Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

Fibrilasi Ventrikel
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
elevend@rocketmail.com
Pendahuluan
Pada kasus kali ini didapati seorang perempuan berusia 60 tahun, datang dibawa
keluarganya karena tak sadarkan diri. Menurut keluarga pasien, 2 tahun yang lalu pasien
pernah mengalami searangan jantung dan mempunyai riwayat hipertensi sejak 15 tahun yang
lalu dan juga riwayat diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu.
Pada pemeriksaan EKG didapati gambaran fibrilasi Ventrikel, ditambah dengan AGD,
elektrolit, dan gula darah tidak ada hasil. Pada pemeriksaan fisik didapati O.S tensinya tidak
dapat terukur, nadinya tidak teraba dan suhunya tidak ada hasil.
Maka dari itu, tinjauan pustaka kali ini akan membahas tentang fibrilasi ventrikel dan
bagaimana cara penanganannya dalam keadaan emergency.
Anamnesis
Anamnesis bermanfaat untuk membuat catatan kasar sambil mengajukan pertanyaan kepada
pasien. Pada akhir anamnesis dan pemeriksaan lainnya barulah dibuat catatan medik yang
lengkap. Catatan medik tersebut harus merupakan catatan yang akurat dan berurutan dari
perkembangan dan perjalanan penyakit-penyakit pasien.

Struktur Umum Anamnesis


1. Identitas Pasien
2. Keluhan Utama
3. Detail Dari Penyakit Sekarang
4. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
1

5. Pengobatan Dan Respons Terhadap Obat


6. Penyakit/kesehatan Keluarga
Detail dari keluhan utama atau penyakit sekarang meliputi 3
-

Onsetnya : apakah terjadi tiba-tiba? Atau bertahap?

Polanya : apakah terus menerus (continuing)? Atau mungkin intermitten?

Frekuensinya : berapa sering dalam sehari, ataukah minggu, atau sebulan lamanya

Durasi : dalam berapa menit? Atau jam?

Progresivitas: menetap? Membaik? Atau bahkan memburuk?

Severity: Ringan, sedang atau berat?

Karakterisik: jadi bagaimana gambaran keluhannya?

Trigger : mencakup penyakit atau kondisi yang mendahului atau factor yang
memberatkan atau meringankan keluhan?

Gejala yang menyertai keluhan?

Pemeriksaan Fisik
Pertama tama kita harus mengetahui kesadaran umum pasien, status kesadaran pasien
di nilai secar kualitatif dan kuantitatif. Cara kuantitatif dilakukan dengan menggunakan skala
Glasgow coma scale. Glasgow mencoba mengkaitkan antara kesadaran seseorang dengan
reflek fisik. Jika fisiknya tidak bisa merespon stimulasi dengan baik, maka secara bertahap
kesadaran orang tersebut dianggap menurun, sampai pada suatu batas terendahnya yaitu
koma alias mati suri. Total nilai antara respon mata, verbal, dan motorik diberi angka 15. Jika
seseorang memperoleh nilai akumulatif 15 berarti orang tersebut berada dalam kondisi 'sadar'
alias 'terjaga' penuh. Jika di bawah angka 8, ia sudah dikategorikan sebagai koma.
Respons

Jenis Respons

Poin

Eye Opening (E)

Spontan mata berkedip

Terbuka dengan perintah bicara/jeritan

Terbuka pada rangsangan sakit

Tidak ada respons dengan suara & rasa sakit

1
2

Verbal (V)

Motorik (M)

Percakapan terorientasi

Bicara membingungkan, dapat menjawab pertanyaan

Respons tidak jelas, kata-kata tidak cocok

Kata-kata sembarangan

Tidak ada respons terhadap pertanyaan

Melakukan gerakan yang diperintahkan

Tahu lokasi rangsang sakit (rasa sakit lokal)

Tidak merasakan sakit

Fleksus tidak normal, decorticate posture (fleksi sendi 3


Ekstensor
abnormal (rigit), decerebrate posture
siku)

Tidak ada respons nyeri

Gambar.1 Glasgow Coma Scale pada Orang Dewasa


Pemeriksaan tanda-tanda vital diawali dengan memeriksa nadi. Nilai normal dari nadi
adalah 60 100 kali/ menit. Jika denyut nadi meningkat >100 x/menit disebut takikardi dan
jika di bawah dari 60x/menit di sebut bradikardi. Kemudian kita dapat mengukur tekanan
darah, nilai normal bergantung pada faktor umur, jenis kelamin. sUntuk orang dewasa dengan
umur kurang lebih 40 tahun mempunyai nilai normal rata rata untuk tekanan sisitolik adalah
110 140 mmHg sedangkan tekanan diastolik adalah 80 90 mmHg
Kemudian kita lihat respirasinya, frekuensi nafas berapa kali per menit dan apakah
teratur atau tidak. Normophnea adalah pernafasan normal fisiologis tanpa ada rasa hambatan
subyektif. Dispnea adalah keadaan gangguan pernafasan yang dirasakan berat disertai tanda
tanda obyektif antara lain pernafasan cuping hidung, ikut aktifnya otot pernafasan pembantu,
frekuensi dan amplitudo pernafasan meningkat, tidal volume bertambah dan lain lain.
Untuk pemeriksaan fisik lainnya dapat dilakukan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi. Pada pemeriksaan inspeksi jantung, paling penting ialah menemukan lokasi apical
impulse atau point of maximal impulse atau ictus cordis pada ruang sela iga ke-5, sesuai
dengan letak apex cordis. Impulse ini dihasilkan oleh pulsasi singkat ventrikel kiri pada saat
ventrikel bergerak kearah anterior selama kontraksi jantung dan menyentuh dinding dada.
Pada palpasi kita bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak arterisklerosis pembuluh
darah servikal otak dengan merasakan kekuatan arteri atau ada tidaknya gangguan darah.
Pada auskultasi, sangatlah penting di klinik, terutama untuk menentukan berbagai diagnosis
dari kelainan jantung.
3

Kelainan patologis yang harus diidentifikasikan dengan cara auskultasi ialah


o Gallop : yaitu bunyi jantung seperti derap kaki kuda yang sedang berlari.
o Murmur : bising jantung
o Aritmia : denyut jantung yang tidak teratur atau irreguler
o Irreguler : yang dapat ditemukan stenosis miral, stenosis trikuspid.
Pemeriksaan Penunjang
Untuk pemeriksaan penunjang, Elektrokardiogram (EKG) adalah gold standard dalam
menegakkan diagnosis penyakit jantung. EKG adalah rekaman sebagian kecil arus listrik
yang dihasilkan oleh otot jantung selama depolarisasi dan repolarisasi yang mencapai
permukaan tubuh dan dideteksi oleh elktroda pencatat. EKG adalah grafik yang dibentuk oleh
elektrokardiograf. Informasi yang dapat kita dapatkan dari rekaman EKG adalah gangguan
ritme jantung seperti aritmia, gangguan elektrolit, abnormalitas konduksi, hipertrofi atrium
dan ventrikel, deteksi penyakit bukan jantung, pengaruh obat obatan.
Lalu kemudian kita dapat melakukan echokardiografi , adalah pemeriksaan dengan
menggunakan prinsip gelombang suara ultra (ultra sound) untuk melihat anatomi jantung saat
bergerak (berdenyut), sehingga dapat diketahui adanya gangguan gerakan otot jantung,
kebocoran sekat jantung. penyempitan / kebocoran katub jantung, ukuran ruang jantung,
maupun adanya cairan serta tumor pada rongga jantung.
Selain itu ada beberapa pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk membantu
penegakan diagnosis adalah :

1. MRI
Dengan menggunakan MRI, jantung dan pembuluh darah dapat dilihat dari berbagai
sudut yang berbeda dan dapat dilihat gambaran bergerak dari jantung beserta
denyutannya.
2. Angiografi
Angiografi digunakan untuk melihat pembuluh darah yang ada di sekitar jantung.
Pemeriksaan ini sekarang sudah tidak digunakan lagi dan dianggap berbahaya karena
menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah jantung.
3. Pemeriksaan laboratorium darah
Untuk pemeriksaan hematologi biasanya dipakai darah kapiler atau darah vena.
4

Pemeriksaan Laboratorium :
1) CBC (complete blood cell)
2) Pemeriksaan kadar elektrolit pasien, seperti kalsim, kalium dan
magnesium
3) Bila diperlukan diperiksa kadar obat (misalnya digoksin).
4) Biomarker jantung
-

Peningkatan enzim jantung (biomarkers) seperti kreatinin kinase,


troponin I, dan isoenzim laktat dehidrogenase khusus untuk jantung

Kriteria WHO diumumkan pada tahun 2000 untuk menggambarkan


lebih banyak tentang keadaan enzim jantung. Menurut pedoman
terbaru ini, peningkatan troponin jantung menyertai gejala,
gelombang Q patologis, elevasi atau depresi ST atau intervensi
koroner adalah diagnosis untuk IMA.

5) Arterial blood gases jika pasien hipoksia


6) Central venous pressure atau pulmonary capilary wedge (PWC) pressure.

Diagnosis Kerja
Fibrilasi Ventrikel
Fibrilasi ventrikel adalah keadaan irama jantung yang sangat kacau, yang biasanya berakhir
dengan kematian dalam waktu beberapa menit, kecuali jika tindakan penanganan tepat segera
dilakukan. Fibrilasi ventrikel adalah denyutan ventrikel yang cepat dan tidak efektif. Pada
disritmia ini denyut jantung tidak terdengar dan tidak teraba dan tidak ada respirasi. Ventrikel
vibrilasi merupakan kejadian preterminal. Vibrilasi ini hampir selalu tampak pada jantung
yang sekarat. Fibrilasi ini adalah aritmia yang paling sering ditemukan pada orang dewasa
yang mengalami kematian mendadak.
5

Pada fibrilasi ventrikel polanya sangat irregular dan dapat dibedakan dengan disritmia tipe
lainnya. Karena tidak ada koordinasi aktifitas jantung, maka dapat terjadi henti jantung dan
kematian bila fibrilasi ventrikel tidak dikoreksi. Gambaran EKG Ventrikel Vibrilasi ada dua
macam, yaitu vibrilasi ventrikel kasar yang memiliki rekaman EKG menyentak-nyentak
secara pasmodic; dan vibrilasi ventrikel halus yang rekaman EKGnya berombak halus.
Seperti pada asitol, kehilangan kesadaran terjadi dalam beberapa detik pada kondisi fibrilasi
ventrikel. Pasien mengalami pelemahan jantung dan tidak ada curah jantung. Fibrilasi
ventrikel adalah paling umum menyebabkan kematian tiba-tiba dan fatal apabila resusitasi
tidak dilakukan dengan segera.
Diagnosis Banding
Ventrikel Takikardi
Takikardi ventrikular (Ventricular tachycardia) adalah kecepatan ventrikular sekurangnya
120 detak permenit yang terjadi di ventrikel. Takikardi ventrikular yang berlanjut (takikardi
ventrikular bertahan setidaknya 30 detik) terjadi pada penyakit jantung yang bervariasi yang
merusak ventrikel. Seringkali hal itu terjadi seminggu atau beberapa bulan setelah serangan
jantung.
Takikardi ventrikel ialah ekstrasistol ventrikel yang timbul berturut-turut 4 kali atau lebih.
Kelainan irama ini berbahaya dan membutuhkan pengobatan segera. Takikardia ventrikel
mudah berkembang menjadi fibrilasi ventrikel dan dapat menyebabkan henti jantung
(cardiac arrest). Takikardia ventrikel umumnya menunjukkan adanya penyakit jantung yang
berat. Diagnosis takikardia ventrikel ditegakkan bila ditemukan takikardia dengan kecepatan
150-210 per menit, umumnya teratur tapi kadang-kadang sedikit tak teratur. Biasanya timbul
tiba-tiba dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Penekanan bola mata atau penekanan pada
arteri karotis tidak ada efek apa-apa. Intensitas bunyi jantung kadang-kadang berubah-ubah
karena adanya disosiasi AV. EKG menunjukkan kompleks QRS lebar, bizarre seperti
ekstrasistol ventrikel yang timbul berturut-turut dan terus menerus dengan kecepatan lebih
dari 150 per menit.
Torsades de pointes
Torsades de pointes atau twisting of the points merupakan jenis VT polimorfik pada episode
takikardi yang dapat menimbulkan fibrilasi dan kematian mendadak. Torsade de pointes
mengalami tumpang tindih pada interval bradikardi, yang selama periode tersebut interval QT
6

memanjang (menunjukan durasi potensial aksi ventrikel). Selama takikardi, EKG memiliki
gambaran berbeda dimana amplitudo kompleks QRS meningkat dan menurun secara
bergantian. Torsade de pointes dapat disebabkan oleh obat-obata atau kondisi yang menunda
repolarisasi ventrikel (misalnya antiaritmia kelas IA: prokainamid dan disopiramid dan III
:amiodaron dan sotalol, hipokalemia, hipomagnesemia).
Epidemiologi
Jumlah sudden cardiac death adalah sekitar 300.000 kematian per tahun di Amerika serikat,
dimana 75-80% disebabkan oleh fibrilasi ventrikel. Jumlah kematian yang disebabkan oleh
fibrilasi ventrikel lebih banyak dibandingkan yang disebabkan oleh kanker paru-paru, kanker
payudara, ataupun AIDS. Fibrilasi ventrikel umumnya merupakan tanda dari penyakit jantung
koroner dan bertanggung jawab dari sekitar 50% kematian akibat PJK. Frekuensi fibrilasi
ventrikel di seluruh dunia kurang lebih sama dengan frekuensinya di Amerika Serikat.
Insiden fibrilasi ventrikel pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita (3 : 1). Rasio ini
merupakan refleksi dari tingginya insiden PJK pada pria dari pada pada wanita. Insiden
fibrilasi ventrikel sebanding dengan insiden PJK, dengan puncak terjadi pada usia 45-75
tahun.
Etiologi
Vibrilasi ventrikel dapat terjadi pada kondisi : iskemia dan infark miokard, manipulasi kateter
pada ventrikel, gangguan karena kontak dengan listrik, pemanjangan interval QT, atau
sebagai irama akhir pada pasien dengan kegagalan sirkulasi, atau pada kejadian takikardi
ventrikel yang memburuk. Penyebab yang paling umum dari fibrilasi ventrikel adalah heart
attack, akan tetapi fibrilasi ventrikel dapat terjadi ketika jantung tidak memperoleh oksigen
yang

cukup,

atau

orang

tersebut

memiliki

penyakit

jantung

yang

lain.

Fibrilasi ventrikel dapat disebabkan antara lain :


1. Gangguan jantung struktural
2. Gangguan jantung nonstructural
3. Noncardiac respiratory
4. Gangguan elektrolit dan asidosis
5. Neurologik
7

Patofisologi
Aktivitas listrik pada fibrilasi ventrikel ditandai oleh depolarisasi sel yang tidak
beraturan melalui otot jantung ventrikel. Berkurangnya depolarisasi yang terkoordinasi
mencegah terjadinya kontraksi yang efektif dari otot jantung dan pengeluaran darah dari
jantung. Pada pemeriksaan EKG tidak ditemukan kompleks QRS walaupun jarak amplitudo
yang melebar pada aktivitas listrik ditemukan, dari gelombang sinus di ventrikel
menyebabkan terjadinya fibrilasi ventrikel yang mungin sulit dibedakan dengan asistol.
Aritmia ini dipertahankan oleh adanya jalur masuk yang berulang-ulang karena bagian dari
otot jantung mengalami depolarisasi secara konstan. Fibrilasi ventrikel dimulai ketika daerah
pada miokard memiliki bagian refraksi dan bagian konduksi pada jalur masuk. Adanya
kombinasi ini menghasilkan irama sendiri.
Fibrilasi ventrikel terjadi pada situasi klinis yang bervariasi, namun lebih sering
dihubungkan dengan penyakit jantung koroner (PJK) dan sebagai kondisi terminal. Firilasi
ventrikel dapat disebabkan oleh infark miokard akut atau iskemik, atau dapat pula disebabkan
oleh skar infark yang kronik. Akumulasi kalsium intraseluler, aktivitas radikal bebas,
gangguan metabolik, dan modulasi autonom memiliki pengaruh yang besar pada
perkembangan fibrilasi ventrikel pada iskemik.

Faktor Resiko
Sebagian besar yang menghadapi masalah ketidakseragaman hentak jantung ini memiliki
prognosis yang normal. Pasien tidak memerlukan rawat yang khas. Walau bagaimanapun,bagi
pasien yang mengalami gejala yang serius atau yang dikaitkan dengan masalah penyakitpenyakit lain (seperti penyakit jantung) akan menghadapi risiko yang lebih tinggi dan
memerlukan rawatan atau perhatian pengobatan yang khusus. Faktor-faktor tersebut adalah :
1.
2.
3.
4.

Tekanan perasaan atau stress


Darah tinggi
Merokok
Kelesuan, kurang tidur, kerja berlebihan

Emergency Status

Karena febrilasi ventrikel adalah penyakit yang paling gawat, diperlukan adanya suatu
tindakan yang dapat menyelamatkan nyawa, maka dari itu dibuat lah algoritma penanganan
pasien fibrilasi ventrikel oleh American Heart Association (AHA) Algoritma untuk fibrilasi
ventrikel dari American Heart Association (2010) adalah
1. Aktifkan emergency response system
2. Mulai lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan berikan oksigen apabila tersedia
3. Pastikan pasien benar-benar mengalami fibrilasi ventrikel sesegera mungkin (bisa
dengan menggunakan Automated external defibrillator)
4. Lakukan defibrilasi sekali
a. Dewasa: 200 J untuk gelombang bifasik dan 360 J untuk gelombang
monofasik
b. Anak: 2 J/kgBB
5. Lanjutkan lagi RJP segera tanpa memeriksa nadi, lakukan selama 5 siklus
a. Satu siklus RJP adalah 30 kompresi dan 2 pernapasan
b. Lima siklus RJP setidaknya hanya memakan waktu 2 menit (dengan kompresi
100 kali per menit)
c. Jangan memeriksa ritme/nadi dulu sebelum 5 siklus RJP terselesaikan
6. Saat melakukan RJP, minimalisasi interupsi saat melakukan hal-hal di bawah ini:
a. Mencari akses intravena
b. Melakukan intubasi endotrakeal
c. Setelah diintubasi, lanjutkan RJP dengan 100 kompresi per menit tanpa henti
serta lakukan respirasi buatan sebanyak 8-10 kali napas per menit.
7. Periksa ritme setelah 2 menit RJP
8. Ulangi lagi defibrilasi satu kali apabila masih terdapat ventrikel fibrilasi atau belum
dirasakan denyut nadi. Gunakan tegangan yang sama seperti pada defibrilasi pertama
pada dewasa. Sedangkan pada anak gunakan tegangan sebesar 4 J/kgBB.
9

9. Segera lanjutkan kembali dengan RJP selama 2 menit, setelah defibrilasi


10. Terus ulangi siklus berikut ini:
a. Pemeriksaan ritme
b. Defibrilasi
c. RJP 2 menit
11. Vasopressor
a. Beri vasopressor saat RJP sebelum atau sesudah syok, setelah akses intravena
atau intraosseous didapatkan,
b. Berikan epinefrin 1 mg setiap 3-5 menit
c. Pertimbangkan juga pemberian vasopressin 40 unit sebagai pengganti dosis
epinefrin pertama atau kedua.
12. Antidisritmia
a. Berikan obat antidisritmia saat RJP, sebelum atau sesudah syok
b. Berikan amiodarone 300 mg IV/IO satu kali, lalu pertimbangkan lagi
pemberian tambahan 150 mg satu kali
c. Sebagai pengganti atau tambahan untuk amiodarone, dapat diberikan lidokain
1-1.5 mg/kgBB dosis pertama, dan dosis tambahan 0.5 mg/kgBB. Dosis
maksimum yang dapat diberikan adalah 3 mg/kgBB
13. Lidokain dan epinefrin dapat diberikan lewat endotrakeal tube apabila akses IV/IO
gagal. Gunakan dosis 2.5 kali dari dosis IV.
Alat-alat yang digunakan
Defibrilasi
Defibrilasi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu yang
singkat secara asinkron. Indikasinya adalah :

VF
10

VT tanpa nadi
VT polymorphyc yang tidak stabil
Defibrilasi

harus

dilakukan

sedini

mungkin

dengan

alasan

Irama yang didapat pada permulaan henti jantung umumnya adalah ventrikel fibrilasi (VF)
Pengobatan

yang

paling

efektif

untuk

ventrikel

fibrilasi

adalah

defibrilasi.

Makin lambat defibrilasi dilakukan, makin kurang kemungkinan keberhasilannya.


Ventrikel fibrilasi cenderung untuk berubah menjadi asistol dalam waktu beberapa menit.
Alat yang dipergunakan :
1) Defibrilator
Defibrilator adalah alat yang dapat memberikan shock listrik dan dapat menyebabkan
depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya tidak teratur, sehingga
memungkinkan timbulnya kembali aktifitas listrik jantung yang terkoordinir. Enerji
dialirkan melalui suatu elektrode yang disebut paddle. Defibrilator diklasifikasikan
menurut 2 tipe bentuk gelombangnya yaitu monophasic dan biphasic. Defibrilator
monophasic adalah tipe defibrilator yang pertama kali diperkenalkan, defibrilator
biphasic adalah defibrilator yang digunakan pada defibrilator manual yang banyak
dipasarkan saat ini.
2) Jeli
Jeli digunakan untuk mengurangi tahanan dada dan membantu menghantarkan aliran
listrik ke jantung, jeli dioleskan pada kedua paddle.
3) Energi
Untuk VF dan VT tanpa nadi, energi awal 360 joule dengan menggunakan monophasic
deflbrilator, dapat diulang tiap 2 menit dengan energi yang sama, jika menggunakan
biphasic deflbrilator energi yang diperlukan berkisar antara 120 - 200 joule.
Prosedur defibrilasi :
1) Nyalakan deflbrilator
2) Tentukan enerji yang diperlukan dengan cara memutar atau menggeser tombol enerji
3) Paddle diberi jeli secukupnya.

11

4) Letakkan paddle dengan posisi paddle apex diletakkan pada apeks jantung dan paddle
sternum diletakkan pada garis sternal kanan di bawah klavikula.
5) Isi (Charge) enerji, tunggu sampai enerji terisi penuh, untuk mengetahui enerji sudah
penuh, banyak macamnya tergantung dari defibrilator yang dipakai, ada yang
memberi tanda dengan menunjukkan angka joule yang diset, ada pula yang memberi
tanda dengan bunyi bahkan ada juga yang memberi tanda dengan nyala lampu.
6) Jika enerji sudah penuh, beri aba-aba dengan suara keras dan jelas agar tidak ada lagi
anggota tim yang masih ada kontak dengan pasien atau korban, termasuk juga yang
mengoperatorkan defibrilator, sebagai contoh:
"Enerji siap " "Saya siap " "Tim lain siap"
7) Kaji ulang layar monitor defibrillator, pastikan irama masih VF/VT tanda nadi,
pastikan enerji sesuai dengan yang diset, dan pastikan modus yang dipakai adalah
asinkron, jika semua benar, berikan enerji tersebut dengan cara menekan kedua
tombol discharge pada kedua paddle. Pastikan paddle menempel dengan baik pada
dada pasien (beban tekanan pada paddle kira-kira 10 kg).
8) Kaji ulang di layar monitor defibrilator apakah irama berubah atau tetap sama scperti
sebelum dilakukan defibrilasi, jika berubah cek nadi untuk menentukan perlu tidaknya
dilakukan RJP, jika tidak berubah lakukan RJP untuk selanjutnya lakukan survey
kedua.
Automated External Defibrilator (AED)
AED adalah sebuah defibrilator yang bekerja secara komputer yang dapat :
1. Menganalisa irama jantung seorang korban yang mengalami henti jantung.
2. Mengenal irama yang dapat dilakukan tindakan defibrilasi ( shock)
3. Memberikan petunjuk pada operator ( dengan memperdengarkan suara atau dengan
indikator cahaya)
AED digunakan jika korban mengalami henti jantung :
1. Tidak berespon

12

2. Tidak bernafas
3. Nadi tidak teraba atau tanda - tanda sirkulasi lain
Elektroda adhesif ditempatkan pada dada korban dan disambungkan ke mesin AED, paddle
elektroda mempunyai 2 fungsi yaitu :
1. Menangkap sinyal listrik jantung dan mengirimkan sinyal tersebut ke komputer.
2. Memberikan shock melalui elektroda jika terdapat indikasi.
Basic Life Support (BLS) 7
-

Resusitasi kardiopulmoner (RKP) merupakan suatu prosedur darurat sebagai usaha


mengendalika keadaan henti napas atau henti jantung (kematian klinis) ke funhsi
optimal guna mencegah kematian biologis.

Kematian klinis ditandai dengan hilangnya nadi arteri femoralis, karotis atau denyut
janung yang berujung ditemukannya penurunan kesadaran. Kematian biologis dimana
kerusakan ireversibel terjadi hanya kurang 4 menit setelah kematian klinis.

Tindakan ini sangat penting bla terjadi henti jantung karena fibirlasi ventrikel ata
apapun berbagai sebab diluar rumah saki, pasien dengan hipoteri, overdosis obat,
obstruksi jalan napas dan henti napas primer. Dan pada beberapa keadaan RKP tidak
dianjurkan : bila henti jantung telah berlangsung lebih 5 menit (kerusakan otak
permanen), pada keganasan satdium lanjut, payah jantung refrakter, edema paru
refrakter, syok yang mendahului arrest, kelaianan neurologis yag berat, serta penyakit
hati, paru, ginjal yang lanjut.

Resusitasi kardiopulmoner terdiri dari tiga tahap menurut ILCOR 2010:


1) Chest compression (Circulation) : mempertahankan sirkulsi dengan memijat
jantung
2) Airway patency (Airway) : membebasskan jalan napas supaya tetap terbuka dan
bersih
3) Ventilation (Breathing) : mempertahakan ventilasi dan oksigenasi paru secara
adekuat

13

Pencegahan
Gaya hidup memainkan peranan yang sangat penting untuk mengurangkan resiko penyakit
jantung atau rentak jantung yang tidak seragam. Diantara langkah-langkah yang perlu diambil
untuk mencegah penyakit ini adalah :
1. Pola makan
Makanlah makanan yang rendah kolesterol dan rendah lemak. Makanan ini dapat
menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah.
2. Berhenti merokok
Merokok meningkatkan kadar denyutan jantung. Berhenti merokok menurunkan
resiko terhadap rentak jantung yang tidak normal.
3. Senam Senam dengan rutin baik untuk kesehatan dan jantung.
4. Hindari alkohol dan kafein
5. Sebagian obat, ada yang dapat meningkatkan resiko penyakit ini. Hal ini dapat
dicegah dengan mengurangi dosisnya atau menghentikan pemakaian untuk sementara.
Contoh obat, mis : amitriptilin, terfenadin, dan astemizol.

Daftar Pustaka
1. Mubin H. Syok kardiogenik. Dalam: Panduan praktis kedaruratan penyakit dalam.
Jakarta : EGC; 2009.h.57-67
2. Sudoyo dkk. Kegawatdaruratan medik syok kardiogenik. Dalam: Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta : Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam;
2006.h.182-84
3. Santoso M. Anamnesa dan pemeriksaan fisis umum. Dalam: Pemeriksaan fisik
diagnosis. Jakarta : Bidang Penerbitan Yayasan Diabetes Indonesia; 2004.h.2-50
4. Zimmerman J. Diagnosis and Management of Shock. Dalam: Fundamental Critical
Support. London: Chapman and Hall, 2009; 65-70.

14

5. American Heart Association. 2005 American Heart Association Guidelines for


Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation.
Dec 13 2005;112(24 Suppl):IV1-203.

15