Anda di halaman 1dari 27

LNG Carrier | BAB III.

LNG CARRIER/LNG TANKER

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan paper mengenai Kapal LNG Carrier/LNG
Tanker. Paper ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Perancangan kapal
Dua (II).
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Erik Sugianto, ST, MT.,
selaku dosen kelas mata kuliah Perancangan kapal Dua (II) yang telah
menyampaikan materi tentang jenis-jenis dan spesifikasi dari masing-masing
kapal. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga paper ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Paper ini
masih memilki banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami
butuhkan agar paper selanjutnya menjadi lebih baik.
Semoga paper ini dapat memberikan tambahan informasi serta wawasan
tentang Kapal LNG Carrier, Serta memberikan manfaat kepada para pembaca.

Surabaya, 17 Desember 2014

Penyusun

LNG Carrier | BAB III. LNG CARRIER/LNG TANKER

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL....................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................................ 1
I.1 Latar Belakang.............................................................................................. 1
I.2 Tujuan............................................................................................................ 1
BAB II. LIQUEFIED NATURAL GAS (LNG).................................................................2
II.1 Pengertian Liquefied Natural Gas (LNG).......................................................2
II.2 Sifat dan Karakteristik LNG...........................................................................2
II.3 Komposisi Liquefied Natural Gas (LNG)........................................................2
II.4 Proses Produksi LNG..................................................................................... 3
BAB III. LNG CARRIER/LNG TANKER........................................................................5
III. 1 Sejarah Umum Kapal LNG...........................................................................5
III.2 Definisi dan Deskripsi LNG Carrier...............................................................6
III. 3 Jenis jenis Kapal LNG................................................................................ 6
III.4 Desain, Kostruksi, dan Produksi...................................................................8
III.4.1 Desain................................................................................................... 8
III.4.2 Konstruksi Kapal LNG...........................................................................10
III.5 Bongkar-muat Kapal LNG...........................................................................13
III.6 Regulasi yang mengatur LNG Carrier.........................................................15
PENUTUP.............................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 20

LNG Carrier | BAB III. LNG CARRIER/LNG TANKER

DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Skematik proses produksi LNG...........................................................4
Gambar III.1 LNG Kvaenrner-Moss dan penampang Kvaerner-Moss......................6
Gambar III.2 LNG GTT Mark III dan GTT Mark III Membrane Containment System. 7
Gambar III.3 LNG GTT No.96 dan GTT No.96 Membrane Containment System......7
Gambar III.4 IHI Self Supporting Type B Prismatic Tank.........................................7
Gambar III.5 Bagan klasifikasi LNG Carrier oleh IMO.............................................8
Gambar III.6 Persentase banyaknya LNG Carrie di dunia berdasarkan tipe
tangkinya............................................................................................................... 8
Gambar III.7 Komponen LNG Carrier......................................................................9
Gambar III.8 Desain kapal LNG Moss Type dan Membrane Type...........................9
Gambar III.9 Desain kapal LNG Prismatic Type......................................................9
Gambar III.10 Konstruksi Membrane Tank No.96.................................................11
Gambar III.11 Konstruksi Membrane Tank Type Mark III.......................................12
Gambar III.12 Konstruksi Kvaerner-Moss Tank.....................................................12
Gambar III.13 Konstruksi SPB Tank......................................................................13
Gambar III.14 Typical LNG Receiving Terminal/Re-gasification Facility.................14
Gambar III.15 Sistem offloading LNG Carrier.......................................................14
Gambar III.16 Sistem offloading LNG Carrier.......................................................15

LNG Carrier | BAB III. LNG CARRIER/LNG TANKER

DAFTAR TABEL
Tabel I.1 Komposisi LNG......................................................................................... 2
Tabel III.1 Regulasi LNG Carrier............................................................................10

LNG Carrier | BAB III. LNG CARRIER/LNG TANKER

BAB I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak pula kendaraan
yang diciptakan di dunia dan menyebabkan banyaknya polusi dikarenakan
pemakaian bahan bakar minyak (BBM) yang tidak ramah lingkungan, dimana
pada akhirnya akan membuat pemanasan global semakin cepat dan besar. Maka
dari itu telah ditemukan bahan bakar baru yang lebih ramah lingkungan, yakni
LNG (Liquefied Natural Gas).
Tidak seperti gas alam yang lainnya, LNG harus diperlakukan dengan
sangat hati-hati dikarenakan sifatnya yang sangat berbahaya. Maka dari itu,
dilakukan riset untuk membuat alat angkut yang bisa mengangkut LNG dengan
aman. Dalam hal ini dipilihlah alat angkut berupa kapal, yang pada akhirnya
disebut sebagai Kapal LNG/LNG Carrier/LNG Tanker. Kapal LNG merupakan
pengembangan dari kapal tanker, namun dikarenakan desain dari kapal tanker
yang tidak diperuntukkan untuk membawa LNG, maka dilakukan pengembangan
kapal tanker yang berbasis dan bisa kompatibel membawa muatan berupa LNG.
Kapal LNG memiliki tempat penyimpanan khusus dan bisa meredam
tekanan tinggi, sehingga dengan adanya kapal ini dapat mengurangi polusi
udara, sehingga tergolong kapal yang ramah lingkungan.

I.2 Tujuan

Memahami
Memahami
Memahami
Memahami
Memahami

pengertian kapal LNG


fungsi kapal LNG
kontruksi kapal LNG
desain kapal LNG
karakteristik kapal LNG

BAB II. LIQUEFIED NATURAL GAS (LNG)


II.1 Pengertian Liquefied Natural Gas (LNG)
LNG (Liquified Natural Gas) adalah gas alam yang berbentuk cair/gas alam
yang dicairkan/gas alam yang diubah bentuknya dari fase gas menjadi fase cair.
Gas alam akan mencair jika didinginkan sampai suhu -162C (+260F). Dalam
bentuk cair gas alam akan berkurang volumenya sampai 600 kali sehingga
mudah dan aman untuk disimpan dan ditransportasikan. Jika LNG dipanaskan
maka ia akan kembali ke fase gas, di LNG plant ini dilakukan pada terminal
regasifikasi. (Wikipedia)
LNG (Liquefied Natural Gas) adalah gas alam yang sebagian besar
ketidakmurnian (impiurity) seperti belerang dan karbon dioksida telah
dihilangkan. Gas ini didinginkan sampai atau dekat titik didihnya hingga -165 C
dengan mendekati tekanan atmosfer dan diangkut dalam bentuk cair seperti
sebagian besar metana cair. Metana memiliki tekanan kritis 45,6 kg/cm 2 pada
suhu kritis -82, 5 C, yaitu tekanan dan suhu di atas yang liquefication tidak
dapat dilanjutkan lagi, sehingga metana yang dapat hanya bisa dicairkan dengan
tekanan pada suhu yang sangat rendah. (LNG Assesment 2002).

II.2 Sifat dan Karakteristik LNG


Sifat Liquefied Natural Gas (LNG):

tidak beracun (non-toxic)


tidak berbau (odorless)
tidak menimbulkan karat (non-corrosive)
tidak mudah terbakar/meledak (non-combustible)
tidak menghasilkan banyak polutan berbahaya (hanya sedikit CO2, NOx,
dan SOx) sehingga ramah lingkungan, serta mudah, aman, dan murah
dalam transportasinya. LNG sangat berguna untuk memasak, penghangat
ruangan, pembangkit listrik, pengganti BBM, dll.
Biasanya 95% metana (CH4) dengan sejumlah kecil etana, propana,
butana dan nitrogen
Tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, non-karsinogenik dan dalam
bentuk cair 45% densitas air
Uap lebih dari 50% densitas udara dan akan meningkat dalam kondisi
atmosfer normal (propana / butana lebih berat daripada udara)
Bisa disimpan dan diangkut dalam tangki terisolasi pada tekanan
atmosfer standar
LNG cryogenic, kontak dengan beberapa non-cryogenic:
- material menyebabkan bahan menjadi rapuh dan gagal
- paparan kulit akan menyebabkan luka bakar cryogenic

Karakteristik tumpahan LNG:

Tidak ada masalah polusi


tumpahan kecil menguap dengan cepat
tumpahan besar mengalir sebelum penguapan
Bukan kargo gigih: OPA 90, dll tidak berlaku

II.3 Komposisi Liquefied Natural Gas (LNG)


Tabel I.1 Komposisi LNG

II.4 Proses Produksi LNG


Proses produksi LNG terdiri dari 4 tahap utama yaitu:
1. Eksplorasi & produksi gas alam
Kegiatan eksplorasi dilakukan untuk menemukan gas alam pada kerak
bumi. Setelah cadangan gas diketemukan, kegiatan produksi dapat
dilakukan yaitu untuk mengambil gas tersebut dari dalam kerak bumi
untuk kemudian dihilangkan pengotor-pengotornya sesuai dengan
spesifikasi yang ditentukan.
2. Pencairan gas alam (liquifaction) dengan cara pendinginan
Pencairan Gas yang diproduksikan tersebut memasuki tahap pencairan
untuk mengubah gasalam menjadi cair (LNG) sehingga dapat
ditransportasikan menggunakan kapal
3. Transportasi (shipping)
Untuk membawa LNG ke pembeli,
menggunakan tanker khusus.

LNG

ditransportasikan

dengan

4. Regasifikasi (re-gasification) dan penyimpanan untuk kemudian


didistribusikan ke konsumen melalui pipeline systems.
Setelah kapal sampai ke terminal penerimaan, LNG kemudian ditempatkan
pada tangki penyimpanan khusus, untuk kemudian diregasifikasi dari fase
cair, sehingga gas bisa ditransportasikan ke pengguna melalui pipa
penyalur.

Gambar II.1 Skematik proses produksi LNG

BAB III. LNG CARRIER/LNG TANKER


III. 1 Sejarah Umum Kapal LNG
Kapal LNG pertama adalah Methane Pioneer dengan DWT sebesar 5.034
ton yang mulai beroperasi pada tahun 1959. Dimana kapal tersebut membawa
muatan LNG pertama, untuk dibawa ke Inggris. Kemudian pada beberapa dekade
berikutnya setelah kapal tersebut dianggap berhasil, pada akhir tahun 1960-an
dibuat kapal untuk mengekspor LNG dari Alaska ke Jepang, dua kapal, masingmasing dengan kapasitas sebesar 71.500 m 3,dibangun di Swedia. Dimana kapal
tersebut mulai beroperasi pada tahun 1969. Pada awal 1970-an, Pemerintah AS
mendorong AS untuk membangun galangan kapal pengangkut LNG, dan pada
akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an telah dibangun 16 kapal LNG. Seiring
dengan berjalannya waktu, terjadi peningkatan kapasitas kargo sekitar 143.000
m3. Maka desain tangki barupun dikembangkan, dari Moss Rosenberg ke
Technigaz Mark III dan Gaztransport No.96.
Pada awal abad ke-20, dikarenakan demand yang semakin meningkat tiap
tahunnya, maka dibuatlah kapal-kapal LNG raksasa yang berkapasitas hingga
266.000 m3. Pada akhir tahun 2005, total kapal LNG yang telah dibangun adalah
203, dimana 193 yang masih dalam pelayanan. Dalam beberapa tahun terakhir,
ukuran dan kapasitas pembawa LNG telah meningkat drastis. Sejak tahun 2005,
Qatargas telah merintis pengembangan dua kelas baru operator LNG, disebut
sebagai Q-Flex dan Q-Max. Setiap kapal memiliki kapasitas muatan antara
210.000 m3 hingga 266.000 m3. Menurut presentasi oleh Golar LNG Partners,
pada bulan Juni 2012 ada 72 kapal baru yang dibangun. Dimana sebagian besar
kapal-kapal baru yang sedang dibangun memiliki ukuran 120,000-140,000 m 3.
Hingga akhir tahun 2011, telah terdapat 359 kapal LNG yang beroperasi di dunia.

1912: Pertama pengolahan LNG dibangun di Virginia Barat


1914: Godfrey Cabot paten tongkang untuk membawa cairan gas,
transportasi waterborne layak secara teknis
1959: METHANE PIONEER, dikonversi kapal kargo, membawa 5km 3 LNG
antara Danau Charles dan Inggris menunjukkan kelayakan transportasi
waterborne
1964: Methane Princess & Methane Progress, 27,4 km 3 menjadi yang
pertama kapal LNG komersial, operasi antara Aljazair dan Inggris
1969: Gas Transport membrane system vessels Polar Alaska & Arctic
Tokyo, 71.5km3, memulai layanan dari Alaska ke Tokyo
1971: Kvaerner mengembangkan 88km3 Moss sistem penahanan bola 9
1975: 100km3 lebih dengan pengiriman Perancis dibangun BEN
FRANKLIN, 120km3
1979: Pembentukan Society of International Gas Tanker and Terminal
Operators (SIGTTO) untuk mempromosikan operasi yang aman dan dapat
diandalkan kapal tanker dan terminal gas
1993: Polar Eagle and Arctic Sun, 83.5km3, dengan IHI prismatic
containment system mulai layanan dari Alaska ke Tokyo

Armada Profil saat ini

Sekitar 155 operator LNG beroperasi dengan kapasitas total sekitar 18


juta m3
- 120 km3 atau lebih besar ~ 125 operator
- 50 km3 120 km3 ~ 15 operator
- Kurang dari 50 km3 ~ 15 operator
Sekitar lima puluh lima operator LNG yang saat ini sedang dibangun
- 138 km3 atau lebih ~ 46 operator
- Kurang dari 138 km3 ~ 9 operator
- 5 N/B disampaikan sejauh 2004
- 6 perintah baru ditempatkan sejauh 2004

III.2 Definisi dan Deskripsi LNG Carrier


LNG Carrier/LNG Tanker adalah transportasi utama pengangkut LNG dari
negara penghasil gas alam menuju negara tujuan yang merupakan gas alam
yang dicairkan dengan tujuan untuk memampatkan volumenya sampai 600 kali
lebih kecil karena pengiriman LNG lebih kompetitif. Dengan perkembangan
perdagangan titik LNG, pengiriman LNG juga menawarkan keragaman dan
fleksibilitas pasokan gas di seluruh dunia dan membantu untuk membentuk gas
di pasar global.
Kapal LNG Carrier dirancang khusus untuk mengangkut Liquefied Natural
Gas (gas cair LNG). Hal ini sejalan dengan tumbuhnya pasar LNG, Kapal Tanker
LNG pertama Methane Princess dioperasikan pada 1964 dan tetap beroperasi
sampai tahun 1998. sampai akhir 2005 ada 203 kapal yang telah dibuat, dimana
193 diantaranya masih aktif digunakan. Saat ini jumlah armada tanker LNG
terus bertambah. Ada sekitar 140 kapal telah dipesan di beberapa galangan
kapal. Kapal-kapal tersebut di antaranya dalam ukuran antara 120,000 m
hingga 140,000 m.
Pembangunan tangki kapal bermuatan gas dapat berupa desain prisma,
desain membrane, atau desain bulat. Bahan yang digunakan untuk tangki
muatan ini dapat berupa aluminium, kayu balsa, kayu lapis, invar atau nikel baja,
stainless steel dengan perlit dan busa poliuretan.
LNG membawa terutama metana dan etana. Kapal LNG membawa muatan
ini pada -161C, dengan kepadatan relatif sekitar 0,600 dengan rasio kontraksi
volume 1/600. Penyimpanan kargo LNG dilakukan pada tekanan ambien.
Kapasitas berkisar dari 75.000 sampai 138.000 m3 gas, LBPs mereka hingga 280
m. MLD dari 25 sampai 46 m. Ketika terisi penuh, CB LNG Carrier sekitar 0.660
hingga 0.680 dengan service speed di kisaran 16-20,75 knot. Kapal LNG
merupakan fine-form vessels.

III. 3 Jenis jenis Kapal LNG


LNG Carrier diklasifikasikan berdasarkan desain penahanan muatan mereka
Jenis dan sistem penahanan muatan:
-

Kvaerner-Moss (tangki bulat)

Gambar III.1 LNG Kvaenrner-Moss dan penampang Kvaerner-Moss


-

Membrane Systems
Gaz Transport and Technigaz (GTT) Systems Membrane (Mark III, No96, CS1)

Gambar III.2 LNG GTT Mark III dan GTT Mark III Membrane Containment System

Gambar III.3 LNG GTT No.96 dan GTT No.96 Membrane Containment System
-

IHI Prismatic

Gambar III.4 IHI Self Supporting Type B Prismatic Tank

III.4 Desain, Kostruksi, dan Produksi


III.4.1 Desain

Gambar III.5 Bagan klasifikasi LNG Carrier oleh IMO


Berdasarkan Klasifikasi IMO diatas untuk tipe tangki LNG, ada tiga tipe
tangki kandidat utama yang akan bersaing untuk digunakan oleh para desainer
FLNG yaitu :
-

SPB (Self Prismatic Type B)/ Kategori Independent Self Supporting Tank
Type B
Moss/ Kategori Independent Self Supporting Tank Type B
Membrane (GTT MKIII/ NO 96)/ Kategori Non-Self Supporting Tank

Namun, track record tipe tangki LNG berdasarkan data tahun 2009 dari
populasi sebanyak 335 kapal LNG, persentase pemakaian tangki LNG dari setiap
tipe yang ada adalah sebagai berikut:
- Kapal dengan tank type Membrane (GT96 & Mark III) adalah sebanyak
57%
- Kapal dengan tank type Moss adalah sebanyak 36%

Kapal dengan menggunakan type tangki lain-lain adalah sebanyak 7%,


antara lain kapal dengan dengan tangki SPB sebanyak 2 kapal (88.000
m3) dengan rute perairan Alaska dan berkelas NK.

Gambar III.6 Persentase banyaknya LNG Carrie di dunia berdasarkan tipe


tangkinya

Gambar III.7 Komponen LNG Carrier

Gambar III.8 Desain kapal LNG Moss Type dan Membrane Type

Gambar III.9 Desain kapal LNG Prismatic Type

III.4.2 Konstruksi Kapal LNG


Pada tahun 1975 Sidang ke 9 dari IMO yang mengadopsi kode untuk
Konstruksi dan Perlengkapan Kapal yang Membawa Gas cair di dalam tangki
adalah A.328 (IX) dimana regulasi tersebut telah menyediakan standar
internasional untuk kapal yang mengangkut gas cair dalam bentuk curah.
Peraturan ini menjadi wajib pada tahun 1986 dan pada umumnya disebut
sebagai IMO International Gas Carrier Code. Persyaratan kode ini digabungkan
dalam aturan untuk kapal yang mengangkut gas cair dan diterbitkan oleh Lloyd
dan klasifikasi lainnya. Regulasi ini mencakup pembatasan kerusakan tangki
muatan dan kelangsungan hidup kapal dalam kejadian tabrakan atau karam,
keamanan, penanganan muatan, bahan konstruksi, pengendalian lingkungan,
proteksi kebakaran, penggunaan ruang muat sebagai bahan bakar, dan lain-lain.
Dan yang menarik dalam konteks konstruksi kapal di dalam kode ini
adalah bagian pada peraturan muatan yang mendefinisikan sebagai jenis ruang
muat. Salah satunya yaitu lapisan luar yang menahan ruang muat dalam
melindungi lambung kapal. Karena struktur dari efek embrittling dari suhu
rendah pada muatan LNG harus dijaga oleh lapisan tersebut untuk menghindari
kebocoran dari struktur tangki primer.
Jenis lapisan penahanan dalam tersebut dijelaskan di bawah ini.

Integral Tanks
Merupakan tangki yang bagian strukturalnya dari lambung kapal dipengaruhi
dengan cara yang sama dan dengan beban yang sama pada struktur
stressnya pada lambung karena berada tepat disebelahnya. Tangki ini
digunakan untuk pengangkutan LPG atau gas yang kondisinya dekat dengan
tekanan atmosfer, misalnya butana, dimana tidak ada ketentuan untuk
ekspansi dan pemuaian termal dari tangki.
Membrane Tanks
adalah tangki non supported tank yang terdiri dari lapisan tipis (membran)
yang ditunjang melalui isolasi oleh lambung yang berdekatan dengan
struktur. Membran ini dirancang sedemikian rupa sehingga termal dan
ekspansi lainnya atau pemuaiannya dikompensasikan tanpa harus
menekankan dari membran. Membran tank terutama digunakan untuk kapal
pengangkut LNG.

Semi-Membrane Tanks
adalah tangki non-supported tank yang dalam kondisi yang memiliki beban.
Bagian datar dari tangki mendukung untuk mentransfer berat beban dan
kekuatan dinamis melalui lambung, tetapi sudut bulat dan ujung-ujungnya
tidak mendukung sehingga tangki berekspansi dan berkontraksi yang
disalurkan akan tertahan. Tangki tersebut dikembangkan untuk pengangkutan
LNG, tetapi hanya digunakan untuk kapal sebagian kecil Kapal LPG.
Independent Tanks
Ada tiga jenis:
- Tipe A, yang dirancang terutama menggunakan metode standar
tradisional untuk menganalisa struktur kapal. Biasanya LPG atau yang
tekanannya mendekati atmosfer atau LNG pun dapat disimpan dalam
tangki tersebut.
- Tipe B, yang dirancang dengan menggunakan alat dan metode
analisis yang lebih canggih dalam menentukan tingkat stress, umur
kelelahan dan penjalaran karakteristik retak. Konsep desain
keseluruhan dari tangki ini didasarkan pada yang disebut deteksi retak
sebelum prinsip kegagalan yang memungkinkan mereka gunakan
dengan penghalang sekunder berkurang. Muatan LNG biasanya dibawa
dalam tangki tersebut.
- Tipe C, yang dirancang sebagai bejana tekan, didesain yang
dominan berkriteria menjadi tekanan uap. Biasanya digunakan untuk
LPG dan terkadang digunakan untuk etilen.
Internal Isolate Tanks Non Supported Tanks
Terdiri dari bahan isolasi termal, dengan permukaan bagian yang terkena ke
dalam ruang muat dan dukumh oleh lambung yang berbatasan atau berupa
tangki independen. Tangki ini terdapat dua jenis yaitu:
- Jenis 1, dimana insulasi atau kombinasi dari isolasi dan satu atau
liners lebih hanya bertindak sebagai penghalang utama. Sedangkan
lambung bagian dalam atau independen tangk hanya membentuk
penghalang sekunder.
- Tipe 2, dimana insulasi atau kombinasi dari isolasi dari satu atau
lebih liners bertindak baik sebagai penghalang primer dan sekunder
yang jelas berbeda.

Konstruksi untuk ketiga jenis tangki yang sering digunakan:


-

Membrane Systems

Tangki membrane terdiri suatu lapisan metal (primary barrier), lapisan


insulasi, suatu lapisan liquid-proof, dan suatu lapisan insulasi lainnya. Beberapa
lapisan ini kemudian ditempelkan ke dinding tangki pada suatu frame yang telah
terpasang.
Pada desain tangki tipe Membrane NO.96, primary dan secondary barrier
adalah terbuat dari bahan Invar, suatu material yang terdiri dari alloy material
36% nickel steel, dan memiliki ketebalan 0.7mm.Tidak seperti regular steel, invar
merupakan bahan yang sulit berkontraksi akibat suhu yang sangat rendah.
Lapisan insulasi terbuat dari bahan plywood yang mengandung perlite, suatu
bahan yang mengandung glass (seperti kaca).

Gambar III.10 Konstruksi Membrane Tank No.96


Pada tangki LNG tipe Membrane (Mark III), sistem terdiri dari tumpukan
foam panel yang di cover dengan material bernama triplex dan dan lapisan
stainless steel (membrane). Primary membrane terbuat dari bahan SUS 304L,
tebal 1.2mm, dan berbentuk corrugated untuk menyerap kontraksi termal.
Secondary barrier terbuat dari bahan bernama triplex. Sistem membrane
dibangun diatas permukaan yang telah diberi guide dan penyangga.

Gambar III.11 Konstruksi Membrane Tank Type Mark III


-

Kvaerner-Moss (tangki bulat)

Pada tangki cargo LNG tipe Moss, tangki di-install di main hull kapal. Cargo
tank terbuat dari bahan aluminum alloy dan terpisah (independent) dari badan
kapal (hull), disangga (supported) dengan steel cylinder (bernama skirt)
diseputar lingkar equator dari tangki. Di dalam palkah (hold space) dibawah
tangki, dipasang sebuah drip tray yang berfungsi sebagai secondary barrier
apabila terjadi kebocoran LNG. Penempatannya tepat dibawah (south pole) dari
sphere tangki.

Gambar III.12 Konstruksi Kvaerner-Moss Tank


Insulasi yang menutupi seluruh permukaan luar sphere tank memiliki aluralur (channel) bagi fluida pada saat terjadi kebocoran untuk dapat mengalir ke
drip tray. Tangki tipe MOSS merupakan salah satu self- supporting tangki pertama
yang diaplikasikan di laut.
-

IHI Prismatic

Self-supporting tank (independent) adalah Self-supporting Prismatic Shape


IMO Type-B, atau sering disingkat SPB Tank. Tangki jenis ini merupakan
penemuan teknologi dari Ishikawajima-Harima Heavy Industries (IHI), salah satu
grup industri berat dan galangan kapal terbesar di Jepang.
Tangki SPB merupakan tangki independen yang bentuknya mengikuti
badan kapal (hull shape).Bentuk konstruksinya sederhana (framing internal di
dalam tangki), mengingatkan kita pada bentuk konstruksi lambung kapal tanker
single hull dimasa silam. Material untuk kontruksi yang digunakan dapat berupa
aluminum atau stainless steel 304, namun kapal existing yang ada
menggunakan baru menggunakan bahan aluminum.

Gambar III.13 Konstruksi SPB Tank


Tangki SPB dipasang dalam palkah dari sebuah kapal double hull dan
keseluruhan permukaannya diinsulasi menggunakan material polyurethane foam
yang juga berfungsi menyediakan alur-alur fluida jika terjadi kebocoran cargo,
agar dapat mengalir ke drip tray dibagian bawah tangki.

III.5 Bongkar-muat Kapal LNG


Prosedur safe unloading :
1. Unloading kapal LNG di terminal/dermaga (pier/jetty/wharf) memakan
waktu sekitar 24 jam, sedangkan kapal minyak (oil tanker) sekitar 28 jam.
2. Kru kapal menghubungi operator terminal sebelum tiba di dermaga.
3. Kapal akan dipandu menggunakan boat menuju dermaga.
4. Unloading arms disiapkan beserta automatic shut-off systems & peralatanperalatan emergency.
5. Kabel komunikasi dihubungkan dari dermaga ke kapal.
6. Diadakan meeting antara petugas kapal & petugas dermaga tentang
prosedur unloading.
7. Pengujian emergency systems, yang harus dilengkapi PERC (Pneumatic
Emergency Release Coupling) yang bertugas melepas unloading arms
secara otomatis apabila terjadi kebocoran. Diusahakan agar maksimal
hanya 1 galon kebocoran. Di tangki penyimpanan (storage tank) juga
harus dilengkapi valve yang secara otomatis akan menutup jika terdeteksi
kebocoran.
8. Unloading dilakukan, dengan pengawasan operator terminal.
9. Unloading selesai, kapal siap lepas landas dari dermaga dengan panduan
boat sama seperti saat berlabuh.

Gambar III.14 Typical LNG Receiving Terminal/Re-gasification Facility


Sistem offloading LNG merupakan suatu tantangan tersendiri dalam
operasi FLNG dan membutuhkan kajian teknologi yang tinggi.Sistem offloading
sensitive tergantung pada konfigurasi peralatan, ukuran FLNG, ukuran kapal
tanker transporter, dan kondisi actual met-ocean.

Gambar III.15 Sistem offloading LNG Carrier


Sistem transfer LNG dengan cara tandem membutuhkan flexible pipes dan
hoses dimana secara teknologi hanya memiliki pengalaman terbatas untuk
fluida cryogenics.

Gambar III.16 Sistem offloading LNG Carrier

III.6 Regulasi yang mengatur LNG Carrier


Sesuai International Maritime Organization (IMO), sebuah kapal gas cair
hanya dapat berjalan di perairan internasional jika dibangun dan dioperasikan
sesuai International Code for the Construction and Equipment of Ships Carrying
Liquefied Gases in Bulk (IGC) 1986 dan sesuai dengan SOLAS 74 Bab VII bagian
C - "Konstruksi dan peralatan kapal membawa gas cair dalam jumlah besar.
Persyaratan singkat dijelaskan dalam IGC Code adalah:
-

Keterbatasan kerusakan kargo dan kelangsungan hidup kapal jika terjadi


tabrakan atau landasan.
Persyaratan pengaturan keamanan bagi kapal tersebut.
Kargo penahanan dan prosedur penanganan kargo.
Bahan konstruksi untuk penahanan dan kereta fasilitas.
Persyaratan untuk pemuatan kargo dan pemakaian.
Persyaratan proteksi kebakaran.
Persyaratan pengendalian pencemaran.
Penggunaan kargo sebagai bahan bakar mesin kapal.

Ketentuan untuk ekspansi dan kontraksi termal disediakan


Persyaratan pengangkutan LNG cargo ship
LNG dibawa pada suhu yang sangat rendah yang dapat menyebabkan
retak dalam struktur logam jika kargo masuk kontak dengan lambung
kapal. Selain itu,
LNG carrier harus memiliki tangki kargo dengan lapisan ganda
perlindungan isolasi.
Material yang digunakan untuk tangki harus memiliki koefisien yang
sangat rendah ekspansi termal (invar).
Harus disediakan dengan alat penguap untuk memenuhi kebutuhan
uap sendiri.
Re-gasification harus disediakan (optional)

Tabel III.1 Regulasi LNG Carrier


SOLAS 1974
1
Reg. I / 12

Reg. V / 14.2

Reg. VII / 10
IGC Code Sec. 1.5.4.3

Reg. IX / 4
ISM Code Reg. 13.2
Reg. IX / 4
ISM Code Reg. 13.7
Reg. XI-2 / 1.12
ISPS Code A/19.2
Reg. II-1/3-2
Reg. II-1/3-4.2
Reg. II-1/3-7
MSC/Circ. 1135
Reg. II-1 / 15.6.5, 15.9.4,
15.10.2, 17.3.3.2, 25.2,
25.9.4, dan III / 19.5
1994 + 2000 HSC Code
para. 18.5.7
Reg. II-1 / 5, 22, 25.8
ILLC Protocol 88, Reg.
10Reg. II-1 / 19
HSC Code
Reg. II-1 / 19
Reg. II-1 / 28
Reg. II-2 / 14.2.2
Reg. II-2 / 15.2.3
Reg. II-2 / 15.2.4
1994 + 2000 HSC Code
7.9Reg. II-2 / 16

5
6

Cargo Ship Safety Construction


Certificate; Cargo Ship Safety
Equipment Certificate; Cargo
Ship Safety Radio Certificate;
Exemption Certificate; Cargo
Ship Safety Certificate
Minimum Safe Manning
Document
International Certificate of
Fitness for the Carriage of
Dangerous Chemicals in Bulk
Safety Management Certificate
(ISM)
Document of Compliance (ISM)
International Ship Security
Certificate
Coating Technical File
Emergency Towing Procedures
As-built Construction Drawings
Deck Log-Book

Intact Stability Booklet


Damage Control Plan
Damage Control Booklet
Manouvering Information
Maintenance Plan/Programme
Training Manual
Fire Control and Safety Plan
Fire Safety Operational Booklet
Documentation Evaluation of
the Alternative Design and
Arrangement as applicable

10
11

12

Reg. II-2 / 17
Reg. III / 8, 37 1994 + 2000
HSC Code 8.4
Reg. III / 8 1994 + 2000
HSC Code 8.4
Reg. III / 17-1
Reg. III / 35
1994 + 2000
HSC Code 18.2.3
Reg. III / 36
1994 + 2000
HSC Code 8.9.2
Reg. IV / 17
1994 HSC Code 14.16
2000 HSC Code 14.17
Reg. V / 18.8
2000 HSC Code
13.16.2Reg. V / 18.9
MSC.1 / Circ. 1252Reg. V /
19-1.6
MSC.1 / Circ. 1307Reg. V /
21
Reg. V / 19.2.1.3
1994 + 2000 HSC Code
13.2.3Reg. V / 19 + 27
Reg. XI-1 / 5

13
ISPS Code A / 9
MARPOL 73/78
14
MARPOL 73 / 78 Annex IV

15

MARPOL 73 / 78 Annex V

16

MARPOL 73 / 78 Annex VI

Muster List
Emergency Instructions
Ships-specific Plans and
Procedures for Recovery of
Persons from the Water
Training Manual for Lifesaving
Appliances
Instructions for on-board
Maintenance of Life-saving
Appliances
Radio Record
Voyage Data Recorder System
Certificate of Compliance
AIS Test Report
Conformance Test Report
(LRIT)
International Code of Signals,
up-to-date copy IAMSAR
Manual, Volume III
Deviation Curve for Magnetic
Compass
Nautical Publications
Continuous Synopsis Record
(CSR)
Ship Security Plan (SSP)
International Sewage Pollution
Prevention Certificate
Result of calculation of
moderate rate of discharge in
accordance with MEPC.157(55)
Garbage Management Plan
Garbage Management Plan
applicable 1 January 2013
Garbage Record Book
Garbage Record Book
applicable 1 January 2013
International Air Pollution
Prevention Certificate
Engine International Air
Pollution Prevention Certificate
including Technical File and
Record Book of Engine
Parameters if applicable.
1.
International Energy
Efficiency Certificate
1st intermediate or renewal
IAPP survey after 1 January
2013List of equipment
containing Ozone Depleting

17

Load Line 1966

18

20

International Tonnage
Convention 69
International
Convention
on
the
Control of Harmful AntiFouling
Systems
on
Ships, AFS Convention
STCW 1978 / 95

21

ILO Conventions

19

Substances
Ozone Depleting Substances
Record Book (if ship is
equipped with rechargeable
system that contain ozonedepleting substances)Fuel Oil
Changeover Procedure and
Log-Book
Manufacturers Operating
Manual for Incinerators
Bunker Delivery Note and
Representative Sample
3.
Ship Energy Efficiency
Management Plan (SEEMP)
Mandatory for each ship
(newbuilding and ship in
service) from 1 January 2013.
For existing ships, verification
of the requirement to have a
SEEMP on board : 1st
intermediate or renewal
survey whichever is the first,
on or after 1 January 2013
(IACS UI MPC102)Energy
Efficiency Design Index (EEDI)
Technical File
Contract date on or after 1
January 2013; or delivery date
on or after 1 July 2015.
If the ship is delivered before 1
January 2015 and no contract
date is available, the keellaying date on or after 1
January 2015 applies instead.
International load Line
Certificate
International Load Line
Exemption Certificate
International Tonnage
Certificate
International Anti-Fouling
System Certificate
International Anti-Fouling
System Declaration
Certificates for Masters,
Officers, and Ratings
Records of Hours of Rest
Maritime Labour Certificate
Mandatory for each ship
(newbuilding and ship in
service) from 20 August
2013Certificate of Compliance
for ILO 92

22

International Health
Regulations (IHR)

23

International
Telecommunication
Union Conventions
Convention on the Law
of the Sea
International Code for
the Construction and
Equipment of Ships
Carrying Liquefied
Gases in Bulk (IGC)
1986

24
25

Certificate of Compliance for


ILO 133
Medical Certificate for ILO 73
Declaration of Maritime Labour
Compliance Part I (DMLC I) set
up by Flag State Authority
Mandatory for each ship
(newbuilding and ship in
service) from 20 August
2013Declaration of Maritime
Labour Compliance Part II
(DMLC II)
Mandatory for each ship
(newbuilding and ship in
service) from 20 August 2013
Ship Sanitation Control
Exemption Certificate / Ship
Sanitation Control Certificate
Radio Station License
Radio Service Document
Certificate of Registry

PENUTUP
LNG (Liquified Natural Gas) adalah gas alam yang berbentuk cair/gas alam
yang dicairkan/gas alam yang diubah bentuknya dari fase gas menjadi fase cair.
Gas alam akan mencair jika didinginkan sampai suhu -162C (+260F). LNG ada
karena permintaan yang terus bertambah serta mempunyai nilai ekonomi yang
tinggi untuk menggantikan bahan bakar minyak.
Kapal LNG merupakan perkembangan dari kapal tanker yang dikhususkan
untuk mengangkut gas alam dengan alasan keamanan dan keselamatan bagi
manusia dan lingukungan serta dapat mengangkut gas alam dengan banyak
karena dicairkan sehingga menjadi efesien.
Demikian Paper Tugas Perancangan Kapal II dengan topik pembahasan
LNG Carrier, semoga makalah ini bermnfaat bagi pembacanya dan generasi yang
akan datang. Serta kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
kesempurnaan makalah ini. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.dnvusa.com/Binaries/5%20Peter%20LNG%20Ship
%20Characteristics_tcm153-583179.pdf
diakses pada: 14 Desember 2014 pukul 19.54
http//ITS-Undergraduate-11076-Paper.pdf
diakses pada: 12 Desember 2014 pukul 23.47
http//Kapal%20angkut%20LNG%20%20Wikipedia%20Bahasa%20Melayu,
%20ensiklopedia%20bebas.html
diakses pada: 12 Desember 2014 pukul 23.30
http://www.marad.dot.gov/documents/DWP_--_Marine_Transportation_of_LNG.pdf
diakses pada: 14 Desember 2014 pukul 19.55
http://id.wikipedia.org/wiki/Gas_alam_cair
diakses pada : 16 Desember 2014 pukul 17.48
IMO. Intact Stability Code, Intact Stability for All Types of Ships Covered by IMO
Instruments. London, UK : IMO
IMO. 1983. International Conference on Tonnage Measurement of Ship 1969.
London, UK : IMO
IMO. 2002. MARPOL 73/78, Consolidated Edition 2002. London, UK : IMO
IMO. 2004. SOLAS, Consolidated Edition 2004. London, UK : IMO
Eyres, David J. 2001. Ship Construction. London, UK.