Anda di halaman 1dari 54

SEJARAH SINGKAT PROMOSI KESEHATAN

Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) sebenarnya sudah mulai dicetuskan setidaknya
pada era tahun 1986, ketika diselenggarakannya konfrensi Internasional pertama tentang Health
Promotion di Ottawa, Canada pada tahun 1965. Pada waktu itu dicanangkan the Ottawa
Charter, yang didalamnya memuat definisi serta prinsip-prinsip dasar Health Promotion. Namun
istilah tersebut pada waktu itu di Indonesia belum terlalu populer seperti sekarang. Pada masa
itu, istilah yang cukup terkenal hanyalah penyuluhan kesehatan, dan disamping itu pula muncul
dan populer istilah-istilah lain seperti KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi), Social
Marketing (Pemasaran Sosial), Mobilisasi Sosial dan lain sebagainya.
Suatu ketika pada tahun 1994, Dr.Ilona Kickbush yang pada saat itu sebagai Direktur Health
Promotion WHO Headquarter Geneva datang melakukan kunjungan ke Indonesia. Sebagai
seorang direktur baru ia telah berkunjung kebeberapa negara termasuk Indonesia salah satunya.
Pada waktu itu pula Kepala Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes juga baru diangkat, yaitu Drs.
Dachroni, MPH., yang menggantikan Dr.IB Mantra yang telah memasuki masa purna bakti
(pensiun). Dalam kunjungannya tersebut Dr.Ilona Kickbush mengadakan pertemuan dengan
pimpinan Depkes pada waktu itu baik pertemuan internal penyuluhan kesehatan maupun
eksternal dengan lintas program dan lintas sektor, termasuk FKM UI, bahkan sempat pula
Kickbush mengadakan kunjungan lapangan ke Bandung.
Dari serangkaian pertemuan yang telah dilakukan serta perbincangan selama kunjungan
lapangan ke Bandung, Indonesia banyak belajar tentang Health Promotion (Promosi Kesehatan).
Barangkali karena sangat terkesan dengan kunjungannya ke Indonesia kemudian ia
menyampaikan suatu usulan. Usulan itu diterima oleh pimpinan Depkes pada saat itu Prof. Dr.
Suyudi. Kunjungan Dr. Ilona Kickbush itu kemudian ditindaklanjuti dengan kunjungan pejabat
Health Promotion WHO Geneva lainnya, yaitu Dr.Desmonal O Byrne, sampai beberapa kali,
untuk mematangkan persiapan konfrensi jakarta. Sejak itu khususnya Pusat Penyuluhan
Kesehatan Depkes berupaya mengembangkan konsep promosi kesehatan tersebut serta
aplikasinya di Indonesia.
Dengan demikian penggunaan istilah promosi kesehatan di indonesia tersebut dipicu oleh
perkembangan dunia Internasional. Nama unit Health Education di WHO baik di Hoodquarter,
Geneva maupun di SEARO, India juga sudah berubah menjadi unit Health Promotion. Nama
organisasi profesi Internasional juga mengalami perubahan menjadi International Union For

Health Promotion and Education (IUHPE). Istilah promosi kesehatan tersebut juga ternyata
sesuai dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia sendiri, yang mengacu pada
paradigma sehat.
1. DEFINISI PROMOSI KESEHATAN
Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang
mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktisi atau
aplikasi pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan
lain. Ini artinya bahwa setiap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan
penyakit menular/tidak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya
kesehatan ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang
serta didukung oleh adanya promosi kesehatan.
Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat
usaha untuk dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat. Dalam hal ini
organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi
kesehatan.
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan tersebut diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah
proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental,
dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya,
kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial
budaya dan sebagainya).
Selanjutnya, Australian Health Foundation merumuskan batasan lain pada promosi
kesehatan sebagai berikut :
bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa
perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan
lingkungannya.
Dengan demikian bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan
menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan
lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson,1998). Promosi

kesehatan merupakan proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan


meningkatkan kesehatannya. Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat; Artinya proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompokkelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat. Proses pemberdayaan
tersebut juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosial budaya setempat. Proses
pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan
fisik termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.
2. RUANG LINGKUP PROMOSI KESEHATAN
Secara sederhana ruang lingkup promosi kesehatan diantaranya sebagai berikut :
1) Promosi kesehatan mencakup pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada
perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan.
2) Promosi kesehatan mencakup pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada
pengenalan produk/jasa melalui kampanye.
3) Promosi kesehatan adalah upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang
tekanannya pada penyebaran informasi.
4) Promosi kesehatan merupakan upaya peningkatan (promotif) yang penekanannya pada upaya
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
5) Promosi kesehatan mencakup upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk
mempengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan
kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana dan lain-lain di
berbagai bidang /sektor, sesuai keadaan).
6) Promosi kesehatan adalah juga pengorganisasian masyarakat (community organization),
pengembangan masyarakat (community development), penggerakan masyarakat (social
mobilization), pemberdayaan masyarakat (community empowerment), dll.
Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Menurut Prof.Dr. Soekidjo Notoadmodjo,
ruang lingkup promosi kesehatan dapat dilihat dari 2 dimensi yaitu:
a) dimensi aspek pelayanan kesehatan, dan
b) dimensi tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi kesehatan.
1. Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan
Secara umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Sedangkan ahli lainnya membagi menjadi dua aspek, yakni :
a. Aspek promotif dengan sasaran kelompok orang sehat, dan

b. Aspek preventif (pencegahan) dan kuratif (penyembuhan) dengan sasaran kelompok orang
yang memiliki resiko tinggi terhadap penyakit dan kelompok yang sakit.
Dengan demikian maka ruang lingkup promosi kesehatan di kelompok menjadi dua yaitu:
a. Pendidikan kesehatan pada aspek promotif.
b. Pendidikan kesehatan pada aspek pencegahan dan penyembuhan.
2. Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Berdasarkan Tatanan Pelaksanaan
Ruang lingkup promosi kesehatan ini dikelompokkan menjadi :
a. Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga).
b. Pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah.
c. Pendidikan kesehatan di tempat kerja.
d. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat umum.
e. Pendidikan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan
Pada ruang lingkup tingkat pelayanan kesehatan promosi kesehatan dapat dilakukan berdasarkan
lima tingkat pencegahan (five level of prevention) dari Leavel and Clark.
a. Promosi Kesehatan.
b. Perlindungan khusus (specific protection).
c. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment).
d. Pembatasan cacat (disability limitation)
e. Rehabilitasi (rehabilitation).
3. VISI DAN MISI PROMOSI KESEHATAN
Perhatian utama dalam promosi kesehatan adalah mengetahui visi serta misi yang jelas.
Dalam konteks promosi kesehatan Visi merupakan sesuatu atau apa yang ingin dicapai dalam
promosi kesehatan sebagai salah satu bentuk penunjang program-program kesehatan lainnya.
Tentunya akan mudah dipahami bahwa visi dari promosi kesehatan tidak akan terlepas dari
koridor Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 serta organisasi kesehatan dunia
WHO (World Health Organization).
Adapun visi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1) Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan,
baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.

2)

Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik pemberantasan penyakit menular,


sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya
dan bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, kelompok,
maupun masyarakat.
Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu upaya yang harus
dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah Misi . Misi promosi kesehatan merupakan upaya
yang harus dilakukan dan mempunyai keterkaitan dalam pencapaian suatu visi.
Secara umum Misi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :

a. Advokasi (Advocation)
Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang ditujukan kepada para penentu
kebijakan dalam rangka mendukung suatu isyu kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini kegiatan
advokasi merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan (decission
maker) agar dapat mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu
mendapat dukungan melalui kebijakan atau keputusan-keputusan.
b. Menjembatani (Mediate)
Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu kerjasama dengan
program lain di lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu adanya
suatu jembatan dan menjalin suatu kemitraan (partnership) dengan berbagai program dan sektorsektor yang memiliki kaitannya dengan kesehatan. Karenanya masalah kesehatan tidak hanya
dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap
masalah kesehatan tersebut. Oleh karena itu promosi kesehatan memiliki peran yang penting
dalam mewujudkan kerjasama atau kemitraan ini.
c. Kemampuan/Keterampilan (Enable)
Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan memelihara serta
meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan dari pemberian keterampilan kepada
masyarakat adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga sehingga diharapkan
dengan peningkatan ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan keluarga akan meningkat.
4. STRATEGI PROMOSI KESEHATAN

Strategi merupakan cara untuk mencapai/mewujudkan visi dan misi pendidikan/promosi


kesehatan tersebut secara efektif dan efisien. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat
dilakukan dalam promosi kesehatan :
1. Strategi Global (Global Strategy)
* Advokasi (advocacy)
* Dukungan sosial (social support)
* Pemberdayaan masyarakat (empowerment)
2. Strategi Promosi Kesehatan Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter)
Konfrensi internasional promosi kesehatan di Ottawa-Canada tahun 1986 telah menghasilkan
Piagam Ottawa (Ottawa Charter), dan salah satunya adalah rumusan strategi promosi kesehatan
yang telah dikelompokkan menjadi lima bagian diantaranya :
* Kebijakan berwawasan kesehatan (healthy public policy).
* Lingkungan yang medukung (supportive environment)
* Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health service).
* Keterampilan individu (personal skill).
* Gerakan masyarakat (community action).
5. SASARAN PROMOSI KESEHATAN
Berdasarklan pentahapan upaya promosi kesehatan, maka sasaran dibagi dalam tiga
kelompok sasaran, yaitu :
Sasaran Primer (primary target)
Sasaran umumnya adalah masyarakat yang dapat dikelompokkan menjadi, kepala keluarga untuk
masalah kesehatan umum, Ibu hamil dan menyusui anak untuk masalah KIA (Kesehatan Ibu dan
Anak) serta anak sekolah untuk kesehatan remaja dan lain sebagianya. Sasaran promosi ini
sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat (empowerment).
Sasaran Sekunder (secondary target)
Sasaran sekunder dalam promosi kesehatan adalah tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh
adat, serta orang-orang yang memiliki kaitan serta berpengaruh penting dalam kegiatan promosi
kesehatan, dengan harapan setelah diberikan promosi kesehatan maka masyarakat tersebut akan
dapat kembali memberikan atau kembali menyampaikan promosi kesehatan pada lingkungan
masyarakat sekitarnya.

Tokoh masyarakat yang telah mendapatkan promosi kesehatan diharapkan pula agar dapat
menjadi model dalam perilaku hidup sehat untuk masyarakat sekitarnya.
Sasaran Tersier (tertiary target)
Adapun yang menjadi sasaran tersier dalam promosi kesehatan adalah pembuat keputusan
(decission maker) atau penentu kebijakan (policy maker). Hal ini dilakukan dengan suatu
harapan agar kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok tersebut akan
memiliki efek/dampak serta pengaruh bagi sasaran sekunder maupun sasaran primer dan usaha
ini sejalan dengan strategi advokasi (advocacy).
6. PRINSIP-PRINSIP PROMOSI KESEHATAN
Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses pemberdayaan masyarakat
untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (the process of enabling people
to control over and improve their health), lebih luas dari Pendidikan atau Penyuluhan Kesehatan.
Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di pihak lain
Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi Kesehatan.
Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai
dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap
perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan
Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai perpaduan
dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) dalam
rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif.
Promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang selanjutnya
disebut gerakan pemberdayaan masyarakat, juga perlu dibarengi dengan upaya advokasi dan bina

suasana (social support).


Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS yang dikembangkan dalam 5 tatanan yaitu di
rumah/tempat tinggal (where we live), di sekolah (where we learn), di tempat kerja (where we
work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana kesehatan

(where we get health services).


Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh kesamaan
(equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini
dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya
Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.

Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan tanpa
mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk mengukur
hasil kegiatan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat. Yang lebih
sesuai untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina suasana,
gerakan sehat masyarakat, dll.

7. PROMOSI KESEHATAN SAAT INI


Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas,
sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi
Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya
mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.
Visi Promosi Kesehatan adalah: PHBS 2010, yang mengindikasikan tentang terwujudnya
masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner,
menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai.
Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin
diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang
garapan Promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari
dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenanya bersifat lebih
lestari.
Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah: (1) Memberdayakan individu, keluarga dan
masyarakat untuk hidup sehat; (2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi
terciptanya phbs di masyarakat; (3) Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan
penentu kebijakan. Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan
oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya
dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus
dilakukan serempak.
Selanjutnya strategi Promosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu:
Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut
dengan jelas menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi.
Strategi tersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata primer
adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan atau

pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS,


dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama
untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan
melalui media massa, media tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan,
masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan
penentu kebijakan, yang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai
keadaan, masalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan
sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah
dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang
disebutkan di muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara
lebih membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat.

BAB III
KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN DI DALAM GEDUNG PUSKESMAS
Yang dimaksud dengan promosi kesehatan didalam gedung puskesmas adalah promosi
kesehatan yang dilaksanakan dilingkungan dan gedung puskesmas sepeti di tempat
pendaftaran, poliklinik, ruang perawatan, laboratorium kamar obat, dan halaman puskesmas.
Kegiatan promosi kesehatan didalam gedung puskesmas dilaksanakan sejalan dengan pelayanan
yang di selenggarakan puskesmas. Berikut ini rincian keterangan bentuk kegiatan promosi
kesehatan yang dapat dilakukan di dalam gedung puskesmas.
A. Di Tempat Pendaftaran
Memberikan salam kepada pengunjung puskesmas termasuk dari kegiatan promosi
karena telah terjadi komunikasi awal yang menimbulkan kesan yang baik dan menyejukkan
bagi pasien/pengunjung puskesmas sehingga mengurangi beban yang diderita. Kegiatan
promosi kesehatan di tempat pendaftaran dapat dilakukan dengan penyebaran informasi melalui
media seperti poster, leaflet, selebaran yang dapat dipasang/diletakkkan di depan loket
pendaftaran.
Adapun jenis informasi yang disediakan, yaitu :

1. Alur pelayanan puskesmas


2. Jenis pelayanan puskesmas
3. Denah poliklinik
4. Informasi masalah kesehatan yang menjadi masalah pada saat itu
5. Peraturan kesehatan seperti dilarang merokok, dilarang meludah sembarangan, membuang
sampah pada tempatnya dan lain-lain.
B. Di Poliklinik
Petugas kesehatan puskesmas yang melayani pasien meluangkan waktunya untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien berkenaan dengan penyakitnya atau obat yang harus
ditelannya. Tetapi jika hal ini belum mungkin dilaksanakan, maka dapat dibuka klinik khusus
bagi para pasien rawat jalan yang memerlukan konsultasi atau konseling. Guna memudahkan
pemberdayaan dalam pelayanan medis, harus disediakan berbagai media (alat peraga) seprti
misalnya lembar balik (flashcards), poster, gambar-gambar atau model anatomi, dan brosur
(leaflet) yang bisa dibawa oleh pasien. Pihak yang paling berpengaruh terhadap pasien rawat
jalan adalah orang yang mengantarkannya ke puskesmas. Mereka ini tidak dalam keadaan sakit,
sehingga untuk memungkinkan untuk mendapatkan informasi dari berbagai media komunikasi
yang tersedia di poliklinik. Oleh karena itu dipoliklinik, khususnya di Ruang Tunggu, perlu
dipasang media seperti poster, selebaran (leaflets) yang berisi informasi tentang berbagai
penyakit dan pencegahannya.Dengan mendapat informasi yang benar mengenai penyakit yang
diderita pasien, diharapkan dapat membantu puskesmas memberikan informasi kepada
pasien. Pemasangan poster dan media komunikasi lainnya, mendorong pasien untuk berperilaku
sesuai yang dikehendaki agar penyakit atau masalah kesehatan yang dideritanya segera diatasi.
C. Di ruang pelayanan KIA dan KB
Di pelayanan KIA dan KB selain dijumpai pasien sakit (misalnya bayi atau balita), sebagian
besar pengunjung adalah Ibu-ibu yang memeriksakan kehamilannya atau hendak bersalin,
atau mereka yang memerlukan pelayanan kontrasepsi. Petugas kesehatan di pelayanan KIA &
KB tersebut perlu meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien/
individu berkenaan dengan pelayanan yang didapatnya. Jika belum mampu, dapat dilimpahkan
ke klinik khusus.Pihak yang paling berpengaruh terhadap pasien/individu yang mendapat
pelayanan KIA& KB, juga orang yang mengantarkannya ke puskesmas. Oleh perlu dipasang

poster-poster atau disediakan selebaran-selebaran (leaflets) tentang berbagai penyakit, khususnya


yang menyerang bayi dan balita. Disamping itu, tentang pentingnya memeriksakan kehamilan
secara teratur, pentingnya tablet Fe bagi ibu hamil, pentingnya imunisasi lengkap bagi bayi,
pentingnya pemberian ASI eksklusif, pentingnya memantau tumbuh kembang balita, dan lainlain. Dengan mendapatkan informasi yang benar tentang berbagai hal tersebut, pengantar
diharapkan dapat membantu puskesmas memberikan informasi kepada pasien/ individu tersebut.
Pasien/individupun merasa dalam suatu lingkungan yang mendorongnya untuk berperilaku
sesuai yang dikehendaki untuk kesehatannya.
D. Di Ruang Perawatan Inap
Pemberdayaan terhadap pasien raawat inap dilakukan terhadap pasien ibu-ibu bersalin,
pasien yang sudah dalam fase penyembuhan dan pasien penyakit kronis (kanker, tuberculosis,
dan lain-lain). Tujuannya adalah agar pasien tidak kambuh dan dapat menjaga kesehatannya
setelah pulang kerumah terutama bagi paasien yang menderita penyakit kronis. Beberapa cara
pemberdayaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Di tempat tidur
Penyuluhan ditempat tidur dilakukan terhadap pasien rawat inap yang belum dapat atau masih
sulit meninggalkan tempat tidurnya dan harus terus berbaring. Dalam hal ini petugas kesehatan
puskesmas mendatangi pasien/individu, duduk disamping tempat tidur pasien tersebut, dan
melakukan penyuluhan. Oleh karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, maka alat
peraga atau medis komunikasi yang digunakan haruslah yang mudah dibawa-bawa seperti
lembar balik (flash cards), gambar-gambar atau foto-foto. Alat peraga tersebut sebaiknya sedikit
mencantumkan kata-kata atau kalimat.
Penggunaan Bahan Bacaan (Biblioterapi)
Bahan-bahan bacaan sebagai sarana untuk membantu proses penyakit yang diderita pasien rawat
inap puskesmas. Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, perpustakaan-perpustakaan
yang

dimiliki Puskesmas

tidak

hanya

berperan

dalam

mendukung

perkembangan

pengetahuan petugas, melainkan juga dalam upaya penyembuhan pasien. Para pasien boleh
meminjam bacaan yang diminati untuk beberapa lama,dan mengembalikan bahan bacaan, bagi
pasien yang tidak dapat membaca (misalnya karena sakit mata), maka biblioterapi dapat
digabung dengan bedside health promotion. Dalam hal ini petugas kesehatan membantu pasien
mebacakan sambil melakukan promosi kesehatan.

Penyuluhan Berkelompok
Terdapat pasien yang dapat meninggalkan tempat tidurnya dalam waktu singkat, dapat dilakukan
promosi kesehatan secara berkelompok (3-6 orang). Untuk itu di bangsal perawatan yang
bersangkutan harus disediakan suatu tempat atau ruangan untuk berkumpul. Penyuluhan
berkelompokk ini selain untuk meningkatkan pengetahuan serta karena itu, kegiatan ini lebih
bersifat menghibur, santai dan dapat diselingi rekreasi. Untuk penyuluhan berkelompok
sebaiknya menggunakan media komunikasi untuk kelompok juga menggunakan metode yang
bersifat menghibur seperti permainan, simulasi. Lebih baik digunakan media yang lebih besar
seperti flipchart, poster, atau standing banner. Jika penyuluhan berkelompok digunakan
diruangan, dapat digunakan laptop, LCD proyektor dan layarnya untuk menayangkan gambargambar atau film.
Pemanfaatan Ruang Tunggu
Ruang tunggu dapat digunakan sebagai sarana bina suasana terutama untuk para penjenguk
yang datang beberapa saat sebelum waktu kunjungan dimulai. Pada dinding ruang tunggu
dapat dipasang berbagai poster, disediakan boks berisi selebaran/leaflet yang dapat diambil
secara gratis. Dengan berbagai informasi tersebut diharapkan para penjenguk mendapat
informasi yang nantinya dapat disampaikan juga kepada pasien yang akan dijenguknya.
Pendekatan keagamaan
Suasana yang mendukung terciptanya perilaku untuk mempercepat penyembuhanpenyakit
dapat dilakukan pula dengan pendekatan keagamaan. Dalam hal ini para petugas kesehatan
baik dengan upaya sendiri ataupun dengan dibantu pemuka agama, mengajak pasien unttk
melakukan pembacaan doa-doa. Rujukan terhadap kitab suci untuk memperkuat nasihat
biasanya dilakukan, sehingga pasienpun merasa lebih yakin akan kebenaran perilaku yang harus
dilaksanakannya untuk mempercepat penyembuhan penyakitnya.
Di Laboratorium
Kesadaran yang ingin diciptakan dalam diri masyarakat

(pasien/orang

sakit,

individu/pengunjung/orang sehat, dan para pengantarnya) adalah pentingnya melakukan


pemeriksaan laboratorium, yaitu :
1. Bagi pasien adalah untuk ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh dokter
2. Bagi pengunjung yang sehat lainnya adalah untuk memantau kondisi kesehatan, agar dapat
diupayakan untuk tetap sehat
Dikawasan laboratorium sebaiknya dilakukan promosi kesehatan dengan media yang bersifat
self service seperti poster yang dapat dibaca atau leaflets yang dapat diambil gratis.
Di Kamar Obat

Dikamar obat juga dijumpai pasien/individu, keluarga atau pengantarnya. Kesadaran yang
ingin diciptakan dalam diri mereka adalah terutama tentang :
o Manfaat obat generik dan keuntungan jika menggunakan obat generik.
o Kedisiplinan dan kesabaran dalam menggunakan obat, sesuai dengan petunjuk dokter
o Pentingnya memelihara taman obat keuarga (TOGA) dalam rangka memenuhi kebutuhan
akan obat-obat sederhana.
Disamping dipasang poster dan disediakan leaflet tentang informasi kesehatan, di ruang iini
dapat dioperasikan tape recorder atau player yang menyampaikan pesan-pesan tersebut.
Di Klinik Khusus
Klinik khusus diselenggarakan dalam rangka meningkatkan upaya promosi kesehatan di dalam
gedung puskesmas. khususnya untuk pelayanan-pelayanan yang perlu mendapat tambahan dalam
hal promosi kesehatannya. Biasanya karena pasien terlalu banyak sedangkan petugas kesehatan
yang melayani terbatas (misalnya di poliklinik), atau karena pasien dan keluarganya
memerlukan informasi/konsultasi khusus (misalnya tentang sanitasi/kesehatan lingkungan,
gizi, KB, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan lain-lain). Dalam hal iini beberapa puskesmas
mengembangkan klinik-klinik khusus sebagai upaya inovasi, seperti misalnya : Klinik Gizi,
Klinik Sanitasi, Klinik Konsultasi Remaja, dan lain-lain.Kegiatan promosi kesehatan yang
diselenggarakan diklinik khusus umumnya adalah berupa layanan konseling. Umumnya
pelayanan disini berupa membantu upaya pemecahan masalah yang dirujuk dari poliklinik atau
pelayanan KIA & KB.Beberapa prinsip pemberian informasi melalui konseling kepada
pasien/individu yang perlu diperhatikan adalah :
a) Memberikan suasana gembira dan semangat hidup
Pada saat memulai pemberian informasi, sebaiknya petugas tidak langsung mengungkap
masalah, kelemahan, atau kekeliruan pasien/individu. Perbincangan harus diawali dengan
situasi yang menggembirakan, karena situasi yang demikian membuat pasien/masyarakat
menjadi tertarik untuk terlibat dalam perbincangan, selanjutnya pasien/individu diajak untuk
mengungkapkan sendiri masalah, kelemahan atau kekeliruannya.
b) Menghargai pasien/klien sepenuh hati
Menghargai pasien/individu adalah syarat utama untuk terjadinya hubungan yang baik dan
terbuka caranya dengan memberikan ucapan dan bahasa tubuh yang menghargai.
c) Melihat pasien/individu sebagai subyek
Petugas kesehatan puskesmas harus mengendalikan kecenderungan keinginannya untuk
menasihati.

Upayakan

agar

pasien

berbicara sebanyak-banyaknya

tentang

dirinya.

Sementara itu pembicaraan diarahkan kepada pemecahan masalah yang dihadapi. Dengan

demikian resep pemecahan masalah itu datang dari diri pasien/individu itu sendiri. Hal ini
akan menjadi komitmen dari pasien untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut.
d) Mengembangkan dialog yang menyentuh perasaan
Dalam hubungan yang baik, petugas kesehatan puskesmas selalu berusaha untuk
mengemukakan kata-kata yang menyentuh perasaan pasien/individu. Banyak petugas kesehatan
menggunakan pendekatan agama untuk membuat pasien/individu tersentuh.
e) Memberikan keteladanan
Keteladanan sikap dan perilaku petugas kesehatan puskesmas dapat menyentuh perasaan
pasien/individu. Keteladanan memang merupakan sugesti yang cukup kuat untuk berubah kearah
positif. Motivasi untuk berubah itu disebabkan oleh kepribadian, wawasan, keterampilan dan
kebajikan tenaga kesehatan terhadap pasien/individu.
E. Dihalaman
Dihalaman puskesmas yaitu ditempat parkir, taman, dinding, pagar, kantin/kios, dan tempat
ibadah dapat dilakukan promosi kesehatan.
Di Tempat Parkir Puskesmas
Tempat parkir Puskesmas sebaiknya dilakukan promosi kesehatan yang bersifat umum. Misalnya
tentang pentingnya melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seruan Presiden
tentang Kesehatan, Himbauan untuk menggunakan obat generic berlogo, bahaya merokok,
bahaya mengkonsumsi minuman keras, bahaya menyalahgunakan napza, dll. Pesan tersebut
ditampilkan dalam bentuk baliho/billboard.
Di Taman Puskesmas
Taman puskesmas memang diperlukan guna memperindah pemandangan disekitar puskesmas,
namun demikian, taman ini sebenarnya digunakan sebagai sarana memperkenalkan berbagai
jenis tanaman yang berkhasiat obat. Jika demikian, taman tersebut dapat dikatakan sebagai
Taman Obat Keluarga (TOGA). Ditaman puskesmas, sekaligus ditunjukkan jenis tanaman
dengan kandungan gizinya, bahkan dapat ditampilkan berbagai hewan sumber protein hewani,
kolam beserta ikan sungguhan juga dapat dibuat guna menambah keindahan taman.
Di Dinding Puskesmas
Dinding puskesmas dapat ditampilkan pesan promosi kesehatan misalnya dalam bentuk poster,
agar penampilan pesan tidak merusak keindahan disarankan tidak banyak memasang poster di
dinding.
F. Di pagar Pembatas Kawasan Pusekesmas

Pada saat-saat tertentu, misalnya kampanye Hari Kesehatan Nasional, kampanye Hari AIDS, dll,
dapat dipasang spanduk, pemasangan spanduk ini juga harus diperhatikan agar tidak merusak
pemandangan.
G. Di Kantin Pembatas Kawasan Puskesmas
Pesan yang ditampilkan di sarana ini disesuaikan dengan fungsi sarana, misalnya di kantin,
sebaiknya ditampilkan pesan yang berkaitan dengan konsumsi gizi seimbang, di kios bacaan
ditampilkan pesan tentang bagaimana membaca secara sehat (agar tidak merusak mata), dan
lain-lain. Bentuk media komunikasi yang cocok seperti poster atau neon box, dan leaflet, brosur
atau selebaran yang dapat diambil secara gratis
H. Di Tempat Ibadah
Tempat ibadah di Puskesmas biasanya untuk kepentingan individu atau kelompok kecil, seperti
musholla. Pesan yang disampaikan sebaiknya berupa pesan-pesan untuk kesehatan jiwa dan
pentingnya menjaga kebersihan/ kesehatan lingkungan.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Puskesmas sebagai penanggung jawab penyelenggara upaya kesehatan terdepan,
kehadirannya ditengah masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan
bagi masyarakat, tetapi juga sebagai pusat komunikasi masyarakat. Disamping itu, keberadaan
Puskesmas disuatu wilayah dimanfaatkan sebagai upaya-upaya pembaharuan (inovasi) baik di
bidang kesehatan masyarakat maupun upaya pembangunan lainnya bagi kehidupan masyarakat
sekitarnya, sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu
keberadaan Puskesmas dapat diumpamakan sebagai agen perubahan di masyarakat
sehingga masyarakat lebih berdaya dan timbul gerakan-gerakan upaya kesehatan yang bersumber
pada masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128/Menkes/SK/
II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. yang menjelaskan bahwa

Puskesmas mempunyai tiga fungsi yaitu 1) sebagai Pusat

penggerak

pembangunan

berwawasan kesehatan; 2) Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat; 3) pusat pelayanan


kesehatan strata pertama. Namun dalam pelaksanaannya puskesmas masih menghadapi berbagai
masalah antara lain : 1) kegiatan yang dilaksanakan di puskesmas kurang berorientasi pada
masalah dan kebutuhan masyarakat setempat tapi lebih berorientasi pada pelayanan kuratif bagi
pasien yang datang ke Puskesmas; 2) keterlibatan masyarakat yang merupakan andalan
penyelenggaraan pelayanan kesehatan tingkat pertama belum dikembangkan secara optimal.
Sampai saat ini puskesmas kurang berhasil menumbuhkan inisiatif masyarakat dalam
pemecahan masalah dan rasa memiliki puskesmas serta belum mampu mendorong kontribusi
sumberdaya dan masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
Saran
Semoga dengan adanya makalah ini kita dapat terbantu dalam penugupayaan peningkatan
SDM khususnya dalam bidang kesehatan, dan dapat membantu kami dalam proses pembelajaran
dalam mata kuliah Komunitas II.

DAFTAR PUSTAKA
Kepmenkes RI No. 585/MENKES/SK/V/2007, Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di
Puskesmas, Jakarta, Depkes RI, 2008
Prof.Dr.Sokekidjo Notoatmodjo,SKM, M.Com.H, Promosi Kesehatan, Teori dan Aplikasi, Jakarta,
PT.Rineka Cipta, 2005.

Minggu, 10 November 2013


Surveilans Epidemiologi HIV/AIDS

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI
HIV/AIDS

Pengertian Surveilans HIV/AIDS


Surveilans HIV/AIDS adalah metode untuk mengetahui tingkat masalah melalui
pengumpulan data yang sistematis dan terus menerus terhadap distribusi dan
kecenderungan infeksi HIVdan penyakit terkait lainnya.
Tujuan Surveilans HIV/AIDS
Tujuan Umum :
Tujuan surveilans HIV/AIDS adalah untuk memperoleh gambaran epidemiologi tentang
infeksi HIV/AIDS di Indonesia untuk keperluan perencanaan, pelaksanaan, dan
pemantauan program.

Tujuan Khusus :

Mengetahui prevalensi infeksi HIV/AIDS pada kelompok sub populasi tertentu


yaitu pada kelompok berperilaku risiko tinggi dan perilaku risiko rendah pada
lokasi tertentu.

Memantau kecenderungan infeksi HIV/AIDS berdasarkan waktu, tempat dan


orang.

Penyebaran Infeksi HIV/AIDS pada kelompokkelompok sub populasi tertentu


berdasarkan waktu perlu dipantau dengan seksama.

Memantau dampak program.

Menyediakan data untuk proyeksi kasus HIV / AIDS di Indonesia.

Menggunakan data prevalensi untuk keperluan advokasi.

Menyediakan informasi untuk perencanaan pelayanan kesehatan.

Manfaat Surveilans HIV/AIDS


1. Melakukan pengamatan dini yaitu Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) HIV/AIDS di
Puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya dalam rangka mencegah
Kejadian Luar Biasa (KLB) HIV/AIDS.
2. Dapat menjelaskan pola penyakit HIV/AIDS yang sedang berlangsung yang dapat
dikaitkan dengan tindakan tindakan/intervensi kesehatan masyarakat. Contoh
kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Deteksi perubahan akut dari penyakit HIV/AIDS yang terjadi dan distribusinya.
b. Identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit HIV/AIDS.
c. Identifikasi dan faktor risiko dan penyebab lainnya, seperi vektor yang dapat
menyebabkan sakit dikemudian hari.
d. Deteksi perubahan pelayanan kesehatan.
3. Dapat mempelajari riwayat alamiah dan epidemiologi penyakit HIV/AIDS, khususnya
untuk mendeteksi adanya KLB/wabah. Pemahaman melalui riwayat penyakit, dapat
memberikan manfaat sebagai berikut :

a. Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi


kesehatan masyarakat.
b. Membantu untuk mengidentifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi.
c. Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit HIV/AIDS yang
sedang dilaksanakan.
4. Memberikan informasi dan data dasar untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan
kesehatan dimasa mendatang.
Data dasar penyakit HIV/AIDS sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk
mengevaluasi hasil akhir intervensi yang diberikan. Dengan semakin kompleksnya
pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, maka diperlukan data
yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis
dan dapat dibuktikan dengan data (angka).
5. Dapat membantu pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan
membandingkan besarnya masalah kejadian penyakit HIV/AIDS sebelum dan sesudah
pelaksanaan program.
6. Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat tinggal
dimana penyakit HIV/AIDS sering terjadi dan variasi terjadinya dari waktu ke waktu
(musiman, dari tahun ke tahun), dan cara serta dinamika penularan penyakit menular.
7. Menghasilkan informasi yang cepat dan akurat yang dapat disebarluaskan dan
digunakan sebagai dasar penanggulangan HIV/AIDS yang cepat dan tepat, yaitu
melakukan perencanaan yang sesuai dengan permasalahannya.

Epidemiologi HIV/AIDS

Pada tahun 1992, sekurang-kurangnya 12,9 juta penduduk dunia terinfeksi


dengan HIV termasuk anak-anak, dan dari jumlah ini sebanyak 2,58 juta telah menjadi
penderita AIDS dengan CFR sebesar 98,9%.
Berdasarkan laporan dari UNAIDS (2004), prevalensi pengidap HIV dewasa (1549 tahun) di wilayah Sub Sahara Afrika sebesar 7,4%. Benua Afrika didiami oleh 10%
jumlah populasi dunia, namun di saat yang sama, 60% dari jumlah populasinya
telah mengidap AIDS. Demikian juga dengan prevalensi pengidap HIV dewasa (15-49
tahun) di Amerika Utara sebesar 0,6% dan di Eropa Barat sebesar 0,3%. Berdasarkan
laporan dari Dirjen PP dan PL Depkes RI (2006), prevalensi kasus AIDS secara
nasional sebesar 3,47 per 100.000 penduduk dengan prevalensi kasus tertinggi
dilaporkan dari Propinsi Papua yaitu sebesar 50,94 per 100.000 penduduk dan
disusul dengan Propinsi Jakarta dengan prevalensi sebesar 28,73 per 100.000
penduduk.
Berdasarkan Profil Kesehatan Nasional Tahun 2005, kasus AIDS tertinggi
dilaporkan berada pada golongan umur 20-39 tahun (79,98%) dan 40-49 tahun (8,47%)
sedangkan berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI (2007), rasio kasus
AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 4,07:1.
Berdasarkan profil tersebut juga dinyatakan bahwa penularan HIV/AIDS
terbanyak adalah melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bersama
pada IDU. Kelompok umur 20-49 tahun merupakan kelompok umur yang aktif dalam
aktivitas seksual dan pengguna IDU juga didominasi oleh kelompok umur produktif.
a.

Distribusi dan Frekuensi HIV/AIDS

Berdasarkan Orang
Menurut Chin (2000), tidak diketahui adanya kekebalan orang terhadap infeksi
HIV/AIDS, tetapi kerentanan setiap orang terhadap HIV/AIDS diasumsikan bersifat
umum, tidak dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin dan kehamilan, sehingga setiap orang
mungkin untuk terserang HIV/AIDS.
Penelitian Hall dkk tahun 2005 dalam Journal Acquired Immune Deficiency
Sindrome (2009) di 33 negara bagian Amerika Serikat, diperoleh bahwa Ras Kulit hitam
9 kali berisiko menderita AIDS dibanding Ras Kulit putih dengan Resiko Relative (RR)
9,16 dan Ras Hispanik mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi daripada Ras Kulit Putih (RR
3,05). Risiko menderita AIDS 2 kali lebih tinggi pada orang Indian Amerika/penduduk
asli Alaska dari pada orang Asia/Kepulauan Pasifik (RR 2,05). Di Canada, RR AIDS 5,5
kali lebih tinggi pada Ras Kulit hitam dibandingkan pada Ras Kulit putih (RR 5,54) dan
4 kali lebih tinggi pada orang Aborigin dibandingkan IR Ras Kulit putih (RR 4,36).

Berdasarkan data UNAIDS (2008), 67% infeksi HIV di dunia terdapat di Sub-Sahara
Afrika. Dari 2,7 juta kasus baru pada tahun 2008, 68% terdapat pada orang dewasa.
Sebesar 6,4% prevalensi HIV terdapat pada perempuan.
Berdasarkan data dari Ditjen PP & PL Depkes RI (2009), terdapat 19.973 jumlah
kumulatif kasus AIDS dengan 49,07% terdapat pada kelompok umur 20-29 tahun,
30,14% pada kelompok umur 30-39 tahun, 8,82% pada kelompok umur 40-49 tahun,
3,05% pada kelompok umur 15-19 tahun, 2,49% pada kelompok umur 50-59 tahun,
0,51% pada kelompok umur > 60 tahun, 2,65% pada kelompok umur < 15 tahun dan
3,27% tidak diketahui. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1.
Menurut laporan Ditjen PP & PL Depkes RI (2009), 40,2% penderita AIDS terdapat
pada kelompok Pengguna Napza Suntik atau IDU. Kumulatif kasus AIDS pada Pengguna
Napza Suntik di Indonesia hingga tahun 2009 adalah 7.966 kasus, 7.312 kasus adalah
laki-laki (91,8%), 605 kasus perempuan (7,6%) dan 49 kasus tidak diketahui jenis
kelaminnya (0,6%). 64,1% terdapat pada kelompok umur 20-29 tahun, 27,1% pada
kelompok umur 30-39 tahun, 3,5% pada kelompok umur 40-49 tahun, 1,5% pada
kelompok umur 15-19 tahun, 0,6% pada kelompok umur 50-59 tahun, pada kelompok
umur 5-14 tahun dan >60 tahun masing-masing 0,1% dan 2,8% tidak diketahui
kelompok umurnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Hamdan di Kota Batam (2003), desain case series,
terdapat 164 penderita HIV/AIDS, 126 penderita (76,9%) berada pada kelompok umur
20-40 tahun, 62,8% berjenis kelamin perempuan, 37,2% berjenis kelamin laki-laki,
berpendidikan SLTP 33,5%, SLTA 32,3%, SD 19,5%, tidak sekolah 12,2% dan
berpendidikan Akademi/PT 2,4%.26.
Berdasarkan data dari Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) Dinas Kesehatan Provinsi
Sumatera Utara (2009), sejak 1992 hingga April 2009 terdapat 1.680 jumlah kumulatif
HIV/AIDS, 1.339 kasus pada pria (79,70%) dan 341 kasus pada perempuan (20,30%),
921 kasus pada kelompok umur 20-29 tahun (54,82%) dan 523 kasus pada kelompok
umur 30-39 tahun (31,13%), 121 kasus pada kelompok umur 40-49 tahun (7,20%), 46
kasus pada kelompok umur 10-19 tahun (2,74%), 41 kasus pada kelompok umur >50
tahun (2,44%), 8 kasus pada kelompok umur 1-4 tahun (0,47%), masing-masing 5 kasus
pada kelompok umur 5-9 tahun dan <1 tahun (0,29%).

Berdasarkan Tempat
Menurut data dari Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) tahun 2008,
di kawasan Sub-Sahara Afrika terdapat 22,4 penderita HIV/AIDS, dengan PR pada
orang dewasa sebesar 5,2%. Di Asia Selatan dan Asia Tenggara terdapat 3,8 juta ODHA
dengan PR pada orang dewasa sebesar 0,3%. Di Asia Timur terdapat 850.000 penderita
HIV/AIDS dengan jumlah kematian 59.000 kasus.Menurut Chin (2000), dari sekitar 33,4
juta penderita HIV/AIDS di dunia tahun 1999, 22,5 juta diantaranya terdapat di
negara-negara Sub-Sahara Afrika, dan 6,7 juta ada di Asia Selatan dan Asia Tenggara,
1,4 juta terdapat di Amerika Latin dan 665.000 di AS.
Berdasarkan data SEARO (2009), prevalensi HIV/AIDS lebih tinggi di daerah
perkotaan daripada di daerah pedesaan. Berdasarkan hasil survei rumah tangga yang
dilakukan di enam kota di India, ditemukan bahwa prevalensi HIV/AIDS 40% lebih
tinggi di perkotaan dibanding dengan daerah pedesaan. Pada tahun 2008, dari 96
kasus baru yang dilaporkan di Sri Lanka, 61% berasal dari Colombo yang merupakan
ibukota Sri Lanka.
Berdasarkan data dari Ditjen PP & PL Depkes RI (2009), tercatat 19.973 kumulatif
kasus AIDS terjadi di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Provinsi
dengan rate kumulatif kasus AIDS per 100.000 penduduk tertinggi adalah Papua
(133,07), Bali (45,45), DKI Jakarta (31,67), Kepulauan Riau (22,23) Kalimantan Barat
(16,91), Maluku (14,21), Bangka Belitung (11,36), Papua Barat dan Jawa Timur (8,93)
dan Riau (8,36). Provinsi yang memiliki proporsi AIDS terbanyak hingga Desember 2009
adalah Jawa Barat (18,01%), Jawa Timur (16,16%), DKI Jakarta (14,16%), Papua
(14,05%), dan Bali (8,09%). Pada kelompok pengguna napza suntik, proporsi AIDS
terbanyak dilaporkan dari Provinsi Jawa Barat 32,99%, DKI Jakarta 25,13%, Jawa Timur
12,82%, Bali 3,27%, Sumatera Barat 2,81%.
Berdasarkan Waktu
AIDS atau SIDA (Sindrom Imuno Defisiensi Akuisita) adalah suatu penyakit yang
dengan cepat telah menyebar ke seluruh dunia (pandemik). Sejak ditemukan kasus
AIDS pertama di Indonesia tahun 1987, perkembangan jumlah kasus HIV/AIDS yang

dilaporkan di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Sampai dengan


tahun 1990 perkembangan kasus AIDS masih lambat, namun sejak tahun 1991 jumlah
kasus AIDS lebih dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kasus AIDS sejak awal tahun
2006 sampai 31 Desember 2006 mencapai 2.873 kasus mengalami peningkatan 235
kasus dari tahun sebelumnya.
Menurut data dari Ditjen PPM & PL Depkes RI (2009), trend kecenderungan jumlah
kasus AIDS senantiasa mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 terdapat 2.639 kasus
baru, tahun 2006 meningkat menjadi 2.873 kasus baru, tahun 2007 meningkat menjadi
2.947 kasus baru, pada tahun 2008 meningkat menjadi 4.969 kasus baru, hingga tahun
2009 terdapat 3.863 kasus baru. Sampai 31 Desember 2009 secara kumulatif pengidap
infeksi AIDS menjadi 19.973 kasus.
b.

Determinan HIV/AIDS
Agent
HIV merupakan virus penyebab AIDS termasuk Retrovirus yang sangat mudah
mengalami mutasi sehingga sulit untuk menemukan obat yang dapat membunuh, virus
tersebut. Daya penularan pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada
didalam darahnya, semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin
tinggi daya penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. Virus HIV atau
virus AIDS, sebagaimana Virus lainnya sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di
luar tubuh. Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60 selama 30 menit,
dan lebih cepat dengan mendidihkan air. Seperti kebanyakan virus lain, virus AIDS ini
dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan
dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan
lain.

Host
Distribusi penderita AIDS di Amerika Serikat Eropa dan Afrika tidak jauh
berbeda kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. Hal ini membuktikan
bahwa transmisi seksual baik homoseksual maupun heteroseksual merupakan pola
transmisi utama. Mengingat masa inkubasi AIDS yang berkisar dari 5 tahun ke atas
maka infeksi terbesar terjadi pada kelompok umur muda/seksual paling aktif yaitu 20-

30 tahun. Pada tahun 2000 diperkirakan Virus AIDS menular pada 110 juta orang
dewasa dan 110 juta anak-anak. Hampir 50% dari 110 juta orang itu adalah remaja
dan dewasa muda usia 13 -25 tahun. Informasi yang diperoleh dari Pusat AIDS
International fakultas Kesehatan Masyarakatat Universitas Harvard, Amerika Serikat
sejumlah orang yang terinfeksi virus AIDS yang telah berkembang secara penuh akan
meningkat 10 kali lipat.

Environment
Lingkungan biologis sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan
penyebaran AIDS. Lingkungan biologis adanya riwata ulkus genitalis, Herpes Simpleks
dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positip akan meningkatkan prevalensi HIV
karena luka-luka ini menjadi tempat masuknya HIV. Faktor biologis lainnya adalah
penggunaan obat KB. Pada para WTS di Nairobi terbukti bahwa kelompok yang
menggunakan obat KB mempunyai prevalensi HIV lebih tinggi.
Faktor sosial, ekonomi, budaya dan agama secara bersama-sama atau sendirisendiri sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual masyarakat. Bila semua faktor
ini menimbulkan permissiveness di kalangan kelompok seksual aktif, maka mereka
sudah ke dalam keadaan promiskuitas.

Konsep Surveilans HIV dan AIDS


Dasar surveilans
a. Prosedur pemeriksaan darah untuk penderita AIDS adalah yang pertama harus mengisi
informed consent yang artinya ketersediaan subjek untuk diambil darahnya kemudian
diberikan konseling sebelum serta sesudah test terhadap subjek dan yang terpenting

harus rahasia agar subjek yag diambil darahnya merasa nyaman dan tidak timbul rasa
khawatir misalnya tidak di beri nama bisa langsung nama kota atau nama samara saja.
b. Cara pencatatan kasus surveilans AIDS yaitu yang pertama malakukan pemeriksaan
fisik terhadap penderita yang mencurigakan terkena AIDS seperti terdapat 2 tanda
mayor serta 1 tanda minor, kedua yaitu pemeriksaan laboratorium untuk menguatkan
dugaan terhadap penderita, selanjutnya pemeriksaan laboratorium akan menghasilkan
data apakah penderita positif AIDS atau tidak. Apabila penderita positif menderita
AIDS maka wajib mengisi formuir penderita AIDS agar semua kasus dapat dilaporkan
baik yang sudah meninggal atau yang masih hidup, untuk yang sudah meninggal
meskipun sebelumnya sudah lapor pada saat meninggal juga wajib lapor, karena
penguburan mayat positif AIDS berbeda dengan yang biasa.
c. Pelaporan kasus surveilans AIDS yaitu dengan menggunakan formulir dari laporan
penderita positif AIDS yang kemudian laporan kasus ini dikirim secepatnya tanpa
menunggu suatu periode waktu dan harus dilaporkan pada saat menemukan penderita
positif AIDS bisa melalui fax atau email untuk sementara tetapi kemudian disusul
dengan data secara tertulis.
Pedoman Surveilans Sentinel HIV
a.

Pengumpulan Data
Data kasus HIV dapat diperoleh melalui laporan hasil pemeriksaan HIV oleh
Laboratorium yang meliputi kode spesimen yaitu : Kabupaten/ Kota, sub-populasi
sasaran, golongan umur, jenis kelamin, bulan dan tahun pemeriksaan. Laporan Balai
Laboratorium Kesehatan ini akan dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/
Kota, dengan tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Ditjen PPM & PL-Dit P2ML
minat Subdit AIDS& PMS di Jakarta. Laporan hasil pemeriksaan HIV dan sifilis dikirim
dengan memakai formulir HIV-2.
Kemudian Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota mengirimkan laporan tersebut
dari kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan tembusan ke Ditjen PPM & PL
minat Subdit AIDS & IMS langsung setelah menerima hasil laboratorium. Dinas
Kesehatan Provinsi akan memakai Laporan Surveilans Sentinel HIV tersebut sebagai

data dasar untuk dimasukkan kedalam program komputer SSHIV yang menjadi pusat
pengolahan data surveilans sentinel HIV di provinsi.
Data yang dikumpulkan tersebut pada umumnya bukan merupakan populasi
sasaran surveilans sentinel HIV misalnya: Data darah donor dari UTD/ UTDP dan Data
dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berangkat ke luar negeri.
b.

Kompilasi Data
Semua data yang dikumpulkan dari lapangan (dari masing-masing sub- populasi
sentinel) diolah dengan menggunakan SSHIV oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
dan Provinsi, selanjutnya Dinas Kesehatan Provinsi akan melakukan kompilasi hasil
pengumpulan data dari lapangan dan dari Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi di
tingkat Provinsi. Hasil olahan ini akan dikirimkan ke Ditjen PPM& PL - Dit P2ML, cq
Subdit AIDS& IMS untuk dilakukan analisis di tingkat nasional.

c.

Analisis Data
Di kabupaten/ kota dan provinsi pengelola program PMS dan HIV/AIDS melakukan
analisis sederhana supaya bisa menunjukkan tren/ kecenderungan prevalens HIV pada
setiap sub- populasi sentinel menurut waktu dan tempat dengan menggunakan grafikgrafik sederhana. Di tingkat pusat, data yang terkumpul dari semua daerah akan
disimpan di Subdit AIDS & PMS Ditjen PPM & PL DepKes RI. Data tersebut akan
dianalisis untuk melihat tren/ kecenderungan prevalens infeksi HIV berdasarkan
orang, waktu dan tempat dalam bentuk grafik dan ditambahkan penjelasan.

d. Interprestasi Data
Data surveilans sentinel HIV harus diinterpretasikan untuk menilai seberapa cepat
peningkatan atau penurunan prevalens HIV pada berbagai sub-populasi sasaran di
daerah masing-masing (populasi sentinel).
e.

Umpan Balik Data


Direktorat P2ML cq. Subdit AIDS& PMS akan memantau pelaporan pelaksanaan
kegiatan surveilans HIV di seluruh wilayah yang melaksanakan kegiatan surveilans

sentinel HIV. Selanjutnya mereka akan membuat laporan singkat hasil surveilans
sentinel. Laporan singkat tersebut akan dikirimkan kepada semua pihak yang terkait
baik di tingkat nasional maupun di tingkat provinsi/kabupaten/kota yang terkait.
Dinas Kesehatan Provinsi juga perlu membuat laporan singkat yang berasal dari
kabupaten/ kota setempat, dan mengirimkannya kepada semua pihak yang terkait di
provinsi tersebut. Laporan umpan balik tersebut memuat interpretasi analisis data
sentinel surveilans HIV:

f.

Ringkasan hasil prevalens HIV menurut populasi sentinel dan waktu:


tren/kecenderungan peningkatan atau penurunan prevalens infeksi-HIV pada
masing-masing populasi sentinel yang dipilih pada masing-masing wilayah.

Bila tersedia, hasil surveilans perilaku dilaporkan bersamaan hasil sero


surveilans sentinel HIV.

Monitoring
Monitoring merupakan pengawasan rutin terhadap informasi penting dari kegiatan
surveilans sentinel yang sedang dilaksanakan dan hasil-hasil program yang harus
dicapai. Pada pelaksanaan surveilans sentinel, monitoring dilakukan pada prosesnya
melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, BLK dan Subdit AIDS& PMS
sesuai dengan protap.

g.

Evaluasi
Evaluasi kegiatan surveilans sentinel dilakukan pada tahap input, proses
pelaksanaan dan output.

Pada evaluasi input pemegang program HIV dari semua tingkat admisnistratif
perlu mengevaluasi berbagai kebutuhan. Petugas tersebut perlu melaksanakan
kerangka sampel yang benar dan pelaksanaan pemetaan lokasi sentinel. Hal
lain yang perlu diperhatikan adalah jumlah petugas kesehatan yang bermutu,
materi dan peralatan serta biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan lapangan.
Selain itu perlu diantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul dalam
pelaksanaan di lapangan.

Evaluasi proses pelaksanaan perlu dilakukan untuk mengetahui efektifitas


pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini evaluasi dilakukan terhadap siapa
melakukan apa dan bagaimana caranya. Evaluasi ini dilakukan untuk semua
petugas yang dilibatkan, seperti misalnya petugas pencatatan dan pelaporan,
petugas laboratorium. Misalnya apakah petugas pengambil spesimen darah
telah menggunakan prosedur yang benar dan telah melakukan pengkodean pada
setiap venoject berisi spesimen darah.

Evaluasi output mencerminkan evaluasi terhadap kegunaan data, kualitas data


dan cakupan surveilans sentinel. Evaluasi terhadap kegunaan hasil surveilans
dilakukan oleh setiap tingkat administrasi. Evaluasi ini dilakukan dengan
mengintrepretasikan tren/kecenderungan prevelans HIV pada sub-populasi yang
diamati. Sedangkan evaluasi terhadap kualitas surveilans sentinel ini dilakukan
untuk mengetahui seberapa valid data yang dihasilkan kegiatan sentinel
tersebut. Evaluasi tahap ini lebih dititip beratkan pada proses pelaksanaan
kegiatan. Evaluasi terhadap cakupan surveilans ini meliputi hal-hal yang
menghambat pelaksanaan sentinel seperti jarak antara petugas kesehatan dan
sentinel site, jadwal pelaksanaan, biaya pelaksanaan dan sosial budaya
setempat.

Indikator Surveilans Sentinel HIV


Indikator yang digunakan untuk mengukur kegiatan surveilans sentinel HIV adalah:
Indikator proses:
Semua kegiatan yang tercantum pada protap harus dimasukkan ke dalam daftar tilik
pada saat supervisi, dan menjadi indikator proses.
Indikator output:

1. Pencapaian populasi sentinel sesuai rencana, berdasarkan sub-populasi dan


lokasi
2. Ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan
3. Ketepatan waktu pelaporan hasil kegiatan

Prosedur dan Ketentuan Surveilans Sentinel HIV/AIDS


Prosedur pelaksanaan Surveilans Sentinel HIV adalah sebagai berikut :
1. Menentukan populasi sentinel berdasarkan sub-populasi sasaran dan lokasi
tertentu (misalnya : PSK, pengguna NAPZA suntik, narapidana pria, waria, ibu
hamil pengunjung klinik KIA yang ditetapkan sebagai lokasi sentinel, pasien IMS
pria pada klinik IMS, pria dengan mobilitas tinggi).
2. Menentukan jumlah sampel yang akan diperiksa dari spesimen yang rutin
diambil pada sub-populasi dan lokasi tertentu tersebut. Spesimen rutin adalah
sample darah yang diambil untuk pemeriksaan rutin untuk tujuan lain, misanya
pada pemeriksaan sifilis rutin pada PSK atau pasien di klinik IMS.
3. Tes HIV/AIDS tersebut dilaksanakan secara unlinked anonymous (tanpa nama
dan tidak dapat dikaitkan dengan pemilik spesimennya) untuk mengurangi bias
partisipasi. Dengan cara ini identitas pasien tidak dapat diketahui, sehingga
hasil tes tidak dapat diberitahukan kepada pasien tersebut. Dengan kata lain
hasil yang didapatkan hanya jumlah yang positif bukan siapa yang positif.
4. Surveilans sentinel HIV/AIDS dimulai pada beberapa lokasi dan dikembangkan
berdasarkan kebutuhan.
5. Surveilans HIV/AIDS tidak dapat dan tidak boleh digunakan untuk pencarian
kasus HIV/AIDS.
6. Surveillans HIV/AIDS harus menjamin kerahasiaan identitas sasaran dengan cara
menghilangkan identitas masing-masing sasaran dari specimen yang diambil
untuk pemeriksaan HIV/AIDS.

Kelemahan Sistem Surveilans Epidemiologi HIV/AIDS :

1. Tenaga profesional serta sarana dan prasarana yang belum memadai untuk
pelaksanaan kegiatan surveilans epidemiologi HIV/AIDS.
2. Kesalahan pada Sumber Daya Manusia yang ada seperti kader/petugas
surveilans belum memasukkan data tepat waktu, ketepatan pelaporan masih
kurang, data sudah diolah tapi tidak dianalisis, petugas Puskesmas mengalami
hambatan menyebarkan informasi dalam pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS.
3. Penyajian hanya dibuat dalam bentuk table dan grafik.
4. Penyebaran informasi hanya dalam bentuk laporan tahunan dan penyuluhan,
belum pernah dibuat buletin epidemiologi.
5. Pelaksanaan atribut sistem belum sederhana.
6. Fleksibilitas, sensitivitas, Nilai Prediktif Positif dan kerepresentatifan belum
diukur.
7. Kurangnya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam program
pencegahan penyakit yang belum ada obatnya seperti HIV/AIDS.
8. Jumlah kasus yang dilaporkan semu (fenomena gunung es), lebih banyak yang
ditutupi atau tertutupi karena stigma yang timbul di masyarakat terhadap
penderita AIDS menyebabkan penderita atau mereka yang mungkin berisiko
terkena HIV lebih baik tidak memeriksakan dirinya sehingga kasus HIV/AIDS
tidak mudah dideteksi oleh sistem HIV/AIDS.

Kelebihan Sistem Surveilans Penyakit HIV/AIDS di Indonesia


Menurut Depkes RI (2006), kelebihan sistem survailens penyakit HIV/AIDS di Indonesia
meliputi:

1. Sistem surveilans HIV/AIDS di Indonesia sudah memantau seroprevalens HIV


pada suatu sub populasi tertentu.
2. Sistem surveilans HIV/AIDS sudah memantau tren/kecenderungan infeksi HIV
berdasarkan waktu dan tempat.
3. Sitem surveilans HIV/AIDS di Indonesia sudah memantau dampak program,
menyediakan data untuk estimasi dan proyeksi kasus HIV/AIDS di Indonesia,
menggunakan data prevalens untuk advokasi, nenyelaraskan program
pencegahan dengan perencanaan pelayanan kesehatan, dan menyediakan
informasi untuk program TB-HIV.
4. Sistem surveilans HIV/AIDS di Indonesia telah mendapat dukungan dari
pemerintah baik dalam kebijakan maupun komitmen politik, Bentuk
Penerimaan Sosial, Bentuk Dukungan Sistem.
5. Para petugas surveilans HIV/AIDS di Indonesia sudah mendapatkan pelatihan
dalam melakukan kegiatan survailens tersebut baik petugas provinsi,
kabupaten/kota, laboratorium,dan supervisi.
6. Syarat populasi survailens sudah ditentukan meliputi : dapat diidentifikasi,
dapat dijangkau untuk survei, terjaminnya kesinambungan survei pada populasi
l tersebut, jumlah anggota populasi tersebut cukup memadai, dan pada tempat
yang secara rutin darah diambil untuk tujuan lain.
7. Standarisasi waktu pengumpulan data sudah ditetapkan tergantung dari
kebutuhan
8. Manajemen data dilakukan pada setiap tingkat administratif kesehatan untuk
advokasi dan perencanaan program selanjutnya diman Prosesnya menggunakan
software SSHIV (Surveilans Sentinel HIV) yang telah disiapkan untuk
mempermudah tugas pencatatan dan pelaporan, maupun analisis, interpretasi,
dan data tersebut digunakan untuk menentukan intervensi selanjutnya.

9. Indikator dalam kegiatan survailens HIV/AIDS sudah ditentukan yaitu berupa


indikator proses dan indikator output.
10. Hasil survailens HIV/AIDS akan dievaluasi ulang oleh pihak terkait apabila
sudah memenuhi standar maka akan disebarluaskan ke publik.

Data Sistem Surveilans HIV/AIDS


LAPORAN SITUASI PERKEMBANGAN HIV DAN AIDS DI INDONESIA TAHUN 2013
oleh DITJEN PP&PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2013
Jumlah HIV dan AIDS yang Dilaporkan per Tahun sd Maret 2013

*Jumlah AIDS yang dilaporkan mengalami perubahan karena adanya validasi data
bersama Dinkes Provinsi pada Mei 2012
Persentase Infeksi HIV yang Dilaporkan Menurut Jenis Kelamin
Tahun 2008 2013

*sampai dengan Maret 2013


Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi, 2013
AIDS yang Dilaporkan Menurut Provinsi
Jumlah AIDS yang Dilaporkan Menurut Provinsi Tahun 1987- 2013

*sampai dengan Maret 2013


Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi, 2013
Sepuluh Provinsi dengan AIDS Case Rate Tertinggi sampai dengan Maret 2013

*sampai dengan Maret 2013


Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi, 2013

Fatah, Abdul., dr. 2006. Kewaspadaan Global TerhadapKeadaanDarurat : Flu burung / HIV dan AIDS.
http://www.amifrance.org/IMG/pdf_HM_IV_FINAL_VERSION_0806.pdf.

Diaksestanggal

November

2013.
Menkes. 2002. Pedoman Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.
http://www.aidsindonesia.or.id/uploads/20130802143002.Kepmenkes_Nomor_1285_MENKES_SK_X_2002
_Tentang_Pedoman_Penanggulangan_HIVAIDS_dan_Penyakit_Menular_Seksual.pdf. Diakses tanggal 7
November 2013.
Sidebang, P. 2011. HIV/AIDS (Distribusi dan Frekuensi). Fakultas Kedokteran : Universitas Sumatera Utara.
Melalui

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23458/4/Chapter%20II.pdf

diakses

08

November 2013.
Anastasya, G. 2010. Penelitian HIV/AIDS (Frekuensi dan Distribusi). Fakultas Kedokteran: Universitas Sumatera
Utara.

Melalui

November 2013.

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16364/4/Chapter%20II.pdf

diakses

08

Fatah, Abdul. 2006. Sistem Surveilans Sentinel HIV. Kewaspadaan Global Terhadap Keadaan Darurat: Flu
Burung

Hiv

Dan

Aids,

Edisi

4,

Oktober

2006,

h.

08.

Dalam

http://www.amifrance.org/IMG/pdf_HM_IV_FINAL_VERSION_0806.pdf. Diakses pada tanggal 07-11-2013


pukul 20:00 WIB
Susilowati E. (2006). Evaluasi Sistem Surveilans Sentinel HIV di Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Available ini
http://adln.fkm.unair.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=adlnfkm-adln-s2-2006-helensusil-445
(diakses tanggal 8 November 2013)
Muninjaya, Gde. (1999). Ebook Masalah AIDS di Indonesia : Masalah dan Kebijakan Penanggulangannya.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Depkes RI.2006. Surveilans HIV Generasi Kedua Pedoman Nasional Surveilans Sentinel HIV. Departemen
Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan available in
www.perpustakaan.depkes.go.id/cgi-bin/.../opac-search.pl?q...HIV
Depkes RI.2006. Surveilans HIV Generasi Kedua Pedoman Nasional Surveilans Sentinel HIV. Departemen
Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan available in
http://share.pdfonline.com/b2aaca3caf8844d3bc7713dbd8d6d390/BUKU%20SURVEILANS%20HIV
%20GENERASI%20KEDUA%5B1%5D.htm diakses pada tanggal 09-11-2013.

Promosi Kesehatan

1. Pengertian Promosi Kesehatan


Sehat :

Andrea Waas (1994), no examination of health promotion is possibly without first


considering what health is.

WHO, a complete state of physical, mental and social wellbeing, and not merely the
absence or infirmity

WHO (1986), a resource for everyday life, not the objective of living.

UU 23/1992, Keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial dan tidak hanya bebas
dari penyakit dan cacat, serta produktif secara ekonomi dan sosial.

Promosi Kesehatan :

Soekidjo Notoatmojo (2005) :

Pertama :
promosi kesehatan dalam konsep Level and Clark (4 tingkat pencegahan penyakit)
berarti peningkatan kesehatan.
Kedua :
upaya memasarkan, menyebarluaskan, memperkenalkan pesan-pesan kesehatan, atau upayaupaya kesehatan sehingga masyarakat menerima pesan-pesan tersebut.

WHO (1984), merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah promosi kesehatan,


kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya perubahan perilaku maka promosi
kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungan yang
memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.

Green (1984), promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan


kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang
dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan.

Ottawa Charter (1986), the process of enabling people to control over and improve
their health. (Proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan
melindungi kesehatannya).

Victorian Health Fundation Australia (1997),a program are design to bring about
change within people, organization, communities and their environment.

Bangkok Charter (2005), the process of enabling people to increase control over their
health and its determinants, and thereby improve their health

1. Tujuan Promosi Kesehatan


-

Memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.


Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
1. Sasaran Promosi Kesehatan

Secara prinsipil, sasaran promosi kesehatan adalah masyarakat. Masyarakat dapat dilihat dalam
konteks komunitas, keluarga maupun individu. Sasaran promosi kesehatan juga dapat
dikelompokkan menurut ruang lingkupnya, yakni tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan
tempat kerja, tatanan tempat-tempat umum, dan institusi pelayanan kesehatan.
1. Prinsip-prinsip Promosi Kesehatan
Promosi Kesehatan (Health Promotion), yang diberi definisi : Proses pemberdayaan
masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (the process of
enabling people to control over and improve their health), lebih luas dari Pendidikan atau
Penyuluhan Kesehatan. Promosi Kesehatan meliputi Pendidikan/ Penyuluhan Kesehatan, dan di
pihak lain Penyuluh/Pendidikan Kesehatan merupakan bagian penting (core) dari Promosi
Kesehatan.
Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai
dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap
perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan
Promosi Kesehatan juga berarti upaya yang bersifat promotif (peningkatan) sebagai
perpaduan dari upaya preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan)
dalam rangkaian upaya kesehatan yang komprehensif.
Promosi kesehatan, selain tetap menekankan pentingnya pendekatan edukatif yang
selanjutnya disebut gerakan pemberdayaan masyarakat, juga perlu dibarengi dengan upaya
advokasi dan bina suasana (social support).
Promosi kesehatan berpatokan pada PHBS yang dikembangkan dalam 5 tatanan yaitu di
rumah/tempat tinggal (where we live), di sekolah (where we learn), di tempat kerja (where we
work), di tempat-tempat umum (where we play and do everything) dan di sarana kesehatan
(where we get health services).
Pada promosi kesehatan, peran kemitraan lebih ditekankan lagi, yang dilandasi oleh
kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit).
Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan
Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.
Promosi Kesehatan sebenarnya juga lebih menekankan pada proses atau upaya, dengan
tanpa mengecilkan arti hasil apalagi dampak kegiatan. Jadi sebenarnya sangat susah untuk
mengukur hasil kegiatan, yaitu perubahan atau peningkatan perilaku individu dan masyarakat.
Yang lebih sesuai untuk diukur: adalah mutu dan frekwensi kegiatan seperti: advokasi, bina
suasana, gerakan sehat masyarakat, dll.

1. Metode dan Media Promosi Kesehatan


Metode :
1. Metode Promosi Individual
-

Bimbingan dan penyuluhan


Interview (wawancara)
1. Metode Promosi Kelompok

a)
b)
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Kelompok Besar
Ceramah
Seminar
Kelompok Kecil
Diskusi
Brain Storming
Snow Ball
Buzz Group
Role Play
Permainan Simulasi
1. Metode Promosi Kesehatan Massal

Public Speaking
Media Massa
Media :
Lihat Sukidjo (2005) halaman 290.
1. Sejarah Promosi Kesehatan
1. Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai
1960an)
Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan pertamanya
berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usahanya dengan mendorong
rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun
pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan Medisch Hygienische
Propaganda. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah
pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang
sakit. Timbullah gerakan, untuk mendirikan brigade sekolah dimana-mana.
Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar
1. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)
-

Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan 1960

Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)


1. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media Elektronik (1975-1995)

Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)


Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)
Munculnya Posyandu
Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif, sinetron dll)
1. Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)

Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada, munculnya istilah


promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986)
memuat 5 strategi pokok Promosi Kesehatan, yaitu : (1) Mengembangkan kebijakan yang
berwawasan kesehatan (healthy public policy); (2) Menciptakan lingkungan yang mendukung
(supportive environment); (3) Memperkuat gerakan masyarakat (community action); (4)
Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills) ; dan (5) Menata kembali arah
pelayanan kesehatan (reorient health services).
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia (1988)
Konferensi ini menekankan 4 bidang prioritas, yaitu: (1) Mendukung kesehatan wanita; (2)
Makanan dan gizi; (3) Rokok dan alkohol; dan (4) Menciptakan lingkungan sehat.
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval, Swedia (1991)
Konferensi ini mengemukakan 4 strategi kunci, yakni: (1) Memperkuat advokasi diseluruh
lapisan masyarakat; (2) Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga
kesehatan dan lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan; (3) Membangun aliansi;
dan (4) Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat.
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV di Jakarta, Indonesia (Jakarta Declaration
on Health Promotion, 1997)
Promosi Kesehatan abad 21 adalah :

Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan;

Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;

Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;

Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;

Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.

PROMOSI KESEHATAN SAAT INI


Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, sebagaimana
tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan.
Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya mengisi
pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.

Visi Promosi Kesehatan adalah: PHBS 2010, yang mengindikasikan tentang terwujudnya
masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner,
menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai.
Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin
diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang
garapan Promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari
dalam diri manusia dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenanya bersifat lebih
lestari.
Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah: (1) Memberdayakan individu, keluarga dan
masyarakat untuk hidup sehat; (2) Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi
terciptanya phbs di masyarakat; (3) Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan
penentu kebijakan. Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan
oleh Promosi Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya
dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus
dilakukan serempak.
Selanjutnya strategi Promosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu: Advokasi,
Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut dengan jelas
menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi. Strategi tersebut
juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata primer adalah masyarakat
langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan atau pemberdayaan masyarakat
(community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS, dll). Strata sekunder adalah
para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama untuk menumbuhkan norma
perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan melalui media massa, media
tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan, masalah dan potensi setempat.
Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan penentu kebijakan, yang perlu
dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai keadaan, masalah dan potensi yang
ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan sehat, yang memberikan dampak
positif bagi kesehatan.
Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah dengan
mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang disebutkan di
muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih membumi di
lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat.
Posted by Srii Diany at 8:34 PM No comments:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

KONSEP DALAM PROMOSI KESEHATAN


LAWRENCE GREEN (1984)
Lawrence Green mendefinisi promosi kesehatan sebagai berikut: Promosi kesehatan
adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan
ekonomi, politik, dan organisasi yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan
lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.

Dari batasan ini jelas, bahwa promosi kesehatan adalah pendidikan kesehatan plus, atau promosi
kesehatan adalah lebih dari pendidikan kesehatan. Promosi kesehatan bertujuan untuk
menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
PIAGAM OTTAWA (OTTAWA CHARTER: 1986)
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa, Canada, menyatakan bahwa:
Healt promotion is the process of enabling people to increase control over, and inprove
their health. To reach a state of complete physical, mental, ang social well-being, an individual or
group must be able to identify and realize aspiration, to satisfy needs, and to change or cope with
the environment.
Dari kutipan di atas jelas dinyatakan, bahwa Promosi Kesehatan adalah suatu proses
yang memungkinkan orang untuk meningkatkan kendali atas kesehatannya, dan meningkatkan
status kesehatan mereka. Dengan kata lain promosi kesehatan adalah upaya yang dilakukan
terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk meningkatkan dan memelihara
kesehatan mereka sendiri. Batasan promosi kesehatan ini mencakup dua dimensi yakni
kemauan dan kemampuan, atau tidak sekedar meningkatnya kemauan masyarakat seperti
dikonotasikan oleh pendidikan kesehatan. Untuk mencapai status kesehatan yang paripurna baik
fisik, mental dan kesejahteraan social, masyarakat harus mampu mengenal/mengidentifikasi dan
mewujudkam aspirasinya, untuk memenuhi kebutuhannya, dan mengubah atau mengatasi
keadaan lingkungannya.
Kesehatan, , sebagai sumber kehidupan sehari-hari, bukan sekedar tujuan hidup.
Kesehatan merupakan konsep yang positif yang menekankan pada sumber-sumber social dan
personal, sebagaimana halnya kapasitas fisik. Karena itu, promosi kesehatan bukan saja
tanggung jawab sector kesehatan, tapi juga meliputi sector-sektor lain yang mempengaruhi gaya
hidup sehat dan kesejahteraan social.
Teori klasik oleh Blum (1974) mengatakan bahwa ada 4 determinan utama yang
mempengaruhi derajat kesehatn individu, kelompok/masyarakat. Empat determinan tersebut
secara berturut-turut besarnya pengaruh terhadap kesehatan adalah:

Lingkungan, baik lingkungan fisik, maupun lingkungan non fisik

Perilaku

Pelayanan kesehatan

Keturunan atau herediter


Determinan ini lebih lanjut dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni lingkungan fisik
(cuaca, iklim, sarana, dan prasarana, dsb), dan lingkungan non fisik, seperti lingkungan social,
budaya, ekonomi, politik, dsb. Bila dianalisis lebih lanjut determinan kesehatan itu sebenarnya
adalah semua factor diluar kehidupan manusia , baik secara individu, kelompok, maupun
komunitas yang secara langsung atau tidak langssung mempengaruhi kehidupan manusia itu. Hal
ini berarti, di samping determinan-determinan tersebut yang telah dirumuskan oleh Blum masih
terdapat factor lain yang dapat mempengaruhi atau menentukkan terwujudnya kesehatan
seseorang, kelompok atau masyarakat.
Faktor-faktor atau determinan yang menentukan atau mempengaruhi kesehatan baik
individu, kelompok atau masyarakat ini, dalam piagam Ottawa (Ottawa Charter) disebut
persyaratan untuk kesehatan (prerequisites for health) terdapat 9 faktor, yakni:

Perdamaian atau kemakmuran (peace)

Tempat tinggal (shelter)

Pendidikan (education)

Makanan (food)

Pendapatan (income)

Ekosisten yang stabil dan seimbang (a stable eco-sistem)

Sumber daya yang berkesinambungan (sustainable resources)

Keadilan social (social justice)

Pemerataan (equity)
Faktor-faktor tersebut dalam mempenggaruhi kesehatan tidaklah berdiri masing-masing
melainkan bersama-sama atau secara akumulatif, karena masing-masing factor tersebut saling
mempengaruhi.

KONSEP KESEHATAN MASYARAKAT


Secara definisi istilah promosi dalam ilmu kesehatan masyarakat (healt promotion)
mempunyai dua pengertian. Pengertian promosi kesehatan yang pertama adalah sebagai bagian
dari tingkat pencegahan penyakit. Level and clark mengatakan ada 5 tingkat pencegahan
penyakit dalam perspektif masyarakat, yaitu:

Healt promotion (peningkatan/promosi kesehatan)

Specifik Protection (perlindungan khusus melalui imunisasi)

Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera)

Disability limitation (membatasi atau mengurangi kecatatan)

Rehabilitation (pemulihan)
Sedangkan pengertian yang kedua promosi kesehatan diartikan sebagai upaya
memasarkan, menyebarluaskan, mengenalkan atau menjual kesehatan. Dengan kataan lain
promosi kesehatan adalah memasarkan atau menjual atau memperkenalkan pesan-pesan
kesehatan atau upaya-upaya kesehatan, sehingga masyarakat menerima atau membeli (dalam arti
menerima perilaku kesehatan) atau mengenal pesan-pesan kesehatan tersebut yang akhirnya
masyarakat mau berperilaku hidup sehat. dari pengertian promosi kesehatan yang kedua ini,
maka sebenarnya sama dengan pendidikan kesehatan (health education). Karena pendidikan
kesehatan pada prinsipnya bertujuan agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
kesehatan.
Memang promosi kesehatan dalam konteks kesehatan masyarakat pada saat ini
dimaksudkan sebagai revitalisasi atau pembaruan dari pendidikan kesehatan pada waktu yang
lalu. Berubahnya pendidikan kesehatan menjadi promosi kesehatan, tidak terlepas dari sejarah
praktik pendidikan kesehatan di dalam masyarakat di Indonesia, maupun secara praktik
kesehatan secara global.

YAYASAN KESEHATN VICTORIA


Komfrensi kesehatan victoria menyatakan sebagai berikut:
Health promotion is a programs are design to bring about change within people,
organization, communities, and their environment.
Batasan ini menekankan, bahwa promosi kesehatan adalah suatu program perubahan
perilaku masyarakat yang menyeluruh, dalam konteks masyarakatnya. Bukan hanya perubahan
perilaku (within people), tetapi juga perubahan lingkungannya. Perubahan perilaku tanpa diikuti
perubahan lingkungan tidak akan efektif, perilaku tersebut tidak akan bertahan lama. Contoh:
Orang yang pernah tinggal di luar negeri atau di Negara maju misalnya Amerika. Sewaktu
tinggal di Amerika telah berperilaku teratur, mengikuti budaya antri dalam memperoleh
pelayanan apa saja, naik bus, kereta, dsb. Tetapi setelah kembali ke Indonesia, dimana budaya
antri (lingkungan) belum ada, maka ia akan ikut berebut waktu naik bus, kereta, dsb. Penerapan

dalam promosi kesehatan sebagai contoh, misalnya ada suatu daerah yang merupakan endemic
penyakit DBD, untuk mengatasi penyebarluasan penyakit DBD maka harus ada perubahan
perilaku dari masyarakat di daerah tersebut misalnya dengan cara tidak menampung air
disembarangan tempat, menggunakan lotion anti nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk,
mengatur pola makan yang baik dan bergizi agar tubuh kuat sehingga tidak mudah sakit. Tetapi
selain perubahan perilaku harus diikuti pula oleh perubahan lingkungan misalnya lingkungan
fisik yag semula kurang sehat karena dapat menjadi sarang nyamuk kemudian di bersihkan agar
tidak terdapat sarang nyamuk yang terbentuk, perubahan lingkungan ini sangat penting untuk
menunjang kesehatan selain perubahan perilaku karena apabila tidak di imbangi maka perilaku
kesehatan tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, promosi kesehatan bukan sekedar
mengubah perilaku saja tetapi juga mengupayakan perubahan lingkungan, system, dsb.
C.

VISI DAN MISI PROMOSI KESEHATAN


Visi adalah impian, cita cita, atau harapan yang ingin dicapai oleh suatu kegiatan atau
program. Oleh sebab itu, visi promosi kesehatan (khususnya Indonesia) tidak terlepas dari visi
pembangunan kesehatan di indonesia, seperti yang tercantum dalam UU kesehatan RI no. 23
tahun 1992, yakni Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatannya baik fisik,mental, dan sosialnya sehingga produktifitas secara ekonomi
maupun sosial. Dari visi tersebut terdapat kata kunci yaitu:

Mau (willingness) memelihara dan meningkatkan kesehatanya.

Mampu (ability) memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Memelihara kesehata, berarti mau dan mau mencegah penyakit, melindungi diri dari gangguan
gangguan kesehatan, dan mencari pertolongan pengobatan yang professional bila sakit.

Meninakatkan kesehatan, berarti mau dan mampu meningkatkan kesehatannya. Kesehatan perlu
ditingkatkan, karena derajat kesehatan baik individu,kelompok, atau masyarakat itu bersifat
dinamis, tidak statis.
Upaya upaya untuk mewujudkan visi inidisebut misi promosi kesehatan yzitu apa
yang harus dilakukan untuk mencapai visi. Secara umum misi promosi kesehatan ini sekurang
kurangnya ada tiga hal yaitu:

Advokat (advocate) :

kegiatan advokat ini dilakukan terhadap para pengambil keputusan dari berbagai
tingkatan, dan sector terkait dengan kesehatan, Tujuan kegiatan ini adalah menyakinkan para
pelabat pembuat keputusan atau penentu kebijakan, bahwa program kesehatan yang akan
dijalankan tersebut penting (urgen). Oleh sebab itu, perlu dukundn kebijakan atau keputusan dari
para pejabat tersebut,

Menjebatani (medicate) :
Promosi kesehatan juga mempunyai misi mediator atau menjebatani antara sector

kesehatan dengan sector lain sebagai mitra. Dengan peralatan lain promosi kesehatan merupakan
perekat kemitraan di bidang pelayanan kesehatan.

Memampukan (enable) :
Sesuai dengan visi promosi kesehatan, yaitu masyarakat mau dan mampu memelihara

dan meningkatkan kesehatannya, promosi kesehatan mempunyain misi utama untuk memapukan
masyarakat.
D.
BATASAN PROMOSI KESEHATAN
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang
diharapkan oleh pelaku pendidik. Unsur-unsur pendidik yakni:

1.

1) Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat) dan pendidiknya.

2) Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain)

3) Output (melakukan apa yang diharapkan atau prilaku

Konsep dasar promosi kesehatan


Definisi Promosi kesehatan
Promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat untuk mengontrol dan
mengembangkan kesehatan mereka dalam rangka mencapai status kesehatan yang meliputi fisik,

mental, kesejahteraan sosial. Individu atau kelompok mampu untuk mengidentifikasi dan
mengejawantahkan aspirasi, pemuasan kebutuhan, dan merubah lingkunganya.
Promosi kesehatan adalah proses advokasi kesehatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan
kemampuan baik di tingkat personal, swasta, maupun pemerintah.
2.

Strategi Promosi Kesehatan


Strategi promosi kesehatan menurut WHO ( internasional adalah )

Advokasi; pendekatan terencana yang ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam
rangka mendukung suatu isu kebijakan yang spesifik. Advokasi yang berhasil akan
menentukan keberhasilan kegiatan promosi kesehatan pada langkah selanjutnya sehingga
keberlangsungan program dapat lebih tejamin.

Mediasi. kegiatan promosi kesehatan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus
melibatkan lintas sector dan lintas program. Mediasi berarti menjembatani pertemuan
diantara beberapa sector yang terkait . Karenanya masalah kesehatan tidak hanya dapat
diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap
masalah kesehatan tersebut. Sebagai contoh, kegiatan promosi kesehatan terkait
kebersihan lingkungan harus melibatkan unsure kimpraswil dan pihak lain yang terkait
sampah.

Memampukan masyarakat (enable), adalah kegiatan pemberian pengetahuan dan keterampilan


kepada masyarakat agar mereka mampu menjaga dan memelihara serta meningkatkan
kesehatannya secara mandiri. Kemandirian masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan
kesehatanya merupakan tujuan dari kegiatan promosi kesehatan.
Strategi promosi kesehatan menurut Departemen Kesehatan RI adalah :

Advokasi

Advokasi; pendekatan terencana yang ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka
mendukung suatu isu kebijakan yang spesifik. Advokasi yang berhasil akan menentukan
keberhasilan kegiatan promosi kesehatan pada langkah selanjutnya sehingga keberlanagsungan
program dapat lebih tejamin.

Bina Suasana adalah kegiatan mencari dukungan social ( social support) dalam rangka
membuat suasana yang cukup kondusif untuk diselenggarakan suatu program peningkatan
kesehatan pada masyarakat.

Gerakan. Kegiatan dilakukan secara bersama sama untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

Strategi Promosi Kesehatan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, yaitu:


-

Strategi Promosi Kesehatan Primer


Tindakan pada fase ini adalah untk mencegah terjadinya kasus penyakit. Berfokus pada
masyarakat yang masih daam keadaan sehat.

Strategi Promosi Kesehatan Sekunder


Strategi promosi kesehatan sekunder berfokus pada masyarakat yang beresiko untuk mengalami
penyakit.

Strategi Promosi Kesehatan Tersier


Dala tahap ini, strategi kesehatan difokuskan pada masyarakat yang sudah terkena penyakit.
Focus penanganan yaitu dengan rehabilitasi untuk mencegah kecacatan/ kemunduran lebih lanjut
dari penyakitnya tersebut.

3.

Mainstream Promosi Kesehatan Nasional dan Internasional meliputi :

Penyakit TB dan Malaria

Maternal Mortality (kematian ibu)

kecelakaan laluilintas

penyakit HIV/AIDS

Keamanan pangan

Kesehatan Mental

Diabetas, Tembakau

Pemberantasan Alkohol

Pemukiman kumuh

Kesehatan Lansia.

4.

Prioritas area Promosi Kesehatan tahun 2011 s.d 2016 meliputi :

Faktor sosial yang mempengaruhi kesehatan

Pembangunan Promosi Kesehatan yang berkelanjutan

Pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular

Sistem promosi kesehatan

Strategi Promosi kesehatan untuk menangani penyakit DBD, TB, dan degenerative adalah
dengan cara sebagai berikut :

Pemberdayaan Individu

Kemampuan individu dalam menjaga kesehatan terutama yang berhubungan dengan penyakit
DBD, TB dan penyakit degenaratif akan menentukan keberhasilan program. Individu yang sudah
terpola berperilaku hidup bersih sehat akan lebih mudah untuk menolong dirinya sendiri dari
masalah kesehatan tersebut.

Pemberdayaan Masyarakat

Masyarakat akan mempengaruhi ligkungan. Masyarakat yang peduli akan kebersihan


lingkunganya akan mengurangi resika penyakit DBD dan TB. Pada masalah penyakit
degenerative, penggerakan masyarakat secara tidak langsung akan mendukung pemberdayaan
individu, misalnya adanya Posyandu lansia, senam lansia, gaya hidup dan sebagainya.
-

Pemperkuat sistem kesehatan


System kesehatan yang tidak hanya mengutamakan kuratif akan mendukung terjadinya penyakit
DBD, TB dan degenerative. Pencegahan yang baik akan mengurangi resiko penyakit.

Kerjasama lintas sektor


Kebersihan lingkungan ( pada kasus DBD dan TB ) tidak dapat dilakukan hanya oleh
sector kesehatan saja. Tetapi harus m

Artikel (Article) - Opini (Opinion)


Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan Pada Tingkat Puskesmas di Kota
Medan
Oleh: Juliandi Harahap

HIV-IMS BerkesinambunganKasus

HIV AIDS di Kota


Medan pertama kali ditemukan pada tahun 1992, sejak itu kasusnya dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Medan prevalensi HIV di
populasi umum dengan jumlah penduduk 2.122.804 jiwa adalah 0,18% dimana jumlah total
kasus HIV/AIDS hingga Agustus 2013 mencapai 3.726 orang. Tingkatan epidemi HIV/AIDS di
Kota Medan merupakan epidemi terkonsentrasi (concentrated) situasi diantara rendah (low) dan
meluas (generalized).
Berbagai upaya pengendalian dan penanggulangan HIV/AIDS telah dicanangkan Kementerian
Kesehatan, mulai dari inovasi pencegahan penularan dari jarum suntik (Harm Reduction) pada
tahun 2006, pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) pada tahun 2010,
penguatan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pada tahun 2011, pengembangan
Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) di tingkat Puskesmas pada tahun 2012,
hingga terobosan paling baru yang disebut Strategic use of ARV (SUFA) dimulai pada
pertengahan tahun 2013.
Pada akhirnya upaya-upaya tersebut bertujuan untuk menurunkan jumlah kasus baru HIV (target
jangka panjangnya adalah zero new infection), menurunkan tingkat diskriminasi (target jangka
panjangnya adalah zero discrimination), menurunkan angka kematian AIDS (target jangka
panjangnya adalah zero AIDSrelated deaths) dan meningkatkan kualitas hidup ODHA serta
mengurangi dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan
masyarakat.

Program Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) HIV dan IMS

Program penanggulangan HIV AIDS secara komprehensif melalui Program Layanan


Komprehensif Berkesinambungan (LKB) HIV dan IMS ini meliputi upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif secara paripurna, mencakup semua bentuk layanan HIV dan IMS, seperti
kegiatan KIE pengetahuan komprehensif, promosi penggunaan kondom, pengendalian faktor
risiko, layanan Konseling dan Tes HIV (KTS dan KTIP), Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan
(PDP), Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA), Pengurangan dampak buruk NAPZA
(LASS, PTRM, PTRB), layanan IMS, pencegahan penularan melalui darah donor dan produk
darah lainnya, serta kegiatan monitoring dan evaluasi serta surveilan epidemiologi di Puskesmas
Rujukan dan NonRujukan termasuk fasilitas kesehatan lainnya dan Rumah Sakit
RujukanKabupaten/Kota. LKB ini juga memberikan dukungan baik aspek manajerial, medis,
psikologis maupun sosial ODHA selama perawatan dan pengobatan untuk mengurangi atau
menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Dalam program LKB terdapat 5 komponen
utama dalam pengendalian HIV yaitu pencegahan, perawatan, pengobatan, dukungan dan
konseling. Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional jenjang layanan kesehatan terdiri atas
layanan kesehatan primer, sekunder dan tersier. Layanan terkait HIV-IMS tersebut dilaksanakan
mulai tingkat puskesmas sebagai pelayanan kesehatan primer, rumah sakit kabupaten/kota
sebagai layanan sekunder dan rumah sakit propinsi sebagai layanan tersier. Layanan kesehatan
sekunder sebagai pusat LKB berfungsi sebagai pusat rujukan bagi fasilitas pelayanan kesehatan
satelit. Dalam implementasinya LKB ini harus melibatkan seluruh pihak baik pemerintah,
swasta, maupun masyarakat (kader, LSM, kelompok dampingan sebaya, tokoh masyarakat dan
tokoh lainnya). Dari konsep-konsep tentang LKB diatas, dapat dipahami sebenarnya program
LKB ini merupakan suatu bentuk integrasi upaya penanggulangan HIV AIDS dalam kerangka
Sistem Kesehatan Nasional.
Layanan Puskesmas Rujukan sebagai Fasilitas Layanan Kesehatan Primer

Puskesmas Rujukan merupakan puskesmas terpilih yang memiliki sarana dan tenaga tertentu
sesuai dengan standar yang ditetapkan. Puskesmas tersebut dikembangkan untuk memberikan
layanan dasar HIV IMS yang akan menjalankan program LKB. Pada saat ini di Kota Medan, dari
39 Puskesmas yang terdapat 5 Puskesmas yang telah dinyatakan sebagai puskesmas yang
melaksanakan program Layanan Komprehensif HIV IMS Berkesinambungan yaitu Puskesmas
Teladan, Puskesmas Padang Bulan, Puskesmas Helvetia, Puskesmas Petisah (Klinik Bestari) dan
Puskesmas Medan Deli. Mengingat begitu komprehensifnya konsep LKB tersebut, ternyata
dalam prakteknya tidak semua kegiatan dapat dilaksanakan secara paripurna.
Pelayanan di tingkat puskemas ini merupakan pelayanan HIV IMS dasar yang tentunya pada
tahap tertentu memerlukan rujukan ke tingkat pelayanan sekunder atau tertier (Rumah Sakit
Kab/Kota atau RS Propinsi) serta melibatkan seluruh pihak seperti KPA, SKPD lainnya, LSM,
Kelompok Dampingan Sebaya, masyarakat maupun keluarga.

Layanan terkait HIV- IMS yang dilakukan Puskesmas meliputi:


Konseling dan Tes HIV
Layanan ini sebenarnya telah dilaksanakan sebelum program LKB. Puskesmas melalui klinik
HIV IMS-nya memberikan layanan Konseling dan Tes HIV secara sukarela (KTS) pada
masyarakat yang datang secara sukarela dan meminta untuk diberikan konseling tentang
HIV/AIDS dan melakukan pemeriksaan tes HIV. Dengan LKB ini, Puskesmas tidak hanya
memberikan layanan KTS tadi tetapi juga petugas kesehatan di Puskesmas dapat menawarkan
konseling dan tes HIV atas inisiatifnya bila mencurigai pasien tersebut, ini yang disebut KTIP
(Konseling dan Test HIV atas Inisiatif Petugas Kesehatan) yaitu petugas kesehatan yang ada di
poli-poli Puskesmas dapat menawarkan layanan ini ke pasien yang datang baik di Poli Gigi, Poli
Dewasa, Poli Lansia, Poli KIA-KB dan Poli Obgin yang ada di Puskesmas. Anjuran tes HIV ini
terutama ditujukan pada ibu hamil, pasien IMS, pasien TB, pasangan ODHA, pasien hepatitis.
Setelah mengetahui hasil tes, maka terhadap pasien tersebut diberikan konseling pasca tes oleh
konselor Puskesmas untuk mendapatkan layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP).
Bagi populasi kunci yang hasil tes HIV-nya masih negatif, maka dapat dilakukan tes ulang
minimal setiap 6 bulan.
Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP)
Sebagai tindak lanjut terhadap hasil tes HIV yang dilakukan Puskesmas LKB Kota Medan, maka
Puskesmas merujuk pasien tersebut ke rumah sakit rujukan yaitu RS Pirngadi RSU H Adam
Malik, RSU Haji Medan, Rumkit Bhayangkara Medan, Rumkit Tk II Putri Hijau Medan untuk
mendapatkan pengobatan ARV. Pasien dapat memilih apakah ia akan melanjutkan
pengobatannya di Rumah Sakit atau kembali ke Puskesmas yang merujuknya. Saat ini di kota
Medan terdapat tiga Puskesmas yang sudah dapat memberikan layanan terapi ARV yaitu
Puskesmas Teladan, Puskesmas Padang Bulan dan Puskesmas Helvetia. Dalam layanan LKB
pemberian ARV dapat langsung diberikan tanpa memandang jumlah CD4nya kepada mereka
yang HIV (+) yaitu pada ibu hamil, pasien koinfeksi TB, pasien koinfeksi Hepatitis B dan C,
LSL, WPS, Penasun, ODHA yang pasangan tetapnya memiliki status HIV (-) dan tidak
menggunakan kondom secara konsisten.
Puskesmas akan bekerjasama dengan LSM atau Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) untuk
memberikan layanan konseling, pendampingan, perawatan dan untuk memastikan kepatuhan
pasien dalam minum obat seumur hidup dengan memberikan pendampingan terutama pada awal
pengobatan, serta memberikan dukungan yang tepat dari keluarga, komunitas, kelompok
dukungan sebaya dan layanan kesehatan.
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)

Layanan ini mencakup pelayanan ANC dan melakukan tes HIV bagi ibu hamil, mengingat status
epidemi Kota Medan yang tergolong epidemi terkonsentrasi. Puskesmas LKB Kota Medan telah
melaksanakan layanan PPIA dengan menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif.
Sedangkan bila diperlukan rujukan, terdapat 2 rumah sakit yaitu RS Adam Malik Medan dan RS
Haji Medan yang telah memilki pengalaman dalam melakukan program PPIA, misalnya dalam
melakukan tindakan sectio caesar pada ibu hamil dengan HIV.
Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS)
Puskesmas bekerjasama dengan LSM/KDS dalam memberikan layanan konseling untuk
perubahan perilaku dan penyediaan kondom dan pelicin. LSM yang terlibat antara lain GSM
dengan kelompok dampingan pada waria, LSL dan pelanggan, H2O dengan kelompok
dampingan pada WPS dan pelanggan, Medan Plus dengan kelompok dampingan waria dan
ODHA.
Program Terapi Rumatan Metadon
Layanan ini dilaksanakan dalam rangka mengurangi risiko penularan HIV melalui penggunaan
jarum suntik pada kelompok Penasun. Pencandu obat opiat yang menggunakan jarum suntik
akan beralih meminum obat dan secara perlahan-lahan diharapkan dapat terlepas dari kecanduan
obat. Puskesmas Teladan, Puskesmas Padang Bulan dan Puskesmas Medan Sunggal telah bekerja
sama dengan LSM pendamping penasun (Caritas, Galatea, Jarkons) memberikan layanan alat
suntik steril (LASS) untuk mengurangi pemakaian jarum suntik secara bergantian dan tidak
steril.
Dukungan sosial dan ekonomi
Layanan ini tersedia dengan baik, dimana kerjasama lintas sektoral Dinas Kesehatan/Puskesmas
dengan pihak swasta maupun SKPD terkait belum terimplementasi dengan baik terutama dalam
anggaran yang mendukung program penanggulangan HIV AIDS. Dukungan pada kelompok
ODHA dan keluarganya misalnya dengan memberikan pelatihan ketrampilan, hibah untuk modal
usaha, yang seyogyanya dapat melibatkan Dinas Sosial dan CRS dari pihak swasta belum
terealisasi. Demikian juga kerjasama dengan SKPD lainnya seperti Dinas Pendidikan, Dinas
Pariwisata, dan Dinas Perhubungan masih sebatas komitmen menyokong kegiatan Dinas
Kegiatan.
Penutup

Puskesmas Kota Medan dalam memberikan layanan LKB HIV AIDS ini telah membuat panduan
tentang jadwal layanan, tempat dan kontak person serta biaya tertentu yang harus dibayar oleh
pasien. Secara umum akses masyarakat untuk mendapatkan semua bentuk layanan HIV AIDS ini
dibebaskan pembiayaannya. Dengan demikian diharapkan dengan adanya Layanan

Komprehensif Berkesinambungan ini dapat menurunkan laju epidemi serta meningkatkan


layanan terhadap ODHA melalui Puskesmas.