Anda di halaman 1dari 8

ANALISA BENCANA ALAM

Disusun Oleh:
Nama : Ramadhani Kusumaputra
NIM : 115150017

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN


YOGYAKARTA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
TEKNIK GEOFISIKA
2015

TSUNAMI
Tsunami berasal dari kata dalam bahasa Jepang yang berarti gelombang pelabuhan. Diwakili
dua karakter tsu yang berarti pelabuhan, dan nami yang berarti gelombang. Di masa lalu
tsunami secara umum juga disebut sebagai gelombang pasang, dan oleh masyarakat ilmuwan
disebut gelombang gempa laut.

Bagaimana Tsunami terjadi?


Tsunami dipicu oleh adanya ganggauan yang menyebabkan terpindahnya sejumlah air dari
posisi keseimbangannya. Gangguan tersebut dapat diakibatkan oleh gempa, longsor,
runtuhnya bongkahan vulkanik, erupsi gunung api bawah laut, dan akibat tumbukan meteor.

STRUKTUR

Akibat Gempa-gempa bawah Laut.


Tsunami bisa terjadi ketika dasar lautan bergerak secara tiba-tiba akibat gempa tektonik.
Gempa tektonik adalah jenis gempa yang berhubungan dengan pergeseran kulit bumi. Ketika
gempa-gempa tersebut terjadi di bawah laut, air yang berada di atas daerah yang bergerak
berpindah dari posisi keseimbangannya. Gelombang akan terbentuk, dan akibat gaya
gravitasi, massa air akan berupaya mencapai kesembangannya lagi. Jika sekiranya kejadian
tersebut terjadi di dasar laut yang tiba-tiba naik atau turun, tsunami bisa terjadi.
Pergeseran kerak/kulit bumi dasar samudera yang luas dapat terjadi di pertemuan lempeng.
Lempeng bertemu di batas yang disebut patahan. Di sekitar pinggiran Samudera Pasifik,
sebagai contoh, lempeng samudera yang lebih berat menujam ke bawah lempeng benua
dalam proses yang disebut subduksi (penujaman). Gempa besar pada tahun 2004
menimbulkan Tsunami raksasa yang terjadi dimana lempeng Samudera Hindia menujam
lempeng Sumatera.

http://ceeserver.cee.cornell.edu/pll-group/images/earthquake_tsu2_resize.gif
Gambar di atas menunjukkan kulit benua secara pelan-pelan melengkung akibat penujaman
lempeng samudera, pada gambar bawah terlihat bagaimana kulit benua terlepas dari kuncian
pelengkungan dan bergerak naik sehingga memindahkan sejumlah massa air, dan merupakan
sumber tsunami. (gambar dari Nature online)

sumber: http://www.gitews.org/fileadmin/documents/content/press/Sumatra-20041226Tsunami-by-Subduction-engl.jpg
Gambar di atas menunjukkan sketsa proses tsunami pada saat Gempa Sumatera pada tahun
2004.

Sumber gambar: PennState: College of Earth and Mineral Sciences: https://www.eeducation.psu.edu/earth501/content/p2_p3.html


Gambar di atas menunjukkan sketsa tiga dimensi proses terjadi tsunami akibat proses gempa
subduksi. Perhatikan, akibat terus menujamnya lempeng samudera ke bawah lempeng benua
(gambar kiri), pada tempat tertentu penujaman terkunci (stuck) dan mengakibatkan lempeng
benua melengkung dan semakin melengkung (gambar tengah). Jika penujaman terus
berlangsung maka kuncian bisa saja terlepas (unstuck) akibat energi pelengkungan yang
semakin besar. Jika kuncian tersebut terlepas, gempa terjadi, diman lempeng benua akan
kembali ke posisi seperti awal (gbr kanan). Akibatnya air di daerah tersebut akan terangkat
dan mengakibatkan gelombang yang disebut tsunami.

VEGETASI

Contoh vegetasi tsunami yang diambil sebagai sample adalah pantai meulaboh di Aceh
Sebelum tsunami, pantai ini menjadi salah satu pantai yang diminati warga masyarakat untuk
rerkreasi, karena disamping pantainya yang menarik dan terbentang luas, di tempat ini juga
dijumpai beberapa spesies pantai berupa pohon, perdu, dan herba khususnya dijadikan
sebagai tempat berteduh. Beberapa spesies yang dijumpai di tempat sebelum tsunami antara
lain; waru laut (Hibiscus rosasinensis), kelapa (Cocos nucifera), cemara (Casuarina
quisetifolia), kedondong laut (Polycias fruticosa), bakau (Rhizophora mucronata), dan kulur
(Artocarpus altilis) dari kelompok pohon, dan nyawon (Eupatorium odoratum), pandan laut
(Pandanus tectorius), biduri (Calotropis gigantea), bulu babi (Theprosia candida), beluntas
(Plucea indica), harendong (Melastoma malabatricum), putri malu besar (Mimosa virgatus)
dari kelompok perdu, dan tapak kuda (Ipomoea prescaprae), rumput laut (Spinifex littoralis),
jarong lelaki (Stachytarpeta indica), teki (Cyperus rotundus), sida gori (Sida rhombifolia),
belulang (Eleusine indica), kacangan (Desmodium triflorum), cagak langit (Tridax
procumbens), ceplukan (Physalis angulata), babadotan (Ageratum conyzoiedes), gelagah
(Sacharum spontanoium), dan meniran (Phyllantus debilis). Spesies tersebut di atas
pernah diteliti oleh Djufri (2003) dalam penelitian sebelumnya pada saat belum terjadi
bencana tsunami. Namun saat ini spesies yang disebutkan di atas sudah tidak ditemukan lagi,
akibat peristiwa tsunami yang menyebabkan luas daratan di pantai ini jauh berkurang dari
sebelumnya terutama di kawasan yang diteliti, namun tidak semua pantai Daerah Meulaboh
demikian adanya. Kondisi umum Pantai Daerah Meulaboh sebagai berikut:

Kenampakan luar vegetasi di wilayah studi (a). Tegakan kelapa( Cocos nucifera), (b). Tegakan gelagah
(Sacharum spontaneum), (c). Tegakan sukun (Artocarpus altilis), dan (d). Tegakan bakau (Rhizopora
mucronata).

Perbandingan pantai yang menghadap ke barat. A: pantai sebelum terjadi tsunami. B: pantai baru di lokasi yang
sama 13 bulan setelah tsunami. Garis merah menunjukan lokasi dari pantai sebelum tsunami.

TANAH LONGSOR
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan
rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak kebawah atau keluar lereng.
Proses terjadinya tanah longsor diawali oleh air yang meresap ke dalam tanah akan
menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai ke tanah kedap air yang berperan
sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan diatasnya akan
bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

Jenis-Jenis tanah longsor


Ada enam jenis tanah longsor, yaitu longsor translasi, longsor rotasi, pergerakan blok,
runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Di indonesia jenis longsor yang
paling sering terjadi adalah longsor translasi dan longsor rotasi. Sementara itu, jenis tanah
longsor yang paling banyak memakan korban jiwa adalah aliran bahan rombakan.
1. Longsor Translasi
Longsor ini terjadi karena bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir
berbentuk rata atau menggelombang landai.
2. Longsor Rotasi
Longsoran ini muncul akibat bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.
3. Pergerakan Blok
Pergerakan blok terjadi karena perpindahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsor jenis ini disebut juga longsor translasi blok batu.
4. Runtuhan Batu
Runtuhan batu terjadi saat sejumlah besar batuan atau material lain bergerak kebawah
dengan cara jatuh bebas. Biasanya, longsor ini terjadi pada lereng yang terjal sampai
menggantung, terutama di daerah pantai. Runtuhan batu-batu besar dapat
menyebabkan kerusakan parah.
5. Rayapan Tanah
Longsor ini bergerak lambat serta serta jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus.
Longsor ini hampir tidak dapat dikenal. Setelah beberapa lama terjadi longsor jenis
rayapan, posisi tiang-tiang telepon, pohon-pohon, dan rumah akan miring kebawah.
6. Aliran Bahan Rombakan
Longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air dan terjadi di
sepanjang lembah yang mencapai ratusan meter jauhnya. Kecepatan bergantung pada
kemiringan lereng, volume air, tekanan air dan jenis materialnya.

Faktor-Faktor Analitik pada Tanah Longsor

Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar dari
gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan
tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut kemiringan lereng, air,
beban serta berat jenis tanah batuan.
Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi batuan
dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan
lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alam dan
faktor manusia:
1). Faktor alam
Struktur Geologi : Batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung,
struktur sesar dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung
berapi.
Iklim : curah hujan yang tinggi.
Keadaan Topografi / Kelerengan: Lereng yang curam.
Keadaan Air : Kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam,
pelarutan dan tekanan hidrostatika.

Litologi : Material yang tidak terkonsolidasi atau rentan dan mudah meluncur karena
basah akibat masuknya air ke dalam tanah.
Vegetasi : Material organik: lebat atau jarangnya vegetasi.
Tutup lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis.
Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu
lintas kendaraan.