Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS JURNAL

LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN PERSPEKTIF EKONOMI


PERTANIAN DI INDONESIA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemasaran Hasil Pertanian

Disusun oleh :
RIDWAN FAUZI

135040100111056

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Liberalisasi perdagangan dan perspektif ekonomi pertanian di


Indonesia

Sektor pertanian tetap mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga dan
meningkatkan kualitas pembangunan di bidang ekonomi. Sektor pertanian merupakan
sumber pertumbuhan pendapatan nasional, menurut Herliana (2004) sektor pertanian
memberikan kontribusi 19,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari
keseluruhan sektor perekonomian Indonesia. Meskipun secara absolut masih lebih kecil
dari sektor lainnya seperti jasa (43,5 persen) dan manufaktur (23,9 persen) namun sektor
pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar yaitu sebesar 47,1 persen.
Jadi dari peran pertanian yang sangat penting tersebut maka pertanian di Indonesia
harus terus dikembangkan dan terus di bangun agar sector pertanian lebih produktif lagi
untuk dapat menopang ekonomi nasional menjadi lebih baik lagi. Suatu kebijakan
pembangunan yang baik harus mengandung tiga unsur yaitu keamanan ekologi, keamanan
rantai makanan dan keamanan pangan. Suatu pertanian yang berkelanjutan adalah suatu
sistem pertanian yang mendasarkan dirinya pada pemanfaatan sumberdaya alam (lahan, air
dan kenearagaman hayati lainnya) secara lestari. Tetapi karena pada saat ini di era
globalisasi dan perdagangan bebas dan dengan adanya kebijakan yang dilakukan oleh
World Trade Orgazation (WTO) kepada anggotanya termasuk Indonesia menjadi anggota
tersebut maka ketiga hal dari kebijakan pembangunan yang baik tersebut dapat tidak
berjalan hal tersebut tentu berdampak bagi Negara yang masuk menjadi anggota WTO
termasuk Indonesia.
Kebijaksanaan tentang Trade Related Intelllectual Propoerty Right dan berbagai
keputusan lainnnya yang menyangkut pertanian dapat mengubah ketiga aspek dasar
kebijakan ketahanan ekologis sistem pertanian, karena kebijakan seperti itu akan
menyebabkan terjadinya konsentrasi kepemilikan sumberdaya alam oleh pelaku usaha atau
negara dengan cara menghilangkan batasan kepemilikan terhadap sumber daya alam. Di
era perdagangan tidak akan ada lagi campur tangan Negara untuk mencampuri urusan
pengembangan sektor pertanian, negara tidak akan memberikan kekuasaan dan fungsi
petani untuk mengatur usaha tani mereka, tapi akan memfasilitasi penyerahan penguasaan
seperti sumber-sumber alam, sistem produksi, sistem pemasaran dan perdagangan kepada
perusahaan agribisnis global. Terkait dengan aspek perdagangan internasional, pemerintah

justru banyak meliberalisasi pasar produk pertanian, padahal dalam aturan WTO
pemerintah masih diberi kekuasaan untuk melindungi pasar dalam negeri. Subsidi
pertanian di Indonesia seperti subsidi input dikurangi sangat drastis oleh pemerintah
padahal negara maju seperti amerika saja masih memberikan subsidi sampai 300 milliar
US$ tiap tahunnya kepada sektor pertanian. Ketidak jelasnya kebijakan pemerintah
Indonesia dalam hal subsidi input dan subsidi ekspor dan lemahnya perlindungan kepada
petani tersebut adalah bukti bahwa pemerintah justru meliberalisasi produk pertanian di
Indonesia, di Negara maju proteksi pada sektor pertanian sangat

luar biasa proteksi

tersebut di buktikan dengan adanya kebijakan tariff impor yang sangat tinggi pada produk
pertanian. Contohnya penerapan tarif impor di Negara maju untuk produk gula adalah Uni
Eropa menerapkan 297 persen, Jepang 361 persen, sedangkan Indonesia hanya 30 persen.
Di Indonesia selain permasalahan yang terkait dengan ketersediaan dan
pengembangan lahan irigasi, ketersediaan akses, dan penerapan varietas unggul baru serta
teknologi

spesifik

lokasi,

pengembangan

produksi

pertanian

juga

menghadapi

permasalahan yang terkait dengan ketersediaan anggaran pembangunan dan penyediaan


sistem insentif untuk mendorong peningkatan produksi dan pendapatan petani. Penurunan
anggaran pemerintah dalam pengembangan infrastruktur dan subsidi pupuk berdampak
terhadap penurunan produktivitas dan produksi komoditas pertanian. Insentif yang
diterima oleh petani ada dua komponen utama, yaitu subsidi sarana produksi (pupuk,
benih, kredit dan mekanisasi pertanian) dan proteksi harga hasil produksi. Pihak yang
banyak mendapatkan keuntungan dari adanya globalisasi berpendapat bahwa globalisasi
adalah kehidupan yang nyaman karena kehidupan antar negara hampir tanpa batas seperti
sebuah desa saja, tetapi sebaliknya pihak yang dirugikan berpendapat bahwa kehidupannya
penuh dengan kerugian dan mengalami banyak kehilangan sehingga merasa mengalami
seperti penjarahan global. Masalah mendasar dalam pertanian di Indonesia sebenarnya
lemahnya hubungan antara penyedia input, industri pengolahan, pasar dan lembaga
keuangan dengan para petani kita. Untuk bahan baku sebenarnya Indonesia memiliki
sumber daya alam yang luar biasa tetapi belum bisa mengelola secara efisien.
Dorongan dan Tekanan Liberalisasi
Dorongan keikutsertaan sebuah Negara dalam perdagangan internasional adalah
bersifat bebas sehingga keikutsertaan suatu negara pada kegiatan tersebut dilakukan
dengan sukarela. Dari sisi internal, keputusan suatu negara melakukan perdagangan
internasional merupakan pilihan, maka sering dikatakan perdagangan

seharusnya

memberikan keuntungan

pada kedua pihak. Akan tetapi liberalisasi juga bisa

menimbulkan dampak negatif seperti persaingan pasar yang tidak sehat, oleh karena itu
suatu Negara perlu untuk melindungi Negara dari tekanan produksi suatu komoditas yang
di perjual belikan di dunia internasional dengan kebijakan memberlakukan hambatan
perdagangan.
Kebijakan harga dasar dan subsidi
Dalam perdagangan ada dua kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu
kebijakan promotif dan protektif, Kebijakan promotif adalah untuk mendorong
pertumbuhan perdagangan di dalam negeri (ekspor). Terdapat dua

tipe kebijakan

pemerintah di bidang pertanian yaitu development policy dan compensating policy.


Development policy dilakukan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani
biasanya pemerintah mendorong untuk memproduksi produk pertanian dengan tujuan yang
ingin dicapai, sedangkan compensating policy, tujuan utamanya adalah meningkatkan
pendapatan petani tetapi dengan kecenderungan menekan produksi. Development policy
banyak dilakukan oleh negara yang kekurangan atau defisit produk pertanian, sedangkan
compensating policy banyak dilakukan oleh negara yang mengalami surplus dan sulit
memasarkan produknya.
Kebijakan harga dasar dan kebijakan subsidi, pernah dilakukan di Indonesia seperti
kebijakan harga gabah dan subsidi pupuk hal tersebut dapat dikatagorikan sebagai
development policy. Tujuan dari kedua kebijakan tersebut adalah mendorong produksi
beras agar meningkat, di sisi lain petani mendapat harga yang wajar.
Cost dan Benefit Perdagangan Internasional Komoditas Pertanian
Proteksi yang dilakukan negara maju terhadap sektor pertanian melalui
kebijaksanaan harga, bantuan langsung dan bantuan pasokan telah menyebabkan
berubahnya perdagangan dan hasil pertanian dunia. Dengan meningkatnya hasil produksi
pertanian dari negara-negara maju yang bisa mengakibatkan penurunan harga dunia untuk
produk pertanian meskipun harga produk pertanian yang rendah menolong negara
pengimpor tetapi faktor rendahnya harga produk pertanian tersebut juga akan memukul
negara-negara berstatus produsen netto. Dampak dari adanya liberalisasi perdagangan
dunia terhadap negara berkembang akan menyangkut sektor yang sangat vital, yaitu
sektor pertanian serta komoditas tekstil dan produk tekstil, dimana tarif produk pertanian

akan diturunkan sebesar 24 persen di negara berkembang dan 36 persen di negara maju.
Sedangkan tarif tekstil akan dipangkas sebesar 25 persen.
Dampak dari liberalisasi perdagangan terhadap produksi, konsumsi, perdagangan
dan pemasaran

beberapa

komoditas

terpilih (beras, kedelai, jagung, ubikayu dan

kentang) di Indonesia menunjukkan bahwa di tingkat makro pada saat sebelum krisis
ekonomi, liberalisasi perdagangan antar negara melalui penurunan tarif untuk komoditas
substitusi impor akan menurunkan harga di tingkat pedagang besar, harga produsen,
kuantitas suplai dan surplus produsen. Namun liberalisasi perdagangan tersebut berdampak
meningkatkan kuantitas permintaan, impor dan surplus konsumen.
Dalam hal usahatani seperti yang kita tahu bahwa penurunan tarif akan
menurunkan harga di tingkat produsen melalui efek harga sendiri dan harga silang,
penurunan harga produsen akan menurunkan penggunaan input seperti pupuk dan tenaga
kerja yang akan menurunkan produktivitas dan penerimaan bersih usahatani. Seperti
terefleksikan pada elastisitas transmisi harga, besarnya dampak dari tingkat usahatani
akan tergantung pada sistem pemasaran masing-masing komoditas. Makin efisien sistem
pemasaran makin besar elastisitas transmisi harganya.
Meskipun dari analisis teori liberalisasi dikatakan bahwa akan memberikan manfaat
bagi pelaku perdagangan namun pada kenyataannya terjadi ketimpangan dan perbedaan,
ketimpangannya terjadi pada Negara produsen pertanian Negara Negara berkembang
karena Negara tersebut berada pada posisi sedikit sekali memperoleh keuntungan
perdagangan internasional komoditas pertanian, Liberalisasi bisa mengakibatkan dampak
buruk yang bisa mengancam pasar dalam negeri dan kepentingan kepentingan dalam
negeri lainnya yang menyangkut kesejahteraan petani produsen dan ketahanan pangan. Hal
tersebut bisa terjadi karena perbedaan dalam kepemilikan sumber daya, penguasaan
teknologi produksi, perkembangan ekonomi dan komitmen pemerintah untuk membela
kepentingan sektor pertanian. Oleh karena itu agar suatu Negara dapat bersaing dalam
persaingan global di sector pertanian dapat dilakukan kebijakan baru seperti peningkatan
investasi pemerintah dalam pengembangan infrastruktur utama seperti irigasi, penelitian
dan pengembangan serta penyuluhan, mendorong dan memfasilitasi keterlibatan swasta
dalam pembangunan pertanian, peningkatan insentif usaha tani (input, output) dan
memfasilitasi perkembangan agroindustri padat tenaga kerja di pedesaan.

DAFTAR PUSTAKA
LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN PERSPEKTIF EKONOMI PERTANIAN DI
INDONESIA. Aula Ahmad Hafidh SF, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi
Universitas Negeri Yogyakarta.
Herliana, L,. 2004. Peranan Pertanian dalam Perekonomian Indonesia: Pendekatan Sistem
Neraca Sosial Ekonomi dalam Perspektif Structural Path Analysis. Tesis Magister.
Sekolah Pascasarjana, IPB, Bogor.