Anda di halaman 1dari 4

Mata Kuliah:

Triwulan:
Angkatan:
Dosen:
Nama/NRP

Manajemen Produksi dan Operasi (MPO)


2
E51
Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc.
Faris Salman / P056134262.51E

Quality Function Development (QFD)


Studi Literatur: Perkebunan Karet Rakyat
Quality Function Development (QFD) merupakan alat analisa yang digunakan untuk
meyakinkan secara sistematik bahwa pengembangan fitur produk, karakteristik serta
spesifikasi termasuk pabrikasi dan proses yang dibutuhkan, sejalan dengan permintaan atau
suara konsumen. Konsep QFD dikembangkan pada awal 1970 oleh Dr. Shigeru Mizuno yang
kemudian dikembangkan lagi menjadi sebuah kumpulan metode untuk merancang
keseluruhan proses yang mampu mengurangi kegagalan pada proses pengembangan produk
baru. Setelah QFD dikenalkan di Amerika pada tahun 80-an, QFD tidak lagi hanya digunakan
pada area produk saja namun lebih jauh, QFD juga digunakan untuk kebutuhan non-produk
seperti pelayanan, industri perangkat lunak, perawatan kesehatan dan medis, dan lain-lain (Li
Na, 2011).
Tiga tujuan utama dalam pengimplementasian QFD adalah menentukan prioritas
kebutuhan pelanggan baik yang tersirat maupun yang tersurat, menerjemakan kebutuhankebutuhan tersebut ke dalam spesifikasi dan karakteristik teknis, dan membangun upaya
penyampaian kualitas produk atau layanan yang difokuskan pada setiap orang dalam
organisasi untuk mencapai kepuasan pelanggan.
Prinsip-prinsip dasar yang digunakan dalam QFD adalah dengan matrik yang disebut
sebagai rumah kualitas (house of quality). Matriks ini mampu menghubungkan suara
pelanggan (voice of customer) melalui survey dari beberapa perspektif menjadi langkahlangkah teknis yang dapat dilakukan perusahaan secara simultan dan berkesinambungan di
antara departemen-departemen dalam perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Rumah kualitas menjadi alat inti untuk melengkapi rangkaian pekerjaan di dalam perusahaan.
Gambar 5 merupakan gambar untuk rumah kualitas yang digunakan dalam metode QFD.
Sebuah matriks HOQ yang lengkap akan mencakup keenam bagian yang telah
digambarkan di atas yakni: analisis atas kebutuhan pelanggan, permintaan teknis, matriks
hubungan, daya saing, bagian atap (roof) dan penaksiran teknis. Namun pada aplikasinya
secara nyata, struktur dari HOQ bersifat fleksibel tergantung pada jenis penelitian dan tujuan
yang ingin dicapai. Contohnya, terkadang bagian atap (roof) tidak diperlukan, atau dapat pula
analisis daya saing dan penaksiran teknis dapat dihilangkan dan seterusnya (Li Na, 2011).

Gambar 2. Komposisi Rumah Kualitas (Goestch dan Davis, 2000)


Keterangan:
Atap
: matriks yang menunjukkan efek trade-off pada pengembangan
setiap karakteristik teknis
Dinding kiri
: kebutuhan atau kebutuhan konsumen yang menjadi masukan dalam
matriks
Dinding kanan : perencanaan kualitas berdasarkan penilaian konsumen mengenai
sejauh mana pelayanan atau produk dari perusahaan mampu
memenuhi kepuasan konsumen.
Langit-langit : matriks karakteristik kualitas yang berfungsi sebagai informasi
mengenai cara perusahaan untuk merancang pelayanannya
berdasarkan suara konsumen.
Ruang
: merupakan gambaran mengenai derajat keterkaitan antara
permintaan konsumen dengan pelayanan yang perlu dikembangkan.
Dasar
: menunjukkan evaluasi biaya dan teknis, termasuk tingkat
kepentingan pengembangan pelayanan, target pengambilan
keputusan, serta penilaian teknis dan daya saing. Hasil dari evaluasi
ini akan digunakan untuk menentukan persyaratan teknis yang akan
menjadi prioritas dalam pengembangan dan perbaikan. Analisis ini
mampu mengubah informasi apa yang dibutuhkan pelanggan
menjadi bagaimana perusahaan melakukannya.
Studi literatur Quality Function Deployment dilakukan pada kasus peningkatan
produktifitas pada perkebunan karet rakyat. Kegiatan proses produksi di dalam perkebunan
karet rakyat terdiri atas Penanaman, Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM),
Perawatan Tanaman Menghasilkan (TM), Pemanenan, dan Pengolahan Karet Alam.

Penananam dilakukan menggunakan jarak tanam 7x3m dan dirawat dengan pemupukan,
penyulaman, penyiangan, dan penjarangan. Kegiatan penyadapan dilakukan dua kali dalam
sehari yaitu menyadap pada pagi hari dan mengumpulkan getah karet di sore hari.
Pengolahan yang dilakukan pada kasus ini adalah dengan penggilingan.

Perkebunan Karet Rakyat

Penanaman

Perawatan
TBM

Perawatan
TM

Gambar 3. Bagan Proses Kegiatan di Perkebunan Karet Rakyat


Studi kasus ini menggunakan lima atribut yang menjadi prioritas dalam memilih Bahan
Olahan Karet (Bokar) yaitu: kadar karet kering, ketebalan, kebersihan, jenis koagulan, dan
kelenturan. Atribut ini diperoleh dari wawancara dengan pakar karet.

Gambar 4. Rumah Kualitas di Perkebunan Karet Rakyat


Gambar rumah kualitas menunjukkan bahwa harapan pelanggan yang paling utama
adalah kebersihan bokar itu sendiri karena memiliki bobot paling besar sehingga
pemenuhannya harus didahulukan. Hasil analisis terhadap hubungan atau pengaruh antara
aktivitas dan sarana yang ada terlihat bahwa aktivitas atau sarana penanganan bahan baku dan
pembekuan memiliki kepentingan yang paling tinggi dengan nilai 70 dan nilai relatif 0,215.
Penanganan bahan baku, dalam hal ini penanganan lateks setelah disadap perlu diperhatikan
juga kebersihannya. Hal itu merupakan salah satu hal mendasar dalam menghasilkan kualitas

Peman

bokar yang baik. Dalam aktivitas pembekuan juga perlu diperhatikan jenis koagulan yang
digunakan. Jenis koagulan yang digunakan akan mempengaruhi kualitas bokar, jika
menggunakan jenis koagulan yang tidak direkomendasikan oleh pemerintah tentukan akan
mengurangi kualitas bokar yang dihasilkan. Aktivitas penyimpanan juga perlu diperhatikan
karena penyimpanan akan berpengaruh langsung terhadap kadar karet kering. Penyimpanan
yang tidak tepat akan membuat kadar air di dalam karet bertambah. Penyaringan lateks
setelah penanganan lateks juga dilakukan untuk membuat ranting-ranting ataupun tatalan
kulit pohon yang terbawa di dalam lateks. Penyaringan yang baik berimbas pada bokar yang
bersih.
Daftar Pustaka
Goetsch, David L. & Davis, Stanley B. 2000. Quality Management: Quality Mangement:
Introduction to Total Quality Management for Production, Processing, and
Services. Prentice Hall. New York.
Li Na, S. X., Wei Yang,Zeng Ming 2011. Decision Making Model Based on QFD Method for
Power Utility Service Improvement. System Engineering Procedia 4.
Rahmanto, D.A. 2013. Peningkatan Produktivitas Bahan Olah Karet Pada Perkebunan Karet
Rakyat dengan Pendekatan Produktivitas Hijau. Bogor: Institut Pertanian Bogor.