Anda di halaman 1dari 17

Mekanisme Kerja Ginjal dan Faktor yang Mempengaruhi Edema Pada

Penderita Gagal Ginjal


Fatimah Hartina Faradillah
fatimah.2014fk143@civitas.ukrida.ac.id
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731
tu.fk@ukrida.ac.id
Abstract
The kidney is the organ that gets the blood stream very well. Every day approximately
1500L blood flow through the kidneys, and filtered into the primary urine 150L. Through the
absorption of water behind, the primary urine volume is greatly reduced, so that every day just
excreted amount of approximately 0,5-2,0L as secondary urine. A functional kidney is the
nephron. In humans there are approximately one million nephron units. In the nephron on going
formation of urine through three phases, filtration, reabsorption and secretion. One of the
important functions of the kidney is to rid the body of materials or waste products of digestion
produced by metabolism. The second function is a very important function is to control the
volume and composition of body fluids. Edema or swelling is the presence of excessive amount
of fluid in the tissues between cells diruang body, usually referring to subcutaneously. Edema can
be local and systemic nature, edema due to impaired renal function are systemic.
Keywords: kidney, nephron, oedema
Abstrak
Ginjal adalah organ yang mendapat aliran darah sangat baik. Setiap hari mengalir kurang
lebih 1500L darah melalui ginjal dan difiltrasi menjadi 150L urin primer. Melalui penyerapan
balik air, volume urin primer sangat dikurangi, sehingga setiap harinya hanya dieksresikan
sejumlah kurang-lebih 0,5-2,0L sebagai urin sekunder. Suatu fungsional ginjal adalah nefron.
Pada manusia terdapat kurang lebih satujuta satuan nefron. Didalam nefron berlangsung
pembentukan urin melalui tiga fase, filtrasi,reabsorbsi,dan sekresi. Salah satu fungsi ginjal yang
penting adalah untuk membersihkan tubuh dari bahan-bahan sisa hasil pencernaan atau yang
diproduksi oleh metabolisme. Fungsi kedua merupakan fungsi yang sangat penting yaitu untuk

mengontrol volume dan komposisi cairan tubuh. Edema atau pembengkakan adalah adanya
cairan dalam jumlah berlebihan diruang jaringan antar sel tubuh, biasanya merujuk kejaringan
subkutis. Edema dapat bersifat lokal dan bersifat sistemis, edema karena gangguan fungsi ginjal
bersifat sistemis.
Kata kunci:ginjal,nefron,edema
Pendahuluan
Ginjal adalah organ yang mendapat aliran darah sangat baik. Setiap hari mengalir kurang
lebih 1500L darah melalui ginjal dan difiltrasi menjadi 150L urin primer. Melalui penyerapan
balik air, volume urin primer sangat dikurangi, sehingga setiap harinya hanya dieksresikan
sejumlah kurang-lebih 0,5-2,0L sebagai urin sekunder.1
Mempertahankan volume cairan tubuh agar relatif konstan dan komposisinya tetap stabil,
penting untuk homeostasis. Kestabilan cairan tubuh yang relatif sangat mengagumkan karena
adanya pertukaran cairan dan zat terlarut terus-menerus dengan lingkungan eksternal, dan dalam
berbagai kompartemen tubuh lainnya. Contohnya, adanya asupan cairan yang sangat bervariasi
yang harus disesuaikan dangan pengeluaran yang sebanding dari tubuh untuk mencegah
penurunan atau peningkatan volume cairan tubuh.2
Ginjal menjalankan fungsi yang sangat vital sebagai pengatur volume dan komposisi
kimia darah (dan lingkungan dalam tubuh) dengan mengekskresikan zat terlarut dan air secara
selektif. Apabila kedua ginjal karena suatu hal gagal menjalankan fungsinya, akan terjadi
kematian dalam waktu 3 sampai 4 minggu. Fungsi vital ginjal dicapai dengan filtrasi plasma
darah melalui glomerulus diikuti dengan reabsorbsi sejumlah zat terlarut dan air dalam jumlah
yang sesuai disepanjang tubulus ginjal.3
Edema atau pembengkakan adalah adanya cairan dalam jumlah berlebihan diruang jaringan
antar sel tubuh, biasanya merujuk kejaringan subkutis. Edema dapat bersifat lokal dan bersifat
sistemis, edema karena gangguan fungsi ginjal bersifat sistemis.4

Sistem Urinaria

Sistem urinaria terdiri dari ginjal yang terus menerus menghasilkan urin, dan berbagai
saluran dan resevoar yang dibutuhkan untuk membawa urin keluar tubuh. Ginjal merupakan
organ berbentuk kacang yang terletak dikedua sisi kolumna vertebralis (retroperitoneal). Ginjal
kanan lebih rendah satu corpus iga dibanding ginjal kiri karena tertekan oleh hati. Dimana iga
kanan kutub atasnya terletak disela iga ke 12 sedangkan ginjal kiri korpus atasnya terletak di iga
ke 11. Dimana letak ekstremitas superior antara keduanya kurang-lebih 7cm, jarak ekstremitas
inferior kedua ginjal kurang-lebih 11cm, jarak crista iliaka ke ekstremitas inferior dextra kurang
lebih 3cm dan untuk yang kiri 5cm. Pada ginjal terdapat facies anterior yang lebih cembung dan
facies posterior yang lebih cekung atau pipih, terdapat margo lateralis dan margo medialis. Pada
margo medialis dapat kita jumpai hilus renalis atau hilum yang mana tempat dilaluinya arteri dan
vena renalis serta pelvis renalis yang akan menjadi ureter.3
Facies anterior ren dextra berhubungan dengan pars affixa hepatis(dipisahkan oleh fascia
renalis). Pada margo medialis berhubungan dengan pars descendens duodeni (dipisahkan oleh
facies renalis). Mendekati extremitas inferior berhubungan dengan colon ascendens/flexura coli
dextra (dipisahkan oleh facies renalis). Sebagian besar facies anterior dan margo lateralis
berhubungan dengan facies inferior hepar (dipisahkan oleh peritoneum). Mendekati extremitas
inferior berhubungan dengan lengkung-lengkung ileum (dipisahkan oleh peritoneum).5
Facies anterior ren sinistra berhubungan dengan organ sekitarnya. Bagian craniolateral
menghadap facies posteriorinferior gaster,bagian margo lateral berhubungan dengan impression
renalis lienalis dan cauda pancreatica, margo medialis/cauda hilus renalis berhubungan dengan
lengkung-lengkug jejunum/facies jejunalis, margo medialis dan cranial jejunalis berhubungan
dengan corpus pancreatica dan v.lienalis, diantara craniolateral dan margo lateralis berhubungan
dengan lig.lienorenale, mendekati extremitas inferior renalis diantara margo lateralis dan margo
edialis/cauda hilus renalis berhubungan dengan flexura coli sinistra/coloc descendens.5
Facies posterior ren sinistra bagian cranial berhadapan dengan diaphragm dan costa XII dan
sedikit costa XI, medial berhadapan dengan crus diaphragmatica dan processus transverses
vertebra L1, sedangkan bagian lateral berhadapan dengan arcus lumbocostalis medialis dan
lateralis.5

Facies posterior rend extra menyerupai facies posterior ren sinistratapi hanya berhubungan
dengan costa XII saja karena letak ginjal kanan lebih rendah.5

Gambar 1. Letak ginjal6


Ginjal sendiri mempunyai tiga pembungkus yaitu kapsula fibrosa,kapsula adipose dan
facies renalis.
Capsula fibrosa melekat pada rend an mudah dikupas,kapsula fibrosa hanya menyelubungi ginjal
dan tidak membungkus gl.adrenal. capsula adipose yang mengandung banyak lemak
membungkus ginjal dan gl.adrenal. Dimana bagian depan lebih tipis dibandingkan bagian
belakang. Ginjal dipertahankan kedudukannya oleh fascia adipose. Fascies renalis terletak diluar
retrorenalis dibagian belakang ginjal. Bagian caudanya terpisah sehinggal kantong ginjal terbuka
ke bawah, oleh karena itu sering terjadi ascending infection.5
Ginjal sendiri ada beberapa bagian yaitu korteks dan medulla. Pada korteks terdapat glomerulus
dan pembuluh darah. Pada medulla renalis terdapat papilla renalis di ujung pyramida
renalis,calyx mayor dan minor,dan sinus renalis.6

Gambar 2. Bagian-bagian ginjal6

Gambar 3. Pembungkus ginjal6

Vaskularisasi ginjal
Arteri renalis adalah percabangan aorta abdomen yang mensuplai masing-masing ginjal dan
masuk ke hilus melalui cabang arteri segmentalis anterior dan posterior. Arteri segmentalis

anterior dan posterior akan mengalir di antara piramida-piramida ginjal sebagai arteri
interlobaris. Arteri interlobaris bercabang menjadi arteri arkuata. Arteri arkuata berada di
perbatasan antara korteks dan medula.7,8
Arteri arkuata akan berjalan menuju korteks dan bercabang menjadi arteri interlobularis.
Arteri interlobularis akan bercabang menjadi arteriol aferen. Satu arteriol aferen membentuk
sekitar 50 kapiler yang membentuk glomerulus. Arteriol eferen meninggalkan setiap glomerulus
dan membentuk jaring-jaring kapiler lain, yaitu kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus
kontortus proksimal dan distal.7,8
Arteriol eferen dari glomerulus pada nefron yukstaglomerular memiliki perpanjangan
pembuluh kapiler panjang yang lurus disebut vasa rekta yang berdescenden ke dalam piramida
medula. Lekukan vasa rekta membentuk lengkungan jepit yang melewati ansa Henle.
Lengkungan ini memungkinkan terjadinya pertukaran zat antara ansa Henle dan kapilar serta
memegang peranan dalam konsentrasi urin.7,8
Kapiler peritubular mengalir ke dalam vena korteks yang kemudian menyatu dan
membentuk vena interlobularis. Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena
arkuata bermuara ke dalam vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara ke dalam vena
renalis. Vena ini meninggalkan ginjal untuk bersatu dengan vena cava inferior.7,8

Gambar 4. Vaskularisasi ginjal6

Ureter
Terdapat dua ureter berupa dua pipa saluran, yang masing-masing bersambung dengan
ginjal dan dari ginjal berjalan ke kandung kencing. Tebal setiap ureter kira-kira setebal tangkai

ulu angsa dan panjangnya 35 sampai 40 centimeter. Terdiri atas dinding luar yang fibrus, lapisan
tengah yang berotot, dan lapisan mukosa sebelah dalam. Ureter mulai sebagai pelebaran hilum
ginjal dan berjalan ke bawah melalui rongga abdomen masuk ke dalam pelvis dan bermuara ke
dalam sebelah posterior kandung kencing.9

Gambar 5. Ureter6
Kandung kemih (Vesica Urinaria)
Organ muscular yang berfungsi sebagai penampung urin. Pada laki-laki vesica urinaria
terletak tepat di belakang simpisis pubis dan di depan rectum, pada perempuan, organ ini terletak
agak di bawah uterus di depan vagina. Ukuran organ ini sebesar kacang kenari dan terletak di
pelvis saat kosong dan mencapai umbilicus dalam rongga abdomen pelvis jika penuh berisi
urin.10
Epitel transisional yang mempunyai gambaran khas dapat berdistensi (meregang),
kontraksi (berkerut), dan impermeable terhadap air, adalah membrane mukosa yang melapisi
bagian dalam vesica urinaria. Membrane mukosa ini tersusun dalam bentuk lipatan-lipatan, yang
memungkinkan vesica urinaria dapat mengalami distensi.10

Dinding vesica urinaria terdiri sari 4 lapisan, yaitu:10


Serosa adalah lapisan terluar. Lapisan ini merupakan perpanjangan lapisan peritoneal
rongga abdominopelvis dan hanya ada di bagian atas pelvis.

Otot destrusor adalah lapisan tengah. Lapisan ini tersusun dari berkas-berkas otot polos
yang satu sama lain saling membentuk sudut. Ini untuk memastikan bahwa

selama urinasi,

kandung kemih akan berkontraksi dengan serempak ke segala arah.


Submukosa adalah lapisan jaringan ikat yang terletak dibawah mukosa dan
menghubungkannya dengan muskularis.
Mukosa adalah lapisan terdalam. Lapisan ini merupakan lapisan epitel yang tersusun dari
epithelium transisional. Pada kandung kemih yang rileks, mukosa membentuk ruga (lipatanlipatan), yang akan memipih dan mengembang saat urine berakumulasi dalam kandung kemih.
Trigonum juga disebut basis vesica urinaria, dan berbentuk segitiga (triangular), masingmasing sisi segitiga tersebut ukuran panjangnya 2,5 cm pada saat vesica urinaria berkontraksi.
Jika dalam keadaan meregang ukuran tersebut dapat meningkat sampai 5 cm. kedua ureter
memasuki vesica urinaria pada sudut lateral secara miring yang menyusuri dinding vesica
urinaria sejauh 2 cm. kedua ureter saat memasuki vesica urinaria menyebabkan lapisan epitel
pada vesica urinaria tersebut menonjol. Penonjolan ini membantu mencegah aliran balik urin ke
ureter pada saat vesica urinaria penuh, karena terdapat tekanan pada jaringan yang menonjol
tersebut.9

Gambar 6. Vesika urinaria10


Urethra
Urethra pada laki-laki (masculina) dan wanita (feminina) berbeda. Perbedaannya di dapat
akibat perbedaan organ kelamin antara feminina dan masculina. Urethra merupakan pipa
fibromuscularis dengan panjang 18-22 cm pada masculina dan 3-4 cm pada feminina. Pada
urethra masculina terdiri atas 4 bagian, yaitu urethra pars preprostatika/intramuralis, pars
prostatika, pars membranasea (bagian terpendek, sepanjang 1-2 cm membentang dari apex
prostata sampai bulbus penis; bagian ini paling tipis dan sempit sehingga mudah sekali ruptur
pada pemasukan kateterisasi) dan pars spongiosa (panjangnya 15 cm membentang dari bulbus

penis menuju orificium urethra externa (Gambar 5). Pada urethra pars ini seluruh bagiannya
dikelilingi oleh caverna corpora spongiosa; pada sisi anteriornya bermuara pada gl. Urethralis
Littre).11

Gambar 7. Urethra pria dan wanita6

Pada penampang mikroskopis sistem urinaria yang harus diketahui adanya satuan
fungsional ginjal yaitu tubuli uriniferus yang terdiri atas nefron dan duktus koligens yang
menampung curahan nefron. Dibagian korteks setiap ginjal,terdapat jutaan nefron. Nefron terdiri
atas dua komponen, yaitu korpuskulum renal dan tubuli renal. Korpuskulum renal terdiri atas
satu kelompok kapiler yang disebut glomerulus yang dikelilingi dua lapis epitel yang disebut
kapsul bowman. Dimana lapisan viseralnya terdiri ata sel-sel epithelial khusus bercabang yang
disebut podosit yang saling berdekatan dan membungkus kapiler glomerulus. 12 Untuk lapisan
parietalnya terdiri atas selapis sel selapis gepeng.
Penyaringan darah difiltrasi pada tubulus kontortus proksimal oleh endotel glomerulus. Endotel
ini berpori berfenestra dan bertingkap dan sangat permeable untuk banyak substansi darah,
namun tidak untuk elemen-elemen berbentuk atau protein plasma. 12 Ginjal dibagi atas dua daerah
korteks dan medulla. Didalam korteks terdapat tubuli kontortus,glomeluri,tubului rektus,dan
berkas medulla. Korteks juga mengandung kapsula bowman,arteri/vena interlobular.12
Medulla dibentuk oleh sejumlah pyramid renal. Dasar setiap pyramid menghadap korteks dn
apseksnya mengarah kedalam. Medulla juga mengandung ansa henle dan duktus koligens.
Duktus koligens bergabung di medulla membentuk duktus papilaris yang besar. Arteri/vena
arkuata dan arteri/vena interlobaris berada dimedulla.12 Pada arteriol afferents terdapat sel-sel
juxtaglomerular yang merupakan sel-sel epitoloid yang sangat termodifikasi dengan granula
sitoplasma. Daerah dengan sel-sel yang lebih padat dan tampak lebih gelap ini disebut macula

densa. Sel-sel juxtaglomerular dibagian arteriol efferents dan sel-sel macula densa pada tubulus
kontortus distal bersama-sama membentuk apparatus juxtaglomerular.12
Ureter memiliki lumen yang berkelok karena adanya lipatan memanjang. Dinding ureter terdiri
atas mukosa, muskularis, dan adventisia. Lapisan mukosa terdiri atas epitel transisional dan
lamina propria lebar. Pada ureter bagian atas, muskularis terdiri atas lapisan otot polos
longitudinal dalam dan sikular luar lapisan ini tidak selalu jelas. Lapisan longitudinal diluar
tambahan terdapat pada sepertiga ureter bagian bawah. Lapisan adventesia menyatu dengan
jaringan ikat fibroelastis dan jaringan lemak disekitarnya yang mengandung banyak
arteri,venul,dan saraf kecil. Dinding vesika urinaria serupa dengan lapisan diureter kecuali
ketebalannya. Pada vesika urinaria jaringan ikat longgar dibagian dalam lebih banyak
mengandung serat elastin.12

Gambar 8. Tubulus Kontortus Proksimal12

Gambar 10. Tubulus Kontortus Distal12

Gambar 9. Tubulus Rektus Proksimal12

Gambar 11. Macula Densa12

Gambar 10. Korteks Ginjal12

Gambar 12. Duktus Koligen12

Gambar 11. Tubulus Rektus Distal12

Gambar 13. Lumen ureter12

Mekanisme Kerja ginjal


Suatu fungsional ginjal adalah nefron. Pada manusia terdapat kurang lebih satujuta satuan
nefron. Didalam nefron berlangsung pembentukan urin melalui tiga fase, filtrasi,reabsorbsi,dan
sekresi.1
Filtrasi. Didalam glomerulus dihasilkan urinn primer melalui ultarafiltrasi plasma. Urin primer
merupakan cairan isotonic terhadap plasma. Pori-pori yang dilalui oleh plasma, mempunyai garis
tengah efektif rata-rata sekita2,9 nm. Hal ini memungkinkan seluruh komponen plasma yang
lebih kecil dapat lewat melalui pori-pori tanpa hambatan. Molekul yang jauh lebih besar akan
tertahan. Darah mempunyai berat molekul yang besar sehingga didaam urin jumlahnya sangat
sedikit.1
Reabsorbsi. Melalui penarikan air, urin primer dipekatkan secara kuat (menjadi kurang lebih
1/100volume yang masuk) didalam tubulus proksimal dan distal.

Bersamaan dengan itu,

komponen bermolekul rendah juga diserap kembali melalui transport aktif, terutama
glukosa,asam amino, dan ion-ion anorganik dan organic. Untuk mendapatkan kembali asam
amino, terdapat beberapa sistem transport yang spesifik untuk gugus-gugus tertentu.1
Sekresi. Beberapa bahan-bahan yang harus dilepaskan , diberikan kembali kedalam urin melalui
transport aktif didalam saluran-saluran ginjal. Yang termasuk bahan-bahan ini adalah ion
hydrogen dan kalium, asam urat dan kreatinin, tetapi juga obat-obatan seperti penisilin.1

Besarnya eksresi suatu substansi melalui ginjal ditentukan melalui pengukuran clearance ginjal,
yaitu volume plasma yang dibebaskan dari suatu substansi setiap satuan waktu.
Salah satu cirri kerusakan ginjal adalah kegagalan mengeluarkan cairan tubuh dan zat-zat sisa
pembakaran yang bersifat racun sehingga penderita mengalami pembengkakan (oedem) pada
tubuh yang terletak rendah karena pengaruh gravitasi. Pada pemeriksaan kimiawi darah, akan
ditemukan kadar ureum dan kreatinin yang melampaui batas normal.6

Gambar 13. Proses Pembentukan Urin


-counter current multipler
Pemekatan urin dan proses transport selektif merupakan proses yang membutuhkan
energi. Kerena itu kebutuhan energi ginjal sangat besar. ATP yang dibutuhkan diperoleh dari
metabolism oksidatif glukosa, laktat, piruvat, asam lemak gliserol, sitrat, dan asam amino, yang
diambil dari dalam darah. Disamping hati, ginjal juga mampu melakukan glukogeogenesis.
Substrat untuk melakukan glukogeogenesis adalah terutama kerangka karbon asam amino, yang
nitrogennya digunakan untuk mendaparkan urin.2 Sistem counter current harus terdiri dari 2
pembuluh sejajar yang berdekatan,cukup panjang,alirannya berlawanan serta berbentuk pipa U.
Pada tubulus proksimal sekitar 65% elektrolit yang difiltrasi akan dirabsorbsi.akan
tetapi,membrane tubulus sangat permeable terhadap air,sehingga setiap kali zat terlarut
direabsorbsi,air juga akan berdifusi secara osmosis.oleh sebab itu,osmolaritas cairan yang tersisa
kurang lebih sama dengan filtrate glomerulus,300mOsm/L.2
Segmen desenden ansa henle. Sewaktu cairan menuruni segmen desenden ansa henle, air
diabsorbsi kedalam medulla. Lengan desenden sangat permeable terhadap air tetapi kurang
permeable terhadap natrium, klorida dan ureum. Oleh sebab itu,osmolaritas cairann yang
mengalir melalui segmen desenden akan meningkat secara bertahap hingga sama dengan cairan
intersisial disekitarnya, yaitu sekitar 1200mOsm/L saat konsentrasi ADH darah tinggi. Ketika
urin yang encer terbentuk, akibat konsentrasi ADH yang rendah, osmolaritas interisial medulla

menjadi kurang dari 1200 mOsm/L;akibatnya osmolaritas cairan tubulus segmen desenden juga
berkurang.2
Segmen tipis asenden ansa henle impermeable terhadap air tetapi dapat mereabsorbsi sejumlah
natriun klorida. Karena konsentrasi natrium klorida dalam cairan tubulus cukup tinggi, akibat
pergerakan air dari segmen desenden ansa henle, terjadi difusi pasif natrium klorida dari segmen
tipis asenden kedalam intersisium medulla. Jadi cairan tubulus lebih encer sewaktu natrium
klorida berdifusi keluar dari tubulus dan air tetap tinggal ditubulus. Ureum yang diarbsorbsi
kedalam itersisium medulla dari duktus koligens juga berdifusi kedalam lengkung asendens,
dengan demikian akan mengembalikan ureum kesistem tubulus dan membantu mencegah
hilangnya ureum dari medulla ginjal. Siklus ureum ini juga menambah suasana menjadi hiper
osmotik dimedulla ginjal.2
Segmen tebal asendens ansa henle juga hamper impermeable terhadap air, tetapi sejumlah besar
natrium, klorida, kalium, dan ion0ion lain ditransport secara aktif dari tubulus kedalam
intersisium medulla. Oleh karena itu, cairan disegmen tebal ansa henle menjadi sangat encer dan
konsentrasinya turun sampai sekitar 100mOsm/L.2
Segmen awal tubulus distal mempunyai kemampuan yang mirip dengan segmen tebal asenden
ansa henle. Segmen akhir tubulus dan tubulus koligentes kotikalis osmolaritas cairan tergantung
pada kadar ADH. Duktus koligentes dibagian medulla konsentrasinya juga bergantung pada
ADH dan osmolaritas intersisium medulla yang dibentuk oleh mekkanisme arus balik. Dengan
adanya ADH dalam jumlah besar, duktus-duktus ini sangat permeable terhadp air, dan air
berdifusi dari tubulus kedalam intersisium hingga tercapai keseimbangan osmotic dengan
konsentrasi cairan tubulus yang kurang lebih sama dengan intersisim medulla ginjal (12001400mOsm/L).2

Gambar 14. Mekanisme counter current multiplier


Fungsi ginjal

Salah satu fungsi ginjal yang penting adalah untuk membersihkan tubuh dari bahanbahan sisa hasil pencernaan atau yang diproduksi oleh metabolism. Fungsi kedua merupakan
fungsi yang sangat penting yaitu untuk mengontrol volume dan komposisi cairan tubuh . untuk
air dan semua elektrolit dalam tubuh, keseimbangan antara asupan (hasil dari pencernaan atau
produksi metabolic) dan keluaran (hasil dari ekskresi atau konsumsi metabolic) sebagian besar
dipertahankan oleh ginjal. Fungsi pengaturan oleh ginjal ini memelihara kestabilan lingkungan
sel yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Ginjal melakukan fungsinya yang
paling penting dengan cara menyaring plasma dan memisahkan zat dari filtrate

dengan

kecepatan bervariasi, bergantung pada keburuhan tubuh. Akhirnya, ginjal membuang zat-zat
yang tidak diinginkan dari filtrate (dan oleh karena itu dari darah) dengan cara
mengekskresikannya kedalam urin, sementara zat yang dibutuhkan dikembalikan kedalam darah.
Secara garis besar ginjal menjalankan fungsi multiple yaitu mengeskresi produks sisa metabolic
dan bahan kimia asing, pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit, pengaturan osmolaritas
cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit, pengaturan tekanan arteri, pengaturan keseimbangan
asam-basa, sekresi/metabolism/ekskresi hormon, dan glukogenesis.2

Metabolisme air
-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan urin
*eksogen
Faktor eksogen yang dapat mempengaruhi proses pembentukan urin adalah seperti
jumlah cairan yang dikonsumsi. Makin banyak cairan yang dikonsumsi semakin banyak pula
hasil filtrasi ginjal yang berakhir dengan meningkatnya jumlah urin, begitupula sebalikanya.
Faktor lain berupa aktivitas dan jenis kelamin.
*endogen

Hormon yang Berperan pada Ginjal 13,14


Fungsi ginjal dipengaruhi oleh berbagai hormon yang memodulasi regulasi ion dan air.
Aldosteron dan ADH (Anti Diuretic Hormon) merupakan contoh hormon yang berperan dalam
mekanisme kerja ginjal. Aldosteron dapat ditemukan di tubuli distal dan ductus kolegen bagian
awal. Aldosteron berfungsi untuk meningkatkan permeabilitas tubuli terhadap Na. ADH dapat
ditemukan di ductus kolegens dan berfungsi untuk meningkatkan permeabilitas air sehingga air
dapat di reabsorbsi dalam volume yang banyak.
Renin

diproduksi

oleh

aparatus

jukstaglomerulus

dan

memacu

pembentukan

angiostensin. Sekresinya dirangsang oleh volume arteri yang menurun, Na menurun pada nefron
bagian distal, dan hipokalemia. Renin mengkatalisis reaksi angiotensinogen menjadi angiotensi I.
Angiotensinogen adalah suatu protein yang dibuat oleh hati dan merupakan substrat dari enzim
renin. Angiotensinogen termasuk golongan alfa 2 globulin. Angiotensin I adalah suatu
dekapeptida hasil pemecahan angiotensinogen oleh renin. ACE (Angiotensin I Converting
Enzyme) mengkatalisis reaksi angiotensin I menjadi angiotensin II (suatu oktapeptida).
Angiotensinase adalah enzim yang fungsinya menginaktifkan angiotensin I dan angiotensin II.
ACE inhibitor yang menghambat enzim ACE sehingga angiotensin I tidak dapat dirubah menjadi
angiotensin II. Angiotensin II sangat aktif dalam meningkatkan tekanan darah (200x kekuatan
noradrenalin). Angiotensin

peningkatan sekresi aldosteron (angiotensin sebagai hormon

tropik yang merangsang sekresi aldosteron).


Eritropoietin disintesis oleh sel-sel interstisial korteks, dan menstimulasi produksi sel
darah merah. Efek terhadap sumsum tulang. Eritropoetin dan eritrogenin mempengaruhi
pembentukan sel-sel darah merah. Jika pada payah ginjal kekurangan eritropoetin dan eritrogenin
akan menyebabkan anemia berat. Pembentukan eritropoetin dirangsang oleh hipoksia.
Vitamin D dimetabolisme di ginjal menjadi bentuk aktif (1,25-dihidroksikolekalsiferol),
yang terlibat dalam regulasi Ca2+ dan fosfat. Berbagai prostaglandin juga diproduksi di ginjal,
dan mempengaruhi aliran darah ginjal.
Prostaglandin mempunyai efek langsung terhadap pembuluh darah. Berasal dari asam
pentanoat (asam lemak dengan 20 atom C). Derivat PG dihasilkan oleh jaringan diseluruh tubuh
(vesica seminalis, otak, kelenjar timus dan ginjal). Dalam ginjal terutama bagian medulla ginjal

dibentuk PGA2, PGE2 dan PGF2 alfa. Ketiga prostaglandin ini menyebabkan relaksasi otot
polos sehingga vasodilatasi arteri dan tekanan darah turun. PG menyebabkan peningkatan aliran
darah ginjal, natriuresis dan mengganggu fungsi ADH.
Kinonigen juga merupakan hormon yang mempunyai sifat antihipertensi.
Hormon / zat yang dihancurkan / diubah oleh ginjal : insulin, glukagon, 25 OH
cholecalciferol dan aldosteron.
-komposisi urin normal
Dalam

urin

normal

terdapat

urea,kreatinin

dan

keratin,amoniak

dan

garam

ammonium,asam urat,asam amino,allatoin,klorida,sulfat,fosfat,oksalat,mineral,vitamin,hormone


dan enzim. Dimana urea,kreatinin dan keratin,amoniak dan garam ammonium,asam urat,asam
amino,allatoin merupakan senyawa nitrogen.1
Urea yang disintesis oleh hati adalah bentuk ekskresi nitrogen yang berasal dari protein dan asam
amino. Asam urat adalah produk akhir dari metabolism purin. Kreatinin yang dibentuk dari
keratin melalui siklisasi spontan dan ireversibel,berasal dari metabolism otot. Karena jumlah
kreatinin yang dikeluarkan setiap hari dari satu individu adalah kosntan, jumlah ini berbanding
langsung dengan massa otot, maka kreatinin dapat digunakan sebagai ukuran kuantitatif untuk
komponen urin lainnya.1
Didalam urin terdapat kation Na+,K+,Ca2+,Mg2+, dan NH4+, demikian juga anion Cl-,SO42-,
dan HPO4 2-, selain ion-ion lainnya dalam jumlah yang kecil jumlah komponen-komponen
anorganik ditentukan oleh komposisi bahan makanan.1
Metabolit dari banyak hormone katekolamin,steroid,serotonin muncul juga didalam urin dan
dapat member informasi mengenai produksi hormone. Warna kuning urin oleh urokrom family
dari zat empedu yang terbentuk pada pemecahan hemoglobin.1
Penutup
Kegagalan ginjal dalam menjalankan fungsinya juga dapat menyebabkan edema di
bagian tubuh tertentu. Edema

atau pembengkakan adalah adanya cairan dalam jumlah

berlebihan diruang jaringan antar sel tubuh, biasanya merujuk kejaringan subkutis. Edema dapat
bersifat lokal dan bersifat sistemis, edema karena gangguan fungsi ginjal bersifat sistemis.4
Bengkaknya kaki laki-laki tersebut dikarenakan menumpuknya cairan dalam jaringan, terjadi
dibagian kaki atau ekstremitas bawah sangat besar terpengaruh oleh faktor gravitasi.
Daftar Pustaka
1. Jan koolman,Klaus Heinrich Rohm. Atlas Berwarna & Teks Biokimia.
Jakarta:Hipokrates,2000.
2. Guyton,Arthur C,John E.Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta:EGC,2007.
3. Sylvia A. Price,Lorraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta:EGC,2005.
4. Newman Dorland. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta:EGC,2010.
5. Inggriani Kasim. Buku Ajar Anatomi Sistem Urogenitalia. Jakarta:Bagian Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,2013.
6. Daniel S. Wibowo. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia,
2005.
7. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004. h. 318-37.
8. Basmajian JV, Slonecker CE. Metode anatomi berorientasi pada klinik. Jakarta: Binarupa
Aksara; 2003. h. 57.
9. Pearce E.C. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama;
2009.h.303-4.
10. Verralls S. Anatomi dan Fisiologi Terapan Dalam Kebidanan. Edisi ke 3. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC;1999.h.81-4.
11. Faiz Omar, Moffat Havid. At a Glance Anatomi. Edisi ke-2. Penerbit Erlangga. 2006
12. Victor P.Eroschenko. Atlas Histologi.Jakarta:EGC,2003.

13. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC; 2006.
14. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2011.