Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN

OLEH :
MUH. IKHSANUL HAKIM
1229041019
PTIK 03

PROGRAM STUDI PEND. TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015

1. Tentang Joy Paul Guilford

Joy Paul Guilford adalah seorang psikolog berkebangsaan Amerika. Guilford


lahir di Marquette, Nebraska pada tanggal 7 Maret 1897. Guilford banyak meneliti
tentang inteligensi manusia, termasuk meneliti perbedaan penting antara produksi
divergen dan konvergen. Semasa masih kecil, Guilford memiliki kebiasaan mengamati
perbedaan kemampuan di antara anggota keluarganya sendiri. Dan pada saat Guilford
dewasa, dia belajar psikologi di University of Nebraska kemudian melanjutkan
pascasarjananya di Cornell University tahun 1919 sampai tahun 1921. Di Cornell
University, Guilford belajar di bawah bimbingan Edward Titchener. Selama di Cornell
ini Guilford juga menjabat sebagai Direktur Klinik Psikologis Universitas. Di sini ia
banyak melakukan pengujian kecerdasan pada anak.
Pada tahun 1927 - 1928, Guilford bekerja di University of Kansas, setelah itu ia
menjadi Presiden ketiga Psychometric Society, mengikuti jejak pendirinya LL.Thurstone
dan EL. Thorndike di University of Nebraska. Pada tahun 1940 ia diangkat profesor
psikologi di University of Southern California di mana ia tinggal sampai 1967.
Selama Perang Dunia II , Guilford bekerja untuk Unit Penelitian Angkatan Udara
Amerika Serikat, sebagai Direktur Riset Psikologi di Pangkalan Tentara Santa Ana Air. Ia
membentuk Proyek Aptitude di University of Southern California, dan bekerja pada
seleksi dan peringkat trainee aircrew. Di sana Guilford menjalankan Staninies Project
yang mengidentifikasikan delapan kemampuan intelektual spesifik yang penting untuk
menerbangkan pesawat. Guilford memaksimalkan penanganan delapan kemampuan ini
untuk memberikan solusi bagi permasalahan yang terjadi di sana. Dan selama Perang
Dunia II, Guilford dapat membuktikan bahwa solusinya tersebut dapat meningkatkan
jumlah tingkat kelulusan peserta pelatihan/trainee aircrew.
Seusai perang, Guilford bergabung pada Fakultas Pendidikan di University of
Southern California. Di sana Guilford memulai riset tentang faktor-faktor inteligensi.
Guilford mempublikasikan secara luas hasil risetnya yang diberinya nama Structure of
Intellect Theory. Dan riset pasca perang ini mengidentifikasikan kemampuan intelektual
diskrit yang berjumlah 90 dan 30 kemampuan perilaku. Penelitian Guilford ini
menyebabkan pengembangan Tes klasifikasi yang dimodifikasi dalam cara yang berbeda,
masuk dalam berbagai assesmen personil yang dikelola oleh semua cabang US Armed
Sevices. Dengan demikian secara umum, semua ujian kualifikasi Militer AS pada tahun
1950an, 1960-an dan 1970-an dapat dikatakan telah diturunkan menurut riset Guilford.

Guilford terus melakukan penelitian pada tes kecerdasan dengan fokus terutama
pada berpikir divergen dan kreativitas . Ia mendesain berbagai tes yang mengukur
berpikir kreatif. Guilford pensiun dari mengajar pada tahun 1967 tetapi terus menulis dan
mempublikasikan. Guilford meninggal pada tanggal 26 November 1987 di Los Angeles.
2. Joy Paul Guilford dan Teori Inteligensi

Teori Guilford banyak membicarakan struktur intelegensi seseorang yang banyak


mengarah pada kreativitas. Guilford melakukan penelitian tentang kecerdasan ini dengan
meneliti orang-orang genius pada tahun 1869. Ia mencoba memahami cara kerja fungsi
mental para pemimpin dan tokoh-tokoh yang berhasil mengetengahkan ide-ide
cemerlang. Teori Guilford menerangkan tentang inteligensi yang diartikan sebagai
kemampuan seseorang dalam menjawab melalui situasi sekarang untuk semua peristiwa
masa lalu dan mengantisipasi masa yang akan datang. Dalam konteks ini maka belajar
adalah termasuk berpikir, atau berupaya berpikir untuk menjawab segala masalah yang
dihadapi. Konsepnya memang kompleks, karena setiap masalah akan berbeda cara
penanganannya bagi setiap orang. Untuk itu diperlukan perilaku cerdas/inteligen, yang
tentu sangat berbeda dengan perilaku noncerdas/inteligen. Yang pertama (perilaku
cerdas/inteligen) ditandai dengan adanya sikap dan perubahan kreatif, kritis, dinamis,
dan memiliki motivasi, sedangkan yang kedua keadaannya sebaliknya. Pengertian
kebiasaan juga mengandung arti kebiasaan kreatif, bukan kebiasaan pasif reaktif
(mekanis) seperti pada pandangan kaum behavioris.
Guilford mengeluarkan satu model untuk menjelaskan kreativitas manusia yang
disebutnya sebagai Model Struktur Intelek (Structure of Intellect). Dalam model ini,
Guilford menjelaskan bahwa kreativitas manusia pada dasarnya berkaitan dengan proses
berpikir konvergen dan divergen. Konvergen adalah cara berfikir untuk memberikan
satu-satunya jawaban yang benar. Sedangkan berpikir divergen adalah proses berfikir
yang memberikan serangkaian alternatif jawaban yang beraneka ragam. Kemampuan
berfikir divergen dikaitkan dengan kreativitas ditunjukkan oleh beberapa karakteristik
berikut:
1. Kelancaran

Yaitu kemampuan untuk menghasilkan sejumlah besar ide-ide atau solusi


masalah dalam waktu singkat.
2. Fleksibilitas
Yaitu

kemampuan

untuk

secara

bersamaan

mengusulkan

berbagai

pendekatan untuk masalah tertentu.


3. Orisinalitas
Yaitu kemampuan untuk memproduksi hal baru, ide-ide asli.
4. Elaborasi
Yaitu kemampuan untuk melakukan sistematisasi dan mengatur rincian ide di
kepala dan membawanya keluar.
Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat
divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan
informasi yang diberikan. Guilford meyakini bahwa standar tes inteligensi yang ada pada
saat itu tidak mendukung proses berpikir divergen. Tes inteligensi tidak dirancang untuk
mengukur hal ini, tetapi tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir
yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau
kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari
pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses
berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai
kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.
Model struktur intelektual (SI) diilustrasikan oleh Guilford dalam bentuk sebuah
kubus dengan masing-masing dimensi mewakili faktor-faktor intelektual yang
bersesuaian satu sama lain. Dimensi-dimensi tersebut ialah :
1. Dimensi Operasi
Terdiri dari 5 jenis yaitu :

a. Kognisi, merupakan proses penemuan suatu informasi yaitu kemampuan untuk


mengerti, memahami, menemukan, dan menjadi sadar.
b. Memori, merupakan kemampuan untuk mengodekan informasi dan mengingat
kembali informasi yang pernah diterima. Kategori memori ini dibagi menjadi :

Memori retensi, yaitu kemampuan untuk menahan atau mengingat


informasi.

Memori reproduksi, yaitu kemampuan untuk memproduksi kembali


informasi.

c. Pemikiran divergen, merupakan proses pikiran terhadap arah yang berbeda-beda


dan beraneka ragam dari informasi yang telah ada.
d. Pemikiran konvergen, merupakan proses menyimpulkan solusi tunggal untuk
masalah.
e. Evaluasi, merupakan proses menilai apakah jawaban yang akurat, konsisten,
atau valid.
2. Dimensi Konten/Isi
Dimensi konten atau isi ini mencakup bidang atau tipe informasi dalam
operasi yang diterapkan. Dimensi konten atau isi dibagi menjadi empat kategori,
namun dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi lima, yaitu auditori dan
visual dipisahkan. Kategori-kategori yang berada pada dimensi konten adalah
sebagai berikut :
a. Figural
Informasi

yang

berupa

figur,

non-verbal,

atau

bentuk

yang

menggambarkan keadaan suatu objek. Kategori figural ini kemudian dibagi


menjadi dua, yaitu :
a. Auditory, yaitu informasi dirasakan melalui pendengaran.

b. Visual, yaitu informasi dirasakan melalui melihat.


b. Simbolik
Informasi yang diproses di sini dapat mempunyai bentuk yang sama
seperti isi figural, akan tetapi arti yang dikehendaki merupakan penggambaran
objek lain, jadi memiliki maksud selain objek itu sendiri.
c. Semantik
Informasi yang harus diproses berupa input yang disajikan secara lisan.
d. Perilaku
Informasi berupa tindakan individu. Isi kemampuan inilah yang dapat
disamakan dengan konsep inteligensi sosial menurut teori Thorndike.
3. Dimensi Produk
Seperti namanya dimensi ini berisi hasil penerapan operasi tertentu untuk isi
tertentu. Menurut tingkatan kompleksitasnya terdapat enam jenis produk yaitu :
a. Unit/satuan, merupakan satu item informasi.
b. Kelas, merupakan satu set item yang berbagi beberapa atribut atau produk kelas
berupa respon dalam bentuk kelompok kelas.
c. Hubungan, merupakan produk yang di dalamnya terdapat koneksi antara item
atau variabel, kemungkinan terkait sebagai bertentangan atau dalam asosiasi,
urutan, atau analogi.
d. Sistem , merupakan sebuah organisasi item atau jaringan dengan bagian-bagian
yang berinteraksi, jadi strukturnya terorganisasikan secara keseluruhan.
e. Transformasi, merupakan perubahan perspektif, konversi, atau mutasi ke
pengetahuan; seperti membalik urutan huruf dalam sebuah kata.

f. Implikasi, merupakan prediksi, kesimpulan, konsekuensi, atau antisipasi


pengetahuan.
3. Kelebihan dan Kelemahan Teori Inteligensi Guilford
Joy Paul Guilford memberikan distribusi yang signifikan dalam ikut
mengembangkan teori kemampuan mental, terutama yang berkaitan dengan teori
inteligensi. Dalam model struktur yang disebutnya sebagai Structure of Intellect (SOI)
ini, Guilford berseberangan dengan konsep general factor yang dikemukakan oleh
Spearman. Seperti teori inteligensi lainnya, teori Guilford ini pun tidak luput dari
kontroversi dan kritikan dari beberapa pihak. Berikut ini akan diungkapkan beberapa
kelebihan dan kelemahan dari teori inteligensi Guilford.
1. Kelebihan teori inteligensi Guilford :
a. Teori ini memberikan implikasi yang penting bagi teori psikologi umumnya,
terutama apabila dapat meletakkannya sebagai suatu kerangka pemikiran guna
memperoleh pandangan baru terhadap konsep-konsep psikologi, seperti proses
belajar, pemecahan masalah dan kreativitas.
b. Dalam

pembelajaran,

teori

ini

memberikan

implikasi

positif

berupa

pembelajaran yang kreatif.


c. Model Guilford ini memberikan suatu jalan untuk mengorganisasikan
kemampuan-kemampuan

dalam

kurikulum,

terutama

pada

penentuan

kemampuan-kemampuan mana yang perlu mendapat perhatian.


d. Teori ini merupakan mata rantai studi inteligensi dengan menggunakan
pengetahuan tentang belajar, psikolinguistik, pikiran dan sebagainya sebagai
pembagian tugas intelektual.
e. Teori ini meliputi bidang-bidang fungsi intelektual yang terlokalisasi dengan
sedikit sekali terwakili oleh tes-tes inteligensi standar. Sebagai contoh, banyak
tes-tes inteligensi yang hanya mengukur pemikiran konvergen yang hanya
memiliki jawaban yang benar.

f. Teori ini mendapatkan penerimaan luas dari para pendidik dan beberapa pihak
yang memiliki pandangan kurang menyenangkan terhadap faktor g Spearman.

2. Kelemahan teori inteligensi Guilford :


a. Teori ini dianggap terlalu berlebihan/kompleks dan melanggar aturan
parsimony.
b. Kemampuan-kemampuan inteligensi dalam teori ini belum seluruhnya dapat
dibuktikan secara empiris.
c. Guilford menggunakan metode rotasi ortogonal, meskipun data dan penelitian
sebelumnya jelas menuntut rotasi miring (oblique)
d. Beberapa ahli tidak dapat mereplikasi hasil Guilford pada analisis ulang,
mendorong mereka mempertanyakan reliabilitas instrumen itu. Meskipun pada
tahun 1985 Guilford merevisi model SOI untuk mengatasi kekurangan ini.