Anda di halaman 1dari 18

Pengertian Kalimat Efektif

Pengertian kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau


gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang
lain.
Ciri-ciri kalimat efektif
1. Kesepadanan
Suatu kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu subjek, predikat,
objek dan keterangan. Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam
pemakaian struktur bahasa.
Contoh:
Amara pergi ke sekolah, kemudian Amara pergi ke rumah temannya untuk belajar.
(tidak efektif)
Amara pergi ke sekolah, kemudian kerumah temannya untuk belajar. (efektif)
2. Kecermatan dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
Dalam membuat kalimat efektif jangan sampai menjadi kalimat yang ambigu
(menimbulkan tafsiran ganda)
Contoh:
Mahasiswi perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (tidak efektif)
Mahasiswi yang kuliah di perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah.
(efektif)
3. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam
mempergunakan kata, frasa atau bentuk lain yang di anggap tidak perlu, tetapi
tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Contoh:
Karena ia tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama belajar di rumahku. (tidak
efektif)
Karena tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (efektif)
4.

Kelogisan

Bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai
dengan ejaan yang berlaku.

Contoh:
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. (tidak efektif)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. (efektif)
5. Kesatuan atau Kepaduan
Maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi
yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
Contoh:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang
telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan
rasa kemanusiaan. (efektif)
6.

Keparalelan atau Kesejajaran

Adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu.
Contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (efektif)

sumber; http://dayintapinasthika.wordpress.com/2013/01/02/contoh-kalimat-efektifdan-kalimat-tidak-efektif/

Ciri-ciri kalimat efektif:

1. KESEPADANAN STRUKTUR BAHASA

Kesepadanan ialah keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang


digunakan.
Kesepadanan kalimat dibangun melalui kesatuan gagasan yang kompak dan
kepaduan pikiran yang baik. Kesatuan menunjuk bahwa dalam satu kalimat
hendaknya hanya ada satu
ide pokok.
Satu ide pokok tidak diartikan sebagai ide tunggal, tetapi ide yang dapat
dikembangkan ke dalam
beberapa ide penjelas.

BEBERAPA CIRI KESEPADANAN Mempunyai struktur jelas.


Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kata
depan: di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang,
mengenai, menurut, dan sebagainya yang ditempatkan di depan subjek.
Tidak terdapat subjek ganda.
Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh-contoh Kesepadanan
Kepada setiap pengendara mobil di Surabaya harus memiliki surat izin mengemudi
= subyeknya
tidak jelas.
Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani. unsur S-P-O tidak
berkaitan erat Mestinya
Setiap pengendara mobil di Surabaya harus memiliki surat izin mengemudi.
Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.

2. KEPARALELAN ATAU KESEJAJARAN BENTUK


Keparalelan atau kesejajaran bentuk adalah terdapatnya unsur-unsur
yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di
dalamkalimat.
Bila bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga
harus menggunakan nomina.
Demikian pula bila menggunakan bentuk-bentuk lain.
Contoh-contoh Kepararelan:
1. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah pengecatan tembok, memasang
lampu, pengujian sistem pembagian air, dan menata ruang.
2. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara wajar

3. KETEGASAN ATAU PENEKANAN KATA


Merupakan perlakuan khusus pada kata tertentu dalam kalimat sehingga
berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan.
Ada beberapa cara penekanan dalam kalimat:
1. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu pada awal kalimat
2. Melakukan pengulangan (repetisi)
3. Melakukan pengontrasan kata kunci
4. Menggunakan partikel penegas Penekanan Kata :
1. Menempatkan kata yang ditonjolkan
di awal kalimat.
Sumitro menjelaskan bahwa manusia mempunyai kecenderungan tidak puas
Persoalan itu dapat diselesaikan dengan mudah.
2. Repetisi
Saudara-saudara, kita tidak suka dibohongi, kita tidak suka ditipu, kita tidak suka
dibodohi

Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi,
tidak hanya berdimensi ekonomi tapi juga dimensi politik, dimensi sosial, dan
dimensi budaya
3. Pengontrasan kata kunci
Informasi ini tidak bersifat sementara, tetapi bersifat tetap.
Peserta kegiatan ini adalah laki-laki, bukan perempuan.
4. Partikel Penegas
Andalah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu
Meskipun hujan turun, Ia tetap bersemangat berangkat ke sekolah

4. KEHEMATAN KATA
o Kehematan adalah upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu jadi kata
menjadi padat berisi.
Dapat dilakukan dengan cara:
o Menghilangkan pengulangan subyek o Menghindarkan pemakaian superordinat
pada hiponimi kata
o Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
o Kehematan dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak

1. Contoh Menghilangkan pengulangan subyek


o Karena ia tak diundang, dia tidak dating ke tempat itu. Mestinya menggilangkan
kata ia
1. Contoh Menghindarkan pemakaian superordinate pada hiponimi kata
o Mira adalah gadis yang memakai bajuwarna merah Mestinya menggilangkan kata
warna
1. Contoh Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
o Jangan naik ke atas karena licin. Mestinya menggilangkan kata ke atas Kehematan
dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak
o Ia mengambil semua jeruk- jeruk yang masih ada dimeja.

5.KESATUAN GAGASAN o Kesatuan gagasan adalah terdapatnya satu ide pokok


dalam sebuah kalimat.
o Contoh:
o Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi
pengarahan kepada pegawai baru.

6.KELOGISAN
o Kelogisan adalah terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal dan
penulisannya sesuai EYD.
Contoh:
o Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki
o Kepada ibu Intha, waktu dan tempat kami persilakan.
o Jalur ini terhambat oleh iring- iringan jenazah.

Kalimat baku merupakan sekelompok kata yang sesuai dengan tata aturan kaidah
bahasa, sedangkan pengertian kalimat tidak baku adalah sebaliknya. Ada sejumlah
situasi yang harus menggunakan kalimat baku, seperti wawancara teknis,
komunikasi resmi, berbicara dengan orang yang terhormat, dan berbicara di depan
umum.
Contoh kalimat baku
1. Dia sudah tahu segala risiko dalam pekerjaannya.
2. Ayah mempersilakan masuk seorang tamu.
3. Gembreng membeli obat di apotek.
4. Pemandangan alam di sana sangat memesona.

Pengertian kalimat baku menurut


a. Kamus Bahasa indonesia porwodarminto yaitu sesuatu yang baik dan be
Nar yang mnjadi dasar ukuran ( Standart ) bagi pemakai bahasa indonesia.
b. Kalimat baku : ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagai
An warga memakainya sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan
penggunaannya.
c. kalimat tulis yang di nyatakan dengan ejaan yang berlaku, yang di tandai
dengan diantaranya titik , koma, titik koma, tanda seru dsb.

Ciri ciri kalimat baku


Menurut ciri umum bahasa indonesia ada 2 yaitu

* Kemantapan dinamis yaitu berupa kaidah atau aturan 2 yang tetap baik menurut
situasi pemakai dan pemakainnya serta bahasa menurut strukturnny
* Kecerdasan : proses pencendekiaan dapat menampung aspirasi melalui ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kehidupan modern dg menggunakan bahasa indonesia
yang baik dan benar.
Ciri khusus Bhs Indonesia
* Gramatikal : Penggunaan fungsi gramatikal ditandai ( subyek, predikat, obyek )
Contoh kepala
Sebuah kalimat dapat dikategorikan sebagai kalimat baku jika memenuhi syaratsyarat: (1) struktur kalimat, (2) bentukan kata, (3) makna kalimat, dan (4) kaidah
ejaan. Keempat syarat tersebut harus dipenuhi. Jika ada yang tidak terpenuhi,
kalimat tersebut tidak dapat disebut kalimat baku.

Struktur Kalimat
Syarat struktur kalimat adalah syarat yang berhubungan dengan kaidah-kaidah
kalimat. Berikut ini beberapa kaidah kalimat yang sering diabaikan sehingga kalimat
yang kita buat bukanlah sebuah kalimat baku.

Memiliki S dan P
Kalimat baku harus memiliki S dan P. Ketidakhadiran S atau P menyebabkan
kalimat tidak baku.
(1) Dalam rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.

Jika dianalisis unsur-unsurnya, kalimat tersebut tidak memiliki S. Kelompok kata


dalam rapat itu berfungsi sebagai K sebab merupakan frase preposisional yang
diawali preposisi dalam. Kata membahas menempati fungsi P. Kelompok kata
masalah kenaikan gaji pegawai adalah O kalimat itu. Pola kalimat tersebut adalah
(1) Dalam rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.
KPO
Karena itu, kalimat tersebut tidak merupakan kalimat baku. Agar menjadi kalimat
baku, perbaikan dapat dilakukan sebagai berikut:

Menghilangkan preposisinya sehingga menjadi frane nominal, dengan demikian


kalimat itu menjadi

(1a) Rapat itu membahas masalah kenaikan gaji pegawai.


SPO

Mengubah kata kerja membahas dalam kalimat itu menjadi dibahas sehingga
kalimat itu menjadi
(1b) Dalam rapat itu dibahas masalah kenaikan gaji pegawai.
KPS

Perhatikan kalimat (2) di bawah ini!


(2) Kecelakaan lalu lintas itu sebab kecerobohan sopir.
Analisis unsurnya menunjukkan kelompok kata kecelakaan lalu lintas menempati S,
sedangkan sebab kecerobohan sopir yang merupakan frase preposisional (diawali
sebab yang pada kalimat itu menjadi kata depan) dan menempati fungsi K. Dengan
demikian, kalimat tersebut berpola
(2) Kecelakaan lalu lintas itu sebab kecerobohan sopir.
SK
Ternyata kalimat tersebut tidak memiliki P sehingga dapat dianggap sebagai
kalimat tidak baku. Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan cara
Mengubah sebab menjadi disebabkan sehingga kalimat menjadi
(2a) Kecelakaan lalu lintas itu disebabkan kecerobohan sopir.
S P Pel.

Menambahkan kata lain, misalnya kata terjadi, yang akan berfungsi sebagai P
(2b) Kecelakaan lalu lintas itu terjadi sebab kecerobohan sopir.
SPK

Perhatikan kalimat (3) di bawah ini!


(3) Jika ekspedisi tersebut tidak menemukan sepotong fosil pun, maka dana
ekspedisi harus dikembalikan.

Pada kalimat tersebut terdapat konjungsi subordinatif jika dan maka. Konjungsi jika
dan maka menandai bahwa klausa yang mengikuti konjungsi tersebut merupakan
klausa terikat yang merupakan perluasan unsur K. Jadi, kalimat tersebut tidak
memiliki S dan P sebab unsur yang ada pada kalimat tersebut semuanya K. Jika
dipolakan akan terlihat polanya seperti di bawah ini

(3) Jika ekspedisi tersebut tidak menemukan sepotong fosil pun,


K
maka dana ekpedisi harus dikembalikan.
K

Agar menjadi kalimat baku, yang dapat dilakukan terhadap kalimat tersebut adalah
menghilangkan salah satu konjungsinya tergantung pada hubungan antarklausa
yang dikehendaki.

(3a) Jika ekspedisi tidak menemukan sepotong fosil pun,


K
dana ekspedisi harus dikembalikan.
SP
Kalimat (3a) merupakan perbaikan kalimat (3) dengan menghilangkan konjungsi
maka sehingga hubungan antarkalimat yang terjadi adalah hubungan syarat atau
pengandaian.

(3b) Ekspedisi tidak menemukan sepotong fosil pun


SPO
maka dana ekspedisi harus dikembalikan.

Kalimat (3b) juga merupakan hasil perbaikan kalimat (3), hanya yang dihilangkan
adalah konjungsi jika dan hubungan antarklausa yang terjadi adalah hubungan
akibat.

Hubungan P dengan unsur yang mengikutinya.


Unsur P dapat diikuti O, Pel., atau K bergantung pada jenis kata yang mengisi unsur
P itu. Jika P ditempati oleh kata yang bukan kata kerja, berarti dalam kalimat itu
tidak ada O atau Pel. Di dalam kalimat aktif transitif, hubungan P dan O sangat
rapat sehingga tidak boleh disisipi preposisi. Perhatikan kalimat (4) di bawah ini.

(4) Kami akan mendiskusikan tentang hal itu nanti.


SPO

Berdasarkan polanya terlihat bahwa kalimat (4) adalah kalimat aktif transitif, tetapi
kalimat itu menjadi tidak baku sebab antara P dan O-nya terdapat preposisi
tentang. Agar menjadi kalimat baku, semestinya preposisi tentang pada kalimat itu
dihilangkan sehingga kalimat menjadi

(4a) Kami akan mendiskusikan hal itu.


SPO

Bila kita ingin mempertahankan preposisi tentang, P kalimat (4) harus diubah
menjadi kata kerja berpartikel. Agar menjadi kata kerja berpartikel, kata
mendiskusikan diubah menjadi berdiskusi sehingga kalimat menjadi

(4b) Kami akan berdiskusi tentang hal itu.


S P Pel.

Jadi, perlu diingat bahwa dalam kalimat aktif transitif antara P dan O tidak boleh
terdapat preposisi.

Pemasifan dengan tepat


Berbicara tentang kalimat pasif biasanya sebagian besar di antara kita terbayang
kalimat dengan P berupa kata kerja berawalan di-. Padahal, ada bentuk kalimat
pasif yang justru tidak boleh mempergunakan kata kerja berawalan di-. Bilamana
kita menggunakan di- atau tidak akan dijelaskan di bawah ini. Perlu diingat yang
dapat dipasifkan adalah kalimat aktif transitif, selain itu tidak dapat dipasifkan.
Perhatikan kalimat (5) di bawah ini.

(5) Kita sedang membicarakan kenaikan tarif listrik.


SPO

Kalimat (5) berdasarkan polanya termasuk ke dalam kalimat aktif transitif sehingga
kalimat tersebut dapat dijadikan kalimat pasif. Sebelum dilakukan pemasifan, kita
harus perhatikan dulu kata yang menempati unsur S. S kalimat (5) diisi oleh kata
kita yang ternyata termasuk ke dalam pronomina persona (kata ganti orang)
pertama. Dalam kaidah bahasa Indonesia, jika S kalimat aktif ditempati oleh
pronomina persona pertama dan kedua, pemasifan tidak boleh dengan cara
mengubah me- menjadi di- pada predikatnya. Langkah pemasifan dengan S berupa
pronomina persona pertama dan kedua sebagai berikut
Hilangkan awalan me- pada kata yang menempati P.
Bila ada adverbia (akan, sedang telah, tidak, ) ke depan pronomina.
Bagian O pada kalimat aktifnya dapat diletakkan di awal atau akhir kalimat.

Hasil pemasifan dengan cara di atas terlihat pada kalimat di bawah ini.
(5a) Sedang kita bicarakan kenaikan tarif listrik.
(5b) Kenaikan tarif listrik sedang kita bicarakan.

Pelesapan unsur dalam kalimat majemuk


Kalimat majemuk baik setara maupun bertingkat sering mengalami pelesapan
unsur yang disebabkan satu atau lebih unsur pada klausa-klausanya diisi oleh kata
atau frase yang sama. Misalnya,

(6) Sebab tidak belajar semalam, Andika tidak bisa menjawab soal itu.
PKSPO

Kalimat (6) di atas merupakan kalimat yang mengalami pelesapan S. Asalnya


kalimat itu berbunyi
(6a) Sebab Andika tidak belajar semalam, Andika tidak bisa menjawab soal itu.
SPKSPO

Kalimat (6a) terdiri atas dua klausa: klausa pertama sebab Andika tidak belajar dan
klausa kedua Andika tidak bisa menjawab soal itu. Kedua klausa itu ternyata
memiliki S yang sama yaitu Andika. Sebab itu, kata Andika yang mengisi S pada
klausa pertama harus dihilangkan agar kalimat lebih hemat. Hasil menghilangkan
unsur pada salah satu klausa sebab adanya kesamaan kata/frase yang mengisi
unsur yang sama pada dua klausa yang berbeda dalam satu kalimat itu disebut
kalimat majemuk pelesapan.

Mari kita analisis kalimat (7) di bawah ini.

(7) Setelah dijemur seharian, Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu.


PKSPO

Kalimat (7) terdiri atas dua klausa: klausa pertama setelah dijemur seharian dan
klausa kedua
Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu. Klausa pertama tidak memiliki S, sedangkan
klausa kedua memiliki S, yaitu Ibu Tuti. Jika kita menduga bahwa kalimat (7)

merupakan kalimat pelesapan S, kita akan keliru sebab S pada klausa pertama tidak
mungkin Ibu Tuti.
(7a) Setelah Ibu Tuti dijemur seharian, Ibu Tuti menggoreng kerupuk itu.
SPKSPO
Rasanya sulit untuk menerima kalimat (7a) di atas sebab tidak mungkin yang
dijemur dalam kalimat tersebut adalah Ibu Tuti. Jadi, kalimat (7) bukan pelesapan S.
Kalaupun kita mengatakan bahwa yang dilesapkan adalah kerupuk itu, itu pun keliru
sebab kerupuk itu pada klausa kedua menempati O, sedangkan klausa pertama
kehilangan S. Jadi, sebenarnya kalimat (7) bukanlah kalimat baku sebab pelesapan
yang terjadi pada kalimat itu tidak tepat. Jika diperbaiki, kalimat (7) semestinya
berbunyi

(7b) Setelah dijemur seharian, kerupuk itu digoreng oleh Ibu Tuti.
P K S P Pel.

Perubahan yang terjadi pada kalimat (7b) menghasilkan kalimat baku. Kalimat (7b)
mengalami pelesapan S sebab berasal dari kalimat

(7c) Setelah kerupuk itu dijemur seharian, kerupuk itu digoreng oleh Ibu Tuti.
S P K S P Pel.

Memperhatikan asas kesejajaran bentuk/paralelisme


Asas kesejajaran atau paralelisme dalam kalimat merupakan penerapan peristiwa
morfologis dalam proses sintaksis. Proses morfologis biasanya berkaitan dengan
pemakaian imbuhan, sedangkan proses sintaksis adalah proses penyusunan sebuah
kalimat. Asas kesejajaran dipakai sebab berkaitan dengan keruntutan proses
berpikir.
Perhatikan kelompok kata di bawah ini.

(8) Pusat Pendidikan dan Latihan

Kelompok kata (8) tidak menerapkan asas kesejajaran. Kata pendidikan dibentuk
dari kata dasar yang diberi konfiks pe-an, sedangkan kata latihan dibentuk dari kata
dasar yang diberi akhiran an. Agar sejajar, semestinya kata latihan diganti menjadi
pelatihan.

(8a) Pusat Pendidikan dan Pelatihan.

Kalimat (9) di bawah ini juga tidak menerapkan asas kesejajaran.

(9) Pak Ali mengepel lantai, menyapu halaman, dan perbaikan pintu yang rusak.

Ketidaksejajaran kalimat (9) terlihat pada ketidakkonsistenan pemakaian imbuhan,


mengepel dan menyapu menggunakan awalan me-, sedangkan pada perbaikan
menggunakan per-an.

Bentukan Kata
Yang dimaksud bentukan kata adalah proses pengimbuhan dan makna gramatikal
imbuhan. Penerapan imbuhan mempunyai kaidah atau aturan. Melekatkankan
imbuhan pada kata dasar dapat menyebabkan perubahan bentuk imbuhan
bergantung pada kata dasar yang dilekatinyanya agar pengucapannya menjadi
lancar. Setelah dilekatkan pada kata dasar, imbuhan akan memunculkan makna
yang biasanya disebut makna gramtikal. Sering kita keliru memahami makna
imbuhan tersebut sehingga pemakaian kata tersebut dalam kalimat menjadi salah.

Ketepatan Pengimbuhan
Salah satu kaidah yang perlu diingat agar pengimbuhan menjadi tepat adalah
proses nasalisasi. Proses nasalisasi diambil dari istilah konsonan nasal yaitu
konsonan yang dihasilkan sebab udara yang keluar dari paru-paru melalui hidung.
Konsonan nasal ada empat buat, yaitu /m/, /n/, /ng/, dan /ny/. Proses nasalisasi
terjadi jika awalan me- dan pe- dilekatkan kepada kata yang berfonem awal /k/,
/p/, /t/, dan /s/, lalu fonem awal tersebut berubah menjadi konsonan nasal.
Contoh

me- + kirim = mengirim, /k/ pada kirim berubah menjadi /ng/


me- + pesona = memesona, /p/ pada pesona berubah menjadi /m/
me- + taati = menaati, /t/ pada taati berubah menjadi /n/
me- + sontek = menyontek, /s/ pada kata sontek berubah menjadi /ny/

Namun, me- atau pe- tidak mengalami nasalisasi jika kata yang dilekati itu
berfonem awal berupa konsonan rangkap, seperti /pr/, /kr/, /tr/, dan /sk/.

Contoh
me- + protes = memprotes
me- + kritik = mengkritik
me- + traktir = mentraktir
me- + skor = menskor

Jadi, kalimat yang memiliki S-P atau kalimat sempurna tidak bisa disebut kalimat
baku apabila dalam kalimat tersebut terdapat kata berimbuhan yang tidak tepat.
Misalnya kalimat (10) di bawah ini

(10) Kami tidak mempercayai berita-berita tersebut lagi.


SPO

Kalimat (10) adalah kalimat sempurna, tetapi kalimat tersebut tidak disebut kalimat
baku sebab terdapat kata yang salah, yaitu kata mempercayai, yang semestinya
memercayai.

Ketepatan makna imbuhan


Imbuhan memiliki makna gramatikal, yaitu makna yang muncul setelah imbuhan
itu dilekatkan pada sebuah kata. Imbuhan tidak memiliki makna leksikal; sebuah
imbuhan tidak memiliki arti apa pun sebelum imbuhan itu dilekatkan kepada

sebuah kata. Kaitannya dengan kalimat baku adalah kesalahan menggunakan


imbuhan akan menyebabkan makna yang terbentuk pada kalimat pun ada
kemungkinan keliru.

Imbuhan me-i dan me-kan memiliki perbedaan makna meskipun dengan jumlah
sedikit ada juga persamaannya. Apakah kata yang berimbuhan me-i ataukah mekan yang harus dipergunakan dalam sebuah kalimat bergantung kepada makna
keseluruhan kalimat yang ingin disampaikan.
Perhatikan pasangan kata di bawah ini.

menugasi = menyerahi seseorang tugas


menugaskan = menyerahkan tugas, pekerjaan

membawahi = menempatkan diri di bawah perintah seseorang


membawahkan= menempatkan (sesuatu) di bawah

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.


(11) Presiden menugaskan Mendiknas untuk menyelesaikan kasus itu.

Kalimat (11) bukanlah kalimat baku sebab terdapat kata berimbuhan yang tidak
tepat, yaitu menugaskan. Seharusnya, sesuai dengan kalimat (11), kata yang tepat
adalah menugasi bukan menugaskan. Perbaikan yang tepat untuk kalimat (11)
sebagaimana terlihat pada kalimat di bawah ini

(11a) Presiden menugasi Mendiknas untuk menyelesaikan kasus itu.


(11b) Presiden menugaskan penyelesaian kasus itu kepada Mendiknas.

Kalimat (12) di bawah ini juga bukan kalimat baku.


(12) Presiden membawahi menteri-menteri.

Makna keseluruhan kalimat (12) di atas adalah Presiden menempatkan diri di


bawah perintah menteri-menteri sehingga kalimat itu menjadi tidak baku. Oleh
karena itu, perbaikan untuk kalimat (12) adalah

(12a) Presiden membawahkan menteri-menteri.


(12b) Menteri-menteri membawahi Presdien.

Kehematan
Kalimat baku pun harus memperhatikan kehematan, yaitu menghindari pemakaian
kata yang mubazir. Pemakaian kata mubazir biasanya terjadi akibat adanya
pleonasme atau tautologi dalam kalimat tersebut. Yang dimaksud dengan
pleonasme adalah sebuah usaha menjelaskan sebuah gagasan/ide yang sudah
jelas, sedangkan tautologi adalah usaha menjelaskan sebuah gagasan/ide dengan
gagasan/ide lain yang memiliki makna yang sama.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.


(13) Para hadirin merasa puas atas penjelasan direktur perusahaan tersebut.
(14) Saya melihat peristiwa itu dengan mata kepala saya sendiri.
(15) Buku kuliahnya sangat tebal sekali.

Perbaikan kalimat-kalimat di atas adalah


(13a) Hadirin merasa puas atas penjelasan direktur perusahaan tersebut.
(14a) Saya melihat peristiwa itu.
(15a) Buku kuliahnya sangat tebal