Anda di halaman 1dari 18

Sick Building Syndrome pada Pekerja

Kantoran
Sick Building Syndrome pada Pekerja Kantoran
Carissa Putri Crisdayani
E3 /102012446
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Email: carissa.putri.c@live.com

Pendahuluan
Pada skenario yang saya dapatkan didapati seorang perempuan berusia 30 tahun, datang
ke klinik anda dengan keluhan utama batuk dan pilek berulang sejak 3 minggu yang lalu.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kedokteran okupasi
dan cara mendiagnosis suatu penyakit yang di akibatkan oleh pekerjaan.
Pembahasan
Sick Building Sindrome
Istilah Sick Buiding Syndrome pertama dikenalkan oleh para ahli di Negara Skandinavia
di awal tahun 1980 an. Istilah SBS dikenal juga dengan TBS (Tigh Buiding Syndrome) atau
Building-Related Symptoms (BRS). Karena sindrom ini umumnya dijumpai dalam ruangan
gedung gedung pencakar langit. EPA mendefenisikan sindrom gedung sakit merupakan
istilah untuk menguraikan situasi di mana penghuni gedung atau bangunan mengalami
gangguan kesehatan akut atau efek timbul saat berada dalam bangunan, tetapi tidak ada
penyebab yang spesifik.1 Istilah SBS mengandung dua maksud yaitu.
a. Kumpulan gejala (sindroma) yang dikeluhkan seseorang atau sekelompok orang
meliputi perasaan-perasaan tidak spesifik yang mengganggu kesehatan berkaitan
dengan kondisi gedung tertentu.
b. Kondisi gedung tertentu berkaitan dengan keluhan atau gangguan kesehatan tidak
spesifik yang dialami penghuninya, sehingga dikatakan gedung yang sakit.
SBS adalah gejala-gejala gangguan kesehatan, umumnya berkaitan dengan saluran
pernafasan. Sekumpulan gejala ini dihadapi oleh orang yang bekerja di gedung atau di rumah
yang ventilasinya tidak direncanakan dengan baik, SBS merupakan kategori penyakit umum
yang berkaitan dengan beberapa aspek fisik sebuah gedung dan selalu berhubungan dengan
1
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
sistem ventilasi. Faktor resiko yang terjadi pada manusia, karakteristik biologik dan praktek
kerja atau lingkungan kerja sangat berhubungan dengan gejala Sick bulding syndrome. faktor
resiko individual adalah dermatitis seborrheic, gatal-gatal yang sangat luas pada kulit dan
adanya atopy merupakan faktor resiko yang terbesar.1 Pada individu yang terpapar oleh
pencemaran bahan kimia dilingkungan kerja akan mengalami gejala iritasi mata, saluran
pernafasan sampai adanya perasaan lelah dan lesu yang menaun akibat adanya anemia dan
beberapa kelainan pada sistem Hematopoietik. Faktor resiko yang lain adalah faktor
individiual dimana stress kerja juga merupakan suatu faktor resiko yang besar untuk
terjadinya Sick Building Syndrome.1
Gejala Sick Building Syndrome
Pada umumnya gejala dan gangguan SBS berupa penyakit yang tidak spesifik, tetapi
menunjukkan pada standar tertentu, misal berapa kali seseorang dalam jangka waktu tertentu
menderita gangguan saluran pernafasan. Keluhan itu hanya dirasakan pada saat bekerja di
gedung dan menghilang secara wajar pada akhir minggu atau hari libur, keluhan tersebut
lebih sering dan lebih bermasalah pada individu yang mengalami perasaan stress, kurang
diperhatikan atau kurang mampu dalam mengubah situasi pekerjaannya. Keluhan SBS yang
diderita oleh pekerja antara lain sakit kepala, iritasi mata, iritasi hidung, iritasi tenggorokan,
batuk kering, kulit kering atau iritasi kulit, kepala pusing, sukar berkonsentrasi, cepat lelah
atau letih dan sensitif terhadap bau dengan gejala yang tidak dikenali dan kebanyakkan
keluhan akan hilang setelah meninggalkan gedung. Membagi keluhan atau gejala dalam tujuh
kategori sebagai berikut.1
1. Iritasi selaput lendir, seperti iritasi mata, pedih, merah dan berair
2. Iritasi hidung. Seperti iritasi tenggorokkan, sakit menelan, gatal, bersin, batuk kering
3. Gangguan neorotoksik (gangguan saraf/gangguan kesehatan secara umum), seperti
sakit kepala, lemah, capai, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi
4. Gangguan paru dan pernafasan, seperti batuk, nafas bunyi, sesak nafas, rasa berat di
dada
5. Gangguan kulit, seperti kulit kering, kulit gatal
6. Gangguan saluran cerna, seperti diare
7. Gangguan lain-lain, seperti gangguan perilaku, gangguan saluran kencing dll
Orang dinyatakan menderita SBS apabila memiliki keluhan sejumlah kurang lebih 2/3
dari sekumpulan gejala seperti lesu, hidung tersumbat, kerongkonggan kering, sakit kepala,
mata gatal-gatal, mata pedih, mata kering, pilek pilek, mata tegang, pegal-pegal, sakit leher
atau punggung, dalam kurun waktu bersamaan.8 Untuk menegakkan adanya syndrome
gedung sakit (SBS) maka berbagai keluhan tersebut harus dirasakan oleh sekitar 20%-50%
2
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
pengguna suatu gedung, dan keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya dua
minggu.
Penyebab Sick Building Syndrome
Fenomena SBS berkaitan dengan kondisi gedung, terutama rendahnya kualitas udara
ruangan. Berbagai bahan pencemar (kontaminan) dapat mengganggu lingkungan udara dalam
gedung (Indoor Air Environment) melalui empat mekanisme utama, yaitu gangguan sistem
kekebalan tubuh (Immunologik), terjadinya infeksi; bahan pencemar yang bersifat racun
(toksik); bahan pencemar yang mengiritasi dan menimbulkan gangguan kesehatan. 2
Gangguan sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh konsumsi zat gizi. Sehingga
meningkatkan ketahanan fisik dan meningkatkan produktifitas kerja, di samping membantu
mengurangi infeksi. Sedangkan bahan kimia yang bersifat racun (Toksik) lebih banyak
diserap oleh orang usia muda dan tua di banding pada orang dewasa. Biasanya sulit untuk
menemukan suatu penyebab tunggal dari syndrome gedung sakit atau SBS. Penyebab utama
SBS adalah bahan kimia yang digunakan manusia, jamur pada sirkulasi udara serta faktor
fisik seperti kelembaban, suhu dan aliran udara dalam ruangan, sehingga makin lama orang
tinggal dalam sebuah gedung yang sakit akan mudah menderita SBS.2

Identifikasi penyakit akibat kerja


1. Diagnosis Klinis
Anamnesis
Identitas :
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan (karyawati administrasi di sebuah perusahan,
sudah bekerja selama 1 tahun dan setiap hari bekerja jam 8 sampai jam 5 sore. Teman
di kantornya ada yang mengalami sakit sama seperti ini).
Keluhan Utama:
Pasien batuk pilek berulang sejak 3 minggu yang lalu, keluhan semakin berat akhirakhir ini.
Riwayat Penyakit Sekarang
Ditanyakan onset keluhan sejak kapan, apakah baru pertama kali atau
sudah berulang kali?
Ditanyakan frekuensi batuk, apakah disertai dahak atau tidak, ada sesak
nafas atau tidak, sekret hidung berwarna apa dan kekentalannya
bagaimana?
Tanyakan sifat demamnya bagaimana, apakah hilang timbul atau terus
menerus?
3
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
Untuk mata yang panas tanyakan kapan mata terasa panas, apakah ada
penurun visus, apakah disertai mata merah?
Untuk mual ditanyakan apakah riwayat sakit lambung sebelumnya,
mualnya kapan, apakah disertai muntah?
Apakah pasien sedang stress?
Ditanyakan juga apakah ada riwayat alergi obat atau makanan?
Untuk nyeri diseluruh badan tanyakan apakah lebih sakit dibagian
tertentu, sakitnya kapan, bagaimana karakter nyeri?
Untuk gatal-gatal tanyakan lokasi dan sifat dari gatal?
Ada keluhan lain atau tidak seperti pusing?
Apakah pernah berobat untuk penyakit seperti ini, apakah pernah sembuh

dan kambuh kembali?


Riwayat Penyakit Dahulu
Dulu pernah mengalami hal seperti ini atau tidak?
Riwayat Penyakit keluarga dan pengobatan
Ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang mempunyai penyakit dengan
gejala yang sama dan bagaimana keadaannya?
Ditanyakan apakah merasa membaik setalah minum obat dari dokter, obat
apa yang diberikan oleh dokter?
Serta tanyakan apakah ada mengonsumsi obat-obatan untuk suatu
penyakit tertentu, sudah berapa lama mengonsumsi obat itu, dan apakah

obat dikonsumsi rutin?


Riwayat Penyakit pekerjaan dan sosial
Tanyakan apa pekerjaannya, sudah berapa lama pasien bekerja di tempat
kerjanya, berapa lama dalam sehari jam kerjanya, bekerja di bagian apa kondisi
tempat kerjanya, kondisi rekan kerja, hubungan dengan atasan dan rekan kerja,
tanyakan apakah ada stress waktu bekerja, apakah ada pekerjaan sampingan,
apakah kondisi pasien lebih baik saat tidak bekerja, serta tanyakan hobi dan
kebiasaan pasien? Jangan lupa juga tanyakan pekerjaan pasien yang sebelumnya?

Pemeriksaan Fisik3

Tanda-tanda vital
Untuk pemeriksaan fisik yang biasa kita lakukan pertama kali adalah mengukur
tanda-tanda vital pasien. Berikut tabel tentang nilai normal tanda-tanda vital.
Inspeksi
Pada pemeriksaan inspeksi yang dilakukan adalah mengamati keadaan pasien
apakah pasien tampak pucat, somnolen, atau biasa saja. Perlu diperhatikan juga

4
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
bentuk thoraks dan gerakan napas, cek frekuensi, kedalaman dan upaya bernapas,

dengarkan pernapasan pasien dan retraksi saat inspirasi.


Palpasi
Palpasi kita ntuk mengetahui area nyeri tekan, abnormalitas yang terlihat dan

ekspansi dada, serta lakukan fremitus taktil.


Perkusi
Perkusi dilakukan untuk mengetahui keadaan organ-organ di dalam tubuh. Pada
saat melakukan perkusi dapat terdengar bunyi pekak, redup, sonor, hipersonor
dan timpani, ini tergantung dengan jaringan apa yang diperkusi.

Pemeriksaan Penunjang3

Cek darah lengkap


Untuk pemeriksaan ini yang perlu diperhatikan adalah nilai leukosit. Peningkatan
jumlah leukosit menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut (pneumonia,
tuberculosis, apendisitis) ataupun karena obat-obatan (aspirin, alopurinol,
kanamisin, streptomisin). Nilai normal leukosit untuk orang dewasa adalah 500010.000/mm3.

Cek sputum
Pengeluaran sputum merupakan usaha normal untuk membersihakn traktus
bronkopneumonal karena adanya infeksi bakterial pada saluran napas. Bahan
sputum terbaik yang diperiksa adalah sputum pagi setelah bangun tidur, sesudah
kumur dan gosok gigi, sehingga sputum tidak bercampur dengan ludah.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari infeksi parasit paru.

Foto rontgen paru


Pemeriksaan rontgen paru dalam ukuran besar yang berkualitas baik penting
dilakukan, khususnya dalam menegakkan diagnosis asbestosis dan silikosis tahap
awal. Pekerja terpajan asbes dapat menunjukkan adanya penebalan pleura atau
kalsifikasi atau efusi misalnya penumpulan sudut kostofrenikus. Dapat juga
terlihat gambaran shaggy heart (jantung yang berbulu kasar).

Pemeriksaan tempat kerja

Kualitas Ventilasi
5

Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
Ventilasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam menyebabkan terjadi
SBS. Standar ventilasi pada gedung yaitu kira-kira 15 kaki berbentuk kubus
sehingga udara luar dapat masuk dan menyegarkan penghuni didalamnya,
terutama tidak semata-mata untuk melemahkan dan memindahkan bau. Dengan
ventilasi yang tidak cukup, maka proses pengaturan suhu tidak secara efektif
mendistribusikan udara pada penghuni ruangan sehingga menjadi faktor pemicu
timbulnya SBS. Ventilasi yang paling ideal untuk suatu ruangan apabila ventilasi
dalam keadaan bersih, luas memenuhi syarat, sering dibuka, adanya cross
ventilation. Ketidak seimbangan antara ventilasi dan pencemaran udara
merupakan salah satu sebab terbesar gejala SBS.
Ventilasi dalam lingkungan kerja ditujukan untuk mengatur kondisi kenyamanan,
memperbaruhi udara dengan pencemaran udara ruangan pada batas normal,
menjaga kebersihan udara dari kontaminasi berbahaya. 3 Ventilasi ruangan secara
alami didapatkan dengan jendela terbuka yang mengalirkan udara luar kedalam
ruangan, namun selama beberapa tahun terakhir AC menjadi salah satu pilihan

terbaik.
Kebersihan Udara
Kebersihan lingkungan berkaitan dengan keberadaan kontaminan udara baik
kimia maupun mikrobiologi. Sistem ventilasi AC umumnya dilengkapi dengan
saringan udara untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkinan masuknya

zat-zat berbahaya kedalam ruangan.


Cara Kerja AC
Di era serba maju sekarang ini, kita pasti sangat akrab dengan AC. Apalagi
kehidupan modern diperkotaan hampir tidak lepas dari pemanfaatan tehnologi ini.
Namun apakah kita tau cara kerja AC sehingga bisa menghasilkan udara yang
nyaman.4 Udara dingin tersebut sebenarnya merupakan output dari system yang
terdiri dari beberapa komponen yaitu Cpmposer AC, Kondensor, Orifice tube,

Katub ekspansi, Evaporator dan Thermostat.


Perawatan AC
Agar AC tetap menghasilkan kelembaban ideal, sejuk dan bebas bakteri, maka
AC harus mendapatkan perawatan yang rutin dan teratur sehingga mampu
memproduksi udara sejuk, sehat dan nyaman. Perwatan AC untuk perumahan dan
perkantoran sebaiknya dilakukan tiga sampai empat bulan sekali maksimal enam
bulan sekali. Perawatan ini meliputi pembersihan seluruh komponen indoor dan
outdoor, sekaligus mengecek tekanan Freon untuk mengetahui apakah ada
6

Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
kebocoran atau tidak. Perawatan AC menjadi hal yang sangat penting agar jamur,
virus atau bakteri lain tidak bersarang dibadan atau selang AC. Demi kesehatan
untuk ruangan ber-AC sebaiknya menyediakan ventilasi udara , pergantian udara

dapat memperkecil terjadinya penyebaran virus.


Faktor fisik lingkungan
Temperatur yang tidak cukup, kelembaban dan pencahayaan merupakan faktor
fisik pendorong timbulnya SBS. Pada kelembaban tinggi (di atas 60-70%) dan
dalam temperatur hangat, keringat hasil badan tidak mampu untuk menguap
sehingga temperatur ruangan dirasakan lebih panas dan akan merasa lengket.
Ketika kelembaban rendah (di bawah 20%), temperatur kering, embun menguap
dengan lebih mudah dari keringat, sehingga selaput lendir dan kulit,
kerongkongan serta hidung menjadi mengering, akibatnya kulit menjadi gatal
serta ditandai dengan sakit kepala, kekakuan dan mata mengering.
Iklim kerja merupakan faktor lingkungan fisik yang berperan dalam perlindungan
bagi tenaga kerja terhadap bahaya kesehatan dan keselamatan Kerja. NAB
terendah untuk iklim kerja adalah 21 30 oC pada kelembaban nisbi 65 95%
(SE Menaker No. 01/Men/1978).4 Comfort zone pada negara dengan dua musim
seperti Indonesia, Grandjean (1993) memberikan batas toleransi suhu tinggi
sebesar 35-17 40 oC; kecepatan gerak udara 0,2 m/detik; kelembaban antara 40-

50%; perbedaan suhu permukaan <4oC.


Pencahayaan
Cahaya merupakan pancaran gelombang elektromagnetik yang melayang
melewati udara. Illuminasi merupakan jumlah atau kuantitas cahaya yang jatuh
kesuatu permukaan. Apabila suatu gedung tingkat illuminasinya tidak memenuhi
syarat maka dapat menyebabkan kelelahan mata, sehingga dapat menimbulkan
terjadinya kesalahan dalam melakukan pekerjaan serta kelelahan pada indra mata
yang terus-menerus dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada mata. 4 NAB
surat edaran permenkes No.SE-01/MEN/1987 tentang besarnya illuminasi yaitu
300-900 Lux.

2. Pajanan yang dialami


a. Pajanan fisik
Kemajuan pembangunan industri di Indonesia diikuti dengan pemanfaatan dan
penerapan berbagai tingkat kemanjuan teknologi. Kemajuan perkembangan
teknologi mempunyai dampak, yaitu dampak positif dan negatif. Dampak

7
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
positifnya adalah produk yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan, sedangkan
dampak negatifnya kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan.1,3
Pajanan bahaya potensial faktor fisik:
Pendingin udara (kaitannya dengan suhu dan kelembaban ruangan).
Secara umum, pengkondisian udara (air conditioning) dilakukan dengan
mengkondisikan udara dari luar bisa dipanaskan (untuk heating mode seperti di
negeri-negeri dingin) atau didinginkan (untuk cooling mode seperti halnya di
Indonesia) sehingga udara yang disemburkan ke dalam ruangan mencapai
kondisi set-point (temperature dan kelembaban) yang diinginkan. Pendingin
udara diklasifikasikan menjadi pendingin udara local dan central. Pendingin
udara local yaitu pendingin udara yang umum dipakai di rumah-rumah atau
beberapa ruangan kantor (biasanya ruang pejabat structural, namun sekarang
hamper seluruh ruang baik ruang staf maupun umum sudah dipasang pendingin
udara/AC), sedangkan pendingin udara sentral adalah pendingin udara yang
dikendalikan di satu tempat tersendiri oleh operator khusus, biasanya hotel-hotel,
tempat perbelanjaan, dan gedung perkantoran yang berskala besar. Kedua
pendingin udara ini berpotensi dalam menyebarkan berbagai virus dan bakteri.
Idealnya, filter mesin AC dibersihkan dan dibubuhi disinfektan setidaknya 3-4
kali dalam setahun. Jika tidak AC menjadi lokasi ideal bagi perkembangbiakan
rombongan bakteri. Kawanan Chlamidia sp, Escherichia sp, Legionella sp, akan
bersarang dengan nyaman di sela filter AC yang berair dan lembab.
Ketika udara AC menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu pula koloni
kuman menyusup ke saluran pernapasan, terhirup melalui mulut, hidung atau
masuk lewat lubang kuping. Bagi orang sehat dengan stamina prima, masuknya
kuman tak mendatangkan masalah. Lain soal jika korban yang dijambangi
kuman

adalah

mereka

yang

daya

tahan

tubuhnya

sedang

buruk.

Dhermatopagoides pteronnyssinus dan Dhermatopagoides farina adalah tungau


debu rumah yang sering ditemukan pada gedung lemaba yang menyebabkan
sensitisasi alergi.3

Debu di dalam ruang kerja.


Debu merupakan partikel-partikel zat padat, disebabkan oleh kekuatan-kekuatan
mekanis atau alami seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan
8

Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
yang cepat, peledakan, dan lain-lain dari bahan baik organic maupun non-organik.
Sumber alamiah partikulat atmosfir adalah debu yang memasuk atmosfir karena
terbawa oleh angin. Oleh karena itu, debu bisa terdapat dimana saja, misalnya
untuk indoor, penumpukan barang-barang bekas yang menimbulkan debu.
Karena ukurannya yang kecil, debu dapat terhirup dan tersangkut di dalam paru
sehingga dapat mengganggu aktivitas pernapasan manusia.3

Karpet yang tidak dirawat.


Partikel debu yang dibawa oleh manusia dari luar ruangan, pestisida yang
disemprotkan ke ruangan akan menempel pada karpet. Selain itu ada juga kutu
debu yang biasanya tinggal diantara sela-sela karpet, mengkonsumsi partikelpartikel kulit mati yang diproduksi oleh manusia setiap harinya Juga alas karpet
serta perekat yang digunakan untuk merekatkan karpet tersebut acap kali
mengeluarkan senyawa-senyawa organik yang mudah menguap. Sebagian besar
orang pernah merasakan bau kuat yang menyengat dari karpet yang baru
dipasang. Bila karpet tidak terawat, jarang dibersihkan dan dijemur, maka pertikel
debu, dan pencemar lain yang menempel di karpet akan ikut masuk ke dalam
sistem pernafasan manusia sehingga dapat mengganggu kesehatan.1,3

b. Pajanan biologik
Polusi biologi disebabkan oleh kutu debu, jamur, bakteri, serbuk sari tanaman,
dan organisme lain. Terutama, perkantoran modern yang biasanya menggunakan
pendingin tanpa ventilasi alami. Pekerja dapat berisiko mengidap penyakit,

diantaranya:1,3,4
Humidifier fever yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh organisme
Thermopilic actinomycetes yang menyebabkan sakit pada saluran pernafasan dan
alergi. Organisme ini biasanya terdapat dan hidup pada air yang terdapat di sistem

pendingin.
Legionnaire disease penyakit ini juga berhubungan dengan system pendingin
dalam ruang namun disebabkan oleh spesifik bakteri terutama bakteri legionella
pneumophila. Penyakit ini terutama akan lebih berbahaya pada pekerja dengan
usia lanjut. Reaksi legionella memang sering tidak disertai gejala mencolok
bahkan seperti flu biasa. Paling-paling hanya demam, menggigil, pusing, batuk

berdahak, badan lemas, tulang ngilu dan selera makan lenyap.1,3


c. Pajanan kimia
9
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
Penggunaan pewangi ruangan merupakan salah satu penyebab polusi dalam ruang
karena pewangi ruangan tersebut akan memaparkan bermacam bahan yang serba
kimiawi. Ada yang bisa menyebabkan alergi, pusing, hingga mual. Dilaporkan
bahwa 95% bahan kimia dalam pewangi adalah senyawa sintesis yang berasal
dari petrokimia, termasuk turunan benzene, aldehida dan banyak toksin serta agen
pembuat peka lain. Pajanan yang berulang-ulang akan memicu peningkatan
sensitivitas dan reaksi yang semakin kuat.
Bahan-bahan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk
reaksi alergi, masalah pernapasan dan sensitivitas.pada pajanan berulang, bahanbahan tersebut dapat meyebabkan keadaan yang lebih serius, misalnya cacat lahir,
gangguan saraf pusat, dan kanker. Selain itu, juga penyemprot nyamuk, rokok,
mesin fotokopi yang mengeluarkan ozon, penggunaan berbagai desinfektan,
hingga tanaman hidup yang tidak pernah dikeluarkan dari ruangan.
Tanaman yang jarang dikeluarkan dari ruangan juga kurang baik karena pada
malam hari tanaman mengeluarkan karbondioksida dan mengkonsumsi oksigen.
Terlebih jika tanaman tersebut berada di dalam ruangan kantor yang jarang
dibuka ventilasi udara segarnya. Selain itu juga banyak materi bangunan modern,
seperti cat diding yang masih baru diaplikasikan, papan partikel (particle board),
papan fiber (fiber board), dan berbagai macam perabotan plastik yang
mengeluarkan gas organik dalam jangka tahunan.1,2
d. Ergonomi
Dengan posisi kerja yang tidak nyaman atau posisi yang salah dapat
mengakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja yaitu low back pain.2
e. Pajanan psikososial
Stress psikis, monoton kerja, tuntutan pekerjaan, hubungan sesama sejawat, mass
psychogenic illness dan lain-lain.2
3. Hubungan pajanan dengan penyakit5
Langkah-langkah untuk menentukan hubungan pajanan dengan penyakit terdiri atas:
1. Identifikasi pajanan yang ada:
Pasien adalah seorang wanita yang bekerja di gedung perkantoran, jam kerja
pasien 8 jam dan semuanya dihabiskan di dalam ruangan dingin, pasien bekerja di
gedung bertingkat yang dipastikan menggunakan AC sentral, pasien sudah bekerja
di gedung perkantoran tersebut cukup lama sekitar 1 tahun.
2. Evidence based dari pajananpenyakit
Menurut Environmental Protection Agency (EPA), istilah "Sick Building
Syndrome" (SBS) digunakan untuk menggambarkan situasi di mana penghuni
10
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
bangunan mengalami kesehatan akut dan efek kenyamanan yang tampaknya
terkait dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan, tetapi tidak ada
yang spesifik penyakit atau penyebab dapat diidentifikasi.5
Secara patofisiologi belum ada literatur yang menuliskan secara rinci, akan tetapi
berbagai jurnal telah menulis, sebagai berikut :
1

Pasien sudah bekerja di gedung perkantoran selama 2 tahun dengan 8 jam

kerja dan duduk lama di depan komputer.


30% Pekerja perkantoran dengan poor air quality (ventilasi buruk) mengalami

gejala-gejala seperti SBS.


Bekerja terlalu lama dengan computer dapat menyebabkan kelelahan mata dan

mengakibatkan keluhan sakit kepala.


Kemudian dipastikan pula apakah dia kalau hari libur kerja itu gejalanya
menghilang atau tidak.

Jenis pajanan
Biologis

Status gizi

Pajanan yang mungkin di alamin


Jenis makanan yang dimakan
kurang

memenuhi

gizi

seimbang, jam makan yang


Imunologik

tidak teratur
Kondisi kesehatan yang tidak

Kuman, virus, dan jamur

baik
Ruangan

yang

jarang

dibersihkan, banyak debu di


Fisik

sekitar meja kerja


Terlalu panas atau dingin
Layar computer yang tidak

Suhu
Radiasi

diberi antiradiasi, cahaya dari


mesin fotokopi
Terlalu silau, remang-remang
Jumlah pekerja dalam satu

Cahaya
Kebisingan
Kimia

Ergonomis
Psikologis

ruangan yang terlalu banyak


Sirkulasi udara
Ventilasi yang tidak adekuat
Polusi udara dari dalam dan Asap rokok, volatile organic
luar ruangan
Model meja dan kursi kerja
Posisi saat bekerja
Desain tangga
Jam kerja dalam sehari
Beban
pekerjaan
dalam
sehari
11

Carissa Putri Crisdayani 102012446

compounds
Yang tidak sesuai standar
Yang tidak benar
Yang tidak sesuai standar
Maksimal 8 jam sehari
Tugas yang menumpuk

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
Hubungan

dengan

atasan Kurang harmonis

serta rekan kerja


Tabel 2. Kemungkinan hubungan pajanan dengan penyakit.5
4. Pajanan yang dialami cukup besar

Patofisiologi
Lingkungan kerja perkantoran meliputi semua ruangan, halaman dan area
sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja
untuk kegiatan perkantoran. Lingkungan kerja perkantoran biasanya disebut secara
berbeda dari pabrik.6 Fenomena SBS berkaitan dengan kondisi gedung, terutama
rendahnya kualitas udara ruangan. Berbagai bahan pencemar (kontaminan) dapat
mengganggu lingkungan udara dalam gedung (indoor air environment) melalui empat
mekanisme utama, yaitu:
(1) gangguan sistem kekebalan tubuh (imunologik );
(2) terjadinya infeksi;
(3) bahan pencemar yang bersifat racun (toksik);
(4) bahan pencemar yang mengiritasi dan menimbulkan gangguan kesehatan.
Gangguan sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh konsumsi zat gizi. Konsumsi zat
gizi yang baik akan memperbaiki status gizi, sehingga meningkatkan ketahanan fisik
dan meningkatkan produktivitas kerja, di samping membantu mengurangi infeksi.
Sedangkan bahan kimia yang bersifat racun (toksik) lebih banyak diserap oleh orang
usia muda dan tua dibanding pada orang dewasa. Biasanya sulit untuk menemukan
suatu penyebab tunggal dari SBS. Menurut London Hazards Centre, penyebab utama
SBS adalah bahan kimia yang digunakan manusia, jamur pada sirkulasi udara serta
faktor fisik seperti kelembaban, suhu dan aliran udara dalam ruangan, sehingga
semakin lama orang tinggal dalam sebuah gedung yang sakit akan mudah menderita
SBS. Ventilasi yang tidak adekuat meliputi kurangnya udara segar yang masuk
kedalam ruangan gedung, distribusi udara yang tidak merata dan buruknya perawatan
sarana ventilasi. Sedangkan menurut EPA, penyebab SBS sebagai berikut.
1) Ventilasi tidak cukup standar
Ventilasi pada sebuah gedung yaitu kira-kira 15 kaki berbentuk kubus sehingga udara
luar dapat masuk dan menyegarkan penghuni di dalamnya, terutama tidak sematamata untuk melemahkan dan memindahkan bau. Dengan ventilasi yang tidak cukup
standar, maka proses pengaturan suhu tidak secara efektif mendistribusikan udara
pada penghuni ruangan sehingga menjadi faktor pemicu timbulnya SBS.

12
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
2) Zat pencemar kimia bersumber dari dalam ruangan polusi udara dalam ruangan.
Bersumber dari dalam ruangan itu sendiri, seperti bahan pembersih karpet, mesin
fotokopi, tembakau dan termasuk formaldehid.
3) Zat pencemar kimia bersumber dari luar gedung
Udara luar yang masuk pada suatu bangunan bisa merupakan suatu sumber polusi
udara dalam gedung, seperti pengotor dari kendaraan bermotor, pipa ledeng lubang
angin dan semua bentuk partikel baik padat maupun cair yang dapat masuk melalui
lubang angin atau jendela dekat sumber polutan. 6 Bahan-bahan polutan yang mungkin
ada dalam ruangan dapat berupa gas karbon monoksida, nitrogendioksida dan
berbagai bahan organik.

Epidemiologi
Dua puluh tahun belakangan ini di dunia banyak sekali dibangun gedunggedung bertingkat tertutup rapat lengkap dengan ventilasi udara yang tergantung
sepenuhnya

pada

berbagai

mesin,

seperti

kantor

atau

perkantoran

yang

merupakansalah satu tempat kerja yang menggunakan ventilasi dengan sistem


Air Conditioner (AC). Hal tersebut menyebabkan polusi, terutama polusi udara yang
diakibatkan ventilasi sistem AC mempunyai sirkulasi udara sendiri, sehingga akan
mempengaruhi kualitas udara dalam ruangan.
Penelitian terhadap 350 karyawan dari 18 kantor di Jakarta selama 6 bulan
(Juli-Desember 2008) menunjukkan penurunan kesehatan pekerja dalam ruangan
akibat udara ruangan tercemar radikal bebas (bahan kimia), berasal dari dalam
maupun luar ruangan dan 50% orang yang bekerja dalam gedung perkantoran
cenderung mengalami SBS.6 Penelitian Occupational Safety and Healthy Act (OSHA)
mendapatkan dari 446 gedung, penyebab polusi udara dalam gedung karena ventilasi
tidak adekuat (52%), alat/bahan dalam gedung (7%), polusi luar gedung (11%),
mikroba (5%), bahan bangunan/alat kantor (3%), dan tidak diketahui (12%). Gejala
yang terjadi tidak spesifik, berupa nyeri kepala, iritasi membran mukosa, mata serta
nasofaring, batuk, sesak, rinitis dan gejala lain tetapi bukan merupakan penyakit
spesifik dan penyebabnya tidak diketahui dengan jelas.

Kualitatif
Pasien bekerja sebagai karyawati bagian administrasi yang sudah bekerja
selama 1 tahun dan bekerja dari jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore setiap harinya.
Lingkungan tempat bekerja tidak terdapat ventilasi yang baik dan terdapay sebagai
pendingin dan saluran udara.

Observatif lingkungan kerja


13
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
Sirkulasi udara
Kantor yang bertingkat biasanya menggunakan Air Conditioner (AC) sebagai
pendingin udara untuk kenyamanan karyawan sehingga meningkatkan efisiensi kerja
karyawan. Namun AC

juga dapat menimbulkan penyakit jika tidak dibersihkan

secara teratur karena bisa mencemari udara ruang kerja.


Kebersihan ruang kerja
Yang perlu diperhatikan berapa sering ruang kerja dibersihkan dalam seminggu.
Perhatikan juga apakah ruangan baru saja atau sedang direnovasi.

Pemakaian APD
Jumlah pajanan
Pasien mendapat pajanan yang besar karena jam bekerja yang lama yaitu mengoutput
dan mengedit selama 8 jam setiap hari di depan computer dan mengeprint secara non
stop selama dua tahun di gedung tersebut. Pajanan yang terjadi pada pasien cukup
besar, hal ini dibuktikan dengan waktu terpapar pajanan mengingat bahwa pajanan
terjadi setiap hari selama 8 jam dan sudah terjadi selama 2 tahun.

Perlu

dikonfirmasikan juga apakah teman sekerja pasien ada yang mengalami hal yang
sama atau tidak.
5. Faktor individu
Perhatikan kesehatan fisik pasien. Tanyakan riwayat alergi, kebiasaan olahraga
(berapa banyak dalam seminggu dan berapa lama), dan riwayat penyakit keluarga
(penyakit keturunan dan apakah anggota keluarga lain juga menderita hal yang sama).
Lalu tanyakan juga kesehatan mentalnya (cara penanganan di kala stress, apabila di
pernah cek tanyakan tipe kepribadiannya karena orang dengan tipe kepribadian A
cenderung mudah stress). Kebersihan perorangan juga penting karena kemungkinan
saja keluhannya itu disebabkan karena dia tidak bersih (tidak mandigatal-gatal;
jarang membersihkan ruangan tempat ia bekerja sehingga banyak debubatuk pilek).

6. Faktor lain di luar pekerjaan


Selain faktor dari individu pasien itu sendiri. Kita juga perlu menanyakan faktor-faktor
lain, seperti:

Hobi: karena ada kemungkinan keluhannya ini karena hobinya misalnya menonton

TV berjam-jam, traveling, kuliner, main game sampai lupa waktu.


Kebiasaan (merokok, minum alkohol).

14
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran

Pajanan rumah: ini penting untuk mencari penyebab spesifik dari keluhannya
(rumah/daerah sekitar rumah sedang dalam tahap renovasi, sirkulasi udara dirumah
berhubungan dengan ventilasi dan kebersihan pendingin udara, kebersihan rumah,
adakah di rumah yang merokok)

Pekerjaan sambilan: sepulang dari kantor apakah pasien ada pekerjaan sambilan juga
misalnya menjadi penjaga toko tua, tukang cat

7. Diagnosis okupasi
Pasien menderita penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan (PAK) dimana pasien
terinfeksi udara yang terkontaminasi oleh virus yang di derita oleh teman sekantornya
yang menderita penyakit sama sepertinya. Ruangan tanpa ventilasi membuat udara
yang terdapat di dalam ruang tidak dapat bertukar dengan udara yang di luar ruangan,
ini membuat udara yang sudah banyak terdapat virus-virus penyakit terperangkap dan
di hirup oleh orang yang berada di dalam rungan itu juga sehingga orang sehat
tersebut dapat tertular penyakit.7 Kondisi ini disebut dengan Sick Building Syndrome
atau sakit bangunan sindrom.
Penatalaksanaan

Mediakamentosa
Penanganan berdasarkan gejala yang di alami. Untuk batuk bisa diberikan ambroxol
untuk mukolitik 2 kali sehari dengan dosis perhari 60-120 mg perhari, sedangkan untuk
pilek bisa diberikan tremenza 3 kali sehari. Untuk demam dan nyeri seluruh badan bisa
diberikan parasetamol. Asupan suplemen antioksidan terbukti menurunkan SBS hingga 65
persen, penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai gangguan atau keluhan SBS yang
terjadi pada para karyawan berbagai perusahaan di Jakarta dapat diturunkan setelah
mengkonsumsi suplemen antioksidan secara teratur setiap hari selama 3 bulan, untuk
selalu menjaga tubuh tentu harus dikonsumsi rutin karena tubuh memerlukanya dan kita
dapatkan dari makanan yang sehat atau suplemen yang mengandung zat antioksidan. 7
Penurunanya sangat signifikan, dengan asupan suplemen antioksidan yang teratur terbukti
dapat menurunkan frekuensi SBS, hal ini tentunya akan meningkatkan produktifitas kerja.

Non medikamentosa8
1) Menghilangkan sumber kontaminasi penyebab SBS, misalnya dengan pembersihan
AC secara berkala.
2) Jangan merokok, karena dapat memperberat penyakit.
15
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
3) Menghilangkan sumber polutan. Jika suatu gedung telah dinyatakan telah terkena
SBS, maka perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari sumber polutan
yang dominan. Setelah sumber tersebut ditemukan, maka langkah selanjutnya adalah
menghilangkan sumber polutan tersebut.
4) Gunakan masker selama di kantor untuk mengurangi pajanan kimia yang ada di ruang
kerja.
5) Pada komputer gunakan layar antiradiasi untuk mengurangi radiasi dari layar
komputer.
6) Meningkatkan laju pertukaran udara. Ini dapat dilakukan dengan melakukan
modifikasi terhadap sistem ventilasi yang telah ada disesuaikan dengan standar baku
yang telah ada.
7) Membersihkan udara yang disirkulasikan di dalam gedung. Hal ini dapat dilakukan
dengan menggunakan filter yang dapat menyaring udara, meskipun sangat terbatas.
8) Menjaga temperature dan kelembapan ruangan dalam rentang dimana kontaminasi
biologis susah bertahan hidup. Biasanya dalam temperature 70 oF dan kelembapan 4060%.
9) Jendela sedapat mungkin dibuka untuk membantu proses pertukaran udara dalam dan
udara luar.
Pencegahan
Keluhan yang timbul pada penderita SBS biasanya dapat ditangani secara simtomatis
asal diikuti dengan upaya agar suasana lingkungan udara digedung tempat kerja menjadi
lebih sehat. Yang perlu mendapat perhatian utama tentu bagaimana pencegahan yang dapat
dilakukan untuk menghindari suatu gedung menjadi penyebab SBS. Ternyata upaya
pencegahannya cukup luas, menyangkut bagaimana gedung itu dibangun, bagaimana desain
ruangan, bahan-bahan yang digunakan di dalam gedung, perawatan alat-alat dan lain-lain.9
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan meliputi:
1. Umunnya penderita SBS akan sembuh apabila keluar dari dalam gedung tersebut, gejalagejala penyakitnya dapat disembuhkan dengan obat-obat simtomatis.
2. Upaya agar udara luar yang segar dapat masuk ke dalam gedung secara baik dan
terdistribusi secara merata ke semua bagian di dalam suatu gedung. Dalam hal ini perlu
diperhatikan agar lubang tempat masuknya udara luar tidak berdekatan dengan sumbersumber pencemar di luar gedung agar bahan pencemar tidak terhisap masuk ke dalam
gedung. Ventilasi dan sirkulasinya udara dalam gedung diatur sedemikian rupa agar
semua orang yang bekerja merasa segar, nyaman dan sehat, jumlah supply udara segar
sesuai dengan kebutuhan jumlah orang di dalam ruangan, demikian pula harus

16
Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
diperhatikan jumlah supply udara segar yang cukup apabila ada penambahanpenambahan karyawan baru dalam jumlah signifikan.
3. Perlu pula diperhatikan pemilihan bahan-bahan bangunan dan bahan pembersih ruangan
yang tidak akan mencemari lingkungan udara di dalam gedung dan lebih ramah
lingkungan (green washing, non toxic, ecological friendly).
4. Penambahan batas-batas ruangan dan penambahan jumlah orang yang bekerja dalam satu
ruangan hendaknya dilakukan setelah memperhitungkan agar setiap bagian ruangan dan
individu mendapat ventilasi udara yang memadai.
5. Jangan adalkan membuat sekat ruangan saja, dan jangan terus-menerus menambah
jumlah orang untuk bekerja dalam satu ruangan sehingga menjadi penuh sesak.
6. Alat-alat kantor yang mengakibatkan pencemaran udara, seperti mesin fotokopi,
diletakkan dalam ruangan terpisah.
7. Renovasi kantor dengan menggunakan bahan-bahan bangunan baru, cat baru, lem baru,
agar dipasang exhaust fan yang memadai agar pencemaran dari volatile organic
compounds (VOCs), terutama uap benzene dan formaldehyde yang berasal dari bahanbahan bangunan baru dapat segera dibuang.9
Prognosis
Prognosis untuk kasus ini baik bila penyebab dapat diatasi dengan segera. Sehingga
kualitaskerja para pekerja baik, dan akhirnya produktivitas perusahaan baik.

Kesimpulan
SBS merupakan sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni gedung yang
berhubungan dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung tersebut, tetapi tidak terdapat
penyakit atau penyebab khusus yang dapat diidentifikasi. Penyebab terjadinya SBS berkaitan
dengan ventilasi udara ruangan yang kurang memadai, distribusi udara yang kurang merata,
serta kurang baiknya perawatan sarana ventilasi. Keluhan umumnya dapat ditanganisecara
simptomatis dengan diikuti dengan upaya penyehatan lingkungan di dalam gedung.

Daftar pustaka
1.

Depkes

RI

Pusat

Kesehatan

Kerja.

Modul

Pelatihan

Bagi

Fasilitator Kesehatan Kerja. Jakarta: Depkes RI;2008.


2.

Tjandra YA, Tri H. Kesehatan Dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Penerbit


Universitas Indonesia;2011.h.87-93.
17

Carissa Putri Crisdayani 102012446

Sick Building Syndrome pada Pekerja


Kantoran
3.

Herawati S, Ign I, Hanry E, Sanarko LH, Regie S. Penuntun patologik


klinik hematologi. Jakarta: Biro Publikasi Fakultas Kedokteran Indonesia;2007.h.92.

4.

Micheal LF. Current occupational & enviromental medicine: buildingassociated illness. Fourth Edition. USA: The McGraw Hill;2007.p.721-24.

5.

Bibhat KM, Edmund GLW, Edward MD, Richard TM. Lecture notes:
penyakit infeksi. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga;2006.h.62-4.

6.

PS Burge. Sick building syndrome. Occup baviron Med 2009;(61):185-90.

7.

Joe EH. Sick building syndrome. Ohio: The Ohio State University
Extension;2008.

8.

Sumamur PK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta: CV


Sagung Seto;2009.h.197-205.

9.

Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta:


EGC;2012.h.59-76.

18
Carissa Putri Crisdayani 102012446