Anda di halaman 1dari 13

BEDAH JURNAL TOTAL

PRODUCTIVE
MAINTANANCE (TPM)

Deris Eko Saputro


(6512040023)

ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE


MAINTENANCE
PADA LINI PRODUKSI MESIN PERKAKAS
GUNA
MEMPERBAIKI KINERJA PERUSAHAAN
(BALAI YASA)

Achmad Said, Joko Susetyo


Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri
Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Gambaran Umum Perusahaan


Balai Yasa merupakan bengkel khusus pemeliharaan
lokomotif diesel, kemudian berkembangan menjadi
penghasil komponenkomponen perawatan dari lokomotif.
Komponenkomponen tersebut dihasilkan dari mesinmesin perkakas yang terdiri dari mesin skraf, mesin bubut
dan mesin frais, tetapi dalam penelitian ini hanya diteliti
mesin bubut saja dikarenakan dalam proses produksinya
mesin tersebut paling banyak berperan

Permasalahan yang Ada


Mesin perkakas menjadi salah satu komponen penting
dalam melakukan pekerjaan, tetapi mesinmesin perkakas
yang ada 70% -90% sudah melebihi umur teknik mesin
sehingga menyebabkan waktu perawatan yang diperlukan
menjadi lama
Pelaksanaan perawatan mesin belum dilaksanakan dengan
baik, sehingga sering terjadi kerusakan mesin dan
berakibat menurunya hasil produksi dari mesin tersebut.

Solusi
Penerapan

konsep metode TPM (Total Productive


Maintenance)dalam lingkungan perusahaan, sehingga
diharapkan
akan
memunculkan
keserasian
dan
keharmonisan antara pihak operator sebagai pelaksanaan
produksi dengan pihak teknisi mesin dan pihakpihak
perencana produksi serta pihak maintenance.

Cara penerapan TPM


Maintanance

.
.

Masalah

TP
M

.
OEE

Pila
r
World
Standart
OEE

Pila
r
Pila
r

Six Big Lose


Autonomous
Maintenance

Data Produksi
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus

Hasil
Waktu Loading Down
Produksi Kerja
Time
Time
(Unit)
(Jam)
(Jam)
(Jam)
64
168.5
144.5
4
59
151
129
0
68
176.75
152.25
0
58
151
127
0
5
177.25
152.25
140
63
168
143.5
0
59
159.75
136.75
6
64
177.25
152.25
12

Jam
Defect
Hari
TCT
Kerja
Product
Kerja
Jam/Unit
Efektif (Unit)
Efektif
140.5
0
2.17
22
129
0
2.17
20
152.25
0
2.17
22
127
0
2.17
22
12.25
0
2.17
23
143.5
0
2.17
22
130.75
0
2.17
21
140.25
0
2.17
23

September
Oktober

44
66

159.25
168.5

135.75
144.5

40
0

95.75
144.5

0
0

2.17
2.17

21
22

November
Desember
Jumlah

63
62
675

168.5
159.25
1985

144.5
135.75
1698

6
0
208

138.5
135.75
1490

0
0
0

2.17
2.17
2.17

22
21
261

Perhitungan OEE (Overall Equipment


Effectiveness)

Nilai OEE
Bulan

AV(%)
97.23

PR(%)
98.84

DR(%)
100

OEE(%)
96.11

Februari

100

99.24

100

99.24

Maret

100

96.91

100

96.91

April

100

99.10

100

99.10

Mei

8.04

88.57

100

7.12

Juni

100

95.26

100

95.26

Juli

95.61

97.91

100

93.62

Agustus

92.11

99.02

100

91.21

September

70.53

99.71

100

70.37

100

99.11

100

99.11

November

95.84

98.70

100

94.60

Desember

100

99.10

100

99.10

88.28

97.629

100

86.81

Januari

Oktober

Jumlah

Perbandingan Nilai OEE dengan


Standart world Class OEE
OEE Factor

World Class

Availability

90.0%

Performance

95.0%

Quality

99.9%

Overall OEE

85.0%

Perbaikan Pada Six Big Loss

Pilar yang dipilih untuk maintanance


Autonomous

maintenance.

Autonomous

maintenance

memiliki 7 langkah untuk meningkatkan produktivitas adalah


sebagai berikut:

1. Mengembalikan peralatan seperti asal


2. Menghapuskan penyebabpenyebab kekotoran
3. Improve equipment accessibility
4. Organize and workplace

Kesimpulan

Dari hasil analisis dan pembahasan mesin bubut pada tahun 2006 dan
2007 mengalami penurunan nilai OEE perusahaan yaitu 84.81%,
penurunannya di bawah standar OEE world class. Penurunan tersebut
disebabkan nilai Availabilityyang rendah.

Keterkaitan antara Autonomous Maintenancedengan Overall Equipment


Effectivenessadalah pada perawatan dini yang dilakukan operator
terhadap mesin, agar mesin tersebut bisa berfungsi dengan baik.
Dengan kata lain autonomous maintenancemerupakan langkah awal
yang diharuskan oleh operator dengan cara melakukan pengecekan
mesin sebelum mesin tersebut dioperasikan, sehingga dapat
mengurangi six big lossesdari mesin.