16
2
3
25
5
15
12

1
-

Aphid

Semut

Tawon

2
-

4
1
-

1
-

Telur
Ngengat

18
-

Lalat
Penggorok

Kumbang

Lalat

1
-

1
-

Daun

1
-

3.2 Pembahasan
Perangkap Kuning (Yellow Trap), yaitu perangkap yang berwarna kuning
sehingga dapat menarik serangga dan menjeratnya karena telah diolesi dengan
lem. Hama yang dapat diperangkap dengan hama ini antara lain Kutu loncat, trips,
kutu daun, dan semua golongan serangga yang tertarik dengan gelombang yang
dipancarkan benda yang berwarna kuning. Penggunaan perangkap ini memang
sangat membantu selain mudah dibuat dan biaya pembuatannya sangat
mudah.kebanyakan petani lebih sering menggunakan cara ini. Seebagai
pengalama saya pernah menggunakan bahan-bahan bekas seperti botol pestisida
yang berwarna kuning diolesi dengan oli kadaluwarsa (biasanya disebut minyak
gemuk).dengan cara ini kutu ataupun serangga yang menyerang tanaman melekat
pada botol yang digantung di batang pohon jeruk.dengan cara ini terbukti bahwa
tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membuat suatu perangkap hama. Perangkap

5
6
1
2
2
1
1
1
1
3
2
16
2
8
25
24
15
12

ini selain mudah dibuat,harga ekonomis juga ramah lingkungan .karena tanpa
menggunakan bahan kimia yang bisa menggangu lingkungan budidaya.
Penggunaan perangkap warna berperakat merupakan suatu metode
sederhana untuk mengetahui ukuran relatif serangga dan untuk mendeteksi awal
munculnya serangga. Metode ini lebih efisien dibandingkan dengan metode
satuan unit contoh, karena perangkap langsung mengumpulkan serangga yang
berada yang berada di sekitar tanaman. Efisiensi perangkap dapat ditingkatkan
dengan penggunaan umpan berupa makanan maupun zat atraktan. Perangkap
seperti ini dapat digunakan memonitor populasi hama bahkan dalam tingkat
kepadatan rendah (Heinz et al. 1982).
Pada praktikum kali ini, hama yang terperangkap pada Yellow Trap
elompok kami adalah Lalat Penggorok daun Liriomyza spp. Lalat Penggorok daun
Liriomyza spp Pertama kali ditemukan di Indonesia pada pertengahan tahun 1994
di Cisarua Bogor. Saat ini telah menyebar ke berbagai areal pertanaman bawang
seperti di Lombok, Brebes, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi dan Sumatera
(Deptan, 2003). Pengendalian Hama tersebut masih mengutamakan penggunaan
pestisida kimiawi khususnya kalangan masyarakat petani di banyak negara
(Weintraub and Horowitz, 1996). Hal ini disebabkan karena pestisida sangat
efektif dan praktis bagi petani dalam mengendalikan hama dibanding cara-cara
lainnya. Namun dampak negatif yang ditimbulkan semakin dirasakan oleh
masyarakat terutaman aspek kesehatan (Untung, 1993). Pengendalian hama
dengan cara lain dapat dilakukan dengan melihat dan memperhatikan daya
tangkap perangkap kuning terhadap Liriomyza spp dan ketinggian perangkap.
`

Faktor yang mempenagruhi keberhasilan yaitu Ketinggian peletakan

yellow trap, warna kuning pada yellow trap, sebaran atau jumlah yellow trap yang
dipasang. warna kuning yang menyebabkan ketertarikan pada hama tersebut
sehingga mendekat lalu terjebak.Hal tersebut dikarenakan hama hanya memiliki 2
tipe pigmen penglihatan yaitu pigmen yang dapat menyerap warna kining dan
hijau serta pigmen yang dapat menyerap warna biru dan isnar ultraviolet.
Berdasarkan hasil pengamatan hingga minggu ke 2, pada kelompok saya
yaitu 10 hanya terdapat 1 hama yang terperangkap Yellow Trap. Pada satu
golongan hama yang terjebak dalam yellow trap adalah kutu daun, kutu hijau,

aphid, semut, tawon, telur ngengat, lalat penggorok daun, kumbang dan lalat.
Sedangkan secara keseluruhan dari berbagai kelompok, yang palik banyak
terperangkap adalah kutu daun. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil pengamatan
dimana yellow trap pada kelompok 17 dapat menjerat sebanyak 25 kutu daun. Hal
tersebut dapat terjadi dikarenakan ketinggian serta lokasi yang sesuai untuk
menjerat hama kutu daun.

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan

Perangkap Kuning (Yellow Trap), yaitu perangkap yang berwarna kuning


sehingga dapat menarik serangga dan menjeratnya karena telah diolesi
dengan lem. Hama yang dapat diperangkap dengan hama ini antara lain
Kutu loncat, trips, kutu daun, dan semua golongan serangga yang tertarik
dengan gelombang yang dipancarkan benda yang berwarna kuning.

Efisiensi perangkap dapat ditingkatkan dengan penggunaan umpan berupa


makanan maupun zat atraktan. Perangkap seperti ini dapat digunakan
memonitor populasi hama bahkan dalam tingkat kepadatan rendah

Faktor yang mempenagruhi keberhasilan yaitu Ketinggian peletakan


yellow trap, warna kuning pada yellow trap, sebaran atau jumlah yellow
trap yang dipasang.

secara keseluruhan dari berbagai kelompok, yang palik banyak


terperangkap adalah kutu daun. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil
pengamatan dimana yellow trap pada kelompok 17 dapat menjerat
sebanyak 25 kutu daun. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan ketinggian
serta lokasi yang sesuai untuk menjerat hama kutu daun.

4.2 Saran
Praktikum sudah berjalan dengan baik namun penyuelenggaraan praktikum untuk
semua kelas seharusnya di buat kesepakatan yang adil, antara waktu yang diluar
jam kuliah dan di saat jam kuliah.

DAFTAR PUSTAKA
Bakti, Darma. 2013. Penggunaan Perangkap Kuning Berdasarkan Bentuk Dan
Beberapa Ketinggian Perangkap Terhadap Hama Liriomyza Spp. (Diptera:
Agromyzidae) Pada Tanamanbawang Merah (Allium Ascalonicum L.). Jurnal
Online Agroekoteknologi Vol.1, No.4
Danise. 2009. Journal Of Economics And Sustainable Development. Skripsi
Fakultas Pertanian Universitasn Sumatra Utara.
Masvongo, James. 2013. Viability Of Tobacco Production Under Smallholder
Farming Sector In M Ount Darwin District, Zimbabwe. Journal Of
Development And Agricultural Economics.
Pangestiningsih, Yuswani. 2013. Pengaruh Perangkap Warna Berperekat Terhadap
Hama Capside (Cyrtopeltis Tenuis Reut) (Hemiptera : Miridae) Pada Tanaman

Tembakau (Nicotiana Tabacum L.). Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1,


No.4.
Pangestiningsih, Yuswani.2014. Pengaruh Bentuk Dan Ketinggian Perangkap
Sticky Trap Kuning Terhadap Lalat Buah (Bactrocera Spp.)
(Diptera:Tephritidae) Pada Tanamantomat (Solanum Lypersicum Mill.) Di
Dataran Rendah. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.3, No.1.
Rejeki, Tri. 2010. Thrips Sp. Perusak Tembakau. Penelitian Tembakau Di Jawa
Timur.
Sambuo, Damian. 2014. Tobacco Contract Farming Participation And Income In
Urambo; Heckmas Selection Model. Journal Of Economics And Sustainable
Development.